(Trainees belong to God, their families, their ent, and their fans. Me just own this story line.)
(Boy x Boy, you might hate it)
Unexpected Fate
9.
"Woojin. Kau tidak sekolah?" Suara eomma memasuki pendengaranku, namun aku masih bergeming. Aku memang berada di ruangan yang sama dengan eomma appa, tapi aku hanya menatap kosong piring makanan yang bahkan tidak kosong sama sekali.
KAU MEMBUAT SEGALANYA MAKIN RUMIT BRENGSEK.
Brengsek.
Brengsek.
Breng-
Aku menatap pantulan wajahku dari sendok ditanganku.
Mati saja kau brengsek.
Semakin lama aku menatap wajahku semakin aku bingung mengapa aku termasuk brengsek bagi Hyungseob.
"Nak? Kau sakit?"
Aku mengalihkan pandanganku,
Iya ma, hatiku.
Tapi sayangnya eommaku bukan Hyungseob. Beliau tidak dapat membaca pikiranku sama sekali.
"Astaga badanmu hangat sekali nak. Kenapa diam saja? Okay kau tidak perlu masuk sekolah hari ini. Istirahat ya?" Aku mencoba tersenyum kecil ke arah appa, dan langsung memasuki kamar. Tidur dapat membantuku melupakan Hyungseob sejenak.
.
.
"Chogi-" Hyungseob mengangkat kepalanya dari buku biologinya.
Ada yang menyapanya.
Setelah seharian dia diam saja. Tidak berbicara maupun diajak bicara oleh siapapun, akhirnya ada yang mendekatinya.
Hyungseob merasa bersyukur karena Woojin tidak masuk, hatinya masih ngilu mengingat kejadian dilapangan kemarin.
"Eum. Siapa ya?"
Orang yang ditatap Hyungseob tersenyum tipis, seperti familiar.
"Bae Jinyoung, sunbaenim. Mau berbicara sebentar denganku?"
.
.
.
Hyungseob tidak hentinya memandang Jinyoung, tapi objek yang ditatapnya hanya malah menikmati pemandangan kolam ikan dihadapannya.
"Maaf tapi sebentar lagi istirahat habis.."
Sosok itu menghela nafas.
"Woojin sakit sunbae."
Hyungseob mengangkat alisnya. "Iya aku tahu, tadi songsaenim sudah mengatakannya padaku."
"Sakit sunbae. Sakit hatinya, bukan fisiknya."
Gantian Hyungseob yang menghela nafas. Dia sudah tahu dengan sangat jelas, kenapa harus dibahas lagi.
"Kau tahu sunbae. Sebenarnya disamping masalah kau sudah ditunangkan, hubungan kalian berdua cukup mudah dibandingkan kami."
Hyungseob mencoba menjadi pendengar yang baik karena sepertinya pemuda bermarga Bae ini hanya ingin bercerita.
"Seongwoo hyung dan Daniel hyung... Hubungan mereka terlalu rumit awalnya... Yang satu anak terapis dan yang satu pesakitan obat terlarang. Yang satu dibesarkan dikeluarga dimana mereka mengajarkan bahwa berbuat buruk itu salah sedangkan yang satulagi sudah rusak." Hyungseob terkesiap, dia baru mengetahui fakta itu.
"Lalu ada Samuel dan Daehwi. Yang satu cassanova dan mantan dia dendaman semua, yang satunya lagi tukang tebar pesona. Orang-orang disekitar mereka sangat menentang kala mereka jadian." Hyungseob mengingat-ingat. Ya memang Daehwi terlalu centil dulu. Ternyata hal itu yang menyebabkan dia berubah.
Jinyoung menghela nafasnya sebelum melanjutkan.
"Haknyeon dan Euiwoong hyungdeul. Ah.. mereka itu. Yang satu macam pangeran dengan sejuta kekangan, yang satu macam babu upik.
"Lalu aku dan Jihoonie terikat dengan permasalahan keluarga masing-masing."
Hyungseob mendecih pelan.
"Lalu gunanya aku tahu itu semua apa?"
Jinyoung tersenyum sendu. Dia sudah yakin bahwa Hyungseob akan merespon seperti ini.
"Kau tidak tau apa-apa tentangku, bocah." Lawan bicara Hyungseob hanya menyeringai.
"Justru itu. Karena aku tidak tahu makanya aku membicarakan semua ini dengan sunbae. Karena bagi orang diluar hubungan kalian, yang salah itu pokoknya sunbae."
Perkataan itu membuat Hyungseob terpekur. Ia stres karena tiga hal, pertunangannya, masalah dia dengan Woojin dan sebagai tambahan adalah seluruh komentar negatif terhadapnya.
"Aku hanya berusaha membantu saja kok. Aku tidak tega juga kalau sunbae terus-terusan dikatai penggemar Woojin Hyung."
.
"Aku tidak peduli."
.
"Sunbae tau apa yang membuat Woojin hyung sangat frustasi kala itu? Sikap sunbae yang seperti ini."
"Cinta itu bukan hanya masalah kau sayang dia dan kau sudah memberitahukan, lalu semuanya selesai. Tidak. Kau harus membagi segalanya bersama, hubungan itu tidak akan berhasil kalau satu saja yang berjuang."
"Kau berbicara seolah kau lebih tua dariku." Hyungseob mengalihkan pandangannya dari Jinyoung. Berbicara dengan anak ini membuat dia sakit kepala.
"Aku memang lebih muda darimu sunbae, namun aku cukup dewasa untuk mempertaruhkan segalanya bagi orang yang kucintai."
.
Dan perkataan Jinyoung malah membuat Hyungseob bolos seharian..
.
.
Woojin terbangun saat sudah sore. Dia menatap meja disamping tempat tidurnya.
Mama sama papa ke kantor ya. Telpon saja kalau kau merasa kenapa-napa. Ada sup di kulkas, panaskan sebelum dimakan. Cepat sembuh sayang.
Dengan itu Woojin langsung turun kebawah dan mengisi perutnya yang keroncongan.
.
Setelah makan, Woojin hanya berguling-guling di sofa. Pusingnya vertigo hanya hebat saat kumat saja, kalau sudah selesai biasanya akan reda.
Woojin bosan.
Serta butuh pengalih pikiran dari masalahnya.
Oleh karena itu Woojin memutuskan untuk mengambil sepeda di garasi dan bersepeda menuju apotik dekat rumahnya. Kebetulan beberapa obat dirumahnya sudah habis.
Setelah menempuh perjalan sekitar lima menit, Woojin sampai dan langsung memakirkan sepedanya. Dia tanpa basa-basi apapun langsung menuju rak tempat obat yang diperlukannya.
"Eoh, kau?"
Woojin menaikkan alisnya. Siapa gerangan pula bersikap sok kenal dengannya. Ia menatap heran pria di depannya yang sudah mengulurkan tangannya.
"Aku yang tempo hari memukul tanganmu. Duh, maaf ya. Habis kau hampir memegang pipi Seobbie ku sih."
Woojin langsung membolakan matanya. Dia ternyata-
"Perkenalkan, tunangan Hyungseob.
Yoon Yongbin imnida."
.
.
"Jadi ada apa Jin?" Seongwoo buka suara. Dia penasaran dengan alasan kenapa anak itu tiba-tiba melakukan panggilan grup dan menyuruh mereka semua berkumpul.
Dengan suara seperti orang habis menangis.
Padahal itu sudah jam delapan malam. Untungnya mereka sudah ambil rapot semester ganjil jadi musim libur sudah dimulai.
Woojin masih saja diam dengan muka sembab dan mata kosong. Teman-temannya yang lain merasa tidak tega.
"Woo-"
"Daehwi-ya. Sepertinya pria yang kau ceritakan itu tidak terlihat buruk sama sekali."
Yang lainnya mengangkat dahi bingung.
Woojin pun mulai menguasai dirinya dan memulai ceritanya.
Setelah lebih tiga menit terdiam, Woojin berusaha mengumpulkan senyumnya.
"Park Woojin imnida."
Pria itu tersenyum...err..ramah? Yang jelas dia tersenyum tapi Woojin menangkap sesuatu. Entahlah, seperti merendahkan Woojin.
"Sekali lagi maaf ya memukulmu kemarin. Ya... Kau tau lah bagaimana seorang lelaki menjaga apa yang sudah menjadi miliknya."
Woojin menelan ludahnya pahit.
"Hyungseob itu teman yang sangat menggemaskan."
Teman? Hehehe.
Pria itu langsung merubah ekspresinya. Ia seperti merasakan kelegaan.
"Ah. Hyungseob itu memang menggemaskan. Syukurlah jika kau memang hanya temannya." Woojin tersenyum kecil menanggapi ucapan pria itu.
"Kau sedang apa kemari omong omong?" Tanya Yongbin.
"Hanya iseng. Membeli obat untuk persediaan di rumah."
"Oh..."
"Kalau kau?"
"Membeli obat untuk abeoji. Kemarin katanya ada anak bar-bar yang meninjunya tanpa main."
.
Haknyeon yang daritadi terdiam terkekeh kecil.
"Pantas kau dikatai brengsek sama Hyungseob. Yang kau pukul itu positif appanya Hyungseob."
"Kok bisa berkesimpulan demikian."
"Hyung. Ingat. Pertama, dia berkata ada anak yang meninjunya, dan kemarin kau baru saja memukuli bapak-bapak. Dua, mereka kan sudah tunangan, mungkin saja ayahnya Hyungseob yang menjodohkan mereka. Jadi wajar saja kan kalau dia juga memanggil abeoji."
Woojin baru menyadari. Matilah aku.
Teman-temannya yang lain terkekeh kecil. Tapi Daehwi hanya terdiam dengan muka horror.
"Kenapa diam saja Dae-ya?"
"Orang tua Hyungseob sudah cerai hyungdeul... Aku hanya kaget saja... Dia juga selama ini tinggal dengan eommanya. Maksudku... Apakah masalahnya tidak sesederhana yang kita pikir?"
Pernyataan Daehwi resmi menutup seluruh kekehan mereka.
.
.
Setelah seluruh hal yang melelahkan yang terjadi hari ini; bertemu dengan tunangan Hyungseob, menyadari bahwa yang dia pukul adalah ayahnya Hyungseob, dan pertanyaan Daehwi, membuat Woojin merasakan debaran tak wajar.
Woojin menatap layar ponselnya, itu adalah foto dia dengan Hyungseob saat di photobox. Dimana mereka mencari celah untuk mencium satu sama lain di sikon yang sangat tidak tepat.
Duh, kangen kan.
Woojin menatap ponselnya. Menimbang-nimbang apakah dia harus,
atau tidak?
Halah. Bodo amat dengan harga dirinya. Bodo amat dengan respon Hyungseob nantinya.
.
To Hyungseob
Woojin: Aku rindu.
sent
.
.
[A/N]:
Haruskah aku berhenti nulis yaoi/shounen-ai?
.
Jadi gini, mungkin sebagian dari kalian tau, atau bahkan baca juga, kalau aku nulis ff di lapak sebelah.
Selama ini aku gaberani nyebar fakta bahwa aku suka nulis dan baca shounen-ai atau yaoi ke siapapun. Tapi ntah kenapa rasanya aku mau berubah. So bulan lalu kuberanikan diri menjadi lebih terbuka dan ikutan join jadi admin di sebelah.
Pas awal mau posting cerita di sana sempet nanya sih di grupnya "isdat okay kalau mau post yaoi"
Ownernya udh approve, ku pikir gapapa dong.
Nah, terus pas udh mulai broadcast promosi cerita aku jelas baca komen. Awalnya seneng, banyak yg expect. Tapi banyak yang komen "Masa yaoi sih" "Kurangin dong yaoinya" etc etc.
Jujur. Aku menboong. Haha
Terus hari ini aku baca di tempat lain, kalimat yg lebih bikin ngilu lagi. Gausah dibilang lah ya kalian bisa nebak apa omongannya kira2.
.
Aku lurus kok di real life. Aku tidak mendukung kaum pelangi, tapi juga ga ngelarang. Itukan urusan pribadi menurutku. Ku masih suka cowo. Aku hobi nulis dan gabisa ngebayangin oppa sama cewe lain jadi mending sama otpnya kan.
Masalah dosa sih aku no comment. Karena saat nulis aku memposisikan diri sebagai penulis dan menggunakan etika para penulis untuk menghindari topik sensitif.
.
Aku cuman cerita ini ke kalian karena kalian lah yg nerima apa adanya.
Im really sad.
.
Makasih ya udh selalu baca bullshitan aku. Love.
