Naruto belongs to
This story is mine
Hanya hiburan semata
HINATA HYUUGA & PATNER
Sudah hari kesepuluh. Ibu Hikari memperhatikan Hinata yang sedang duduk di meja makan. Roti berisi selai coklat dan segelas susu hangat yang tersaji di depan anak sulungnya itu belum tersentuh. Sosok gadis kecilnya itu masih sibuk tenggelam dalam dunianya sendiri.
Bukannya mau berspekulasi sendiri, namun menurit pengamatan Ibu Hikari yang telah menjelajahi garam kehidupan mungkin usia remaja Hinata meruntut ke soal perasaan ambigu, aneh yang tak dipahami kawula muda itu. Mungkin cinta, mungkin kagum, mungkin suka. Entah hal mana yang tengah di hadapi Hinata-chan nya kini.
Mungkin kisah cinta remaja anak sekolahan sekarang lebih kompleks. Bahkan menyaingi keseriusan cinta diantara 2 pria dan wanita dewasa yang penuh kematangan.
Dimana usia tidak menjamin seberapa nyata dan dalam perasaan seseorang. Kadang 2 orang dewasa tersebut bertingkah layaknya permainan anak kecil, tarik ulur cinta yang pupus oleh masalah sepele semata. Dan kadang cinta anak kecil yang terhubung melalui godaan-godaan usil teman-teman sekitar mampu menjelma menjadi cinta terdalam yang akan kau dapatkan.
Tidak seperti masa Hikari muda dulu. Yang berteman saat memasuki bangku smp, menyatakan perasaan masing-masing saat bangku sma, dan akhirnya berlanjut dengan keseriusan Hiashi membina keluarga kecil bersamanya.
Saat Hikari muda, apabila teman wanita nya patah hati maka mereka akan berekreasi ke arena publik sembari melihat pemandangan indah. Pemandangan dimana mereka menikmati lelaki indah lain bukan pria brengsek yang mematahkan hati. Berharap salah salah dari lelaki indah itu menghampiri dan menawarkan cinta manis untukmu. Ahaahahaha, pengalaman muda Hikari dan Karura yang menggelikan saat sekarang ia teringat akan masa itu.
Ibu Hikari pekan lalu akhirnya bertemu dengan Ibu Karura. Ibu Karura mengujunginya di kompleks Fuji, karena ternyata anaknya Sabaku Gaara bermukim di perumahan kompleks Yama. Kompleks perumahan baru di area pemukiman ini. Ibu Karura mengatakan jika sebenarnya ia ingin menemani Gaara tinggal di sini tapi ternyata si anak bungsu mengatakan ingin mandiri. Jadi ia membiarkan Gaara disini bersama seorang asisten rumah tangga dan pengawal pribadi yang akan melaporkan apapun kepada tuan Rei dan nyonya Karura.
Mereka bertemu melepas rindu, berbagi cerita keadaan masing-masing hingga cerita seputar perkembangan anak mereka. Dari Karura, Ibu Hinata mengetahui bahwa Sabaku Gaara melalui akselerasi kelas dan sekarang putra bungsu dari keluarga nyonya Karura tersebut bersekolah di SMP Konoha Gakuen kelas 2B. Hal itu menjelaskan saat dimana Hinata berlari tergopoh-gopoh menanyakan foto saat Hinata kecil.
Rabu sore di mana Hinata sibuk menanyakan siapa yang di foto bersama Hinata. Berlatar pemandangan rumah sore hari di rumah lama mereka di Suna.
Apa benar dulu ia dan pemuda berambut merah itu berteman akrab? Memori Ibu Hikari mengulang kembali ke hari itu.
Ibu Hikari menjamu Nyonya Sabaku di ruang tamu keluarga, ruang mungil namun tetap nyaman dan efisien.
Ibu Karura memperhatikan potret masa lalu hingga masa sekarang. Potret di dinding menjelaskan pada Ibu Karura di mana Hinata berkembang dari seorang anak kecil cantik telah bertumbuh menjadi gadis yang begitu mempesona.
"Gaara menyukai Hinata sejak kecil. Bahkan selama ini Gaara mengkoleksi foto Hinata. Aku pikir akan bagus jika mereka bisa menjadi sepasang kekasih. Dan semoga harapanku, kita akan menjadi satu keluarga bisa terwujud Hikari-san" ucapan Ibu Karura yang terus tergiang di benak Ibu Hikari.
Sebenarnya itu akan terlihat bagus. Yang selama ini Ibu Hikari tahu, selama di Suna Hinata suka bersemu merah muda apabila di dekat Gaara.
Hanya mungkin sekarang situasinya telah berbeda, jadi Ibu Hikari belum memberikan jawaban apapun untuk keinginan nyonya Sabaku itu.
"Hinata, mau Ibu gantikan dengan nasi kare? Apa kau tak berselera, Sayang" ujar Ibu Hikari.
Hari minggu ini suasana rumah keluarga Hiashi sepi. Hanya ada Ibu Hikari dan Hinata, sedang Ayah Hiashi dan Hanabi ikut memancing bersama keluarga Uzumaki.
Ayah Hiashi sudah menawarkan apa Hinata mau ikut, namun Hinata memilih bersantai di rumah saja ungkapnya.
Hinata menggelengkan kepala, kemudian berdiri membawa sepiring roti isi selai coklat dan segelas susu tadi ke tempat penyimpanan makanan.
"Nanti saja Hinata makan, sekarang Hinata belum lapar. Bagaimana kalau Hinata dan Ibu berkebun dulu, mumpung masih pagi" ucap Hinata sembari mata indahnya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.50.
Berkebun memang hal menyenangkan.
Tiada mungkin menolak, terlebih berkebun adalah hobi Ibu Hikari.
Sebenarnya minggu ini pun rencana nya sore nanti Ibu Hikari akan membersihkan gulma di pekarangan rumah .
"Baiklah, sekarang ganti bajumu dan kita tanam bibit bunga mawar hari ini" ujar Ibu Hikari sembari membereskan dapur.
Segera setelah berganti pakaian, Ibu Hikari dan Hinata membawa bibit-bibit mawar yang telah di stek 2 minggu yang lalu ke sebuah ember sedang, memasukkan sekop besi kecil dan peralatan lainnya lalu mengangkut ember itu ke halaman depan rumah.
Halaman belakang adalah area bibit, tanaman sayur dan buah, sedang area halaman depan untuk bunga. Itu lah ketentuan Ibu Hikari.
Hinata dan Ibu Hikari mulai menggali tanah menggunakan sekop besi kecil. Mengatur kedalaman dan jarak yang tepat untuk bibit bunga mawar mereka.
Ibu Hikari menjabarkan tentang mawar, cara penanaman, perawatan serta waktu hidup si bunga cinta.
Berbicara tentang cinta, Ibu Hikari mencoba menanyakan tentang siswi Y. Sang Ibu mulai menduga jika siswi Y adalah Hinata, sedang siswa Z pasti Gaara, lalu siapa si siswa X?
Sembari masih sibuk menanam bibit pohon mawar, Ibu Hikari memulai percakapan.
"Hinata, bagaimana perasaan siswi Y terhadap siswa X dan siswa Y sekarang?" tanya Ibu Hikari dengan tangan masih menggali lubang tanah selanjutnya.
"Siswa X dan Siswa Z masih berupaya mendekati siswi Y. Mereka mendatangi siswi Y setiap bel istirahat berdering. Mereka mengirim sms aneh bin absurd kepada siswi Y tersebut. Siswi Y membuka diary lamanya, menemukan jika dulu ia memiliki sesuatu rasa untuk siswa Z. Dan ia masih menyukai siswa Z. Siswi Y menerima dan bersikap baik terhadap siswa Z.
Tapi kenapa siswi Y tidak merasakan jantung berdegup. Siswi siswi Y justru merasa jantungnya bedegup kencang saat siswa X mendekatinya. Walau belakangan terakhir sikap siswa X jadi dingin dan tak berkata sebanyak kemarin, namun siswi Y merasa nyaman dengan siswa X yang bersikap normal" ujar Hinata dengan kedua tangan menanam bibit pohon mawar.
"Jadi sikap kemarin dari siswa X itu bukan normal Hinata, hihihi"ucap Ibu Hikari cekikikan.
"Bukan ... bukan seperti itu Ibu. Hanya sikap siswa X itu seperti orang yang buka dia sebenarnya. Siswa itu menjadi pribadi lain demi mendapat siswi Y" ujar Hinata dengan tangan masih berkutat dengan bibit pohon bunga mawar.
"Ibu rasa perasaan siswi Y kepada siswa Z itu kebahagiaan sesama teman dan kepada siswa X adalah cinta. Lalu apa siswi Y sudah menjelaskan perasaannya kepada siswa Z. Setidaknya, siswi Y harus mengungkapkan bila perasaannya sekarang telah berubah. Jangan menyakiti hatinya sendiri dengan kepalsuan, karena cinta yang lalu bukan tentu cinta yang sekarang" ungkap Ibu Hikari dengan tangan yang masih fokus menggali tanah untuk tempat bibit mawar selanjutnya.
"Oh ya Hinata. Tentang buku diary, kenapa rak buku diary berantakan. Apa kau mengambil buku diary lamamu, Sayang? "tanya Ibu Hikari.
Saat membersihkan ruang perpustakaan lusa, Hikari mendapati satu rak atas nama Hinata berkurang 1 bar dan keadaan buku di rak Hinata juga acak tak sesuai tahun kapan ditulisnya diary tersebut.
Ibu Hikari melatih Hinata mengungkapkan apa yang di lalui melalui menulis buku diary. Hal positif karena Hinata dulu hanya menyimpan perasaan dalam buku itu. Dan kini, setidaknya Ibu Hikari menjadi diary hidup dimana Hinata menceritakan hal-hal apapun padanya. Mempererat ikatan antara anak dan ibu keluarga Hyuuga itu.
Seingatnya, barisan buku diary lengkap terakhir kali Ibu Hikari merapikan 1 bulan yang lalu.
"oh...Hinata hanya mencari sesuatu, Bu" ucap Hinata dengan mata menatap tanah.
Hinata tahu Ibunya dapat menerka apa itu, dan Hinata hanya enggan menatap senyum sang Ibu.
Senyum ibu-ibu yang terlalu penasaran tentang percintaan anaknya
#setiapemakjugabegitusich
#authorjugadikepoinemakmelulu
"Apa kau masih juga menuliskan siswi itu di buku diarymu Sayang?" lanjut Ibu Hikari.
"Iya, aku melanjutkan buku diary Bu" ucap Hinata tanpa sadar.
"A-aapa , aku menulis diary terbaru ku saja, Bu. Bukan tentang siswi itu" jawab Hinata gugup mengibas-ibaskan kedua telapak tangannya yang penuh tanah, setelah memahami maksud pertanyaan sang Ibu sebelumnya.
Hahahhah..tawa Ibu Hikari menggema melihat tingkah lucu putri sulungnya.
Percakapan itu terus berlanjut.
Kegiatan menyenangkan yang tak pernah di lewatkan Hinata.
Seburuk apapun suasana hatimu, berkebunlah dan berbagi cerita itu akan meringankan hatimu. Apabila bukan seseorang untukmu berbagi, maka tanaman hidup, hewan atau benda mati sekalipun tak mengapa.
Ucap Ibu Hikari pada Hinata.
Dan percakapan antara Ibu dan anak tersebut terus berlanjut hingga matahari hampir membentuk sudut bayang 90 derajat.
Di samping dinding rumah Hinata ada Sasuke yang niat paginya mencuci motor kesayangannya. Tapi ternyata menguping Hinata itu lebih menyenangkan.
Jadi sejak jam 7.10 tadi pagi hingga jam 08.30 di mana sang Mama Mikoto mengeluarkan suara merdu guna mengundang putra bungsunya untuk makan pagi. Fokus Sasuke adalah mengorek informasi berharga dari suara-suara yang berhembus mesra dari tempat sebelah menuju indra pendengarannya.
Itachi yang heran melihat Sasuke, berdiri dibelakang sang adik dan melongokkan kepala ke rumah samping. Ikut menguping pembicaraan Ibu Hikari dan Hinata.
Kakak beradik itu berdiri dengan sabar di balik dinding pemisah itu.
Dan hal terpenting yang di dapatkan dari aksi absurd duo uchiha adalah siapa siswa X, siswi Y dan siswa Z serta buku diary. Buku diaru yang menjadi kata kunci semua perasaan Hinata pada siapa akan berlabuh.
"Kalian tidak akan sarapan pagi ini?" suara merdu Mama Mikoto menggelegar mengagetkan aksi duo Uchiha itu.
Suara merdu itu membuat Ibu Hikari dan Hinata menoleh ke arah rumah kediaman Uchiha. Hinata terkaget mendapati Sasuke dan Itachi di belakang dinding pembatas melihat ke arah mereka.
Hinata tahu jika jarak rumah bereka hanya 1 meter dan dinding tipis pembatas itu tak tahan redam suara.
Jadi percakapan rutin pagi ini terdengar nan jauh hingga menjadi topik menguping untuk kakak beradik itu.
"Sasuke, kau bilang akan mencuci motor. Mana yang dicuci, basah juga belum. Lalu kau Itachi, bukannya Mama memintamu mengajak Sasuke sarapan ke dalam" suara merdu nan bising dari Mama Mikoto membuat Sasuke dan Itachi nii mundur teratur dan masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Bu . Hinata sudah lapar. Berkebunnya ini juga sudah bibit terakhir " ujar Hinata.
Segera merapikan peralatan berkebun di teras dahulu. Lalu Ibu Hikari dan Hinata mencuci tangan dan kaki, masuk ke dalam kamar masing-masing bergegas mandi kemudian berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
Lalu di kediaman nyonya Mikoto. Sang Ibu masih saja mengomentari bagaimana saat duo Uchiha ini masih bayi ataupun sudah bertumbuh makan saja masih susah.
Itachi yang duduk di samping Papa Fugaku menatap sang ketua rumah dengan pandangan memohon. Mengisyaratkan supaya sang Ayah dapat menghentikan lajur ceramah sang Ibu yang tiada akhirnya.
Menyesap kopi yang tersisa di cangkir yang tergeletak di meja, sang ayah berucap "sudahlah istriku, lebih baik kita sarapan dulu. Kasihan anak-anak sepertinya mereka kelaparan"
Di interupsi sang suami, Mama Mikoto menatap wajah kedua anaknya. Berfikir nanti juga sayurnya akan sayang jika menjadi dingin.
Memudarkan hasrat marah menggebu kepada dua putra tercintanya.
"Yah.. baiklah kita sarapan dahulu. Sasuke jangan lupa cuci motormu dan Itachi nii bersihkan kamarmu" ujar Mama Mikoto tegas.
"Hn" ucap Itachi nii dan Sasuke bersamaan.
Percuma melawan sang Ibu, pasti kalah jua.
Lalu acara makan bersama keluarga Uchiha pun di mulai.
Berlanjut dengan pengerjaan tugas oleh anggota keluarga masing-masing.
Dan selama di hari minggu , Sasuke terus memikirkan tentang buku diary Hinata.
#sampaisinidulu
#lanjutnantilagi
Terima kasih man teman
Salam bahagia kepada pembaca
