Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 8

.

.

"SUDAH berapa lama?" tanya Sehun kepada Julie.

Julie mengangkat bahu. "Tiga minggu? Sekitar itulah."

Mereka berdua duduk berhadapan di meja dapur dengan cangkir di tangan Julie menyesap kopi paginya seperti biasa sementara Sehun menggenggam secangkir teh Earl Grey.

"Dia benar-benar sudah berubah, bukan?" tanya Sehun lagi.

"Dia tidak gila kerja seperti dulu," kata Julie sambil mengangguk. "Jadwal kerjanya juga tidak sepadat dulu."

"Dan dia makan dengan teratur. Biasnaya dia bahkan hampir tidak pernah... oh, aku tidak mau memikirkan dia dulu yang jarak makan," kata Sehun gemetar, lalu menyesap tehnya. "Aku jadi ingin bertemu dengan orang bernama Park Chanyeol itu."

Julie merenung. "Kurasa mereka berdua..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Sehun. "Sehun, mungkinkah dia menyukai laki-laki itu? Bagaimanapun juga, mereka masih berhubungan walaupun syuting video musik itu sudah selesai."

Saat itu pintu kamar Baekhyun terbuka dan kedua orang di meja dapur serentak menoleh ke arahnya. Baekhyun berdiri di ambang pintu dalam balutan jubah tidur dan dengan wajah seseorang yang jelas-jelas baru bangun tidur. Itu adalah perubahan lagi yang disadari teman-temannya dalam diri Baekhyun selama tiga minggu terakhir. Waktu tidurnya juga membaik.

"Selamat pagi, Sunshine," sapa Sehun riang. "Ayo bergabung dengan kami dan muffin-muffin lucu yang baru kubuat ini."

Baekhyun menguap lebar, lalu menatap kedua temannya. "Apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Tentang bagaimana Chanyeol berhasil membuatmu berubah," sahut Sehun langsung, dan tersenyum lebar ketika Baekhyun menatapnya dengan mata disipitkan. "Dan kami sama sekali tidak mengeluh."

Baekhyun menyeduh secangkir teh hijau untuk dirinya sendiri dan bergabung dengan mereka di meja. Ia meraih salah satu muffin cokelat dari piring besar di atas meja, lalu menatap kedua temannya bergantian. "Apa?" tanyanya.

Kedua temannya hanya menggeleng-geleng sambil tersenyum lebar. "Apa yang akan kaulakukan hari ini?" tanya Sehun.

"Hmm, ini enak sekali," sahut Baekhyun setelah menggigit muffin-nya. "Siang nanti aku harus pergi menemui Nami. Dia sudah kembali ke London dan katanya banyak yang mau diceritakannya padaku. Kurasa dia juga mau mengajakku menemui salah satu perancang busana yang akan ditampilkannya dalam majalah. Lalu setelah itu aku ada jadwal pemotretan."

Sehun meletakkan cangkir tehnya dengan pelan, lalu berdeham. "Kau tidak pergi menemui Chanyeol-mu hari ini?" tanyanya, memasang sikap pura-pura tidak terlalu tertarik, namun gagal total.

Baekhyun mengangkat bahu. "Entahlah,"gumamnya. "Mungkin hari ini tidak akan sempat."

"Ngomong-ngomong, kau akan mengajaknya ke pertunjukan perdanaku nanti?" tanya Julie tiba-tiba.

Sehun menjentikkan jari. "Ya, benar. Ajak saja dia. Aku sudah penasaran ingin bertemu Chanyeol-mu itu. Aku sering mendengar tentang dia tapi belum pernah melihat orangnya. Gagasan yang bagus, Julie," katanya cepat. Ia kembali menatap Baekhyun dengan wajah berseri-seri. "Julie pernah bilang dia sangat tinggi dan tampan. Benar-benar tipeku."

Baekhyun mengerutkan alis, lalu tertawa pendek. "Oh, dear."

Sehun mengibaskan tangan. "Tenang saja," katanya ringan. "Aku hanya akan mengagumi dari jauh. Aku tidak pernah merampas milik temanku sendiri."

Baekhyun mendengus. "Milik..."

"Telepon dia sekarang," sela Julie cepat. "Tanyakan padanya apakah dia bisa datang ke pertunjukanku atau tidak. Dia boleh mengajak teman-temannya, tentu saja. Semakin banyak orang yang datang menonton pertunjukan itu semakin baik. Ini peran penting pertamaku, kalian tahu? Peranku memang hanya sebagai sahabat tokoh utamanya, tapi kupastikan pada kalian bahwa itu peran yang sangat penting."

Baekhyun mendongak menatap jam kecil di atas kulkas. "Telepon sekarang?" tanyanya.

"Ya. Biar aku tahu berapa lembar tiket yang harus kuberikan kepadamu," kata Julie.

Baekhyun masuk kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu kembali ke dapur dengan ponsel ditempelkan ke telinga. Beberapa detik kemudian ia menggeleng dan mematikan ponsel. "Sedang sibuk. Nanti saja baru kutelepon lagi," katanya. Lalu ia kembali melirik jam. "Sebaiknya aku mandi sekarang."

Sehun tetap diam, menunggu sampai Baekhyun mengunci diri di kamar mandi, lalu bergegas berbisik kepada Julie dengan penuh semangat, "Kau dengar tadi? Aku menyebut Chanyeol-nya dua kali dan..."

"Dan dia tidak membantah," Julie menyelesaikan kalimat Sehun sambil tersenyum. "Menarik sekali."

.

.

.

.

.

.

Satu jam kemudian Baekhyun sudah berada di dalam mobil VW hijau nyetrik milik Sakuraba Nanami dan mendengarkan temannya itu bercerita tentang apa yang dialaminya selama liburan di Korea.

"Jadi pesta ulang tahun kakekmu diadakan besar-besaran?" tanya Baekhyun.

"Ya. Mereka mengundang banyak orang," sahut Nami dari balik kemudi. "Tentu saja itu bagus bagiku. Kau tahu aku suka berada di antara banyak orang. Dan yang lebih baik adalah banyak di antara para tamu yang bisa berbahasa Inggris. Aku tidak merasa aneh sendiri dan aku bertemu dengan banyak orang yang menarik."

Baekhyun tersenyum, memahami maksud temannya. "Maksudmu, banyak pria menarik?"

Nami tertawa. "Itu juga," akunya. "Oh, liburan kali ini sangat hebat."

Ketika Nami menghentikan mobil di depan sebuah gedung bergaya modern di daerah Covent Garden, Baekhyun mengerutkan kening. "Nami, kenapa kita berhenti di sini? Kukira kita mau pergi menemui perancang busana itu."

"Oh, aku harus memberikan barang titipan kepada seseorang," kata Nami sambil mengambil sebuah bungkusan dari kursi belakang mobil. "Ada teman ibuku ingin mengirimkan ginseng kepada anak laki-lakinya yang tinggal di London. Dan, dia menitipkannya kepadaku."

"Oh," gumam Baekhyun sambil keluar dari mobil.

"Tapi aku yakin itu hanya alasan," kata Nami lagi. "Aku yakin dia dan ibuku berkomplot ingin menjodohkan aku dengan anak laki-lakinya."

Alis Baekhyun terangkat. "Oh, ya?"

"Wanita itu menunjukkan foto anaknya kepadaku," aku Nami. "Di foto itu anak laki-lakinya memang terlihat sempurna menurut penilaianku. Tapi siapa tahu? Foto bisa dipermak di sana-sini. Mungkin orang aslinya tidak sesempurna di foto."

"Karena itu kau mengajakku?" tebak Baekhyun sambil meringis.

Nami tersenyum meminta maaf. "Kalau ternyata laki-laki itu berbeda jauh dengan foto yang kulihat, aku tidak ingin berlama-lama di sini. Kau bisa menjadi alasanku untuk cepat-cepat kabur."

"Kalau ternyata dia sesempurna di foto?"

"Kau boleh menyingkir jauh-jauh dan membiarkan aku mengurusnya sendiri," gurau Nami.

Baekhyun menghela napas lalu menggeleng-geleng. Ia kembali mendongak menatap gedung di hadapannya. Kebetulan sekali laki-laki yang ingin ditemui Nami bekerja di studio Bobby Shin. Mungkin ia bisa menemui Chanyeol sebentar sementara Nami menemui siapa pun yang ingin ditemuinya itu. Tentu saja itu kalau Chanyeol tidak terlalu sibuk.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol sedang mengedit gambar bersama salah seorang editor ketika ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponselnya. Dari kakaknya? Chanyeol keluar dari ruangan untuk menerima telepon. "Hai, Nuna," sapanya pendek.

"Hei, Chanyeol. Kuharap aku tidak mengganggumu," suara Park Yura yang halus terdengar di ujung sana.

"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Chanyeol sambil keluar ke koridor dan menutup pintu di belakangnya. "Ada apa?"

"Sudah beberapa hari ini aku bermaksud meneleponmu, tapi entah kenapa aku lupa," kata Yura. "Ini soal Ibu dan ambisinya."

Chanyeol duduk di salah satu bangku yang berderet di koridor dan tersenyum kecil. Ia bisa menebak arah pembicaraan kakaknya. "Ibu dan ambisinya," ulangnya pelan.

"Ya. Minggu lalu Ibu pergi menghadiri pesta—jangan tanyakan padaku pesta apa. Aku tidak tahu—dan dia bertemu dengan seorang temannya, atau kenalannya, atau semacamnya..."

"Dan temannya, atau kenalannya, atau semacamnya itu punya seorang anak perempuan?" tebak Chanyeol.

"Ya. Dan kebetulan sekali anak perempuan orang itu akan pulang ke London. Jadi Ibu bertanya padanya apakah dia boleh menitipkan ginseng kepada gadis itu untuk diberikan kepadamu."

"Mm-hmm. Ginseng. Benar-benar kreatif."

"Jadi aku ingin memperingatkanmu bahwa Ibu masih belum menyerah dalam usahanya menjodohkanmu, walaupun kau sudah melarikan diri sampai ke seberang samudra," kata Yura sambil tertawa.

"Aku sudah menduganya," desah Chanyeol.

"Apa?"

"Tadi pagi dia sudah meneleponku."

"Siapa? Ibu?"

"Bukan," sahut Chanyeol singkat. "Wanita itu."

"Wanita yang mana? Maksudmu yang ingin dijodohkan Ibu denganmu?" tanya Yura heran.

"Mm-hmm."

"Oh, jadi dia sudah ada di London? Bagaimana rupanya? Apa katanya?"

Chanyeol tertawa. "Nuna, aku belum bertemu dengannya. Dia hanya meneleponku tadi. Kurasa Ibu yang memberikan nomor teleponku kepadanya. Dia tidak berkata apa-apa, hanya bahwa Ibu menitipkan ginseng untukku. Kami akan bertemu nanti." Ia melirik jam tangannya. "Malah sebentar lagi dia akan datang ke sini."

"Oh, Chanyeol, kau harus menceritakannya kepadaku nanti. Aku ingin tahu bagaimana rupanya. Kata Ibu wanita itu cantik dan akan sangat cocok untukmu. Tapi kurasa Ibu selalu berkata begitu tentang semua wanita yang ingin dijodohkannya denganmu," kata Yura penasaran. "Apakah kau akan mengajaknya makan siang? Kurasa di sana sekarang masih siang, bukan? Siapa tahu kau akan menyukai yang satu ini."

Chanyeol meringis. "Aku sangat meragukannya. Nuna jangan terlalu berharap. Dan tolong katakan pada Ibu untuk berhenti menjodoh-jodohkan aku. Aku benar-benar tidak mau ikut dalam permainan ini lagi."

"Memangnya kenapa? Bukankah kau belum pernah bertemu dengan gadis ini? Bukannya aku membela Ibu, tapi kau jangan berkata tidak sebelum kau... Tunggu, aku mencium sesuatu di sini." Yura terdiam sejenak, lalu bertanya curiga, "Park Chanyeol, apakah kau sudah bertemu dengan seseorang di sana?"

Senyum Chanyeol melebar. Kakaknya memang sangat tajam. Ia baru hendak menjawab ketika seseorang memanggilnya. Ia mendongak dan melihat salah seorang rekan kerjanya berkata bahwa ada tamu untuknya di bawah. Chanyeol mengangguk dan mengangkat sebelah tangan untuk berterima kasih. Kemudian ia berkata kepada kakaknya di telepon.

"Dengar, Nuna, aku harus pergi sekarang. Kurasa wanita itu sudah datang. Lain kali saja kita bicara lagi."

"Park Chanyeol..."

"Aku tutup dulu, Nuna." Chanyeol langsung menutup ponsel sambil tersenyum puas. Kakaknya pasti uring-uringan. Oh, itu sudah pasti. Tapi Chanyeol akan membiarkan kakaknya menebak-nebak dulu. Setidaknya untuk sementara.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun menatap ponselnya dengan kening berkerut. Kenapa ponsel Chanyeol masih sibuk? Ia mengembuskan napas dan kembali menghampiri Nami yang duduk di salah satu sofa yang tersedia setelah memberikan nama orang yang ingin ditemuinya kepada si resepsionis.

Nami mendongak menatapnya. "Kenapa? Temanmu tidak ada?" tanyanya.

"Mungkin sedang sibuk," sahut Baekhyun dan duduk di samping Nami.

Tidak lama kemudian Nami menyikutnya. "Coba lihat. Kurasa itu dia."

Baekhyun menoleh ke arah meja resepsionis. Ada seorang laki-laki bertubuh jangkung di sana, berbicara kepada resepsionis. Lho, bukankah itu...? Baekhyun mengerjap kaget. Park Chanyeol?

"Astaga, dia kelihatan persis seperti di fotonya," gumam Nami bersemangat. "Sama persis. Sempurna."

Baekhyun menoleh menatap temannya yang mengamati Chanyeol dengan mata berkilat-kilat memuji. Mendadak saja jantungnya mulai berdebar lebih keras. Oh, dear. Jangan katakan bahwa orang yang dijodohkan dengan Nami adalah Park Chanyeol. Kemudian Chanyeol menoleh ketika si resepsionis menunjuk ke arah Baekhyun dan Nami. Mata Chanyeol langsung tertuju pada Baekhyun dan senyumnya pun mengembang.

Oh, dear, kenapa ia harus tersenyum seperti itu? pikir Baekhyun tanpa sadar. Baekhyun kembali melirik Nami. Tentu saja Nami juga melihat senyum itu. Dan kilatan baru yang dilihatnya di mata Nami menegaskan kecurigaannya.

"Baekhyun, kenapa kemari?" tanya Chanyeol sambil menghampiri Baekhyun dengan langkah lebar. Dan senyum terkutuk itu masih tersungging di bibirnya.

Baekhyun menyadari kepala Nami berputar cepat ke arahnya. "Kau mengenalnya?" bisik Nami dengan nada heran. Baekhyun cepat-cepat berdiri dan memaksa bibirnya tersenyum. "Hai, Chanyeol."

"Aku baru berencana mengajakmu makan siang bersama nanti," kata Chanyeol, masih menatap Baekhyun. "Ternyata kau sudah datang ke sini."

"Eh, sebenarnya..." Baekhyun menoleh ke arah Nami yang juga sudah berdiri di sampingnya. "Ini temanku, dan eh..." Ia benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan ini karena ia sendiri masih bingung.

Nami dengan tangkas mengambil alih keadaan. Ia mengulurkan tangan ke arah Chanyeol dan menyunggingkan senyum cerah yang sudah sering ditunjukkannya di depan kamera. "Halo," katanya lancar. "Aku Nanami Sakuraba, orang yang meneleponmu tadi pagi."

Chanyeol menjabat tangannya. "Oh?" Ia juga terlihat agak bingung sementara ia memandang Nami dan Baekhyun bergantian. "Jadi..."

"Sebenarnya Baekhyun hanya menemaniku ke sini untuk menemuimu," Nami menjelaskan dengan lancar. "Aku tidak tahu ternyata kalian berdua saling mengenal. Ini kejutan yang menyenangkan."

"Rupanya begitu. Ini memang kejutan," kata Chanyeol sambil mengangguk-angguk kecil. Lalu ia menyadari sesuatu. "Oh ya, maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Park Chanyeol. Senang berkenalan denganmu. Teman Baekhyun adalah temanku juga."

Nami menyodorkan bungkusan yang dipegangnya. "Ini titipan dari ibumu."

"Terima kasih. Aku minta maaf karena sudah merepotkan," kata Chanyeol.

"Aku sama sekali tidak keberatan."

Baekhyun melirik Nami dan harus mencegah dirinya memutar bola matanya. Wajah Nami jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sangat tertarik dengan yang ada di depan matanya.

"Ngomong-ngomong," kata Chanyeol lagi sambil menatap Baekhyun dan Nami bergantian, "tadinya aku bermaksud mengajak Baekhyun makan siang bersama. Bagaimana kalau kau juga ikut dengan kami? Kau sudah berbaik hati membawakan titipan ibuku sampai ke kantorku, paling tidak aku bisa mentraktirmu makan siang." Ia melirik jam tangannya, lalu menatap Baekhyun, "Bagaimana kalau kira-kira satu setengah jam lagi?"

"Aku tidak bisa," sahut Baekhyun, agak kaget menyadari nada suaranya terdengar ketus. "Ada pekerjaan siang ini."

Chanyeol mengangkat alis. Kali ini Baekhyun menjaga suaranya tetap terkendali dan cepat-cepat menambahkan, "Aku akan makan. Tenang saja. Aku pasti makan. Hanya saja aku tidak akan punya cukup waktu untuk makan siang di luar."

"Itu bagus," kata Chanyeol sambil tersenyum kecil.

"Aku bebas siang ini," sela Nami tiba-tiba.

Chanyeol mengalihkan tatapan dan senyumnya dari Baekhyun dan mengarahkannya kepada Nami. "Baiklah," katanya ringan. "Bagaimana kalau satu setengah jam lagi kita bertemu di Covent Garden Pizza? Kita bisa menemukan banyak pilihan di sana."

"Tentu saja," sahut Nami.

Kepala Baekhyun tiba-tiba terasa berdenyut-denyut. Astaga, ada apa lagi dengan dirinya? Ia sudah cukup tidur dan cukup makan. Kenapa kepalanya kembali bermasalah?

Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah duduk kembali di dalam VW hijau Nami dan Baekhyun harus mendengarkan celotehan Nami yang menggebu-gebu. "Ini benar-benar kebetulan, bukan, Baekhyun?" tanya Nami sambil tertawa. "Ternyata Park Chanyeol itu temanmu. Dunia memang sempit. Kenapa kau tidak pernah bilang kau punya teman setampan itu?"

Baekhyun hanya tersenyum dan bergumam tidak jelas.

"Dan apakah sudah kubilang bahwa dia sama persis dengan foto yang kulihat?" lanjut Nami. "Ini benar-benar hebat. Baekhyun, kau harus menceritakan semua tentang dia kepadaku."

Baekhyun menoleh menatap temannya. "Kenapa aku?"

Nami tertawa. "Apakah itu juga perlu ditanya? Kau temannya dan kau tahu lebih banyak tentang dirinya. Sudah jelas kau bisa membantuku."

Tidak tahu apa yang harus dikatakannya, Baekhyun kembali tersenyum, lalu memalingkan wajah ke luar jendela dan mengembuskan napas pelan. Oh, dear...

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Ps; kalo ada yang lupa, Sakuraba Nanami itu cewek yang ada diMV For Life ^^