Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 11

.

.

HARI sudah menjelang sore ketika Chanyeol terjaga. Kepalanya masih terasa berat,namun tidak berputar-putar lagi. Ia turun dari tempat tidur dan menyadari bahwa kakinya juga terasa lebih mampu menopang tubuhnya. Ia meraba keningnya. Sepertinya suhu tubuhnya juga sudah turun. Bagus. Ia ingin cepat-cepat sembuh. Ia benci merasa tidak berdaya seperti ini.

Ia baru hendak bangun dan berjalan ke pintu ketika ponselnya berdering. Seulas senyum tipis muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang meneleponnya.

"Mm, Nuna," gumamnya begitu ponsel ditempelkan ke telinga.

"Pembicaraan kita kemarin belum selesai, Chanyeol," kata kakaknya tanpa basabasi. "Tapi, ngomong-ngomong, ada apa dengan suaramu?"

"Tidak apa-apa, Nuna," ujar Chanyeol, lalu berdeham pelan. "Tenggorokanku hanya agak kering."

"Baiklah," kata Park Yura tanpa curiga. "Kalau begitu, bagaimana kelanjutan ceritamu kemarin?"

Chanyeol mendesah dalam hati. Ia ingat pembicaraan terakhir dengan kakaknya. Saat itu kakaknya bertanya apakah ia sudah bertemu dengan seseorang di London. Sebenarnya Chanyeol belum ingin bercerita kepada kakaknya tentang Baekhyun. Ia memang menyadari bahwa Baekhyun mulai menerimanya dan ia senang dengan hubungan mereka sekarang. Mereka sering bertemu, mengobrol, dan menghabiskan waktu bersama. Namun entah kenapa Chanyeol selalu merasa masih ada sebagian diri Baekhyun yang menahan diri. Seolah-olah gadis itu masih tidak sepenuhnya percaya padanya. Tetapi apakah itu hanya perasaannya sendiri?

"Park Chanyeol, aku sedang bicara padamu."

Chanyeol harus menyeret perhatiannya kembali kepada suara kakaknya di telepon. "Maaf, Nuna," katanya. "Sekarang aku masih bingung."

"Katakan padaku, apakah dia cantik?" tanya Yura, mengabaikan kata-kata Chanyeol.

"Ya," gumam Chanyeol, lalu menarik napas dan mengembuskannya. "Seperti boneka."

"Apa?"

Chanyeol tertawa pendek. "Dia punya mata seperti mata boneka. Setidaknya itulah yang kupikirkan ketika aku pertama kali bertemu dengannya."

"Begitukah? Lalu apa lagi?"

Chanyeol kembali mengenang pertemuan pertamanya dengan Baekhyun. "Awalnya dia terlihat dingin dan sulit didekati. Tapi kalau kau berhasil mendekatinya dan mengenalnya lebih baik, kau akan tahu bahwa dia sebenarnya orang yang menarik. Dan semakin kau mengenalnya, kau akan mendapati dirimu merasa..." Ia terdiam.

Kata-kata itu sudah berada di ujung lidahnya. Kau akan mendapati dirimu merasa gembira setiap kali berada di dekatnya. Tetapi ia tidak mungkin mengatakannya kepada kakaknya. Akhirnya ia hanya bergumam, "Yah, begitulah."

"Kau mendapatkan semua kesan itu hanya pada pertemuan pertama?" tanya Yura dengan nada tidak percaya. "Astaga, dia pasti gadis yang luar biasa. Berarti kali ini Ibu sudah membuat pilihan yang benar?"

"Apa?" Chanyeol mengerutkan kening. "Apa hubungan semua ini dengan Ibu?"

"Kita sedang membicarakan gadis yang ingin dijodohkan Ibu denganmu, bukan? Gadis yang kau temui kemarin siang?" Yura balas bertanya. "Atau apakah kita sedang membicarakan dua orang yang sama sekali berbeda?"

Chanyeol mengerang dalam hati. Ternyata yang dimaksud kakaknya adalah Sakuraba Nanami yang ditemui Chanyeol kemarin siang, bukan Baekhyun. Astaga, otaknya sudah kacau. "Oh, maksud Nuna gadis yang itu?" gumam Chanyeol datar.

"Kau membicarakan gadis yang berbeda," sela Yura blak-blakan. "Ternyata aku benar. Kau memang sudah bertemu dengan seseorang di sana."

Chanyeol menghela napas dan mengembuskannya panjang-panjang. Akhirnya seulas senyum tersungging di bibirnya. "Ya," gumamnya, lalu cepat-cepat menambahkan sebelum kakaknya bisa menyela, "tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya."

"Kenapa? Lalu kapan?" tanya kakaknya bingung.

Sulit mengelak dari kakaknya, tetapi akhirnya Chanyeol berhasil memutuskan hubungan dan mendesah berat. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Apakah Baekhyun masih ada di luar sana? Rasanya agak tidak mungkin. Chanyeol sudah tidur lebih lama daripada yang direncanakan. Mungkin gadis itu sudah pulang.

Chanyeol berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ruang duduknya sunyi senyap. Seberkas perasaan kecewa melandanya ketika menyadari bahwa Baekhyun sudah tidak ada. Sebenarnya ia ingin terbangun dan mendapati Baekhyun masih ada di sana. Ia ingin melihat gadis itu, melihat gadis itu tersenyum padanya dengan cara yang selalu membuat hatinya terasa ringan.

Chanyeol kembali mendesah berat dan berbalik hendak pergi ke dapur. Tetapi tiba-tiba ia melihat sesuatu dari sudut matanya. Ia berbalik menghampiri sofa panjang di ruang duduk dan dihadapkan pada pemandangan yang tidak diduganya, namun membuat seulas senyum tersungging di bibirnya. Ternyata Baekhyun Ishida belum pulang. Gadis itu masih ada di sana dan saat ini ia sedang berbaring menyamping di sofa, lututnya ditekuk dan kepalanya disandarkan ke lengan sofa. Tertidur pulas.

Chanyeol sedang mempertimbangkan apakah ia harus membangunkan Baekhyun atau tidak ketika gadis itu mendadak terjaga dan langsung terkesiap keras.

"Ini aku," gumam Chanyeol cepat ketika Baekhyun melompat berdiri dan menjauh dari sofa. Ia menatap Chanyeol dengan mata terbelalak kaget dan... takut? Jantung Chanyeol mencelos. Astaga, itu adalah tatapan yang dulu sering dilihat Chanyeol pada awal perkenalan mereka. Tatapan Chanyeol beralih ke tangan Baekhyun yang terkepal di sisi tubuhnya. Alis Chanyeol berkerut samar ketika melihat tangan Baekhyun gemetar. Kenapa tangan gadis itu gemetar? "Ini aku," gumam Chanyeol sekali lagi.

Baekhyun mengerjap satu kali, dua kali, dan Chanyeol melihat sinar ketakutan itu menghilang dari mata Baekhyun. Gadis itu tertawa pendek dan berkata ringan, "Tentu saja aku tahu itu kau."

Benarkah? tanya Chanyeol dalam hati. Benarkah Baekhyun tadi tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Chanyeol? Lalu kenapa Baekhyun bereaksi seperti itu? Kenapa ia ketakutan begitu? Chanyeol menatap Baekhyun dengan tajam dan bertanya-tanya. Kenapa selama sesaat tadi aku mendapat kesan kau mengira aku adalah orang lain?

.

.

.

.

.

.

Jantung Baekhyun masih berdebar kencang. Seluruh tubuhnya terasa dingin dan kaku. Selama sesaat ia dilanda kepanikan yang membuatnya mati rasa. Matanya terbelalak menatap sosok di hadapannya. Namun perlahan-lahan sosok kabur itu semakin jelas. Lalu ia melihat Chanyeol. Park Chanyeol. Yang berdiri di depannya adalah Park Chanyeol.

"Ini aku." Baekhyun mendengar kata-kata yang diucapkan dengan perlahan itu. Ia mengerjap satu kali, dua kali, lalu mendengar kata-kata itu lagi. Kali ini lebih jelas. "Ini aku."

Sedetik kemudian Baekhyun mulai menyadari apa yang terjadi dan di mana dirinya berada saat itu. Ia menatap Chanyeol yang berdiri di hadapannya dengan wajah cemas dan alis berkerut samar. Lalu ia menyadari bahwa sikapnya yang berlebihan mungkin membuat Chanyeol heran. Baekhyun menjilat bibirnya yang kering dan mencoba tertawa. Kedengarannya sumbang. "Tentu saja aku tahu itu kau," katanya.

Lalu karena Chanyeol terus menatapnya dengan alis berkerut tanpa berkata apa-apa, Baekhyun cepat-cepat berdeham dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Chanyeol menatapnya sambil tersenyum kecil. "Sudah lebih baik," sahutnya agak lemah. "Karena kau ada di sini."

Saat itu debar jantung Baekhyun yang sudah kembali normal kembali melonjak begitu mendengar kata-kata Chanyeol. Apa-apaan ini? Chanyeol selalu suka bercanda. Lalu kenapa Baekhyun berdebar-debar hanya karena kata-kata ringan dan tidak berarti itu? Baekhyun cepat-cepat mengendalikan diri dan berdeham. "Kau mau makan sesuatu? Aku sudah membuat teh ketika kau tidur tadi. Dan kau juga harus makan sedikit. Setelah itu minum obat."

Baekhyun tidak yakin apakah Chanyeol menyadari usahanya untuk mengalihkan pembicaraan atau tidak, tetapi laki-laki itu tidak berkomentar apa-apa. Chanyeol mengikuti Baekhyun ke dapur dan duduk diam di meja dapur sementara Baekhyun menuangkan teh dan menyiapkan sandwich untuknya.

"Jadi apa yang kau lakukan selama aku tidur?" tanya Chanyeol ketika Baekhyun sudah duduk di hadapannya dengan sepotong sandwich di tangan.

"Melihat-lihat flatmu," sahut Baekhyun ringan. "Membongkar semua lemari dan laci yang ada."

"Asal kau tahu, ini flat kakak perempuanku," kata Chanyeol. "Jadi kalau kau menemukan barang-barang mencurigakan, itu bukan milikku."

Baekhyun tersenyum melihat Chanyeol mengunyah sandwich-nya. Setidaknya selera makannya sudah membaik. "Aku hanya bercanda," kata Baekhyun. "Setelah aku berkeliling flatmu sampai bosan, aku menelepon ibu dan adikku. Oh, jangan khawatir, aku memakai ponselku sendiri."

"Kau pasti bosan setengah mati," gumam Chanyeol. Baekhyun mengangkat bahu. "Aku minta maaf karena kau terpaksa menemani orang sakit di hari liburmu," kata Chanyeol, "sementara aku yakin kau pasti sudah memiliki segudang rencana untuk hari liburmu."

Baekhyun memiringkan kepala, berpikir apakah ia harus jujur atau tidak. Akhirnya ia lalu menghela napas dan berkata, "Tidak juga. Aku hanya ingin ke salon dan berbelanja sedikit hari ini. Setelah itu aku berencana membujukmu makan malam bersamaku."

Chanyeol tersenyum. "Setidaknya sebagian rencanamu berhasil. Kita memang sedang makan malam bersama sekarang," katanya sambil mengayunkan tangan ke arah sandwich di atas meja.

"Kau benar," sahut Baekhyun, lalu tertawa.

Sejenak Chanyeol hanya tertegun menatapnya. Sebelum Baekhyun sempat bertanya, laki-laki itu kembali menunduk menatap sandwich-nya dan berdeham. "Karena kau sudah berbaik hati menemaniku hari ini, aku akan melakukan hal yang sama untukmu. Aku akan menemanimu seharian penuh. Kalau aku sudah sembuh nanti."

Mata Baekhyun bersinar-sinar. "Kau akan menemaniku seharian penuh?"

Chanyeol mengangguk. "ya."

"Dan kita akan melakukan apa pun yang kuinginkan?"

Chanyeol mengangguk lagi. "Tentu saja."

"Apa pun?"

Chanyeol menyipitkan mata dan tersenyum. "Dengan anggapan kau tidak akan memintaku melakukan sesuatu yang melanggar hukum, ya, aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan selama satu hari itu."

Senyum Baekhyun mengembang, dan ia sama sekali tidak tahu apa pengaruh senyumnya terhadap Chanyeol. Saat itu Chanyeol memang bersedia melakukan apa saja—apa saja—agar ia selalu bisa melihat Baekhyun tersenyum padanya seperti itu. Hanya padanya. Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, kata-kata itu sudah meluncur dari lidahnya. "Katakan padaku kau tidak tertarik pada Sehun."

Alis Baekhyun terangkat. "Apa?"

Chanyeol mendesah dan memejamkan mata. Sebelah tangannya terangkat memegang kening. "Lupakan saja. Aku tidak tahu apa yang kukatakan," gumamnya pelan, lalu bangkit dari kursi sambil membawa cangkir tehnya. "Aku mau berbaring di sofa."

Kening Baekhyun berkerut bingung sementara ia menatap Chanyeol yang berjalan pelan ke arah ruang duduk. "Kenapa kau mengira aku tertarik pada Sehun?" tanyanya langsung. "Kau tahu benar dia gay."

Chanyeol berhenti melangkah, lalu perlahan-lahan berbalik menghadap Baekhyun. Ia mengembuskan napas dan mengangkat bahu. "Entahlah," ujarnya lirih. "Mungkin karena dia memiliki mata biru dan logat Skotlandia yang bisa membuat wanita mana pun melupakan kenyataan bahwa dia seorang gay?" Chanyeol terdiam sejenak. Ia mengerang. "Astaga. Otakku benar-benar kacau. Aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Lupakan saja kata-kataku."

Ketika Chanyeol hendak berbalik lagi, Baekhyun berkata, "Aku tidak tertarik padanya. Sudah kukatakan padamu kemarin."

"Tapi kau bilang kau merasakan sesuatu untuknya," kata Chanyeol, masih mengingat jelas pembicaraan mereka kemarin di flat Baekhyun.

Baekhyun mengangkat bahu. "Kau tidak bertanya padaku apakah aku merasakan sesuatu untuk Sehun."

"Aku ingat jelas aku menanyakannya," Chanyeol menegaskan. "Dan aku ingat kau menjawab ya."

"Chanyeol," sela Baekhyun pelan, "kau bertanya apakah aku merasakan sesuatu. Kau tidak menyebut untuk siapa."

Chanyeol terlihat bingung. "Lalu?"

Baekhyun menarik napas dalam-dalam. "Aku... memang merasakan sesuatu," katanya pelan. Matanya menatap lurus ke mata Chanyeol. Debar jantungnya semakin jelas terdengar dan ia bertanya-tanya apakah Chanyeol juga bisa mendengarnya. "Tapi bukan... eh, bukan untuk... Sehun."

Chanyeol masih berdiri di sana. Kerutan di alisnya perlahan-lahan menghilang ketika kata-kata Baekhyun akhirnya diserap otaknya yang masih terasa berkabut. Keheningan di ruangan itu mendadak dipecahkan bunyi bel pintu. Begitu Baekhyun membuka pintu, Nami berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar.

"Hai, Baek, kau masih ada di sini?" tanyanya ceria.

Baekhyun mengerjap. "Oh, Nami, halo. Masuklah." Ia melangkah ke samping dan membiarkan Nami berjalan masuk.

"Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor dan kupikir sebaiknya aku mampir untuk melihat keadaan Chanyeol," kata Nami ringan. Ia menoleh ke arah Chanyeol dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Chanyeol mengangkat sebelah tangan dan tersenyum. "Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang. Terima kasih atas perhatianmu."

"Kau sudah makan?" tanya Nami. "Aku bisa membelikan sesuatu. Atau membuatkan sesuatu."

"Tidak. Tidak perlu," sahut Chanyeol. "Aku sudah makan sedikit tadi. Aku hanya ingin istirahat sekarang."

"Oh," gumam Nami sambil mengangguk-angguk, terlihat agak kecewa walaupun ia berusaha keras menjaga wajahnya tetap datar.

Chanyeol mengalihkan pandangan ke arah Baekhyun. "Baekhyun, sebaiknya kau juga pulang sekarang. Kau pasti lelah," katanya. "Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu—kalian berdua—hari ini. Aku sudah tidak apa-apa sekarang."

"Oh." Baekhyun memandangnya, lalu memandang Nami, lalu kembali menatap Chanyeol. "Baiklah kalau begitu."

"Aku bisa mengantarmu pulang kalau kau mau," Nami menawarkan diri.

"Ya, tentu saja," sahut Baekhyun, lalu ia pergi ke ruang duduk untuk mengambil tas dan jaketnya. Ketika ia kembali, Nami sudah berdiri di ambang pintu bersama Chanyeol.

"Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu menghubungiku," kata Nami kepada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum. "Baiklah. Terima kasih banyak."

Ketika Nami berbalik dan mulai berjalan pergi, Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol. "Jangan lupa minum obat dan langsung tidur," katanya pelan. Lalu ia melirik meja makan yang masih belum dibereskan dan menambahkan, "Kau tidak perlu membereskan mejanya sekarang. Kalau besok kau masih belum merasa lebih baik kau harus..."

Aliran kata-katanya terhenti ketika Chanyeol tiba-tiba menempelkan telapak tangannya di kedua sisi kepala Baekhyun. Secara naluriah Baekhyun menarik diri, namun tangan besar yang menangkup pipi dan menempel di telinganya itu tidak bergerak. Baekhyun tidak bisa bergerak. Hanya bisa berdiri di sana dan mendongak menatap Chanyeol dengan mata melebar kaget. Tangan Chanyeol terasa besar. Dan hangat. Sama sekali tidak menakutkan. Sesaat jantung Baekhyun seolah-olah berhenti berdegup, lalu mulai berdebar dan semakin lama semakin cepat. Ia tidak bisa bernapas. Oh, dear...

"Berhentilah merasa cemas," kata Chanyeol pelan. Seulas senyum tersungging di bibirnya. "Aku pasti akan minum obat dan langsung naik ke tempat tidur. Aku tidak akan membereskan meja makannya sekarang. Dan kalau besok aku masih merasa seperti mayat hidup, aku akan langsung pergi ke rumah sakit. Oke?"

Baekhyun hanya bisa mengangguk tanpa suara.

"Bagus." Senyum Chanyeol melebar. Ia menurunkan tangannya ke bahu Baekhyun. "Sekarang pergilah. Aku akan meneleponmu nanti."

Saat ini Baekhyun baru menyadari bahwa ia sedang menahan napas. Akhirnya ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk.

.

.

.

.

.

.

.

"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya Nami ketika ia melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen Chanyeol.

Baekhyun menoleh. "Hm?"

"Park Chanyeol," kata Nami. Ia melirik Baekhyun sekilas, lalu kembali menatap jalan di depannya. "Sudah berapa lama kau mengenal Chanyeol?"

"Tidak terlalu lama."

Nami tersenyum lebar. "Dia sangat tampan, bukan?"

Baekhyun memaksa diri balas tersenyum. "Mm."

"Dan sangat sopan."

"Mm." Baekhyun memandang ke luar jendela. Dan sangat baik, pikirnya. Sangat menyenangkan, sangat...

"Aku menyukainya."

Kepala Baekhyun berputar kembali menatap Nami. "Apa?"

Nami tertawa senang. "Aku menyukainya, Baek. Sangat menyukainya," katanya tegas. "Aku senang ibuku memaksaku pulang ke Korea waktu itu. Kalau aku tidak pulang, aku tidak akan menghadiri pesta ulang tahun kakekku dan tidak akan pernah bertemu dengan ibu Chanyeol yang berniat menjodohkan aku dengan putranya."

Tiba-tiba saja Baekhyun merasa seolah-olah tekanan udara di dalam mobil berkurang dengan cepat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan pelan. Berat. Udara terasa berat. Ada apa ini?

"Aku mengatakannya padamu karena kau temanku. Karena itu kau harus membantuku," lanjut Nami.

Baekhyun mengerjap. Ada sesuatu dalam nada suara Nami yang membuatnya heran. Nami menoleh menatapnya sejenak dan tersenyum.

"Baekhyun, kau mau membantuku, bukan?"

Oh, dear. Baekhyun menarik napas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakannya? Ya, ia akan membantu Nami walaupun sebenarnya ia tidak ingin melakukannya? Atau tidak, ia tidak akan membantu Nami mendekati Chanyeol? Tetapi kalau Nami bertanya kenapa Baekhyun tidak mau membantu, apa yang harus dikatakannya? Bahwa ia sendiri juga...

Baekhyun tertegun. Apa? Astaga... Apa yang dipikirkannya tadi? Tidak, itu tidak mungkin. Baekhyun memalingkan wajah, memandang kosong ke luar jendela. Jari-jari tangannya mendadak terasa dingin dan dadanya mendadak terasa nyeri. Apa pun yang saat ini dikiranya sedang dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin.

"Baekhyun?" Panggilan Nami menembus otak Baekhyun yang kalut. Baekhyun menoleh dan
berusaha memasang wajah datar.

"Ya?"

Nami memandangnya dengan tatapan bertanya. "Jadi bagaimana? Kau akan membantuku, bukan?"

Baekhyun berharap Nami tidak mendesaknya seperti itu. Lagi pula Nami bukan wanita pemalu yang membutuhkan bantuan mak comblang untuk menjalin hubungan dengan pria mana pun. Namun karena ia sedang tidak ingin berdebat panjang-lebar, Baekhyun memaksakan seulas senyum kecil dan bergumam, "Tentu."

Senyum Nami mengembang. Baekhyun kembali memalingkan wajah ke luar jendela dan menghela napas panjang. Apa pun yang saat ini dikiranya sedang dirasakannya sangat tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Karena ia sama sekali tidak boleh lupa siapa Park Chanyeol sebenarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC