Attention😊😊

"revisi di semua chapter"

Silahkan di baca n review

Thanks to : hima.45hime

Hari ku Tentang mu

Naruto belongs to Mr. MK

This story is mine

Hanya hiburan semata

HYUUGA HNATA & PATNER

Makan malam di villa Sabaku begitu memanjakan mata yang melihatnya. Kemampuan ibu-ibu memasak serta di bantu Hinata dan Sakura sebagai asisten utama membuahkan hasil maksimal.

Di tambah ada ikan-ikan dari hasil memancing yang dibawa Ayah Hiashi se tim.

Semua orang telah bersiap makan di meja utama tanpa terkecuali.

Ayah Hiashi masih terlihat enggan menatap Sasuke atau pun Gaara.

Acara malam ini di pandu Sabaku Rei yang menyusul ke Hokaido menjadi tuan rumah.

" Terima kasih untuk makanan yang telah tersaji. Semoga liburan ini menyenangkan. Hiashi san dan semua, selamat makan" ujar Sabaku Rei.

Barisan kanan terlihat Shikamaru sekeluarga, Naruto sekuarga dan Sasuke dan Mikoto. Sedang di barisan kiri ada Nyonya Karura, Gaara, Hinata, Sakura sekeluarga, bersama Ayah Hiashi, Hanabi,dan Ibu Hikari.

Semua yang hadir menikmati hidangan dengan tenang. Sesekali terdengar jeritan Naruto yang takjub dengan makanan yang ada.

" wuahhhhhh... ikannya sangat enak, ttebayo. Ibu ku tak pernah memasak ikan seenak ini" ujar Naruto yang langsung di hadiahi cubitan kejam Ibu Kushina yang duduk di tepi kiri Naruto.

" Diam Naruto, lihat semua sedang makan" ucap Ibu Kushina.

Pandangan maaf dari Kushina tertuju ke seluruh penghuni di tempat makan ini.

Hinata tersenyum mendengar gumaman Sakura.

" dasar bodoh" sekilas kalimat itu yang terdengar oleh telinganya.

Hinata melihat Paman Rei.

Memperhatikan raut bersahaja yang tak pudar termakan waktu.

Wajah yang menghiasi masa kecilnya di Suna. Hampir setiap minggu Ibu Hikari berkunjung ke kediaman Sabaku. Atau pun jika ada keperluan Hinata terbiasa di titipkan ke rumah Gaara.

Mengingat masa kecil saat ia bersama Gaara sering di ajak bermain sepeda di taman rumah Sabaku di Suna.

Kesekian kalinya Hinata kecil jatuh karena tak bisa menyeimbangkan tubuh di atas sepeda. Dan Paman Rei segera menggendong Hinata dan meniup sikunya yang memar menghantam tanah. Mengucap kalimat ajaib yang selalu membuat Hinata baik-baik saja.

" Hinata chan anak cantik yang tangguh. Lihat Gaara juga tak apa setelah jatuh. Jangan menangis sayang" bujuk Paman Rei yang menghapus bulir-bulir air mata yang jatuh setiap Hinata merasakan sakit.

Sakura menyentuh tangan Hinata.

"kau melamun" ucap Sakura menyadarkan Hinata.

Acara makan berlanjut.

Posisi Shikamaru yang berhadapan dengan Hinata menguntungkan si kepala jenius itu. Shikamaru bebas memandangi wajah Hinata. Raut melamunnya pun menggemaskan. Pikir Shikamaru.

Gaara yang berada disamping Hinata memergoki aksi Shikamaru yang terus memandang Hinata.

Sebenarnya posisi Gaara di samping Hinata sangat menguntungkan. Sesekali tangan Hinata bersinggungan dengannya.

Hinata juga menyendokkan nasi ke piring miliknya,serta mengisikan gelas air untuk Gaara.

Bahkan Gaara bisa dekat mengagumi wajah indah Hinata yang duduk berdampingan dengannya.

#berdampingandikursipengantin nyaa kapan?

#maafinicurcol

Sasuke hanya bisa mendengus tertahan. Melihat Gaara di samping Hinata membuatnya kesal. Melihat Shikamaru yang mencuri pandang ke Hinata membuatnya meradang.

Sial. Kenapa Hinata duduk sangat jauh darinya.

Mana di depannya Hanabi makannya rakus. Membuat Sasuke kenyang melihatnya.

Apalagi Sasuke masih mendapat tatapan maut Paman Hiashi yang membuatnya kicep. Lengkap sudah penderitaannya.

"Sasuke, makan dong" bujuk Mama Mikoto melihat Sasuke tak nafsu makan.

Padahal lidah Mikoto sangat tersanjung menikmati kecapan nikmat rasa di lidahnya.

" Iya Ma, Sasuke makan" jawab Sasuke menekuni piring tak semangat.

Satu jam kemudian mereka bersantai di ruang keluarga. Untuk bekas makan telah di bereskan oleh pembantu Gaara di bantu para nyonya beserta Hinata Sakura.

Hinata kembali dari dapur membawa 2 teko besar di nampan. Sakura membawa 2 lusin cangkir. Sedang di barisan belakang, Ibu Hikari dan Nyonya Karura membawa beberapa camilan sebagai pelengkap.

Terlihat Ayah Hiashi sedang bermain catur melawan Shikamaru. Hanabi, Naruto, Gaara tampak antusias melihat televisi layar datar yang menampilkan acara komedi yang sedang tren saat ini.

Sedang yang lain menikmati acara santai dilengkapi beberapa buku. Ibu-ibu berbagi curhat bermacam topik. Mulai dari topik dapur hingga ke ranah percintaan, bahkan issue artis terbaru.

.

.

"kau menjaga Hinata dengan baik, nak" ucap Ayah Hiashi sambil memikirkan langkah memajukkan pion catur berikutnya.

"tentu saja Paman. Aku adalah orang yang bertanggung jawab dan memegang janji" jawab Shikamaru. Ini adalah upaya menggaet hati calon mertua.

Ternyata otak jeniusnya melangkah melampaui Gaara dan Sasuke.

Gaara boleh saja menjadi teman kecil dan cinta monyet Hinata dulu.

Sasuke boleh saja bertetangga dan lengket dengan Hinata.

Tapi satu keyakinan Shikamaru, Hinata pasti menjadi wanita satu pelengkap hidupnya.

Setelah pemikiran panjang dan mendalam, akhirnya ia memahami.

Hatinya terbelenggu satu keyakinan, rasa itu membaur menjadi cinta di hati Shikamaru.

Semoga saja ini berjalan sempurna, jadi menjadi kekasih Hinata adalah peluang terbesarnya.

"kau juga orang yang tenang dan penuh pemikiran mendalam seperti ayahmu" ungkap Ayah Hiashi.

" Itu memang sifatku Paman" jawab Shikamaru dengan fokus menggerakkan pion catur yang ada.

" Apa hobimu nak? Bagaimana nilai pelajaranmu?" tanya Ayah Hiashi.

"masih sekedar mengisi waktu dengan game online. Lumayan uangnya dapat saya tabung. Untuk nilai mata pelajaran rata-rata nilai 9 Paman" ucap Shikamaru.

Percakapan Hiashi sungguh menyenangkan. Anak muda seperti Shikamaru ternyata seseorang pemikir yang dewasa.

...

Disisi lain Gaara beranjak berdiri. Menghampiri Hinata yang duduk sendiri menikmati teh di tangannya.

"Ayo kita lihat bulan purnama Hinata-chan" tawar Gaara menjulurkan tangan ke Hinata.

Hinata suka bulan. Apalagi suasana asri villa Sabaku beserta penerangan lampu indah di luar sejak tadi melambai-lambai menawarkan keindahan ke Hinata. Hanya saja Hinata takut jika di luar sendirian maka Hinata memilih ikut menyibukkan diri menyesap teh dan menikmati acara televisi yang ada.

Tentu saja Hinata menerima tawaran Gaara.

Melewati ruang keluarga Gaara dan Hinata bergandengan tangan bersama.

Membuat Nyonya Karura bahagia melihatnya.

Mereka duduk di kursi ayunan.

Duduk berhadapan. Gaara mengeluarkan kamera pocket yang ada di sakunya.

" Boleh aku memfotomu, Hinata?" tanya Gaara.

"Huumb, tentu" jawab Hinata seraya menganggukan kepala.

"kau masih hobi fotografi?"

Klik. Bunyi kamera membuat Hinata terkejut.

" kan aku belum bilang siap, Gaara kun" sebal Hinata.

"tak apa. Kau juga sudah cantik. Tentu, fotografi adalah separuh hidupku" ujar Gaara.

"Ihhhh...tapi kan itu pose jelek. Hapus Gaara kun, hapus sich" ucap Hinata seraya mencoba mengambil kamera yang di pegang tangan kiri Gaara.

"hap," Gaara menangkap tangan mungil Hinata. Pelan tangan itu mengenggam tangan Hinata.

Beralih jemari Gaara mengelus lalu menyusup ke jemari tangan kiri Hinata.

Gaara memandang tangan kanannya yang terpaut dengan jari Hinata. Menggenggam hangat pautan itu.

Lalu memandang turun dari jari mereka yang terpaut di atas kepala nya, menuju mata indah amethist Hinata.

"sudahlah, tak apa. Aku menyukaimu yang apa adanya" ucap Gaara membuat semu merah menjalari wajah Hinata.

Terlebih posisi mereka yang menempel mampu membuat siapa pun yang melihatnya salah paham.

Termasuk Sasuke yang sejak tadi diam-diam mengikuti Hinata.

Sekarang menelan kenyataan pahit yang ia pikir jika Hinata berciuman dengan Sabaku Gaara.

Percuma saja jika ia adalah lelaki idaman Hinata. Nyatanya ia tak bisa menjadi pilihan hati Hinata.

Bukan kekasih Hinata.

Tak mampu menahannya, Sasuke memilih pergi. Ke dapur meminta maid yang ada memberikan 2 gelas besar air dingin.

Sasuke meneguk kasar air-air itu mengusir amarah panas yang melanda hatinya. Lalu terduduk lemas di kursi dapur.

Sementara di taman,

"Gaara, bi...bisakah kau sedikit menjauh?" ucap Hinata membuyarkan suasana romantis yang tercipta.

" Baiklah. Tapi jangan tarik jemarimu" jawab Gaara yang duduk kembali di kursi pelaminan

Bukan-bukan

Duduk kembali di kursi ayunan.

Tangan kiri Gaara bergerak memencet tombol kamera.

Menunjukkan foto Hinata sebelumnya.

"Lihat, kau cantik apa adanya Hinata-chan" ucap Gaara kemudian.

Hinata pasrah, mungkin Gaara memang hobi candid foto.

" ayo foto bersama" ucap Gaara.

Tanpa menunggu jawaban Hinata, Gaara berpindah haluan duduk. Tangan kanannya masih menggenggam jemari Hinata, menggunakan tangan kiri Gaara cekatan menekan tombol-tombol kamera.

Rona bahagia terpancar di wajah Gaara. Senyum indah merekah di potret yang terekam.

Merasa sudah cukup banyak mengambil gambar, Gaara menghentikan kegiatannya sejenak.

Hinata memang akrab dengan Gaara . Setelah lama tak berjumpa mereka juga masih menginggat kebiasaan yang sering mereka lakukan. Berceloteh berdua tentang apa saja. Berdebat hal-hal tak penting. Aksi iseng dan goda Gaara yang membuat Hinata merona. Dan kisah lain yang mampu membuat Nyonya Hikari berfikit Hinata tercipta untuk melengkapi Gaara.

Bagaimana kelembutan dan sopan santunnya Hinata mengayomi sisi lain di diri Gaara. Dan Gaara nyaman dengan kehadiran Hinata.

" Hinata-chan mau ke rumah nenek kapan? Mau ku antar? Aku merindukan nenekmu Hinata-chan" ungkap Gaara .

"besok pagi. Kami akan jalan pagi. Sembari menunggu matahari terbit melewati hamparan ladang lavender. Aku tak perlu diantar, tapi akan bagus jika Gaara kun ikut bersama" jawab Hinata menyunggingkan senyum indahnya.

" tentu saja. Kita harus berfoto di ladang lavender kesukaanmu" goda Gaara sambil mengecup pipi kanan Hinata cepat.

"Ga...Gara kun . Ke..kenapa menciumku" ujar Hinata terbata-bata.

"Itu kan yang biasa kita lakukan dulu Hinata-chan" jawab Gaara bingung.

"Ta...tapi kita sudah besar. Itu ...tak boleh lagi Gaara" jawab Hinata.

Gaara yang merasakan keraguan Hinata mengelus jemari Hinata menenangkan. Tak apa seolah berkata seperti itu.

Gaara diam. Merasakan ketenangan lingkungan di balik gemuruh hatinya. Berdekatan dengan Hinata membuatnya bahagia namun ada sisi membara yang meminta sesuatu yang lebih.

Saat mencium pipi Hinata tadi itu adalah refleks sikap usil godanya. Yang hanya berlaku bagi 1 orang yaitu Hinatanya .

Dan hal itu semakin membuat hatinya tak menentu, bahagia dan berpacu hebat.

Gaara yang memegang jemari Hinata membawa tangan itu ke pipi miliknya. Membaui mencium tangan itu seakan itu hal yang lumrah dilakukan.

Hinata makin merona diperlakukan seperti itu oleh Gaara.

Gaara memandang ke wajah Hinata. Wajah cantik teredam warna merah muda berbalut bulan purnama.

Pelan jemari Gaara mengelus area surai indah Hinata. Beranjak ke dahi gadis muda itu, mendapati kening indah itu memanggil minta di kecup.

Cup

Bibir Gaara mendarat di kening Hinata.

" aku sayang padamu. Dari dulu, sekarang dan di masa depan , Hinata chan" ucap Gaara bersungguh-sungguh.

Jemari Gaara menyentuh alis Hinata, lalu kedua mata indah yang refleks menutup saat jemari Gaara menyentuhnya. Dan hidung mungil pas itu yang membuat Gaara gemas.

Beralih jemari Gaara memutar -mutar lama di kedua pipi Hinata. Pipi seindah apel yang membuat Gaara makin terkesima.

Indah, bulat, menggiurkan.

Air liur Gaara hampir menetes.

Gaara berusaha berfikir jernih.

Keadaan ini begitu sempurna,

Hinata channya ...miliknya...

Kepunyaannya...

Hinata-chan...

Kepunyaanku

Hinataku

Kepunyaanku

.

.

"Kepunyaanku" ujar Gaara pelan.

"Kepunyaan siapa?" suara berat menghentikan kegiatan Gaara mengobservasi Hinata.

Terkejut mendengar suara familiar itu.

" Minggir panda. Ingat paman masih marah padamu" ujar Paman Hiashi sembari menyingkir jauhkan Hinata dari Gaara.

Sial , kenapa Paman datang sekarang sich. Pikir Gaara sebal.

Hinata yang mendengar suara Ayahnya bernafas lega.

Sungguh, Hinata tak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi Gaara.

Hinata menyukai Gaara. Mencintainya dulu.

Dan berdekatan dengan Gaara mengusik hati nya.

Degup jantung yang serasa merenggut udara sekitar. Hinata jadi sesak.

Kecupan di dahinya tadi, menyenangkan tapi tak seperti ini.

Hinata harus berfikir waras.

Harus waras.

Waras.

Waras.

Dan tubuhnya hanya diam menerima perlakuan Gaara.

Hinata tak tahu kenapa reaksi tubuh berbanding terbalik dengan pemikiran lurusnya.

Untunglah Ayah datang segera.

Bersama Gaara lebih lama, bisa berbahaya bagi Hinata.

"Ayah sudah selesai bermain caturnya" ujar Hinata setenang mungkin.

"Sudah sayang. Kenapa kau diluar Sayang. Melihat bulan purnama lagi ya. Tapi apa harus bersama panda ini" jawab Ayah Hiashi.

"hahahha...Ayah, kenapa memanggil Gaara kun panda. Itu tidak lucu Ayah" ucap Hinata sambil memeganggi perutnya yang sakit karena tertawa. Sudah sangat lama sejak ia mendengar Ayahnya mengucap kalimat absurd itu.

"ihh... Paman jangan panggil panda. Iya Paman. Tolong jangan marah lagi . Ayo kita foto bersama Paman" ujar Gaara yang telah dijauhkan dari Hinata chan oleh Ayah Hiashi.

Ayah Hiashi berfikir mendalam.

Harusnya rekreasi ini menyenangkan. Tak baik jika ia masih memusuhi pemuda-pemuda ini.

Dulu saat mendekati Hikari, ia juga sempat di aniaya seperti ini oleh ayah mertua. Ya sudahlah.

" Iya Ayah. Maafkan yang tadi siang ya. Hinata chan baik . Benar-benar tak ada yang sakit" ucap Hinata meyakainkan Ayahnya.

" Baiklah. Aku maafkaan yang tadi siang" ujar Ayah Hiashi pada akhirnya.

Gaara mengintai sekeliling. Berfikir siapa yang bisa mengambil beberapa foto untuknya.

Mata Gaara jatuh ke sosok Shikamaru.

Lelaki jenius itu berdiri tak jauh dari Paman Hiashi.

Segera Gaara menghampiri dan berucap " tolong foto kami bertiga" seraya mengulurkan kamera pocket ke Shikamaru.

Shikamaru terdiam.

Awalnya tadi saat bermain catur di dalam rumah matanya mengintai kegiatan yang di lakukan Gaara dan Hinata di kursi ayunan.

Sebuah kebetulan tempat bermain catur dari sisi Shikamaru mengarah tepat ke ayunan kursi.

Sejak Gaara menggenggam tangan Hinata di atas kedua kepala sudah membuat Shikamaru menahan amarah.

Amarah yang tersembunyi dalam ketenangan yang menakutkan.

Cemburu menguras kolam

Cemburu menguras hati maksudnya .

Yang membuat Shikamaru kalah di pion catur berikutnya.

Tak lama Shikamaru melihat sosok Sasuke yang mengitari ruang tamu berjalan dengan wajah menahan amarah.

Tentu ia menduga hal apa yang ada di kepala bungsu Uchiha itu.

Untunglah Shikamaru berada di sudut yang tepat jadi ia mengetahui jika saat jemari Hinata terpaut dengan Gaara tak berakhir dengan sebuah ciuman seperti yang dipikirkan Sasuke.

Sambil bermain catur Shikamaru masih terus mengawasi tingkah laku Gaara.

Hampir selesai permainan catur Shikamaru melawan Paman Hiashi.

Tinggal satu pion terakhir di masing-masing lini.

Shikamaru semakin menatap tajam Gaara yang sudah duduk bersanding dengan Hinata.

Terlihat dari matanya, Gaara memfoto lalu membelai rambut indah Hinata .

Dan yang membuatnya kehilangan gelar kemenangannya,

Saat Gaara mengecup kening Hinata.

"aku menang" ujar Paman Hiashi membuat Shikamaru yang kalah di akhir permainan.

"Iya, aku kalah Paman" jawab Shikamaru sambil membereskan pion catur dengan tergesa.

"Oh ya Paman, apa yang dilakukan Hinata malam-malam begini di luar ya" tanya Shikamaru.

" pasti melihat bulan purnama. Hinata chan menyukai bulan purnama, Shikamaru" jawab Paman Hiashi.

"melihat bulan bersama Gaara, Paman" ucap Shikamaru jelas.

" Apa!" Paman Hiashi tampak terkejut.

Segera pria paruh baya itu menuju tempat Hinata berada.

Hiashi menemukan Gaara memainkan jemarinya di pipi tembam Hinata.

Bahkan seperti bernafsu memakan pipi itu seakan makanan lezat.

Dan untunglah Shikamaru tak harus menerima yang lebih mengejutkan dari ini.

.

.

" Shikamaru ayo foto kami" ucapan Paman Hiashi menyadarkan Shikamaru ke alam nyata.

Ah, ternyata Shikamaru telah mengikuti Gaara berjalan sampai di dekat kursi ayunan.

Hinata duduk di ayunan, sedang Paman Hiashi dan Gaara berdiri di belakang sisi ayunan itu.

Klik...klik...bunyi foto yang telah terekam di kamera pocket itu.

Bergantian mereka saling berbagi pose, mulai dari yang konyol, lucu juga aneh.

Tapi satu hal yang sama saja

Hinata chan cantik tak peduli di pose apa.

Imutnya semakin terlihat di pose konyol dan candid yang terekam.

" ayo Shikamaru, kau bisa berfoto bersama Hinata chan. Gaara kau ambil alih" ucap Paman Hiashi.

" Yah... Paman, aku belum banyak foto dengan Hinata chan" sebal Gaara tapi tetap mengambil alih kamera dari tangan Shikamaru.

"sebentar , Ayah harus ke toilet. Kau foto Hinata chan dengan Shikamaru dulu ya Gaara" ujar Paman Hiashi berlalu menuju toilet di dalam rumah.

Hinata masih setia duduk di kursi ayunan, Shikamaru memilih berdiri tepat di belakang Hinata dengan kedua tangan memegang bahu Hinata.

Klik...klik..

Bunyi kamera di foto pertama

Lalu Shikamaru sedikit menunduk, menumpukkan dagunya di atas kepala Hinata dengan kedua tangan Shikamaru memeluk leher Hinata. Yang membuat Hinata kaget dengan perlakuan Shikamaru.

Klik...klik...

Potret kedua yang tak menyenangkan. Pikir Gaara

Lain halnya dengan Shikamaru , ia tak berfikir akan berfoto hanya berdua dengan Hinata nya. Ia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

"satu terakhir Gaara, bolehkah" ujar Shikamaru.

Enggan namun Gaara teteap menganggukkna kepalanya.

Shikamaru berjalan menuju sisi samping Hinata duduk.

Ikut duduk bersanding dengan Hinata.

Hinata tampak kikuk di mata Shikamaru.

Tak apa, Shikamaru tetap cinta.

Shikamaru membelai rambut indah itu.

Lalu mulai membuat wajah Hinata dan Shikamaru saling bertatapan.

Klik...klik...

Potret ketiga telah dibuat.

Shikamaru masih enggan mengalihkan diri dari mata indah itu.

Gaara yang memegang kameranya, memperhatikan hasil foto terakhir.

Sial kenapa Hinata chan merona.

Detik terus berlanjut

Shikamaru menikmati detik detik ini.

Hanya Shikamaru dan Hinata di bawah rembulan malam

.

.

.

"Nara..." suara wanita terdengar.

"Nara-san, Shikamaru punya pacar" suara itu menggema keras.

Membuat semua orang terkejut.

Ibu dari Shikamaru membuat gempar di malam hari.

Gaara beralih menatap Ibu dari teman Hinata itu.

Lalu melihat ke arah Hinata dan Shikamaru.

Berjalan cepat, Gaara memeluk Hinata chan .

Menjauhkan dari sisi Shikamaru

Semua orang berduyung-duyung datang.

Melihat aneh ke arah Shikamaru, Hinata dan Gaara.

Terlebih Gaara memeluk Hinata

"Hinata chan pacarku" ujar Gaara

"tidak. Hinata chan pacarku" ujar Shikamaru tenang.

Semua shock

Apa-apaan ini

Ini kemustahilan. Pikir Mama Mikoto

Hinata mendorong Gaara.

Melepaskan diri dari si Sabaku

" a-aku bukan pacar siapa pun" ucap Hinata terbata menahan tangis.

Melihat mata si surai hitam itu. Menatapnya penuh kekecewaan.

.

.

Hayo siapa reader setia Zea-chan

#buatsemuapembaca

#thankssya