Kita lanjut cerita gaje ini, Terima kasih simpatinya

Mohon review dan saran

Naruto belongs to Mr. MK

This story is mine

Hanya hiburan semata

HYUUGA HINATA & PATNER

Beribu hari yang terlalui seorang Sabaku Gaara tanpa Hinata di sisinya memupuk perasaan seorang anak kecil berambut merah kepada gadis kecil manis yang kini bertumbuh cantik dan mempesona.

Gelora hasrat di hati si Sabaku semakin meyakinkan dirinya untuk merebut tempat ruang di hati Hinata.

10 hari.

10 hari sejak Gaara menemukan Hinata.

Hari di mana Hinata terlihat begitu menakjubkan dengan sikap baru yang tiada Gaara pahami.

Marah, cerewet, dan sensian, sungguh jauh dari gadis kecil manisnya yang pendiam, pemalu, tak berani menatap orang asing juga gagapnya bila berbicara.

Dan di hari kedua, ia menghampiri Hinata-chan di koridor sekolah di pagi hari.

Gaara mendapati bila si gadis kecil manisnya masih mengingat dirinya meskipun 4 tahun memisahkan mereka

"Kau...tuan panda merah? Benarkah"

Ucapan Hinata-chan di hari kedua terus berkumandang di telinga seorang Sabaku Gaara.

Dari raut wajahnya, Hinata memancarkan kebahagiaan, serta rasa terkejut yang tak bisa Hinata sembunyikan dan Gaara bahagia mendapati ekspresi itu di wajah gadis kecil manisnya.

"Aku bahagia. Menemukanmu, Hinata-chan" gumam Gaara dengan wajah bahagia memandang bingkai foto Hinata-channya.

Ya, bagaimana pun Gaara yakin bahwa dirinya masih menempati kategori orang special hati gadis kecilnya.

10 Hari singkat yang penuh makna baginya, semua terasa semakin indah karena Hinata juga nampak bahagia bersamanya.

Kring...kring...

Ponsel Gaara berbunyi. Menilik sekilas nama si penelpon seraya bergumam jenuh. Siapa sich yang menganggu lamunan indahnya.

Ternyata sang Ibu Karura, seseorang yang ada nan jauh di Suna namun setiap hari tak pernah jenuh mencari kabar dari sang anak bungsu.

Tangannya terjulur meraih ponsel. Hari minggu ini, Gaara berharap mendapat ketenangan.

"Iya bu, Gaara baik-baik saja. Sudah makan makan malam , benar. Aku hanya memikirkan bagaimana cara agar semakin dekat dengan Hinata chan. Ibu kan tahu sekarang Hinata sudah ingat aku, kami sering berbincang bersama di kantin. Ibu, aku ingin rekreasi . Ya Bu, aku ingin rekreasi .

Aku rasa akan baik jika kami bermain ke tempat neneknya" ujarnya meyakinkan pertanyaan Ibu Karura.

"Ibu lusa lalu mengunjungi rumah Hinata-chan. Di rumah Hinata-chan terpajang potret indah, aku rasa Hikari-san masih menggeluti fotografi. Kau bisa bermain ke rumahnya untuk tanya seputar fotografi sekaligus mengunjungi Hinata-chan. Oh ya, Ibu menemukan foto Gaara dan Hinata-chan saat kecil di album nyonya Hikari. Karena Ibu menyukai fotonya, Ibu meminta file foto itu. Nanti Ibu kirim ke ponselmu nak. Jaga kesehatan, jangan tidur malam. Ibu tutup dulu " ujar Ibu Karura di seberang telpon.

Setelah berteleponan ria dengan sang Ibu, Gaara melanjutkan kegiatan mesra dengan komputer mengatur file foto Hinata-chan yang ia ambil 10 harian ini di folder My beautiful girl . Foto yang Gaara ambil secara sembunyi-sembunyi. Melihat berbagai ekspresi gadis kecil manisnya.

Lalu melihat kembali foto semasa mereka kecil. Meneliti satu foto berlatar rumah nenek Hinata-chan di Hokaido. Perayaan musim semi di mana bunga-bunga indah bermekaran. Di foto itu Gaara dan Hinata berfoto bersama dibawah pohon sakura dengan sengenggam bunga di tangan Hinata-chan sementara Gaara menggenggam kedua tangan Hinata-chan dengan wajah saling melihat satu sama lain. Liburan masa kecil Gaara yang begitu membahagiakan dan Gaara ingin mengulang rekreasi di Hokaido lagi. Musim semi yang akan segera tiba.

"Ting...ting.."

Ponsel Gaara berbunyi. Satu file diterima. Gaara membuka kunci sandi ponselnya dan membuka file kiriman dari Ibu Karura.

Senyum Gaara merekah. "Sungguh hari minggu yang membahagiakan

" pikirnya.

Dan Gaara akan mencoba strategi baru untuk mendapatkan Hinatanya.

File foto seorang anak kecil berambut merah memberikan lolipop kepada gadis kecil dengan siluet langit sore yang indah.

Gaara ingat ia pernah melakukan hal itu ke Hinata-chan nya.

Memberikan lolipop kesukaan Hinata saat sore hari.

Di halaman belakang rumah keluarga Hinata-chan saat di Suna dahulu. Bentuk perhatian ke gadis kecil manisnya dulu. Gaara tidak menduga jika momennya bersama Hinata-channya itu di abadikan oleh Bibi Hikari. Padahal Gaara yakin tidak ada yang orang di sekitar halaman belakang rumah Hinata-chan saat itu karena Duo nyonya Hikari dan Karura sedang demo memasak bersama.

Gaara segera mentransfer file itu dari ponsel miliknya ke komputer. Mengatur file tersebut di folder Hinata gadis kecil manisku. Lalu menjadikan foto tersebut sebagai wallpaper komputer.

Kemudian beranjak ke tempat tidur, bersiap tidur, bersama Hinata-chan nanti dalam mimpi indahnya.

.

.

.

.

"Hinata-chan, ayo. Nanti ayah dan Hanabi bisa terlambat kerena kamu terlalu lama" ujar Ibu Hikari.

Telihat Hinata yang masih berkutat dengan sepatu hitamnya.

"Iya, bu...sebentar lagi sudah kok" jawab Hinata sambil mengencangkan tali sepatunya.

Lalu menerima 3 tempat bekal untuk dirinya, Hanabi dan sang Ayah.

Hari senin yang rumit. Semuanya harus bergegas cepat. Karena itu pula niat Ayah Hiashi untuk berangkat lebih awal guna menghindari macet alhasil suasana sarapan yang biasa di rumah berganti dengan suasana mobil dan pemandangan jalan raya.

30 menit kemudian Hinata sampai di Konoha Gakuen. Berharap hari senin ini semuanya akan baik-baik saja. Melangkah menapaki rute menuju ruang kelas 1 D.

Sasuke di antar sopir berhanti tepat setelah kepergian mobil Ayah Hiashi. Membiarkan sopir kembali ke rumah guna mengantarkan Nyonya Uchiha berbelanja kebutuhan dapur.

Sasuke menatap Hinata yang berjalan perlahan menuju ruang kelasnya. Berjalan mengikuti Hinata-chan di belakang sang gadis.

Setelah semalam ia berkunjung bersama Mama Mikoto dan berakhir dengan terbujuknya sang nona tetangga manis.

Satu hal yang Sasuke syukuri, ia bisa pulang selamat membawa buku buku diary book'id life milik Hinata.

Dan semalam ia membaca separuh halaman dari diary terbaru milik sang nona tetangga manis.

Tersenyum sekilas sembari menatap Hinata-chan. Andai Sasuke tahu tentang buku diary Hinata lebih awal tentu sebulan yang lalu ia tak perlu repot-repot berubah dengan sikap anehnya.

"Pagi, Hinata-chan" ucap Sasuke datar. Perlahan ia berjalan bersisian dengan Hinata.

Mumpung si pangacau belum ada.

"Pagi... Sa...sasuke-kun" jawab Hinata terkaget. Sasuke selama ini tak pernah menyapanya terlebih dulu.

Hinata rasa apa yang ia tuliskan di buku diarynya dapat menjadi do'a yang menjadi kenyataan. Dan sekarang adalah bukti dari salah satu do'anya.

Berpisah dengan Sasuke di koridor, Hinata tersenyum bahagia memikirkan hal itu. Berharap hal-hal yang baik akan terus berlanjut.

.

.

Teet...teet... bel pulang sekolah berbunyi.

Hari yang indah. Sesuai harapan Hinata tiada aksi demo cinta lagi, tiada Gaara yang mengikutinya selama jam istirahat, tiada juga Sasuke yang mengawal tiada henti selama ada Gaara yang mengejarnya.

Hinata berjalan pulang bersama Ino dan Sakura. Mereka akan belajar bersama untuk siang ini.

"aku heran, kenapa duo pangeran tidak mencarimu seharian ini Hinata-chan" ujar Ino .

"mungkin mereka lelah" jawab Sakura asal.

Tak lama terdengar tawa menggema dari Ino dan senyum getir dar Hinata. Apakah memang hanya segini cinta yang Sasuke punya untuknya?

Mereka terus berbincang sembari menunggu sopir keluarga Haruno.

"Bu, aku pulang" ujar Hinata begitu melihat Ibu Hikari menyiangi gulma di sekitar tanaman bunga di area halaman depan rumah.

"Iya, Hinata-chan. Oh ada Sakura dan Ino. Kenapa tidak pulang dulu nanti baru main ke sini" tanya Ibu Hikari melihat ke arah Hinata yang datang bersama Ino dan Sakura.

"Kami akan mengerjakan tugas bersama Bibi, kami akan pulang setelah tugas selesai" jawab Ino.

Mereka masuk ke rumah Hinata-chan. Menggunakan ruang keluarga yang beralih fungsi sebagai arena belajar bersama. Meskipun ada perpustakaan menurut Sakura perpustakaan rumah Hyuugaa mencekam dan satu hal lagi, Hinata tidak berdaya saat kejadian di mana Ino menemukan barisan diary Hinata.

Ino lalu membaca kalimat demi kalimat di depan Kiba, Shikamaru dan Hanabi. Membuat dirinya malu seharian. Belum lagi olok-olokkan dari Ino selama seminggu.

Membuat Hinata bersiap siaga mengantisipasi kejadian serupa.

Sakura dan Ino duduk di kursi sofa sementara Hinata menyiapkan minuman dingin beserta camilan.

Setelahnya, Hinata bergabung dan mulai mengerjakan tugas matematika dari Kurenai sensei.

1 jam berselang, Ibu Hikari terlihat membawa peralatan berkebun yang digunakan sebelumnya.

Ibu Hikari lalu membersihkan diri dan memasak beberapa cookies untuk putri sulung tercinta beserta temannya. Menyiapkan beberapa bahan, mengadoni, menunggu adonan mengembang, memotong kecil dan membentuk adonan setelahnya mengoles beberapa selai di dalam adonan tersebut dan terakhir memanggang adonan dalam oven.

45 menit kemudian, cookies buatan Ibu Hikari telah matang. Ibu Hikari sedang menyiapkan cookies dalam toples kaca sesaat kemudian bel rumah berbunyi nyaring.

Ibu Hikari berjalan menuju pintu utama. Di kedua tangannya ada nampan dengan setoples kue hangat dan tiga jus buah.

" Hinata-chan, ini bagikan ke temanmu dan minumlah jusnya segera" ujar Ibu Hikari yang kemudian berlalu melewati ruang keluarga menuju pintu utama.

Ibu Hikari membuka pintu dan mendapatkan 2 orang tamu yang tak didugaanya.

Terkejut melihat sahabat karibnya bersama pemuda berambut merah yang nampak familiar.

" Karura-san, Gaara...ini benar Gaara?" ujar Ibu Hikari meyakinkan diri sendiri.

"Iya Hikari, ini Gaara. Putra bungsuku" ucap Ibu Karura.

Lalu Ibu Hikari mempersilahkan kedua tamunya. Beriringan, Ibu Hikari, Ibu Karura dan Gaara berjalan menuju ruang tamu.

"Hinata-chan bisa kau , ino dan sakura pindah ke halaman belakang rumah. Ibu ada tamu. Kau ingat Bibi Karura dan Gaara, tuan panda merahmu, hmmm? "ujar Ibu Hikari menggoda Hinata.

Hinata yang masih fokus mengerjakan tugasnya menoleh seketika. Matanya membelalak melihat Gaara di depannya.

"Hinata-chan, aku dan Sakura pulang dulu. Tugasnya juga hampir selesai besok kita sambung lagi ya" ujar Ino sembari mengedipkan mata mengutarakan "kau harus menjelaskan ini besok" lalu menarik Sakura di sebelah kanannya.

Hinata, Ino dan Sakura pun segera membereskan tugas di meja ruang tamu. Kemudian Hinata mengantarkan Sakura dan Ino ke depan rumah.

"Hinata sayang, kau ganti baju dulu nanti ngobrol lagi sama Gaara dan Bibi Karura" ujar Ibu Hikari.

Dengan cekatan sang Ibu membereskan gelas sisa minum trio dara kompleks Fuji. Lalu mempersilahkan Karura dan Gaara duduk menikmati cokies hangat di toples yang belum tersentuh oleh trio dara. Setelahnya membuat sepoci teh dengan 4 gelas di nampannya dan menyajikan di meja ruang tamu.

Hinata terlihat turun ke lantai mengenakan dress selutut berwarna peach. Mengesankan mata Gaara yang memandang penuh terpesona akan hadirnya gadis manisnya.

" Hinata sayang, Bibi Karura sangat merindukanmu... Oh putri kecil manisku " Ucap Ibu Karura mendudukan Hinata di sebelah ia duduk . Lalu mencubit gemas dan memeluk Hinata dengan agresifnya.

" Bu, kasihan Hinata. Wajahnya memerah, Ibu memeluknya terlalu kencang" ujar Gaara memprotes kegiatan sang Ibu.

Ibu Karura melonggarkan pelukan terhadap Hinata. Tersenyum lebar mendengar protes sang putra bungsu. Ah, Hinata putri mungil idamannya yang akan menjadi menantunya.

Mereka berbincang ramai. Mengenang masa – masa di Suna dan kehidupan sekarang. Hinata menanggapi ocehan para Ibu dengan tersenyum. Sembari menanggapi kecil dengan menganggukan kepala. Sedang Gaara terlihat lebih fokus melihat ekspresi wajah Hinata. Memandangi ayu nya teman kecilnya dulu. Dan terkadang menyesap teh yang tersedia.

Jam menunjukkan pukul 16.00.

Jam biasanya Ibu Hikari ke supermarket di ujung jalan.

"Karura, aku akan ke supermarket sebentar. Kau mau ikut atau bersama anak-anak" ujar Ibu Hikari.

Ibu Karura yang tanggap suasana pun langsung berdiri.

"aku rasa kita harus berbelanja bersama. Pasti menyenangkan. Bagaimana jika kita masak bersama untuk makan malam. Lagipula aku belum bertemu Hiashi-san" ujar Ibu Karura.

"Baiklah. Hinata, kau bermain dulu bersama Gaara. Sebentar lagi Hanabi juga pulang dari lesnya" ucap Ibu Hikari.

Kemudian 2 wanita paruh baya tersebut terlihat pergi membawa tas sayur. Berbincang sepanjang jalan menuju supermarket.

Sasuke yang sedang mengisi tts di depan rumah terheran melihat Bibi Hikari bersama wanita asing. Wajah yang terasa tidak asing. Pikir Sasuke sembari memperhatikan wajah wanita berambut merah tersebut.

Otak jeniusnya berfikir... Ya ketemu.

Sekarang Hinata merasa canggung hanya berdua dengan Gaara. Sedang Gaara mulai berfikir tentang memulai percakapan.

" Hmm..Bagaimana kabar Paman Hiashi dan Hanabi sekarang. Apa paman masih suka memancing?" tanya Gaara mencoba mencairkan suasana.

"Ah..Ayah masih suka memancing. Kemarin Ayah dan Hanabi juga baru memancing bersama Naruto" ucap Hinata.

" Dan kau masih suka menanam bunga? Bibi Hikari juga masih suka berkebun?" ujar Gaara.

Hinata menganggukan kepala membenarkan ucapan Gaara.

"Iya. Kau masih suka dengan panda, Gaara-kun?" jawab Hinata sambil menganggukan kepalanya.

"tentu saja, bahkan panda merah dari mu masih ku simpan" jawab Gaara bangga yang membuat pipi Hinata bersemu merah muda.

Pemandangan naas itu tertangkap retina seorang Sasuke Uchiha. Ia yang tadinya berniat mengunjungi Hinata di rumahnya untuk sekedar bermain merasa mendidih melihat wanitanya bertatapan dengan wajah tersenyum kepada Gaara.

Saat Sasuke mengingat-ingat tentang betapa familiar wajah wanita asing yang berjalan dengan Bibi Hikari. Sasuke menyadari jika mobil yang terparkir di halaman rumah Hinata berplat sama dengan mobil yang biasa mengantarkan Sabaku Gaara ke sekolah.

Kemudian Sasuke mendapati Hanabi yang sudah pulang dari lesnya.

"Hanabi, kau baru pulang" ujar Sasuke basa basi.

"Ya, seperti yang kau lihat" jawab Hanabi masih berjalan menuju rumahnya.

Kalau saja Hanabi bukan adik Hinata, sudah Sasuke caci maki, bagaimana kakak beradik itu mempunyai kepribadian yang teramat jauh. Hinata yang baik, cantik, ramah

namun Hanabi judes, angkuh, dan menyebalkan.

"aku ingin bertemu Hinata-chan" ujar Sasuke berjalan santai di belakang Hanabi.

"Kau. Jangan pernah menyakiti Hinata-nee. Awas kau, jika berani melakukannya. Lihat saja balasanku" ucap Hanabi sambil menoleh menatap tajam ke Sasuke. Hanabi akhi-akhir ini paham jika kakak tersayangnya sering melamun. Dan dari sikap aneh Hinata yang sering bersolek merapikan diri sebelum menatap ke wajah Sasuke.

Ah...ternyata Hanabi pun peka dengan hal semacam ini.

Setelah Hanabi membuka pintu utama dan berjalan menuju dapur mengambil minum, Sasuke masih terpaku dengan Hinata dan Gaara yang duduk bertatapan dan wajah Hinata yang kedapatan olehnya bersemu karena ulah seorang Sabaku Gaara.

Hanabi yang meminum gelas air dinginnya, mengamati kejadian di depan matanya. Satu hal yang menarik atensinya, orang berambut merah yang cukup keren pikirnya.

Hanabi melangkah ke ruang tamu, memecah kekikukan Hinata

"Nee-chan, aku sudah pulang ya. Aku akan ke kamar dulu, tidur sebentar. Itu Sasuke nii ingin bertemu nee-chan katanya" ujar Hanabi mengedipkan mata ke kakaknya. Lalu melangkah menuju kamar tidur tercinta.

Hinata menolehkan kepala mendapati Sasuke menatapnya dengan pandangan anehnya. Lalu mengamati Gaara yang terdengar mendecih.

"Sasuke-kun, duduklah. Itu..aku, akan membuat minuman untukmu" Hinata berucap terkaget, lalu menuju ke area dapur guna mengambilkan satu gelas es jus tomat untuk Sasuke.

Sekembalinya Hinata dari dapur dan menyajikan jus untuk Sasuke, Hinata hendak duduk bersisian dengan Gaara .

" Kau duduk denganku di sini Hinata-chan" Sasuke mengabaikan jusnya dan menggenggam tangan Hinata membawa Hinata ke kursi duduk berdua dengannya.

Gaara tidak suka. Harusnya Hinata-chan duduk di sebelahnya. Bagaimana pun zona keromantisan antara Gaara dan Hinata hancur karena kedatangan Sasuke.

" Bukankah kau yang justru mengganggu kami. Hinata duduk di sini saja" ucap Gaara seraya menepuk sofa kosong di sampingnya.

Hinata bimbang, ini sungguh terasa aneh.

Hinata tak mau jadi korban keganasan pertengkaran 2 pemuda di depannya.

Kamisama...tolong Hinata chan

.

.

.

"Ayah pulang. Suara ayah Hiashi menggema dari depan. Hinata segera menghampiri ayah Hiashi, membawakan tas kerja lalu menawarkan teh apa yang ayahnya inginkan.

"Oh...ada Sasuke ternyata. Ini siapa Hinata?" tanya ayah Hiashi yang terheran mendapati pemuda asing di depannya. Seperti kenal namun Ayah Hiashi tidak yakin.

" Paman... Sabaku Gaara, putra Mama Karura. Paman benar tak mengingatku" Gaara sebal mode on.

Seingat Gaara , Paman Hiashi dulu suka bermain dan menggoda Gaara karena Keluarga Hinata tidak memiliki putra. Mana mungkin sekarang ia begitu mudah terlupakan oleh waktu.

Ini pasti pengaruh dari banyaknya teman lelaki Hinata sekarang.

Hinata yang melihat percakapan 3 pria memilih pergi membuat teh pesanan dang ayah.

"Maaf Gaara kun, Sasuke kun. Aku akan ke dapur sebentar" ujar Hinata memilih berlalu menuju dapur sejenak.

" Kau...Gaara kecil. Si rambut merah penyuka panda hahahhh... Paman tidak mengira kau tumbuh setinggi ini. Kecil mu kau bahkan lebih pendek dari Hinata-chan" ujar Ayah Hiashi sembari tangan kanannya mengacak rambut merah Gaara.

Mendengar hal itu Sasuke tersenyum culas. Hinata terkikik di dapur, Gaara mengomel kenapa Paman Hiashi membuka aib kecilnya. Haah... hal yang jelek itu harusnya bukan untuk di kenang bukan.

" anak-anak kita pindah ke halaman belakang saja. Angin sepoi sore ini menyejukkan lho" ujar Ayah Hiashi karena memang musim semi akan tiba dan suasana sore ini memang cocok bersantai sore sambil menikmati langit orange matahari terbenam.

Bertiga Ayah, Sasuke dan Gaara mengekor menuju halaman belakang. Lalu bersantai di kursi kayu di taman belakang.

Sejenak kemudian Hinata membawa teh jahe untuk Ayah Hiashi. Kemudian ikut bergabung bersama teh miliknya, teh Gaara dan jus Sasuke serta setoples kue yang ikut ia pindahkan ke meja taman belakang. Setelah duduk bersama yang lain, Hinata mulai menutup mata ,menikmati sepoi angin sore hari serta bau musim semi yang menjadi kebahagiaan tersendiri.

Ayah Hiashi sedang berbincang pada Sasuke. Gaara yang menikmati tehnya melirik ke Hinata yang memejamkan matanya. Senyum Hinata bikin Gaara deg deg seer...et dah roman roman cinta monyet bersemi jua.

3 menit berlalu, Hinata membuka mata. Gaara berpaling segera, mengenyahkan acaranya bisa ketangkep basah sama Hinata. Lalu menyela pembicaraan Sasuke yang meminta Hinata sekeluarga hadir di acara ulang tahunnya pekan depan.

"Paman...bagaimana jika rabu nanti kita rekreasi , sudah lama sekali kita tidak bersenang-senang bersama lagi. Berhubung rabu nanti libur perayaan pergantian musim semi mungkin akan bagus jika ke Hokaido. Ah ya, bukankah rumah nenek Hinata-chan di sana ya?" tanya Gaara.

Ayah Hiashi tersenyum, ide Gaara sangat bagus.

Ahhh...rekreasi yang ia inginkan juga.

" Baiklah, nanti kita tanyakan ke yang lainnya. Kalau Paman sih, setuju saja karena sudah cukup lama tidak mengunjungi rumah di Hokaido. Tunggu, bukannya Gaara dulu pernah ikut ke rumah di Hokaido. Ah ya, kalian sangat lengket seperti lem saat bermain di sana. Bahkan berbagi tidur bersama. Kau ingat Hinata chan" Ayah Hiashi menolehkan kepala ke putri sulungnya.

Sasuke syok, napasnya menderu berat.

Gaara senyum-senyum gak jelas.

Jelas membahagiakan baginya pengalaman menginap di rumah nenek Hinata di Hokaido.

Hinata memerah tersipu teringat ucapan Ayahnya. Malu akan masa kecilnya. Padahal itu semua terjadi karena Gaara yang terlihat sedih dititipkan oleh Bibi Karura, sedang Paman Rei dan Bibi Karura, ada keperluan di kora lain. Maka atas inisiatif sikap saling tolong menolong, ia mengajak Gaara si pendiam bermain selama 5 hari dititipkan di Hokaido.

Angin sepoi melaju menyegarkan percakapan lanjutan Ayah Hiashi yang membuat panas Sasuke. Gaara menanggapi dengan tertawa bahagia. Hinata pun mendengarkan cerita yang mengalir dengan seksama.

Ahh...Sasuke tak mau melewatkan apapun yang berhubungan dengan Hinatanya, tentu ia akan menahan cemburu ini walau menyebalkan.

.

.

.

.

Jam berdenting menunjukkan pukul 19.00. Ayah Hiashi, Hanabi, Gaara, Sasuke duduk manis di meja makan menunggu Hinata yang sedang membawa semangkuk besar kare. Ibu Hikari dan Bibi Karura menyusul kemudian. Tentu saja yang memasak adalah duo nyonya plus Hinata sebagai asisten utama. Hanabi, jangan tanyakan dirinya. Tentu dapur bukan macam hal yang akan cocok dengan Hanabi.

Mereka menikmati makan malam bersama. Mengesankan dan menyenangkan begitulah pikir Gaara.

Karena Hinata sekeluarga setuju menghabiskan hari Rabu nanti untuk rekreasi ke Hokaido bersamanya.

Pada awalnya Nyonya Karura menawarkan villa keluarga Sabaku kepada Hiashi . Karura pikir alangkah baiknya menjamu teman akrabnya di villa yang telah dimilikinya 2 tahun terakhir. Bahkan villa ini jaraknya cukup dekat dengan rumah nenek Hinata. Namun Hikari dengan berat hati harus menolak karena keluarganya ingin menginap di rumah nenek Hinata chan. Jadi terpaksa Gaara dan dirinya menginap di villa kelurga, lalu keesokan harinya bertamu ke rumah nenek Hinata.

Setelah makan malam , acara bincang-bincang duo nyonya masih menjadi topik utama. Ibu Hikari dan Nyonya Karura menceritakan rencana area destinasi rekreasi saat di Hokaido nanti. Lalu berlanjut ke masalah seputar rumah tangga masing-masing, percintaan masa muda nyonya Hikari dan nonya Karura bahkan tips dan trik seputar cinta mereka bagikan.

Gaara nampak serius mendengarkan tips trik ala orang dewasa itu. Sesekali Gaara melihat Paman Hiashi yang tampak mengangguk-anggukan kepala menyetujui perkataan Hikari tentang sesuatu yang di sebut cinta.

Di lain pihak Sasuke juga ikut mendengarkan celotehan para dewasa tentang cinta. Juga mengawasi Hinata yang duduk berseberangan bersama Gaara . Sungguh sial, padahal awalnya Hinata akan duduk berseberangan dengan Sasuke, namun tiba-tiba Nyonya Karura meminta Hinata duduk di sebelah kanannya dan berakhir dengan Sasuke dan Nyonya Karura duduk bersama yang berselisihan pandang.

Mungkin Nyonya Karura mendeteksi bahwa Sasuke menyukai Hinata.

"ini semakin sulit ternyata" pikir Sasuke.

"Sasuke-kun, rabu nanti kau akan kemana?"tanya Hinata karena penasaran apa yang akan Sasuke lakukan .

Berhubung tadi membicarakan rekreasi, Hinata berharap ia dan Sasuke bisa berekreasi bersama menikmati indahnya musim semi Hokaido.

"Mungkin di rumah saja" ujar Sasuke.

Membunuh imajinasi kebahagiaan Hinata, "idiihhhh...ini Sasuke gak peka amat sich, menyebalkan" Kata Hinata dalam hati.

Ting...tong...permisi Hikari...

Suara merdu melengking itu menyakitkan telinga Sasuke. Tentu ia sudah hapal suara mama tercintanya.

Senyum mengembang Sasuke tampilkan, mungkin ia bisa ikutan libur dengan Hinata-chan rekreasi ini.

Sementara itu Hinata telah berjalan menuju pintu utama, membuka pintu dan mendapati Bibi Mikoto yang bertamu ke rumahnya.

Seperti biasa Hinata kali ini mendapat sepiring brownis pisang resep terbaru dari nyonya tetangga.

Aneh, bukan akhir pekan tapi Mikoto baa san berkunjung. Mungkin sedang ingin berkunjung saja.

Pikir Hinata

Hinata dan Bibi Mikoto berjalan melewati ruang keluarga. Tak sengaja mendapati suasana ramai di area dapur, Nyonya Mikoto memilih bergabung dengan Hikari dan seseorang yang tampak asing baginya.

" Sasuke!... kenapa kau ada di sini?" tanya Mama Mikoto terkejut. Ia pikir Sasuke tidak terlihat karena sedang malas-malasan di kamar.

" Sasuke dari tadi sore di sini, Mikoto san. Sasuke bahkan sudah makan malam di sini" ujar Paman Hiashi

" Mama ke sini hanya mencari Hinata lagi. Aku semakin heran, anak mama itu aku atau Hinata?" Sasuke berbicara tajam.

Semua yang ada di dapur tertawa renyah mendengar ucapan Sasuke. Mereka pikir kecemburuan Sasuke sedikit berlebihan.

"tentu saja anak mama itu kau, Sasuke. Dan tentu juga Hinata-chan yang cantik dan lucu ini putri mama Mikoto. Iya kan, Hinata-chan?" ujar Mama Mikoto sembati mencubit gemas pipi Hinata.

Hinata tersenyum menanggapi ucapan Bibi Mikoto. Lalu membawa kue brownis pisang yang telah dipotong menjadi beberapa irisan tak lupa membawa secangkir teh chamomile kesukaan Bibi Mikoto.

Tak tahan Hinata chan hampir terebut perhatiannya, Nyonya Karura menatap sebal Mama Mikoto.

" Hinata -chan, putri manis kesayangan ini akan menjadi putri Ibu Karura. Ah..lebih tepatnya Hinata-chan akan menjadi kekasih Gaara. Bahkan rabu nanti kami akan rekreasi bersama. Pasti menyenangkan Hinata-chan. Kau bisa lebih dekat lagi dengan Gaara seperti kecil dulu" ucap Nyonya Karura dengan bangganya, sebal melihat putri cantiknya hendak direbut .

Lalu ucapan itu adalah suatu hal yang ia sesali. Ahh ...harusnya rekreasi itu tidak ia ucapkan.

"Rekreasi apa? Kemana? Mama Mikoto harus ikut dong Hinata-chan. Kita harus bersenang-senang bersama. Sasuke juga harus ikut! Terus Hinata akan lebih dekat dengan Gaara. Siapa Gaara bagi Hinata?" Bibi Mikoto berucap dengan kritis.

Membuat Hanabi dan Gaara mencebik sebal.

Acara malam ini harusnya tenang dan membahagiakan.

Pikir mereka.

Sasuke masih berwajah datar dengan sedikit senyum kemenangan. Ayah Hiashi tertawa sejenak melihat putri sulungnya seperti boneka utama yang diinginkan semua mertua.

Akhirnya Ibu Hikari menjelaskan tentang rekreasi, tentang Gaara dan tentang Nyonya Karura sebelum kesalahpahaman berlanjut.

Setelahnya, Nyonya Karura dan Gaara pamit untuk pulang. Gaara cukup berbahagia untuk hari ini walau prediksi rekreasi di Hokaido tak semulus rencana awalnya. Nyonya Karura berpikir mulai sekarang ia memiliki saingan untuk mendapatkan Hinata-chan sebagai kekasih anaknya. Ia harus melakukan taktik cerdas demi Hinata-channya.

Tak lama berselang Bibi Mikoto dan Sasuke juga berpamitan pulang. Selama berjalan, Sasuke terus di ajukan berbagai pertanyaan dari Mama Mikoto. Telinga Sasuke memang sudah terbiasa, terbiasa mendengarkan ucapan Mama Mikoto yang mengalun masuk dari kuping kanan berlanjut keluar dari kuping kirinya. Namun ada hal-hal yang Sasuke syukuri karena Ibunda tercintanya itu. Karena sang Ibunda, akhirnya Sasuke akan rekreasi ke Hokaido bersama Hinata-channya.

Karena Mama Mikoto berhasil membuat Hinata-chan sekeluarga hadir di ulang tahun pekan nanti.

Meski dengan tambahan Nyonya Karura dan Gaara yang tak ia inginkan sebenarnya.

Dan karena ultimatum Mama Mikoto yang menyatakan Hinata-chan sebagai putrinya, otomatis Sasuke lah yang wajib mendampingi Hinata sebagai sepasang kekasih.

Malam yang indah Sasuke.

#semangatwritingformyself

#Terimakasihpembaca