Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 13

.

.

SAAT itu waktu makan siang dan Sehun sedang sibuk seperti biasanya di dapur restoran tempat kerjanya. Sebagai kepala koki, Sehun bertugas memastikan semua berjalan lancar dan semua makanan yang keluar dari dapur sudah sempurna. Oh Sehun yang sedang bekerja dan Oh Sehun yang tidak sedang bekerja sangat berbeda. Ketika sedang bekerja, Sehun teramat sangat serius dan selalu bersikap tegas pada semua anak buahnya, seperti komandan di medan perang. Sementara Sehun yang dikenal teman-temannya di luar urusan pekerjaan adalah pribadi yang sangat lucu, menyenangkan, dan sangat santai.

"Daging dombanya berapa lama lagi?" seru Sehun kepada salah seorang anak buahnya yang sedang mengintip ke dalam oven.

"Tiga menit lagi, Chef," jawab si anak buah dengan suara lantang.

Sehun menoleh ke sisi lain dan berseru lagi, "Bagaimana dengan risotto-nya?"

"Ini dia, Chef." Dan sepiring risotto diletakkan di depan Sehun untuk diperiksa. Setelah memasitkan semuanya sudah benar, Sehun membiarkan pelayan restoran membawanya keluar dari dapur. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Sehun mengumpat.

"Siapa lagi yang menelepon di saat seperti ini?" gerutunya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan berkata cepat, "Ya, siapa ini?"

Mendengar suara orang di ujung sana, sikap Sehun langsung berubah. "Tunggu sebentar," katanya kepada si penelepon, lalu berseru memanggil salah satu asistennya. "Jenner! Gantikan aku sebentar. Ibuku menelepon." Lalu Sehun melepaskan celemeknya dan keluar dari dapur yang berisik itu.

Begitu ia tiba di kantor kecilnya, ia mengempaskan diri ke kursi dan berkata, "Ya, Chanyeol. Kita bisa bicara sekarang. Ngomong-ngomong, kau sudah kembali ke London?"

"Belum," sahut Chanyeol di ujung sana. Lalu ia bertanya heran, "Kau bilang aku ibumu?"

Sehun terkekeh. "Biasanya aku tidak menjawab telepon kalau sedang bekerja. Kau tahu sekarang waktunya makan siang? Kami sedang supersibuk di sini."

"Maafkan aku," kata Chanyeol. "Aku sudah berusaha menelepon Julie tadi, tapi dia tidak menjawabnya."

"Tunggu dulu," sela Sehun. "Kau menelepon Julie lebih dulu? Kenapa? Kenapa pilih-pilih kasih seperti ini?"

Chanyeol tertawa hambar. "Yang benar saja. Aku tahu kau pasti sibuk pada jam-jam seperti ini, jadi aku tidak ingin mengganggumu," Chanyeol menjelaskan. "Tapi berhubung Julie tidak menjawab telepon, aku terpaksa menghubungimu. Kuharap aku tidak terlalu merepotkan."

Sehun mengangkat bahu. "Tidak juga," katanya ringan. "Ada yang mau kau bicarakan?"

Chanyeol ragu sejenak. "Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu."

"Ini tentang Baekhyun, bukan?" tebak Sehun.

"Ya. Aku sudah berusaha menghubunginya selama dua hari ini. Tapi dia tidak menjawab teleponku."

"Aku juga tidak akan menjawab teleponmu kalau aku jadi dia," timpal Sehun.

"Tapi kenapa? Ada apa? Apa yang sudah kulakukan?" tanya Chanyeol tidak mengerti. "Jangan katakan padaku ini karena Nami."

"Mm-hmm," gumam Sehun membenarkan. "Chanyeol, asal kau tahu, dia sangat marah. Dan aku tidak menyalahkannya."

"Tapi bukan aku yang menyuruh Nami ke sini. Aku juga tidak menyuruhnya menjawab teleponku," kata Chanyeol cepat. "Dan sekarang Baekhyun tidak mau bicara denganku gara-gara itu?"

"Kata Nami, kau hendak mengajaknya ke suatu tempat setelah makan malam waktu itu," kata Sehun datar.

"Yah, itu memang benar," kata Chanyeol, lalu cepat-cepat menambahkan, "tapi itu karena katanya dia sedang menulis artikel tentang tempat-tempat menarik di Lake District. Karena dia sudah berbaik hati mentraktir kami semua makan malam, kupikir aku bisa berterima kasih kepadanya dengan menunjukkan beberapa tempat menarik di Keswick yang mungkin bisa menjadi bahan yang berguna untuk artikelnya." Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada tidak percaya. "Tapi kenapa aku menjelaskan semua ini kepadamu?"

Sehun terkekeh. "Karena kau ingin meminta bantuanku?"

Chanyeol mendesah berat. "Dan asal kau tahu, kami tidak pergi berdua. Seorang temanku yang sepertinya tertarik pada Nami juga ikut dengan kami."

"Nami mengira kau mulai menyukainya."

"Aku—apa?" Chanyeol terdengar kaget. "Dan apakah Baekhyun juga berpikir begitu?"

Sehun mengangkat bahu, walaupun Chanyeol tidak bisa melihatnya. "Aku baru tahu ternyata dia bisa cemburu juga," gumamnya lirih, lebih pada diri sendiri, lalu tertawa kecil.

Chanyeol tidak mendengarnya. "Apa katamu?"

"Tidak apa-apa," sahut Sehun cepat. "Jadi katakan apa yang bisa kubantu?"

.

.

.

.

.

.

Malam itu Baekhyun masuk ke kamarnya, menjatuhkan tasnya ke lantai dan langsung merebahkan diri ke atas tempat tidur. Ia menggigit bibir dan menatap langit-langit kamar. Ia mulai merasa reaksinya terlalu berlebihan malam itu, Malam ketika Nami menjawab telepon Chanyeol. Seharusnya ia tidak bereaksi seperti itu. Seharusnya ia tidak menolak menjawab telepon Chanyeol ketika laki-laki itu meneleponnya.

Bagaimanapun juga, ia tidak berhak merasa cemburu. Park Chanyeol bebas melakukan apa pun yang diinginkannya. Ia juga bebas bersama siapa pun yang diinginkannya. Bebas menyukai siapa pun yang diinginkannya. Tetapi kenapa pikiran itu malah membuat Baekhyun sendiri lesu? Ia bangkit dan berjalan ke lemari pakaiannya. Saat itu matanya menatap secarik kertas kecil berwarna kuning yang ditempelkan di cermin meja riasnya. Ia mencabut kertas itu dan membacanya.

Periksa e-mail-mu.

Sehun.

Alis Baekhyun berkerut heran. Apa lagi ini? pikirnya, namun ia menghampiri meja tulis dan menyalakan laptop-nya. Tidak lama kemudian ia sudah masuk ke inbox email-nya. Seseorang mengirimkan video file untuknya. Berharap itu bukan semacam virus, Baekhyun membuka file di sana. Sejenak kemudian ia mengerjap kaget menatap gambar yang muncul di layar laptop. Danau dengan permukaan air berwarna biru yang tenang, padang rumput hijau yang terbentang luas, diselingi pepohanan dan berlatar belakang bukit hijau gelap. Langit terlihat biru jernih dan ia bisa mendengar gemeresik dedaunan yang ditiup angin. Ia juga nyaris bisa merasakan tiupan angin di wajahnya. Tempat apa itu?

Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. "Indah, bukan? Selamat datang di Ullswater." Lalu pemandangan itu bergerak ketika kamera dialihkan dan mata Baekhyun melebar ketika wajah Chanyeol memenuhi layar laptop-nya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat wajah Chanyeol.

Chanyeol tersenyum lebar ke arah kamera dan berkata, "Apakah kau tahu bahwa Ullswater sering dianggap sebagai danau terindah di antara seluruh danau di Cumbria? Kemarin kami melakukan pengambilan gambar di sini. Aku tahu kau pasti menyukai pemandangan ini, jadi hari ini aku kembali ke sini untuk menunjukkannya kepadamu."

Chanyeol kembali mengarahkan kameranya ke sekelilingnya, menunjukkan seluruh pemandangan indah yang terbentang di hadapannya. Dan saat itu Baekhyun juga merasa seolah-olah ia ada di sana, berdiri di samping Chanyeol, melihat pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri, merasakan angin menerpa wajahnya. Ia mengangkat kedua kaki ke atas kursi dan memeluk lutut. Seulas senyum tersungging di bibirnya.

Wajah Chanyeol kembali terlihat di layar. Ia mendongak menatap langit biru sambil menaungi mata dengan sebelah tangan yang tidak memegang kamera. Rambutnya acak-acakan tertiup angin. Kemudian ia kembali menatap kamera dan menyunggingkan senyum lebar yang membuat jantung Baekhyun berdebar dua kali lebih cepat.

"Lain kali aku pasti akan mengajakmu ke sini supaya kau bisa melihatnya sendiri," katanya. "Sekarang pegang tanganku. Aku akan mengajakmu berkencan hari ini, Baekhyun Ishida. Jadi kuharap kau bersedia menikmati hari yang indah ini bersamaku."

Senyum Baekhyun melebar. "Sangat kreatif," gumamnya lirih. Dan ia hampir lupa bernapas ketika ia melihat semua pemandangan indah yang direkam Chanyeol.

Chanyeol membawanya dari Lorton Vale yang merupakan tanah pertanian hijau di sebelah selatan Cockermouth, lalu ke Crummock Water di sebelah utara Buttermere, sampai ke Borrowdale yang begitu indah, membuat tenggorokan Baekhyun tercekat. Jelas sekali Chanyeol tidak merekam semua gambar itu dalam satu hari. Baekhyun yakin laki-laki itu pasti melakukannya di waktu luangnya yang terbatas. Kesadaran bahwa Chanyeol telah menyempatkan diri merencanakan semua itu untuknya membuatnya tersentuh. Sangat tersentuh.

Wajah Chanyeol yang ceria kembali terlihat di layar. "Bagaimana menurutmu? Kau suka?"

Baekhyun tersenyum. "Sangat," gumamnya pelan.

"Aku benar-benar berharap kau ada di sini bersamaku sekarang." Chanyeol mendesah dan memandang berkeliling, lalu kembali menatap kamera. Menatap Baekhyun. "Kau tahu, aku menyadari sesuatu selama berada di sini," katanya ringan. Ia masih tersenyum, namun ada kesan sungguh-sungguh dalam suaranya. "Aku rindu padamu."

Baekhyun mengerjap kaget dan menahan napas. Oh, dear... Suasana di sekelilingnya mendadak sunyi senyap. Hanya debar jantungnya sendiri yang terdengar olehnya.

"Kurasa aku sudah terbiasa selalu melihatmu, jadi kalau kau tidak ada, aku merasa agak aneh. Seolah-olah ada sesuatu yang... salah," Chanyeol melanjutkan dengan nada merenung. Lalu ia tertawa kecil. "Astaga, kurasa aku mulai meracau. Baiklah, kuharap kau menikmati kencan kita hari ini. Sampai jumpa lagi di London."

Selama dua menit penuh setelah video itu berakhir, Baekhyun masih duduk diam di depan laptop-nya. Aku menyadari sesuatu selama aku berada di sini. Aku rindu padamu. Kata-kata Chanyeol masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan kata-kata itu kini membuat seulas senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Ia melirik ponsel yang tergeletak di meja. Setelah ragu sedetik, ia membulatkan tekad, meraih ponsel itu dan menekan nomor Chanyeol.

Kali ini Chanyeol menjawab pada dering pertama dan suara yang kini disadari Baekhyun sangat dirindukannya itu langsung bertanya, "Baekhyun?"

"Mmm," gumam Baekhyun. "Ini aku."

Baekhyun bisa mendengar Chanyeol mengembuskan napas dengan perlahan. "Apakah kau menikmati acara jalan-jalan kita?"

Baekhyun tersenyum. "Bagaimana kau bisa tahu aku sudah melihat videonya?"

"Aku punya informan tepercaya."

Informan tepercaya? Baekhyun melirik pesan dari Sehun yang kini tergeletak di mejanya. "Jadi, Baekhyun, kau sudah tidak marah padaku?" tanya Chanyeol. Suaranya terdengar ragu, sama sekali tidak seperti yang dikenal Baekhyun.

Baekhyun mendengus. "Aku tidak marah padamu." Bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengakui bahwa ia tidak suka dengan kenyataan bahwa Nami menjawab ponsel Chanyeol, bahwa Chanyeol ingin mengajak Nami ke suatu tempat, bahwa mereka makan malam bersama, bahwa Nami bisa melihat Chanyeol sementara Baekhyun sendiri tidak bisa. Bahwa Nami yakin Chanyeol mulai menyukainya.

Chanyeol terkekeh. "Suaramu terdengar marah."

"Aku tidak marah."

"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku senang mendengarnya," kata Chanyeol cepat. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya pelan, "Bagaimana keadaanmu, Baek?"

"Aku baik-baik saja," gumam Baekhyun. "Kau sendiri?"

"Sudah lebih baik," sahut Chanyeol.

Alis Baekhyun terangkat. "Apa maksudmu? Kau sakit lagi?"

"Tidak, tidak," sela Chanyeol cepat, lalu tertawa kecil. "Tidak bertemu denganmu selama ini sudah cukup membuatku gelisah. Ditambah dengan kau yang tidak mau berbicara denganku selama dua hari terakhir ini..." Ia menghela napas sejenak. "Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah mendengar suaramu."

Seperti yang sudah sering dialaminya akhir-akhir ini setiap kali berada di dekat Chanyeol dan setiap kali ia menatap Chanyeol, jantung Baekhyun pun kembali berdebar kencang.

.

.

.

.

.

.

.

Park Chanyeol sedang duduk melamun di antara para rekan kerjanya di sebuah pub kecil di Keswick ketika ponselnya berdering. Ia tersentak dan cepat-cepat menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon.

"Baekhyun?" tanyanya langsung sambil bangkit dan berjalan keluar dari kedai. Ia sama sekali tidak menyadari Bobby Shin yang menatapnya sambil tersenyum kecil dan menggeleng-geleng.

"Mmm, ini aku."

Chanyeol bisa merasakan kelegaan menjalari dirinya begitu ia mendengar suara Baekhyun di ujung sana. Ia tahu Baekhyun sudah melihat video yang dikirimnya. Sehun yang memberitahunya beberapa saat yang lalu. Tidak melihat gadis itu selama beberapa hari saja sudah cukup membuatnya uring-uringan. Dan dua hari terakhir ini benar-benar menguji kesabarannya, bahkan Bobby Shin sampai kebingungan menghadapinya.

Penyebabnya? Baekhyun yang tiba-tiba menghindarinya, menolak menjawab teleponnya. Dan yang paling buruk adalah Chanyeol tidak tahu alasannya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu sejak kapan, ia tidak tahu kenapa, dan ia juga tidak tahu bagaimana, tetapi ia tahu Baekhyun Ishida sangat berpengaruh pada ketenangan jiwanya.

Chanyeol berdiri di teras pub kecil itu dan menghela napas dalam-dalam. Tangan kirinya yang tidak memegang ponsel dijejalkan ke dalam saku celana. Setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan pelan, "Jadi, Baekhyun, kau sudah tidak marah padaku?"

"Aku tidak marah padamu."

Chanyeol tertawa pendek. "Suaramu terdengar marah."

"Aku tidak marah."

Chanyeol pun tidak mendesak lagi. Akhirnya ia bertanya, "Bagaimana keadaanmu, Baekhyun?"

Baekhyun menjawab ringan, "Aku baik-baik saja. Kau sendiri?"

"Sudah lebih baik," sahut Chanyeol. Ya, ia sudah merasa jauh lebih baik. Karena ia sudah mendengar suara gadis itu. Karena gadis itu tidak lagi marah padanya.

Tetapi suara Baekhyun terdengar khawatir. "Apa maksudmu? Kau sakit lagi?"

"Tidak, tidak," sela Chanyeol cepat dan tertawa, merasa senang karena Baekhyun ternyata mencemaskannya. Itu bisa dianggap sesuatu yang bagus, bukan? "Tidak bertemu denganmu selama ini sudah cukup membuatku gelisah. Ditambah dengan kau yang tidak mau berbicara denganku selama dua hari terakhir ini..." Ia menghela napas sejenak. "Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah mendengar suaramu."

Baekhyun tidak menjawab. Chanyeol bertanya-tanya apakah ia sudah membuat gadis itu terkejut. Apakah Baekhyun akan kembali menarik diri? Apakah kata-katanya tadi akan membuat Baekhyun kembali menjaga jarak? Karena walaupun Baekhyun tidak pernah berkata apa-apa, Chanyeol tahu gadis itu selalu menjaga jarak dengan laki-laki. Laki-laki mana pun. Dan walaupun Baekhyun tidak pernah berkata apa-apa, Chanyeol yakin penyebabnya bukan karena Baekhyun gadis pemalu. Pasti pernah terjadi sesuatu yang membuat Baekhyun bersikap seperti ini. Chanyeol ingin tahu apa yang terjadi. Ia ingin mengetahui semua yang bisa diketahuinya tentang Baekhyun. Hanya saja ia tidak tahu caranya.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol ragu. Semoga saja Baekhyun tidak langsung menutup telepon. Kalau itu terjadi, Chanyeol tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

"Aku masih di sini," kata Baekhyun.

Dengan pelan Chanyeol mengembuskan napas yang ditahannya. Astaga, ia tidak pernah segugup ini seumur hidupnya, baik dalam urusan pekerjaan atau ketika menghadapi wanita mana pun. Kenapa gadis yang satu ini membuatnya selalu merasa gugup, selalu bertanya-tanya, selalu ragu? Ia tidak pernah seperti ini. Sungguh. Ini tidak normal.

"Kau harus tahu tidak ada yang terjadi. Maksudku, antara aku dan Nami," kata Chanyeol pada akhirnya.

Hening sejenak, lalu terdengar, "Mmm."

"Kau percaya padaku, bukan?" tanya Chanyeol.

"Tentu saja," sahut Baekhyun cepat, tetapi bagi Chanyeol suara gadis itu tidak terdengar meyakinkan. "Kau sedang di mana?"

Chanyeol menoleh ke arah jendela pub dan melihat teman-temannya masih sibuk mengobrol dan tertawa di dalam. "Di pub. Bersenang-senang sedikit setelah hari yang panjang dan melelahkan."

"Dia ada di sana bersamamu?"

Chanyeol tersenyum kecil, tidak bisa menahan diri. "Siapa?"

Hening sejenak, lalu Baekhyun bergumam, "Nami."

Senyum Chanyeol melebar. "Tidak," sahutnya singkat. Ia tidak berkata bahwa siang tadi ia kebetulan bertemu dengan Nami. Ia juga tidak berkata bahwa Nami memang berencana akan bergabung dengan mereka di pub ini. Bagaimanapun juga, bukan Chanyeol yang mengundang gadis itu ke sini. Nami sendiri yang kebetulan mendengar bahwa Chanyeol dan teman-temannya akan berkumpul di pub lalu menyatakan bahwa ia juga ingin bergabung.

"Begitu?" gumam Baekhyun. Lalu tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. Nada suaranya pun berubah lebih ringan. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggumu lebih lama lagi. Oh, dan terima kasih untuk videonya. Aku sangat menyukainya."

"Terima kasih karena sudah berkencan denganku hari ini," balas Chanyeol.

"Dan, Chanyeol," kata Baekhyun lagi ketika Chanyeol hendak menutup telepon, "aku juga senang mendengar suaramu."

Dan tiba-tiba saja, begitu mendengar kata-kata sederhana yang diucapkan dengan pelan itu, Chanyeol merasa hatinya berubah ringan dan melambung tinggi. Ia juga mendapati dirinya tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan lama setelah Baekhyun menutup telepon.

Saat itu ia teringat pada kata-kata yang pernah diucapkan Baekhyun. Aku... memang merasakan sesuatu, tapi bukan... bukan untuk Sehun. Chanyeol tidak tahu apakah ia berani berharap atau tidak.

.

.

.

.

.

.

.

Nami kembali bersandar di dinding samping pub. Chanyeol sudah kembali ke dalam pub, sama sekali tidak sadar bahwa Nami sudah mendengar semua yang dikatakannya. Sebenarnya Nami tidak menguping dengan sengaja. Ia baru saja akan berbelok ke pub itu ketika mendengar suara rendah Chanyeol yang berkata,

"Tapi sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Karena aku sudah mendengar suaramu."

Kata-kata yang diucapkan dengan pelan dan serius itu membuat Nami menghentikan langkah. Ia belum pernah mendengar Chanyeol berbicara dengan nada lembut seperti itu. Penasaran dengan orang yang sedang berbicara dengan Chanyeol, Nami bersandar di dinding samping pub. Ternyata Chanyeol sedang berbicara di ponselnya. Tapi dengan siapa?

Pertanyaan itu langsung terjawab karena kata yang diucapkan Chanyeol selanjutnya adalah, "Baekhyun?" Nami mengerutkan kening. Lalu perlahan-lahan seulas senyum muram muncul di bibirnya. Sebenarnya ia sudah menduganya. Sejak hari itu di flat Chanyeol. Ia sudah melihat cara Chanyeol menatap Baekhyun. Dan cara Chanyeol menangkup kepala Baekhyun dan berbicara pelan kepadanya ketika Nami dan Baekhyun hendak pulang. Namun saat itu Nami menolak memikirkannya.

Sama seperti sekarang. Ia sama sekali belum ingin mundur. Park Chanyeol mungkin menyukai Baekhyun, tapi Baekhyun belum tentu menyukai Chanyeol. Nami mengenal temannya dengan baik. Baekhyun bukan tipe wanita yang mudah didekati. Malah Nami selalu melihat Baekhyun menjauhi laki-laki. Jadi Nami masih memiliki kesempatan. Seperti kata orang-orang, segalanya sah dalam perang dan cinta.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Aku suka banget sama karakter nya Christopher Scott a.k.a Oh Sehun disini ^^ klo kalian suka sama siapa? :D

Nami bikin greget yaa

Summary nya juga udah aku ganti, hahaa nggak penting banget :'

Sekali lagi terima kasih untuk respon baik kalian :*