KRIS X SUHO

.

SENIOR

.

HAPPY READING

.

.


AUTHOR SIDE

.

LOS ANGELES - TOKYO

(170514 - 06.00 - 22.00)

(JARAK WAKTU 16 JAM)

.

Suho menarik selimut sebatas dadanya sambil bersandar pada kepala ranjang. Malam ini Suho terbebas dari manjanya Sehun. Si kecil di grup itu sedang bersama Chanyeol entah mencoba permainan apa yang mereka temukan malam ini. Suho melihat sesuatu di ponselnya. Sebuah tampilan jam dunia ada di layar ponselnya. Suho mengigit bibirnya atas keraguan yang melanda. Ibu jarinya tepat berada di jam dunia Los Angeles.

"Mungkin dia masih tidur.." Suho berbicara pada dirinya sendiri. Matanya bergerak untuk memperhatikan waktu setempat. "Jika menunggu lagi aku yang tertidur.."

Suho memutuskan untuk menelpon Yifan yang berada di LA. Menunggu panggilannya diterima Yifan.

"Hallo.."

"Hai.." Suho ragu untuk menjawab suara serak Yifan yang setengah sadar. Beberapa saat Suho menunggu.

"Hai bunny.."

"Masih mengantuk..?" Suho menggaruk pelipisnya.

Tawa serak terdengar "Aku ingin melihatmu. Tunggu sebentar. Aku akan mencuci muka.."

Suho hanya bisa tersenyum ketika panggilan terputus. Pria itu melompat dari ranjangnya hanya untuk memperhatikan diri di depan cermin. Merapikan tatanan rambutnya. Menekan beberapa bagian wajahnya. Nada panggilan masuk dari Skype berdering di tablet Suho. Sekilas Suho kembali bercermin sebelum kembali pada ranjangnya. Menggunakan earphone dan menerima panggilan Yifan.

Suho bisa melihat wajah yang lembab yang masih mengantuk itu di layar tabletnya.

"Hai sayang.." sapa Yifan dengan mata setengah terbuka.

"Tidak masalah..? kau terlihat masih mengantuk.."

Yifan menggeleng. "Bagaimana hari terakhir..?"

Suho berpikir dengan senyum terkulum "Berjalan lancar. Bagaimana masakannya..? Mama suka..?"

Jari Yifan terangkat dan menunjuk pada Suho. "Resep yang kau berikan terbaik. Mama menyukainya.."

"Sungguh..? aku bersyukur jika kau tak mempermalukanku di depan ibu mertuaku.."

Mata Yifan terbuka dengan senyum lebar. "Ibu mertuamu..?"

Suho tergelak dan kepalanya menggeleng. "Lupakan.."

"Seseorang ingin segera untuk dinikahi.." Yifan berseru.

"Yifan berhenti menggodaku.." Suho mengancam dengan wajah menggemaskannya.

Yifan tersenyum. Lama hanya untuk memandang wajah kekasihnya. Pria itu bertopang dagu menatap ke dalam mata Suho melalui kamera.

"Ada apa..?" Suho kembali jadi sosok lembut yang Yifan tau.

"Sudah berapa kali aku mengatakan jatuh cinta padamu..?"

Suho memicing "Aku lupa.."

Yifan mendekatkan speaker earphone pada bibirnya "Ingin ku ingatkan..?"

"Mengingatku berapa kali kau jatuh cinta padaku..?"

"Mengingatkanmu tentang setiap alasan yang membuatku jatuh cinta pada seorang pria.."

Suho mengulum senyum. "Silahkan.."

"Kau percaya jika aku jatuh cinta padamu karena wajahmu cantik..?"

Suho tertawa. "Kau tau aku tak menyukai kata itu.."

"Tepat sekali. Itu alasan paling tidak masuk akal untuk mencintai seorang pria.."

Suho menatap Yifan "Tidak ada pria cantik.."

"Ya. Tidak ada pria cantik. Kekasihku tidak cantik.." Yifan mengerang kesal. "Aku paling membenci jika ada yang berkomentar bahwa kekasihku cantik.."

"Sungguh..?" Suho memicing dengan bibir mencibir.

"Sayang.." Yifan menunjuk. "Jangan melakukan itu atau aku akan mengambil penerbangan ke Tokyo saat ini juga.."

Suho tergelak. "Berlebihan. Jadi apa alasan pertama yang membuat Wu Yifan mencintai seorang pria..?"

Yifan sesaat terdiam "Kerana aku membutuhkanmu.."

Suho memainkan bibirnya. "Kau membutuhkanku..?"

"Aku membutuhkanmu lebih dari yang kau tau.." Yifan mengunci tatapan mata Suho.

Suho menahan napas sesaat. "Mengapa kau membutuhkanku..?"

Yifan langsung memutus kontak. Matanya berputar acak mengindar dari tatapan Suho. "Sayang.." Yifan kembali pada Suho nya. "Ini akan terdengar sedikit menggelikan, tapi hanya ini kata-kata yang terpikirkan olehku.."

"Apa..?" Suho dengan sabar menunggu.

"Karena kau duniaku..?"

Suho menggeleng.

"Kau napasku..?"

Suho semakin keras menggelengkkan kepalanya.

"Kau poros hidupku.."

"Wu Yifan..!" Seru Suho.

Yifan tertawa lepas melihat mata Suho yang membulat kesal. "Wajahmu lucu. Aku ingin sekali menciummu.."

"Berhenti memperlakukanku seperti seorang wanita.."

Yifan perlahan mereda tawanya. "Aku serius.." wajah tampan itu menampilkan ekspresi hangat. "Aku membutuhkanmu lebih dari yang kau tau. Itu alasanku jatuh cinta padamu. Lebih kepada perasaan daripada fisik.."

"Lalu yang kedua..?"

Yifan berpikir dengan ekspresif. "Karena kau membutuhkanku.."

Suho ingin membuka mulut namun hanya helaan napas yang terdengar.

Yifan bertepuk tangan atas sikap Suho. "Kau membutuhkanku..."

"Lanjutkan yang lain.."

"Hanya dua.." Yifan melipat tangannya di depan dada. Kedua alisnya di naik turunkan.

"Hanya dua..?" ulang Suho.

"Hanya aku dan kau.."

Suho sudah mengantuk untuk melawan tingkah Yifan pagi ini. "Kau terlihat bersemangat untuk menggodaku.."

Yifan melepas bajunya, membuat mata Suho membulat sempurna. "Seperti ini baru menggodamu.."

"Pakai baju mu kembali..!"

"Kau malu..? Ah kekasihku malu.." Yifan menjengkelkan dengan nadanya ini.

"Sayang, pakai bajumu kembali.."

"Tidak mau.."

Suho harus memberi pelajaran pada kekasih jahilnya. Sepihak Suho memutus sambungan mereka. Pria itu tetawa geli membayangkan bagaiman reaksi Yifan atas sikapnya. Jika menurutin mau Yifan, maka Suho tidak akan tidur karena kejahilan kekasihnya itu.

Panggilan masuk kembali dari Yifan. Suho tidak terburu-buru untuk menerima panggilannya. Kelinci putih menghiasi layar tablet Suho saat sudah terhubung dengan Yifan.

Yifan menggeser boneka kelinci itu, hingga kini terlihat wajahnya. "Aku sudah mengenakan bajuku lagi.."

"Kau suka..?" Suho bertanya.

"Kelincinya..?" Yifan memastikan.

"Ya.."

"Mengapa harus kelinci..? apa agar aku selalu mengingatmu. Kau meletakkan di atas tempat tidurku.." Yifan memicing dan berbisik "Apa kau ingin setiap aku memandang boneka ini aku akan berfantasi denganmu..?"

Suho membuka mulut. "Daya khayalmu setelah bangun tidur semakin kacau, sayang.." komentar Suho.

"Bunny.."

"Ya.."

"Kapan kau ke rumah ini lagi..?"

"Ketika aku ada waktu atau pekerjaan di sana.." jawab Suho dengan mata setengah terbuka.

"Tidakkah kau terlalu jahat padaku. Aku membeli rumah ini untukmu, tapi kau tak pernah mengunjungi rumah ini.."

"Untukku, bukan untuk mama..?" senyum manis itu terlihat samar menahan kantuk.

Yifan terdiam. "Kau mengantuk sayang..?"

Suho hanya mengangguk.

"Istirahatlah.."

Suho melenguh pelan.

"Bunny.." Yifan menikmati pemandang Suho yang mencoba berbaring. "Aku jatuh cinta kepada seorang pria sepertimu karena aku membutuhkanmu lebih daripada seorang wanita.."

Suho tersenyum dengan mata terpejam. "Aku mencintaimu.."

"Aku mencintaimu.." balas Yifan. "Selamat tidur, sayang.."

"Selamat tidur kembali, Fanfan.."

Yifan memberikan suara kecupan di akhir sebelum mengakhiri panggilan.

Suho melepas earphonenya, menggeser kesamping tabletnya. Bibir itu masih tersimpul senyum. "Kau membutuhkanku lebih daripada seorang wanita. Fanfanku begitu manis.."


.

.

THE END

.

.

A/n : Hallo... Aku update ini FF dulu ya.. Newlywed sama Laoshi baby bakalan di lanjut bulan depan.. Ini FF juga kebuatnya karena kepikiran sama penilaian orang tentang cowo cantik. Bagi aku pribadi cantik itu untuk perempuan sama sesuatu yang feminim. Laki-laki udah pasti bukan perempuan dan feminim. Itu menurut penilaian aku sih. Tema kali ini lebih ke alasan mengapa mereka memilih hubungan berbeda dari biasanya. Yang pasti bukan karena fisik.

iseng tengah malamnya gue.. wkwkkww bubye kalian.. thank's untuk review, follow, dan fav nya..