Tinggal-lah Selamanya
(sequel dari Tinggal-lah Sebentar)
文豪ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35
Story and Fiction by : satsuki grey
.
.
.
.
.
Declaimer:
Pairing:
Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
Rated:
M+
Warning:
Gaje asurd, Typo merajalela, AU/AR/AT, Sho-ai Sei-ai tentu saja, ADA LEMONNYA!, SLASH of LOVE, OOC kewajiban, Mature Content of course, Modern Life of Adult, R18 pardon me than perhaps falls to R21 (?), Hard, MENGANDUNG YAOI BERLEBIHAN MUNGKIN ADA UNSUR BDSM DAN JENISNYA, dll warning gak jelasnya, maka jangan di baca kecuali orang orang bhejat dan para hardcore of Soukoku :''v / berisikk
Summary:
Setelah pertemuan itu, semuanya semakin jelas akan rasa cinta milik mereka masing-masing, namun di lain sisi Chuuya bertanya-tanya pada dirinya, apa benar dia di cintai atau tidak? (Sequel dari 'Tinggal-lah Sebentar') (Mature expilicit, KIDS STAY OUT) (hadn't words in sumarry :') )
Bungou Stray Dogs
Hurt/Comfort, Drama and Romance, Tragedy, Mature-of-shit, Sequel-fanfiction, Indonesia, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
(Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini)
Tinggal-lah Selamanya
(jika belum membaca 'Tinggal-lah Sebentar' harap di baca)
Chap. 4 Joy, Love and Hope…
(Last Chapter)
.
.
.
.
.
"A-a-a-a… Da-dazai-san?" tanya Atsushi yang sedari tadi bergetar di samping seniornya. "Menemanimu malam ini, maksudnya… pergi ke Kabukicho!?" Atsushi sempat menjerit memandang laki-laki bertubuh tegap lengkap dengan tato di setiap senti kulitnya. Tak mau jauh-jauh dari Dazai bahkan sampai merangkul lengan seniornya.
"Aku kenal toko emas dengan harga murah, ah tidak bukan toko, penjual" ucap Dazai sambil tersenyum.
"Hah? Em-emas? Untuk apa!?" teriak Atsushi kalang panik.
"Ah, bukan apa-apa…, aku hanya memintamu menemaniku Atsushi-kun, kau tau… Kabukicho bukan kawasan yang baik untuk berjalan-jalan sendirian" ucapnya. Atsushi mengangguk intens.
Dazai merangkul juniornya, "Mau ku traktir minum" tawar Dazai.
"Ochazuke saja di tempat biasa" balas Atsushi dengan sweetdropnya.
Distrik merah, Kabukicho yang terletak di Shibuya, yang terlihat seperti padang sahara, perumpamaannya demikian karna banyak sekali oasis di sini, padang yang penuh nafsu di sana dan oasisi di sana-sini, bisa di lihat dari jejeran banyak toko DVD dewasa, bar, klub malam, tempat karoke, pub dan lainnya. Jujur saja, Port Mafia menjaga daerah ini dan itu sebabnya Dazai tidak pernah takut datang sendirian di kawasan rawan kriminalitas ini, namun statusnya sebagai pengkhianat bisa saja membuatnya di penggal di tempatnya berdiri.
"Ini tempatnya…" ucap Dazai memandang sebuah papan bar dengan tulisan kanji di sana. Atsushi bergidik ngeri menatap tempatnya. "Dulu ada pembunuhan di sini, sekarang tidak lagi… nahh ayo masuk…" ajak Dazai setelah membuka pintu bar tersebut, Atsushi hanya mengikuti tak jauh dari belakang.
.
.
.
.
.
Chuuya meneguk sisa alkoholnya saat suara dentuman musik sangat keras pecah di telinganya, "Bajingan Akutagawa, kemana dia!?" pekiknya kesal saat matanya di silaukan dengan panorama duniawi di sana-sini. Klub malam yang musiknya bisa membuatnya menggila di tempatnya. Antara kehilangan akal sehatnya karna mabuk dan streples atau karna hanyut dalam suasananya.
Sebuah tangan memegang pundaknya membuatnya kaget, 'ah sialan' pekik Chuuya saat dirinya mulai mencuri insting seorang gadis kelas S di sampingnya. 'Maaf nona, sepenuhnya aku penyuka laki-laki' mungkin itu yang akan di katakannya. Tidak Chuuya tidak mengatakannya saat tangannya mulai di tarik untuk ikut serta dalam kerumunan orang-orang dalam oasisnya. Berharap saja seseorang mengeluarkannya, tidak lebih tepatnya Dazai.
Dia ingat saat Dazai mengajaknya di salah satu klub langganan mereka di Kabukicho, dan mulai menggila di sudut ruangan klub atau salah satu toilet, sungguh gila. Persetan dengan pemikiran orang-orang yang mereka tidak menghiraukannya sama sekali. Bahkan Dazai sempat -hampir menyetubuhinya dalam keadaan berdiri, sialan jika dia bisa mengingat itu, mungkin memukul Dazai dengan botol bekas Wine mahalnya adalah saran bagus.
Setelah Chuuya berhasil keluar dari tumpukan kegembiraan semalam itu, dia bernafas lega. Ada Akutagawa yang berdiri di lorong klub itu, berbicara pada seorang wanita yang terlihat mengusiknya sedari tadi. Chuuya mendatanginya, dan wanita itu pergi, memakinya setelah membiarkannya sendirian di dalam sana, Akutagawa hanya mengedikkan bahunya seraya berkata, "Kau yang mau ke sini, Chuuya-san" ucapnya dan mereka mulai keluar dari klub berisik itu.
Berjalan ke tujuan awal mereka kemari.
.
.
.
.
.
Dazai keluar dengan perasaan bahagia dan Atsushi masih dengan wajah pucatnya. Mendapat sebuah pengalaman baru saat seniornya yang sialan ini menyuruhnya meneguk sebuah sake, hanya gelas kecil yang langsung di muntahi Atsushi. "Itu permulaan Atsushi-kun, dulu aku mencicipi alkohol di umur 16 tahun" ucapnya menepuk punggung Atsushi. Wajah Atsushi sudah meranum setelah mencicipi fermentasi itu di lidahnya.
"Ahahaha-ha.., maaf aku tak tahan keras sekali" ucap Atsushi menahan mualnya.
"Tak apa, kau akan terbiasa nantinya" balas Dazai santai.
Mereka jalan berdampingan, mengobrol tentang beberapa hobi mereka, dan Dazai menjelaskan beberapa toko langganannya, dan beberapa toko yang memilik direktur seorang keparat. Atsushi tertawa garing dengan sweetdrop, 'siapa yang mau ke sini coba?' gumamnya dalam hati, Atsushi mulai membuka topik, "Apa Dazai-san dan Chuuya-san dulu suka berjalan-jalan di Kabukicho?" tanyanya.
Dazai menatapnya intens. "Iya, dulu…, dulu kami sering mampir ke sebuah klub, lalu restoran. Chuuya berkelahi dengan beberapa pria yang menyentuhnya layaknya wanita, atau siapapun yang menggedor pintu kamar mandi saat aku dan Chuuya hampir melakukan itu, parah" ada suara tawa namun Atsushi malah bergidik ngeri. "Oh… begitu" balasnya pada seniornya.
"Yahh aku berharap kami bisa melakukannya lagi…, aku rindu masa-masa itu" Dazai menatap sorot lampu di pinggiran jalan. Atsushi hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ah, Atsushi-kun…, kita mampir ke toko bunga, ya" ajak Dazai yang disusul dengan jawaban "Baik." dari Juniornya.
.
.
.
.
.
Chuuya meneguk habis vodka campurannya dengan nikmatnya lalu mendesah kasar saat alkohol itu mulai menyatu dengan darahnya. Akutagawa meneguk sake dengan kadar rendah alkohol di gelasnya. "Bagaimana Chuuya-san? Enak?" tanya Akutagawa dengan sedikit simpul yang tidak bisa di lihat dengan jelas.
"Enak sekali…, dari mana kau tau tempat ini?" tanya Chuuya dengan senyuman merekah, pipi merah padam dan bau alkohol menyengat di nafasnya.
"Dari bawahanku" balasnya santai.
"Begitu…" Chuuya mengambil sebuah rokok dari saku celana dan kotaknya. Menghidupkan sebuah pematik dan mulai merasakan tembakaunya.
"Kau bisa mengajak Dazai-san kapan-kapan kemari" ucap Akutagawa sambil menyeruput sakenya lagi. Chuuya menatapnya, gusar.
Chuuya tersenyum pahit dengan kata barusan, meneguk sisa alkohol itu di cangkirnya setelah meletakkan batang tembakau di asbaknya. "Kalau aku benar-benar mau mengajaknya…" balas Chuuya. Akutagawa diam sejenak, bertanya, "Kenapa?" Chuuya memesan segelas lagi. Dan satu vodka datang dengan warna mencoloknya, Chuuya meneguknya kembali akan rasa nikmat itu.
"Kau tau… aku membencinya" ucapnya. Mereka hening untuk waktu yang lumayan lama, hingga Akutagawa menjawab perkataan barusan itu dengan guaratan meremehkannya.
"Pembohong besar, dasar…" ucapnya lalu meneguk sakenya.
"Aku terlihat seperti pembohong?" tanya Chuuya dengan nada datar.
"Sangat, kau pembohong tentang Dazai-san" balasnya yang membuat tersenyum tentang kata-kata barusan. Chuuya meneguk sisa alkoholnya dan berkata, "Aku ada janji dengannya jam 11 malam ini"
"Kalau begitu kita harus kembali…, secepatnya" balas Akutagawa menatap jam dinding yang berdetik. Sekarang jam menunjukkan pukul 10 malam lebih, mereka berdiri dari meja mereka, meminta bill dan pergi tanpa mempedulikan ada keributan di dalam restoran antara seorang anggota yang terlihat layaknya Mafia dan waittres. Chuuya memegang jaketnya dengan gayanya seraya mulutnya mengapit batang rokok yang masih menyala, menyusul Akutagawa yang sudah jalan duluan.
.
.
.
.
.
Atsushi mengehela nafas panjang setelah menemani Dazai membeli sebuket bunga dengan macam-macam jenisnya, namun yang sangat terlihat di sana adalah mawar merahnya. Mereka menelusuri trotoar setelahnya, menuju stasiun Shibuya kembali ke Yokohama.
"Ngomong-ngomong, apa yang Dazai-san lakukan saat kencan bersama Chuuya-san?" tanya Atsushi yang seharusnya jangan tanyakan hal demikian.
"Aku? Chuuya?" sekarang Dazai sudah terpancing. "Tidak, bukan apa-apa" balas Atsushi setelah melihat ekspresinya.
"Maksudku, ummm apa,ya ehehe…, ah apa saja yang Dazai-san bawa saat kencan" itu malah pertanyaan sangat fatal.
"Kami? Hmmm, biasa dalam notes ku adalah, bunga, Wine, uang, kartu kredit, dan kond- tidak, seingatku Chuuya tidak suka pakai itu, dulu aku pernah memakaikan itu padanya, setelahnya Chuuya malah melepasnya sendiri dan meminta tanpa itu. dari pada sebuah pengaman, Chuuya lebih suka pelumas" Atasushi terdiam dengan perkataan Dazai barusan. Atsushi memang remaja sudah puber tapi dia masih remaja, Dazai. "Eh-eh-eh-eh?" Atsushi tidak berkomentar hanya wajah ambigunya yang terpapat setelah mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Dazai.
"Bukan! Aku bukan kepo atau apaaa, bukann!" jawab Atsushi dengan wajah memerah. Dazai merangkulnya yang lebih pendek itu lalu berkata, "Aku tau apa yang ada di pikiranmu, dasar anak mudaa~" ucapnya seraya mengusap dengan kasar puncak kepala Atsushi dan Dazai masih setia merangkulnya. "Tidakk!" bantah Atsushi dnegan wajah ranumnya.
Namun mereka diam sejenak, Dazai diam bersama dengan Atsushi setelah bertemu pandang dengan orang yang di kenalnya sangat dekat. Yang di sana juga diam, ini di luar prediksinya.
Chuuya bersama Akutagawa, Akutagawa berdiri melongo -sepertinya, Chuuya masih mengait rokok di mulutnya. Dazai merangkul Atsushi, dan Atsushi kaget dengan adanya Ryuunosuke di depannya, gawat. Chuuya menatapnya yang merangkul erat Atsushi itu. Tidak, bukan.
Chuuya berbalik arah dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu katapun. Akutagawa tidak mempedulikanya. Satu-satunya fokusnya adalah anak beraven putih di sana.
"Chuuya!" teriak Dazai menysusul Chuuya, mengejarnya yang meninggalkan Atsushi dengan perasaan tak nyaman lagi.
"Dazai-san!" teriaknya dengan wajah pucatnya setelah Dazai berlari begitu saja, Akutagawa mendekat, Atsushi terdiam. "Jinko…" panggilnya layaknya seorang pembunuh.
"Kon-konbawa…, ya? apa?" tanyanya ambiguan.
"Ikut aku…" ajak Akutagawa dengan wajah penuh kemenangan, malam ini.
"Ke-ke mana?" tanya Atsushi sudah kalang kabut.
"Kabukicho… setelahnya…" Atsushi merinding saat tangan pucat yang lebih besar itu menyentuh pergelangan tangannya. "A-apa?" ucapnya gugup.
"Love Hotel…" balas Akutagawa yang langsung menariknya kembali ke distrik merah, dan lontaran tangisan meringis meminta pertolongan pada seniornya terlontarkan, bunyinya; "DAZAI-SANN!" dan tidak ada yang peduli hidup Atsushi malam ini.
Dazai mengejar raga itu yang menyatu dengan kerumunan di trotoar padat Shibuya, Dazai bisa melihat siluetnya, namun di detik berikutnya semua menghilang layaknya sebuah mimpi dan Dazai tenggelam di dalamnya. Chuuya menatapnya yang sudah berada di bis menuju Yokohama. Tidak peduli tentangnya lagi, kemungkinannya.
Dazai berkutik setelah tau apa yang ada di pikirannya dan berlari menuju stasiun secepatnya.
.
.
.
.
.
Chuuya membanting pintu apartemennya kasar, membuka sepatunya, tidak mempedulikan apapun sekarang, dia mengambil alkohol kalengan dari kulkas, mengeluarkan satu ring di sana, membuka salah satunya dan meneguknya layaknya kehausan. Setelah satu selesai dia memeras kaleng itu sampai penyok, dan membantingnya begitu saja, lanjut ke kaleng berikutnya.
Dazai terengah-engah dengan pengejarannya yang sekarang dirinya sudah sampai pada apartemen milik Chuuya, membuka pintunya yang tidak di kunci, setelah masuk dia mengunci pintu apartemen tersebut. Meletakan sepatunya, dan matanya sudah melihat jaket milik Chuuya tergeletak di lantai, bersama dengan kaus kaki, dan topi jenis pedoranya. Dazai mendengar bunyi, mendekati ruangan dapur yang bunyinya berasal dari sana.
"Chuuya…" panggilnya. Chuuya tidak menoleh. Duduk membelakanginya. Dazai melihat beberapa kaleng minuman penyok yang bergeletak di sekitarnya, meletakan buket bunganya di lantai. Dan dalam satu hempasan sebuah pisau yang tepatnya pisau dapur dia lempar ke arah Dazai yang di hindari dengan refleks bagus. Pisau itu bertancap pada dinding, Dazai sedikit terdiam.
"Kau kenapa!?" tanya Dazai.
"Untuk apa kau kemari!? Pergi kau! kalau bisa, jangan kembali!" teriaknya, itu kebohongan. Parah sekali.
"Aku datang kemari sesuai janji, kan?"
"Pergi saja, aku tidak butuh kau!" Chuuya bangkit dari duduknya berteriak tak senang dengan Dazai.
"Kau ini kenapa!? Kemarin kau menangis, tidak mau bercerita, lalu kau menyuruhku pergi, padahal aku sudah sangat baik padamu, Chuuya" Dazai sedikit membentak juga, tentu saja dia juga ikut emosian.
Chuuya merasa pedih bahkan dia sampai terduduk di tempatnya, Dazai datang menghampiri yang di hadiahi teriakan, "Ku billang pergi!" dan di bekap langsung oleh sang jakung dengan hangatnya. Chuuya terdiam, setelahnya berteriak, merontah parah, menangis tak jelas, memakinya, apapun itu untuk melepasnya, bahkan memukul-mukul dadanya dengan kuatnya yang di tahan oleh Dazai dengan sangat tulusnya.
Chuuya tenang setelah bermenit-menit sangat kacau dalam depresinya. Oh, seandainya dia bisa bertanya, hanya bertanya.
Dazai merasakan tubuhnya bergetar parah, dan membekapnya semakin erat.
"Aku…" Chuuya membalas pelukan itu, "…takut kehilanganmu…" ucapnya parau, memeras kemeja itu, "Aku…" ada sebuah bisikan parau, jantungnya berdegup kencang, "…perlu sebuah alasan kenapa kau berada di sini untukku…" memeluk raga itu di dekapannya, "Aku…" membelai lembut punggung dengan mantel buruknya dan bernafas di dadanya, "…kacau saat ini, aku berkabut akan pemikiranku sendiri, maaf…" dan Dazai mendengarkan.
"Dazai…" satu panggilan membuatnya menatapnya. Dazai melepas rangkulan tersebut. Menunggu Chuuya menyelesaikan kata-katanya, lihatlah… mata sendu, pipi meranum, bibir bergetar, dan tatapannya, kalang kabut. Ini sangat retak nan parau, "Lanjutkan Chuuya…"
Chuuya mengarahkan tangannya di depan dada Dazai, membelai dadanya dengan pelafalan setiap menyebutkan nama Dazai, meminta perhatian dan Dazai memperhatikannya, "Dazai…, Dazai…, Dazai…, Dazai…" mengucapkan nama itu dan satu bulir air mata terjatuh, nafas menyengat dengan alkohol tak membuat Dazai menjauhkan jarak yang dekat itu.
"Katakan…" bibirnya mulai bergetar, tangan Dazai menyapu bulir air matanya, "Katakan kalau kau mencintaiku…, jelaskan semua yang ingin ku tau" Dazai tersenyum dan menjawab, "Apa yang mau kau tau, Chuuya?"
"Dazai…" panggilnya seraya menyentuhkan dahinya pada dahi yang tertutup raven coklat lebat, "- kau kembali untukku, kan? kau ingat malam setelah empat tahun itu, kan? kau ingat saat kita bercinta dan kau memintaku menjalin kembali, kan?" Chuuya bertanya, semuanya.
"Iya…, aku ingat" jawab Dazai merendah.
Chuuya menunduk, tak ingin menatapnya, "Apa kau ingat pertanyaanku saat malam pertama kali kita melakukannya, di malam kau menyatakan perasaanmu padaku? Ingat?" Dazai diam sejenak. Dia, tidak ingat.
"Maaf…, ingatkan aku…"
Chuuya memukul dadanya sekali dan berteriak, "Itu permasalahanku, bodoh!" jeritnya, namun Dazai tak marah sedikitpun.
"Katakan saja Chuuya, aku takkan tertawa, tidak akan…" ada senyuman hangat yang meyakinkannya. Chuuya bergetar, mendekatkan jarak semakin erat, memeluk raga yang tak ingin pergi begitu saja, tidak, meminta Dazai pergi sekali lagi adalah keputusan terbodoh, Dazai di sini, untuknya.
"Kau…" Dazai mendengarkan, "…mencintaiku" masih mendengarkan, "-dari apa?" sekarang Chuuya mengatakannya setelah sekian panjangnya hatinya menolak untuk meyakinkan dirinya ragu atau tidak sama sekali. Dazai diam, bibirnya tertutup rapat, pandangannya lurus ke Chuuya. Dan satu kecupan mendarat pada bibir Chuuya.
"Itu, aku mengingatnya sekarang" balas Dazai. Dia membopong tubuh Chuuya untuk bangkit, duduk bersebelahan, dan Dazai menggenggam hangat nan lembut tangannya.
"Maafkan aku Chuuya…" ucap Dazai. Chuuya menatapnya kaget.
"Karna membuatmu menangis beberapa hari yang lalu" sambungnya, seraya membelai lembut pipi yang sudah sembab itu.
"Aku ingat yang ku katakan, maafkan aku…, aku tidak bermaksud, maaf!" lalu mengambil tangan mungil itu dalam kedua tangannya menciumnya seraya menunduk. Chuuya memperhatikannya. Dazai masih diam, masih membekap tangan mungil itu lembut, bernafas di atasnya. "Dazai…" panggil Chuuya, Dazai tidak menoleh. Masih diam, dan 3 menit berselang dia memandangnya dengan beningnya coklat di matanya dia menatapnya.
"Aku mencintaimu dari segi apapun" ucap Dazai.
"Kau ingat dulu…, apa yang ku katakan padamu?" Chuuya diam mencoba mengingat, dia diam, dia tidak mengingat apapun. Dazai tertawa rendah membuka suara, "Tidak masalahkan aku mengatakan pada orang yang bernasib sama?" ucap Dazai yang sekarang Chuuya mengingatnya.
Mereka bertemu di pelabuhan, mereka di putuskan menjadi rekan, Dazai berkata demikian. Dia ingat, ingat tatapan mungil yang selalu ingin tau segalanya dulu pada dirinya, pada usia mereka 10 tahun. Mereka sangat jauh, namun pada akhirnya menjadi dekat. Dekat, semakin dekat, di isi dengan kegilaan dan kepuasan. Chuuya menatapnya yang sangat lekat sekarang.
Satu tetes air mengalir dari matanya dan Dazai dengan lembut menghapusnya.
"Aku mencintaimu karna Chuuya, adalah cerminan diriku" ucapnya, Chuuya mulai berkedip paham dan tak paham.
"Aku mencintaimu dalam segala hal, sifat, gaya pemikiran, tubuh, mental, kegemaran dan lainnya. Karna Chuuya, aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya, karna Chuuya aku menjadi lebih memandang dunia dengan cara yang berbeda pula, aku mencintaimu sepenuhnya, tidak kurang, sungguh…, percayalah…, itu alasan yang membuatku…" Dazai tertawa rendah, berusaha menutupi wajahnya yang mulai memerah, "-malu, astaga…" memandang Chuuya yang masih diam.
"Kau hanya tinggal bicara padaku, sayang. Tidak ada eksekusi yang membunuh pikiranmu itu, kau bebas padaku…" balasnya. Dazai mengarahkan dagu itu. "Kau paham? Aku merindukanmu, sungguh" sambungnya.
Chuuya diam senjenak, Dazai juga sama. Lalu dia memberikan sebuah kode, Chuuya memberikan sebuah pelukan setelahnya tersenyum lembut, "Terima kasih…" balas Chuuya, mencium pundak itu. Dazai membalasnya intens, memeluknya erat.
"Jangan berpikir lagi seolah-olah aku tidak mencintaimu sepenuhnya, oke?" Dazai berkata padanya, berbisik tepat di telinganya.
"Oke…" balas Chuuya rendah menutupi warna pipinya.
Mereka hanyut dalam pelukan, beberapa menit terlewat, dan denting jam menunjukkan pukul 11:30 terdengar. Dazai melepasnya lalu menatapnya dan bangkit, mengambil buket bunganya yang tertidur itu.
"Ini Chuuya…" Chuuya memerah setelahnya, mengambilnya dan wajah manis-cemberutnya terpapat. "Terima kasih…" terlintas dengan sebuah kata-kata.
"Kau di Shi-"
"Atsushi menemani untuk urusan pekerjaan" balas Dazai saat tau itu akan di tanyakan. "kebetulan kita bertemu di sana, ya? kau bersama Akutagawa, kan? kalian sedang apa?" tanya Dazai duduk di sampingnya.
"Dia memiliki rekomendasi restoran dengan alkohol enak" balas Chuuya, senyumnya merekah dan berkata, "kapan-kapan…, mari ke Kabukicho" tawarnya dan Dazai tertawa mendengarnya.
"Mau ke mana? Klub? Bar? Karoke? Atau… love hotel?" Chuuya meranum setelah mendengarnya dan memberikan cubitan di pipi Dazai. Dazai tertawa rendah dan berkata, "Aku rindu masa-masa itu sih…" balasnya.
Chuuya duduk sekarang di salah satu paha Dazai setelah meletakkan buket bunga di meja makan. "Begitu?" ucap Chuuya memperhatikan Dazai yang tersenyum senang karna Chuuya sendiri.
"Iya, kau tidak?" tanya Dazai merangkul pinggulnya, sekarang Chuuya menindihnya, dan berseringai. "Tentu…, aku mau menghajar para bajingan setelahnya" ucapnya membuka dasi dengan manik biru dari kerah kemeja Dazai, meletakkannya di atas meja.
"Jadi sekarang, kau mau apa? menghajar para bajingan? Atau duduk di atasku dan mempreteliku, Chuuya?" tanyanya. Chuuya bercemberut mendengarnya, "Menghajar bajingan seraya mempretelinya" balas Chuuya tak mau kalah. Dan yang dimaksud adalah Dazai.
"Dasar…" Dazai melakukan hal yang sama. Namun dia tersentak setelah Chuuya menekan bibirnya pada bibir Dazai, Dazai terbelalak dan membiarkan Chuuya hanyut dalam permainannya. Chuuya mendominasi dan Dazai membiarkan si mungil yang sudah redah dari masalah mentalnya mencicipinya. Apa salahnya? Malam ini akan sangat panjang.
Chuuya menarik diri dan Dazai menatapnya penuh seringai, "Apa itu Chuuya?" tanyanya. Yang di sana menjawab santai, "Rangsangan" seraya mempreteli kancingnya. "Kau mau?" tanyanya yang sekarang Dazai menelan ludahnya.
"Kau yakin?" tanya Dazai. "Karna malam ini tidak akan sebentar Chuuya…" sambung Dazai.
"Aku akan biarkan kau melama-lama kalau kau mau, tapi…, biarkan aku berkuasa untuk sekarang, oke?" Dazai sedikit terkaget dengan kata tersebut.
"Silahkan tuan" ucapnya yang setelahnya Chuuya membuka setiap kancing kemeja tersebut. Setelah keeksposan tubuh itu terlihat jernih di matanya, Chuuya menautkan bibirnya pada Dazai, dan Dazai membiarkannya memasuki mulutnya. Mereka bersenang-senang. Chuuya memoles, mengigit, mengecup, semuanya sangat seduktif saat ini, bahkan pinggulnya yang awalnya diam sekarang sudah mulai bergerak-gerak ke atas dan kebawah yang sengaja asetnya yang masih terbungkus rapi dia sentuhkan pada aset milik Dazai.
"Hnn…, Dazai…, kau suka… ngghh" dan lenguhannya dia keluarkan tepat di telinga Dazai, Dazai sedikit memanas dan Chuuya bangga akan hasil kerjanya, Dazai menarik pinggulnya erat, dan membalas dua kali lipat ciuman ganas itu, Chuuya melenguh dan pinggulnya tak berhenti. Sang uke menggila, entah efek apa dia juga tak tau, kebahagiaan mungkin atau kesenangan karna pikirannya sudah tidak berkabut lagi.
Dazai melepas ciuman itu tetibanya membuat Chuuya menatapnya tak senang, "Apa yang kau lakukan!?" dengan teriakannya.
"Aku haus Chuuya, biarkan aku minum sebentar" dia menyingkirkan Chuuya, yang perlu beberapa detik hingga Chuuya menyingkir darinya, agresif sekali.
Dazai berjalan menuju kulkas, di ambilnya air dingin dari kulkas dan mulai meminumnya, "Kau sedang apa? kau minum apa!?" tanya Chuuya curiga setelah melihat Dazai seperti memakan sesuatu. Dazai berjalan ke arahnya yang duduk di pinggiran meja sekarang.
Dazai berada tepat di depannya. "Kau mau tau?" tanyanya.
"Hm"
"Viagra"
"Brengsekk! Kenapa kau minum itu!?"
"Aku ingin beronde malam ini Chuuya, kau mau?" Chuuya memakinya namun Dazai masih santai dan menawarkan pil tersebut pada Chuuya. Chuuya gusar, antara ingin dan tidak.
"Kita bisa orgasme sesuka kita~" ucapnya, seperti memaksa dan Chuuya tak suka nada itu.
"Baik, berikan padaku"
"Aku dua dan kau satu" dan hal tersebut mendapat protes dari Chuuya, "Dua juga!" ucap Chuuya mendesak. Dan Dazai mengeluarkan 2 pil untuk di minumnya, namun tidak, Dazai meminum obat tersebut mendapat protes dari Chuuya, memberikan bibirnya untuk Chuuya.
"Ini…" Dazai meraih dagunya saat pil itu sudah tercampur dengan air dan saliva di mulutnya. Chuuya kaget dan terbatuk akan perlakuan tersebut. Namun Chuuya membawa hal tersebut hanyut padanya, ya malam ini akan terasa panas.
Chuuya meluncur mulus dan tertidur di atas meja. Bibir bertautan erat, saling memainkan lidah dengan agreasifnya, dalam dan panas. Dazai melepasnya, mencicipi tenguknya sekarang, tidak melepas chokernya, sengaja. Chuuya melenguh, memeras, menarik, dan bahkan memukul kepalanya, namun Dazai biarkan. Kemeja di singkirkan yang dada bidangnya terlihat sempurna, Dazai mencicipinya lagi, mulutnya mengapit ke nipplenya, menyapunya dengan lidahnya, mengigitnya keras sampai warnanya lebih merah dari sebelumnya, Chuuya menjerit, tangannya jatuh lemas, dan hanya itu perlawanannya. Tangannya memeras benda yang sudah mengencang di selangkangannya, Chuuya melenguh bahkan meminta untuk di bukakan, dan Dazai menurutinya dengan senang hati.
Sudah terbuka, Dazai masih menciumi dadanya, satu tangan di satu tonjolan dada lainnya dan satunya memainkan asetnya dengan bahagianya. Chuuya? dia hanya mendesah.
Satu jari dia berikan pada Chuuya, "Aku hanya akan melakukan rimming sekali malam ini… yahh kita lihat saja" ucapnya dan Chuuya menatapnya penuh jengkel. Dia mendorongnya masuk, tau di mana letaknya, dan di sananlah dia mendorongnya masuk, lebih dalam lagi. Di tambah satu lagi dan Chuuya menggeliat, dan di tambah satu lagi dan Chuuya menjerit. Dazai bermain gila dengan jarinya dan Chuuya memberikan desahan sebagai penuntunnya. Memujinya dengan tatapan serigala akan nafsu, dan Dazai tak tahan akan itu. bermenit-menit lamanya dan dia selesai sekarang.
Kakinya sekarang di angkat Dazai ke pundaknya, setelah melepas tautan mulutnya di tonjolan dada itu, dan kembalilah bibir mereka bertautan erat dan saling menyerang satu dan lainnya. Mereka mengerang, mereka mendesah, dan Dazai yakin akan sesuatu yang membuat Chuuya merasa sangat liar malam ini.
Dazai melepas tautan tersebut, memandang Chuuya yang sudah penuh akan fantasi erotisnya di matanya, Dazai berseringai puas, sudah lama juga, 3 hari, tidak terlalu- namun bagi mereka yang rindu akan nafsu pastinya lama. Dia akan melakukan pemanasan, "Mau ku tunjukkan sesuatu?" tanya Dazai.
"A-apa?" Chuuya mengelap bibirnya yang basah akan saliva, nafasnya berat namun masih bisa berkata. Matanya sayu dan Dazai suka itu.
"Ini baru dari ku Chuuya, angkat pinggulmu" ucapnya saat Dazai mulai bangkit dari tidak menempel lagi padanya dan Chuuya hanya menurut.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya sang uke.
"Pemanasan, pembukaan, hal yang baru, servis untukmu, perhatikan aku, tatap aku Chuuya…"
Chuuya hanya memperhatikan setelah memakinya, jujur saja masih sempat dia memaki Dazai bahkan saat bercinta begini. "Kita tidak biasa di sini, pindah" ucapnya tak senang akan posisinya.
"Tenanglah" Dazai menangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi, menahannya pada pundaknya dan sekarang bagian belakang Chuuya menyentuh selangkangnya. Dia tau ini akan membuat Chuuya keram, namun tidak lama. Dazai tidak pernah mencoba posisi ini padanya bahkan saat di mafia, sebut saja Bycycle dan Chuuya memuji setiap keterampilannya, juga mencintainya. "Tahan di sana" ucapnya meraba mulus bokong, menahannya dangan tangannya yang pelindungnya sudah di preteli dan berserakan di lantai.
"Apa yang- AHNN!" teriaknya saat dindingnya mulai menabrak sesuatu. "Kauu!" teriaknya namun diakhiri sebuah desahan saat Dazai mendorong masuk asetnya pada liangnya.
"Kau suka?" tanyanya memperhatikan mulut kecil itu meraup oksigen dan wajahnya yang sudah memerah akan kenikmatannya.
"Nnghh…, nhhn ahnn" Chuuya mulai mendesah setelah Dazai menggoyangkan pinggulnya secara erotis membuat Chuuya menggila di bawahnya. "Akhh nnhh… ahh ahh" dan goyangan pinggul itu semakin kecang dan tangan Dazai tetap menahan kedua kaki Chuuya yang berdiri di udara. Chuuya mencakar-cakar meja, tak tau apa yang harus dia cengkram sebagai pedomannya sekarang, mungkin hanya desahan.
"Hentii—ahh ahnn le-lebihh Daz—a-aku…" kembali dia meraung dengan lengannya yang sudah berada di keningnya, merasakan setiap dorongan itu mengocok semua bagian sensitifnya. Dan Dazai senang akan hasilnya.
"Kau suka? Kau mau lebih, hmm?" tanya Dazai yang di balas dengan lengkungan tubuh Chuuya yang tandanya, 'iya'. Dazai semakin gencar bermain dengan pinggulnya, semakin mendorong asetnya. Dalam, liar, panas, cepat, gesekan bertambah di ikuti desahan yang mengisi ruangan memasak ini, dan mereka sungguh gila melakukan hal tersebut.
"Aku—ahh ahh su-suka.., nnnggh ah ahnn arrghh la-lagi… lagi Dazai… nnngahh la-lagi~" ucapnya dengan suara yang tidak dia ketahui lagi pemiliknya. Dan Dazai semakin gencar memainkan goyangan erotis itu hingga tubuh Chuuya melengkung semakin mejadinya saat asetnya mulai mengeluarkan cairan susu berlebihan, tumpah membasahi perut dan meja.
Dazai memperhatikannya, menatapnya yang sudah panas duluan, namun Dazai masih belum, dia akan memperlihatkan bagimana caranya bermain. Dazai masih menahan kaki mulusnya itu dan mulailah dia memainkan kembali pinggulnya, semakin kasar, dalam, gila, dan Chuuya mendesahkan semuanya, bahkan makian sekalipun.
Chuuya membuka matanya, menatap ekspresi sang seme saat bercinta dengannya, mata yang tertutup manis, mulut yang setengah terbuka, keringat yang membasahi rambutnya, keningnya, seluruh tubuhnya, memperhatikannya memainkan tubuhnya dalam permainan gila ini, dan Chuuya jatuh cinta pada pandangan mata hazelnya yang membuatnya tunduk dan tenggelam. "A-a-ahh nnhh Chuu-" satu kata itu terpotong saat Dazai membenamkan seluruh miliknya yang sudah berdenyut panas dan mengeluarkannya tepat di titk kelemahan Chuuya.
Chuuya menjeriti namanya di sertai erangan saat panasnya cairan itu memenuhi tubuh dan liangnya, merasakannya seutuhnya. Mereka tidak jatuh di karenakan pil tersebut, dan merasakan khasiatnya. Terpujilah Kabukicho dan orang yang menjualnya. Dazai mendekat padanya memberikan sebuah kecupan yang di balas sedemikiannya oleh Chuuya. "Da-daz—hmmphh!" ucapnya saat mulut itu di kunci kembali dan Dazai melepasnya, "Apa?" tanyanya.
"Aku bisa keram, lanjutkan di kamar saja…" sekarang wajah itu sudah penuh peluh.
"Hmm? Kau yakin? Kau suka tadi?" Chuuya memerah setelah mendengarnya, menatapnya jengkel namun ada anggukan. Dan Dazai mentertawakannya yang semakin memerah itu.
Perlahan dengan keterampilannya dia menggendong Chuuya layaknya pengantin di malam pertama, bagaimana tidak di bilang malam pertama? buket bunga yang terletak di meja masih Chuuya ingat, dan membawa itu bersama mereka. Dazai mengangkatnya setelah membenarkan celananya sendiri namun membiarkan bagian bawah Chuuya tidak di benarkan, menutupinya dengan mantelnya seperti selimut dan membawah tubuhnya yang mungil, imut, kecil, dan mudah untuk di angkat begitulah.
Mereka sampai di ruangan tidurnya, mewah, modern, klasik bergaya kesukaan Chuuya, dan mudah saja Dazai menutup pintunya dengan kakinya, jangan lupa mengunci pintu. Dazai membawa Chuuya ke tempat tidurnya, Chuuya duduk di pinggirnya menatap Dazai mengisyaratkan untuk menunggunya. Dazai menutup semua tirai, namun Chuuya mendatanginya saat tirai terakhir di tutup.
Dazai memperhatikannya yang hanya memakai kemejanya yang semua sudah di buka kancingnya, chokernya yang masih ada, dan- celananya yang sudah terlepas sepenuhnya. Dazai menghadiahkan sebuah pelukan setelah menemukan raganya pada Chuuya, bertautan lidah saat Chuuya mendongak dan membiarkannya menyerangnya.
Menuntun salah satu kakinya memeluk raganya, dan ciuman semakin panas. Dazai membopong dirinya lalu merebahkannya di kasurnya. Menatapnya hangat dan berbisik, "Sekarang Chuuya…" menautkan mulutnya di sekitar tenguknya, "-kau mau apa, yang seperti apa? hmm?" ada sebuah dengusan dengan senyum. Dan Chuuya menatapnya dengan jengkelnya tak lupa memberikan sentilan di keningnya.
"Lotus" ucap Chuuya, dan di berikan respon satu alis terangkat saat mendengarnya namun senyum masih merekah di bibir tipis sang jakung. Dia terheran.
"Baik" Dazai memberikan kecupan di kening dan duduk bersila, sementara Chuuya menyibakkan seluruh rambutnya sendiri yang sudah sembab.
"Apa maksudnya ini? Kau ingin mendominasi semuanya malam ini?" tanya Dazai membuka relsletingnya dan menurunkan beberapa senti dari pahanya, dan di tarik Chuuya secara kasar membuat Dazai menatapnya dengan senyum, "Jangan kasar-kasar"
"Jangan melarangku" satu kecupan pelan di berikan pada Dazai, Chuuya menepihkan celana pendek Dazai, dan kejantanannya langsung berdiri tegak saat menyingkirkan kain itu.
Chuuya menelan ludahnya, menggigit bawah bibirnya. Ini pemandangan langkah untuk Dazai di mana Chuuya akan memberikan rasa nikmat dengan caranya sendiri. Chuuya meraih milik Dazai, memainkan miliknya yang membuat Dazai sedikit memerah di wajahnya. Ujung benda tersebut di arahkan pada lubang ereksinya dan perlahan membenamkan ujungnya.
"Akhh!" Chuuya melengkung merasakan rasa nikmat itu kembali. Dan sepenuhnya dalam hentakkan yang di buat oleh pinggulnya sendiri dia membenamkan milik Dazai padanya, mendesah, kakinya yang berada di antara tubuh Dazai seperti mereka jika ingin sit-up. Dazai menahan tubuhnya yang hampir tumbang dengan lengannya, Chuuya mencengkram pundaknya, menerawang langit-langit dan dia menatap Dazai yang memberikan sebuah senyuman tanda kalau semua baik-baik saja.
Chuuya mendekat, tubuh mereka lengket, mereka basah akan keringat, biarlah, itu sehat. Perlahan Chuuya memberikan hentakan pada daerah berbahaya tersebut, Dazai tidak membantunya, lagi pula ini kemauan Chuuya. Chuuya mendominasi dan mendesah dengan pekerjaannya tepat di telinga Dazai, membuat benda miliknya makin berdenyut di bawah sana.
"Ahh ahh ahh Dazz-nhh nngg di-di-ahh, Dazai… AAA! Ka-ka-kau su-hnn-suka? Ka-kau su ahh—suka? Nnhh nnghh!" dan Dazai hanya tersenyum di balik pelukan tersebut, mungkin Chuuya sudah gila karna obat tersebut, lihat saja caranya menghentakkan pinggulnya sendiri yang mungkin dia ingin membuatnya keluar dalam posisi ini.
Dalam gilanya erangan yang mereka ciptakan selama 15 menit lebih, dan hebatnya Chuuya tidak kelelahan sedikit pun, Dazai memuji tubuhnya yang gila itu, dengan mengigit pundaknya, menciumnya, dan mendengarkan makian asamnya yang di campur oleh desahan manisnya.
Gerakan itu semakin cepat, semakin dalam, sperma membasahi tubuh mereka yang semakin lengket, warnanya menyatu dengan seprai, dan Dazai tak mampu menahan suaranya, "Nhh Chuuya…, pintar-ahh Chuu-" menggigit bibir bawahnya berusaha merendamnya namun Chuuya tak ingin itu, dia mau sang seme memujinya dengan lenguhannya, dan dalam satu hentakkan yang sangat kasar Chuuya membuatnya menjerit, "Chuu- AAHH!" dan Chuuya berhasil membuatnya keluar. Mereka diam merasakan hentakkan itu, Chuuya kembali penuh, dan Dazai kembali mencapai nikmatnya, mereka dalam fantasi sekarang. Tiga menit berselang dan Chuuya melepas tautan tubuhnya dengan desahan kasar akan hilangnya kesenangan tersebut. Dazai menatapnya, ada guratan kesal namun ada senyum bangga padanya.
"Sialan kau!" komentarnya. Chuuya berseringai, dan mencium bibir itu erat, memoles bibirnya dengan lidahnya dan berkata, "Hm? Tapi kau menyukainya, kan?" meremehkan lawannya.
"Akan ku beri kau tiga kali lipat setelahnya." Balas Dazai dengan seringai tak mau kalah.
"Yakin?"
"Hm, ya- huwaa!" Dazai di dorong dengan kasar di atas tempat tidur, Chuuya menahan gerakannya dengan kucian yang sangat dia handalkan untuk musuh dan untuk Dazai.
"Kau mau apa!?" Dazai kaget dengan itu menatapnya penuh curiga -tidak terlalu dia bisa menebak apa mau Chuuya kali ini, dia akan membiarkannya sampai lelah, dan membalasnya nanti. 'liat saja kau, kecil' gumamnya.
"Memberimu servis…" Chuuya tersenyum, membelai belahan dada tertutup perban itu di tengahnya dengan jari telunjuknya, Dazai diam. "Memberimu tontonan…" Chuuya menepihkan kemeja yang menganggu itu, "Lalu?" tanya Dazai dengan seringainya.
Chuuya memijitkan matanya dan masih setia berseringai, mendekat pada telinganya, "Men-di-sip-lin-kan-mu!" Dazai tidak bisa berkomentar saat tangannya di arahkan kasar ke atas dan di borgol dengan kasar -borgol? Chuuya di biarkan menunggu walau hanya untuk tirai bukan artinya dia diam menunggu, menyelipkan borgol itu di balik selimut tanpa sepengetahuan Dazai adalah hal yang mudah.
Chuuya merekah bahagia, kesadoannya muncul. Dazai menelan ludahnya.
"Kau mau apa?" tanya Dazai sudah kalang kabut, "Chuu- YAA!" di akhiri teriakan setelah Chuuya menarik perbannya yang menuntupi dadanya, Chuuya tau ada luka di sana, tidak, dia tidak berniat menambahkan luka. Hanya menarik perban itu yang melilit agar semakin kencang sebagai pengganti tali.
"Kau, hati-hati!" ucap Dazai sedikit kesal, tapi tidak sepenuhnya. Chuuya mendekat, menatapnya datar.
"Kenapa kau mau bermain SxM hah? Aku ada salah apa padamu?" tanya Dazai yang sudah keheranan dengan sifat kekasihnya ini. Sudah di ambang pemahamannya.
"Membuatku menangis dua hari yang lalu" Chuuya masih datar menatapnya.
"Apa itu termaksud!?"
"Iya"
"Aku tak menahu tentang perasaanmu saat itu, lalu ke- ahh! Chuuya!" Dazai protes setelah si petite mafia ini mencubit kedua nipple dengan tangannya. Chuuya tersenyum, Dazai sudah berdoa tidak di apa-apakan olehnya, berpikir tidak ada apa-apa adalah hal yang salah.
"Tenanglah Dazai, aku tidak akan membrutalimu, aku hanya ingin di atas sekarang. Tapi, mengasarimu itu tidak bisa ku hindari" Chuuya membuka kemejanya sendiri, dan dia sukses bugil di hadapan Dazai, tidak dengan chokernya di lepaskan, karna tau Dazai suka dengan tubuhnya yang polos dengan kalung hitam tersebut, Dazai menelan ludahnya sendiri.
"Kau yakin? Kau tidak bisa berjalan selama seminggu nanti" ucapnya pada Chuuya.
"Aku punya lembur selama itu, jadi aman. Kalau tidak aku mungkin juga tidak pergi malam ini dengan Akutagawa walau dia memberiku janji kemarin" Chuuya mendekat pada Dazai.
"Dari mana!?" tanya Dazai heran. Chuuya menjawab "Setelah di beri hadiah oleh si pedo atas prestasiku hari ini, diam dan biarkan aku mendidikmu" dan membuat Dazai Memaki Mori dalam hatinya karna memberikannya bonus di akhir pekan. Tapi itu juga sebuah anugrah juga, tidak, dia bersyukur.
"Bagaimana deng-" mulut itu di tutup oleh tangan Chuuya.
"Bukannya kau yang minta mau beronde malam ini?" ada seringai yang membuat peluh di kening Dazai menurun, menjawab "Tidak dengan kau yang di atas."
"Terima saja" dan Dazai memang menerimanya, Chuuya mulai menyerangnya dengan dirinya dalam posisi atas. Hal pertama yang di lakukan Chuuya pada Dazai adalah mengunci bibirnya ketat dalam bibirnya, menyapunya dengan lidah yang dia basahkan akan salivanya, melenguh rendah untuk nada malam ini, mengigit bibir lembut yang dia cintai, memoles lidahnya, menariknya mengajaknya berdansa dalam iramanya, semuanya. Dagu, sekitar mulut dia poleskan dengan indah.
Leher penuh perban itu dia dengus dengan instingnya, membuat Dazai bergumam namun di tahannya, dan Chuuya berkomentar akan sifatnya, "Mendesahlah bajingan, aku tak tau kalau kau suka atau tidak" ucapnya. Dazai menaikan satu alisnya, "Kalau itu maumu, tapi aku tidak separahmu" di hadiahi sentilan di keningnya.
Chuuya membuka perban itu, menatap goresan luka, tanda merah akan tali yang di ikat pada lehernya sebagai percobaan bunuh dirinya. Menjilatnya, memberikan kelembutan atas luka itu. Dazai mendongkak, menggigit bibir bawahnya. Dia meniru Dazai saat bermain di sana, mungkin memberikan tanda salah tidak? Hey dia juga pria, jadi tidak masalah.
"Akh!" Dazai tersentak saat Chuuya mengigit tenguknya, menarik kulit itu dengan mulutnya dan menghisapnya sampai merah. Dazai memujinya dengan penyebutan namanya, "Pin-tar.." dan sang seme melakukan perintahnya.
Chuuya menatapnya sambil membuka lilitan perban itu dari tubuhnya, "Kau tidak mau mengikatku? Kau bilang mau mendisiplinkan aku, kan? mana?" seperti mengejek.
"Mau ku tutup matamu?" tanyanya datar.
"Jangan Chuuya, tidak" tentu menolak itu, dia bisa kelewatan tontonan Chuuyanya mendesah di atasnya nanti.
"Jadi diam, kalau kau melawan, aku akan menarik seperti ini" dan Chuuya menarik salah satu helai perban yang sudah dia simpulkan seperti tali pada Dazai, dan Dazai tersentak akan ikatan di sekitar dadanya itu.
"Oke, oke…, lakukan saja, Nona" ucapnya dan di balas guratan tak senang.
Mereka hening sejenak, Chuuya masih membuka lilitan perban itu dan Dazai mulai mengangkat topik, "Chuuya, boleh aku bertanya?" dan Chuuya menatapnya. "Apa?" balasnya.
"Dulu saat aku tidak ada, kau melakukan ini pada siapa?" Chuuya diam, lalu dia menghela nafas.
"Tidak ada" jawabnya yang di tanya kembali oleh Dazai, "Kenapa?"
"Hanya kau yang bisa merangsangku, itu saja" dan jawaban tersebut membuat Dazai tertawa geli mendengarnya, dan Chuuya mencubitnya karna ejekannya.
"Tapi…" Chuuya membuka suaranya, mendekat pada Dazai setelah membuka sebagian perbannya, melihat semua luka Dazai di dada, pinggang, pinggul, seluruh tubuhnya yang tertutup. Dazai bertelanjang dada, namun celana kremnya masih di kakinya. "…aku pernah melakukan seks pada wanita" sambungnya dan Dazai di buat terdiam, ingin menjawab namun di timpah oleh Chuuya dengan, "…aku mabuk malam itu" dan Dazai hanya memutuskan untuk diam mendengarkan.
Chuuya mendengus lehernya, bercerita dengan suara rendahnya, "Malam setelah kerja, aku pergi ke bar, sendirian, dan kalau tidak salah itu sudah 1 tahun semenjak kau meninggalkan mafia" Dazai diam mendengarkan, Chuuya memeluknya erat.
"Aku kesepian saat itu…" ucapnya dan Dazai bisa merasakan hawa tubuhnya yang bergetar, "-jadi ada wanita, yahh begitu. Dia datang padaku, bertanya masalahku, membuatku mabuk, seingatku" Chuuya menatapnya memberikannya kecupan, "-lalu menggotongku sampai apartemenku lalu…"
"Aku mengerti" jawab Dazai, dan Chuuya menaikkan alisnya. "Kau tidak melakukannya melainkan dia, kan?" sambungnya.
"Iya, aku diam saja, aku sudah menolak tapi kau tau sendiri kalau aku mabuk bagaimana" ucap Chuuya di susul tawa rendah.
"Eh, manis?"
"Bukan!"
"Ceritakan saja Chuuya" ucap Dazai dan Chuuya kembali menceritakannya dengan wajahnya ia benamkan pada tenguk Dazai. Chuuya memulai, "Aku diam, dan dia menyumbuku, aku sedikit membalas, dia di atasku, aku hanya memperthatikan" Dazai sedikit tertawa dan membalas, "Oh, jadi malam itu…, kau mempelajarinya da-"
"Diam!" satu pukulan mengenai keningnya. Dan Dazai tertawa kembali bertanya dengan baritonenya, "Bagaimana rasanya?"
Chuuya memajukan bibirnya, memijitkan matanya, "Tidak bagus" komentarnya. "dan selebihnya no comento!" dan satu pukulan mencapai kening Dazai kembali. Mereka tertawa rendah.
"Kau sendiri? Kau kan bajingan, aku mau tau kejujuranmu" Chuuya menatapnya lekat dan Dazai berseringai.
"Tidak pernah, tapi aku sering menjamah" satu sentilan keras mendarat di kening Dazai.
"Ahaha, jujur Chuuya. kau itu pertama dan terakhirku" dan Dazai tersenyum menggodanya dan Chuuya menjawabnya, "Oh, ya sudah. Aku sudah menjawab pertanyaanmu" Chuuya bangkit dari menempelinya yang sekarang duduk di atas perutnya.
"Tolong lanjutkan tuan, lihat jam" ucap Dazai melirik jam dinding yang sudah melewati tengah malam.
"Ini akan sangat panjang, Dazai" memberikan tontonan pada Dazai yang sudah berkeringat menatapnya begitu seksinya malam ini.
Chuuya memberikan kecupan pada Dazai sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke salah satu nipplenya dan mengiggitnya intens, Dazai menggigit bibir bawahnya, menahan suaranya. Chuuya memulainya, dia menggila bahkan pinggulnya ikut naik-turun, menggesek aset pribadinya pada aset milik Dazai yang masih tersampul jeansnya.
Chuuya melepasnya, turun ke bawah, mengusap semua luka dengan polesan saliva di lidahnya. Dan sampai pada daerah rawan tersebut, Dazai menelan ludah, melihat Chuuya membuka jeansnya, membebaskan kaki panjangnya dari kain itu, sebelum Chuuya membuka pertahanan terakhir Dazai berkata, "Hati-hati, bisa rusak." Dan Chuuya menatapnya penuh urat di keningnya.
Sedikit matanya terbuka lebar memandang benda tersebut, meraihnya dan berkata, "Dazai, perhatikan aku" ucapnya, dan Dazai mengangguk, bergumam, 'tanganku di ikat kuat-kuat ke atas, dasar sialan'.
Chuuya meraihnya, memerasnya sejenak, mengusap lidahnya pada kulit tersebut, merasakan rasa cairan itu di ujungnya seperti sebuah es-krim, lalu menenggelamkan semuanya, tidak semuanya mencangkup mulutnya, mengingat milik Dazai itu sungguh sialan ukurannya.
"Hmmph! Hnnh…" Dazai berdengung karnanya, dan Chuuya mulai dengan blowjobnya dengan caranya sendiri. Bernafas di sekitar sana, menjilatinya, mengigitnya sejenak, meggulumnya hangat dan perlahan memaju-mundurkan kepalanya, melenguh rendah dan Dazai suka itu. tidak segila Dazai dengan oralnya, Chuuya tidak secepat dan segila itu. menghisapnya kuat dan Dazai mulai berdesah nyaman tak nyaman, kaki itu di suruh di buka lebar-lebar. Dan Chuuya mendominasi semuanya.
"Akh!" Dazai sedikit berteriak dengan keluarnya cairan itu dan memenuhi rongga mulut Chuuya, Chuuya menarik kepalanya, Dazai menatapnya sungguh takjub akan Chuuya yang menelan sendiri cairan itu ke dalamnya, mengusap bibirnya dengan jarinya, dan kembali pada benda itu yang minta di bersihkan oleh lidahnya. Chuuya menyapunya dengan lidahnya, membersihkan cairan itu dengan menjilatinya. Dazai bersumpah akan membalas itu 3 kali lipat.
Chuuya duduk di antara paha dan perut Dazai, mengangkat pinggulnya, menatap di daerah mereka akan bertemu dengan gilanya. "Pelan-pelan" ucap Dazai yang di balas dengan tatapan berisyaratkan, 'sadar diri bajingan, kau sering mengasariku'.
Chuuya mengarahkan ujungnya pada ereksinya dindingnya, tubuhnya sedikit bergetar namun dia mengabaikan itu, perlahan ujung benda tersebut masuk dan Chuuya terbelalak mendesah dan terhentak kepalanya ke belakang, dan benda tegang tersebut dia dorong masuk secara paksa.
"Ahh!" teriaknya yang sekarang tenggelam pada kenikmatan yang dia ciptakan sendiri. Dazai bergumam atas pekerjaannya karna merasakan kembali bendanya di apit hangat. Tangan mungil itu mengusap ereksinya sendiri yang sudah menggantung, dan salah satu tonjolan dadanya. Mengusap keduanya, dia mendesahkan nama Dazai padahal dia sendiri yang melakukannya, Dazai hanya tersenyum, bangga.
"Gerakan Chuuya" tuntut Dazai, dan Chuuya yang gila ini mulai dengan posisinya, dia mulai menggerakkan pinggulnya ke atas-bawah, menghantam beda besar itu pada prostatnya dan berdesah sesukanya. Dazai juga ikut dengan keterampilannya sendiri, dan tangan Chuuya bercengkram pada perutnya menopangnya yang sudah gencar dengan gerakkannya, "Ahh nnhh ngahhh—ahh Daz—ah ah a-aaa ka-kau su hhnn—suka?" Chuuya berkata dengan intonasi hancurnya namun indah.
Dazai mengangguk dan Chuuya kembali mengantamnya, lebih cepat, kasar, gila, memabukkan, seluruhnya. Tak henti-hentinya menyebutkan namanya di sertai erangan erotisnya, "Daz-dazai… Dazai… ahhnn ahh Dazai-nnghh! Haa-akhh" dan Dazai tak tahan akan gerakkan tersebut dan kembali mengisi liang di sana, dan Chuuya berhenti karna panas tersebut menjalar kembali. Dia mengerang kuat, dan Dazai mendesah akan kegiatannya. "Arrghh, haa-nnhh!" dan menatap Dazai dengan penuh godanya, saliva jatuh di sudut bibirnya, nafasnya menggebu parah. "Ahh Chuu-ughh!" dan Dazai tak tahan menahan sendiri lenguhannya.
Namun Chuuya belum berhenti dengan kegiatannya, dan memberikan dorongan lagi. Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi, semakin dalam dan panas. Namun sekian menitnya dia mendorong benda itu menyentuh berkali-kali prostatnya dia merasa lelah, bisa di lihat dari gerakan pinggulnya yang mulai melambat dan Dazai tau akan hal itu. Chuuya tumbang dalam Dazai, jatuh di tubuhnya. Namun Dazai tidak memberikan pelukan, lantaran tangannya yang di ikat.
"Kau baik?" tanyanya. Dan dia menjawab "Ba-baik…" ucapnya menatap sang brunette.
"Mau melanjutkan?"
"Kau saja, aku selesai…" ucap Chuuya berusaha mengeluarkan kejantanan Dazai dari dirinya disertai jeritan karna kesenangan itu keluar lagi, tenang Chuuya, akan di masukkan lagi nanti, dan setelahnya tumbang di atas Dazai.
"Umm…, lupa satu hal, Tuan?" ucapnya menatap si mungil ini. Tangannya belum di lepas.
"Ah, iya" Chuuya membuka borgolnya tanpa kunci, hanya kekuatannya sendiri yang bisa mematahkan besi sepeti tusuk gigi. Setelahnya tumbang kembali karna kelelahan.
Dan Dazai memeluknya hangat dengan lengan serta kakinya, dan berputar yang sekarang Chuuya berada di bawahnya. Mereka berpelukan dan membelai setiap inchi tubuh masing-masing, bernafas rendah, mengisi ruangan berudara dingin ini karna pendingin ruangan dengan nafas mereka, bahkan tidak bisa meredakannya.
"Aku mencintaimu…" satu lontaran keluar dari mulut Chuuya setelahnya. Dazai membelai lembut pipinya yang lembab akan keringat, menepihkan helai-helai ravennya yang lengket namun lembut. Mengecup keningnya, dan berbalas, "Aku juga…" menatap dalam.
Tubuh mereka lengket, mereka lekat, menempel. Masih dalam suasana panas yang di ciptakan fantasi mereka. Chuuya mengangkat satu kakinya dan aset mereka saling menabrak, saling menggesek, semakin lembab, lengket, dan membuat mereka menempel semakin dalam. Posisi mereka lengket, Dazai di atas Chuuya di bawah seperti biasanya, membalas serangan lidah seperti malam-malam sebelumnya, namun lebih panas jika mereka mengingatnya, Missionari yang Chuuya suka jika mereka bercinta di malam musim dingin, di dalam selimut tebal yang menghangatkan mereka, lantaran libido atau pamanas ruangan dengan selimut, mereka tidak tau.
Dazai menyerang tenguknya lebih liar dari Chuuya, ingat 3 kali lipat. Chuuya mendesah karnanya, dia menggeliat dan menggoyangkan pinggulnya. Dazai memberikan banyak tanda, tidak menyingkirkan choker yang membuatnya seksi. Chuuya memeluknya semakin erat dan Dazai juga sama. Dazai menatapnya, membelai lembut bibirnya dengan lidahnya, memasukkannya kembali dan bersenang-senang.
"Chuuya" ucapnya. Dan yang bernama tersebut menatapnya, "Ada apa?" Dazai tersenyum, seperti mesum terparah.
"Aku gesekkan sebentar hmm?" ucap Dazai dan Chuuya bisa merasakan pinggulnya yang berada di atasnya bergerak cepat, dengan ujung kejantanan Dazai yang mengencang menyapa luar dindingnya dengan menggeseknya.
"Berengsek!" teriak Chuuya namun bisa di lihat dari ekspresinya, dia menyukainya.
"Kenapa Chuuya? kau mau aku masuk?" tanya Dazai memperhatikan ekspresi itu. dan Dazai kembali menyerang dada mulusnya dengan lidahnya, dalam posisi lengket mereka dan Dazai masih menggesek-gesek area di sana dengan agresifnya. Chuuya mendesah akan nikmat, "Ma—ahh Dazz- masukhann—ahh hnn… cep-cepathhnn ahh!" dan Dazai mengabaikannya dengan merasakan kembali tenguk depannya, bertahan selama lebih 10 menit. Dan Chuuya sudah sangat basah akan prenetasinya sendiri.
"Arrgghhh! Ahh Daz—ahh!" dia mengerang saat tonjolan dada itu di isap Osamu kuat lalu menggigitnya keras, memitir satunya tanpa ampun dan Dazai dengan nafsunya berhasil menerobos liangnya, Chuuya mendesah karnanya namun menikmatinya sampai ujungnya.
Mereka memeluk raga dengan eratnya masing-masing, dan Dazai mulai memainkan pinggulnya yang menempel pada Chuuya secara erotis, maju-mundur yang sesekali memutarnya menambah nikmatnya sendiri pada posisi ini, bibir bertautan hangat, dalam, kasar, dan nyaman. Dan Chuuya mendesah dalam kucian mulutnya.
Dazai melepasnya sejenak untuk mendengarnya, "Ahh hnn—Daz hmmph, nnghhh~ nnhh" dan menautkan kembali mulutnya padanya yang intonasi itu membuatnya terangsang sampai akarnya. Chuuya sedikit tersentak saat merasakan denyutan semakin panas di dalam sana. Dazai memanas lagi.
"Aku akan keluar" ucap Dazai dan semakin gencar memainkan pinggulnya lebih erotis. Pinggul yang saling menampar itu membuatnya gila.
"Kelu-ahh le-lebihh…, keluarkannhh Daa—AKHH! NGGHH—NHH!" di akhiri dengan teriakan dan bulir air di sudut ekor matanya yang indah, Dazai mengeluarkannya tepat pada titiknya, membuat Chuuya melemah kembali, namun tidak malam ini, mereka akan melanjutkannya ke tahap yang lebih gila.
Dazai menciumnya ganas, masih memainkan pinggulnya dan perlahan melambat, menatap ekspresi kekasihnya yang melebihi kata indah nan seksi sekarang. Dazai mencium keningnya seraya mengeluarkan kenjantanannya dari sana, Chuuya menjerit, mencengkram, dan bernafas rendah setelahnya, mereka berdekapan, hangat. Diam sejenak mengambil nafas.
Jam menunjukkan pukul 1 pagi, namun tidak akan selesai. Tidak malam ini, ini malam nostlagia, tidak, selalu nostlagia, namun lebih panas sekarang. Membekap, mencicipi, semuanya mereka lakukan. Masih berciuman lembut namun di kategorikan panas, Dazai memeluknya erat dan Chuuya membiarkan tangannya terentang berusaha mengambil sesuatu. Dazai melepasnya lembut dan Chuuya menghantam wajahnya dengan bantal, berisyarat. Dazai mengangkat alisnya berusaha meyakinkan si kecil yang sedia di serang malam ini ke depannya.
"Oh, tunggu apa lagi, berbaliklah" ucap Dazai menyingkir dari dekapan itu. Chuuya mengambil bantal satunya lagi, memeluknya erat seraya menenggelamkan wajahnya. Dazai mengangkat panggulnya dan mengambil satu bantal membuat perutnya bersandar pada bantal sebagai penyumpal, agar tidak jatuh, sebut saja begitu. Chuuya menatapnya di balik bahunya, lihatlah rambut lembabnya namun lembut, mata sayunya namun tersadar akan tantangan cinta malam ini, dan Dazai menyukai tatapan meminta dengan caranya itu dalam Flaritation ini.
"Aku punya kejutan" ucap Dazai. Chuuya menoleh sejenak, "Apa?" tanyanya.
"Kau akan tau…" Chuuya mendengus kasar. Memeluk kembali bantalnya.
"Aku mulai" dan Chuuya tau itu adalah pembukaan ronde selanjutnya, matanya terbelalak, dia mendesah lembut dalam bantal setelah merasakan sesuatu yang dingin berada pada prostatnya.
Dingin, sebuah lubricant yang di beli Dazai di Kabukicho, tanpa sepengetahuan Chuuya yang dia simpan aman dalam mantelnya.
"Kau-" Chuuya setelahnya mendesah, dia semakin mabuk akan tekanan dari tiga jari yang menembus dindingnya dan dingin basahnya lubricant itu. Chuuya terengah-engah namun Dazai tetap melanjutkannya. "Kau suka?" tanyanya pada sang uke, dia menatapnya yang berada di belakangnya, mulutnya terbuka-tertutup mengikuti irama tangan itu, tidak lama namun membuat Chuuya mendesah sejadinya, "Hnnhh… ahh su-suka…, la-lagihhnn! Ah Daz—dazai…" menenggelamkan kepalanya dalam bantal menggoyangkan pinggulnya juga ikut serta dalam dominasi gila ini, dan Dazai memberinya lebih.
Halus, kenyal, berisi, padat, Dazai memainkan bokongnya yang kencang seperti dada wanita, namun lebih ganas, memerasnya yang membuat Chuuya mengerang dengan kelakuannya. "La-lakukannhh! Ahh! Sia-Dazz-ahhnn" dan Dazai tau kalau kekasihnya ini tidak pernah sabaran.
Dazai mendekat padanya, menggigit tenguk belakangnya, basahnya 3 jarinya kanannya akan lubricant ia masukkan dalam mulut Chuuya, merasakan nafasnya yang hangat menyapu rasa dingin dari cairan tersebut. Chuuya menggigitnya gemas, menjilatinya dalam desahannya, rasanya aneh.
"Aku membelinya di Kabukicho tadi, Atsushi menemaniku namun aku tidak membiarkannya memasuki toko" Dazai mendengus kulit punggungnya, menggigit setiap inchi tubuhnya. Mengecupnya beberapa kali, memberikan tanda di sana-sini, "-aku yakin seratus persen, Chuuya akan menyukainya…" sambungnya berbisik tepat di telinganya, Chuuya mengerang saat tangan Dazai satunya yang basah juga akan lubrticant memeras asetnya. "…ini limited Chuuya".
Entah dari mana Dazai mendapatkan cairan pelumas bening itu dengan rasa minuman faforit Chuuya, tentu, Wine. Chuuya menyukainya, buktinya dia masih menggigit gemas jari dalam mulutnya dengan desahan yang di dalamnya ada nama 'Dazai', dan Dazai memutuskan untuk menyimpan sisanya yang akan dia pakai untuk malam tahun baru nanti.
Dazai mengarahkan dagunya, bibirnya bertemu lagi dengan Chuuya, membalasnya lebih ganas dan panas, setelahnya Chuuya berkata, "Pakai itu padamu, cepat lakukan sialan!" dengan aksen ketidak sabarannya, Dazai tersenyum meriah setelahnya.
Dazai lakukan sesuai permintaannya, memoleskan cairan dingin itu pada penisnya yang besar, membasahinya yang juga tercampur akan percumnya, menatap punggung Chuuya dan sorotan matanya, ah dia sangat imut dengan memeluk bantal itu dan meminta sebuah kenikmatan malam ini.
Perlahan Dazai memasukkan kembali asetnya ke dalam sana, Chuuya meneggelamkan wajahnya, melemah dengan dorongan yang Dazai lakukan, perlahan dia merasakan semua milik Dazai sudah berada di dalamnya namun dengan dinginnya lubricant yang akan menghangat nantinya. Chuuya mengerang saat Dazai kembali menggoyangkan pinggulnya secara sensual, dalam, panas, memabukkan, gila, cepat, dan juga dengan nafsu.
Mereka mendesah bersama, mengerang sejadinya, seluruh ruangan kabur dalam gairah mereka. Tangan berperban itu memegang pinggulnya, mendorongnya maju-mundur mengantam miliknya, dan juga pinggulnya yang melakukan gerakan yang sama, dan Chuuya memuji keterampilannya yang gila dalam bercinta dan juga ekspresinya itu dalam desahan. Betapa dia mencintai Dazai dalam sisi ini.
"A-ah Chuu-ya…" Dazai mengerang, dia tidak bisa bertahan, dan Chuuya memaklumi itu, biarlah. Seluruh ruangan menjadi saksi dalam kegilaan mereka, mendengar mereka melepas nada sensual, yang pada akhirnya Dazai kembali menyemburkan 'larva' panasnya pada prostat Chuuya, Chuuya mengerang bahkan memegangi kejantanannya yang sudah basah akan cairan percum. "Akhh…, hnnh! Ahh-Dazz-zaihh…" dan pada akhirnya tumbang dalam hempaian kasur.
Dazai menariknya, memeluknya dari belakang namun dalam tautan tubuh yang masih belum mereka lepaskan, memulai babak mereka selanjutnya. Bercinta sampai mereka kelelahan, sampai tubuh mereka hancur, oh biarlah lagi pula rasa nostlagia memang gila untuk mereka yang rindu akan mencicipi satu-lainnya.
Dazai meraba dadanya, mencubit kedua tonjolan merah muda itu dan menahan erangan Chuuya dalam kucian mulutnya, Chuuya menurut, mendongak memperdalam, mengarahkan tangannya pada kepala di belakangnya, dia mengingat Dazai lebih gila dalam posisi ini di dalam mobil pribadinya. Malam itu setelah mereka minum yang seharusnya tidak boleh berkendara setelah meneguk alkohol, namun mereka ingin melakukan seks, apa boleh buat? Chuuya memarkirkan mobilnya dekat pelabuhan, dan setelahnya, Hot Seat terjadi berikutnya. Dazai juga ingat, ingat akan gerakan dari panggul Chuuya yang mendorong asetnya sendiri ke titik nikmatnya dulu, dan sekarang dia melakukannya lagi namun lebih terampil, dan jangan tanya mereka melakukannya pada umur yang begitu mudanya.
Mereka rapuh, namun tak pernah rusak, mereka liar namun tak pernah puas.
Dazai melepas pangutan itu, mendengar desahnya lalu merasakan sekitar tenguknya Chuuya yang bisa ia jangkau dengan lidahnya, menggigitnya sekali lagi, menghisapnya, mendengus dan Chuuya mengerang akan nikmatnya itu. Tangan kiri memainkan asetnya yang berwarna merah muda itu, dan kanannya memainkan tonjolan puting kanan Chuuya, sementara tangan kiri Chuuya memanjakan satunya lagi, tangan kanannya masih setia membelai, dan menarik rambut Dazai di belakangnya.
Mereka tidak mengobrol dengan bahasa mulut, namun tubuh, dan Dazai kembali menggerakan pinggulnya namun lembut setelah tau ia minta untuk bergerak, bibirnya masih setia dia tepatkan dalam pundak Chuuya, dan bergumam tepat di atas kulitnya. Chuuya juga ikut dalam gerakannya, "Ahhnn, ngghh! Daz—Dazai…" dan setiap namanya yang di erangkan itu adalah sebuah nafas untuk Dazai saat ini, menuntut gerakannya lambat atau kas- "Lebih nnggh kas-kasar~ nnh—AHH!" iya, lebih. Kasar, dan Chuuya menyukainya.
Dazai menurutinya lebih kasar, lebih gila, cepat, gesekannya lebih ganas, lebih, lebih dan lebih. Semuanya hanyut, mereka menikmati diri, libido memuncak dan mereka merasakannya. Chuuya mengerang dan di balas desahan Dazai, mereka pecah dan dunia menatap mereka yang melukiskan kisah erotis dalam lembar romansa-gelap. Memabukkan namun nyaman. Dan pada akhirnya Chuuya yakin Dazai akan mengeluarkannya dia tau saat namanya di ucapkan dalam erangan gilanya. Chuuya melengkungkan tubuhnya demi sperma panas yang akan memenuhinya, memanasinya. "Ahh!" dan pada akhirnya cairan itu memenuhinya, dinginnya lubricant tergantikan dengan panasnya percum di dalam liangnya.
Mereka hening sejenak mengambil nafas dan dalam momentum itu Dazai menarik kejantanannya pelan-pelan untuk keluar. Lengket, basah, bau namun nyaman, begitulah penggambarannya sekarang, mungkin setelahnya mereka akan mandi, namun belum.
Jam menunjukkan pukul setengah dua pagi, sudah pagi, namun kegiatan malam mereka belum pada acara pengujungnya.
"Chuuya…" Dazai memanggilnya dan Chuuya menoleh pada tatapan di sampingnya. Tangan berperban itu masih setia membelai setiap inchi tubuhnya, semuanya, Chuuya menuntunnya untuk kenyamanannya, Dazai membiarkannya. Istrahat, mereka benafas sejenak.
"Apa, Dazai?" tanya Chuuya.
Dazai tersenyum, "Apa sejoli yang kau lihat di dekat pelabuhan itu mereka sedang menyatakan perasaan?" tanyanya.
Chuuya diam sejenak dan berkata, "Ajakan menikah"
"Ah, sudah ku duga…" jawab Dazai. Chuuya terheran, "Kenapa?"
"Hm? Bukan apa-apa" ucapnya dengan tersenyum, "boleh aku minta sesuatu padamu, bukannya dari tadi kau meminta ini-itu padaku?" sambungnya.
"Apa?" tanyanya.
"Aku ingin kau menjadi masokis sejenak, oke?" Chuuya terbelalak mendengarnya. Menjawab dengan kasar, "Apa maksudmu!?"
"Aku akan melanjutkannya, oke?" satu kecupan dia berikan pada pipinya dan Dazai mendorongnya. Dan Chuuya tau apa maksudnya, Chuuya tau Dazai sangat suka posisi ini, ya tentu saja, membuat Chuuya menderita karna dorongannya adalah hobinya juga, lagi pula dia yang di bawah juga menyukainya toh.
Tanpa bantal Dazai mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi karna tubuh si Mafia ini sangat mungil, Chuuya menopang tubuhnya di lututnya dan kedua lengannya, berhumpat setelahnya akan membuat Dazai menderita. Dan kalian tau sendiri ini di sebut apa, semua pria menyukainya, bahkan Chuuya juga. Dia menatap Dazai yang masih setia dengan seringainya, dan Chuuya kenal akan senyuman sadis itu, sadis dalam apapun, termaksud hal erotis.
"Aku mulai, tidak akan berhenti walau kau minta" ucap Dazai dan dia tau kalau Chuuya memang tidak akan memintanya berhenti. Mengarahkan penisnya pada pintu masuk yang menunggu tamunya lagi. Chuuya menoleh, melihat Dazai sejenak merasa aneh.
"Kau kenapa?" tanya Chuuya.
"Tidak apa…" Dazai menatapnya, "…ternyata aku baru tau kalau ini sangat kecil" dengan bodohnya dia mengatakan hal demikian padahal sudah berkali-kali melakukannya tanpa bisa menghitungnya.
Chuuya memakinya tak senang, "Kau brengsek! Kau memang keparat! Bisa-bisanya kau berka- AHH!" dan makian itu terpotong saat ujung dari aset berharga Dazai menyapa kembali ruang intimnya. Chuuya mendesah dengan kepala ia lengkungkan, dan Dazai bisa menebak ekpresi yang sangat ia sukai, meminta lebih pastinya. Dan Chuuya bersumpah akan menghajarnya karna sesukanya termaksud kata-katanya barusan karna tak sopan.
Gerakan pinggul sensual terjadi lagi, layaknya posisi Flaritation dengan Dazai memegang pinggulnya dan menggerakkannya maju-mundur, begitu pula pinggulnya. Sama namun dengan nikmat yang berbeda, seme sialan yang sesukanya merubah-ubah posisi.
"Ahh ahh nhh! Ngghh—ah! NGGHH! Dazz—AHH! Pel-pelannhhhnn—ahh ahh!" Chuuya mengerang akan tempo yang melebihi memontum normal itu, setelahnya Chuuya tak mampu menopang tubuhnya yang sudah lemas akan dorongan penis Dazai, dia jatuh terhempas ke kasur, menyerahkan semuanya pada sang seme beringas, dan Dazai menerima pekerjaannya dengan senang hati.
Chuuya menutup matanya rapat, merasakan sakit di bawah tubuhnya namun dengan rasa nikmat yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata, sementara Dazai memainkan tubuhnya dalam posisi demikian, Chuuya menatapnya, lihatlah betapa dia menyukai ekspresi Dazai begitu. Dia memujinya, dengan memberikan spot lebih untuknya seorang.
Bermenit-menit terlewat namun di hiraukan oleh mereka, mereka hanyut. Chuuya hanya bisa berdesah dengan suara yang tak ia kenal lagi intonasinya, lembut, parau namun manis. Dazai mendekat padanya yang sepertinya hampir kelelahan, memberikan sebuah ciuman penyemangat dan masih menggoyangkan pinggulnya secara sensual, namun satu hal, dalam posisi ini, Dazai tidak mengeluarkannya dengan sengaja, ada namun sedikit.
Dazai menatapnya yang setengah sadar namun sadar, dia tau Chuuya masih ingin mau lagi, apa? tentu, goyangan pinggul yang sudah di berhentikan, namun Chuuya memintanya dengan menggoyangkan pinggulnya sendiri.
Dazai tersenyum, dia mengangkat dirinya, mengeluarkan kejantanannya dari Chuuya, satu hal yang mau ia lihat malam ini, tidak, pagi ini, wajahnya saat menerimanya. Setelahnya, Dazai membalikkan tubuh molek itu perlahan, Chuuya bernafas berat dan Dazai kembali memberikan sebuah sapuan dari nafasnya juga.
Sejenak, sebuah ciuman hangat dengan sapuan lidah di bibir ranumnya dan merangsangkan Chuuya untuk membuka kakinya lebar-lebar, tapi Dazai tidak menginginkan itu sekarang. Dia ingin sebuah terobosan malam ini, old but gold, you can say like that. Dazai duduk, dan Chuuya berbaring, dengan kaki kanan yang Dazai angkat menyentuh pundaknya dan kaki kirinya memeluk pinggangnya, Chuuya menopang tubuhnya sendiri merasa heran dengan ini. Tidak terlalu, Dazai pernah menggunakan ini padanya, namun Pretezel bukan posisi kesukaan Chuuya. tapi dia tau, dia pernah mencobanya pada ulang tahun Dazai ke 20.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya.
"Aku tau kau lupa akan ini dan aku sedang mengingatkan." ucap Dazai setelahnya. "Hmm…, 4 tahun yang lalu, dan aku berterimakasih pada Chuuya yang menurutiku saat itu" dan setelahnya Chuuya memerah mendengarnya, berhumpat pada Dazai yang setia dengan senyumnya.
Wajah Chuuya bersemu merah, mulutnya terbuka dengan ekspresi manisnya saat Dazai kembali memasukinya dalam posisi demikian, namun sebelumnya sempat mengetesnya dengan gesekan pada luar dindingnya dan lihatlah betapa Chuuya menginginkan benda itu agar masuk padanya, dan sekarang permintaan itu terkabulkan. Mereka berdengung dengan lenguhan erotis saat merasakan nikmat itu sekali lagi, dan Dazai mendapat servisnya yang luar biasa.
Wajah bersemu nikmat, berpeluh panas, meranum merah namun manis, bibir dengan curva indah, saliva menetes, tatapan akan nafsu untuk segera selesaikan, tatapan berkata seakan-akan; 'Cintai AKU bajingan!' tentu dengan makian saat Dazai menatap alis itu berkedut sedikit karna membuatnya menunggu dengan menatapnya lama.
Dan Dazai mulai memainkan pinggulnya secara erotisnya, Chuuya masih setia berdesah nikmat dan Dazai memandang wajahnya dari kejauhan, namun menyukai tatapan tersebut, sungguh sangat indah membuatnya tak tahan hanya dengan tempo lamban yang mengocok perutnya itu. Dazai memandang tatapan akan kabut gairah di sana, lihatlah bibir itu dengan imutnya terbuka-tertutup mengikuti tempo dari pinggulnya, Dazai menyukainya, mencintainya, memujinya, dan seratus persen akan mengingatnya.
"Nhhnnhh! Daz-dazaii…" sebuah nada lembut erotis lengkap dengan nama terngiang lagi dalam ruangan minim akan pelita ini, namun mereka bisa memandang satu lainnya dengan baik. Lagi pula cinta itu adalah 'benda' yang tumbuh dalam kegelapan, dan mereka membuktikannya.
Mereka membangun fantasi erotis sekarang, hanya penuh akan kabut gairah, erangan cinta, peluh lelah namun puas. Mereka mengukirnya, semuanya. Chuuya melengkung, dan Dazai tak mau membuatnya tak nyaman begitu. Hanya sejenak, tidak terlalu lama mereka bertahan dalam posisi nostlagia itu, perlahan Dazai mengeluarkannya lagi. Mendekat padanya, mengecup pelan keningnya yang di balas sebuah uluran lengan yang hangat, lembut dan nyaman.
Mereka diam sejenak, nafas berat menyapu kulit yang lengket, Dazai membenamkan kepalanya ke tenguk indah itu, dan Chuuya memeluknya erat seraya bermain lembut dengan raven kekasihnya. Hanya ada suara-suara kecil sekarang namun masih tetap erotis. Dazai menatap pola matanya, memberikan senyuman, menyapanya sejenak.
"Kau kuat? Mau kita akhiri?" tanyanya, "…seperti biasa?"
Chuuya mengangguk dengan mimik biasanya lalu menjawab, "Untuk yang ini, jangan kasar-kasar!" dan di balas dengan tawa rendah nan lembut dari Dazai, "Baik." ucapnya dengan sentuhan pelan dari bibirnya yang tipis di sana.
Dazai bangkit lengannya menopang tubuhnya, menatapnya yang di bawah yang sungguh sangat indah, peluhnya menambah kesannya sendiri. Chuuya menggigit bibir bawahnya, menatap Dazai dalam pupil sayunya, dan memberikan lengkungan tubuh untuk mempermudah ia masuki. Dazai paham, dan saatnya untuk bagiannya.
Menciumi bibir itu dengan lembutnya, mengusap seluruh rongganya dengan lidah penuh saliva, seperti pisau menyapu selai pada roti begitupun Dazai dengan bibir dan langit mulut Chuuya, buktinya adalah saliva yang tercampur satu dan menetes.
Jenjang leher ia rasakan kembali, choker sebagai penutup sekitar sudah di lepas dan Dazai sengaja sisakan di bagian sana untuk di jamah, anggap saja makanan penutupnya. Chuuya menggeliat dan Dazai anggap itu sebagai pujian akan pekerjaannya.
Dari tenguk ke depan dadanya, dia mendengus, menghisap, semua yang ada dalam birahinya ia keluarkan dan Chuuya menginginkannya lebih. Dazai mengangkat dirinya sejenak, menepatkan tangannya pada dada bidang tersebut, mengambil dagingnya yang seperti memeras, ya Dazai memeras dada bidang berotot indah itu seperti wanita berdada besar, Chuuya menjerit akan perlakuan itu dan Dazai menyukainya. Matanya menerawang seperti elang pemangsa, ya dia berniat memangsa tonjolan merah muda yang menggemaskan itu dan menggoda matanya, satu nipple di isap gemas, dan satu lagi di pelintir kuat. Dazai memainkan mulutnya di sana, semuanya. Sejenak namun sukses membuat Chuuya basah.
"Chuuya, boleh aku melakukan oral?" tanyanya, yang di tanya merasa risi akan pertanyaannya.
Menjawab dengan aksennya, "Bukannya aku sudah bilang boleh saja, jangan kasar-kasar bodoh!" menatap Dazai penuh guratan.
Dazai bermain mata dan mulai pada bagiannya, dia duduk memandang Chuuya tanpa helai pakaian sedikit pun. Dazai meraih asetnya, lembut, perlahan, memerasnya yang membuat Chuuya melenguh rendah kembali, melengkungkan tubuhnya akan perlakuan itu.
Dazai tidak berlama-lama, dia melakukannya dengan mulutnya, hal pertama yang ia lakukan, sama seperti Chuuya namun lebih terampil. Mengusapnya dengan lidahnya di ujungnya yang sudah basah akan percum, dan juga bekas dari lubricant Wine, menjiilatnya lembut yang membuat Chuuya mendesah geli, dan memasukkan benda itu ke dalam mulutnya, muat, sedikit menyentuh tenggorokannya. Menghisapnya lembut, menggigit sejenak, dan perlahan dia memaju-mundurkan kepalanya dengan sangat intens.
"Ahh ahhnnhh! Dazz—ahh la—lagi~ hnnh" dan satu intonasi itu lepas begitu saja, Dazai menghisapnya lembut, menghanyutkan si anggota eksekutif tersebut. Hanya sebentar, hanya sebentar saja ia melakukannya namun membuat tubuh Chuuya melakukan penetrasi, Dazai memandangnya yang sudah kesakitan. Entah berapa kali dia mengeluarkannya, dia juga merasa sama. Apa efek obatnya sudah selesai?
Chuuya membuka kakinya lebar-lebar, tangannya memeras kain satin, dia memerengkan kepalanya yang sudah sangat letih, namun masih ingin bermanja dengan kekasihnya ini. Dia haus akan itu. Dazai meraih miliknya, mengarahkannya pada keintiman Chuuya, dan Chuuya dengan intensnya memeluk sang jakung.
Berhasil, Dazai masuk kembali, Chuuya mengerang lagi, mencengkram pundaknya, menggeliat merasakan penis itu menembusnya lagi. "Ahh!" teriaknya dengan bulir air mata yang Dazai usapkan tangannya untuk menghapusnya, Dazai mendekat dan mengecupnya. Mulai bercerita di tengah kegiatan panas mereka.
"Aku ingat malam pertama kita melakukan ini, maksudku 4 bulan yang lalu" Dazai mengangkat dirinya, dan Chuuya mendengarkan di bawahnya.
"Aku sangat bahagia saat itu Chuuya, sungguh…" ucapnya dnegan senyuman, Chuuya memeluknya memberikan kecupan dan menjawab, "Begitupun aku Dazai…"
Masih tersenyum menatapnya, "Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?" tanyanya menyapa tenguknya.
"Umm…, kau tau kan? aku… kesepian saat itu…" membuat Dazai menatapnya setelah mendengar kata-katanya.
"Aku juga, menatap lautan di sana, teringat akanmu. Aku rindu saat Chuuya memberikan ciuman padaku di dekat pelabuhan" dan kalimat tersebut membuat Chuuya semakin memerah. Sedikit tersentak karna tautan dan kedutan yang mengencang di dalam dirinya.
Dazai memberikan sebuah ciuman yang lembut, "Dan mari melepasnya sekarang, Chuuya…" dan Chuuya menutup matanya setelahnya, mengangguk setuju.
Dazai tersenyum dan memulainya kembali, semuanya layaknya rekaman namun hidup. Chuuya menggeliat merasakan hawa panas itu kembali, mencengkram pada pundak Dazai, mendesah di bawahnya, dan Dazai menutup matanya, menggerakkan pinggulnya secara sensual namun cepat, menghantam titik nikmat di sana, dan merasakannya berkali-kali malam ini. Chuuya juga sama, menutup rapat-rapat matanya sesekali terbuka untuk menatap ekspresi indah di atasnya.
"Ahhh ahh! Dazz—hmmphh.. nnhh" dan satu kucian mulut dari bibir yang lembut itu menahan desahannya, dan Dazai menyerangnya juga di sana.
Mereka melakukannya sekali lagi, lagi, dan lagi. Dazai melepas bibirnya dari Chuuya, dan saliva masih menetes, tersenyum memandangnya, mendorongnya lagi dan lagi. Chuuya menggeliat, melengkung meminta lebih dan Dazai menurutinya.
Denting jam mereka hiraukan dala pelepasan ini, rasa nostlagia membuat mereka hanyut di setiap gerakan, dan Dazai melepas tautan bibir mereka untuk bernafas dengan berat.
Dazai duduk dan meraih Chuuuya yang ototnya sudah kaku-lemas dan sang mungil memeluknya erat-erat dengan kaki yang ia lingkarkan pada pinggul Dazai. Membekapnya, dan tubuh mereka masih bertautan erat, akan menutup acara ini setelahnya. Dazai mendengus dalam pundaknya, tangannya membelai lembut punggung itu, meraih bokongnya yang kenyal, dan menekan Chuuya pada asetnya lagi, Chuuya menahan rasanya dengan mencengkram pundak Dazai, menarik rambutnya, mendesah dalam pelukannya, dan ini persis. Persis seperti empat tahun lalu saat mereka melakukannya. Saat pertama kali mereka melakukannya.
Di dalam kamar ini, dalam ruangan ini, bersama orang yang sama tentu saja, dalam erangan nama yang sama tentu saja, mencicipi nostlagia sekali lagi, dan hanyut dalamnya.
Ini penutupan untuk Chuuya yang di berikan pada Dazai setelah ia mengecup pelan keningnya, berbisik akan satu hal yang Chuuya geli mendengarnya namun dia merasakannya. Mengerti artinya…
.
"Aku mencintaimu"
.
Dan di balas dengan, "Aku juga, Dazai".
.
Mereka membekap diri dalam mulut yang bertautan dan juga tubuh. Tanpa jarak, melekat, lengket. Perlahan Dazai memberikan kenikmatan pada Chuuya sekali lagi, tidak lembut, namun ganas yang sukses membuat Chuuya menjeriti namanya, dan Dazai suka walau dia tau itu kasar, dan Chuuya menyukai kekasaran yang membuat tubuhnya nyaman. "Ngghh! Daz—ahh nnhh ngg—bereng—ahh nnhh AHH! AHH—ahhnn ahh…" dan di balas dengan desahan yang sama pula namun masih bisa tertahan.
Derit dari tempat tidur mereka hiraukan, mereka bergerak dengan erotisnya, Dazai mendorong pinggulnya begitu pun Chuuya, sama-sama menampar kulit mereka yang sudah lengket akan gesekan tersebut. Semakin panas, liar, gila, memabukkan, dan nyaman dalam prostatnya. Chuuya melengkungkan tubuhnya. Dia mendesah gila saat tau akan orgasme sakali lagi dan Dazai membekapnya, bermain semakin kasar untuk sama-sama mencapai kenikmatan tersebut.
Lagi, lagi dan lagi dorongan tersebut di berikan, hingga mereka menjerit bersama, mereka selesai, sama-sama mengeluarkannya dalam tempat yang berbeda. Chuuya di luar dan Dazai di dalam. Chuuya menjeriti namanya dan Dazai mendesahi namanya, "Aaa! Ahh-Daz-DAZAI…!" dan tumbang dalam pelukannya, memberikan raga dan jiwanya pada sang seme, begitupun dirinya, "Hnnnhh…, Chuu-ya…" yang juga ikut dalam arusnya.
Mereka memeluk raga sekali lagi dan masih bertautan. Dazai membawanya dalam pelukan hangatnya ke atas ranjang, mereka lelah, selesai sudah.
Bermenit-menit berlalu namun mereka masih belum lepaskan tautan tersebut. Chuuya menatapnya dalam diam, dan yang di tatap juga sama. Tidak ada obrolan dalam dekapan lengket ini, dan suara terdengar, "Mau sampai kapan kau berada di sana?" rendah sedikit jengkel.
Dazai mencium keningnya dan melepasnya, pelan, perlahan namun masih membuat Chuuya kesakitan. Sekarang, mereka diam dalam gelapnya ruangan, dan terlihat mentari akan menyapa, besok hari Minggu dan Dazai akan menghabiskan waktunya dengan tidur memeluk Chuuya, namun tidak. Sebelum dia menjalankan sesuatu.
Dia bangkit, duduk memandang sang raven mentari, menatapnya yang tanpa penutup satupun di setiap inchi tubuhnya, Chuuya bangkit dengan beberapa nyeri di tubuhnya. Duduk juga menatap sang kekasihnya yang berseringai aneh. Dan dalam satu gerakan yang cepat dan sangat mudah sang jakung berhasil menggendongnya layaknya seorang pengantin dan yang di gendong berteriak tak senang, kenapa? Karna…
"Ayo mandi Chuuya, dan emm… lanjutkan yang kemarin" sambungnya. Dan mereka menuju ruang pembersihan. Dengan Chuuya yang memakinya tak senang namun di hiraukan begitu saja.
.
.
.
.
.
Indigo lembut berada di langit yang perlahan akan menampakkan cahayanya dari ufuk timur. Dazai membuka helai gorden tipis yang warnanya hampir sama dengan langit tersebut, namun lebih lembut. Cahayanya memasuki kamar minim pelita ini, lamunannya memudar setelah mendengar suara pintu berderit terbuka dan Chuuya masuk ke dalam kamar, sedikit terkejut saat mengetahui tempat tidur yang acak-acakkan sudah rapi dengan seprai baru.
"Ini sebabnya kau membuatku meringis di bawah shower, membiarkanku dan kau mengganti seprai di sini? Apa yang kau rencanakan?" tanya Chuuya yang sekarang duduk di ujung tempat tidur.
"Tidak ada…" jawab Dazai santai, menutup helai tersebut rapat. Mereka tidak menyalakan lampu, karna jendela memberikan penerangannya sendiri.
Dazai duduk di sampingnya, tersenyum yang membuat Chuuya tak enak akan tatapannya, "Apa?" tanyanya.
"Tidak…, kau merasa sakit?" tanyanya yang biasanya mereka lakukan setelah melakukan seks dan satu pukulan di uluh hati kena.
"Bego, bisa-bisanya kau tanya aku kesakitan atau tidak, siapa yang tidak kesakitan setelah di setubuhi di ranjang lalu di bawa ke kamar mandi!?"
"Aw, Chuuya… aku hanya melanjutkan apa yang terpotong" Dazai mengusap perutnya yang sehabis di pukul.
"Berengsek kau! dasar…" menatapnya penuh miris.
Dazai merangkulnya lembut dan mencium aromanya sehabis mandi, Chuuya merasa sangat risi akan perlakuan kekasihnya ini, "Aku apa?" tanyanya dengan seringai menggoda.
"Di-diamm!" dan Chuuya mengalihkan pandangan tersebut darinya.
"Aku lupa memberi taukan ini…, emm… ku rasa obat tadi bekerja" ucap Dazai, Chuuya terheran di buatnya.
"Tentu bekerja…, kalau tidak kita sudah tumbang di babak ketiga"
"Woeh…, hebat. Kau mengingat seluruh ronde?"
"Kau memang sialan!"
"Tidak maksudku tadi…, obat itu memang bekerja padamu"
"Apanya?" tanya Chuuya.
"Satu Viagra dan satu Aprosidak" jawab Dazai tanpa dosa.
Chuuya memerah mendengarnya, dan memukul telak pria jakung itu, "Apa yang kau berikan padaku bajingan!" menjerit tak puas.
"Itu sebabnya kau mau berada di atas, dan itu sesuatu yang membuatku kaget, tapi aku sudah bisa memprediksinya" Dazai tersenyum bahagia saat semua senjatanya di telan habis-habisan oleh Chuuya.
Chuuya menutup wajahnya yang sudah memerah dengan kedua tangannya memaki Dazai. Dia malu habis-habisan. Dazai tertawa rendah dan kembali merangkul tubuh mungilnya.
"Jangan begitu Chuuya, menurutku itu adalah hal yang bagus…" ucap Dazai yang langsung di tatap Chuuya dalam wajah merah marah-malunya. "-karna setelahnya kau harus terbuka lebih untukku" sambungnya dan Chuuya terheran.
Mengarahkan dagu itu tepat dalam tatapannya, membuatnya merona merah, dan kembali jantungnya berdebar kencang dalam tatapan menerawang trsebut.
"Tutup matamu Chuuya…" ucap Dazai dengan baritone yang Chuuya tak bisa bantah perintah tersebut. Dia menurut. Entah dia akan di berikan ciuman atau lainnya.
"Sekarang buka…" Chuuya perlahan membuka mata dengan pupil azurnya.
Dia terbelalak dengan pemandangannya, tubuhnya bergetar, matanya terbendung akan panoramanya, entah dia terharu atau bahagia, dia tidak bisa simpulkan bagaimana perasaannya saat Dazai berlutut di hadapannya, memberikan sebuah cincin dalam uluran tangan dan buket bunga yang sudah acak-acakkan namun masih indah dan harum.
"Kau…" Chuuya berpekik dan Dazai mengangguk pelan, menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Maukah kau menikah denganku Chuuya…?" dan kalimat tersebut berhasil membuat Chuuya memeluk tubuhnya dengan spontan. Hangat dan nyaman. Dazai membalasnya erat.
"Dazai…" dia memanggil namanya, dengan terharu namun bahagia.
"Aku…, aku…" dan Dazai menunggu lanjutannya. "Aku bersedia." setelahnya Dazai membekapnya erat dalam pelukan, dan menjatuhkan tubuh mereka dalam empuknya kasur.
Diam dan sunyi, Dazai berada di bawah, dan Chuuya masih memeluknya erat dari atas. Tak ingin melepasnya.
"Chuuya…" panggilnya.
Chuuya menoleh padanya, dan Dazai memberikan sebuah sentuhan kecil di bibirnya. Memakaikan cincin tersebut pada Chuuya di jari manisnya yang tergolong kecil itu, namun kekar. Setelahnya menatap matanya lembut, lalu berkata, "Sekarang, mulailah terbuka untuku, apapun, oke?"
Chuuya memeluknya semakin erat dan Dazai membuka topik, "Aku pergi ke Kabuchiko untuk membeli cincin tersebut, kau pasti ingat si penjual emas itu? nahh aku menemuinya bersama Atsushi. Aku tau…, membeli emas berlisensi itu lebih mahal, tapi kau tau sendiri kan keuanganku sekarang, dan tentu orang tersebut itu tak mau bohong pada kita" Chuuya mendengarkan namun tatapannya seperti meremehkan, dan Dazai memakluminya, begitupun Chuuya.
"Dasar…" hanya itu komentarnya.
"Aku tidak punya uang lebih untuk membeli yang legal, kau tau sendiri, kan?"
"Aku tau, lalu mana punyamu?" tanya Chuuya.
"Ah, dia bilang belum punya yang cocok untukku" dan Chuuya menjitak kepalanya di susul tawa rendah.
Dazai membalikkan posisi itu yang membuat Chuuya terkaget akan tindakannya. Sekarang berbalik dengan Dazai berada di atas dan Chuuya di bawahnya. Masih memeluknya erat, dan berjanji pada dirinya untuk tidak melepasnya. Menatap matanya penuh arti, dalam, dan menghanyutkan pupil biru itu ke dalam hazelnya. Dan dia berkata…
"Aku ingin mengatakan sesuatu sekarang…" ucapnya yang di balas, "Apa?"
"Berjanjilah Chuuya….," ada jeda sejenak, mencari tatapan tersebut, tidak mengharapkan sebuah jawaban pasti, "…jangan lagi untuk tidak pernah percaya padaku, itu menyakitkan!" membenamkan kepalanya pada tenguknya.
Chuuya diam sejenak, berusaha menjawab namun tidak, dia membiarkan Dazai hanyut sekarang. Memeluk raga jakung itu penuh kasih sayang, "Jangan paksa aku pergi dari ssisimu seperti dulu, ya?" dan Chuuya masih diam mendengarkan, merasakan tubuhnya bergetar sedikit.
"Dazai…" panggilnya dan Dazai membalasnya dengan sorotan mata.
"Maafkan aku…" Dazai tersenyum setelahnya, dan memberikan sebuah kecupan pada bibir ranum mungil terebut.
"Mari buat lembar baru…" ucapnya dan mereka berpelukan dalam suasana ini.
Sebuah revolusi bagi mekea. Dan membuat lembar baru lagi. Berpisah selama empat tahun lamanya, bertemu setelahnya, menjalin hubungan setelahnya dan membuat sebuah buku baru nantinya.
"Chuuya…" Dazai memanggilnya.
"Tinggal-lah untukku…" ucapnya, tatapannya tidak melepas dari sana, nafasnya menderu di wajahnya dan dia berlanjut, "…selamanya"
Dan sebuah bulir air mata menetes dari ekor mata Chuuya dan menajwab, "Kau juga…" mereka berpelukan hangat. Membekap satu lainnya di dinginnya pagi udara sejuk dan ruangan dengan pendingin udara, namun semuanya menjadi hangat dengan sebuah pelukan yang tetap membekap. Beberapa kelopak mawar berserakan di atas tempat tidur, dan di biarkan. Sekarang mereka terlelap dalam selimut yang di bagi dua itu. Dan hidup untuk satu.
.
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
.
Omake
Pada akhirnyaa~~, selesai juga~ *ngempasi diri ke kasur *guling-guling. I m tired be te we~ ( _ _)o Woah! Masih tidak percaya dengan apa yang ku tulis di sana? Is that me? No… that's not me~, itu sadisme saya, k? /no.
So many thanks to Cylva still make me wake up from the nightmare of 10 ronde wtf please, dia yang minta 10 saya udah sarani 8, yare-yare… padahal saya udah gak mau, betapa agresifnya :'( /tabokk
And of course… nyandyannyan yang berkabut di sana, semoga mendapat inspirasi untuk omegaservenya WOAH! :'v MANY THANKSS! HELL YA SISTAHH!
Tapi anehnya, saya tidak merasa puas setelah menulis ini, kenapa? Kurang kena apa? kurang manis-hurts di akhir hueee /entah.
Semester sekarang ini saya menduduki kelas 12, kemungkinannya untuk update fanfic akan sulit, tapi akan di usahakan, oke? :3 untuk sekarang… give me time to rest, oke? Im tired of 10 ronde… /bukan elu yang maen! Untuk series di sana, tenang… itu masih di lanjutkan. Just wait… ( ' _ ' )/
No bgm, I listening all my track to finish this… dan saya kehabisan lagu bagus.. tolong sarani yang hard-hard like Yellow Claw or others, yang beat melow like Kygo or Madeon… :'v sudah jatuh cinta pada trap dan deep mereka…, makanya DaChuu bisa goyang sampai pagi :''v /woii nakkk /di lempar mixer
So many thanks to you…, membaca ini sampai selesai? Hebat. Anda sudah hard sekarang… *nepuk pundak
Thank you to view, like, review, follows and others… YOU'RE ROCKK!
Keep calm and fun
satsuki grey
(Scroll terus ke bawah~)
.
.
Time to reply review
.
untuk "Tinggal-lah Sebentar..."
.
Mizune Tori
mantab lah... saya sudah hardcore malahan
saya... lebih prefer ke OTP kalau anuan, sekian. (gak sudi diri ini di sebut fujo akut '_' )
NoName
..., thank you..., saya juga udah gula-gulana baca review kamu and thank you so muchh :3 dan entahlah kalian suka yang pertama atau yang sequel ini…
Cylva
..., what the hell you are talking about, men?
ah, kita udah berjuang dalam hal la-in-nya :3 /apa!?
yehetohorat794
UDAH GUA LADENI REQUEST LU WOII PAKE SEX-TOYS LIAT AJA YANG GUA SEND DAHH LIAT AJA YANG JUDULNYA "up that way to pleasure" :''v
PUAS YAHH YANG, PUASS LAHH :'v
please jan buat gua apa gitu lhaa beb :'3 maaf gak bisa mantengi di sana, padahal udah ku bookmark malahan :'3 maaf beb..., get well soon :'3
Namika Ichigawa
Kau baru tau aku gila? ( '_' )
memang selalu gud job lahh :3 /gak
.
For "Tinggal-lah Selamanya"
.
kuroshirokoneko
IYAAA BENARR SALAHKAN CYLVA ATAS SEMUA KESENANGAN INI /lempar tang
moza-kun
maaf saat itu kesadisan saya muncul 2x lipat :'3 jadi... gantung aja mainnya /apa?
udah di culik sejak- lupakan ._.
Guest
Uda siap nak~
Schwarzer Hyperate
they almost broken :| tapi aku tak sekejam itu, MANA MAU SOUKOKU BROKEN :'x
namanya juga Chuu-ya, Dazai maklum :') dan seluruh keangstn Soukoku akan saya berikan tahun depan atau kapan kalau waktu ini bener-bener ada… :3
.
.
.
.
.
Bonus
Dazai tertawa puas dengan teman sekantorannya setelah mereka selesai menyelesaikan satu kasus yang datang 1 jam sebelum kantor di tutup, mereka bisa menemukan pelakunya dalam waktu 15 menit. Berbotol-botol sake sudah tersedia dan mereka mulai mengobrol. Sudah janji untuk makan Yakiniku bersama dua hari yang lalu.
"Jadi…, bagaimana dengan pacarmu Dazai-san?" tanya Yosano yang wajahnya sedikit ranum karna minumannya.
"Ah itu? ahahahaha,.. tidak perlu di bahas, karna…" ucapnya memamerkan cincin polesan emasnya pada pandangan teman-temannya.
Mereka terkaget, bahkan Kunikida sempat tersedak akan sakenya.
"Yang benarr!?" Sekarang suara melengking bertanya padanya yang sudah malu habis-habisan.
"I..iya, kak…" Chuuya menurunkan topinya, menunjukkan tangannya kanannya yang mengapit sebuah cincin di jari manisnya.
"Ah, Chuuya~ kamu pria sejati…" dan kak Kyouyo selaku pengurus Chuuya di mafia memberikan pelukan pada Chuuya, "Jadi…, siapa orangnya?" tanyanya lembut.
Wajah Chuuya datar dengan warna maroon, menjawab, "Dazai."
"Hahh!? Sejak kapann!?" Kunikida masih menerawang jarinya itu dengan wajah memerah lantaran kesal dengan rekan kerjanya ini yang sungguh sialannya memberi taukan hal penting ini tetibanya.
"Sejak dua minggu yang lalu…" jawab Dazai santai, namun guratan wajah Kunikida semakin bertambah.
"Wahh… selamat Dazai-san, lalu siapa mempelainya?" tanya Naomi salah satu pegawai yang masih setia memakai seragam sekolah sailor dan memeluk lengan kakaknya sendiri.
"Eh, Chuuya…, tentu saja dia, siapa lagi?" ucapnya dengan polosnya pada mereka yang di buat terdiam.
"Kenapa Chuuya?" kak Kyouyo terdiam dengan jawabannya.
"Maaf, kak. Ini sudah sangat lama aku menyimpan rahasianya a-"
"Chuuya, kenapa kau baru memberi taukan ini padaku setelah dua minggu Dazai memberikan itu padamu?" dan aura assasin siap mencabik tubuhnya dengan iblis Emas di belakangnya, yang di sebut Ability.
"A-a-a-a-Aku…" Chuuya tergagap akan pemandangannya dan pucat, dan Mori selaku pemilik ruangan ini sudah mengungsi jauh-jauh dengan Alice memeluk kakinya, mereka mengungsi dari amukan di sana, namun wanita dengan kimono berwarna pink lembut ini memeluknya erat dan berkata, "Chuuyaku tersayang akan ku pakaikan kimono yang manisss~" dan wajah Chuuya tambah pucat dengan perkataan tesebut.
"Aku akan memilihkan gaun!" Alice mengangkat tangannya tanda antusias.
Mori berhela nafas setelahnya, "Chuuya mau gaun atau kimono?" tanyanya.
"JASS!" teriak Chuuya yang sudah memerah padam tanda dirinya di restui oleh kedua orang tua angkatnya, sebut saja begitu.
Sementara Dazai di hujani ribuan pertanyaan oleh Kunikida dan Atsushi menatap mereka keheranan, antara paham tak paham dengan obrolan orang dewasa tersebut.
"Aku tak mau tau…" ucapnya pada Ranpo di sampingnya yang masih setia mengunyah makanan menatapnya keheranan dengan wajah Atsushi yang makin pucat setelah mendengar kata, 'kondom dan pelumas' yang bersumpah Atsushi takkan membahas malam dia di seret oleh Akutagawa ke Kabukicho dan berakhir di…, Love Hotel.
.
SEE YALL
End lho ( _ _ )b
.
