HARI KU TENTANG MU
Naruto belongs to Mr. MK
But story is mine
Hanya hiburan semata
HINATA HYUUGA & PATNER
Horeeee..Hinata bahagia . Akhirnya hari ini, setelah 6 hari Mikoto baasan sudah sembuh juga bibi Kaneko sudah kembali bekerja jadi Hinata terlepas dari belenggu bantuin Sasuke. Horee...hip bip hip ...horeee
Akhirnya malam ini Hinata bisa tidur nyenyak. Sembari mengerjakan tugas di kimia untuk besok yang hampir selesai, tiba-tiba Hinata teringat Sasuke yang memegang tangannya .
"Apa maksud Sasuke-kun ya,?" pikir Hinata.
Jantungku terasa aneh, aku tak bisa menyapa langsung lagi. Pasti aku menyembunyikan wajah yang tiba-tiba terasa panas saat kami berpapasan. Jadi seperti orang asing. Begitu pikir Hinata.
Hinata duduk di kelas 1D SMP. Sedangkan Sasuke berada di kelas 2B. Sasuke dan Hinata bersekolah di Konoha gakuen. Sasuke bilang, nantinya akan melanjutkan ke SMA Kirin seperti Itachi niisan .
Dimana musim panas akan berakhir 2 pekan lagi, musim semi akan menyapa. Sekolah akan mendapatkan pertukaran pelajar baru dari kota lain seperti yang selama ini terjadi. "Apakah aku mengajukan diri saja ya, tapi itu hanya berlaku saat kelas 2 nanti" pikir Hinata.
Hinata tidak suka saat Sasuke bersikap mendiamkannya. Itu menyiksa.
Memang dari kepindahan 4 tahun yang lalu, Hinata lah yang bersikap ramah terlebih dahulu , yang menawarkan kue jahe dan jus tomat kepada Sasuke. Hinata yang selalu mengajak Sasuke. Mungkin saja sikap Sasuke yang sedikit pendiam, ketus serta acuh tak acuh membuatnya sulit mengekspresikan diri.
Sangat berbeda dengan Itachi niisan yang supel dan menyenangkan.
Saat mengunjungi tetangga baru, Ibu Hikari bersama Hinata mengantarkan kue jahe yang baru mereka buat.
Karena sebelum pindah , Ibu Hikari mendapat hasil panen tomat dari nenek Hinata yang tinggal di Hokaido, jadi Ibu Hikari berinisiatif membawa sekeranjang tomat dengan setoples kue jahe hangat untuk tetangga sekitar.
Sebagai tetangga baru di komplek perumahan Fuji, Ibu Hikari telah berkunjung ke tetangga sekitar. Disamping kanan ada rumah keluarga Inoichi sedang di seberang jalan ada rumah keluarga Nara, keluarga Haruno serta keluarga Uzumaki.
"Nah Hinata-chan, sekarang bunyikan belnya. Ini tetangga terdekat rumah Mikoto baasan" ujar Ibu Hikari
Ding dong...ding dong... ding dong...bunyi bel bergema saat jemari mungil Hinata meenyetuh benda kotak tersebut.
"iya sebentar" jawab suara dari dalam rumah.
Mikoto bergegas membuka pintu rumah.
"Oh nyonya Hikari, sekarang sudah resmi pindah ya.
Putri mu?" ucap Mikoto seraya menyambut Ibu Hikari dan Hinata.
"iya. Putri sulungku namanya Hinata. Hinata beri salam ke Mikoto baasan sayang" ucap Ibu Hikari.
"S-selamat siang , saya Hinata Hyuuga. Senang berkenalan dengan nyonya. Ini kue jahe dari kami" ujar Hinata kecil sembari menyerahkan kue jahe bersama tomat kepada Mikoto baasan.
"ichhh...kau putri kecil manis yang sopan. Panggil Mikoto baasan saja ya sayang" jawab Mikoto.
"i-iya Mikoto baasan" ujar Hinata.
Bertiga Hinata dan duo nyonya berjalan menuju ruang tamu. Nyonya Mikoto mempersilahkan tamu nya menikmati sajian teh melati yang mengepul dari teko set yang baru saja ia bawa. Dengan setoples cookies coklat, setoples kue selai coklat dan kue isi kacang merah yang tersaji indah di area meja.
" silahkan dinikmati Hikari-san. Hinata-chan coba cookies coklat bibi sayang" ujar Mikoto baa san yang menyodorkan sekeping cookies itu ke mulut mungil Hinata.
Anak kecil tiada mungkin menolak coklat.
Hal itu berlaku juga untuk Hinata.
Sudah 1 jam sejak kedatangannya bersama sang Ibu.
Dan bibir mungil itu tiada lelah mengunyah cookies coklat sementara mendengar perbincangan dua orang dewasa itu. Sesekali kepala nya mengangguk-angguk dan tersenyum kepada Mikoto baa san.
Entah topik apa yang mereka bicarakan Hinata hanya terus menikmati enaknya kue -kue coklat di depan mata nya.
Ibu Hikari mengambil teh sejenak mengguyur dahaga di tenggorokannya.
Mata sang Ibu melirik Hinata yang masih betah menguyah kue-kue itu. Coklat, Hinata sangat menyukainya.
Lalu mata sang Ibu terbelalak, setoples cookies coklat tinggah separuh dari sebelumnya. Dan kue isi selai coklat juga sudah seperempat dari isi semula .
"Hinata-chan , sudah. Hinata sudah makan banyak kue -kue nya. Nanti habis kue Mikoto baa san" sergah Ibu Hikari sebelum sang putri tercintanya menjamah kembali toples indah tersebut.
Mikoto tersenyum . Ini adalah kebahagiaan tersendiri di mana ada yang begitu menyukai kue -kue coklatnya. Anak-anak juga suami nya bahkan jarang memakan hasil olahan jerih payah sang Ibu.
Tapi...
Kan Uchiha trio tiada memakan makanan yang manis-manis #mamagakpeka #
"Maaf ya Mikoto-san , Hinata chan menghabiskan kue-kue mu. Putriku ini memang menyukai coklat. Juga aku rasa sudah cukup lama kami berkunjung, kami pamit dulu" ucap Ibu Hikari.
"Tak apa Hikari-san. Aku suka Hinata-chan menyukai kue-kue buatanku. Hinata chan juga sangat lucu. bolehkah Hinata main sejenak sampai nanti sore Hikari-san.
Bagaimana kalau bersama bibi, kita membuat jus tomat untuk putra-putra bibi. Kita buat juga kue bersama, pasti menyenangkan.
Aku iri padamu Hikari san. Ahh..padahal aku sangat ini memiliki putri yang semenggemaskan ini" puji Mikoto sembari mencubit gemas pipi bundar Hinata.
"Bagaiman Hinata, apa kau mau bermain sejenak di sini?" tanya Ibu Hikari.
Hinata memainkan dua jemari kecilnya di depan dada sejenak berfikir ,lalu berujar " B-baiklah baasan, Hinata mau"
"Ibu pulang dulu ya sayang, nanti sore Ibu jemput disini , jaa" pamit Ibu Hikari setelah mendapati jawaban Hinata.
Selang 1 jam kemudian, Sasuke dan Itachi pulang.
Semerbak harum kue brownis coklat panggang menyeruak. Kue yang dibuat telah matang.
"Aku mau mencicipinya. Kelihatannya enak" ucap Hinata dalam hati.
Mikoto terkekeh melihat wajah Hinata dengan liur hampir menetes.
Ahh..tidak sia-sia ternyata les memasak yang dipelajari dari kelas tata boga terdahulu.
"Hinata mau coba, ini buka mulutnya, aaaa" Mikoto berucap sembari menyodorkan sekeping kue yang telah disajikan di piring menuju mulut mungil Hinata.
"Kami pulang" ucap Itachi seraya membuka pintu rumah. Sasuke mengekor di belakang , sebelah tangan membawa buku mata pelajaran.
"selamat datang, Ibu di dapur Itachi, Sasuke" jawab Mikoto baasan.
"Oh, itu siapa Bu. Anak kecil yang menggemaskan. Mau berteman dengan kakak Itachi dan Sasuke?" Tawar Itachi sembari menjulurkan tangan kepada Hinata.
Hinata terdiam.
Setelah satu suapan kue dari Mikoto baasan, ia tiba-tiba dikejutkan kedatangan putra dari nyonya rumah.
Kakaknya ramah dan hangat. Pikir Hinata.
"N-nama saya Hinata Hyuuga. Maaf, saya tetangga baru," ucap Hinata dengan wajah menekuk ke bawah. Merasa tidak nyaman dengan tatapan lelaki raven seumuran yang menatap sinis padanya.
"Kau. Kenapa bersama Ibuku. Kenapa bikin kue brownis . Aku tak suka" cerca Sasuke.
Mikoto shock. Kenapa Sasuke sinis begitu. Ada masalah apa hari ini.
"Itachi, kau apakan adikmu? Sasuke mengapa bersikap seperti itu? " ujar Mikoto.
Refleks Itachi mengibaskan kesepuluh jari nya.
"aku tidak melakukan apapun Bu, Sasuke saja yang sensi kamus salah bawa aku yang di salahkan" ucap Itachi.
"Bukan salah Itachi niisan. Huuhh yang benar saja? Kakak yang kemarin pinjam kamus bahasa inggrisku,
kenapa kakak mengembalikannya kamus ringan bahasa Spanyol. Gara-gara itu aku dapat nilai 71 untuk tugas dari guru dan semua itu salah kakak" ucap Sasuke berapi-api.
Hinata dan Mikoto baasan yang menyaksikan jadi terheran sendiri.
Bukannya nilai 71 sudah bagus.
Tapi pemikiran si bungsu uchiha tak seperti kebanyakan anak lainnya.
Ambisi nilai sempurna adalah 100. Seperti kiat yang diajarkan Papa Fugaku.
Sebelum perang bersaudara terjadi, harus segera di lerai pikir Mikoto.
"Sudahlah Itachi, minta maaf kepada Sasuke. Dan Sasuke maafkan kakak ya. Sasuke sayang, Mama sedih jika kalian berdua bertengkar" ucap Mikoto sembari menghapus setetes air yang tadi ia ambil dari gelas dimeja dapur.
Cara jitu ala Mikoto untuk segala masalah #hahahahaha
Itachi sudah tak mempan trik lama sang ibu tetapi sebagai anak yang sulung , ia merasa harus memberi contoh yang baik maka dari itu Itachi menjabat tangan sang adik sembari berucap maaf.
Lain halnya dengan Sasuke, berhubung anak bungsu termanja sang ibu, mana bisa Sasuke melihat sang Ibu cemberut, apalagi sedih dan menangis.
Justru Sasuke lah yang paling peka terhadap hati Ibunya, walaupun Sasuke menyembunyikan dengan sifat pendiam seperti sang ayah.
"Baiklah, aku maafkan kakak. Mama aku kan sering bilang, kami tidak bisa menghabiskan kue brownis mama yang manis. Lalu kenapa jumlahnya sampai 2 piring begitu. "ucap Sasuke sembari menatap horor dua piring besar yang telah tersaji tumpukan kue brownis nan menggoda.
"Oh itu bukan untukmu atau Itachi . Kue ini mau mama berikan ke Hinata-chan sekeluarga. Tetangga baru kita.
Oh di lemari es ada jus tomat kesukaanmu Sasuke. Tadi Hinata-chan yang membawa dan membuat jus tomat bersama Mama. Dan Itachi, kau bilang mau kue jahe kebetulan tadi dapat tomat dan kue jahe dari tetangga baru. Ada di meja samping lemari es ya. Mama akan mengantar Hinata-chan pulang dulu" ucap Mikoto baasan.
Sasuke berjalan kearah Hinata.
Menatap sejenak.
Sebagai anak kecil, Sasuke tahu juga ia tak seharusnya bersikap tak baik ke orang asing.
Mama Mikoto bilang, kita harus baik dang jangan jahat. Walau Uchiha diam dan ketus, bukan berarti ia jahat lho..
"mmmm.. kau... maaf tadi aku jahat padamu. Aku tak bermaksud begitu... hanya brownis membuat gigiku sakit dan akan ompong...dan terima kasih tomatnya" Sasuke berucap kepada Hinata.
"Anak mama...ohhh ...bagus Sasuke, kau harus berteman baik dengan Hinata-chan. Hinata-chan mau berteman dengan Sasuke" ujar Mikoto baasan menunjukkan wajah merayu pada anak kecil di hadapannya.
"I-iya , a-aku akan berteman dengan Sasuke " ucap Hinata ,wajahnya malu menatap Sasuke yang masih tanpa ekspresi .
Aku dan kau adalah teman.
Hinata dan Sasuke berteman.
Menurut Hinata, pasti menyenangkan mempunyai banyak teman. Jadi Hinata tak pernah menolak siapa pun yang mau berteman dengannya.
Menurut Sasuke teman adalah pilihan yang kau pilih , jadi Sasuke hanya berteman dengan yang ia pilih.
Untuk Uzumaki Naruto serta teman kompleks Fuji, tentu Sasuke tidak bisa menolak pengaruh Mama Mikoto itu hal itu.
Rabu pagi Hinata bagun secepat mungkin. Rutinitas Hinata merapikan kamar dan membantu Ibu Hikari menyiapkan sarapan.
"Hinata-chan sudah bangun , sudah mandi ?" tanya ayah Hiashi yang sedang melihat berita pagi sebelum bekerja.
"Iya, aku akan membantu Ibu di dapur. Ayah mau kopi atau teh?" tawar Hinata.
"Segelas teh madu ,dan tolong kau bangun kan Hanabi" jawab sang ayah.
Sarapan sudah selesai, Ayah akan berangkat mengantar Hanabi ke SD Konoha melalui rute baru. Biasanya Ayah Hiashi melalui sekolah Hinata, namun karena penutupan jalan maka Ayah terpaksa hanya bisa mengantar Hanabi saja.
"Hinata -chan benar tidak apa-apa berangkat sendiri. Rute bis tidak sampai kompleks ini , Ayah Ibu khawatir" ujar Ibu Hikari.
Saat di depan rumah, tanpa sengaja Ibu Hikari melihat Sasuke mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Tanpa Hinata duga , sang Ibu memanggil Sasuke meminta bagaimana jika Hinata ikut ke sekolah bersamanya.
Sejak kapan Sasuke bawa sepeda motor. Bukannya setiap hari Sasuke di antar sopir menggunakan mobil keluarga . Pikir Hinata.
Terlebih Hinata merasa aneh dengan jantungnya yang berdetak kencang saat melihat Sasuke berbicara dengan Ibu Hikari.
"Ayo, aku tak mau terlambat pagi ini. Akan macet di jalan utama karena pawai seni rakyat" ucap Sasuke.
Sasuke yang telah bersiap di atas sepeda motor mengulurkan helm untuk Hinata. Hinata menerima helm, segera memakainya, berharap pada jantungnya semoga tidak berdegup aneh lagi. Selain itu Hinata tak mau nilai kehadirannya mendapat nilai jelek.
Tak sampai 35 menit sampai juga Hinata dan Sasuke di sekolah. Sasuke mengendari sepeda motor dengan kencang membuat Hinata yang takut jatuh tanpa sengaja memeluknya.
Masih pagi, belum banyak siswa yang datang.
Begitu sampai di tempat parkir sepeda motor, Sasuke segera mematikan mesin motornya.
"sepertinya kau terlalu nyaman memeluk punggungku, kau akan seperti ini sampai kapan Hinata-chan" goda Sasuke.
Muka Hinata memerah, hendak melepas helm namun malu. Lalu Hinata turun dari sepeda motor.
"Haduwh gimana nih, sejak kapan Sasuke mesum begini. Apa karena berlibur di kota besar Sasuke jadi seperti ini" ucap Hinata dalam hati.
Tepatnya bulan lalu Sasuke berlibur kota Tokyo ke rumah sang nenek. Sasuke bilang ia ingin jalan-jalan melepas stress.
Kalau menurut Hinata ini bukannya Sasuke melepas stress di kota Tokyo.
Hinata yang dapat stress setelah Sasuke ada di Kyoto lagi.
Hinata merasa Sasuke menatapnya dengan lain, bukan seperti sahabat akrab kemarin. Ada maksud tersembunyi dibalik bakwan itu. Salah salah salah..ada maksud lain dibalik tatapan itu. Terparah adalah minggu itu.
Minggu dimana dia bilang "aku mau ..." emang Sasuke mau apa.
Setelah itu,Hinata tak tahan dekat-dekat Sasuke.
"Helo ...helooo Hinata . Kau melamun? " ujar Sasuke yang melepas helm Hinata.
Wajah Sasuke dan Hinata tak lebih dari 10 cm.
Muka Hinata yang memerah terlihat oleh wajah Sasuke. Sasuke semakin menyukai pemandangan menggemaskan ini. Tak rela Hinata berpaling ke lainnya.
Sasuke ingat saat liburan ke Tokyo bulan lalu, tanpa sengaja Sasuke bertemu teman grup fotografi yaitu Sabaku Gaara. Pertemuan yang ia sesalkan, ternyata Gaara meminta tolong padanya dengan menyerahkan sebuah foto. Foto gadis kecil berambut sebahu, berpipi chubbi sedang tersenyum indah sembari memberikan makan wortel ke kelinci. Meminta bantuan menemukan cinta masa kecil Gaara.
Dan Sasuke tak bisa. Tak bisa memupuskan rasa simpati yang telah terpupuk menjadi sesuau yang bernama benih-benih cinta yang menyebar di dada Sasuke.
Sasuke paham persaan aneh ambigu itu akhirnya ia temuka apa maknanya. Maka secepat kilat Sasuke pun merasa harus segera memiliki Hinata..
Bukan Itachi niisan, bukan Sabaku Gaara atau pun lainnya.
Pokoknya Hinata punya Sasuke.
Maka dari segeranya Sasuke kembali di Kyoto, ia memulai mendekati Hinata. Menatapnya penuh damba. Sosok dewi idaman pria. Dan Sasuke lah pria beruntung yang akan mendapatkan hati Hinata Hyuuga.
Walaupun harus merubah segala sikap tak apa, untuk Hinata Sasuke sanggup melakukan semuanya.
Harusnya juga Sasuke bisa menyatakan sayangnya pada Hinata tempo hari.
Semua salah Itachi niisan.
Mungkin sekarang kesempatan bagus.
"Sini Hinata, mendekatlah padaku" Sasuke menarik tubuh Hinata. Membaui harum gadis indahnya.
Dag deg ...dag dig dug... Jantung Hinata bertalu. Ini menyiksa sekaligus menyenagkan.
"K-kenapa kau melakukan ini Sasuke kun? Ujar Hinata mendongak menatap wajah Sasuke yang memeluk tubuhnya.
Dua hati bertalu merdu. Berirama membentuk suara hening hati . Akankah ini berlangsung indah. Untuk kita, Hinata. Pikir Sasuke
"Aku mau... aku...
aku mau...mengetes saja. Aku kan punya kharisma jadi harusnya semua wanita takluk kepada ku" ucap Sasuke tanpa sadar.
Hening
Segera Hinata mendorong Sasuke sambil menggerutu sebal " apa-apaan itu. Huh kharisma. Kau mempermainkanku Sasuke. Sebal sebal sebal.. aku pulang minta anter Naruto saja kalau gitu"
Ackhhh bukan itu maksudku, benar bukan itu Hinata.
"Aku mau...aku mau kau hanya melihatku. Hanya aku , tolong terima rasa ini. Aku suka padamu. Aku menyayangimu Hinata Hyuuga" itu yang ada di pikiran Sasuke. Itu yang harusnya di ucapkan.
Tapi ternyata kenyataan tak semulus rencana. Oh Kamisamaaaaa...
"Terima kasih padamu
Man teman reviewmendukungku
Thanks to: semua pembaca
