Hari ku Tentang Mu

Naruto belongs to Mr. MK

The story is mine

Hanya hiburan semata

HYUUGA HINATA & PATNER

Hari Rabu yang dinantikan datang. Selama perjalanan tadi, mobil ayah Hiashi terasa sunyi. Hinata yang biasanya curhat bersama Ibu Hikari dan Hanabi hanya terdiam. Hanabi di kursi belakang terlihat tidur nyenyak. Sedang Ibu Hikari sibuk memandang asrinya kawasan kampung halamannya dulu.

Ayah Hiashi juga tidak menduga jika rekreasi nya jadi serba ramai. Bukan hanya keluarganya dan keluarga Sabaku, tiba-tiba Mikoto, Sasuke ikut sebagai anggota tambahan.

Lalu entah dari mana kabar berhembus, di hari keberangkatan tepatnya Rabu pagi tadi mobil keluarga Uzumaki, mobil keluarga Nara, dan mobil keluarga Haruno terlihat beranjak merapat di area rumah Hiashi. Lalu suara nyaring bocah kuning itu menggemparkan pagi harinya, sebuah kata " Paman, kami juga ikut rekreasi ke Hokaido. Hahahahaaha... rekreasi 2 hari pasti menyenangkan ...Aku juga bawa set alat pancing. Ayo Paman, kita harus berangkat secepatnya" .

Ayah Hiashi tersenyum melihat hal itu.

Lalu di dapati Mikoto san dan Sasuke terperangah melihat rombongan ke Hokaido yang tak terprediksi.

Ayah Hiashi pada awalnya bermaksud mengajak Mikoto dan Sasuke menginap di rumah nenek Hinata. Masalah tamu 2 orang tentu masih tersedia kamar bisa mereka gunakan.

Kalau begini kejadiannya, maka ia rasa tak ada salahnya menerima tawaran Nyonya Karura untuk menggunakan villa Sabaku.

Secepatnya Ibu Hikari menghubungi Karura untuk menggunakan penawaran guna meminjam villa mereka.

Siang ini rombongan telah sampai di villa Sabaku. Setelah bercakap dengan Nyonya Karura, Ibu Hikari memutuskan bahwa villa Sabaku menjadi markas utama selama rekreasi 2 hari di Hokaido.

Nyonya Karura menjamu tamu di area halaman depan rumah.

Untuk barang bawaan keluarga Haruno, Nara, Uzumaki dan Nyonya Mikoto serta Sasuke telah diantar ke kamar yang telah di sediakan untuk masing-masing tamu. Setelah sedikit bercengkrama hangat dan acara makan siang, mereka menikmati suasana santai di halaman depan. Sejauh mata memandang, asrinya kawasan dan udara sejuk sekitar menjadi daya tarik tersendiri.

Sepoci teh dan barisan indah gelas minum tersaji menemani para tamu di meja bundar ini.

Ibu Hikari, Mama Mikoto, Nyonya Haruno, Nyonya Kushina dan Nyonya Karura tengah berbincang hangat, sependengaran Hinata mereka sedang membahas menu makanan. Sepertinya akan tersaji menu makanan yang banyak untuk malam ini. Hinata hanya berharap, semoga Mama Mikoto tidak bereksperimen menu di rekreasi kali ini.

Keluarga Nara sibuk berdiskusi sesuatu yang sepertinya penting.

Hinata berpaling ke Sakura. Menanyakan kenapa Ino tumben kali ini tidak ikut. Sakura menjelaskan jika Ino sekeluarga berkeliling ke Seoul. Dan Ino mengatakan bahwa destinasi ke korea sudah direncanakan oleh Nyonya Inoichi sejak 3 bulan lalu, jadi terpaksa Ino tak ikut ke Hokaido.

Hinata mengangguk-anggukan kepala.

Ah...saat di mobil tadi banyak yang Hinata pikirkan, mulai investigasi Ino saat mengetahui kunjungan Gaara ke rumahnya, memikirkan kesehatan neneknya karena saat peralihan musim banyak penyakit yang biasa menjangkiti wanita renta kesayangan Hinata itu, perayaan ulang tahun Sasuke pekan depan dan teraneh ke mana buku diary book'id life miliknya menghilang.

Senin malam saat Hinata hendak menulis kisah kesehariaannya, ia menyadari buku diary terbarunya itu tidak ada di meja belajarnya. Mencari keseluruh sudut kamar masih juga tak ia temukan.

Heran . Seingat Hinata dirinya tak pernah memindahkan buku diary book'id life dari meja.

Terpaksa deh Hinata menuliskan kisah hari ini dan hari selanjutnya di buku diary baru.

Lah...

Tapi di buku itu kan dari rahasia perasaan Hinata.

Aduh... pusing kepala barbie.

###pusing kepala Hinata yang benar

"Ibu, Ayah bersama Naruto , Haruno san dan Minato san akan pergi memancing.

Oh ya, Hinata kau mau di sini atau ke kebun bunga Nenek. Rute pemancingan melewati area perkebunan milik nenek. Ayah pikir sekarang adalah masa di mana lavender berbunga" tanya Ayah Hiashi ke Hinata.

" Aku rasa jalan-jalan ke kebun bunga besok pagi saja Ayah. Kita bisa berkumpul di sana besok. Hinata, bisa kau bantu Ibu berbelanja kebutuhan dapur ke pasar terdekat" pinta Ibu Hikari

" Baiklah Ibu, Sakura Hanabi mau ikut?" tanya Hinata ke Sakura yang sedang menyesap teh dan Hanabi yang tengah fokus ke smartphonenya.

Sakura meletakkan tehnya di meja. Hanabi menengokkan wajah ke Hinata.

" Tidak. Kami di sini saja" ujar mereka bersamaan.

Lalu Hanabi kembali sibuk dengan smartphonenya dan Sakura menikmati pemandangan sekitar.

" Gaara , kau tolong temani Hinata ke pasar terdekat sayang" ujar Nyonya Karura tanggap mendapati Hinata yang sendirian berbelanja.

"Tentu Ibu. Ayo Hinata-chan. Cuma 1 kilometer, berjalan bersama pasti menyenangkan" ucap Gaara yang kemudian berjalan menghampiri dan menggenggam tangan Hinata-chan. Setelahnya , mendekat ke Ibu Hikari yang menitipkan sejumlah besar uang dan kertas daftar belanjaan yang diserahkan ke Hinata.

" Hinata-chan aku saja yang mengantarkannya Bibi. Aku ingin berkeliling sebentar di sini. Gaara kau bisa kembali menikmati tehmu" ujar Sasuke berdiri lalu mengambil alih tangan Hinata.

"Tidak, Hinata-chan denganku " ucap Gaara.

" Bukan, Hinata-chan denganku saja" ucap Sasuke.

" Aku tak mau. Hinata-chan akan aku antarkan" ucap Gaara tegas.

"Biar aku saja yang mengantar Hinata-chan. Kau kan sudah sering ke sini Gaara. Jadi biar aku saja yang mengantarkannya" balas Sasuke.

" Maka dari itu. Aku tak mau Hinata-chan gadis manis kecilku tersesat karenamu. Kau kan asing di sini" kekeuh Gaara.

" Kau bilang cuma 1 kilometer dari sini. Aku bisa tanya orang sekitar. Tak mungkinlah hanya ke pasar aku dan Hinata-chan akan tersesat. Biar aku saja yang mengantar" balas Sasuke teguh.

Keluarga Nara, keluarga Haruno, Hanabi, Ibu Karura, Mama Mikoto, Nyonya Karura, Nyonya Kushina serta para pemancing Kompleks Fuji terlihat sweatdrop menyaksikan adegan di mana Hinata di perebutkan antara Gaara dan Sasuke.

Di sisi lain,

" Gaara-chan kau harus bersama Hinata-chan. Ayo Gaara... Ayo nak. Perjuangkan Hinata-chan" inner Nyonya Karura berbicara.

"Sasuke-kun. Ayo dong...perjuangkan Hinata-chan. Rebut hati Hinata-chan untukmu nak, nyatain sich kamu suka Hinata-chan. Kalo bukan sekarang kapan lagi" inner Mami Mikoto berkumandang.

Di sisi lain , Ayah Hiashi memerah. Wajahnya geram menahan amarah.

Ayah Hiashi tak rela. Hinata-chan, putri sulungnya di sakiti, ditarik ke sana ke sini, ke sini ke sana. Hinata itu manusia. Tepatnya putri sulung kesayangannya. Mana bisa, Ayah Hiashi melihat Hinata di aniaya. Di aniaya oleh cinta...

#authorbaperdah

"Berhenti ! Kalian menyakiti Hinata-chan" lantang Ayah Hiashi.

"Sayang..Hinata-chan ke sini. Apa kau baik-baik saja sayang. Tanganmu tak memar kan? Tak ada yang sakit ata terluka , Sayang?" tanya Ayah Hiashi begitu Hinata berpindah tempat menghampiri sang Ayah.

Ayah Hiashi memperhatikan wajah putri sulungnya itu lalu ke dua bagian pergelangan tangan terakhir menatap tajam Sasuke dan Gaara.

"Apa yang kalian lakukan menyakiti Hinata -chan. Lihat wajahnya sembab karena kalian. Untung tak ada luka , kalau itu terjadi jangan pernah bertemu Hinata selama 3 bulan. Lebih baik kau tak usah berteman lagi dengan mereka lagi Hinata-chan" ucap Ayah Hiashi menatap penuh amarah ke Sasuke dan Gaara.

Ibu Hikari shock. Terakhir kali Ayah Hiashi marah adalah saat mendapat kabar Hanabi di rumah sakit karena permainan lelucon Konohamaru teman sekelas Hanabi. Untung Hanabi adalah anak yang tangguh jadi ia hanya mengalami pusing sebentar karena terjatuh. Dan Hanabi terlihat ceria kembali seolah tak ada yang terjadi. Itu adalah kejadian 2 tahun lalu dan Ibu Hikari berharap kejadian serupa tak akan terjadi lagi pada putrinya.

Tapi kali ini lebih parah, hal yang menyakiti putrinya terjadi di depan mata sang Ayah Hiashi dan putrinya terlihat berwajah sedih.

"Ayah, tenanglah. Hinata-chan baik-baik saja. Ini minum dahulu" Ibu Hikari berusaha meredakan amarah kepala keluarga Hiashi itu sembari menyodorkan segelas teh yang langsung di sesap habis oleh Ayah Hiashi.

Sasuke dan Gaara tersadar dari perbuatan mereka yang tanpa di sadari menyakiti Hinata.

Mengakui kesalahan, wajah mereka tertekuk tajam.

Sasuke akan berbicara tapi suara lain menginterupsi.

"Paman. Aku akan mengantarkan Hinata-chan sampai pasar sampai kembali ke sini dan menjaganya" suara Shikamaru memecahkan keheningan.

"Baiklah. Tolong jaga Hinata ku , Shikamaru" ucap Ayah Hiashi setelah menghapus kesedihan dari wajah anak cantiknya lalu menyerahkan genggaman tangan Hinata-chan ke Shikamaru.

(Berasa kayak adegan pernikahan

#gubrakgawatgawatgawat

#ingetthormainchara thor...)

Sasuke terkesiap. Kalimat yang hendak meluncur tertahan di bibirnya. Musnah sudah kesempatan hari ini.

Gaara memandang kepergian Hinata-chan bersama Shikamaru dengan asa menggebu.

Ini semua adalah kesalahan Sasuke. Mulai sekarang tali pertemanan dengan Sasuke adalah break up. Pokoknya titik.

Dan Sasuke serta Gaara dengan berat hati harus merelakan Hinata-chan bersama seorang Nara Shikamaru.

"Ayah akan ke pemancingan sekarang Bu. Di sini melihat mereka, Ayah tak tahan. Ayo Naruto" ujar Ayah Hiashi dengan gigi bergemeletuk.

Sasuke dan Gaara tak berani melihat ke wajah Ayah Hiashi. Terlalu takut karena sosok yang mereka yakini ramah bisa menjadi semarah ini.

Ayah Hiashi berjalan menuju mobilnya, di ikuti Ayah Haruno, Ayah Minato dan Naruto yang terlihat membawa set alat memancing.

" Ayah, bantu aku. Ini berat tahu. Huuhh...kan bukan hanya aku yang memancing, tolong bantu aku .. Ayah.." suara Naruto merajuk membuat Nyonya Kushina, Nyonya Haruno, Hanabi dan Sakura tertawa renyah mendengarnya.

Akhirnya terlihat Ayah Minato yang membawa tas alat pancing tersebut.

" Apa Naruto memang selucu itu, Kushina?" tanya Nyonya Haruno.

"Naruto memang aneh, menyebalkan dan bodoh , Mom" uja Sakura.

"Ah..kau begitu memperhatikannya ya Sakura. Apa kau menyukai Naruto-chan" goda Nyonya Kushina.

Tiba-tiba semu kemerahan menjalari wajah Sakura. Wajah Sakura terasa panas.

" Ti...tidak mungkin. Aku tidak menyukai Naruto Bibi" jawab Sakura berusaha mengelak dengan tangan mengibaskan wajahnya yang terasa panas.

Ibu Kushina dan Mommy Haruno tertawa renyah.

Ibu Hikari menghampiri Sasuke dan Gaara.

" Bibi meminta maaf karena sikap Ayah Hinata. Paman tak bermaksud memarahi kalian, Paman hanya tak bisa melihat putrinya sedih ataupun terluka. Kalian bisa memaafkan Paman kan?" ujar Ibu Hikari berusaha meredakan ketidaknyaman yang ada.

"Aku yang salah Bibi. Mohon maafkan aku " ujar Gaara.

" Aku harusnya tak menyakiti Hinata. Maaf Bi" ucap Sasuke.

Lalu mereka membungkuk 90 derajat ke Ibu Hikari.

Senyum Ibu Hikari membuat suasana lebih baik. Sasuke dan Gaara juga menampilkan senyum yang tertuju ke Nyonya Hiashi itu.

Lalu mereka pun berlanjut bercakap ringan , duduk sambil menikmati teh kembali.

Shikamaru masih mengenggam tangan Hinata. Jari indah mungil itu teras pas dalam genggaman Shikamaru.

Angin yang sepoi menghembuskan wangi sampo Hinata yang selalu di sukai Shikamaru. Rambut indigo indah yang tergerai lembut itu sesekali menghampiri area wajah Shikamaru. Membuat Shikamaru tak ingin menjauh dari Hinata walau sejengkal pun.

Baju ungu bertuliskan kiss me if me cute terlihat kontras dengan kulit Hinata. Celana ¾ tak menghalangi kaki jenjang milik wanita cantik itu. Justru menambah kesan menyenangkan. Hari ini Hinata menjelma menjadi gadis santun imut.

Mereka telah melalui hampir dari separuh pejalanan ke pasar. Selama itu pula Shikamaru menemui lelaki yang terkesima melihat Hinata. Membuat Shikamaru sengaja mengayun-ayunkan kecil tangannya yang mendekap tangan Hinata. Seolah menunjukkan bahwa Hinata miliknya.

Seorang anak kecil laki-laki terlihat berlari menghampiri Hinata dan Shikamaru.

" ini untuk onee chan kalena cantik. Itu kata mama altinya cium aku jika aku lucu. Aku akan cium onee chan. Cini onee chan" ujar pemuda kecil lucu berusia 4 tahun menyerahkan bunga kecil berwarna kuning ke Hinata lalu menunjuk kaos ungu kepunyaan Hinata.

Hinata berjongkok. Menerima bunga dari pemuda kecil itu. Kemudian menyodorkan pipinya untuk menerima ciuman si anak kecil.

"cup" anak kecil mencium di bibir Hinata.

"Kata mama , kalo aku suka aku halus cium di bibil. Aku cuka onee chan" ucap anak kecil itu dengan wajah memerah. Lalu berlari ke arah mamanya dengan tergesa setelah mencium Hinata.

Ibunda sang anak mengulas senyum terima kasih dan maaf untuk Hinata.

Shikamaru terperangah bagaimana bisa anak kecil itu mencium Hinata di bibir.

Tadi Hinata jelas-jelas menyodorkan pipi chubbynya.

Tapi kenapa anak kecil laki-laki itu tiba-tiba berubah tempat, lalu mencium Hinata-chan di bibir.

Bibir Hinata-chan nya...

Kenapa

Kenapa

Kenapa bisa terjadi

Shikamaru tadi sempat melihat jika anak kecil itu menunjuk kaos Hinata bertanya kepada sang Ibunda tentang tulisan di baju Hinata.

Yang benar saja.

Kenapa cium di bibir Hinata

Kenapa

Harusnya kan Shikamaru yang mencium Hinata

Kan Shikamaru yang baca kalimat ini duluan

Hinata chan cium aku...

Cium aku...Hinata chan

...Hinata chan...

Hinata melihat ke arah Shikamaru. Anak kecil laki-laki itu telah berjalan menjauh bersama mamanya.

Hinata yang berdiri terkikik sebentar. Lalu membaca tulisan di bajunya. Kemudian tertawa sejenak.

Tawa Hinata makin menghipnotis Shikamaru. Indah dan mempesona

Kring kring

Suara bel sepeda dari belakang membangunkan Shikamaru dari dunia semunya.

Terlihat Hinata yang masih tertawa, lalu berucap

"Apa kau fikir aku lucu Shikamaru? Apa kau juga akan menciumku?" ujar Hinata masih tertawa memegang perutnya.

Otak jenius Shikamaru memproses. Aku lucu...cium aku...

Hinata lucu...cium Hinata...

Baiklah Shikamaru, perasaanmu sekarang. Tunjukkan ke Hinata-chan. Shikamaru berujar dalam hati.

Perlahan dan pasti jemari Shikamaru menyentuh pipi Hinata memegang dagu Hinata.

Hinata yang merasakan sentuhan jemari berhenti tertawa. Mata Hinata bertatap pandang dengan Shikamaru.

"Ya, aku pikir kau lucu dan aku akan menciummu" ucap Shikamaru.

Hinata tertegun.

Apa...apa yang Shikamaru katakan.

Otaknya masih memproses.

Shikamaru bertindak, pelan tapi pasti.

Perlahan bibir Shikamaru berjalan tertuju bibir Hinata.

Ini sempurna.

Suasana indah.

Langit cerah.

Hanya aku dan Hinata.

Hinata ku.

.

.

Sunyi dengan hembusan angin yang indah...

.

.

"pimp...pimp" suara klakson membuat Hinata menjauh dari cengkeraman Shikamaru.

Sebuah mobil yang Hinata kenali mendekat.

"Hinata-chan, Ayah pergi dulu. Kamu berhati-hati ya sayang. Shikamaru , Paman titip Hinata ya" ujar Ayah Hiashi kepada Hinata dan Shikamaru.

Lalu mobil kembali melaju menuju tempat pemancingan.

Untunglah Shikamaru selamat dari nasib naas.

Ternyata keberuntungan berada di pihakmu Shikamaru.

"Maaf Shikamaru, harusnya aku tak memakai baju aneh begini ya" ucap Hinata yang merasa ini salahnya.

" Tidak. Kau tak salah mengenakan baju itu. Itu terlihat cantik dan imut untukmu" ujar Shikamaru.

Hinata memerah mendapat pujian itu.

Perjalanan tersisa , Hinata masih menikmati pemandangan sekitar. Shikamaru memilih menata hati yang terasa aneh baginya.

Tak ada genggaman lagi diantara Shikamaru dan Hinata.

Shikamaru masih perlu mematangkan hatinya mengucapkan perasaannya.

Sekarang

Mungkin memang bukan sekarang.

Dan aku akan menjagamu Hinataku.

Janji Shikamaru dengan dirinya sendiri.

15 menit kemudian Hinata dan Shikamaru telah sampai di pasar.

Dengan cekatan Hinata membuka daftar catatan belanjaan dan membeli segala yang terdaftar di dalam catatan itu.

30 menit berkutat, sekarang Hinata membawa 4 kantong besar belanjaan. Ditambah 1 kantong kecil berisi 2 gelas jus yang terlihat dari plastik transparan.

Shikamaru tanggap segera mengambil alih 3 kantong. Lalu mereka pun pulang dengan menikmati 2 gelas jus, jus jeruk kepunyaan Hinata dan jus alpukat kepunyaaan Shikamaru.

Hinata telah meminum jus kepunyaannya hingga tersisa ½ dari isinya. Ternyata berbelanja di pasar itu tiada beda dengan arena peperangan. Mencari bahan yang bagus dengan harga yang murah adalah tujuan dari peperangan ini.

Mereka telah berjalan 900 meter. Shikamaru menghentikan langkahnya.

" Hinata-chan,bagi jus milikku" ujar Shikamaru.

Hinata menyodorkan gelas jus alpukat kepunyaan Shikamaru.

" ini Shikamaru" ujar Hinata.

"Tolong pegangkan dulu. Tak ada bangku duduk disini" ucap Shikamaru.

Lalu Shikamaru mulai menyeruput jus alpukat di tangan Hinata-chan.

Hinata termenung.

Ini Shikamaru minum dari tangannya.

Ini seperti sesuatu yang biasa di lakukan ayah dan ibunya.

Hinata canggung, wajahnya memerah

Shikamaru masih menikmati suasana intim ini.

Berdekatan dengan Hinata-chan itu menyenangkan.

Sampai jus alpukat telah habis isinya, Shikamaru masih bersikap seolah-olah meminumnya lagi.

Hanabi berjalan-jalan mengitari area sekitar seorang diri. Mungkin saja ia menemukan hewan lucu atau sejenisnya.

Kan Hanabi sebenarnya suka hewan, cuma karena ia terlalu ceroboh, sibuk dengan lesnya dan selalu tidur begitu sampai di kamar. Jadi ya mati dech itu kucing kesayangan Hanabi.

Walau sudah menangis guling-guling di kasur, eh salah guling-guling di tanah tetap saja itu kucing itu nggak bakal hidup.

Jadi sampai sekarang ini Ibu Hikari nggak ngizinin Hanabi memelihara hewan setelah kematian 11 hewan peliharaannya dulu. Mulai dari 2 ayam, 3 kelinci, 2 burung bersuara merdu, 3 marmut, yang terakhir mati adalah kucing itu.

Hinata melihat sosok nee-channya yang bersama Shikamaru. Memperhatikan kenapa mereka berhenti di sana.

Lalu mendekat memperpendek jaraknya dengan sang kakak.

Mata Hanabi membulat, ia mendapati kakaknya Hinata-chan bersemu memegang gelas yang diminum oleh Shikamaru.

Lalu menunggu, " kan sudah habis jusnya, apa sich yang Shikamaru lakukan" ujar Hanabi dalam hati.

5 menit berlalu. Hanabi yakin Shikamaru lagi modusin nee-channya. Ini harus di selesaikan sekarang. Tidak boleh lagi.

" nee-chan. Kenapa belanjanya lama. Ayo segera ke dalam. Ibu sudah menunggumu" teriak Hanabi.

Hinata terkesiap. Memindahkan gelas jus Shikamaru, ia baru sadar jika isi jus itu telah habis.

Kemudian Hinata memasukkan kembali sampah gelas ke plastik jus jeruknya. Ingat tak boleh membuang sampah sembarangan.

Hinata berjalan cepat ke villa Gaara. Hinata lihat langit sore ini, ah ... sepertinya memang ia belanja terlalu lama.

Hanabi mengekor di belakang Hinata.

Shikamaru berjalan di belakang Hanabi. Shikamaru mengulas senyum kecil, hari yang bahagia.

Hanabi menoleh ke Shikamaru.

Tatapan menilai Hanabi lakukan.

Yah, Hanabi tahu ternyata diam-diam Shikamaru juga tertarik dengan nee-channya.

"Banyak kandidat ini, aku akan pilih yang paling menguntungkanku" ujar Hanabi dengan pemikiran cerdasnya.

#mohonreviewdansaran

#terimakasihmanteman

#terimakasihpembaca

#terimakasihdukungannya

Sabaku no Yanie, NillaariezqysekarrSarry470

Dan semua pembaca dan pereview cerita saya.

Salam hangat

Zea-chan