Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 10

.

.

"DIA benar-benar seperti yang kau gambarkan, Julie." Baekhyun menyesap tehnya sambil tersenyum. Sehun sudah mengulang-ulang kalimat itu setidaknya delapan kali sejak Chanyeol meninggalkan flat mereka kemarin malam sampai pagi ini ketika mereka bertiga berkumpul di dapur kecil mereka.

"Dia benar-benar tipeku," tambah Sehun lagi sambil menggoreng telur.

"Singkirkan mimpi itu sebelum kau patah hati," Julie menyarankan acuh tak acuh dan menguap lebar. Lalu ia menoleh ke arah Baekhyun. "Ngomong-ngomong, kau harus mengajaknya menonton pertunjukanku nanti. Ini pertunjukan pertama di mana aku mendapat peran utama, kalian tahu?" Tepat pada saat itu terdengar bel pintu berbunyi.

"Siapa lagi yang datang pagi-pagi begini?" gerutu Sehun. "Kalian sedang menunggu seseorang?"

Julie bangkit dan berjalan ke pintu dengan langkah terseok-seok. Terdengar pintu terbuka, lalu terdengar suara Julie yang berkata, "Oh, Nami. Masuklah!"

Baekhyun mengangkat wajah dan mengerjap. Nami? Dan ia teringat bahwa ia belum bercerita kepada Sehun dan Julie tentang kejadian antara dirinya, Nami dan Chanyeol kemarin.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Nami ketika ia muncul di dapur.

"Hei, Nami," sapa Sehun sambil melambaikan sebelah tangan.

"Baek, aku ke sini untuk meminta pendapatmu tentang ini," kata Nami kepada Baekhyun sambil tersenyum cerah. Ia mengeluarkan dua lembar kertas dari dalam mapnya dan mengacungkannya di depan wajah Baekhyun. Dua-duanya adalah foto salah seorang aktris Inggris yang sedang populer saat ini, namun dalam pose dan pakaian yang berbeda. "Salah satu dari kedua foto ini akan menjadi sampul depan majalah kita untuk edisi mendatang. Aku benar-benar tidak tahu yang mana yang harus kupilih, jadi aku datang meminta pendapatmu."

Baekhyun menatap kedua foto di depannya dan mendesah dalam hati. Sebenarnya siapa yang menjadi pemimpin redaksi di sini? Ia tidak keberatan membantu teman, tetapi karena kejadian ini terus berulang, ia mulai bertanya-tanya apakah selama ini dirinya sudah diperalat tanpa disadari.

"Nami, kau juga harus datang menonton pertunjukanku nanti. Ini pertunjukan besar pertamaku," kata Julie yang menyusulnya ke dapur, kembali duduk di tempatnya semula.

"Tentu saja," sahut Nami, "kalau aku tidak punya acara penting. Kapan pertunjukanmu itu?"

"Dua minggu lagi," kata Julie, lalu kembali menoleh ke arah Baekhyun. "Lalu kapan kau akan mengajak Chanyeol ke pertunjukanku?"

Baekhyun melotot ke arah Julie, tetapi sudah terlambat. Mata Nami mengerjap dan terarah pada Julie. "Maksudmu Park Chanyeol?"

Sehun berbalik dari kompor dan meletakkan sepiring telur di atas meja. "Kau mengenalnya?" ia balas bertanya.

Baekhyun menyesap tehnya tanpa berkomentar sementara Nami menceritakan kejadian kemarin siang kepada mereka. Ia menceritakan semuanya. Semuanya. Tanpa melewatkan detail kecil apa pun. Semuanya. Tentang bagaimana ibunya dan ibu Chanyeol berusaha menjodohkan mereka berdua, tentang Chanyeol yang mengajaknya makan siang bersama, tentang bagaimana mereka langsung cocok , bla bla bla.

Baekhyun menyadari lirikan tajam yang dilemparkan Julie dan Sehun ke arahnya, tetapi ia pura-pura tidak peduli. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan teman-temannya itu, tetapi tidak tahu bagaimana menjawabnya, bagaimana menjelaskannya. Ini bukan salahnya. Nami sendiri yang langsung menyerbu masuk tanpa bertanya ataupun meminta izin. Kalau sudah begitu, apa yang bisa Baekhyun lakukan?

"Dan kalau kau mau mengajak Chanyeol, aku bisa meneleponnya," kata Nami di akhir penjelasannya.

Namun sebelum Nami menyelesaikan ucapannya, Baekhyun sudah masuk ke dalam kamar, meraih ponsel dan menekan nomor Chanyeol.

.

.

.

.

Chanyeol masih berbaring di tempat tidur ketika ponselnya berdering. Ia mengerang pelan, tapi langsung terbatuk-batuk. Ia memaksa dirinya bangkit duduk dengan susah payah dan meraih ponsel yang tergeletak di meja di samping tempat tidur.

"Halo?" gumamnya serak, dan kembali terbatuk-batuk.

"Ada apa denganmu?"

Walaupun kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya lemas, Chanyeol masih bisa tersenyum mendengar suara Baekhyun yang bernada cemas bercampur curiga. "Aku tidak tahu," gumam Chanyeol pelan. "Badanku panas dan lemas, tenggorokanku sakit, dan kepalaku serasa seperti batu. Sudah begini sejak aku bangun tadi pagi."

"Kemarin kau baik-baik saja," kata Baekhyun lagi. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya ragu, "Apakah gara-gara sesuatu yang kau makan di tempatku kemarin malam?"

Chanyeol kembali berbaring dan memejamkan mata, berharap rasa pusingnya bisa berkurang. "Tidak. Aku yakin bukan itu," sahut Chanyeol. "Kurasa aku tertular salah seorang rekan kerjaku di kantor."

"Kau sudah ke dokter? Minum obat?" tanya Baekhyun.

Chanyeol menggeleng walaupun ia tahu Baekhyun tidak bisa melihatnya. "Nanti saja. Terlalu lemas untuk bangun. Aku mau berbaring sebentar."

Jeda sejenak di ujung sana, lalu Baekhyun bertanya, "Kau... kau mau aku pergi ke sana?"

"Kau akan datang kalau kuminta?" Chanyeol balas bertanya.

"Yah... tentu saja. Kalau kau mau."

Chanyeol tersenyum tipis. Baekhyun bahkan tidak berhasil menyingkirkan keraguan dari nada suaranya. Selama Chanyeol mengenal Baekhyun, ia sudah berhasil mengetahui beberapa hal tentang diri gadis itu. Pertama, Baekhyun Ishida selalu bersikap waswas di depan laki-laki. Hal ini membuat Chanyeol lega karena itu berarti Baekhyun tidak bersikap gugup dan resah hanya di depan Chanyeol. Namun hal itu juga menimbulkan pertanyaan lain: Kenapa Baekhyun enggan berhubungan dengan laki-laki? Walaupun hubungan mereka sudah mengalami banyak kemajuan kalau dibandingkan dengan pertemuan pertama mereka, Chanyeol merasa Baekhyun masih menahan diri.

Hal kedua yang disadari Chanyeol adalah Baekhyun masih tidak suka disentuh. Dan sampai sekarang Chanyeol masih belum tahu alasannya.

"Terima kasih, tapi itu tidak perlu," kata Chanyeol pada akhirnya. Ia tahu Baekhyun akan datang kalau ia memintanya, tetapi ia tidak ingin memaksa gadis itu. Ia ingin Baekhyun membuka diri atas pilihannya sendiri. "Aku yakin ada obat di sekitar sini. Aku hanya akan tidur sebentar. Setelah itu aku berjanji aku akan minum obat. Dan aku yakin setelah itu aku akan sembuh. Tenang saja."

"Kau akan meneleponku kalau kau membutuhkan sesuatu?" tanya Baekhyun. Suaranya masih terdengar cemas.

"Tentu saja."

"Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi. Istirahatlah. Jangan lupa telepon aku kalau ada apa-apa."

"Kau orang pertama yang akan kuhubungi."

Setelah menutup telepon, Chanyeol terbatuk-batuk sebentar sambil kembali meringkuk di balik selimut. Ini benar-benar menjengkelkan. Ia tidak suka merasa sakit dan merasa tak berdaya seperti ini. Ia benar-benar harus mencari obat. Dan kalau ia masih belum membaik setelah minum obat, ia sudah pasti harus ke dokter.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Chanyeol mengerang dan berpikir seharusnya ia mematikan ponselnya saja seharian ini supaya bisa beristirahat dengan tenang. Ia meraba-raba ranjang mencari ponsel yang tadi dilepaskannya begitu saja. Mengangkat ponsel ke telinga saja membutuhkan segenap kekuatannya. "Ya?" gumamnya pendek. Dua detik kemudian matanya terbuka. "Oh, Nami?"

.

.

.

.

.

.

Siang itu Baekhyun masih merasa khawatir. Ia ingin menelepon Chanyeol tetapi takut mengganggu istirahat laki-laki itu. Selama beberapa menit terakhir, ia duduk di meja tulisnya yang menghadap jendela di kamar tidurnya. Ia tidak punya jadwal kerja hari ini. Ia memang sengaja mengatur agar hari ini ia bisa berlibur. Sudah lama ia ingin pergi ke kota untuk melihat-lihat dan berbelanja, namun tentu saja ia tidak bisa menikmati acara belanjanya kalau terus memikirkan Chanyeol.

Ia sedang memutuskan apa yang sebaiknya dilakukannya ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di meja dan cepat-cepat menjawabnya. "Chanyeol?"

"Kau bisa datang ke sini?" Suara Chanyeol terdengar lirih dan lemah. Napasnya juga terdengar berat, seolah-olah butuh usaha besar hanya untuk berbicara. "Tolonglah... Tolong datang ke sini."

Kini Baekhyun sama sekali tidak ragu. Keraguan apa pun yang tadi pagi masih ada langsung digantikan oleh rasa panik dan cemas. Ia langsung melompat berdiri dari kursi dan berkata, "Aku akan segera ke sana."

Tidak terlalu lama kemudian, Baekhyun sudah berdiri di depan pintu flat Chanyeol di Mayfair. Ia membunyikan bel dan menunggu dengan tidak sabar. Tetapi matanya melebar kaget ketika pintu terbuka dan ia melihat siapa yang berdiri di sana.

"Nami?"

Sakuraba Nanami yang membuka pintu dari dalam juga terlihat heran. "Oh, Baekhyun?"

Sesaat Baekhyun tidak bisa berkata-kata. Kepanikan dan kecemasannya selama perjalanan ke sini memudar sedikit dan digantikan sesuatu yang tidak bisa diartikannya. Kenapa Nami ada di dalam flat Chanyeol? Sedang apa dia di sana? Ada apa ini? Semua pertanyaan itu simpang siur dalam benak Baekhyun. Namun satu hal yang disadarinya. Ia tidak suka melihat Nami di sana, di flat Chanyeol.

Lalu mata Baekhyun beralih ke arah sosok Chanyeol yang muncul di belakang Nami. "Kau sudah datang," kata Chanyeol. Suaranya terdengar lega. Penampilan Chanyeol benar-benar kacau. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, rambutnya acak-acakan. Kaus hitam lengan panjang dan celana panjang putihnya
terlihat kusut. Ia terlihat lemah dan sakit.

Banyak hal yang berkelebat dalam benak Baekhyun, namun begitu melihat Chanyeol, hanya satu hal yang terpikirkan olehnya. "Kenapa kau tidak berbaring dan beristirahat?" tanyanya dengan alis berkerut.

Chanyeol mengayunkan tangan dengan lemah."Masuklah dulu dan setelah itu kau boleh mengomeliku."

Baekhyun melangkah masuk dan menoleh ke arah Nami. "Nami, kok kau ada di sini?" tanyanya sambil berusaha menjaga suaranya terdengar ringan.

Nami tersenyum. "Tadi aku menelepon Chanyeol untuk mengajaknya ke pertunjukan Julie dan dia bilang dia sedang sakit. Jadi aku langsung datang untuk menawarkan bantuan."

"Oh, begitu," gumam Baekhyun, tidak tahu lagi harus berpikir apa. Seharusnya ia melakukan apa yang dilakukan Nami. Seharusnya ia juga langsung datang ketika mendengar Chanyeol sedang sakit. Bagaimanapun juga, Chanyeol adalah temannya dan seharusnya ia tidak ragu-ragu membantu teman yang sedang sakit. Ia menoleh ke arah Chanyeol dan bergumam, "Maafkan aku karena baru datang."

Chanyeol berdiri bersandar di dinding. Tangannya mencengkeram pinggiran meja kecil di samping pintu. Ia terlihat sangat lemah, tapi ia masih bisa tersenyum kepada Baekhyun.

"Sebaiknya kau duduk,"kata Baekhyun kepada Chanyeol. Chanyeol menurut tanpa membantah. Ia berjalan masuk ke ruang duduk, diikuti Baekhyun dan Nami, lalu mengempaskan diri ke salah satu sofa. Jelas sekali ia lega karena tidak perlu berdiri lebih lama lagi.

"Nami," gumamnya sambil mengayunkan tangan ke arah Nami, "sudah sangat baik karena sudah membantuku sejak pagi tadi walaupun aku tahu dia pasti sangat sibuk."

Baekhyun menoleh ke arah Nami dan temannya tersenyum lebar. "Aku tidak keberatan membantu. Dan kalau aku tidak masuk kantor sehari, tidak akan terjadi bencana," sahut Nami, lalu menatap Chanyeol. "Lagi pula, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini. Bagaimana kalau kau membutuhkan sesuatu?"

Chanyeol mengangguk. "Mungkin kau benar. Tapi karena sekarang Baekhyun sudah ada di sini, aku yakin dia bisa menemaniku dan memastikan aku tidak jatuh pingsan atau semacamnya. Lagi pula hari ini dia tidak punya jadwal kerja, jadi dia pasti tidak keberatan." Ia mendongak menatap Baekhyun yang berdiri di sampingnya. "Kau tidak keberatan, bukan?"

Baekhyun mengalihkan tatapannya dari Nami dan menunduk menatap Chanyeol. "Tentu saja tidak."

Nami menatap mereka berdua bergantian, lalu mengangkat bahu. "Baiklah kalau begitu," katanya ringan. Lalu ia menoleh ke arah Baekhyun dan menambahkan, "Aku senang kau bisa datang dan menjaga Chanyeol. Terima kasih."

Baekhyun mengerjap. Apakah hanya perasaannya atau apakah Nami benar-benar berbicara dengan nada seolah-olah Chanyeol adalah tanggung jawabnya dan Baekhyun hanyalah seseorang yang diminta datang untuk membantu? "Tentu saja," gumam Baekhyun singkat.

"Kau tahu kau bisa meneleponku kapan saja kau butuh sesuatu," kata Nami sementara ia mengumpulkan barang-barangnya.

"Terima kasih banyak, Nami. Kau benar-benar baik," kata Chanyeol sambil tersenyum lemah.

Setelah Nami pergi dan Baekhyun menutup pintu, Baekhyun berdiri sejenak di sana, cemberut ke arah pintu. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang duduk.

"Aku mau berbaring sebentar," gumam Chanyeol lelah. "Kau boleh... entahlah... yah, anggap saja rumah sendiri."

Baekhyun ragu sejenak, menatap Chanyeol yang mencoba berdiri dengan agak terhuyung. Akhirnya ia mengambil keputusan. Ia menghampiri Chanyeol yang berjalan terseok-seok ke kamar sambil berpegangan pada dinding. "Biar kubantu," katanya sambil memegang lengan Chanyeol.

Chanyeol berhenti melangkah dan menunduk menatap Baekhyun, lalu matanya beralih ke tangan Baekhyun yang memegang lengannya. Baekhyun bisa melihat kebingungan di mata Chanyeol yang agak merah. Baekhyun menatap mata Chanyeol lurus-lurus dan berkata tegas, "Kau bisa jatuh kalau tidak dibantu."

Chanyeol mengerjap, lalu mengangguk lemah. "Ya... ya, kurasa kau benar."

Baekhyun membantunya masuk ke dalam kamar dan menyelimutinya. Karena Chanyeol tidak berselera makan, Baekhyun harus memaksanya makan biskuit sedikit sebelum minum obat. "Kau terlihat kacau," kata Baekhyun ketika Chanyeol sudah berbaring kembali di tempat tidur setelah minum obat.

"Aku memang merasa kacau," gumam Chanyeol. "Aku hanya butuh tidur sebentar. Aku akan merasa lebih baik setelah bangun nanti."

"Baiklah," kata Baekhyun sambil mengumpulkan botol obat dan gelas-gelas kosong di meja di samping tempat tidur. "Tidur saja."

"Ngomong-ngomong, kenapa kau meneleponku tadi pagi?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

"Tadi pagi?" gumam Baekhyun sambil mengingat-ingat. "Ah, itu... Aku ingin memberitahumu bahwa Julie ingin mengundangmu ke pertunjukan perdananya. Katanya dia mendapat peran yang penting kali ini. Kau akan datang, bukan?"

"Tentu saja. Kapan pertunjukannya?"

"Masih dua minggu lagi."

"Kau akan pergi bersamaku?"

Sebelah alis Baekhyun terangkat sedikit, lalu ia mengangkat bahu. "Kalau kau mau."

"Baiklah kalau begitu," gumam Chanyeol dan memejamkan mata.

Ketika sepertinya Chanyeol tidak akan berbicara lebih banyak lagi, Baekhyun berputar dan berjalan dengan langkah pelan ke pintu.

"Aku tidak menyuruhnya datang ke sini," gumam Chanyeol tiba-tiba.

Baekhyun berhenti melangkah dan berbalik kembali. "Ya?"

Chanyeol tidak bergerak di tempat tidurnya, juga tidak membuka mata. "Nami," katanya. "Aku tidak menyuruhnya datang ke sini. Dia datang sendiri setelah mendengar aku sakit."

Baekhyun mengerjap. "Oh."

"Dan aku tidak bisa tidur kalau dia ada di sini," lanjut Chanyeol dengan suara pelan. "Karena itu aku memintamu datang."

Baekhyun terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum tipis dan bergumam, "Aku tahu."

.

.

.

.

.

.

.

TBC