Tinggal-lah Selamanya
(sequel dari Tinggal-lah Sebentar)
文豪ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35
Story and Fiction by : satsuki grey
.
.
.
.
.
Declaimer:
Pairing:
Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
Rated:
M+
Warning:
Gaje asurd, Typo merajalela, AU/AR/AT, Sho-ai Sei-ai tentu saja, ADA LEMONNYA!, SLASH of LOVE, OOC kewajiban, Mature Content of course, Modern Life of Adult, R18 pardon me than perhaps falls to R21 (?), Hard, MENGANDUNG YAOI BERLEBIHAN MUNGKIN ADA UNSUR BDSM DAN JENISNYA, dll warning gak jelasnya, maka jangan di baca kecuali orang orang bhejat dan para hardcore of Soukoku :''v / berisikk
Summary:
Setelah pertemuan itu, semuanya semakin jelas akan rasa cinta milik mereka masing-masing, namun di lain sisi Chuuya bertanya-tanya pada dirinya, apa benar dia di cintai atau tidak? (Sequel dari 'Tinggal-lah Sebentar') (Mature expilicit, KIDS STAY OUT) (hadn't words in sumarry :') )
Bungou Stray Dogs
Hurt/Comfort, Drama and Romance, Tragedy, Mature-of-shit, Sequel-fanfiction, Indonesia, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
(Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini)
(Setelah sekian lamanya tidak menulis fanfic ini saya hampir kehabisan ide untuk kesuluruhan ceritanya…, sudah baca warning? karna yang satu ini akan terasa berbeda dari beberapa chapter sebelumnya bahkan awal ceritanya… jadi persiapkan mental dan fisik yang sehat, bagi anak kecil you must OUT /shut the fuck up please. mencoba-coba seperti 'modren life adult' ternyata susah…, just Enjoy :'3 )
Tinggal-lah Selamanya
(jika belum membaca 'Tinggal-lah Sebentar' harap di baca)
.
.
.
.
.
Flashback…
4 tahun lalu
Sebuah komedi di kehidupan adalah sebuah hiburan di tengah malam tanpa titik cahaya yang indah, bagi sebagian orang, lebih tepatnya mereka yang hampa dan kesepian. Sebuah drama tak berarti tanpa pemain yang terampil. Sebuah lagu akan terdengar hampa jika tidak di nikmati sepenuh hati, sebuah puisi dan cerita takkan menjadi indah tanpa sebuah pemikiran yang luas, dan begitulah seterusnya.
Kasih sayang bisa menjadi titik buta dalam arti yang cukup luas. Kasih sayang bisa ada tanpa alasan yang pasti, layaknya alkisah seorang iblis yang bisa jatuh pada pelukan hangat malaikat lembut, dan malaikat yang bisa jatuh pada bisikan iblis nan sendu, penggambaran seperti kau mengharapkan sebuah surga namun neraka menantimu, kau mengharapkan sebuah neraka namun surga menantimu, kau kesepian dan kau tau itu.
Semua menjadi indah saat sebuah tangan terulur lembut di hadapanmu yang hampa itu.
Malam di waktunya yang memuncak dengan dinginnya udara di pertengahan musim penghujanan, namun dinginnya udara tersebut tidak di rasakan kubu insan ini yang tengah membuat sebuah kisah romantika-gelap. Dengan lembutnya sang pemberi kasih sayang membekap tubuh yang lebih mungil itu dalam pelukan hangat seraya membenamkan wajahnya di pundak satunya. Nafasnya lembut nan hangat, layaknya penghangat udara. Bahkan lebih hangat.
"Maafkan aku…" ucap Dazai, suaranya terdengar parau.
Chuuya kehabisan nafas, dia hanya menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan hangat itu, membiarkan tubuhnya di hujani rasa hangat yang di berikan Osamu khusus untuknya. Mereka duduk, dengan Chuuya yang menindihnya dan membenamkan wajahnya di dalam dekapan Dazai. Kakinya memeluk raga pria yang lebih tinggi itu darinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku itu…" ucap Chuuya dalam suaranya yang pelan, namun bisa di dengar jelas.
Dazai diam, tidak menjawab. Chuuya kembali melingkarkan lengannya di tubuh Dazai, meraba punggungnya yang masih setia mengenakan kemeja putihnya walaupun bentuknya sudah acak-acakkan. Sementara Dazai dengan lembutnya menyelinapkan tangannya ke dalam kemeja Chuuya, meraba tubuh eloknya membuat Chuuya meremas kemeja Dazai semakin kuat.
"Kau masih mau melanjutkannya?" tanya Dazai yang membuat Chuuya sedikit terbelalak, namun dia masih diam dalam posisinya. Tangan mungilnya meremas kemeja putih itu.
"Apa ini pertama kalinya untukmu?" tanya Chuuya lalu menatap Dazai. Pipinya dan bibirnya masih meranum.
"Jangan takut, iya tentu saja" Dazai mengusap wajah yang sembab itu karna keringat dan sangat lengket, namun masih lembut.
Chuuya memerah dan Dazai tau itu, dengan pelannya Dazai membopong tubuh mungil itu dalam dekapannya, dalam keterampilannya. Chuuya masih setia melingkarkan lengannya di pundak Dazai satunya meremas kepalanya, dia merasakan harum rambut itu. Mata indah azure itu hanya menurut, tertutup yang dia bisa merasakan kalau sekarang mereka sudah berada di kamar tidur.
Entah mengapa, tubuh Chuuya sangat terasa ringan. Sungguh ringan, seperti mengangkat anak-anak malahan. Mereka sampai, mereka masih membekap satu lainnya.
Dazai duduk dengan Chuuya yang sengaja dia buat masih menindihnya, mereka bertatapan dengan hangatnya di kamar minim cahaya, rumah Chuuya memang selalu redup cahaya dia tidak suka silau.
"Kau percaya padaku, nee Chuuya?" tanya Dazai. Menatap wajah Chuuya dengan lekat mau tak mau membuat Chuuya harus menatapnya juga.
"A-a-aku…, a-a…, apa akan terasa sakit?" tanyanya dengan semu merah, memandang ke bawah, tubuhnya gemetar dan Dazai sangat tau. Dazai tersenyum, membelai lembut pipinya itu.
"Kenapa kau tanya demikian?" tanya Dazai, membuat wajah Chuuya semakin meranum parah.
"Kau akan tau Chuuya" sekarang tangan Dazai melepas kemeja miliknya, Chuuya menatapnya dengan setianya, dan tangan Dazai melepas kemeja milik Chuuya, mereka sama sekarang bertelanjang dada, mengekspos tubuh mereka yang sempurna. Chuuya memperhatikan dada bidang Dazai yang terlilit perban itu, Chuuya merabanya lembut, pastinya masih ada beberapa luka, yang sejujurnya dia tak tau di mana.
Di umur yang masih terlalu muda mereka melakukan hal demikian. Chuuya berumur 18 tahun dan dengan Dazai 19 tahun, masih terlalu rapuh untuk mengerti kalau dunia ini sangat luas. Mereka tidak peduli. Lagi pula masih banyak anak lainnya yang lebih parah di luar sana, mereka sudah mengenal lebih lama, apa salahnya?
Perlahan bibir tipis itu merasakan bibir satunya dengan lembut, bibir ranum yang semakin ranum. Chuuya yang selalu indah dengan bibir mungilnya tanpa pelembab atau apapun, Dazai tau karna dia yang merasakannya sendiri.
Chuuya melingkarkan lengannya pada pundak Dazai, mendominasi ciuman yang sangat panas itu, Dazai dengan kelihaiannya memanjakan mulut satunya dengan lidah miliknya, Chuuya membiarkannya sesuka hatinya. Chuuya membuka mulutnya Dazai menyelinap masuk dengan cepatnya, saliva menetes dan mereka tak peduli dengan itu. Perlahan benda kenyal itu mengabsen setiap deret giginya, Chuuya semakin memberikan spot tanpa kata-kata, hanya gerak tubuhnya yang meminta lebih dan Dazai tau itu.
Mereka melepas tautan mulut mereka, dan dengan agresifnya sang pemberi menyerang tenguk mulusnya yang sebelumnya sudah di jamah di jam-jam sebelumnya. Chuuya melengkungkan tubuhnya, mendongkakkan kepalanya ke atas, membiarkan Dazai dengan instingnya mencicipi tenguk itu. Chuuya menggeram saat deretan gigi kembali memberikan tanda, "Akh…, haa—nnhh!" dengan bulir air mata yang terhias di ekor matanya.
Dari tenguk dia mencicipi rasa kulit sawo mulus itu, lidahnya menurun dengan tanda salivanya yang ia tinggalkan, lalu dia kembali menautkan mulut nakalnya itu di salah satu tonjolan dada Chuuya bewarna merah muda yang menggoda insting singanya untuk kembali memangsanya, Chuuya kembali menjerit layaknya di jam-jam sebelumnya, memeras rambut Dazai semakin erat, semakin kasar. Dazai membiarkannya. "Akkkhhh…, pel—hnnh! Pela—hhn akhh! Daz—da-ahhn!" Chuuya kembali berseru.
Dazai melepas mulutnya dari sana, menatap Chuuya yang sedikit kesakitan itu. "Maaf, kau kesakitan?" tanya Dazai yang membuat Chuuya kesal.
"Tentu saja!" teriaknya tak senang.
Dazai tertawa rendah, Chuuya semakin memerah dengan tangan Dazai yang sudah sigap membuka celana hitam pendek tidurnya. "A-a-apa yang kau lakukan!?" tanya Chuuya di sertai teriakan tak senang akan tindakan Osamu.
"Tenanglah Chuuya, tenanglah..." Dazai menatapnya, meyakinkannya. Chuuya semakin bersemu merah dan Chuuya kembali melingkarkan lengannya di pundak Dazai dengan wajah cemberutnya. Dazai berhasil membuka celana pendek itu, Chuuya bergetar, antara takut atau penasaran dan Dazai tau.
Tepat di telinganya Dazai berbisik, "Jangan takut, tidak apa Chuuya…" menggema di pikirannya, dia berusaha mencerna deretan kata itu.
"Ta..tap-"
"Kau ingin berakhir sekarang?" tanya Dazai yang membuat Chuuya menatapnya.
Tatapan yang sedikit aneh namun masih manis, dia takut, namun penasaran ingin mencoba, namun malu.
Dazai tersenyum lalu berkata, "Aku perlu persetujuan darimu, Chuuya ku sayang?"
"Apa-apaan kau ini!? Bukannya kau sudah seenaknya menyumbuku di sofa tadi!" teriak Chuuya masih setia dengan pipi ranum parahnya.
"Bukannya Chuuya yang ingin juga? Hmmm" kembali Dazai menggodanya.
"Dazai bangsatt! Kau-"
Dazai diam dengan senyuman, yang membuat Chuuya diam dengan kata-katanya sendiri. Dia merasa di permainkan, tidak demikian. Dia malu, dia takut, namun ingin tau.
"Aku…" tanpa melanjutkan kata-katanya Chuuya malah membenamkan wajahnya kembali pada pundak Dazai. Melingkarkan kembali lengannya pada pundak Dazai, dan Dazai tau itu adalah persetujuanya.
"Aku akan melakukannya dengan caraku" ucap Dazai berbisik pada telinga yang sudah merah itu. Chuuya hanya mengangguk.
Sekarang bagian bawah Chuuya sudah terekspos sempurna, Dazai dengan lembutnya meraba bagian belakangnya yang mulus itu, Chuuya semakin meremas kemeja Dazai. Dia menahan dirinya untuk tidak bergumam. Dazai masih dengan tangannya yang ramping menikmati kulit mulus itu.
Dan dalam satu hentakan tak terkira, Dazai memasukan satu jarinya pada liang milik Chuuya, Chuuya tersentak dan kembali mendesah dan dia tak bisa menahannya.
"Dazz—ahh! Akhhh ha…" serunya saat satu jari itu lebih tepatnya jari telunjuknya mendorong di sana.
"Sempit…" pekik Dazai. Chuuya membenamkan kepalanya pada pundak Dazai, melakukan apapun untuk melawan rasa sakit nan nikmat itu di bagian bawah dan tubuhnya. Kakinya memeluk erat tubuh Dazai, semakin erat.
Jari itu di dorong lebih dalam, namun sayang dinding mengapitnya erat, Dazai menambahkan satu jari lagi yang lebih tepatnya jari tengah miliknya ke dalam sana. Chuuya menjerit, menggeliat tak nyaman dan Dazai kembali menenangkannya.
"Sakiittt…" jeritnya parau di sertai bulir air dari matanya saat merasakan dua jari itu mencari titik yang tepat.
Dazai dengan lembutnya menenangkan Chuuya yang sudah resmi menjadi kekasih hatinya itu. Dazai berputar-puat, sedikit bingung, dia merasakan kalau milik Chuuya sudah basah seutuhnya, menegang dan menggantung di udara, Dazai menatapnya sekilas, menaikan sedikit alisnya dan tersenyum, mungkin karna itu juga Chuuya kesakitan.
"Maaf Chuuya, ini juga pertama kalinya untukku" ucap Dazai tanpa aba-aba menambahkan satu jari lagi ke dalam liang Chuuya, Chuuya kembali menjerit dan menggeliat dengan air mata yang sudah jatuh untuk keberapa kalinya. Dazai memperhatikannya, menenangkannya, apapun itu agar membuatnya nyaman.
"Daz- haa… sakittt…, sakit Dazai…, haa… hentikan…" ucapnya parau, tatapannya sayu dan Dazai hanya tersenyum.
"Tenanglah Chuuya, percaya padaku…" dan kembali Chuuya membenamkan wajahnya di pundak milik Dazai.
Dazai pun memulai pekerjaan tangannya yang sejujurnya dia juga sudah memuncak. Perlahan, jarinya melakukan gerakan memutar, mencari titik tertentu di dalam sana, desahan Chuuya terdengar jelas di telinga Dazai, membuatnya semakin panas mencari titik spot itu. Bahkan lebih gila dari jam-jam sebelumnya. Ketiga jari itu digerakan keluar-masuk di tempat dan berputar putar mencari titiknya, Chuuya tak henti-hentinya menjeritkan namanya dengan erangannya yang tak tertahankan, ini pertama kalinya mereka melakukan hal ini. Bermenit-menit terlewat, hingga…
"NNNGAHH! AHHN! Daz—di.. akkhh… nnhh sann—ahh-nahh… nnhh nnyahhh~ hnn…" ucap Chuuya dengan desahannya yang sekarang tak tertahankan.
Dazai tersenyum, mengeluarkan ketiga jarinya dengan pelan, Chuuya sepenuhnya kehilangan kontrol tubuhnya, pasrah dan menyerahkannya pada Dazai.
Dan perlahan Dazai membuka sendiri celana miliknya, hanya sekedar membuka relsleting miliknya. Mengeluarkan benda yang tak sabar untuk memasuki tubuh Chuuya, yang tak sabar untuk merasakan nikmatnya juga, Chuuya menarik dirinya dari pundak Dazai, menatap bagian bawah Dazai, dan matanya terbelalak menatapnya.
"Kenapa Chuuya?" tanya Dazai heran dengan wajah yang ranum parah itu di sertai matanya yang menatap gusar benda milik Dazai.
"B-be-bes..." tak ingin melanjutkan kata-katanya, dia menatap Dazai. Dazai menepihkan auburn yang sudah basah karna keringat itu. "Tak apa…, tenanglah Chuuyaku…, tenang…" ucapnya lalu mengecup pelan kelopak mata Chuuya.
Perlahan Dazai menyuruh Chuuya mengangkat sedikit dirinya dari posisinya, Chuuya hanya memperhatikan dan hanya menurut, Dazai melihatnya yang tak sabaran itu. Tangan kiri Dazai memegang pinggulnya dan tangan kanannya memegang sendiri ereksinya, Chuuya mencengkram erat pundak Dazai, menggigit bawah bibirnya, memperhatikan sang seme dengan pekerjaannya.
Tubuhnya tersentak, kepalanya dia hentakkan ke belakang, mengerang saat ujung benda itu masuk ke dalamnya, untuk membuka intim keperjakaannya pertama kalinya, dia merasakan rasa sakit namun nyaman.
"Akkh! AHHN!" jeritnya dan mencengkram pundak Dazai dengan agresifnya.
Dazai dengan lihainya yang sekarang kedua tangannya memegang pinggul milik Chuuya dan dalam satu hentakan dia menanamkan dirinya pada Chuuya, dan Chuuya menjerit dengan bulir air mata yang sekarang sudah mengalir, dia mendesah kasar saat seluruh milik Dazai berada di dalamnya, "Akhh…, pel—ahhnn! Akkh arrggh… ahh Daz—sak—sakittt…" teriaknya dan dalam nada terakhirnya dia terisak parau. Tangannya mencengkram kuat pundak jakung itu, kakinya memeluk sang pemilik raga.
Dazai membenamkan kepalanya pada dada bidang Chuuya, membiarkan dirinya beradaptasi pada dinding hangat nan nyaman dan sempit itu, tapi tak yakin akan sempit lagi dari sekarang. "Nnnhh… Chuu…" sedikit berpekik erotis dan menarik tubuh Chuuya kedalam dekapannya dan mereka hanyut dalam tautan tubuh mereka.
Chuuya merasakan setiap kehidupan Dazai. Mulai dari deru nafasnya, sedikit kacau namun nyaman, aliran darahnya dengan detak jantung yang berdekup membuatnya nyaman, bahkan miliknya yang berdenyut dan hidup dalam dirinya, memanas, membuatnya masih menggeliat merasakan rasa nyaman aneh itu, tepat di titik yang ia jeritkan, Dazai membenamkannya di sana. Dazai juga merasakan setiap tubuh milik Chuuya, merasakan dirinya yang di apit dengan hangat pada Chuuya, membuatnya tak ingin melepasnya dari sana. Mereka hanyut dalam tautan cinta mereka, yang mungkin akan berlanjut sampai pagi.
Dazai menatap Chuuya yang sekarang matanya yang biru bening itu yang sudah penuh akan kabut gairah di mata indahnya, Dazai mengecup pelan bibirnya lalu berkata, "Aku mulai…" ucapnya. Chuuya membenamkan wajah Dazai pada dada bidangnya, meremas kepala dengan rambut lebat coklat itu.
Tangan Dazai berpindah dari pinggul ke bagian bawah belakang tubuhnya, meraba sebentar bagian sana, Chuuya tak sabaran malahan dia memintanya Dazai untuk mulai dari gerak tubuhnya, menggoyangkan sedikit pinggulnya membuat Dazai berdengus dan menuruti si mungil ini. Dalam ritme yang normal dia menghentakkan miliknya pada Chuuya, Chuuya mendongkak merasakan rasa aneh nan nikmat itu menjalar di setiap tubuhnya, namun nyaman membuatnya meminta lagi dan lebih.
Masih membenamkan wajah Dazai pada dadanya, "Chuuya, aku bisa sesak" ucap Dazai di ikuti kekehan kecilnya.
"Nnnh… memangnyahh aku..., hnn ped—akhh ahnn—lihh…, ahhh hhnn" berusaha menjawab dengan kata normal namun di sertai desahan.
Dazai menyuruhnya untuk menahan itu dalam pundaknya, menyuruhnya menahan rasa itu dengan mencengkram apapun, membiarkan Chuuya mencakar-cakar kemejanya menarik rambutnya apapun itu, sementara Dazai masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dazai kembali menghentakkan miliknya, dan Chuuya menikmati permainan ini. Dari ritme yang lembut menjadi lebih ganas. Ini pertama kalinya mereka melakukan demikian, mereka kacau namun akan saatnya Dazai akan memperbaikinya lebih baik. Menghetakkan miliknya pada Chuuya lagi dan lagi, suara desahan memenuhi setiap kamar. Chuuya mendominasi sedikt dengan menggoyangkan pinggulnya dan ikut menghentak dengan ritme yang kasar. Ketika beberapa tetes darah merembes juga dari intimnya, Dazai hanya memijitkan matanya, berkedip beberapa kali.
"Daz—daz-dazai…, Dazai…, Dazai.. ahh ahhkkhh! Hhhnnhh-haaa! Hwaaa hannhh" serunya seraya memeras kemeja Dazai, menjeritkan namanya berulang-ulang yang sekarang ia tak tau seperti apa nada suaranya. Dia kehilangan kontrolnya.
Mereka bertaut cinta di puncak malam hingga batas limitnya, Dazai mengeluarkannya tepat di titik milik Chuuya membuatnya mendesah kasar. "Akkhh…, Chuu—ya.. hnnhh…" dia berhenti sejenak, namun masih bergerak.
Mata Chuuya terbelalak di sertai bulir air yang menjatuh, membasahi pipinya. "Akhh! Daz—ahh! Ahh! Haa…, sa…,sakk—ahhnn!" jeritnya saat cairan panas itu mengaliri dirinya, merasakan cairan sperma itu memenuhi tubuhnya. Dia membenamkan wajahnya di pundak Dazai, kehabisan nafas. Dazai berusaha menahan suaranya namun dia ikut mendesah dan di akhiri dengan kecupan panas mereka.
"Nnnhh Chuu…, aku mencintaimu…" ucap Dazai dengan matanya yang perlahan tertutup dan mengecup pelan bibir mungil milik Chuuya.
Chuuya masih setia menatapnya, dia tersenyum, dan perlahan Dazai membuka matanya.
"Dazai…" panggilnya.
Dazai memperhatikannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi…" ucap Chuuya semakin merapatkan dirinya pada raga Dazai.
Dazai diam memperhatikan dirinya, menatap dalam matanya yang terpapar sangat ingin sebuah jawaban dari pertanyaannya.
"Kau sebenarnya mencintaiku, dari apa?" tanya Chuuya semakin parau, kakinya semakin ia lingkarkan rapat pada Dazai. Dazai sedikit heran dengan Chuuya, semua tindakannya.
"Kenapa kau bertanya demikian, Chuuya?" tanya Dazai.
"Tentu saja…, kenapa? Apa aku salah?" tanya Chuuya.
Dazai diam masih tidak menjawab pertanyaan Chuuya, dia malah membenamkan wajahnya pada pundak Chuuya. Lengan perbannya memeluk raga itu namun semakin dalam, semakin hangat, tak ingin melepasnya, bahkan tautan tubuh mereka belum mereka lepaskan. Mereka membelai tubuh masing-masing dalam dekapan hangat.
"Maafkan aku…" ucapnya. Chuuya diam mendengarkannya.
"Aku tak tau…, aku…" Chuuya masih setia mendengarkan.
"Aku hanya mencintaimu…" ucap Dazai yang sekarang menatap mata itu.
Chuuya masih diam menatapnya, tak menjawabnya. Tangan mungilnya semakin memeras erat kemeja yang di gunakan Dazai.
"Kalau begitu…" sekarang Chuuya kembali memeluk tubuh itu.
"Tinggal-lah untukku…, selamanya…" sambungnya seraya membenamkan wajahnya pada pundak Dazai, mencium pundak hangat itu. Dazai juga sama, melakukan hal yang sama. Mereka terhanyut, melanjutkan sampai pagi. Tidak, sampai mereka puas, walaupun mereka kacau awalnya, pada akhirnya mereka bisa menuntunnya, keseluruhannya.
Sekarang dia hanya menerima kenyataan. Menerima sebuah kasih sayang tanpa alasan ini, namun dia di cintai sepenuhnya oleh Dazai. Dia percaya dari lubuk hatinya. Membiarkan dirinya di mainkan drama percintaan-gelap ini. Entah kapan harus berakhir, dia juga tidak tau.
Kata 'Cinta' adalah sebuah 'Kepercayaan', Chuuya percaya pada Dazai sekaligus mencintainya, begitupun sebaliknya.
Namun jika 'Dunia' berkata lain, dan 'Tuhan' juga. Tidak ada yang tau pasti.
Chap. 3 Young and Fragile, We Were.
.
.
.
.
.
Mata perlahan terbuka dengan lembutnya, hal pertama yang ia lihat, langit-langit ruangan dengan kipas angin yang berputar-putar dari malam sampai pagi. Pagi, pukul 7 lewat 18 menit, dia terbangun dari tidurnya. Bermimpi tentang hal aneh di pikirannya.
Tidak, bukan pikiran aneh, namun masa lalunya, kenangannya.
Dia ingat dia pernah bertanya apa yang di pikirkannya akhir-akhir ini dulu pada Dazai saat pertama kalinya mereka melakukan hal romantis-erotis, juga di malam pertama kalinya Dazai menyatakan cintanya. "Sialan…" gumamnya lalu memerengkan sedikit tubuhnya agar lebih nyaman saat berbaring di atas sofa.
Menjadi melankolis itu menjijikan memang, namun hidup memang semuanya di dasari dari hal-hal melankolis. Dia berdecih, dia kesal tidak kesal, sedikit kecewa dengan kelakuannya sendiri.
Perlahan tubuhnya bangkit dari posisi itu, mengumpulkan sedikit kesadaran di kepalanya, memandang sekitarnya. Masih belum sadar seutuhnya.
Burung-burung dengan suara merdunya berderu di tambah suara metropolitan yang tak berhenti-hentinya beraktifitas. Dia bangkit dari tidurnya, merenggangkan tubuhnya, matanya memandang handphonenya, satu pesan masuk di akun mailnya.
Dia mengambilnya, membuka pola sandi handphonenya, membaca pesan tersebut.
Dia menghela nafasnya. Sangat berat untuk berkata-kata sekarang, terutama dengan sifatnya yang tak mau jujur.
'Makarel
Sel pagi Chuuya~ bangunlah…, jangan lupa sarapan. Aku mau minta maaf soal tadi malam, aku kasar. Maafkan aku… huhu aku sampai tidak bisa tidur karna memikirkan itu…, Chuu~ maaf~ :''
Eh, aku akan rajin mulai sekarang! YOSH! Semangat~
Dan satu lagi…, kapan aku bisa menemuimu? Kau perlu waktu untuk sendiri, kan? Aku akan mendengarkan, aku akan siap. Kapanpun…
Matanya sedikit terbuka saat membaca pesan terakhir.
Aku mencintaimu, selalu~ ^^
Dan dia diam dalam pemikirannya sendiri, tubuhnya masih berdiri menerawang pesan itu. Hingga tangannya bergerak untuk mematikan handphonenya, tidak membalas pesannya.
Berjalan menuju kamar mandi, membersikan diri untuk memulai aktifitasnya, dan kembali menjalani harinya dan menuliskannya di sejarah kehidupannya, masih tidak membalas pesan tersebut, yang sekarang dirinya hanya fokus pada kehidupan di hadapannya.
.
.
.
.
.
Wajahnya cemberut memantau layar ponselnya, menunggu sekitar 5 menit lebih yang dia bisa menghitung lamanya, namun belum mendapat balasan dari sana. Dia menguap seraya merenggangkan tubuhnya. "Chuuya…" gumamnya sambil menopang dagunya. Yang jujur saja dia hampir tidak tidur semalaman karna berpikir terus-menerus tentang tingkah Chuuya yang membuatnya kabut.
Suara derit pintu terbuka saat Dazai hampir melamun dan jatuh dalam pikirannya, dan sapaan dari juniornya -sebutnya begitu- "Oha…youu!? DAZAI-SAN!?" awalnya nada sapaan biasa namun pada akhirnya dia kaget dengan pemandangannya. Tentu saja ini pemandangan sangat -hampir dikatakan- langkah baginya.
"Ohayou Atsushi-kun" ucapnya melambai pelan seraya tersenyum padanya.
"Da-da-dazai-san, bukan?" Atsushi bertanya aneh, mulai mendekat dengan kecerugiaan di kepalanya.
"Hanya ada satu di dunia" ucap Dazai dengan senyum pedenya dan bertanya, "Memangnya ada apa Atsushi-kun?" tanyanya heran.
"Ini… masih jam 7 pagian…, tidak biasanya…" ucap Atsushi dengan sweetdropnya.
"Hmm… memang tidak biasanya. Ah, Chuuya sedang pms sihh" dan kembali Dazai menopang dagunya dengan guratan malas di wajahnya, sedikit cemberut yang membuat Atsushi menghela nafas panjang.
"Chuu-ya?" Atsushi terheran sebentar. Oh, Chuuya yang itu. lalu dia bertanya, "Memangnya ada apa, Dazai-san?" Atsushi mulai duduk di kursi yang berada tepat di samping Dazai.
"Atsushi-kun, apa aku terlihat seperti pria pemaksa?" tanya Dazai yang membuat Atsushi memerengkan sedikit kepalanya tanda paham dan tak paham.
"Hah? Yahh… ummm" dia tergugup antara ingin menjawab iya dan tidak.
"Sangat mirip" Kunikida menyambung dari belakangnya yang ternyata sudah menguping pembicaraan mereka sedari tadi. "Lebih brengsek dari pria pemaksa malahan" sambungnya dengan senyuman menyindir.
"Hehh…, hidoi nee" balas Dazai dengan cibiran serta bibirnya dimajukan, ngambek mendengarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Kunikida, penasaran sedikit. Yang mau di katakan dia penasaran seutuhnya tidak juga, mungkin hanya sekedar bisa mengejek rekan kerjanya.
"Umm…" Dazai berpikir sejenak, hazelnya di merengkan dan menjawab, "Sepertinya tidak perlu ku ungkit" jawabnya santai sambil mengibas-ngibaskan satu tangannya membuat kerutan di dahi Kunikida terlihat, ah Dazai sangat tau sifat rekan kerjanya itu.
"Eh? Kau yakin Dazai-san?" tanya Atsushi.
"Iya, daijoubu" ucapnya dengan tangan berjari isyarat oke dan senyum merekahnya.
"Oh ya sudahlah" Kunikida berlalu, sedikit kesal dengan umpatan, 'dasar, sombong sekali kau'.
Setelah Kunikida berlalu Dazai menatap juniornya yang sedikit terbengong, "Atsushi-kun, bagaimana dengan Akutagawa-kun?" tanya Dazai saat Atsushi melihat Kunikida yang menjauh dan mulai menyibukkan diri. Atsushi menatapnya sejenak, diam sejenak berusaha mencerna perkataan tersebut.
"EHHH!?" teriak Atsushi spontan pada Dazai.
"Kenapa?" tanya Dazai heran, yang sebenarnya dia sudah bisa menebaknya.
"Bu-bu-bu-bu-bukan a-a-apa-apa ehehehe" Atsushi tertawa garing seraya menggaruk belakang kepalanya, menutupi kenyataan yang terjadi tadi malam.
"Dia mendatangimu?" tanya Dazai membuat Atsushi dengan wajah merah habis-habisan. "Tidakkk, tidakk kok! Ahhaa" teriaknya membantah, mneggelengkan kepalanya cepat seraya memainkan tangannya dengan isyarat "Tidak-tidak, bukan-bukan'.
Dazai tersenyum miring memiliki ide. "Nehh Atsushi-kun, Chuuya dan Akutagawa-kun berteman baik lho…, nehh bagaimana kalau kau membantuku agar hubunganku baik dengannya, mana tau aku bisa membantumu" sebuah isyarat seperti setan di berikan pada juniornya yang masih sepenuhnya naif itu.
"Mem-membantu apa!?" mata Atsushi berkedip beberapa kali lantaran ingin tau dan membanta.
"Apa kau bertanya tentang membantuku atau membantumu dalam hubunganmu?" Dazai tersenyum pada Atsushi yang rasanya bulu kuduknya merinding menatap senyuman itu, tak sesadis milik Akutagawa, memang.
"Hu-hubangan apa!? Dazai-san ngacooo" teriak Atsushi.
Dazai tertawa garing melihat sifatnya begitu. "Hanya bercanda"
Atsushi terdiam sejenak, berdehem kencang memecahkan suasana -tidak- dirinya yang canggung, mungkin menceritakannya sedikit pada Dazai bukan ide buruk, lagi pula Dazai dulu adalah atasannya, apa salahnya?
"S-se-sebenarnya…" ucapnya yang memulai, berhela nafas saat memulai lanjutannya "…tadi malam Ryuunosuke mendatangiku, di apartemenku" ucapnya dengan gugup pada Dazai menunduk seraya memainkan jarinya. Dazai kaget, bukan kaget karna Akutagawa mendatanginya kalau itu dia sudah bisa memprediksinya dari sifatnya namun saat Atsushi memanggilnya dengan nama depan, 'sejak kapan?' pikirnya.
"Ohh…, lalu…" tanya Dazai.
"Lalu…, bukann! Bukan seperti dia mengajakku atau apaa, bukann!" teriaknya membantah, yang sejujurnya itu adalah kenyataannya tadi malam. Dazai sedikit kaget, 'wahh juniorku sudah memulai rupanya' pikirnya.
"Iya… bukan kok…" Dazai tersenyum pada Atsushi agar tenang dengan pemikirannya, yang di sana berhela nafas lega. Mungkin Dazai tau sendiri kenapa Akutagawa ingin sekali mencaibknya sekali lagi. Oh, tidak.
"Lagi pula hubungan Dazai-san dan Chuuya-san kenapa?" tanyanya yang berusaha mengalihkan, Atsushi berpikir sejenak, "Apa jangan-jangan…"
"Tidak, jangan berpikir hal yang tidak-tidak" bantah Dazai santai dengan mengedikkan bahunya.
"M-ma-maaf…" ucapnya, mereka diam sejenak, Atsushi memperhatikan Kunikida yang sudah mulai mondar-mandir, dan melihat wajah seniornya yang seperti melamun memperhatikan layar komputernya, "…jika ada yang bisa ku bantu, mungkin aku akan membantu…" ucap Atsushi sebagai junior yang baik. Tersenyum pada Dazai yang menoleh padanya.
Dazai hanya membalas uluran bantuan itu dengan senyuman tipis, tertawa rendah dan balasan kata, "Terimakasih, ya…"
.
.
.
.
.
"Hah?" Chuuya berpekik heran setelah mendengar sebuah penjelasan. Sekarang dirinya berusaha membantah sebuah misi, tidak lebih tepatnya pencarian setelah selesai mengoyak selembar kertas yang di berikan bawahannya padanya, yang tentu membuatnya sedikit ngeri memandangnya, jujur saja, Chuuya adalah atasan yang ramah yang ringan-ringan saja mengambil setiap tugas walau memberatkan dirinya, namun tidak setelah mendengar penjelasan barusan.
"Katakan pada dia kalau kita bukan pengasuh bayi, kenapa kau tidak bilang begitu padanya?" ucapnya dengan decihan kesal. Jijik tentunya memandang pria satunya yang berusaha tenang dengan menghela nafas panjang.
"La-lagi pula Mori-danna berkata, kalau kita harus mencarinya" ucap bawahannya memberikan selembar foto pada Chuuya yang menerimanya dengan guratan malas.
"Anak perempuan dari direktur sebuah perusahaan yang menjaga uang amannya pada kita menghilang, jadi dia meminta bantuan, begitu" Chuuya memandang gambar tersebut di tangannya, gadis muda berumur sekitar 18 tahun, anak SMA yang dia bisa menebaknya mulus, lagi pula apa yang membuat gadis muda ini kabur dari rumah?
"Sudah kubilang aku bukan pengurus bayi" Chuuya mengehla nafas lebih panjang kali ini.
"Umurnya 18 tahun, Chuuya-san"
Chuuya memijitkan matanya memandang gambar tersebut, masi muda dan dia tau -mungkin- apa penyebabnya, 'oh remaja labil rupanya' pekiknya, lagipula di umurnya dulu 18 tahun dia bisa di bilang dengan kata 'labil' lebih tepatnya 'gila' bersama Dazai. Dia tidak menyalahkan siapapun saat itu.
"Aku akan mencarinya, di mana terakhir kali dia terlihat?" ucapnya seraya berdiri dari sofa yang di dudukinya membetulkan sedikit topinya.
"Shibuya, bersama pacarnya"
Ah, ini sudah bisa di tebak sekali. Chuuya memeras lembar gambar itu dan berkata, "Aku akan beri pelajaran pada anak sok tau…" ucapnya dengan seringai sadisnya dan pergi begitu saja setelah mengatakan hal demikian.
Mungkin memberikan sebuah nasehat, tidak, pukulan itu yang terbaik. Iya, tentu saja.
Shibuya, salah satu distrik di Tokyo yang memiliki 23 distriknya, merupakan pusat budaya dan fashion di Tokyo, yahh bisa di lihat dari jajaran butik, toserba, bar dan lainnya. Tidak butuh lama untuk Chuuya mencapai Shibuya, terutama dengan mobil mahalnya yang dia beli dengan uang tabungannya setelah sang kekasih tercinta membakar dan meledakkan mobilnya, dan sialnya kartu kreditnya ada di dalam kap mobilnya dulu. Berusaha melakukan hal yang sama dengan membakar setiap buku-bukunya di perpustakaan pribadinya.
Chuuya memarkirkan sejenak mobil sedan hitamnya dengan merek pasar Italia di persimpangan besar di depan stasiun Shibuya. Memandang sejenak gambar, dan berpikir, 'di mana aku bisa menemukan gadis kecil di kota sepadat ini?'. Di mengedikkan bahunya, ini tidak akan lama. Tidak.
Chuuya mencari ke seluruh kota -tidak seluruhnya- setelah bertanya pada salah satu anggota Port Mafia yang menjaga daerah tersebut, tepat. Menemukan remaja yang hanya mengikuti instingnya untuk sebuah pelarian adalah hal termudah dalam misinya, bahkan lebih mudah dari menghancurkan sebuah organisasi kecil.
Dia menemukan anak tersebut dalam sebuah kamar di apartemen kecil pinggiran Shibuya bersama pacarnya, membuat Chuuya muak menatap panorama itu. Wajah mereka syok, ketakutan dan meminta ampun. 'Aku bukan orang jahat, ayolah…' gumamnya seraya membetulkan topi miliknya.
"Aku hitung sampai 10 kalau kau tidak keluar dari kamar ini meninggalkan pria brengsekmu itu aku akan memaksamu, Nona" ucapnya dengan aksen kasarnya sambil mengepal tangannya, membunyikan jarinya, hanya sekedar memberi gretak.
"Kau dari mafia, kan? Apa Ayahku mencariku!?" ucapnya dengan wajah ketakutan di sertai bulir air mata.
"Yahh…, cepat keluar dari kamar ini agar pekerjaanku selesai dan aku bisa pulang" guratan malas berada di wajahnya.
"Tidakk" sebuah teriakan dari pria di samping gadis itu bersorot padanya. "Pergilah! Aku akan bayar sebanyak mungkin padamu" sambungnya.
Chuuya kesal dan berkata, "Aku tidak perlu uangmu, yang ku perlukan adalah gadis itu naik ke mobilku dan pergi dari sini, atau... kalian bisa tinggal dan…" ucap Chuuya mulai mendekat pada laki-laki di depannya. Sudah di katakan kalau Chuuya bukan tipe perendam emosi.
"Sebagai bayarannya ku buat kau menderita sekarang, hmm?" ada senyuman meremehkannya di curva bibirnya. Namun satu hal yang harus dia patuhi, Port Mafia tidak menyerang warga sipil, jadi dia hanya memberi gretak padanya.
"Jangan sakiti dia!" gadis itu memegang lengan Chuuya yang di tepis kasar olehnya. "Baik-baik! Aku akan pergi!" ucap gadis itu dengan mata memelas, memotong jarak di antara Chuuya dan laki-laki tersebut.
"Tolong jangan katakan pada Ayahku kalau aku kabur bersamanya, kumohon Tuann" ucapnya semakin menjadi dengan sebuah bulir air mata yang sekarang mulai menetes.
Chuuya diam sejenak, menghela nafas dan berkata, "…Aku tidak bisa janji…" menarik kepala anak itu lalu menyuruhnya berjalan keluar. Sementara dia menatap pria satunya lagi.
"Kau masih terlalu muda hoi, cari kegiatan yang lain sana!" ucapnya entah sekedar menasehati atau dia memberi saran.
"Aku juga sebenarnya tidak mau melakukan ini…" ada jeda di kalimatnya, "…tapi harus…"
Chuuya merasa bodoh dengan perkataan barusan itu. Dia menatapnya penuh sadisme di matanya, jika saja memukulnya bisa membuatnya mati di tempat maka dia akan memilih alternativ lainnya.
"Kenapa harus…?" ucap Chuuya padanya yang membuat laki-laki itu kaget. Chuuya menunjuknya tepat di wajahnya, "Kau kira dunia tidak cukup untuk kalian berdua saja, begitu!? Tidak, itu tidak benar. Kau sesekalilah belajar dari pengalamanmu, dasar bodoh!" di akhiri teriakan dan satu tinju telak di pipinya. Entah dia juga ikutan emosi saat merasa dirinya dulu juga demikian, dia semakin muak.
"Tapi memang tidak ada tempat untuk kami berduaaa!" teriak pria itu memuntahkan sedikit darah, Chuuya tidak memukulnya dengan kekuatan penuh namun cukup membuatnya terkapar.
Chuuya tertegun sejenak, lalu menepatkan kakinya pada pundak orang itu yang sudah terduduk di lantai, "Jangan bilang padaku kalau dunia ini sempit bajingan, kau kira hanya kau saja yang pernah berpikir demikian hah!? Umurku sudah 22 tahun dan aku mengerti segalanya, bagaimana rasanya semuaa! Kau masih bocah, masih labil, belajar yang benar menjalani hidupmu, keparat!" dan satu tunjangan menegenainya. Mengakhiri kalimatnya itu.
Yang sekarang tubuh itu bergeletak lemas di lantai dan Chuuya keluar dari apartemen kecil tersebut. "Jangan melakukan hal yang bodoh-bodoh, dasar remaja!" decihnya dan menuju parkiran, menuju mobilnya.
Dia menatap ke arah sana, dan gadis itu berada di kursi belakang sedang duduk dengan kepala menunduk seperti orang dengan frustasi sangat berat. Oh syukurlah, kalau dia kabur Chuuya mungkin akan mengikatnya lantaran emosi juga.
Chuuya masuk dan menyalakan mobilnya, "Tujuan berikutnya, Yokohama" ucapnya dan mulai melaju di jalanan. Gadis itu hanya diam menurut.
Mereka diam membisu tanpa obrolan sedikit pun. Chuuya memandangnya, mungkin memberi sedikit pencerahan adalah hal yang bagus, lagi pula itu hal yang wajar bagi seluruh manusia untuk saling menasehati, hey apa salahnya?
"Nona, kenapa kau kabur dari rumahmu?" Chuuya memulai.
Dia bisa melihat ekspresi kaget dari kaca spion di atasnya dan kembali gadis itu menunduk, dan dia menjawab, "Orang tuaku terlalu proaktetif denganku hanya karna pekerjaan, aku bersekolah di Tokyo karna mereka, Ibuku selalu mengawasiku dengan siapa aku berteman, sosialisasi dan jenisnya. Aku juga tidak mengharapkan kalau dia akan menyewa mafia untuk menjaga perusahaan. Aku benci mereka" satu tatapan seperti tatapan kebencian bisa Chuuya lihat dari kata spionnya.
"Maaf saja kalau begitu, tapi memang begitulah hidup. Kau tau rasanya tidak memiiliki kerabat kandung dan di besarkan dalam mafia? Kau tau?" ucap Chuuya sedikit menghela nafas.
Dia terdiam sejenak, dan menjawab, "Tidak, lagi pula kita ini berbeda" berusaha mengimbangkan perdebatan itu.
"Nahh tepat sekali"
"Bahkan kau tidak mengerti apapun tentang cinta, Tuan. Tidak sama sekali" terdengar sedikit parau di dalam katanya.
Chuuya terdiam, berusaha untuk tidak emosi dengan kata-katanya. Chuuya menatap lurus ke depan jalanan dan mulai berkata, "Hei…, itu menyinggungku. Aku mengerti perasaanmu, tapi aku tidak segila itu. Pacarku adalah anggota mafia juga dulunya, namun aku mengatakan padanya untuk meninggalkan maifa karna suatu tragedi. Aku tau rasanya pahit kisah romansa, kau kira aku orang seburuk itu? sekejam itu? tidak. Aku belajar dari pengalamanku" tanpa sengaja dia bebicara tentang Dazai di kehidupannya. Yahh itu salah satu kejujurannya.
"Sampai sekarang aku mencintainya walau dia bajingan tengik yang membakar mobil mahalku dulu, ahaha. Nahh, kau bilang padaku aku tidak mengerti tentang cinta, kan?" dia menatap wajah yang sedikit percaya dan tidak percaya pada kisahnya. Dia bisa melihat ekspresi ingin membalas setiap kisah yang di lontarkan bibir Chuuya.
"Apa kau masih menjalani hubunganmu padanya?"
"Masih"
"Kenapa?"
"Kalau kau tanya kenapa…, aku jelas-jelas masih menaruh hati padanya. Dulu…, jujur saja kami ini gila…" ada sedikit tawa di akhir kalimatnya, "…bercinta sampai pagi. Dia sangat kasar namun lembut bagiku, yahh anggap saja begitu" di akhiri sebuah batuk kasar saat Chuuya memandang ekspresi gadis 18 tahun di balik spionnya.
Dia tertegun, diam sejenak dan mulai berkata, "Tuan, apa kau tidak pernah berpikir orang-orang di sekitarmu tidak pernah memberimu ruang?" sekarang wajahnya seperti memelas begitu.
"Pernah, sering"
Dia menundukkan kepalanya. Memainkan sendiri jarinya, yang hanyut dalam pemikirannya.
"Tapi, satu-satunya jalan agar kau tabah…, menghadapi kenyataan atau apapun itu. Aku dan dia berpisah selama 4 tahun lamanya."
"Empat tahun? Itu sangat lama" dia mengangkat kepalanya menatap Chuuya.
"Benarkan?" Chuuya tersenyum, entah bisa di kategorikan senyum paraunya.
Mereka diam. Chuuya menatap jalanan lurus, dan gadia itu menatap jalanan di luar jendelanya.
"Aku dan dia bertemu akhir musim panas kemarin…" Chuuya mendengarkan kisahnya. "…kami memulai hubungan kami 3 bulan yang lalu, aku ketahuan ayah. Aku membencinya, itu sebabnya aku kabur dari rumah. Aku tidak tau apa yang membuatku begini, Tuan. Mungkin stress berkepanjangan, tidak bisa berpikir jernih, sekarat ingin mati" ucapnya dengan sebuah senyuman manis di bibirnya, Chuuya masih diam.
"Kau terlalu muda, dan duniamu jauh dari kata sekarat untuk mati, aku yang bernaung pada mafia menjalaninya lebih berat darimu." balas Chuuya padanya setelah berpikir.
"Benar…, maaf"
"Tidak perlu minta maaf padaku, kalau aku bisa membantumu… mungkin aku akan membiarkan kalian pergi, namun sayangnya…, kewarasan masih ada di kepalaku." Chuuya tersenyum kembali.
"Baik" ucap gadis itu. Mereka diam panjang setelahnya, beberapa menit dan pada akhirnya mereka sampai Yokohama. Chuuya mengantarnya pada kondominium tempatnya tinggal. Gadis itu turun dari mobil saat para penjaga mulai mengerumuninya, dia memandang sebuah senyum padanya dan dia mulai pergi memasuki bangunan tersebut, sementara Chuuya menuju apartemennya.
"Pekerjaan selesai. Dasar…" ucapnya menggaruk kepala belakangnya dan pergi. Dia diam sejenak, mendengarkan radio dengan beberapa musik bergenre Jazz di sana, sedikit kesal saat jalanan sedikit macet namun lancar. Memandang jam di mobil yang menunjukkan pukul enam sore, biasanya Dazai mulai menghubunginya di jam sekian, namun tidak kali ini.
.
.
.
.
.
"Ahh… nnhh-Dazai…" serunya saat Dazai mulai merasakan jenjang lehernya, mereka setengah bugil dalam pengharum mobil serta ac yang di biarkan hidup begitu saja untuk oksigen mereka. Embun pada kaca mobil mulai bersarang di kaca mobil Chuuya, mereka memarkirkan mobil pada jalanan sepi dengan bola lampu minim di sudut jalan.
Awalnya setelah mengobrol panjang di sebuah bar langganan mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen Dazai, karna apartemennya paling dekat sekarang. Entah apa yang berada dalam pikiran Chuuya saat dirinya mengatakan, 'aku mulai memanas, tolonglah…' entah efek mabuknya atau dirinya sendiri karna terlalu dekat pada nafsunya.
"Kau yakin Chuuya? Sedikit lagi kita sampai di apartemenku? Kau tidak bisa menahan sebentar?" tanya Dazai bebisik padanya namun bibirnya masih merasakan jenjang leher tersebut.
"A—aku..." ucap Chuuya yang sudah setengah sadar dan tak sadar itu. tubuhnya melengkung meminta lebih agar di jamah oleh yang di atasnya. Dazai memandangnya sejenak, menghentikannya.
"Hmm…, kau memanas" ucap Dazai memperhatikan setiap inchi tubuhnya seraya bagian sensitifnya. Berseringai dan tertawa rendah yang bagi Chuuya itu adalah sebuah penghinaan terbesarnya.
"Diamm! Ka-" teriaknya namun suara itu di rendam dengan Dazai kembali menyiumi bibirnya. Dan perlahan lidahnya mulai bertaut dalam mulut mungil tersebut. Chuuya membiarkannya.
Masih dalam tautan mulut itu, tangan Dazai mulai mempreteli pakaiannya, menyibakkan helai kemeja yang menutupi perut ramping atletisnya, sangat sempurna. Dazai mulai mencicipi dengan mendengusnya di sana, terasa seperti Chuuya di ingatnya. Memang Chuuya. Kulit asin dengan perpaduan wanginya menambah instingnya untuk lebih gila malam ini. Chuuya menggeliat antar nyaman dan tak nyaman dengan kemanjaan itu di atas kulitnya, menarik dan membelai rambut Dazai yang kepalanya sekarang berada di perutnya.
Dazai bangkit dari posisinya menatap Chuuya di bawahnya.
"Kenapa Dazai?" tanya Chuuya.
"Tempat ini terlalu sempit, aku tidak bisa leluasa jika posisinya begini" ucapnya sambil cemberut. Chuuya melototinya saat mendengar ucapannya demikian, 'dasar iblis' pekiknya dengan semburat merah lantaran kesal atau malu.
"Chuuya…" panggilnya rendah menepihkan beberapa helai auburn yang sembab dari wajah indahnya.
"Apa?" tanya Chuuya yang kepalanya mulai melengkung ke belakang saat merasakan nafas Dazai kembali berderu pada tenguknya. Matanya tertututp sayu di kelopaknya. Memeluk raga di atasnya yang menimpanya namun sangat nyaman.
"Kau ingat tadi malam soal pertanyaanku?" tanya Dazai masih dalam posisinya.
"Kenapa kau mengungkit soal itu lagi! Sudah ku katakan jangan mengungkitnya lagi!" teriak Chuuya yang sekarang mengarahkan pandangannya pada Dazai.
"Ah, maaf…, aku hanya berpikir demikian saja…" ada jeda sejenak di antara katanya, kembali melanjutkan, "…maafkan aku, lagi pula ini sebuah keberuntungan bagiku…, aku sedang dalam kabut beberapa hari ini" ucap Dazai sekarang matanya mulai sendu. Chuuya memperhatikannya.
Chuuya diam sejenak mencoba mengerti, "Ada apa?" tanyanya.
Dazai memeluknya erat, awalnya Chuuya yang berbaring di kursi itu langsung di tarik unuk bangun dan Dazai membekapnya hangat, Chuuya kaget, namun dia membalas pelukan itu.
"Kau baik, Dazai?" tanya Chuuya.
"Aku berusaha…, dengan kemungkinannya" ucap Dazai, seperti berbisik.
Chuuya terheran, "Kemungkinan apa?" tanya Chuuya.
"Kemungkinan kehilanganmu"
Chuuya kaget dengan perkataannya, dia mencoba paham, "Apa maksudmu?" tanyanya dia tak paham.
"Bukan apa-apa…" ucapnya mencium pundak itu. memperdalam pelukan tersebut. "…lupakan saja…"
Mereka hanyut dalam suasana tersebut, hanya ada suara mereka yang sedang bertaut kasih dan suara erotisnya Chuuya yang sedang di manja oleh Dazai. Dazai memeluk raga yang pakaiannya sangat berantakkan dari belakang, memeluk pinggangnya hangat dan menciumi bibirnya yang lembut. Mereka hanyut, mereka pada dunia mereka, kehilangan akal saat Dazai mulai membuka relseleting milik Chuuya dan mulai dengan keterampilannya.
"Nnnnhh…, mmmhhh Dha-ahhh" ucapnya saat tau tangan dengan perban itu memeras asetnya dengan gemas, sementara suaranya di redam oleh bibirnya. Perlahan celana hitam milik Chuuya di turunkan yang sekarang Dazai bisa menyentuh kulit itu, memainkan kejantanannya sesuai pikirannya sekarang.
Chuuya menggeliat dengan gumaman erotis yang Dazai tahan dengan bibirnya. Meraihnya, memerasnya, menekan ujungnya dan mengocoknya seperti sebuah botol dengan isinya. Dazai melepas kucian mulut itu dengan saliva menurun di sudut curva bibir Chuuya, "Ahh ahh nnhh AKH—pel-pelann Daz—hmmpphh mmnhh nhh nhh" dan Dazai kembali mengunci mulut itu dengan mulutnya. Merendam lenguhan yang bisa saja membuatnya menggila untuk mencicipi Chuuya dari memainkan asetnya saja.
Chuuya menggoyangkan pinggangnya berusaha nyaman dengan kekasaran yang ia suka dari Dazai, bagian belakangnya dengan sengaja ia gesekkan pada aset Dazai yang sudah mulai mengeras di sana, sengaja. "Dhaa—hmmpp hnn hnn ayoo—la—lagi ahh hnnn" desahnya saat Dazai memeras benda miliknya yang semakin mengencang itu dan memompanya dengan tempo cepat.
Chuuya menggeliat geli namun menikmatinya sepenuhnya, mereka meraup lidah masing-masing, Chuuya mengangkat tangannya, mendongkak memperdalam ciuman itu semakin panas, lidah mereka semakin gencar menyerang lainnya, tangan Dazai semakin cepat memompanya. Goyangan pinggul yang semakin menggila, dan erotisnya Chuuya membuat Dazai semakin gencar memompanya, "Daz—dazaii!" ucapnya saat Dazai melepas tautan bibir mereka. Dazai menatapnya. "Apa?" tanyanya.
"Ku..kumohon jangan membuatku mengeluarkannya di sini" Chuuya dengan ekspresinya yang terlalu manis.
"Eh? Kenapa? Kau yang minta tadi kan?"
"Kenapa, malah tanya kenapa? Kau bisa mengotori mobilku, bodoh!" ucap Chuuya tak puas.
"Hmm…, itu sebabnya? Ah Chuuya, kau bisa membersihkannya di akhir pekan, lagi pula siapa yang mau menaiki mobil yang isinya gorilla manis sepertimu?"
Satu cubitan di paha Dazai Chuuya berikan padanya. Dazai tertawa rendah dan kembali memeluk raga itu dengan hangatnya. "Kalau begitu kita simpan lanjutannya di tempatku, ya? ucapnya yang beberapa menit berlalu dan Dazai kembali merapikan kembali celana milik Chuuya. Menutupi kebahagiaan itu, masih mengelusnya membuat Chuuya memukul kepalanya tanda jangan terlalu bermain berlebihan.
"Bagus, jangan agresif" komentarnya saat suasna intim itu mulai memudar.
Dazai tersenyum mengejek padanya, "Kau yang membuatku menjadi agresif Chuuya, kalau saja bibirmu ini hmm~ yang tidak mendesah untukku aku pasti bisa menahannya" ucap Dazai dengan mencubit bibir itu gemas dan kembali mengecupnya di akhir kalimatnya.
"Kau manusia berengsek, dan aku sungguh, akan membunuhmu"
"Membunuhku dalam arti apa?" tanya Dazai merapatkan jarak, membenamkan wajahnya pada pundak Chuuya dan menciumnya lembut.
"Dalam segala hal" ucap Chuuya tersenyum tipis sambil memainkan lembut raven coklat lebat itu di pundaknya. "Kau sialan" ucapnya.
Ada seringai di sana, mereka diam sambil membelai masing-masing. Dazai mengusap setiap inchi tubuh Chuuya yang dia menikmati setiap sentuhan itu dengan bernafas rendah dan sesekali melenguh, Dazai sangat tau bagaimana membuat kekasihnya ini nyaman dengannya, begitupun Chuuya pada Dazai yang ikut menuntun setiap gerakan tangan itu di tubuhnya, sesekali menyentuh lembut paha yang mengapit tubuhnya.
"Chuuya…" Dazai mulai dan Chuuya mendengarkan.
"Apa, Dazai?"
"Kau mencintaiku? Berjanjilah kau tidak akan pergi dari sisiku…" terdengar itone lembut namun sangat redah di pendengarannya. Chuuya mengusap lembut puncak kepala itu.
"Aku mencintaimu Dazai…" ucap Chuuya menatapnya saat Dazai memandangnya sekarang.
Sedikit kaget saat mengetahui wajahnya bisa dikatakan sendu, namun dia masih bisa tersenyum tulus. "Ohh Chuuya…, sayangku…" ucapnya lalu mengecup lembut pipinya dan kembali memeluk raga itu padanya. Membenamkan wajahnya yang sangat ingin Chuuya tau ekspresinya.
Chuuya hanya diam, dia diam membiarkan Dazai berkabut dengan pikirannya, beginilah mereka jika dalam beban mereka, berbagi sebuah rangkulan hangat dan pelukan manis, meredahkan rasa pahitnya kehidupan di lembar mereka. Saling berbagi kata penyemangat masing-masing, yang terkadang semua pemikiran itu bisa pergi bebas ke suatu tempat.
Sebuah konduktor fantasi, mereka membangunnya bersama. Sudah hampir setahun lebih saat Dazai menyatakan perasaannya, dan Chuuya menerima uluran itu dengan indahnya walau sebuah pertanyaan masih terbenam dalam otaknya.
"Dazai, ada apa?" tanya Chuuya.
"Firasatku buruk, seperti akan ada sesuatu yang menimpahku, tidak. Kita" ucapnya dan Chuuya merasakan raganya bergetar.
"Apa?"
"Aku tidak tau Chuuya, aku takut… izinkan aku memelukmu…" ucap Dazai yang sekarang suranya mulai parau.
".., baiklah…" ucap Chuuya dengan nada tenangnya.
Mereka masih dalam posisi ini, Chuuya melihat jam mobil. Bagus, 12:08, Chuuya memandang Dazai yang sedari tadi memeluknya selama lebih dari 10 menit. Perlahan dia menjauhkan tubuh itu dan membaringkannya. Chuuya kaget dengan pipi sembabnya, 'sejak kapan?' pekiknya yang dengan lembutnya mengusap wajahnya dan menepihkan brunette itu di sekitar dahinya.
"Kau tau Dazai…" Chuuya bergumam padanya yang terlelap. "Aku membenc…," dia diam sejenak. Menghela nafas lalu memberikan ciuman di keningnya, "anggap saja begitu…" ucapnya dengan senyuman, dan Chuuya yang menyetir menuju apartemennya yang sekitar 3 blok lagi.
Chuuya membuka matanya perlahan, bagus. Bisa-bisanya dia bernostlagia di salah satu gang gelap dekat pelabuhan. Chuuya sedang berjaga-jaga di area kawasan yang di katakan akhir-akhir ini sering ada pembajakan, sudah lebih dari 30 menit dia berputar-putar yang dari tadi sepi saja, entah orang-orang sudah mengenalnya benar dia ini salah satu eksekutif yang berbahaya.
Berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan menikmati sebatang rokok merek faforitnya. Matanya bertemu dengan sebuah pemandangan. Ada sepasang kekasih yang tengah menatap lautan bersama, Chuuya diam memperhatikan dari jauh, yahh asalkan warga sipil itu tidak dengan bodohnya melempar granat atau apapun yang membahayakan kawasan ini, dia takan mengusik mereka.
Chuuya memperhatikan mereka dari kejauhan, dia melihat sang pria dengan lembutnya merangkul pinggul sang kekasihnya menciumnya lembut, menunduk yang sekarang sang wanita itu lebih tinggi darinya, ohh… Chuuya tau apa yang akan terjadi ke depannya, pria itu mengeluarkan sebuah kotak merah, membuka kotaknya memperlihatkan sebuah benda dengan polesan emas dan ukiran dengan mata berlian di atasnya. Dia bisa mendengar -tidak- membaca gerakan bibir itu dari kejauhan, "Kau mau menikah denganku" bahkan bibirnya mengucapkan kata demikian, Chuuya tersenyum, memberikan tepuk tangan dari hatinya untuk mereka.
"Selamat…" ucapnya parau. Dia kembali pada gang gelap ini, memandang rokoknya yang sudah setengah terbakar di sana. Menghisapnya sampai habis dan mematikan puntung tersebut.
Memandang setiap sisi dari gang gelap ini, Chuuya ingat saat mereka berada di sini, dia sangat ingat. Mereka masih sangat muda, masih sangat gila, oh biarlah anak muda memang gila semua, apa salahnya. Dia ingat saat Dazai mendorong tubuhnya ke dinding, menahannya dengan tangannya, perlahan jarinya yang seduktif nan tangkas mengangkat paha yang indah itu menuntun memeluk raganya, dan romansa adegan berciuman dengan sangat panasnya terekam di pikirannya. Dia mengingat dengan kasarnya lidah yang memenuhi rongga mulutnya, tangan yang nakal nan hangat itu membelai mulus setiap bagian tubuhnya. Membuat kedua insan terangsang sejadinya.
Jujur saja, Chuuya ingat saat Dazai dengan sifat agresifnya, tangannya di ikat di belakang tubuhnya, lalu kedua tangan itu di ikat di salah satu tiang kayu di dalam gudang yang tak terpakai, Dazai dengan kegilaannya tersendiri melucuti pakaiannya, meraba setiap daerah tubuhnya bahkan tak henti-hentinya Chuuya mendesah atas perlakuannya, namun itu di rendam dengan mulut yang di ikat oleh sebuah sapu tangan. Dan adegan yang terlihat seperti sebuah pemerkosaan yang sialan terjadi, tidak, Dazai tidak membrutalinya, hanya mempermainkannya.
Chuuya terduduk, dia terbatuk, dan sialnya udara panas membuat pikirannya kalang kabut, tak seharusnya dia mengingat hal demikian. Dia bisa saja panas.
Derit ponsel terdengar dan dengan sigapnya dia menangkat panggilan tersebut. Dia sangat tau itu siapa.
"Chuuya…" yahh tentu, siapa lagi kalau bukan Dazai.
"Oh…, ada apa?" Chuuya berusaha tenang, padahal nafasnya sudah sangat berat.
"Aku hanya mengetesmu, aku kira kau takkan mengangkat teleponnya"
"Aku bukan orang yang seburuk itu Dazai"
"Hmm…, kau sedang apa sekarang?" tanya Dazai.
"Tidak ada, hanya berjaga di sekitar pelabuhan. Ini jam makan siang, kan?"
"Ah, bagaima-"
"Tidak, tidak hari ini atau nanti malam" ucap Chuuya memotong kata-kata itu sebelum Dazai sempat menyelesaikannya.
"Kau marah padaku, Chuuya?" ada nada rendah.
"Siapa yang bilang aku sedang marah padamu, Dazai!?" dan kali ini Chuuya hampir berteriak.
Dazai diam sejenak yang pada akhirnya berkata, "Di lihat dari tingkah lakumu…, kau baik?"
Chuuya diam sejenak mendengarnya, lalu berkata, "Aku…" ada helahaan nafas di sana, "aku baru saja melihat seseorang di dekat sini… orang asing"
"Dia mengganggumu? Mengusikmu?"
"Bukan, tidak, dia bersama kekasihnya mengatakan sesuatu…, aku tidak menganggu mereka"
Dazai diam sejenak. Berusaha paham dan tak paham dengan perkataannya. Dua sejoli di dekat pelabuhan. Ah, dia tentu tau maksudnya.
"Maksudmu…, oh…, ohh Chuuya…, kau baik?" ucapnya yang mendengar Chuuya seperti merintih. Bahkan suara Dazai sangat panik.
"Aku hanya teringat padamu saja, begitu…, aku ingat sesuatu di sini, aku…" ucap Chuuya.
"Kau kenapa? Kau baik? Chuuya…"
"Maaf… aku pergi dulu…"
"Tungg-" Sambungan di matikan oleh Chuuya, mematikan sendiri handphonenya, dan bersender pada dinding gang seraya menghela nafasnya yang sudah berat. Perlahan dia masih dalam posisinya demikian, dia bangkit dan sedikit kaget saat menatap seseorang yang dari tadi melihatnya. "Sialan kau Akutagawa! Jangan buat aku kagett" ucapnya tak senang disertai suara menjerit.
"Maaf, kau baik-baik saja Chuuya-san?" Akutagawa masih santai dengan ekspresinya.
"Baik…, aku baik…," jawab Chuuya menyapu peluh di keningnya. "Hanya kepanasan saja" dan suara tawa rendah menggema di bibirnya.
"Kau perlu istirahat sejenak" ucap lawan bicaranya.
"Sudah ku bilang aku tak apa, kau tidak dengar apa!?" suara Chuuya mulai emosian.
"Terlihat sangat buruk sekali" balas Akutagawa datar. Akutagawa mendekat pada sosok lebih pendek itu namun lebih tua darinya.
"Apa maksudmu?"
"Kau sedang dalam frustasi? Apa Dazai-san melakukan hal yang tidak bagus?"
"Ti-tidak ada…" ada nada membentak dari tuturnya saat dia berucap, bisa-bisanya Akutagawa tau akan itu, bukan, hanya tebakkannya saja.
"Kau ambil libur saja" saran Akutagawa padanya.
Chuuya membetulkan pakaiannya, dan berkata, "Kau bermasud mengajakku hah? Ke mana?"
"Kabuchiko, aku ada dengar restoran yang katanya menjual vodka yang enak, kau pasti suka…" Chuuya menatapnya seperti anjing yang di berikan makanan enak, itu sungguh menggiurkan padanya.
Chuuya mempertimbangkan itu, apa salahnya jalan-jalan sejenak di distrik merah, sudah lama juga dia tidak bermain-main ke klub malam, dia juga manusia yang perlu istirahat, kan? "Kapan?" tanyanya setelah memikirkan ajakan itu.
"Besok malam" jawab Akutagawa dengan nada biasanya.
"Kenapa besok malam, kenapa tidak malam ini?"
"Karna malam ini aku ada janji dengan Jin- ekhemm, maksudku aku ada urusan" Akutagawa berusaha kalem saat dirinya hampir bocor dengan janji spesialnya.
"Ohh begitu…" ucap Chuuya berusaha tidak bertanya apa maksudnya. "Kalau begitu aku duluan, ya…, jam makan siang akan habis" ucapnya hampir berlalu dengan senyum ringannya.
"Dan lagi Chuuya-san…" ucap Akutagawa membuatnya menoleh padanya.
"Apa?"
Akutagawa berbalik dan pergi setelah mengatakan sesuatu dengan wajah datarnya, Chuuya memerah mengambil jubahnya untuk menutupinya, "Sialan!" pekiknya saat memandang asetnya karna udara panas atau pemikirannya sendiri yang sangat sialannya bisa membuatnya panas. Chuuya memaki, menahan rasanya saat dirinya langsung berlari menuju mobilnya, tidak, dia tidak melakukannya di sana. Dia menahannya yang sejujurnya itu bisa membuatnya fatal.
.
.
.
.
.
Dazai diam memandang kopinya sambil menatap layar komputernya. Sebenarnya jam makan siang sudah berjalan sejak 10 menit tadinya, namun Dazai tidak beranjak dari kursinya, semua teman sekantorannya memandangnya aneh. Tentu saja, Dazai adalah orang yang sangat gembira jika jam makan siang tiba, tidak kali ini. Yang kalian tau sendiri apa alasannya;
*Di tolak Chuuya untuk ajakan makan siang.
*Masih bingung menghadapi sifat kekasihnya yang labil -sebut saja begitu.
"Psst Kunikida, ada apa dengan Dazai?" tanya Yosano yang menatapnya antara heran dan ingin tau. Tentunya wanita mana yang tidak ingin tau tentang Dazai walau hanya teman sekantorannya.
"Sedang terkena demam cinta" jawab Kunikida dengan sweetdropnya.
"Wah wah wah, begitukah?" Yosano mendekat setelah memberikan tepukan pada bahu Kunikida dan mendekat pada Dazai. Kunikida sedikit panik saat tau wanita dengan profesi dokter di agensi mereka bekerja juga ikut turun tangan, hanya takut ada adegan berdarah saja, tidak.
"Yoo Dazai…, sehat? Ada yang sakit, perlu ku obati?" tanya Yosano seraya menepuk pundaknya.
"Obati saja kejombloan Kunikida" ucap Dazai dengan senyum dan menunjuk Kunikida tanpa dosa, yang di sana hampir melempar sebuah laptop.
"Ada apa? tidak biasanya…" sekarang Yosano duduk di sampingnya.
"Umm…, apa salahnya menanyakan pendapat wanita nehh…" ucap Dazai yang sekarang mulai dengan ceritanya. Menatap Kunikida yang ingin sekali menguping, yang langsung di tatap Yosano dengan tanda, 'tolong nikmati makan siangmu, Tuan' begitulah, yang sekarang hanya ada Dazai dan Yosano di kantor tersebut. Atsushi sedang keluar makan siang bersama anggota lainnya.
"Ini tentang pacarku, tidak…, aku tidak menganggapnya pacar… dia lebih dari itu…" ada nada sedikit sendu di tone milik Dazai.
"Ada apa?"
"Dua hari yang lalu…" Dazai memulai ceritanya, dengan gaya duduknya pada sebuah kursi, "-dia menangis saat sarapan yang aku sendiri tidak tau alasannya begitu. Saat ku tanyakan dia tidak mejawab, malamnya dia mengusirku setelah yahh- aku…, sebut saja mengasarinya… hanya menuntut." ucap Dazai dengan jarinya yang di isyaratkan tanda kutip di akhir kalimatnya. Yang Yosano tau artinya, dia wanita dewasa. Memberikan respon berupa senyuman dan kata, "Kau kejam, Dazai". Yosano diam mendengarkan lanjutan kisahnya, 'wah, ini sangat langkah melihat Dazai bercerita sedemikiannya' pikirnya.
"Tadi aku mengajaknya makan siang namun di tolak, huhh… pms itu tidak baik berkepanjangan" keluh Dazai menyenderkan dagunya pada atas punggung kursi dan di balas tawa Yosano padanya.
"Hmm…, yahh memang begitulah wanita, ada saja yang di pikirannya, ku harap kau maklum" ada tawa di kalimatnya.
"Chuuya bukan wanita, Yosano-san" komentar Dazai, Yosano sedikit diam lalu melanjutkan, "Yahh, yang di posisi bawah memang selalu demikian" balasnya maklum pada setiap hubungan manusia.
"Chuuya? Nakahara Chuuya, ya? dia dulu rekanmu, kan?" tanya Yosano.
"Iya, dulu… sampai sekarang"
"Bagus Dazai, kau pria jujur"
"Dazai Osamu hanya ada satu di dunia" di balas dengan senyuman pede luar biasanya. "Yahh…, menurutmu apa yang harus ku lakukan?" tanya Dazai padanya.
"Hmm, apa yang membuat Chuuya menolakmu tadi?" Yosano bertanya layaknya memberikan sebuah teka-teki.
"Entahlah, dia masih marah padaku, mungkin?"
Sebuah helaan nafas dari wanita beraven hitam tersebut, "Dia meminta sebuah pengakuan Dazai…"
"Pengakuan apa?" Dazai terheran membuat Yosano mengeluarkan tawanya. Dia mengisyaratkan Dazai untuk mendekat, membisikkan idenya pada Dazai, setelahnya Dazai mendengarnya Dazai terdiam, hanya berpekik, "Hah?" Yosano hanya tersenyum raven coklat tertawa rendah yang sekarang dirinya mengerti situasinya. "Begitu, ya…" pekiknya.
"Kalau begitu…, ATSUSHI-KUN!" Dazai berteriak setelah Atsushi masuk ke dalam kantor membuatnya kaget, "Y-y-ya?" ucapnya dengan sweetdropnya.
"Besok malam temani aku, ya?" sekarang seniornya menatapnya dengan senyuman sok polosnya membuat Atsushi semakin heran menjadi-jadi, "H-h-hah?" pekiknya. "Ba-baiklah" sambungnya masih dengan nada yang sama. Sementara Yosano tersenyum pada dua laki-laki tersebut. "Dasar pria…" gumamnya.
.
.
.
.
.
Sudah hampir tengah malam saat mereka sampai di apartemen minimalis milik Dazai, si makarel mabuk berat sampai tidak bisa membedakan mana Chuuya dan mana wanita dengan gadis berambut yang sama dengannya, kenapa bisa terjadi? Chuuya hanya pergi sekitar lima menit ke kamar mandi dan saat kembali ia melihat Dazai merangkul seorang wanita dengan terus menyebuti namanya. Chuuya tidak marah, namun tetap saja itu sebuah penghinaan secara tersiratnya. Wajahnya ranum parah efek mabuk berat, bagaimana tidak bisa di bilang mabuk berat, jika kita bisa mengkilas balik kedalam Pub yang mereka kunjungi, akan terlihat gelas-gelas bekas Dazai setelah meneguk banyak sekali variasi vodka campuran. Chuuya juga ikut minum di sampingnya, namun kali ini akalnya tidak mengatakan kalau dia mau mabuk malam ini.
Chuuya menggotongnya di pundaknya, membantu si jakung untuk berdiri tegak, tidak terlalu berat menggotong tubuh Dazai, malah terlalu mudah, membuat objek di sampingnya sangat ringan. Chuuya menendang pintu apartemen Dazai setelah membuka kuncinya. Dazai di bawa ke kamar mandi membiarkannya memuntahkan alkohol itu dari perutnya.
"Jadi orang jangan keras kepala…" ucapnya memandang tubuh sempoyongan menuju sofa, Chuuya memperhatikannya yang terduduk lemas itu, membawakan segelas air, "…aku yang repot!" memberikan gelas itu pada Dazai dengan ekspresinya.
"Mau ku buatkan makanan hangat?" tawarnya pada Dazai yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Dazai hanya menerima gelas dari Chuuya meminum airnya, hanya sekian detik hingga dia memuntahkan sisanya membasahi karpet berwarna maroon di bawahnya, mendatangi sebuah teriakan dari Chuuya, "Kau jorok sekali!" protesnya.
Dazai menatapnya seperti mengatakan sesuatu pada tatapannya, 'kau berisik sekali'. Chuuya berdecih dan pergi lagi ke dapur setelah melemparkan tatapan kekesalan pada Dazai, membuatkannya sesuatu untuk perut mereka berdua, untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Chuuya…" panggilnya yang mulai melepas setelan hitamnya. Berdiri dari duduknya mendatangi pria lebih mungil itu di sana.
Chuuya masih dalam kegiatannya, menyiapkan bahan makanan yang ada di kulkas, yang sebenarnya sungguh tidak berguna isinya. Chuuya terkaget setelah Dazai memegang pundaknya. Chuuya menoleh dengan kaget.
"Apa yang kau lakukan!?" ucapnya kesal hampir melayangkan pukulan ke Dazai yang langsung di tahan Dazai.
"Biarkan aku makan…"
"Belum ku buatkan! Pergi sana…"
"Aku tau, tapi aku ingin makanan yang lain"
Dazai menahan kedua tangan yang memberontak itu padanya, Dazai mendekat pada wajah yang sudah meranum parah itu, berbisik sesuatu yang sangat gila, "Chuuya, biarkan aku melakukan seks malam ini, biarkan aku makan malam ini" Chuuya memerah habis mendengarnya.
"Ti-tidak, kau mabuk Dazai!"
"Bukankah itu bagus kalau aku mabuk, hmm?" Dazai membelai lembut pipinya yang mulus, yang perlahan turun dari pipi ke lehernya, lengannya, perutnya bahkan dadanya yang masih berbalut kemeja putih, Dazai melakukan pemanasan padanya yang Chuuya sudah menghindari tatapan menerawang pada dirinya.
Chuuya berhasil melepaskan kucian tubuh itu darinya setelah menginjak keras kakinya, menjauh dari Dazai menuju ruang tamu, namun sialnya kakinya tersandung kaki meja, membuatnya meringis sedikit memegangi kakinya. Bagaimana rasanya terkena jati di kakinya, tentu sakit. Niatnya dia ingin kabur dari apartemennya, kembali pada habitatnya.
"Chuuya…" rekannya yang sadis ini muncul begitu saja. Chuuya diam di tempatnya, "…jangan kabur" Dazai mendekat meraih lengan Chuuya yang siap saja memberikan sebuah hadiah berupa pukulan namun di tahan Dazai. Dazai membopongnya layaknya tahanan di pundaknya.
"Lepaskan aku! Dazai bangsat!" teriaknya berusaha turun dari gendongan itu, menjambak rambut Dazai dan menarik-narik belakang kemejanya. Mendorong tubuhnya, Chuuya tersentak saat Dazai mslah menahannya di dinding terdekat mereka setelah berucap, "Kau tidak sabaran…"
"Apa maksudmu!" teriaknya tak senang. Dazai menahan kedua lengannya dan mengunci mulutnya yang memberontak itu dengan bibirnya, Chuuya tersentak, mendorongnya, menjambak rambutnya. Menggeliat tak beraturan, namun pada akhirnya dia ikut hanyut karna permainan lidah kasar itu yang meminta akses masuk sedari tadi.
Perlahan salah satu kaki Dazai menahan gerakannya tepat di selangkangannya, sesekali gesekan dari lututnya itu membuat Chuuya tersentak. Chuuya tak bisa menahan suaranya saat melakukan hal demikian, membiarkan mulutnya mudah di serang dengan agresifnya. Dazai mendominasi semuanya, mendominasi setiap inchi tubuhnya. Setelah bibirnya yang sudah di lumat habis-habisan.
Setelah bibir mungil itu dia mencicipi tenguknya yang sudah sering kali dijamah di setiap malam oleh Dazai, mendengus, mengisap kulit dengan lapisan ait keringat itu, mengigitnya menambah sekali lagi tanda merah di sana, Dazai menikmati semuanya. Suara yang berat berubah menjadi tone yang sangat tinggi seperti wanita jika di jamah demikian, "Hnnhh Dazz—ahh hnn! Berhen—ahh nggh!" desahnya saat Dazai membuka pakainanya dengan salah satu tangannya.
Dada bidang tanpa penjangaan berada tepat di depan matanya, dia berseringai bangga. Perlahan dia mencicipinya semua dengan mulutnya, dan sudah berapa kali Dazai merasakan dada merah muda itu, sangat nikmat yang dia tak sanggup melepaskan tautan mulutnya, di tambah erotisnya suara Chuuya. Perlahan tangannya memegang lembut benda yang sudah menegang di bawah sana. Suara Chuuya berubah saat Dazai memerasnya gemas, membuka semua pertahanan yang membuat tangannya dapat meraihnya bebas.
"Henn—berhen ahhh! Daz—pela—ahh annhh nhh~ ahh" dia tak tahan dengan kelakuan Dazai yang seenaknya saja. Dazai melakukan handjobnya yang membuat Chuuya melupakan statusnya. Dan dalam satu hentakan Dazai membaliknya, menahan tubuhnya di dinding, tangannya di arahkan ke atas.
"Apa yang kau lakukann!?" teriak Chuuya tak senang akan itu saat Dazai mengambil dasinya yang setengah bertaut di kerah kemejanya, mengikat tangan Chuuya ke atas. Chuuya menggeliat namun sayangnya geliatan itu menggesek aset Dazai yang membuatnya sangat terangsang.
Begitu mudahnya menahan tubuh mungil itu, membuka celananya dengan keterampilannya yang sekarang mulusnya bokong itu bisa di rasakan Dazai sepenuhnya. Chuuya menggeliat, percum membasahi pahanya, dia tak tahan. "Akhh!" teriaknya saat merasakan sesuatu yang keras memasuki analnya. "Sia—ahhnn!" Chuuya mengerang sejadinya, sungguh tak biasa Dazai langsung memasukinya tanpa rimming-time di jarinya itu.
Sekarang Chuuya sedang beradaptasi dengan miliknya yang cukup di katakan besar dalam ukurannya, Dazai tidak lagi menahan lengan itu yang sudah menggantung di udara dan di tahan di dinding, sekarang tangannya sudah menjalar ke setiap inchi tubuh Chuuya, satu tangannya memainkan dengan elitnya benda yang sudah licin, dan satunya memainkan dada merah muda itu dengan jarinya. Chuuya menggeliat yang Dazai mengira dia tak sabar akan dorongan.
Mulut Dazai sudah bertaut pada tenguknya yang halus, menyapu setiap inchi yang bisa ia jangkau dengan bibirnya. Chuuya masih menggeliat, dan Dazai mulai dengan permainannya. "Aku mulai…" bisik Dazai pada telinga yang sudah ranum parah itu.
"Henti—ahh!" dan satu desahanpun terucap saat dorongan mengisi penuh dindingnya.
"Dazai—hnnhh…" Dazai tidak mempedulikan ampunan itu, bahkan baginya itu adalah sebuah permintaan yang lebih.
"Dazai!" satu teriakan dengan bulir keringat takjub memecahkan mimpinya, tidak, lebih tepatnya kenangannya dulu dengan Dazai. Dazai yang mabuk, menjamahnya habis-habisan, mempretelinya, lalu menyetubuhinya -yang terlihat seperti pemerkosaan-. Chuuya bangkit dari tidurnya, terduduk memejapkan matanya, mengumpulkan semua kesadaran saat dirinya benar-benar bermimpi basah kali ini, dan satu hal yang sangat sialan pagi ini.
"Baji-" kata kasar itu terpotong saat mendengar bunyi handhonenya yang bergetar. Chuuya mengambilnya, mengangkatnya yang sangat tau akan ada sapaan dengan suara konyol akan menyapu pendengarannya.
"Selamat pagi Chuu-"
"Dazai!" Chuuya berteriak padanya, membuat yang di sana kaget, "Eh? Ada apa?" ucapnya.
Chuuya diam sejenak, dan berkata, "Ti-tidak, kau…, kenapa menelponku pagi-pagi begini?" nada seperti malu-malu.
Dazai tertawa rendah, "Begini…, aku ingin menjumpaimu, kau sudah baik? Tidak marah lagi?" suara rendah yang ramah terdengar di sana.
"Sudah ku katakan aku tidak marah!" Chuuya berteriak dengan tuduhan tersebut.
"Oke, oke Chuuya" Dazai mengalah.
"Kapan kau mau kemari?" tanya Chuuya.
"Ummm…, jam 11 malam? Bagaimana?"
"Jangan terlambat" ucap Chuuya dengan nada tidak ingin di kecewakan sama sekali.
"Oke! Umm…, ada apa? tadi kau terlihat seperti meminta tolong padaku"
Chuuya memerah mendengarnya, antara gugup, malu ataupun, bagaimanapun juga Chuuya adalah seorang pria dewasa yang pastinya tau cara melakukannya, yang sejujurnya Dazai yang selalu mengajarinya. "Aku memanas…, tadi aku bermimpi, ba-bagaimana ini, Dazai?" tanyanya. Dazai diam sejenak mendengar pernyataan tersebut.
Hening setelahnya dan suara berdehem kasar di dengar Chuuya, "Lakukan seperti yang ku ajari padamu saat 16 tahun itu…" jawabnya.
"Aku tidak-, maksudku, kau tau kan aku tidak mengerti sampai sekarang caranya!"
"Jadi selama ini kau menyuruh siapa saat aku tidak ada"
"Bu-bukan itu maksud ku!" teriak Chuuya. "-katakan saja, maksudku, aku harus apa!?" sekarang wajah Chuuya merah padam seraya memperhatikan asetnya yang sudah mengencang di sana.
"Emm…, seperti biasanya…" ucap Dazai, dan Chuuya melakukan seperti biasanya, "…kau tau kan Chuuya bagaimana fapping?"
Chuuya terpancing emosi, "Jangan tanya hal begitu padaku!"
"Baik-baik, lalu kau sampai mana?" Dazai menghela nafas. Sudah berat.
"Jelaskan saja makarel bodohh!" Chuuya tak tahan akan panasnya.
"Pegang seperti biasa…" Chuuya melakukannya dengan sangat hati-hati, "La-lalu?" tanya Chuuya. sekarang Dazai memberikannya sebuah petunjuk dan Chuuya mengikutinya dengan intens. "…seperti yang ku lakukan padamu dalam handjob, peras, pelintir, tekan, lalu pompa, lakukan terus sampai kau lega…" Chuuya tak paham namun mencoba. "A-a-aku… nhh" dan Dazai mendengarkannya.
Dazai mendengarkan semuanya, bahkan dia sudah mondar-mandir dalam kamarnya mendengar Chuuya demikian, yang berefek fatal juga padanya, "Kau baik?" tanya Dazai.
"Aku- ahh nnh! Ba-baikk, a-aku.. annhh, Da-dazaii!" di akhiri satu teriakan kecil dan Dazai mengehela nafasnya tanda lega karna tau apa maksudnya, "Kau sudah selesai?" tanyanya pada Chuuya yang terengah-engah di sana.
"Su-sudah…" balasnya.
"Bagus, banyak?"
"Tidak terlalu…" Chuuya menatap selangkangannya yang mulus sudah bacah akan cairan percum yang lengket, bahkan seprainya juga ikutan basah. "Aku mandi dulu…" sambungnya setelah menutupi benda tersebut kembali ke celananya walau masih dalam keadaan mengencang.
"Jangan lupa cuci sepraimu, ah tidak perlu juga tak apa…" ada nada menggodanya di sana, yang Chuuya sudah mematikan sinyal setelah mendengarnya.
Dazai memandang handponenya saat di matikan paksa begitu, lalu menggeleng kepalanya seraya berkata, "Dasar Chuuya, aku juga ikutan, sialan!" berjalan menuju kamar mandi, dan- melakukan hal yang sama, pagi hari yang sungguh cerah.
.
.
.
.
.
Skip next Chapter…
.
.
A/N
Ketika saya baca beberapa artikel berbau angst :'3 terutama artikel "falls to sex or orthers" im being like hurts oke… Mengerti tentang mentalis seseorang itu susah, jujur pas pertama saya buat sequel ini memang prefer ke keadaan mental seorang Chuuya, jadi yang tidak paham atau tak paham, yahh begitulah… dan dalam artikel itu lebih saltynya ketika di katakan "ketika dia tidak ingin menemui kamu dalam jangka waktu lama berarti mau end…" ( ; v ; )
Persiapkan mental di selanjutnya… gak angst kok, tenang Cylva. Mungkin?
