Berlatarkan waktu pada suatu pagi yang (masih) bersalju (tebal)...
Salju putih bagaikan selimut tebal yang menyediakan hawa dingin. Saking tebalnya hingga jalan-jalan, perumahan, dan lapangan luas, serta tumbuh-tumbuhan tertutupi.
Ribuan—jutaan keping-keping salju telah berjatuhan dari langit, dan masih ada banyak lagi di atas sana.
London yang berselimutkan salju. London yang mengalami musim dingin.
Bahkan tidak sedikit ada kristal es yang membeku.
...
...
...
Derap langkah yang meninggalkan tapak-tapak sepatu bot tercetak di atas tanah putih yang dingin.
Peter Kirkland. Ia mengendap-endap mendekati Arthur yang sedang berbicara melalui sambungan telepon.
Desang seseorang di seberang sana, yang Peter tidak ketahui siapa.
Kedua tangan Peter yang bersarung tangan menyentuh salju—Peter sedikit bergidik ketika dingin menggelitik tangannya. Membuat sesuatu yang ingin dia berikan pada Pemuda Alis Tebal."Arthur! Arthur! Menolehlah kemari!" Panggil Peter. 'Sesuatu' Peter sembunyikan dibalik badan. 'Ohohohoho...'
"Oh, sebentar ya, Olivia..." Sambungan telepon diputus sepihak olrh Arthur. "Ada ap-"
BRUSSH!
-Dan bola salju yang Peter lemparkan tepat mengenai muka Arthur dengan indahnya.
Oh, oh...
"Bruuussssh! Apa yang-"
"Bwahahahahahahahahak! Mukamu lucu sekali kalau begitu! Bwahahahahah!" Saking parahnya Peter tertawa, sampai-sampai pemuda berumur kurang lebih delapan tahunan itu merebahkan diri di atas salju tebal.
Bahkan air mata pun sempat mengalir sebelum dihapus oleh jemarinya sendiri. "Bocah..."
Arthur mulai menggumpalkan salju, yang lebih besar dari Peter tadi, untuk membalas anak itu.
Siap. "Rasakan ini!"
"Waaaaaaaaa-"
BRUSSSSSHH!
Gantian Arthur yang terpingkal hingga sakit perut. "ARTHUUUUUUURRRR!"
~oOo~
Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu. Penulis tidak mengambil keuntungan apapun atas pembuatan karya. Seluruh tokoh dan karakterisasi adalah milik dari fandom yang telah dicantumkan.
- TEARS -
Rated: T (R-13). Genre: Family, Angst, Kakak-Beradik (?). Language: INDONESIAN. Notes: OC, OOC, AU.
-Indonesia; 24/05/2017-
~*oOo*~
Berlatar waktu pada suatu senja yang berselimutkan salju di kota London; pada era sekarang...
Anak-anak yang berlarian di depan rumahnya membuat Arthur rindu akan sesuatu yang pernah dimilikinya.
Membawa beberapa butir bola salju putih yang telah mereka gumpalkan, dan melemparkan bola-bola tersebut pada teman mereka yang berusaha menghindar.
Ia menatap itu semua. Dari balik kaca jendela yang membatasi pandangan.
Kenangan itu datang lagi. Mengusik hidup Arthur, menumbuhkan kembali kerinduan dan rasa bersalah dalam benak.
Salju Biru kesayangannya telah pergi.
Tanpa bisa Arthur ganti dengan nyawanya sendiri.
Arthur hanya menatap seluruh peristiwa di luar dengan tatapan kosong, seperti dia tidak memiliki sebuah kehidupan.
Meskipun raganya masih berdiri tegak.
Jemarinya menyentuh kaca jendela yang berembun, menggoreskan sebuah nama yang sangat dia rindukan selama ini.
"Peter... I miss you..."
Ya, anak itu... Seseorang yang selalu mendinginkan likiran Arthur kala sedang kalut.
Penenang. Menjernihkan kembali pikiran Arthur yang ruwet dan berantakan.
"Arthie..."
Sebuah suara wanita memanggil nama kecil Arthur. Siapakah?
"A.. Lice?"
Alice Kirkland. Saudari muda Arthur yang tertua.
Alice mengangguk kecil, menyadari kalau Arthur mengucapkan namanya. "Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, Lice. Tidak ada." Bohong. Alice tahu ada yang disembunyikan.
"Arthie."
Alice tahu apa itu. Tangan kirinya mulai merambah, mengusap punggung Arthur. "Jangan membohongi dirimu sendiri. Ada sesuatu yang kau pendam sendiri di dalam pikiranmu."
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Alice."
"Kau berbohong." Alice mundur dan berbalik membelakangi Arthur. "Aku tahu ada yang kau sembunyikan..."
Arthur terhenyak. "... Dan kalau kau terus memendamnya, lalu apa gunanya aku disini?" Alice berkata cepat.
'Hatiku sakit, Alice...'
Benar. "Aku merindukan Salju Biru Kesayanganku..."
'Salju Biru?'
Pandangan mata Alice melunak. "Peter Kirkland."
"Ya..." Arthur mendongakkan kepala, mencegah sebutir liquid agar tidak menuruni pipinya. "Aku merindukannya, Alice. Sudah sekian lama kenangan itu terus-menerus mendatangiku. Aku rindu pada Salju Biruku... Ugh..."
Pertahanan Arthur runtuh sudah. Tidak ada lagi gelak tawa kekanakkan yang selalu didengarnya. Tiada lagi canda yang seringkali teralamatkan kepadanya.
Karena Salju Biru yang sangat disayanginya, telah beralih ke alam sana...
Meninggalkan setitik kenangan manis, namun juga jelaga kesedihan mendalam...
Sedalam palung terdalam di dunia, dan sehancur hati serta perasaan Arthur yang berkeping-keping...
"Arthur..." Alice ikut mendudukan dirinya di lantai, kala dirasa tubuh pemuda di depannya mulai merosot ke bawah.
Alice Kirkland—perempuan muda yang bersama Arthur itu masih ingat betul...
... Seberapa tragisnya tragedi yang merenggut nyawa Sang Salju Biru...
to be continued.
A/N: Oh mai~ Saya gak tahu kenapa ff ini bisa cepet update, tapi ide di otak saya mengalir deras untuk ff ini UwU.
Well, salam Indonesia, and have a nice day!
.°• Indonesian Kara •°.
