Spring In London
Remake dari Novel Ilana Tan
Byun Baekhyun . Park Chanyeol
And others
Romance . Drama
GS!
T
Chapter 5
.
.
CHANYEOL memandang ke sekeliling studio yang menjadi lokasi syuting hari itu,tetapi gadis aneh itu tidak terlihat. Sutradara Shin meminta para model bersiap-siap karena syuting akan segera dilanjutkan, tetapi model utamanya tidak terlihat di mana-mana. Mungkin ia pergi makan siang di luar dan belum kembali. Chanyeol mengembuskan napas dan mengingatkan diri sendiri untuk meminta nomor ponsel gadis itu supaya ia bisa menghubunginya kalau ada kejadian seperti ini lagi.
"Nuna," panggil Chanyeol sambil berjalan menghampiri Seulgi yang sedang merapikan kostum di rak gantung. "Nuna tahu di mana dia?"
"Dia siapa?" Seulgi balas bertanya tanpa menoleh.
"Siapa lagi? Gadis aneh itu. Baekhyun Ishida. Di mana dia?"
Sebelum Seulgi sempat menjawab, terdengar suara dari balik punggung Chanyeol yang berkata pelan, "Aku di sini."
Chanyeol berputar cepat dan langsung berhadapan dengan sepasang mata hitam besar yang balas menatapnya dengan resah. Chanyeol bertanya-tanya apakah Baekhyun Ishida mendengar kata-kata "gadis aneh itu" tadi, namun langsung menyadari bahwa gadis itu tidak mengerti bahasa Korea. Ia hanya mendengar Chanyeol menyebut namanya dan menyadari bahwa dirinya sedang dicari-cari.
"Baguslah karena kau sudah di sini," kata Chanyeol cepat-cepat. "Kau harus bersiap-siap sekarang."
Baekhyun menggigit bibir dan mengangguk singkat. "Oh, oke. Aku akan..." Kata-katanya terhenti ketika ia tiba-tiba merasa dunia bergoyang. Seperti gempa bumi ringan yang sering dialaminya di Tokyo. Tetapi ini London. Tidak mungkin gempa bumi, bukan?
Ketika ia mendapatkan keseimbangan tubuhnya kembali, Baekhyun menyadari Chanyeol sedang memegangi sikunya dan laki-laki itu menatapnya dengan alis berkerut samar.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
Baekhyun menggeleng bingung. "Aku tidak apa-apa," sahutnya sambil menarik lengannya dari pegangan Chanyeol dan mundur selangkah. "Aku akan bersiap-siap sekarang."
"Kau sudah makan?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun tidak langsung menjawab. Setelah ragu sejenak, ia berkata, "Sudah."
Chanyeol tidak berkata apa-apa. Hanya terlihat berpikir-pikir, lalu ia mengangguk dan tersenyum kecil. "Baiklah. Aku akan memanggilmu kalau semuanya sudah siap."
Baekhyun memandangi punggung Chanyeol yang menjauh sambil merenung, lalu ia berputar menghadap Seulgi dan tersenyum. "Kostum mana yang harus kupakai?"
.
.
.
Beberapa menit kemudian, setelah berganti pakaian dan berjalan kembali ke meja riasnya, Baekhyun melihat melihat dua bungkus sandwich dan sekotak susu tergeletak di meja rias. Ia mengamati kedua sandwich yang terlihat lezat itu. Sandwich kalkun dan sandwich mentimun. Secarik kertas kuning terselip di bawahnya.
Aku tidak tahu kau vegetarian atau bukan dan aku tidak tahu kau suka kalkun atau tidak, tapi tolong makan saja daripada kau jatuh pingsan di tengah-tengah syuting. Kita tidak mau hal itu terjadi, bukan?
C.
Baekhyun memandang berkeliling sampai ia melihat Chanyeol di seberang ruangan. Laki-laki itu sedang menunduk menatap sesuatu yang ditunjukkan salah seorang kru dan mendengarkan dengan saksama. Lalu tiba-tiba ia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Baekhyun. Sebelum Baekhyun sempat berpikir apa yang harus dilakukannya, Chanyeol tersenyum sekilas kepadanya dan kembali memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan kru di sampingnya.
Menatap dua potong sandwich di tangan, Baekhyun hanya ragu sejenak, lalu membuka bungkusan sandwich kalkun dan menggigitnya. Ia memejamkan mata sejenak. Pada kenyataannya sandwich itu memang bukan sandwich paling enak di dunia, tetapi saat itu, bagi perutnya yang keroncongan, sandwich itu adalah salah satu makanan paling enak yang pernah dicicipi Baekhyun.
.
.
.
.
.
Chanyeol mendapati dirinya tersenyum melihat gadis aneh itu menggigit sandwich dengan tekun, seolah-olah sandwich itu akan menguap kalau tidak segera dimasukkan ke mulut. Pikiran pertama yang muncul di benaknya adalah Baekhyun Ishida bukan vegetarian. Lalu pikiran kedua adalah dugaannya memang benar. Gadis itu nyaris pingsan karena kelaparan tadi. Chanyeol jadi ingin tahu apa yang dilakukannya selama waktu makan siang tadi, kalau gadis itu memang tidak pergi makan.
Ia membiarkan dirinya menatap ke arah Baekhyun sejenak, lalu berdoa dalam hati supaya gadis itu tidak jatuh pingsan di tengah-tengah syuting. Jadwal syuting sudah cukup gila tanpa perlu ditambah dengan pingsannya model utama.
Tetapi pada kenyataannya ia tidak perlu khawatir sama sekali. Proses syuting sepanjang sisa hari itu berjalan sangat lancar. Entah karena perut Baekhyun yang sudah terisi penuh sehingga ia bisa bekerja lebih baik atau karena suasana hati Sutradara Shin memang sedang baik, semua adegan yang direncanakan untuk hari itu diselesaikan dengan cepat dan memuaskan.
Kemudian segalanya bertambah menyenangkan ketika Sutradara Shin menghentikan proses syuting lebih awal daripada kemarin dan mengajak semua kru makan malam di restoran Korea yang berjarak satu blok dari studio.
Restoran itu terletak di lantai dua, tepat di atas toko suvenir, di ujung jalan yang tidak terlalu ramai. Restoran kecil yang tadinya sepi itu berubah ramai karena kedatangan mereka dan mereka menempati hampir semua tempat kosong yang tersedia.
"Aku belum pernah mencoba makanan Korea." Chanyeol menoleh ke arah suara itu dan melihat Baekhyun sedang berbicara kepada Seulgi.
"Sama sekali belum pernah?" tanya Seulgi, lalu menerjemahkan kata-kata Baekhyun ke dalam bahasa Korea sehingga penata rias lain yang duduk semeja dengan mereka mengerti.
Baekhyun tersenyum dan mendengarkan sementara para penata rias itu mulai berlomba-lomba menjelaskan makanan kecil yang mulai disajikan di meja kepadanya dalam bahasa Inggris yang sepatah-sepatah dan kadang-kadang tanpa sadar dicampur bahasa Korea.
Selama dua hari ini jadwal syuting sangat padat dan gadis itu bahkan belum sempat banyak bicara dengan para kru. Ini akan menjadi kesempatan yang baik bagi mereka untuk lebih mengenal. Dan kelihatannya gadis itu tidak mendapat kesulitan. Sekarang saja beberapa orang kru di meja lain mulai mendekatinya dan mengajaknya mengobrol dengan bantuan Seulgi sebagai penerjemah. Tidak lama
kemudian mereka mulai tertawa-tawa dan membicarakan hal-hal yang tidak bisa ditangkap Chanyeol dari tempat duduknya.
Sutradara Shin mengatakan sesuatu kepadanya dan Chanyeol pun mengalihkan tatapan dari gadis itu.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun merasa senang malam itu. Lelah setengah mati, tentu saja, tapi juga senang. Awalnya ia ingin menolak ketika diajak ikut makan malam karena dua alasan. Pertama, ia merasa ia mungkin akan disisihkan karena ia adalah satu-satunya orang yang tidak bisa berbahasa Korea di sana. Tetapi ternyata ia salah. Para kru memang tidak banyak bicara dan bersikap profesional ketika sedang bekerja, tetapi sekarang sikap mereka sangat berbeda. Mereka selalu mengajak Baekhyun bicara dan bercanda walaupun mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan harus mencampur-campurkan bahasa Inggris mereka yang sepatah-sepatah dengan bahasa Korea dan isyarat tangan.
Kedua, ia sangat lelah. Ia hanya ingin pulang dan tidur. Ketika syuting hari itu berakhir, ia baru benar-benar menyadari betapa lelah dirinya. Sebenarnya ajaib sekali ia masih bisa berdiri saat ini kalau mengingat jadwal kerjanya yang padat selama dua bulan terakhir, walaupun tentu saja sekarang ia merasa kakinya hampir tidak kuat lagi menopang tubuhnya.
Tetapi ia tidak bisa menolak ajakan Sutradara Shin untuk makan malam bersama. Ia tidak tahu apakah ia akan dianggap tidak sopan kalau menolak. Ditambah lagi Seulgi juga mendesaknya ikut. Karena tidak punya tenaga untuk berdebat. Baekhyun pun mengiyakan.
Dengan adanya Seulgi yang bertindak sebagai penerjemah, Baekhyun harus mengakui bahwa ia tidak menyesal telah ikut makan malam bersama. Makanannya enak dan orang-orangnya menyenangkan. Dan Baekhyun menyadari ia banyak tertawa selama makan malam karena lelucon yang dilontarkan para kru.
Sudah lama sekali ia tidak tertawa-tertawa seperti itu. Walaupun ia bersenang-senang, rasa kantuk tetap menyerangnya. Tentu saja itu tidak aneh mengingat sudah beberapa minggu terakhir ini ia kurang tidur. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia menguap diam-diam selama makan malam. Dan sekarang ia menguap lagi.
"Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Chanyeol?" Baekhyun buru-buru mengatupkan mulut dan menoleh menatap Seulgi.
"Hm?"
"Bagaimana pendapatmu tentang Chanyeol? Dia baik, bukan?" tanya Seulgi sekali lagi.
Baekhyun menoleh ke arah meja yang tadi ditempati Chanyeol, tetapi tidak melihat laki-laki itu di sana. Baekhyun menggigit bibir. Sebenarnya ia sama sekali tidak memikirkan Park Chanyeol selama dua jam terakhir ini, dan menurutnya itu sesuatu yang bagus. Lalu kenapa Seulgi tiba-tiba harus membicarakan laki-laki itu? Kalau boleh memilih, Baekhyun benar-benar tidak ingin berbicara tentang Park Chanyeol. Bahkan tidak ingin berpikir tentang laki-laki itu.
Tetapi salah satu hal yang diketahui pasti oleh Baekhyun tentang Seulgi adalah bahwa kalau wanita itu ingin membicarakan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sadar bahwa Seulgi masih menatapnya dan jelas-jelas berharap ia mengatakan sesuatu, Baekhyun memaksakan senyum kecil dan bergumam,
"Sepertinya kau mengenalnya dengan baik."
Senyum Seulgi melebar bangga. "Tentu saja. Aku bahkan mengenal kakak perempuannya yang dulu juga adalah model terkenal. Sedangkan kakak laki-lakinya...yah, aku hanya sempat bertemu dengannya satu kali—sebelum dia meninggal dunia, tentu saja."
Baekhyun menyesap minumannya dengan pelan. Seulgi mencondongkan tubuhnya ke arah Baekhyun dan bergumam pelan, "Kecelakaan lalu lintas. Tiga tahun lalu. Mengemudi sambil mabuk."
"Oh ya?"
"Oh, ya." Seulgi mengangguk muram. "Tulang pinggulnya patah dan dia sempat koma selama dua bulan sebelum akhirnya meninggal. Kasihan sekali, bukan?"
Baekhyun menghela napas pelan. Kasihan? Sebenarnya tidak. Ia tidak kasihan pada orang-orang seperti itu. Hidup ini penuh dengan pilihan. Dan kalau orang itu memilih bersikap tidak bertanggung jawab dengan mengemudi dalam keadaan mabuk, maka ia sendiri yang harus menerima akibatnya. Tetapi Baekhyun tidak berkata apa-apa pada Seulgi, hanya kembali menyesap minumannya dengan muram. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia merasa seolah-olah sedang bermimpi. Ia butuh udara segar. Tidak, tidak... Ia harus pulang. Ia tidak ingin jatuh pingsan karena kelelahan di tengah jalan.
Setelah pamit dengan Sutradara Shin, Seulgi dan para staf lain—yang terbukti agak sulit karena mereka semua mendesaknya tetap tinggal—Baekhyun pun mengumpulkan barang-barangnya dan berjalan ke arah tangga. Oh, ia sangat lelah. Saking lelahnya, ia merasa ia bisa tidur sambil berdiri. Baekhyun menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk sedikit menyadarkan diri. Udara dingin pasti bisa menyegarkannya. Sekarang yang harus dilakukannya adalah menuruni tangga kayu sempit di restoran itu. Menuruni tangga sempit dalam sepatu bot bertumit tinggi dan dalam keadaan setengah sadar sama sekali bukan pekerjaan yang mudah.
Baekhyun harus mengerahkan segenap konsentrasin yang tersisa. Ia tidak mau sampai... "Mau pergi ke mana?" Suara itu membuat Baekhyun tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan.
Sebelum ia bahkan menyadari apa yang sedang terjadi, kaki kanannya tergelincir dari pijakan dan tubuhnya terhuyung ke depan. Baekhyun memejamkan mata, bersiap-siap menerima yang terburuk. Ia merasa dirinya menubruk sesuatu, tetapi ia tidak jatuh berguling-guling di tangga, tidak terjerembap di lantai keras, tidak merasa kesakitan.
Baekhyun membuka mata dan mendongak. Matanya melebar kaget ketika ia menyadari bahwa ia telah mendarat dalam pelukan Park Chanyeol.
Oh dear...
.
.
.
.
.
.
Mata hitam yang mirip mata boneka itu terbelalak lebar menatapnya. Sejenak Chanyeol melupakan kaki kirinya yang berdenyut-denyut kesakitan. Oh ya, ia bisa melihat berbagai macam ekspresi yang melintas di mata itu. Kaget, bingung, dan... takut?
Chanyeol berdeham dan bergumam, "Kau tidak apa-apa?" Ia tidak melepaskan Baekhyun. Gadis itu pasti akan langsung tersungkur kalau Chanyeol melepaskannya, mengingat posisinya saat itu yang seluruhnya bersandar pada Chanyeol.
Baekhyun tidak menjawab. Tidak bergerak sedikit pun. Tubuhnya begitu kaku dalam pelukan Chanyeol sampai Chanyeol hampir mengira gadis itu sudah berubah menjadi boneka kayu.
"Kalau kau baik-baik saja," Chanyeol melanjutkan dengan nada ringan, "mungkin kau bisa mengangkat kaki kananmu sedikit."
Mata Baekhyun mengerjap satu kali, lalu ia menunduk menatap kaki kanannya. Chanyeol mengikuti arah pandangannya dan mereka berdua menatap hak tinggi sepatu bot Baekhyun yang menancap di kaki kiri Chanyeol. Baekhyun terkesiap dan buru-buru melepaskan diri dari Chanyeol. Tetapi karena terlalu terburu-buru, ia malah terhuyung ke belakang.
Chanyeol dengan cepat mengulurkan tangan dan menahan siku gadis itu. Ia mengembuskan napas panjang dan berkata, "Pelan-pelan saja," kata Chanyeol. Seperti yang sudah diduganya, Baekhyun secepat kilat menarik lengannya dari pegangan Chanyeol.
Sejenak Baekhyun hanya menatapnya tanpa berkedip. "Aku... Maaf," gumamnya pada akhirnya. Jeda sejenak, lalu, "Kakimu..."
Chanyeol tersenyum dan menggerak-gerakkan kaki kirinya. "Aku tidak akan pincang," katanya ringan. Baekhyun mengangguk, namun tidak berkata apa-apa.
Chanyeol mengamati Baekhyun yang berdiri di hadapannya. Apakah hanya perasaannya atau apakah gadis itu memang terlihat resah?
"Jadi kau mau ke mana?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun berdeham pelan. "Aku pulang dulu." Ia tersenyum singkat. Benar-benar singkat, sampai Chanyeol tidak yakin apakah Baekhyun benar-benar tersenyum tadi. "Sampai jumpa besok."
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu dengan cepat menuruni tangga melewati Chanyeol dengan kepala tertunduk. Kening Chanyeol berkerut samar, lalu sedetik kemudian ia berputar dan berkata, "Biar kutemani sampai ke stasiun."
Baekhyun berhenti di dasar tangga, berbalik pelan dan mendongak menatap Chanyeol. "Apa?"
"Akan kutemani kau sampai ke stasiun," Chanyeol mengulangi kata-katanya sambil menuruni tangga.
"Aku tidak butuh ditemani."
Chanyeol mendesah dalam hati. Astaga, gadis ini benar-benar menyulitkan. Ia berdiri di hadapan Baekhyun dan tersenyum ringan. "Baiklah. Aku yang butuh teman," katanya. "Aku sedang bosan. Aku butuh teman bicara. Dan kurasa jalan-jalan sebentar tidak ada salahnya. Bukankah begitu?" Setelah berkata begitu, Chanyeol berjalan melewati Baekhyun yang masih menatapnya dengan alis berkerut bingung.
Setelah berjalan beberapa langkah, Chanyeol berbalik dan melihat gadis itu masih berdiri di tempat. "Aku tidak bermaksud merayumu, kau tahu? Maksudku, kalau itu yang kau takutkan," katanya sambil tersenyum. "Sudah kubilang kau sama sekali bukan tipeku. Tapi itu tidak berarti kita tidak bisa berteman, bukan?"
Alis gadis itu masih berkerut dan ia masih menatap Chanyeol dengan ragu. Chanyeol memiringkan kepala sedikit. "Apakah kau takut padaku?"
Baekhyun tidak menjawab, dan hal itu membuat Chanyeol heran. Ia hanya bercanda dan mengira Baekhyun akan membantah dengan tegas. Tetapi gadis itu hanya berdiri diam di sana. Apakah gadis itu benar-benar takut padanya? Kenapa? Sebelum Chanyeol sempat berpikir lebih jauh, ia melihat Baekhyun memejamkan mata, lalu menghela napas seolah-olah menyerah, dan mulai berjalan menyusul Chanyeol.
Senyum Chanyeol mengembang. Itu sama sekali bukan kemenangan besar, tetapi tetap adalah kemajuan. "Jadi, Baekhyun," kata Chanyeol memulai percakapan sementara mereka berjalan menyusuri trotoar, "kau sudah merasa lebih baik?"
Baekhyun meliriknya sekilas. "Apa maksudmu?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Tadi siang kau hampir pingsan di depanku karena kelaparan. Sekarang kau hampir pingsan di tangga karena... yah, aku tidak tahu kenapa, tapi yang pasti bukan karena lapar. Kulihat porsi makanmu cukup sehat tadi."
Langkah kaki Baekhyun terhenti. Ia berputar menghadap Chanyeol dan membuka mulut hendak membalas, lalu menutupnya lagi. Setelah berpikir sejenak, ia membuka mulut dan berkata, "Pertama, tadi siang aku tidak pingsan. Walaupun aku... walaupun aku memang tidak sempat makan. Tapi itu tidak ada hubungannya! Kepalaku hanya agak pusing dan..."
Chanyeol mengangkat alis, terkejut mendengar aliran kata-kata yang cepat dari mulut Baekhyun. Tetapi sepertinya salah mengartikan ekspresi Chanyeol karena gadis itu melotot ke arahnya.
"Dan itu jarang sekali terjadi," lanjut Baekhyun galak. "Kedua, tadi aku hanya tergelincir di tangga—sekali lagi, bukan pingsan!—karena kau tiba-tiba muncul entah dari mana dan membuatku kaget setengah mati. Ketiga, apa maksudmu dengan porsi makanku besar? Apa salahnya kalau aku makan banyak? Aku kan tidak sempat makan siang tadi. Seorang model memang seharusnya kurus, tapi seorang model tidak seharusnya mati kelaparan. Katakan padaku, apakah aku salah?"
Baekhyun menarik napas panjang di akhir penjelasannya dan Chanyeol tersenyum melihatnya. Lalu ia berkata, "Giliranku?" Karena gadis itu hanya diam dan menatapnya dengan mata disipitkan, Chanyeol melanjutkan, "Oke, pertama, tadi siang kau memang hampir pingsan—tunggu, jangan menyela dulu—dan kalau aku tidak menahanmu, kau pasti sudah jatuh ke lantai seperti pohon tumbang. Kedua, aku tidak tiba-tiba muncul entah dari mana. Aku tadi sedang melihat-lihat tok souvenir yang ada di bawah restoran. Ketiga, tadi kubilang porsi makanmu sehat, bukan banyak. Sehat. Dan tidak, tidak ada salahnya kalau kau makan banyak."
Baekhyun menatapnya sejenak dengan alis berkerut kesal. "Well, terima kasih," katanya datar, berbalik meneruskan langkah.
"Sekarang," kata Chanyeol ringan sambil mengikuti langkah gadis itu, "Ceritakan tentang dirimu."
Baekhyun meliriknya sekilas—lagi-lagi tatapan curiga itu—dan bertanya singkat, "Kenapa?" Ah, lagi-lagi nada curiga itu.
"Karena itu yang dilakukan teman, bukan?" Chanyeol balas bertanya dengan nada polos. "Saling mengenal, maksudku."
Baekhyun tidak menjawab. Chanyeol juga menyadari gadis itu tidak membantah kata "teman". Jadi sepertinya itu sesuatu yang bagus.
"Sudah berapa lama kau tinggal di London?" tanya Chanyeol ketika sepertinya Baekhyun tidak berniat mengatakan apa-apa.
Baekhyun tidak langsung menjawab. Lalu, "Hampir tiga tahun."
Chanyeol tersenyum kecil. "Kau suka tinggal di sini?" Baekhyun hanya mengangkat bahu sedikit. "Ini ketiga kalinya aku datang ke London," kata Chanyeol. "Aku suka kota ini, walaupun pada dua kunjungan awalku aku tidak punya waktu untuk berkeliling dan melihat-lihat karena jadwal kerjaku terlalu padat. Tapi karena sekarang aku akan tinggal agak lama di sini, kurasa aku bisa mencari waktu luang untuk berkeliling kota."
Baekhyun tetap menunduk menatap jalan, tidak berkomentar.
"Bagaimana kalau kau menemaniku?"
Kali ini kepala Baekhyun berputar ke arahnya. Mata bulat dan resah itu menatap mata Chanyeol sedetik, lalu mengerjap. "Apa?"
Chanyeol mengangkat bahu dengan ringan. "Kukira mungkin kau bisa menemaniku berkeliling kota setelah syuting berakhir. Aku tidak punya teman lain di sini, kecuali sutradara kita, tentu saja, tapi menurutku dia mungkin lebih suka menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya daripada bersamaku."
"Oh, kurasa tidak," gumam Baekhyun cepat—mungkin terlalu cepat—sambil menuruni tangga ke stasiun kereta bawah tanah.
Chanyeol bergegas menyusulnya. "Kenapa tidak?"
"Karena aku tidak punya waktu." Kedengarannya tidak meyakinkan. Chanyeol semakin penasaran. Sepertinya Baekhyun tidak menyukainya. Tapi kenapa? Chanyeol tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang menjengkelkan. Ia ramah pada siapa saja. Dan ia jelas selalu bersikap ramah pada Baekhyun. Lalu kenapa ia merasa seolah-olah Baekhyun tidak menyukainya? Apakah ia telah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan gadis itu? Sepertinya tidak.
"Keretaku akan datang sebentar lagi," kata Baekhyun sambil mendongak menatap papan penanda kedatangan kereta, "jadi kalau kau mau pergi sekarang..."
"Kenapa kau membenciku?"
Baekhyun menahan napas sejenak. Lalu perlahan-lahan ia mengembuskan napas dan menoleh ke arah Chanyeol. Ia bisa melihat kebingungan di wajah laki-laki itu.
"Kenapa kau membenciku?" tanya Chanyeol sekali lagi.
Baekhyun menarik napas lagi, lalu berkata pelan, "Aku tidak membencimu." Itu memang benar. Ia tidak membenci Park Chanyeol. Baekhyun memang baru bertemu dengan Chanyeol dua hari yang lalu dan mungkin Baekhyun belum benar-benar mengenal laki-laki itu, tapi ia tahu Park Chanyeol bukan orang yang gampang dibenci. Malah—kalau Baekhyun mau jujur pada diri sendiri—ia merasa mudah sekali bagi seseorang untuk menyukai Chanyeol.
"Kalau begitu kau hanya tidak menyukaiku?" tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun menggigit bibir, berpikir. "Kurasa aku belum cukup lama mengenalmu untuk bisa memberikan penilaian apa pun," katanya pada akhirnya.
Alis Chanyeol terangkat dan ia tersenyum tipis. "Kau tidak membenciku, tapi juga tidak suka padaku." Ia menghela napas sejenak, lalu bertanya, "Apakah kau takut padaku?"
Itu kedua kalinya Chanyeol bertanya seperti itu. Ya, Baekhyun tidak menjawabnya ketika Chanyeol pertama kali bertanyz apadanya. Saat itu ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sekarang juga tidak.
"Baekhyun?"
Baekhyun mengangkat wajah dan menatap Chanyeol, lalu balas bertanya, "Apakah aku punya alasan untuk takut padamu?"
Chanyeol terdiam sejenak. Kepalanya dimiringkan ke satu sisi. Senyum kecil itu masih tersungging di bibirnya. Baekhyun merasa seolah-olah laki-laki itu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dan hal itu membuatnya gugup.
"Tidak, kau sama sekali tidak punya alasan untuk takut padaku," gumam Chanyeol. Satu kalimat itu langsung membuat dada Baekhyun terasa lebih ringan. Entah kenapa. Mungkin tanpa sadar Baekhyun memang mengharapkan penegasan ini.
Kemudian sebelum salah satu dari mereka mengatakan sesuatu, bunyi melengking panjang tanda kereta akan segera tiba terdengar, disusul bunyi gemuruh kereta di terowongan.
"Keretamu," kata Chanyeol pendek.
Sementara kereta berhenti di depan mereka dan sementara menunggu para penumpang turun dari kereta, Baekhyun berpikir sejenak sambil menggigit bibir. Akhirnya ia menoleh ke arah Chanyeol dan berkata, "Terima kasih."
Chanyeol balas menatapnya dengan alis terangkat. "Hm?"
"Terima kasih. Untuk semuanya, kurasa." Baekhyun mengangkat bahu dengan canggung. "Karena membelikan sandwich untukku siang tadi. Karena menolongku di tangga tadi. Karena mengantarku ke sini."
"Hei, itu gunanya teman, bukan?" balas Chanyeol ringan.
Baekhyun tersenyum ragu, lalu melangkah ke dalam kereta. Dari balik jendela kaca kereta, ia melihat Chanyeol melambaikan sebelah tangan ke arahnya. Dan laki-laki itu tidak beranjak sampai kereta itu sudah melaju meninggalkan stasiun. Baekhyun duduk bersandar dan menghela napas dalam-dalam. Kata-kata Chanyeol tadi terngiang-ngiang di telinganya.
Hei, itu gunanya teman, bukan?
Apakah ia bisa berteman dengan laki-laki itu? Baekhyun mengusap pelipisnya, lalu bertopang dagu, menatap ke luar jendela kereta, menatap dinding terowongan yang gelap gulita. Laki-laki selalu membuat Baekhyun merasa resah dan gugup. Ia tidak pernah merasa nyaman berada di dekat laki-laki. Tidak pernah. Yah, sebenarnya bukan "tidak pernah". Tentu saja ia tidak terlahir takut pada laki-laki. Hanya saja beberapa tahun terakhir ini, sejak kejadian... kejadian itu, ia tidak pernah bisa memandang laki-laki dengan cara yang sama lagi. Hanya Sehun satu-satunya laki-laki yang dianggapnya teman dan satu-satunya laki-laki yang tidak membuatnya merasa resah.
Dan sekarang ada Park Chanyeol. Selama dua hari terakhir ini Baekhyun sudah berusaha menjaga jarak darinya, sama sekali tidak ingin berurusan dengannya. Namun malam ini Chanyeol menunjukkan bahwa ia berbeda dengan perkiraan awal Baekhyun. Laki-laki itu sepertinya... baik. Mungkin Chanyeol memang berbeda. Tetapi apakan kau benar-benar bisa berteman dengan orang yang bisa membangkitkan mimpi-mimpi terburukmu?
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
