(Trainees belong to God, their families, their ent, and their fans. Me just own this story line)
(Boy x Boy, you might hate it)
.
Unexpected Fate
3.
.
Aku sudah menanti Hyungseob di depan gerbang sekolah sedari setengah jam yang lalu. Memang kita janjian jam 9 pagi namun ntah kenapa aku yang begitu bersemangat malah datang jam 8.45.
Heran, itulah yang aku rasakan. Padahal menurutku seharusnya Hyungseob bersemangat dan malah bisa datang lebih cepat dariku. Tapi aku hanya berusaha berpikir positif dan tetap menunggu.
Pikiranku melayang kepada sosok yang sudah mewarnai hariku hampir sebulan ini. Sebenarnya niatku mengajak Hyungseob jalan hanyalah sebagai bentuk terima kasihku karena Hyungseob sering memberikan bekal untukku. Tapi dalam hati kecilku ada sedikit keinginan untuk mempertanyakan banyak hal tentangnya.
.
"Oi, Hyung" Kulihat Samuel sedang berjalan kearahku. Aku menyapanya kembali.
"Lah? Lukamu udah gapapa? Ngapain jalan sendirian?"
"Selaw, hyung. Bosan juga kalo di kamar mulu. Aku beli beberapa camilan untuk menemaniku. Gaenak tahu sendirian." Samuel tersenyum, aku ikut tersenyum menatapnya. Senang melihat dia semangat seperti itu.
"Hyung ngapain disekolah, btw? Libur kan?"
"Ada janji."
Dia menganggukkan kepalanya. "Padahal tadi mau ku ajak makan eskrim di cafe biasa."
Aku menatap jam di pergelanganku. Kalau boleh jujur sebenarnya aku sedikit lapar dan kesal (karena Hyungseob belum datang juga).
.
Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku mengiyakan ajakan Samuel dan berjalan bersama Samuel menuju cafe tersebut.
.
Aku tertawa setelah Samuel menceritakan kejadian-kejadian konyol di sekolahnya. Sekolah kami yang berbeda membuat Samuel selalu mempunyai kisah seru dan gossip-gossip hangat. Lumayan juga, untuk membunuh waktuku menunggu Hyungseob.
Aneh juga, udah sejam lebih tapi batang hidungnya belum kelihatan. Chatku juga belum dibalas.
"Kau janjian sama siapa sih hyung?" Samuel menatap ponselku penasaran sambil menyuap eskrimnya. Aku hanya menaruh kepalaku ke meja. Kesal.
"Aaaah. Aku tahu, Hyungseob kan?" Aku menganggukkan kepalaku malas. Rasanya sedih ketika dia tidak ada kejelasan seperti ini. Kuhiraukan tatapan iseng Samuel kepadaku.
"Oh iya hyung, sepertinya kemarin ada yang ingin kamu ceritakan? Apa?"
Pertanyaan Samuel menyadarkanku, aku kembalikan posisi tubuhku dan menegakkan badanku. "Kemarin tuh Hyungseob ada ngomong sesuatu yang aneh ke aku."
"Dia sempat berpesan 'Woojin, tolong bilang Samuel untuk berhati-hati mulai dari hari ini sampai 2 minggu kedepan'. Aku kemarin ingin bilang tapi gaenak karena ada Daehwi. Aku takut bikin dia khawatir sama kondisi kamu." Samuel yang mendengar perkataanku hanya menganggukkan kepalanya.
"Well, ga aneh sih. Sebenarnya dulu aku beberapa kali pernah dapat peringatan serupa. Bedanya via Daehwi. Mungkin ini adalah kali ke-4 aku dapat peringatan yang seperti ini."
"Benarkah?"
"Yup." Samuel mengunyah kuenya terlebih dahulu sebelum melanjutkan. "Tapi, bukan acara gebuk-gebukan kayak gini juga sih. Ada yang pas aku kecelakaan, pas aku cidera waktu kompetisi dance, sama pas aku kena campak karena kelelahan latihan. Biasanya cuman gitu-gitu doang."
"Harusnya hyung bilang ke aku biar aku lebih siaga." Aku hanya menatap tak enak ke arah Samuel.
"Yaa. Aku kan gatau juga."
"Iyasih hyung. Btw, janji apasi sama Hyungseob? Udah jam setengah sebelas loh."
Aku memelototkan mataku. Serius?
"Um. Keliatannya Hyungseob hyung lupa mungkin? Atau ada acara kali." Iya kali ya. Aku pun hanya mendengus menyadari hal itu.
"Temani aku ngecat rambut saja yuk hyung." Ajak Samuel yang langsung aku iyakan, daripada udah repot dandan terus gak jadi kemana-mana.
.
Aku sibuk membolak-balikkan majalah di salon langganan Samuel. Anak itu memang hobi sekali gonta-ganti warna rambut, sampai noona-noona disini hafal dengan Samuel, bahkan teman-temannya.
.
"Gimana hyung?" Tanya Samuel yang tidak kusadari sudah berada di depanku. Dia mengecat rambutnya sampai berwarna mirip denganku. Aku hanya terbahak melihatnya.
"Wah wah kita mirip ya, tinggi sepantaran, postur hampir sama, kalau dilihat dari jauh orang bisa salah ngira." Kami tertawa bersama.
"Hyung, nanti kita coba tukeran jaket yuk. Aku mau kerumah Daehwi, ngangetin dia. Sekalian kamu bisa nyamper Hyungseob terus isengin dia hehe." Aku yang mendengar perkataan Samuel terdiam. Ku ambil ponselku dan ku cek notif pesanku. Tidak ada ya?
"Baiklah." Aku tersenyum tipis. Jujur, aku mulai khawatir. Mungkin tidak ada salahnya menghampiri ke rumahnya.
.
Aku dan Samuel baru saja sampai di sekitaran perumahan tempat Daehwi tinggal. Jika kalian berpikir bahwa kami menaiki mobil maka jawabannya adalah tidak. Kami bukan tipikal anak orang kaya yang senang berpenampilan mencolok. Jalan kaki sudah cukup membuat kami senang.
Sebenarnya sedari tadi ada sedikit perasaan yang menggangguku, namun hal tersebut ku hiraukan saja. Bertemu dengan Hyungseob menjadi tujuan utamaku supaya perasaan takutku dapat hilang.
"Hyung mau masuk apa tunggu disini saja?"
"Aku nunggu Daehwi disini saja. Gamau jadi obat nyamuk." Aku mengibaskan tanganku. Samuel tertawa dan masuk kedalam meninggalkanku di teras rumah.
Aku terdiam memandangi rumah Daehwi, sejujurnya aku belum pernah main ke rumah Daehwi, selain karena cukup jauh, basecamp kami pun hanya di cafe dekat sekolah dan rumah couple OngNiel Hyung. Setelah puas memandangi, kualihkan pandanganku ke rumah seberang. Samper tidak ya?
Hatiku terus berperang. Tanpa kusadari langkah kakiku membawa diriku berjalan ke seberang. Yah, mungkin sedikit kejutan akan membuatnya senang.
.
.
"WOOJIN HYUNG AWAS!"
Belum habis ku berbalik badan melihat ke arah teriakan dari rumah Daehwi, badanku sudah terpental begitu saja.
.
BUGH
"WOOJIN!" Di tengah kesadaranku, kulihat Hyungseob berlari ke arah dimana ku tergeletak.
"WOOJIN KAMU GAK PAPA?!"
"Hyungse-…"
puk
-TBC-
.
.
HEHE.
i really enjoy writing this ff so i dont mind whether the review is lesser or nope, still fast updte.
aku msh sedih krn episode 9, so sorry :)
cek my new ff: Being Fujoshi!
