Spring In London
Remake dari Novel Ilana Tan
Byun Baekhyun . Park Chanyeol
And others
Romance . Drama
GS!
T
Chapter 9
.
.
KETIKA pulang malam itu, Baekhyun menemukan flat dalam keadaan kosong. Sehun dan Julie belum pulang. Baekhyun mendesah dan berjalan ke dapur. Tidak ada Sehun berarti tidak ada makan malam. Ia meletakkan tas besarnya ke atas meja dapur dan membuka kulkas. Ia menemukan cottage pie yang sudah dimakan setengah. Entah milik siapa, tapi Baekhyun tidak peduli. Tidak ada catatan yang tertempel di sana yang menyatakan bahwa cottage pie itu tidak boleh dimakan. Lagi pula Baekhyun lapar. Ia memasukkan cottage pie ke dalam microwave, lalu meraih tasnya dan masuk ke kamarnya.
Empat puluh menit kemudian ia sudah selesai mandi, keramas, dan duduk di depan televisi di ruang tengah sambil melahap cottage pie-nya. Tayangan berita di televisi tidak berhasil menarik perhatiannya. Pikirannya selalu kembali kepada kejadian siang tadi dan tanpa sadar ia menusuk cottage pie-nya dengan tenaga yang lebih besar daripada yang diperlukan.
Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di meja berbunyi dan lamunannya buyar. Alisnya terangkat ketika membaca nama yang muncul di layar. "Apa?" katanya singkat setelah ponsel ditempelkan ke telinga.
"Kenapa kau marah-marah padaku?"
Walaupun Baekhyun tidak menyadarinya, tetapi kini hanya mendengar suara Chanyeol saja bisa membuat sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman. Seperti sekarang. "Aku tidak marah," kata Baekhyun, mencegah senyumnya terdengar dalam suaranya.
"Kukira kau rindu padaku."
Baekhyun mendengus. "Aku sudah pasti tidak rindu padamu."
"Kalau begitu kau mau aku menutup telepon?"
"Kenapa kau meneleponku?"
Chanyeol tertawa, lalu berkata, "Ada yang ingin kukatakan padamu."
"Apa? Katakan saja."
"Sekarang kau ada di rumah?"
"Mmm."
"Aku ingin kau melihat ke luar jendela. Ada sesuatu di sana."
Baekhyun mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Jangan menakutiku, Chanyeol."
"Tidak, tidak. Justru yang akan kau lihat itu akan membuatmu gembira. Lihatlah ke luar jendela."
Baekhyun berdiri dan berjalan ke jendela. "Apa yang harus kulihat?" tanyanya sambil menyibakkan tirai dan mendongak menatap langit gelap di atas sana. Tetapi tidak terlihat apa pun. Bintang pun tidak ada. "Tidak ada apa-apa, Chanyeol. Memangnya menurutmu langit yang hitam bisa membuatku gembira?"
"Itu karena kau melihat ke arah yang salah," kata Chanyeol.
"Apa?"
"Lihat ke bawah."
Baekhyun menunduk menatap jalan di bawah sana dan matanya langsung melebar melihat Chanyeol berdiri di trotoar di depan gedung flatnya. "Oh, dear," gumamnya tanpa sadar.
Chanyeol tersenyum lebar dan mengangkat tangannya yang tidak memegang ponsel. "Halo. Kau gembira melihatku, bukan?" katanya.
Baekhyun mendesah berat, namun ia tidak bisa mencegah dirinya tersenyum. "Park Chanyeol, sedang apa kau di situ?"
"Temanmu ada di rumah?" tanya Chanyeol.
"Tidak. Mereka belum pulang."
"Kalau begitu kau bisa turun sebentar?"
Baekhyun tahu kenapa Chanyeol tidak memilih naik ke flatnya. Walaupun mereka berteman baik dan Baekhyun tidak menganggap Chanyeol sama dengan laki-laki lain, sepertinya Chanyeol tahu Baekhyun masih merasa tidak nyaman apabila berdua saja dengannya di dalam ruangan tertutup.
"Tunggu di sana," kata Baekhyun ke ponselnya. "Aku akan segera turun."
Tidak lama kemudian mereka sudah duduk di ayunan di taman bermain anak-anak yang tidak jauh dari flatnya. Chanyeol merogoh saku jaketnya dan mengulurkan sehelai saputangan kepada Baekhyun. "Aku datang ke sini untuk mengembalikan ini," katanya.
Baekhyun menerimanya dengan kening berkerut heran. "Ini bukan milikku."
"Memang bukan. Itu milik temanmu, Nami," kata Chanyeol. "Dia meninggalkannya ketika kami makan siang tadi."
Baekhyun mengeluarkan suara yang terdengar seperti dengusan dan tawa pendek. "Aku tidak percaya ini. Dia memakai taktik saputangan," gumamnya lirih.
"Apa katamu?"
"Tidak apa-apa," kata Baekhyun cepat. "Lalu kenapa kau tidak mengembalikannya sendiri kepadanya? Aku yakin itu yang diinginkannya."
"Aku pasti sudah melakukannya kalau aku tidak menghilangkan nomor teleponnya," sahut Chanyeol ringan.
Baekhyun berdeham pelan. "Makan siang kalian menyenangkan?"
Chanyeol mengangguk. "Tentu saja."
"Aku yakin begitu," kata Baekhyun, tidak sanggup menyingkirkan nada tajam dalam suaranya. Lalu ia melirik Chanyeol dan menambahkan, "Ngomong-ngomong, dia juga tertarik padamu."
"Oh ya?"
"Dia mencekokiku dengan ratusan pertanyaan tentangmu setelah kami bertemu denganmu tadi," sahut Baekhyun. "Aku yakin dia pasti ingin kau sendiri yang mengembalikan saputangan ini kepadanya. Dia pasti berharap kau meneleponnya. Bagaimanapun juga, dia sudah memberikan nomor teleponnya kepadamu."
Chanyeol menoleh menatapnya dan tersenyum. "Menurutmu begitu? Benar juga. Mungkin aku harus mencari nomor teleponnya lagi. Mungkin aku memang harus mengembalikan saputangan itu sendiri kepadanya."
Tetapi Baekhyun tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan melepaskan saputangan yang dipegangnya.
"Apa pendapatmu tentang Nami?" tanya Baekhyun, tidak bisa menahan diri.
"Temanmu orang yang menyenangkan," sahut Chanyeol ringan. "Cantik, ramah, lucu, dan tidak pernah kehabisan bahan obrolan."
Baekhyun memberengut ke arah saputangan dalam cengkeramannya.
"Bisa dibilang dia benar-benar tipeku," tambah Chanyeol. "Tapi..."
Baekhyun meliriknya. "Tapi apa?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Entah tipe seperti itu tidak lagi menarik minatku," katanya terus terang. Lalu ia menatap Baekhyun dan berkata, "Kurasa sekarang ini aku menginginkan sesuatu yang dulunya bukan tipeku."
Baekhyun tidak mengerti. Jadi ia hanya balas menatap Chanyeol tanpa berkata apa-apa. Sedetik kemudian Chanyeol mendesah dan merogoh saku bagian dalam jaketnya. "Ini alasan kedua aku datang ke sini," katanya sambil mengacungkan sekeping CD dalam kotak bening.
"Apa itu?"
"Video musik kita waktu itu. Ini hasil akhirnya. Kukira kau pasti ingin melihatnya."
"Benarkah?" Senyum Baekhyun mengembang. "Kau sudah melihatnya?"
Chanyeol mengangguk. "Tentu saja. Penampilanmu hebat."
Baekhyun menatap CD itu, lalu menoleh ke arah Chanyeol. Ia ragu sejenak, lalu bertanya, "Kau mau melihatnya bersamaku? Di flatku?"
Chanyeol balas menatapnya. "Kau yakin?"
Baekhyun tersenyum dan mengangguk. "Ya."
.
.
.
.
.
"Baekhyun, apakah itu kau?" Suara pria berlogat Skotlandia itu langsung menyambut mereka begitu mereka memasuki flat. Alis Chanyeol berkerut. Suara laki-laki?
"Ya, ini aku," Baekhyun balas berseru.
"Sayang, apakah kau yang menghabiskan cottage pie yang kusimpan di dalam kulkas?" tanya suara itu lagi, yang sepertinya berasal dari arah dapur.
"Itu Sehun" kata Baekhyun kepada Chanyeol.
Sehun? Tapi... Sebelah alis Chanyeol terangkat dan ia menoleh menatap Baekhyun. "Sayang?" gumamnya pelan.
Baekhyun mengerjap. "Ah, itu..." Namun sebelum Baekhyun sempat menjelaskan, seorang laki-laki bertubuh ramping, jangkung dan berambut gelap muncul dari dapur. "Lass, apakah kau yang menghabiskan cottage pie—oh!" Kata-katanya terhenti ketika ia menyadari bahwa mereka kedatangan tamu.
Baekhyun buru-buru memperkenalkan mereka. "Sehun, perkenalkan ini Chanyeol. Chanyeol, ini teman satu flatku yang lain, Sehun."
"Chanyeol? Chanyeol yang itu?" kata Sehun sambil menatap Chanyeol dengan mata birunya yang berkilat-kilat. Senyumnya mengembang dan ia menjabat tangan Chanyeol. "Senang sekali akhirnya bertemu denganmu. Aku sudah mendengar banyak cerita tentang dirimu. Biar kukatakan padamu, kau sama persis seperti yang mereka gambarkan padaku. Ayo, masuklah. Kau mau minum? Sudah makan malam? Oh, Baek, lupakan saja soal cottage pie itu. Kau boleh makan apa pun sesuka hatimu."
"Sebenarnya Chanyeol datang ke sini untuk menunjukkan video musik yang kami kerjakan beberapa minggu yang lalu," kata Baekhyun.
"Oh, video musik itu?" tanya Sehun sambil bertepuk tangan. "Boleh aku ikut menonton?"
"Tentu saja," sahut Chanyeol ringan.
Tepat pada saat itu pintu terbuka dan seorang gadis berambut merah dan bermata hijau melangkah masuk. "Halo? Kenapa kalian semua berkerumun di belakang pintu? Oh, rupanya ada tamu."
Chanyeol ingat gadis itu. Kalau tidak salah namanya Julie, teman Baekhyun yang pernah dijumpainya di taman beberapa minggu yang lalu. Baekhyun kembali memperkenalkan mereka. "Julie, masih ingat Chanyeol? Chanyeol, ini Julie."
"Kami akan menonton video musik yang mereka bintangi bersama," sela Sehun sementara Julie dan Chanyeol bertukar sapa.
"Oh, bagus. Aku juga ingin ikut menonton," kata Julie.
"Ayo, semuanya pindah ke ruang duduk," seru Sehun sambil menggiring mereka ke ruang duduk yang kecil dan nyaman. "Sepertinya masih ada anggur merah yang tersisa. Tunggu, akan kuambilkan. Dan juga masih ada sherry trifle yang kubuat kemarin. Julie, Sayang, kau bisa membantuku di dapur? Biar Baekhyun saja yang menemani tamu kita sebentar."
Chanyeol tersenyum mengamati kedua teman satu flat Baekhyun keluar dari ruang duduk dan berjalan ke dapur sambil terus mengobrol. Ia menduga suasana di flat ini tidak pernah sepi. Dan ia menyukai kenyataan itu. Flat yang nyaman dan teman-teman yang ramah.
Baekhyun menoleh kepada Chanyeol dan tersenyum meminta maaf. "Mereka agak berisik, bukan?"
Chanyeol tertawa, lalu berkata, "Aku sama sekali tidak keberatan. Kau punya teman-teman yang luar biasa. Aku iri padamu." Dan itu memang benar.
"Kau boleh mengambil mereka dari sini kapan saja," gurau Baekhyun.
"Ngomong-ngomong, kau tidak pernah bilang bahwa teman satu flatmu ternyata laki-laki," kata Chanyeol, tiba-tiba teringat pada persoalan yang mengganggunya sejak ia masuk ke flat ini.
Baekhyun memiringkan kepala dan berpikir-pikir. "Aku yakin aku pernah menyebut-nyebut soal Sehun."
"Memang. Tapi kau hanya bilang bahwa kau punya dua teman yang tinggal satu flat denganmu. Julie dan Sehun. Kukira Sehun itu wanita," kata Chanyeol. Ia ragu sejenak, lalu bertanya, "Apakah dia...?"
"Ya, dia gay," sahut Baekhyun, langsung tahu apa maksud Chanyeol. Namun matanya menyipit ketika menatap Chanyeol. "Tapi kuharap kau tidak mempermasalahkan kenyataan itu."
Chanyeol menggeleng. "Tidak, sama sekali tidak. Mungkin kau tidak percaya, tapi aku senang dia gay."
Alis Baekhyun berkerut bingung, namun ia tersenyum. Tetapi apa yang dikatakan Chanyeol tadi benar. Karena ia yakin wanita manapun ingin tenggelam dalam mata biru Sehun. Bahkan mungkin Baekhyun juga akan mengakuinya. Oh, sialan, jangan-jangan...
"Apakah kau juga tertarik pada mata birunya?" tanya Chanyeol tiba-tiba sambil menatap Baekhyun lurus-lurus. Ia sadar pertanyaannya terdengar aneh dan tidak berhubungan, tetapi ia sungguh tidak bisa menahan diri.
Kali ini Baekhyun tertawa. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, apakah kau berharap dia bukan gay?" tanya Chanyeol, lalu merasa pertanyaannya semakin aneh. "Maksudku, apakah kau merasakan sesuatu... Oh, sialan. Lupakan saja kata-kataku. Aku sendiri tidak mengerti apa yang ingin kukatakan."
Hening sejenak sementara Chanyeol mengomeli ketololannya sendiri. Sesaat kemudian Baekhyun memecah keheningan. "Tidak," katanya.
Chanyeol kembali menoleh kepadanya. "Apa?"
Baekhyun tersenyum kecil. "Jawaban untuk pertanyaanmu," sahutnya. "Apakah aku tertarik pada mata birunya? Tidak."
Chanyeol menatap mata Baekhyun dan ia merasa dirinyalah yang mulai tenggelam dalam mata hitam itu. "Oh," gumamnya tidak jelas.
"Apakah aku berharap dia bukan gay?" Baekhyun mengulangi pertanyaan Chanyeol tadi, lalu menjawab sendiri, "Tidak."
Saat itu, suara Baekhyun seolah-olah menyihirnya. Chanyeol tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap gadis yang duduk di sampingnya di sofa di ruang duduk kecil itu dan mendengarkan setiap patah katanya. Ia juga sadar bahwa ia menahan napas.
Baekhyun kembali melanjutkan, "Apakah aku merasakan sesuatu...?" Ia menatap Chanyeol dengan mata berkilat-kilat tertawa. "Ya."
Apa? Apa? Chanyeol merasa jantungnya seolah-olah jatuh ke lantai. Oh, sialan. Namun sebelum Chanyeol sadar sepenuhnya, atau sebelum ia sempat mencerna kata-kata Baekhyun, atau sebelum perasaan aneh itu mulai mengacaukan otak dan indranya, ia mendengar suara Sehun yang lantang dan ceria, "Siapa yang mau sherry trifle?"
.
.
.
.
.
TBC
