(Trainees belong to God, their families, their ent, and their fans. Me just own this story line)

(Boy x Boy, you might hate it)

.

Unexpected Fate

4.


Aku mengerjapkan mataku, rasa pening langsung memasuki kepalaku ketika aku menggerakkan badanku.

Ini dimana?

.

"Jangan banyak gerak dulu." Pintu kamar berwarna biru muda itu terbuka. Terlihat Hyungseob di ujung sana sambil memegang nampan berisi banyak barang.

.

"Kamu tadi habis ditabrak lari." Hyungseob berujar datar.

.

Aku merasa aneh, ya, aku tahu bahwa aku baru saja kecelakaan. Tapi respon yang di berikan Hyungseob sedikit tidak terduga, ku kira dia akan terdiam di samping kasurnya. Menangisi kondisi ku yang memar sana sini. Namun tampaknya dia hanya menganggap seolah-olah aku tidak apa-apa.

"Udah, jangan banyak berpikir. Kamu minum dulu gih." Dia memberikan gelas berisi air teh hangat kepadaku, lumayan dapat menghilangkan peningku.

.

.

"Heran deh. Dari kemarin kenapa ada aja yang badannya kenapa-napa. Pertama, Daniel Hyung. Terus hampir dua minggu kemudian Samuel. Habis itu aku." Aku berusaha memecah keheningan.

.

Tapi sepertinya ucapanku dihiraukan oleh Hyungseob. Dia malah fokus dengan segala macam obat-obat.

"Kamu agak duduk deh." Ucapnya kepadaku. Aku menegakkan badanku dan Hyungseob memberikan bantal sebagai ganjalanku. Duh, berasa istri ngurusin suami deh.

Hyungseob memulai dengan membersihkan lukaku dengan kain yang sudah di balur oleh alkohol, sakit memang, tapi melihat muka Hyungseob dengan jarak sedekat ini membuatku melupakan rasa nyeri di kepala dan lenganku.

Aku menikmati kegiatan mengamati keindahan Tuhan di hadapanku, sampai rasanya tangan yang menyentuhku sana sini sudah menghilang.

.

"Ini rumahmu?" Tanyaku kepadanya yang sedang membalur lukaku dengan kapas. Ia menganggukkan kepalanya sambil terus melanjutkan kegiatannya.

Ini anak kok gaada perhatian-perhatiannya sama aku sih?

.

"Kamu kemana tadi?" Tanyaku dingin. Gerakan tangan yang sedang berada di lenganku terhenti. Aku menatap langsung ke mata Hyungseob dengan kesal.

Akhirnya setelah pertanyaan tersebut ku lontarkan aku melihat perubahan pada sinar matanya, dari dingin menjadi seperti ingin menangis. Sebenarnya aku tidak tega melihat dia seperti itu, tapi terlalu banyak hal yang tidak aku pahami dari dirinya.

Ia menghela nafasnya. "Tidak bisa kujelaskan."

.

"Setidaknya balas pesanku jika kamu tidak bisa datang. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Ini malah aku yang kenapa-napa dulu baru kita bisa ketemu gini. Apa aku harus selalu kecelakaan biar kamu bisa kayak gini?"

".….." Hyungseob menundukkan kepalanya.

"Tck, jangan nangis." Aku merasa tidak kuat melihatnya yang hanya terdiam dan tersedu-sedu. Ku tepuk sisa ranjang di sampingku, menyuruh Hyungseob mendekat dan duduk disampingku.

Aku merangkul Hyungseob dan membawanya untuk menyandar ke dadaku. Ku elus rambutnya dengan lembut sambil mengucapkan 'Aku gapapa' berulang kali.

Ia sepertinya bersikap dingin untuk menahan tangisan yang sebenarnya sudah ingin dia keluarkan, menyadari fakta tersebut membuat hatiku menghangat dan reflek memeluknya.

Kurasakan badannya menegang dipelukkanku, mungkin dia terkejut, haha.

.

"Aku tadi bersikap dingin kepada kamu karena aku kesel aku telat nyelamatin kamunya." Aku menaikkan alisku heran.

"Lagian kamu kenapasih harus tukeran jaket sama Samuel? Kan jadi kamu yang kena. Rambutnya juga sama lagi warnanya. Maunya apa coba." Ia menggembungkan pipi

Setelah terdiam sebentar aku menyadari suatu hal, "oh ini masih kelanjutan dari peringatan kamu buat Samuel itu?" Ia menganggukkan kepalanya dan bergumam kecil.

Lucu.

.

"Gapapa, kebetulan aja kena-nya ke aku." Aku berusaha menyengir walau sebenarnya sakit. Aku hanya tidak tega membuat anak ini terus-terusan khawatir tentangku.

"Gaada yang namanya kebetulan di hidup ini! Semuanya udah ada takdir dan gausah sok tahu gitu ngajar-ngajarin aku!" Bentak Hyungseob kepadaku. Aku terkejut melihat dia melakukan hal itu tapi sepertinya dia sendiri juga terkejut dengan apa yang dia lakukan terhadapku.

Belum sempat ku membuka mulutku, dia langsung membereskan peralatan yang dia bawa dan dia langsung berlari keluar kamar.

.

.


Aku merasa tidak enak terdiam begitu lama di kamar Hyungseob. Setelah lebih dari sejam melihat isi kamar yang -wow membuatku terkejut (ada fotoku di dekat meja belajarnya, buku-buku sihir tentang time traveling, novel fantasi yang banyak berkaitan tentang sihir)- aku benar-benar tercengang. Kuputuskan untuk bangkit dan keluar.

"Oh, Hi!" Sapa seseorang dengan tinggi menjulang tepat sehabis ku membuka pintu kamar Hyungseob. "Kau sudah mendingan?" Lanjutnya.

Aku hanya memandangnya bingung.

"Oh iya. Kenalkan namaku Ahn Jaehyun, Abangnya Hyungseob."

Aku tersenyum. "Gwenchana Hyung-nim. Aku sudah tidak kenapa-napa. Park Woojin imnida." Jelasku.

"Arra. Aku sudah beberapa kali di ceritakan perihal kamu dan jodohnya. Anak itu bahagia sekali tampaknya. Ohiya, jika kamu mencari Hyungseob, bocah itu sedang bikin lukisan di ruang tengah. Biasa kalo isi kepalanya sudah terlalu banyak ia akan melukis." Aku mengangguk mengucapkan terima kasih dan langsung berjalan menghampiri Hyungseob, badanku rasanya sudah tidak kenapa-napa dan aku ingin pulang.

Aku melihat Hyungseob sedang melukis dua orang berlatarkan atap suatu gedung dan dihiasi dengan bintang-bintang di langit.

Bagus sih, tapi kok warna rambutnya mirip rambutku dan Hyungseob?

"Hyungku sudah bercerita apa saja?" Suara Hyungseob memasuki gendang telingaku. Aku hanya mengangkat bahuku dan memfokuskan pandanganku ke lukisan itu.

"Mirip kita."

"Memang kita." Aku mengernyit heran mendengarnya.

"Maksud?"

"Yaaa, yang di gambar itu memang aku dan kamu. Kepalaku rasanya seperti ingin meledak seharian ini. Sudah terlalu banyak gambaran yang masuk dan semuanya bercabang menjadi lebih banyak. Jadi ku coba gambarkan yang indah-indahnya saja."

Aku tertawa mendengar perkataannya yang sama sekali tidak bisa kumengerti. Ternyata sudah ada dua lukisan yang telah diselesaikannya sebelum ini. Ku ambil salah satu yang menarik perhatianku, lagi-lagi mirip kami berdua.

Di gambar tersebut terlihat jelas diriku yang sedang memegang sebuah piala dan tersenyum lebar. Tanganku yang bebas digambar tersebut terlihat jelas sedikit mengangkat seseorang yang dapat kupastikan adalah Hyungseob. Ia tersenyum ke arahku, dan oke- oke- HIDUNG KAMI MENEMPEL DENGAN TATAPAN PENUH CINTA.

Ini apa tuhan kenapa lucu banget.

Aku melanjutkan pandanganku, seperti aku berada di sebuah panggung yang menurut keterangan di gambar adalah sebuah kompetisi dance. Tertera tanggal di spanduk tersebut, 8 Agustus 2017. Aku sebenarnya agak heran menatap hal tersebut, sekarang masih tanggal 2 Juni.

.

"Khayalanmu bagus sekali. Gambarmu juga." Aku mengomentari lukisan tersebut. Ia langsung menatapku sinis.

"Kamu gak sadar apa selama ini?"

"Huh?"

"Aku sebenarnya sudah yakin kalau kamu gak akan kepikiran yang macem-macem sama sekali." Ia meniup poninya dan meletakkan segala perkakas lukisnya.

"Emang macem-macem apa?"

"Pernah gak sih kamu pikir kalau aku itu aneh?" Aku menatap heran dirinya. Ya emang pernah sih tapi kenapa tiba-tiba ngebahas hal ini.

.

Aku berdehem karena Ia tidak berhenti menatapku.

"Ya, pernah."

"Kamu yang tiba-tiba saat hari pertama datang sudah mengatakan aku jodohmu. Memberikan kotak bekal hampir setiap hari dengan menu berbeda, bekal yang isinya makanan kesukaanku yang bahkan aku gak pernah kasihtau kamu. Banyak nolong aku bahkan sebelum aku bilang apa yang aku butuh. Aku tertolong sih, tapi kadang heran juga, kadang juga agak merasa terganggu."

"Kamu bisa baca pikiran ya?" Aku bertanya penuh selidik. Ia terbahak kencang sampai berguling-guling.

"Masa semua yang kayak gitu harus dikaitkan dengan baca pikiran sih? Hahaha, menyerupai sih tapi bukan itu."

"Coba kamu tebak pikiranku sekarang."

"Dibilang gabisa ih."

"Yaudah terus apa donggg.."

"Tebak lah."

"Kamu bisa sihir gitu? Tadi soalnya nemu banyak buku gituan." Hyungseob hanya memandangku sinis, sepertinya salah lagi.

"Aku sebenarnya juga sama kayak manusia lainnya." Hyungseob memulai penjelasannya.

"Aku makan, minum, bermain, bernafas, bahkan buang air dengan siklus normal seperti manusia pada umumnya. Tapi sedari kecil aku selalu seperti menyaksikan kejadian dengan pikiranku, mungkin bisa dikatakan aku memiliki empat buah mata, dua untuk melihat dan dua lagi untuk menyaksikan kejadian itu."

"Apa yang kusaksikan itu gabisa dibilang wajar. Biasanya aku akan menyaksikan suatu kejadian dan hal tersebut akan terjadi dua hari sampai satu minggu ke depan.

Pertama kali ku sadari hal tersebut saat aku masih kelas satu SD. Sebelum hari penerimaan murid baru aku duduk termenung sendiri, aku menyaksikan diriku mengenalkan diri di depan kelas lalu terjatuh karena lupa mengikat tali sepatuku saat akan menuju bangku. Awalnya kupikir itu hanyalah sebuah imajinasi yang biasa anak kecil sering lakukan. Lalu aku kesekolah esoknya untuk hari pertama tersebut, eh gataunya malah kejadian. Aku jatuh tapi aku tidak menangis seperti apa yang kusaksikan sebelumnya. Aku malah terdiam karena menyadari fakta tersebut sebenarnya cukup aneh. Lalu semenjak itu aku mulai sadar bahwa aku punya suatu bakat."

Aku menatap Hyungseob dengan penuh rasa kagum. "Kamu bisa lihat masa depan gitu?"

"Awalnya kupikir begitu saja, tapi sebenarnya lebih dari itu. Buku dan novel yang kamu temukan di kamar kamu sebenarnya adalah bentuk pencarian jati diriku. Semakin aku besar aku tidak hanya dapat melihat apa yang belum terjadi, aku bisa melihat banyak kemungkinan jika aku memilih suatu pilihan, selain itu aku juga bisa mengetahui apa yang orang butuhkan atau pikirkan jika aku menatap matanya, bahkan aku bisa tahu apa yang temannya akan butuhkan."

"Seperti kejadian kamu memberikan plester luka kepadaku?"

"Yup. Persis seperti itu. Ntah kenapa tiba-tiba aku melihat Daniel Sunbae berteriak kesakitan dengan bibir yang sedikit sobek. Kemampuan itu semakin meningkat setiap harinya."

Aku membuka mulutku, ini gila.

.

"Terus-"

"Udah-udah cukup. Aku terlalu banyak menjelaskan. Kamu mau pulang kan?" Hyungseob memotong pertanyaanku dan mengusirku secara halus. Aku hanya mendengus dan menatapnya kesal. Ku angkat badanku untuk beranjak keluar dari rumah Hyungseob.

"Hati-hati, Woojin-ah~" Hyungseob melepas kepergianku di depan pagar rumahnya. Aku menganggukkan kepala dan langsung berjalan menembus malam, aku harus menyiapkan penjelasan ke orangtuaku.

.

.

-TBC-

[A/N]:

yasss updated!

yang nanya kmrn aku kenapa

1: kesel sama mnet karena taedong, minki, yongguk, sebagai center dari tim mereka malah gadapet byk screentime

2: tired, physically

3: nunggu pengumuman jurusan kuliah servernya ngedown mulu (me still under science faculty 2nd year di salah satu institut di idn)

.

Intinya lagi lelah batin. Im soooo sorry if I brought down the mood ystrdy.

.

Thank you for cheering me up anw! I'll be focus on writing from now on!


Konflik baru banget akan mulai!

RNR!