Pairing : KanaFemZero
Rating : T (untuk saat ini)
Catatan : Takuma tidak menghilang setelah Rido Kuran.
~Bab 3~
.
.
~TimeSkip~
8 Tahun Kemudian
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Suara bel pintu rumah berbunyi.
"Iya sebentar" kata pemilik rumah yang saat ini sedang berjalan menuruni tangga untuk membuka pintu rumah.
Pintu pun terbuka dan menampilkan seorang wanita berumur 20-tahunan yang tadi membunyikan bel rumah sedang berdiri dan memegang map bewarna coklat, wanita itu memiliki rambut coklat yang diikat ekor kuda tinggi dan mata bewarna biru, wanita itu juga mengenakan pakaian bisnis dengan rok pendek selutut bewarna hitam dan atasan kemeja wanita bewarna putih.
"Ah Ayame, silahkan masuk" kata pemilik rumah tersebut sambil mempersilahkan tamunya masuk. Pemilik rumah itu pun mengarahkan tamunya ke kursi ruang tamu.
"Silahkan duduk Ayame" pemilik rumah itu berkata mempersilahkan tamunya duduk sambil mengambil tempat duduk tepat diseberang tamunya.
"Kiryu-san, ini laporan bulan ini" Kata wanita itu sambil menyerahkan map laporan kepada pemilik rumah tersebut.
"Terima Kasih Ayame" Balasan dari pemilik rumah itu sambil mengambil map yang ditawarkan. Pemilik rumah yang saat ini sedang duduk didepan tamunya adalah seorang wanita yang memiliki rambut perak panjang yang saat ini sedang disanggul berantakan dan memiliki mata bewarna ungu, dia saat ini juga mengenakan pakaian santai miliknya dengan celana panjang bewarna hitam serta kemeja putih. Yep, tidak salah lagi wanita itu dikenal sebagai Zero Kiryu.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu" wanita atau yang sudah di kenal sebagai Ayame berkata kepada Zero, Ayame adalah manajer restoran yang miliki Zero. Mereka bertemu di pusat perbelanjaan, saat itu Zero tidak sengaja melihat formulir pendaftaran kerja milik Ayame dan Ayame pun saat itu lamaran kerjan milikya baru saja ditolak. Saat itu Ayame sangat membutuhkan pekerjaan dan Zero saat itu juga sangat membutuhkan manajer untuk mengelola restoran miliknya, dari situ setelah mereka mengobrol Zero pun menawarkan posisi manajer kepada Ayame. Sejak saat itu mereka mulai berteman.
"Loh kenapa buru-buru" Zero berkata terkejut kepada Ayame.
"Saya masih ada urusan lagi" Ayame berkata menjelaskan kepada Zero
"Baiklah, hati-hati di jalan Ayame" Zero berkata sambil tersenyum kecil kepada Ayame.
"Baiklah, sampai jumpa Kiryu-san" Ayame berkata sambil menundukkan kepalanya sedikit sebelum berdiri. Zero pun mengantarkan tamunya ke pintu depan. Setelah memastikan tamunya pergi, Zero pun menutup pintu rumah dan berjalan memasuki kamarnya untuk meletakkan map laporan yang baru saja dia terima.
8 tahun. tidak terasa sudah selama itu berlalu. Zero dan Ichiru sudah kembali ke Jepang setahun yang lalu. Setelah pendidikan mereka selesai Zero dan Ichiru memutuskan untuk kembali ke Jepang, walaupun Zero yang kembali satu tahun lebih awal sebelum Ichiru menyusul.
Baik Zero dan Ichiru saat ini tinggal di sebuah kota kecil yang jauh dari Cross Akademi ataupun tempat para Hunter atau Vampir yang sering muncul. Sudah 8 tahun mereka menjalani kehidupan normal tanpa kegiatan Hunter atau kehadiran Vampir lain.
Setelah Zero dan Ichiru kembali ke Jepang dan menetap. Zero dan Ichiru memutuskan untuk membuka bisnis mereka sendiri.
Zero saat ini memiliki restoran keluarga yang dinamai Lily. Zero menamakan restoran dengan nama Lily itu karena Zero begitu merindukan kuda putih milknya yang dia tidak tahu apakah masih hdup atau mati. restoran itu cepat terkenal di kota tempat Zero dan Ichiru tinggal saat ini mengingat kota ini memang sebuah kota kecil.
Dan Ichiru membuka Klinik sendiri dengan nama K'Klinik. Sama seperti restoran milik Zero, klinik Ichiru pun juga langsung terkenal di kota kecil itu.
Selain bisnis mereka, Zero dan Ichiru juga dikenal sebagai silver twins di kota itu, mengingat jarang sekali orang dikota itu menemui sepasang kembar cantik berambut perak, selain kecantikan mereka, Zero dan Ichiru juga dikenal dengan sifat ramah kepada warga kota yang tinggal disitu selain itu juga Zero dan Ichiru juga menyumbangkan sebagian uang mereka kepada panti asuhan yang ada di kota itu. Inilah kehidupan damai yang memang dinikmati oleh Zero dan Ichiru membuat mereka tidak ingin kembali kekehidupan lama mereka.
Zero tersenyum kecil begitu dia mengingat kehidupan damai miliknya dan Ichiru. Namun suara damai itu terputus dengan suara bel pintu rumah yang berbunyi lagi.
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Zeo mengernyitkan dahinya tanda tidak suka karena suara bel pintu yang ditekan secara tidak sabar. Zero pun memutuskan untuk pergi membuka pintu sebelum tamunya merusak bel pintu.
"Kenapa lama sekali" kata tamu tersebut yang tidak lain adalah Kaito Takamiya teman hunter Zero. Walaupun begitu hanya Kaito yang tahu dimana dia dan Ichiru tinggal.
"Apa sih yang kamu lakukan disini" Zero bertanya kasar setelah mempersilahkan Kaito masuk.
"Kamu ini, seharusnya kamu senang jika temanmu datang berkunjung" Kaito berkata kepada Zero.
"Itu hanya kamu" Zero berkata sambil mengarahkan Kaito ke ruang tamunya.
"Hei!, Apa maksudnya itu" Kaito berkata sambil berjalan disamping Zero. Zero yang mendengarnya hanya memutar matanya dan tersenyum kecil.
"Ze, aku lapar" Kaito berkata sambil merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.
"rumahku bukan restoran, dimana kamu bisa seenaknya datang minta makan" Zero berkata kepada Kaito sambil menyilangkan tangannya dan menatap tajam Kaito.
"Tapi kamu pemilik restoran" Kaito berkata kepada Zero sambil tersenyum kecil. Zero yang mendengarnya hanya mendengus dan melemparkan bantal sofa ke wajah Kaito.
"Hei!, untuk apa itu" Kaito berkata setelah membuang bantal sofa dari wajahnya.
"Karena kamu menyebalkan" Zero berkata sambil berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Kaito yang melihat Zero berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam hanya bisa tersenyum lembut. Dia tidak menyangka jika dia akan menemukan sosok Zero yang lama kembali sebelum kejadian yang menimpa keluarga Kiryu. Sosok yang begitu dia cintai. Ya, dia Kaito Takamiya mencintai Zero Kiryu bahkan setelah Zero berubah, satu hal yang Kaito sesalkan adalah dia tidak ada disana pada saat Zero menderita dan menemani serta membantu Zero saat itu hingga Zero jatuh ketangan Kuran. Mengingat hal itu membuat Kaito marah dan sedih, tapi untuk sekarang dia berjanji dia tidak akan meninggalkan Zero sendiri lagi, dia akan selalu ada di sisi Zero sampai Zero tidak menginginkan dia lagi.
"Apa yang kamu lakukan disini, penguntit" suara baru membuat Kaito terbangun dari lamunannya. Kaito pun menoleh hanya untuk melihat mata ungu yang saat ini menatapnya tajam.
"Mah mah Ichiru, kamu tidak merindukanku" Kaito berkata kepada suara tadi yang mengganggu lamunannya yang saat ini di kenal sebagai Ichiru. Kaito memperhatikan Ichiru dan melihat jika Ichiru sepertinya baru saja pulang dari klinik miliknya jika dilihat dari penampilannya. Ichiru saat ini mengenakan celana panjang bewarna putih serta kemeja bewarna putih dengan garis-garis hitam di sisi kanannya.
"Apa yang kamu lihat mesum" Ichiru berkata kepada Kaito, karena merasakan tatapan Kaito pada tubuhnya. Kaito yang mendengar apa yang dikatakan Ichiru, membuat alisnya berkdut jengkel.
"Siapa yang kamu panggil mesum" Kaito berkata sambil menatap tajam Ichiru.
"Tentu saja kamu, memang siapa lagi" Ichiru berkata sambil membalas tatapan Kaito dengan tidak kalah tajamnya.
"Dan kenapa kamu memanggilku mesum" Kaito berkata sambil berdiri dari sofa yang dia tiduri.
"tatapanmu itu mesum" Ichiru berkata sambil meletakkan tangannya di pinggangnya.
"Tidak, Aku tidak" Kaito berkata kepada Ichiru dengan keras.
"Ya Kamu" Ichiru berkata membalas perkataan Kaito.
"Tidak"
"Ya"
"Tidak"
"Tidak"
"Ya" Kaito berkata dengan keras. Namun langsung terdiam begitu dia sadar apa yang dikatakannya.
"Ha!, kamu baru saja mengakui sendiri jika kamu mesum" Ichiru berkata penuh kemenangan.
"Kamu menipu" Kaito berkata sambil mendesis .
"Tidak peduli, kamu tetap mengakuinya sendiri jika kamu mesum" Ichiru berkata kepada Kaito sambil menyeringai penuh kemenangan.
"Kamu-" Kaito mulai bicara.
"Ada apa ini, apakah kalian bertengkar lagi" suara Zero yang datang tiba-tiba memutuskan pertengkaran mereka.
"Tidak Zero-nee, Kaito hanya menjadi mesum seperti biasa" Ichiru berkata kepad Zero.
"Mesum?" Zero berkata kepada mereka dengan tatapan bertanya.
"Dia memeriksa tubuhku dengan matanya, Zero-nee" Ichiru berkata mengadu kepada Zero. Kaito yang mendengarnya menatap tajam Ichiru.
"Ah~ Begitukah"Zero berkata sambil memberikan Kaito senyum manis, Ok mungkin terlalu manis membuat Kaito mengeluarkan keringat dingin.
"Errr Aku akan ke kamar dulu kalau begitu" Ichiru berkata sambil berlari dari lokasi. Kaito yang melihatnya hanya bisa mengutuk dalam hati.
"Ze-" Kaito memulai namun terputus oleh Zero.
"Kaito, aku tidak peduli jika kamu melakukannya kepada wanita lain. Tapi jika kamu melakukannya kepada Ichiru, maka aku akan mencongkel bola matamu dan akan membuat telur mata Kaito, bagaimana terdengar bagus kan" Zero berkata sambil menatap tajam Kaito. Kaito yang mendengarnya hanya meneguk ludahnya dan mengangguk panik.
"Baiklah aku akan melanjutkan masak dulu kalau begitu" Zero berkata sambil berjalan kembali kedapur. Kaito yang melihat kepergian Zero hanya bisa mengelus dadanya.
'Sialan Ichiru, aku akan membalasmu' pikir Kaito dalam hati. Tentu saja Kaito berkata dalam hati mengingat sifat Zero yang protective kepada Ichiru, dan Ichiru yang selalu memanfaatkannya untuk membuat Kaito mendapat kesulitan.
"Nee-san kamu masak apa untuk makan malam" Ichiru bertanya kepada Zero.
Zero yang mendengar suara Ichiru pun menoleh untuk melihat ke Ichiru yang baru saja memasuki dapur.
"hanya pasta saja. Ichiru panggil Kaito untuk makan malam sana" Zero berkata memerintahkan Ichiru untuk memanggil Kaito sambil membawa makanan yang selesai di masak ke meja makan.
"BAKAITO!" Ichiru memanggil nama Kaito dengan keras dari dapur sambil membantu Zero menyiapkan makan malam.
"Hush Ichiru, jangan berteriak. Kamu lupa pendengaran kita sensistif" Zero berkata menegur Ichiru.
"He he he maaf nee-san, lupa" Ichiru berkata sambil tertawa malu-malu. Zero yang mendengar apa yang Ichiru katakan hanya bisa memutar matanya.
"Berisik kamu Ichiru, tidak perlu teriak" Kaito berkata sambil mmengambil kursi yang ada di meja makan.
"Biarin, lagian ngapain kamu disini"
"nih" Zero berkata sambil menyerahkan kepada Kaito piring pastanya.
"Terima Kasih Ze" Kaito berkata sambil mengambil piring yang ditawarkan Zero.
Setelah menyerahkan makanannya, Zero pun kembali kedapur untuk mengambil minuman.
"Ini minumnya Ichiru" Zero berkata kepada Ichiru sambil menyerahkan minuman yang dia bawa.
"Makasih nee-san" Ichiru berkata sambil mengambil minuman yang Zero tawarkan.
"Baiklah sekarang berhenti bertengkar dan mulai makan" Zero berkata kepada mereka yang sepertinya akan mulai bertengkar lagi.
Mereka pun mulai makan walaupun akan ditemani dengan pertengkaran antara Kaito dan Ichiru dan juga suara teguran dari Zero. Walaupun begitu Zero tidak bisa tidak mengakui jika suasana saat ini sangat menyenangkan.
Setelah selesai makan mereka pun pindah ke ruang Tv untuk menonton film bersama.
"Gimana kalau horror saja nee-san" Ichiru berkata sambil memperlihatkan kaset film horror kepada Zero.
"Hm boleh, kalian memilih film terlebih dahulu, aku akan mengambil cemilannya" Zero berkata sambil meninggalkan Ichiru dan Kaito untuk mengambil cemilan.
Tidak memakan waktu lama Zero pun kembali dengan beberapa cemilan dan minuman. Setelah meletakkan cemilan dan minumannya, Zero pun mengambil tempat duduk disebelah Ichiru.
"Hm Ichiru apa ada yang menarik terjadi hari ini" Zero berkata sambil memulai pembicaraan.
"Tidak ada, hanya seperti biasa, nee-san sendiri" Ichiru berkata kepada Zero sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Zero.
"Tidak ada hanya Ayame tadi yang mengantar laporan bulanan" Zero berkata sambil mengelus kepala Ichiru.
"Hei apakah kalian kosong untuk malam besok" Kaito berkata melihat kearah Zero dan Ichiru.
"Kenapa memangnya" Zero berkata bertanya kepada Kaito.
"Bagaimana jika besok kita ke klub malam" Kaito berkata kepada Ichiru dan Zero.
Zero dan Ichiru yang mendengar ajakan Kaito hanya saling menatap.
"Aku tidak masalah selama nee-san ikut" Ichiru berkata sambil melihat Zero dengan tatapan memohon.
"Err aku, Haaah baiklah" Zero berkata mengalah setelah melihat tatapan Ichiru.
Kaito yang melihat mereka hanya bisa mendengus kecil karena melihat jika Zero mudah sekali luluh hanya dengan tatapan Ichiru.
"Apa masalah mu" Ichiru berkata karena mendengar Kaito mendengus kecil.
"Kenapa" Kaito bertanya pura-pura bingung.
"Kamu tau apa yang kumaksud" Ichiru berkata sambil menatap Kaito tajam.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan Ichi-Chan~" Kaito berkata menggoda Ichiru.
Zero yang mendengar mereka mulai bertengkar lagi hanya bisa menghela napasnya.
Dan acara menonton film bersama, lagi-lagi harus ditemani dengan pertengkaran antara Kaito dan Ichiru.
"Apa kamu sudah selesai Ichiru" Zero berkata sambil melihat Ichiru.
"Ya nee-san aku sudah selesai. Apa Kaito sudah datang" Ichiru berkata kepada Zero.
"Kita akan memakai mobil nee-san kesana. Kaito tadi menghubungi neesan jika kita akan ketemu langsung saja di depan Silver Moon. Kaito juga bilang jika dia sudah dalam perjalanan " Zero berkata sambil melihat kearah jam tangannya.
Sesuai ajakan Kaito kemaren malam . Mereka malam ini akan pergi ke klub malam yang bernama Silver Moon. Zero dan Ichiru akan mengendarai mobil Zero untuk sampai kesana, karena Kaito mengatakan jika dia tidak ingin menunggu gadis-gadis berdandan. Zero yang mendengar apa yang Kaito katakan tadi pada saat Kaito menghubunginya hanya bisa memutar matanya.
Zero dan Ichiru saat ini sama-sama mengenakan pakaian bewarna hitam, mereka juga sama-sama mengenakan celana hitam yang hanya sampai pertengahan paha, namun bedanya jika rambut Ichiru yang diikat ekor kuda tinggi sedangkan rambut Zero disanggul berantakan dengan membiarkan sisi rambutnya membingkai wajahnya yang cantik dan jangan lupa tindikan Zero. Hanya itu yang membedakan mereka mengingat tato Zero sudah hilang karena Zero yang sudah menerima sifat Vampirnya.
Perjalanan cukup jauh mengingat klub malam yang akan didatangi oleh Zero, Ichiru dan Kaito berada di kota sebelah dari kota tempat Zero dan Ichiru tinggal.
Setelah mereka sampai Zero pun langsung memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobil Zero dan Ichiru pun pergi mencari Kaito.
"Ze, Ichiru" Zero dan Ichiru berhenti berjalan begitu mendengar suara Kaito memanggil mereka.
"Kalian lama' Kaito berkata setelah mendekati Zero dan Ichiru.
"ya wajar dong kita kan perempuan" Ichiru menjawab dengan nada ketus.
"Benarkah" Kaito berkata sambil menilai penampilan Ichiru dan Zero.
"Wow kalian seksi" Kaito menambahkan setelah selesai memeriksa penampilan Zero dan ichiru.
"Mesum" Ichiru berkata pelan. Kaito menatap Ichiru tajam begitu mendengar apa yang Ichiru katakan.
"Kita langsung masuk saja bagaimana" Zero berkata memutuskan pertengkarang antara Ichiru dan Kaito yang akan dimulai.
"Baiklah nee-san, ayo" Ichiru berkata tersenyum kepada Zero sambil berjalan menggandeng tangan Zero meninggalkan Kaito.
"Hei tunggu" Kaito berkata mengejar Ichiru dan Zero yang meninggalkan dia.
"berisik" Zero berkata sambil mengernyitkan dahinya begitu mendengar suara musik yang dimainkan dj diatas panggung.
"Tentu saja berisik, bagaimana jika kita mencari tempat duduk" Kaito berkata sambil berjalan melewati Zero dan Ichiru.
"Nee-san bagaimana jika kita menari" Ichiru berkata mengajak Zero sambil melihat kearah dimana orang sedang menari.
"Ichiru" Zero berkata sambil menegur Ichiru.
"Oh ayolah nee-san pasti seru" Ichiru berkata sambil menarik Zero ketempat dimana orang menari.
"Ichiru" Zero berkata lagi setelah mereka berada di tengah-tengah orang menari.
"ayolah nee-san" Ichiru berkata sambil tersenyum kepada Zero. Zero yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terus melihat Ichiru yang menari walaupun dia juga menari kecil karena terbawa musik yang dimainkan.
Saking asiknya mereka menar, nah hanya Ichiru sedangkan Zero mengawasi Ichiru. mereka tidak sadar jika ada yang mendekati mereka. Sampai Zero merasa jika sikunya sedang ditarik, Zero pun memutar tubuhnya untuk memarahi orang yang menarik sikunya.
"hei-" Zero mulai namun segera berhenti begitu melihat siapa yang menarik sikunya.
"Lama tidak bertemu Zero" Zero mendengar suara yang memang dia begitu kenali memanggil namanya.
"Kuran" Zero berkata kearah pria yang begitu dia kenali, siapa lagi kalau bukan Kaname Kuran. Zero hanya terus menatap pria itu dengan tatapan kosong.
Kaname harus menahan amarahnya begitu adik dan teman-temannya membawanya ke salah satu klub malam bernama Silver Moon, sudah dua jam mereka disini dan Kaname sudah ingin pulang dari tadi, jika bukan karena adiknya yang mengajak nya. Kaname rasanya ingin membunuh seseorang yang sudah mengenalkan adiknya dengan klub malam.
"Hei bukan kah itu Kiryu" Suara Aido yang terdengar terkejut membuat Kaname menoleh kearah dimana Aido melihat.
"Tidak Mungkin" Kali ini suara Ruka yang terdengar terkejut.
"Benar itu si kembar Kiryu. Dan pria yang bersama mereka bukannya si hunter Kaito Takamiya" Takuma berkata begitu melihat sepasang kembar berambut perak memasuki klub malam.
"Wooow mereka seksi" kali ini suara Shiki yang mengomentari begitu dia melihat mereka.
Kaname yang mendengar itu menyipitkan matanya. Ya tidak salah lagi mereka adalah kembar Kiryu yang menghilang selama 8 tahun. Kaname tidak tahu apa yang dirasakan antara senang dan marah, senang karena dia tahu jika Zero baik-baik saja, dan marah karena melihat jika Zero bersama si pria Kaito itu, dia tahu seharusnya tidak mempercayai Hunter pada saat mereka bilang jika mereka tidak tahu keberadaan Zero.
Kaname melihat jika saat ini si kembar sedang menuju lantai dansa walaupun dia bisa melihat jika Zero enggan untuk pergi jika dilihat Zero yang terus menatap kesal gadis yang menariknya ke lantai dansa yang tidak salah lagi adalah Ichiru Kiryu, gadis yang seharusnya sudah mati, namun disini dia melihat jika gadis itu hidup dan senang.
Kaname terus menatap si kembar Kiryu, walaupun Kaname memusatkan perhatiannya kepada Zero. Dan dia tidak suka bagaimana Zero berpenampilan dan melihat jika tidak hanya dia yang menatap Zero tapi juga para pria yang berada dilantai dansa juga sedang menatap Zero.
Kaname melihat jika ada salah satu pria yang mencoba mendekati mereka, Kaname sudah cukup dan memutuskan untuk menghampiri Zero.
"Onii-sama kamu mau kemana" Kaname mendengar suara Yuuki yang memanggilnya namun dia abaikan karena Kaname terus berjalan kearah Zero.
Kaname mendekati Zero dan melihat baik Zero dan Ichiru sedang tidak sadar jika mereka sedang menjadi pusat perhatian disitu. Setelah cukup dekat Kaname pun menarik siku Zero dan membuat Zero berbalik melihat kearahnya.
Kaname bisa melihat Zero yang terkejut melihatnya jika dilihat dari pelebaran matanya. Melihat itu membuat Kaname menyeringai sedikit.
"Lama tidak bertemu Zero" Kaname berkata sambil terus menatap Zero.
"Kuran" Kaname mendengar Zero memanggil namanya, namun dia abaikan karena Kaname terus menatap Zero.
'Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi Zero, tidak akan' Kaname berpikir sambil mengeratkan genggamannya disiku Zero.
~Tbc~
.
Balasan Review :
NaruLoveAnime : makasih untuk reviewnya, ini sudah lanjut hehe semoga aja ga mengecewakan. ^^
Allen491 : ini Zero sudah ketemu Kaname walaupun butuh 8 tahun hehe. makasih atas reviewnya. ^^
ryo : ini sudah update kok, maksaih atas reviewnya ^^
Hima : g masalah mau manggil apa Lay juga boleh kok, bener Kaname kadang harus diberi pelajaran sedikit biar bisa menghargai orang yang disekitarnya, ini Kaito juga udah muncul meramaikan cerita hehe. makasih atas review nya ^^
Lumia-chan : hehe panggil terserah aja mau asalkan jangan yang aneh aneh wkwkwk, makasih atas reviewnya ^^
.
Please Review
