Naruto belongs to
This story is mine
Hanya hiburan semata
HYUUGA HINATA & PATNER
Hinata mengerjapkan mata. Membaui ruangan putih penuh obat. Aahh, pasti di UKS.
Mengedarkan pandangan mata, jam 11.30. "Apa yang terjadi, kenapa aku merasa lelah" Pikir Hinata
Berupaya bangun, Hinata mengangkat tubuh, bersandar di bantal, tangannya meraih segelas air di meja terdekat. Meminum perlahan, mengembalikan kesadaran.
Tsunade masuk dan menyapa " Kau sudah sadar Hinata. Sudah merasa lebih baik?
Aku rasa kau terkejut akan suatu hal, dan jangan terlalu banyak berfikir ya"
"Iya, baik Tsunade sama " jawab Hinata.
Tet..teeet...teetttrr. bel istirahat berbunyi.
Ino,Sakura,Shikamaru dan Naruto berjalan beriringan menjenguk ke UKS bersama.
"Kemana 2 pangeran Hinata tadi, bukan setidaknya mereka yang harus melihat Hinata segera setelah pengungkapan cinta dramatis tadi. Aku takut kalau nanti ada siswi yang iri dan membully Hinata" ucap Ino.
"Tadi aku melihat Sasuke dan Gaara bergegas keluar. Mungkin sekarang mereka sudah ada di UKS.
Bully? Haha..itu adalah pernyataan ketidakmampuan mereka membuat Gaara atau Sasuke jatuh hati, kenapa juga hari iri. Lagipula kita pasti melindungi Hinata yo Sakura" ucap Naruto sembari menyenggol mesra bahu Sakura.
"Apa-apaan kau bodoh...kau lupa Hinata itu pemegang sabuk hitam judo. Dia pasti bisa melindungi diri sendiri. Menurut pengamatanmu, Hinata akan memilih Sasuke atau Gaara, Shikamaru?" Ucap Sakura menatap Shikamaru di sebelah kirinya.
"Aku tak tahu,mungkin Sasuke lebih berpeluang. Sepertinya selama ini Hinata nyaman dengan Sasuke" ucap Shikamaru.
Mereka sampai di depan pintu UKS. Ada yang aneh, bukannya kata Naruto Sasuke dan Gaara sudah keluar duluan tapi kenapa tidak ada yang menjenguk Hinata.
Lalu mereka masuk ke ruang bernuansa putih itu.
"Hinata, kau sudah sehat. Syukurlah...ya, apa Sasuke dan Gaara tidak kesini?" tanya Naruto heran.
Hinata terdiam, setelah ia bangun hanya Tsunade sama dan mereka yang baru ia lihat.
"Dua idiot pengganggu itu.
Aku mengusir mereka. Terlalu bising, mereka berdebat saat wanita tertidur, ckckckck memalukan sekali"sahut Tsunade sama yang berdiri di samping ranjang Hinata
"Aku harap kau tidak mimilih manusia aneh itu Hinata. Shikamaru sepertinya lebih cocok untukmu" lanjut Tsunade
Shikamaru terenyak, di balik ketenangannya, degup jantungnya bergemuruh. Apakah sikap khususnya pada Hinata terbaca jelas oleh sosok yang lebih tua itu.
Sedang Hinata, tersenyum tipis menanggapi gurauan Tsunade sama.
"hahaha... mana mungkin Shikamaru menyukai Hinata. Shikamaru itu anti perempuan, Tsunade sama" ucap Ino.
Yang lain pun membenarkan.
Sedang Shikamaru masih berkutat dalam diam, entah apa yang ia pikirkan sekarang.
"Baiklah, sekarang kalian bawa Hinata-chan ke kelas dan nanti tolong antarkan ke rumah" ujar Tsunade sama.
Bersama-sama berjalan menuju kelas 1D, Hinata di pegang Ino. Membantu menjaga keseimbangan, antisipasi apabila Hinata jatuh karena badannya yang masih lemah.
"Hinata, Hinata kau sudah sembuh. Apa ada bagian yang sakit. Ini kue cinnamon roll dari toko kesukaanmu dan nanti aku akan mengantarmu pulang, Ok?" ucap Sasuke yang datang terengah-engah seperti habis berlari.
Gaara datang kemudian, dengan sekantong plastik berisi botol isotonik dan kue brownis coklat bertabur harum cinnamon yang ia sodorkan kepada Hinata.
"Kau pasti membutuhkannya, minum dan makan segera. Jangan sakit lagi, gadis kecil manisku dan nanti aku yang akan mengantarmu, ya" ucap Gaara.
Sakura mengambil alih pemberian 2 pemuda di depannya. Sakura meneliti wajah sinis Sasuke dan wajah penuh harap Gaara.
"Setidaknya jangan berbuat onar dan membuat Hinata jadi korban lagi. Dan pernyataan cinta kalian, bisakah kalian bersikap sportif. Untuk pulang nanti, aku dan Ino yang akan mendampinginya." Ujar Sakura memupuskan harapan 2 pangeran sekolah itu.
" Yahh... sayang , ternyata Sakura dan Ino protektif hahaha...semangat yo...Lebih baik kita kembali ke kelas sekarang." Ujar Naruto sembari merangkul Sasuke dan Gaara di kanan dan kiri tubuhnya. Berjalan ke kelas 2B, dimana Sasuke terus berupaya melepas rangkulan Naruto di lehernya.
Dan para siswa memandang aneh Naruto yang menggeret Sasuke dan Gaara , bahkan ada yang tersenyum terbahak-bahak melihat pemandangan absurd itu.
Mata indah Hinata memandang haru Sakura, Ino dan Shikamaru. Berterima kasih pada Kamisama untuk teman baik hati yang Hinata miliki.
"Oh..tadi yang membawa aku ke UKS siapa ya? Apa Sasuke ataukah Gaara?" tanya Hinata.
"tidak,tidak ,tidak...bukan 2 pangeran itu , yang mengantarmu adalah Guru Sasori. Sedang 2 pangeran itu masih saja berdebat sedang kau terjatuh dilantai" ucap Ino sarkatis
"Ingat Hinata, pilihlah yang pasti... pasti cinta kamu, pasti setia, pasti mampu membuatmu tersenyum selalu dan pasti ingat pajak jadian buat kita, iya kan ino?" saran Sakura yang di hadiahi tos tangan oleh Ino.
Tentang Sasuke, Hinata tak tahu jika Sasuke memiliki perasaan khusus untuknya. Sungguh hatinya bahagia.
Dan tentang pemuda berambut merah tadi, semenjak teriakkan tak jelas dari teman-teman sekolah Hinata tahu namanya Gaara. Sabaku Gaara. Sepertinya Hinata tak asing dengan marga itu.
Hinata setia mendengarkan saran kedua teman wanita yang masih memberikan saran yang makin lama makin ajaib. Hinata tersenyum mungil menanggapi saran tersebut.
Shikamaru terus berjalan di belakang 3 wanita menuju kelas 1D. Menghirup aroma shampo lavender yang menusuk ke hidung saat angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut tebal hitam violet di depannya. Memperhatikan rona kebahagiaan di wajah ayu itu. Shikamaru tak tahu sejak kapan, tapi sungguh ia menyukai suasana ini. Saat bersama Hinata.
Apakah Shikamaru harus ikut memperebutkan Hinata seperti langkah 2 pemuda idiot tadi. Ah...tentu tidak. Shikamaru harus berfikir secara matang dan memahami perasaan yang sekarang di rasakannya. Apakah sekedar nyaman sebagai teman atau lebih dari rasa itu. Itu masih menjadi misteri yang harus Shikamaru kuak.
Sampai sudah di kelas 1D. Teman sekelas menanyakan bagaimana keadaan Hinata dan siapa yang akan Hinata pilih. Untunglah, ada Sakura dan Ino yang menjaga dan manghalau Hinata dari kejamnya netter anggota kelas.
Jam pelajaran selanjutnya berlanjut.
Kurenai sensei masuk ke dalam kelas.
Mengajarkan pelajaran matematika yang sungguh sulit, dianggap momok mematikan bagi Hinata dan sebagian besar mayoritas kelas.
Teett...teetttt...Bel pulang sekolah berdering. Kebahagiaan terpancar dari wajah anggota kelas 1D. Kurenai sensei mengakhiri pelajarannya.
Seisi kelas mulai keluar teratur pulang , termasuk Hinata bersama Sakura, Ino dan Shikamaru.
Mereka pulang menggunakan sopir dari keluarga Nara.
Setelah menurunkan Sakura dan Ino di rumah masing -masing, tersisa Hinata yang dusuk di kursi belakang, Shikamaru dan Pak Sopir di kursi depan.
Rumah Hinata sudah terlihat. Pak Sopir memberhentikan mobil.
"Hinata, kau mau berangkat bersamaku besok. Kita bahkan bisa berangkat pulang pergi bersama, bagaimana?" Tanya Shikamaru menoleh ke Hinata.
"Terima kasih. Tapi aku tidak usah. Ayah Hiashi akan mengantar aku seperti biasanya, Shikamaru" ujar Hinata.
"Aku pulang dulu. Terima kasih tumpangannya Shikamaru, Pak Sopir" lanjut Hinata.
Hinata membuka pintu mobil. Keluar lalu berdiri melambaikan tangan ke mobil Shikamaru.
Shikamaru yang melihat itu, tersenyum tipis.
" Cinta pertama yang begitu manis ya tuan muda" goda Pak Sopir yang memperhatikan wajah Shikamaru.
"Aku tak belum di konfirmasi resmi sebagai cinta, Pak" jawab Shikamaru.
Mobil melaju menuju rumah keluarga Nara.
Hinata tersenyum mengingat tawaran Shikamaru. Rona merah muda menjalari wajah manis berpipi chubbi itu.
Hinata hendak masuk ke dalam rumah saat Itachi niisan menyapa.
"Hei , Hinata-chan. Oooo... wajahmu bersemu, apa kau baik-baik saja. Pasti kau bersemu bertemu aku kan. Ah.. Hinata-chan, kau masih kecil saja manis. Bagaimana kalau besar nanti menikah dengan Itachi niisan. Hmmm.. oooo...wajahmu semakin memerah, pasti kau mau kan?"
Hinata tak tahan mendengar rayuan Itachi nii yang makin lama makin tak di mengerti Hinata.
Brummm...brummmm
Suara motor terdengar. Motor Sasuke memasuki rumah. Setelah memarkir dan melihat wajah Hinata, Sasuke berjalan ke arah Itachi niisan.
"Plakk...jangan berucap hal-hal aneh sembarangan lagi Itachi nii. Hinata adalah milikku...jangan goda Hinata, karena Hinata kepunyaanku. Dan saat besar nanti, Hinata tetap milikku, jangan berharap kau bisa menikahinya" ucap Sasuke setelah memukul kepala Itachi nii.
Itachi cengo melihat deklarasi Sasuke.
Ini pertama kali Sasuke bersikap serius menanggapi godaan Itachi nii kepada Hinata.
Padahal sejak kepindahan Hinata 4 tahun lalu, Itachi selalu bersikap gemas dan selalu menggoda Hinata. Karena Hinata itu cantik dan lucu. Dan Itachi nii juga menyukai Hinata, maka Itachi makin gencar menyatakan kalimat rayu gombal sejak 2 tahun belakangan.
Itachi berfikir, apa saat ini ia akan kehilangan Hinatanya. Tetangga unyu-unyu imutnya, kenapa jadi di sukai Sasuke. Tidak, itu tidak boleh.
"Tidak..tidak...Sasuke, Hinata itu kesukaan Itachi nii. Lagian sejak kapan kau jadi begitu perhatian ke Hinata" ujar Itachi niisan sembari mengelus-elus kepala yang masih berdenyut akibat tangan Sasuke.
Hinata menghela napas, menatap Sasuke dan Itachi nii. Hendak masuk ke dalam rumah. Tak mau terjebak dalam situasi diantara 2 lelaki.
Hinata merasakan kepala nya pening, melihat Sasuke dan Itachi nii berseteru membuat nya merasa lelah. Segera Hinata berjalan menuju rumah.
Meninggalkan duo Uchiha dalam perseteruan mereka.
Saat Sasuke dan Itachii nii masih berbincang mengenai Hinata kepunyaan siapa.
Sedang di teras rumah, Mama Mikoto menatap 2 anak lelakinya. "yes...yes..yes... akhirnya Hinata-chan akan menjadi putriku...menantu idamanku.. siapa pun yang terpilih, tak masalah" ujar Mama Mikoto dalam hati sedang senyum kepuasan lebar terpancar di wajah penuh kasih sayang itu.
"Aku pulang, Ibu kau dirumah? " ucap Hinata setelah membuka pintu utama.
"Ya..Ibu di ruang tamu, Hinata" jawab Ibu Hikari.
Hinata berjalan menuju Ibu Hikari. Melihat Ibu Hikari yang sedang ada di sofa panjang sambil menatap siaran tv drama korea favoritnya.
Hinata lalu mendekati Ibu Hikari kemudian memeluk perut sang Ibu.
"Ada apa Sayang? Kau ada masalah, hmmm. Tugasmu sulit atau ada yang lain?" tanya Ibu Hikari sembari tangan kanan sang Ibu mengelus pucuk kepala sang anak sulung.
Antara ragu bertanya atau tidak. Hinata tidak yakin, buku diary akan memberikan solusi untuk masalah hati. Walaupun dalam diary itu tersimpan satu nama lelaki pujaan, namun di hadapkan dengan kenyataan sekarang Hinata jadi ragu cinta mana yang akan ia pilih.
"Sayang, ibu akan mendengarkan. Ingat, ibu penjaga rahasia yang handal, ok" ujar Ibu Hikari.
Hinata menganggukan kepala. Lalu bersandar di kursi sofa. Cerita hari ini mengalir dengan indah melalui mulut manis Hinata. Namun Hinata mengganti nama nya sebagai siswi Y, Sasuke sebagai siswa X dan Gaara sebagai siswa Z. Setelahnya, Hinata meminta sang Ibu menceritakan pengalaman cinta pertamanya. Dan tentu kisah cinta sang Ibu bersama Ayah Hiashi.
Setelah berbagi cerita, Hinata jadi lapar.
Hinata dan Ibu makan siang bersama, oh..bukan makan siang karena sekarang sudah jam 15.30. Terlalu menikmati cerita, dan sekarang mereka lapar.
Setelah selesai makan, Hinata bergegas ke kamar berganti pakaian dan akan membantu Ibu Hikari membereskan rumah. Saat menatap dinding, Hinata mengambil foto bersiluet langit orange. Kemudian turun mencari-cari keberadaan sang Ibu.
"Ibu...ibu..." teriak Hinata.
"Ya..Sayang Ibu sedang mencuci piring. Kenapa?" ucap Ibu Hikari.
"Ini...foto aku dan siapa Bu?" tanya Hinata menyodorkan sebuah foto 2 anak kecil bersiluet langit orange.
Mengingat- ingat foto lama itu. Rambut merah..rambut merah itu mengingatkannya pada... Karura.
Ya Sabaku Karura temannya selama Ibu Hikari sekeluarga masih di Suna. Itu pasti anaknya, ahhh si tuan panda merah kecil. Ibu Hikari tersenyum mengingat foto ini. Setelah ini, ia akan mengirim email menanyakan kabar terbaru. Semoga Karura sekeluarga baik selalu.
"Itu foto Hinata dan Gaara. Kau ingat Hinata, kau memanggilnya tuan panda merah. Kau sangat akrab dulu, kau bahkan memberikan boneka kecil panda dengan warna tubuh merah, yang Ibu jahit ulang dengan kain katun merah sepanjang garis berwarna hitamnya. Hahaha... dulu kalian sangat serasi. Ah.. ibu dan nyonya karura bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan kalian" ujar Ibu Hikari.
Hinata membeku di tempat.
Jadi ... orang asing tadi benar tuan panda merah.
Tuan panda merah, Sabaku Gaara.
Benar lelaki pertama yang di sukai Hinata?
Bagaimana ini, apakah Hinata harus memilih Gaara.
Atau ada pilihan lain.
"Kami pulang" ucap Ayah Hiashi dan Hanabi. Karena ada les , jadi mereka pulang jam 16.00.
"Kak Hinata, kenapa kau melamun di sini" ucap Hanabi menepuk ringan bahu Hinata.
"Anak-anak, kalian mandi dulu" ujar Ibu Hikari kepada Hinata dan Hanabi.
"Ayo kak, kita mandi dulu. Nanti baru bantu Ibu" ucap Hanabi sembari menarik tangan Hinata menuju lantai 2.
Setelah sampai di kamar, Hinata duduk di kasur lalu melihat foto yang masih di pegangnya. Merasa lelah, Hinata meletakkan foto tersebut dan menuju kamar mandi.
Mungkin berguyur di bawah air yang dingin, bisa menenangkan fikirnya dan memberikan jawaban untuk segala keraguan.
TBC
#thankspembacasetia
Terima kasih NillaariezqysekarrSarry470
Nyonya Mew, iya masih belajar EYD (salam hormat ) aku kan berusaha lagi.
#thanksreadernimteetttt..p
