Hari kedua musim dingin di Ibukota United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, London...

Tarikan nafas, hembusan nafas. Arthur masih lelap di dalam mimpinya. Selimut yang semalam tertata rapi di atas bantalnya, Arthur gunakan untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Hari ini (masih) dingin sekali.

Bahkan 'kiriman selimut putih' belum juga berhenti dari langit. Terus berjatuhan perlahan dengan indahnya.

Dingin, temperatur suhu menunjukkan angka dua belas derajat Celsius.

Dingin, Arthur memutuskan untuk tidak keluar dari dalam 'kandang' hari ini.

Dingin, berbanding terbalik dengan kasurnya yang menyediakan kehangatan.

...

...

...

"Arthur, Arthur!" Namanya dipanggil. Bisikan pelan dari suara yang dia kenali.

Peter.

Arthur bergeming. 'Pasti dia mau mengajakku untuk keluar dan bermain salju lagi...' batinnya. "Arthur! Arthur!"

Bergeming, bagaikan mayat. "Arthuuuurr! Arthur! Bangun!" Guncangan kecil di bagian kaki Arthur rasakan. 'Anak ini...'

Volume suara Peter meninggi. "Arthuuuuurr! Bangun! Kau masih bernyawa, kan?"

'Tentu saja masih, bocah kecil...'

"Huh, baiklah..." Sesaat setelah dua kata yang terakhir diucapkan, debaman pintu Arthur dengar. 'Anak itu pasti ngambek...' pikir Arthur.

Arthur terkikik.

Sebuah tubuh menimpa keras tubuhnya. "ARTHURRR! Arthur! Bangun, Arthur! Arthur!? Arthuuuuuuurrr!"

"Ugh! Ugh! Uhuk, Peteeeeeeerr!" Pfffftt.

Peter, kau memang banyak akal, ya.

"Akhirnya kau bangun juga... Ayo kita keluar!" Tangan mungil Peter kembali menarik-narik jemari Arthur. Mata bulat itu, Arthur menyayangi Peter.

"Tapi hari ini masih deras hujan saljunya. Kau- kita bisa terkubur nanti..." Lagi, Arthur membelai surai pirang milik Peter.

Peter terlihat menurut. Dia tidak lagi menarik-narik jemari Arthur yang digenggamnya.

Arthur tersenyum lembut. "Nah, supaya kita tidak terkubur, sebaiknya kita latihan dulu sekarang!"

Grek!

"Peteeeeeeerrrr!" Arthur tergopoh-gopoh mengikuti langkah Peter.


*oOo*o0o*oOo*

Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu. Penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya. Seluruh tokoh dan karakterisasi adalah milik dari fandom yang telah dicantumkan.

.

- REMEMBER -

.

Rated: T (R14). Genre: Family, Angst. Languages: Indonesian.

Notes: OC (?), OOC (maybe?), AU.

~*oOo*~*oOo*~*oOo*~


Salju yang dingin.

Perairan yang beku.

Arthur kurang menyukai berkeliaran di luar rumah saat musim dingin tiba. Dia lebih memilih untuk duduk di belakang meja kerjanya, menghadap puluhan dokumen kantor, ditemani oleh seperangkat tea set- yang pastinya ada teh di dalam tekonya.

Seraya menatap keluar dengan pandangan teduh. Salju-salju itu mengingatkannya akan sesuatu yang bahagia.

Sesuatu yang pernah Arthur alami sebelumnya.

Namun kali ini lain...

"Kenapa..."

Cangkir yang dipegangnya dengan keras terbanting, pecah dan hancur berkeping-keping. Pecahannya berserakan di lantai, bersamaan dengan sebuah liquid yang menderas dari pelupuk mata.

Terlalu indah (untuk) dilupakan...

Terlalu sedih (untuk) dikenangkan...

Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu, karena semua telah berlalu. Tidak bisa lagi seperti dulu.

"Maaf..."

to be continued.


Yah, saya pengen ikut challenge #30days atau apalah itu, yang isinya update fanfic selama 30 hari berturut-turut. Tapi entahlah, saya takut gak bisa. :"""

Well, see ya! Salam Indonesia, dan selamat hari Minggu!

-INDONESIAN KARA-