ADA AKU DISINI

Main pair:

Hanji Z., Mikasa A.

Disclaimer:

SNK (c) Hajime Isayama

Warn! shoujo-ai, semi canon, TYPO, OOC.

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

"Eren, cepatlah tidur!"

"Aku bukan anakmu ataupun adikmu Mikasa!"

"Kau harus menuruti apa ucapan saudarimu, bocah."

"B-baik heichou."

Eren melangkah gontai ke kamarnya yang berada di lantai dasar. Mikasa membungkuk sekilas pada Levi lalu pergi dari ruang rapat. Mikasa berjalan menuju kamarnya, sekilas terlihat Sasha yang sedang mengacak-acak isi dapur dengan si plontos Connie.

"Hiks—"

Langkah gadis berwajah oriental itu terhenti. Terdengar di gendang telinganya suara isakan tangis dari suatu ruangan.

"Hiks—"

Mikasa berjalan mengikuti arah suara. Suara isak tangis semakin terdengar jelas dari ruangan... Hanji.

"Kenapa—hiks—kenapa mataku buta sebelah—"

Mikasa sedikit mengintip kedalam ruangan Hanji. Terlihat wanita berkacamata itu sedang duduk di kursi. Frustasi dengan kehilangan satu penglihatannya. Wanita berambut hitam sebahu itu paham atas kesedihan Hanji.

Terlihat Hanji yang mengacak-acak rambutnya frustasi. Berusaha menahan tangis yang akan keluar dari bibirnya. Hati Mikasa tergerak untuk menenangkan Hanji.

KRIET

Hanji terbelalak. Mendengar seseorang membuka pintunya. Oh sungguh, Hanji tidak ingin seseorang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Apa kata orang bila sosok Hanji Zoe yang biasa eksis dan narsis terlihat seperti sosok tak berdaya hari ini?

Hanji segera mengusap air matanya. Memakai kembali kacamatanya lalu bersikap biasa. Menoleh ke belakang lalu menyapa Mikasa dengan sapaan ceria.

"Halo Mikasa, ada apa malam-malam begini datang ke ruanganku?" tanya Hanji dengan senyuman 1000 watt nya.

Mikasa diam, tapi kaki nya tetap melangkah ke tempat Hanji Zoe. Duduk di sebelah Hanji, lalu menatap wajah Hanji intens. Hanji yang kebingungan pun mulai tertawa canggung, berusaha mencairkan suasana.

GREP

"Kalau kau sedih, berbagilah kesedihan itu denganku. Jangan dipendam sendiri." Mikasa menarik Hanji dalam pelukannya. Syal merah yang selalu ia gunakan pun ia pakaikan juga pada tengkuk Hanji. Mereka berdua terlilit oleh syal merah milik Mikasa.

Hanji terkejut sejenak, berusaha mencerna kata-kata yang di lontarkan si gadis Ackerman. "M-mikasa..."

"Jangan sedih dengan hilangnya satu dari penglihatanmu. Hilangnya satu penglihatanmu itu adalah suatu pengorbanan untuk umat manusia."

Lagi-lagi ucapan Mikasa membuat dada Hanji sesak. Wanita nyentrik itu segera menangis di bahu Mikasa. Berusaha meluapkan seluruh emosi yang ia tahan dari tadi. Mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan.

Tangan lentik Mikasa mengusap lembut rambut Hanji. Berharap wanita itu tidak merasa sedih lagi.

"Ada aku disini, yang akan selalu menjadi matamu. Menjadi penglihatanmu yang hilang."

.

.

.

.

END

A/n:

Halo semua, ini hanya segelintir ide saya. Terinspirasi dari fanart HanMika di sosmed. Terima kasih yang sudah membaca :)

-levieren225