"Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 14

.

.

KALIAN sudah tahu besok adalah hari pertunjukan perdanaku, bukan?" tanya Julie untuk kesekian kalinya hari ini.

Sehun mengadahkan wajah dengan gaya dramatis. "Kami tidak mungkin lupa, Julie," katanya dengan nada ditarik-tarik. "Demi Tuhan, kau terus mengingatkan kami setiap jam. Ada apa denganmu? Tenanglah sedikit."

Baekhyun baru saja pulang ketika Julie menariknya ke dapur, di sana Sehun yang mengenakan piama sutra ungu sudah berdiri sambil memegang secangkir cokelat panas dan langsung melemparkan pertanyaan tadi. Julie terlihat sangat bersemangat. Juga tegang.

"Aku tidak bisa tenang," kata Julie sambil berjalan mondar-mandir di dapur mereka yang kecil. "Ini peran utamaku yang pertama. Pertunjukan ini harus berhasil. Harus! Kalau ini berhasil baik, maka kesempatan-kesempatan besar lain akan terbuka untukku. Aku akan terkenal! Aku akan mendapat banyak tawaran! Aku akan mendapat kesempatan berbagi panggung dengan aktor-aktor besar! Aku akan..."

"Wow, berhenti sebentar," sela Sehun sambil mengacungkan sebelah tangan ke wajah Julie. "Pelan-pelan saja. Aku tidak bisa memahami kalau kau berbicara secepat kereta api ekspres. Tarik napas dalam dalam."

Julie mengangguk-angguk dan menarik napas dalam-dalam, mematuhi kata-kata Sehun. Namun ia langsung menggeleng, "Tidak, tidak. Ini tidak berhasil. Aku tidak bisa tenang. Apakah kalian sudah mengundang semua teman kalian ke pertunjukanku?"

"Tenanglah, Sayang. Aku sudah mengundang semua temanku dan aku jamin mereka pasti datang," sahut Sehun. Lalu ia mengerdip ke arah Baekhyun dan berbisik, "Aku sudah mengancam mereka." Baekhyun tertawa.

Julie menoleh ke arah Baekhyun dan menyipitkan mata. "Bagaimana dengan Chanyeol?" tanyanya. "Kapan dia akan kembali ke London? Waktu itu dia sudah berjanji akan mengajak semua rekan kerjanya ke pertunjukanku. Kalau dia tidak jadi datang..."

"Dia akan kembali malam ini," sahut Baekhyun cepat. "Setidaknya itulah yang dikatakannya padaku ketika dia meneleponku kemarin."

Dan Baekhyun berharap itu benar. Chanyeol sudah pergi selama lebih dari seminggu dan Baekhyun berharap bisa segera bertemu dengannya, bukan hanya melihatnya di video yang dikirimkan Chanyeol untuknya. Baekhyun menghela napas dan mengembuskannya dengan pelan. Sepertinya ia mulai kacau. Chanyeol baru pergi selama seminggu, tetapi kenapa ia merasa seolah-olah Chanyeol sudah pergi lebih dari sebulan?

"Sekarang sudah larut dan aku sudah mengantuk," kata Sehun sambil menguap, lalu menatap Julie, "Dan kalau kau ingin aku tampil prima untuk pertunjukan perdanamu, kau akan membiarkanku tidur dengan tenang."

Julie memberengut ke arah Sehun yang berjalan ke kamarnya sendiri, lalu menoleh ke arah Baekhyun dan tersenyum. "Aku juga harus tidur sekarang. Aku tidak mau sampai ada lingkaran hitam di sekeliling mataku besok. Selamat malam."

Baekhyun balas mengucapkan selamat malam dan masih berdiri bersandar di lemari dapur beberapa saat setelah Julie masuk ke kamar. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya masih segar bugar. Dan seperti yang sering dialaminya akhir-akhir ini kalau sedang sendirian, pikirannya langsung melayang pada Park Chanyeol.

Apakah Chanyeol akan meneleponnya kalau ia sudah tiba di London? Mungkin tidak. Malam sudah larut dan Chanyeol pasti sangat lelah. Baekhyun memejamkan mata dan menggeleng-geleng. Oh, dear. Ini harus dihentikan. Ia tidak bisa memikirkan Chanyeol terus. Yang harus dilakukannya sekarang adalah mandi dan tidur.

Namun ketika ia masuk ke kamarnya sendiri, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dari tas dan menatap tulisan yang muncul di layar. Wajahnya langsung berseri-seri. "Chanyeol!"

"Wah, kedengarannya kau sedang gembira." Suara Chanyeol terdengar agak lelah, namun masih ada tawa di dalamnya. "Kuharap itu karena kau gembira mendengar suaraku."

Baekhyun mendengus pelan, namun ia tidak bisa mencegah senyum lebar yang muncul di wajahnya. "Kau sudah ada di London?"

"Mmm," gumam Chanyeol membenarkan. "Baru turun dari kereta dan orang pertama yang terpikirkan olehku adalah kau. Aneh, bukan?"

"Kau baru memikirkanku setelah turun dari kereta?" gurau Baekhyun.

"Ah, sebenarnya aku memikirkanmu sepanjang perjalanan pulang," koreksi Chanyeol. "Dan setiap hari selama aku tidak ada di London. Setiap hari. Bahkan setiap jam. Bagaimana kedengarannya?"

Baekhyun tertawa. "Kedengarannya tidak normal."

"Kau benar. Ini tidak normal," desah Chanyeol. "Ngomong-ngomong, kenapa kau belum tidur?"

"Aku baru pulang."

"Selarut ini?"

Baekhyun melirik jam tangan. Memang sudah hampir tengah malam. "Pemotretannya berlangsung lebih lama daripada yang kukira," katanya. "Tapi kenapa kau masih meneleponku kalau kau memang merasa ini sudah larut?"

"Tadinya aku berencana meninggalkan pesan di kotak suaramu," aku Chanyeol. "Tapi karena kau ternyata belum tidur, maukah kau membantuku?"

Sebelah alis Baekhyun terangkat. "Apa?"

"Sudah lama aku tidak melihatmu dan karena aku sudah tiba di London kurasa aku tidak akan bisa tidur malam ini kalau aku belum melihatmu," kata Chanyeol. "Maukah kau melihat keluar jendela?"

Apa? Baekhyun mengerjap kaget sementara jantungnya mulai berdebar semakin keras dan cepat. Tanpa membuang-buang waktu, ia melompat ke jendela kamar tidurnya dan menyibakkan tirai. Benar saja. Park Chanyeol sedang berdiri di bawah tiang lampu di seberang jalan di depan gedung flat Baekhyun. Sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel terangkat menyapa Baekhyun. Wajahnya yang terdongak ke arah Baekhyun terlihat agak pucat dan lelah, namun senyum yang sangat disukai Baekhyun itu tetap tersungging di bibirnya.

"Chanyeol," Baekhyun merasa hatinya membuncah dan ia tidak bisa menahan senyumnya.

"Atau kau bisa turun sebentar dan membiarkanku melihatmu dari dekat," tambah Chanyeol pelan.

Baekhyun tidak ragu sedetik pun. "Tunggu di sana," katanya, lalu berbalik, melesat keluar dari kamarnya, keluar dari pintu flat dan berlari menuruni tangga. Kurang dari tiga puluh detik kemudian ia sudah menginjak trotoar di depan gedung flatnya. Ia harus mencegah dirinya berlari menyeberangi jalan dan memeluk Chanyeol. Tanpa melepaskan pandangan dari wajah Chanyeol, Baekhyun memaksa dirinya berjalan dengan tenang menyeberangi jalan yang sudah sepi dan berhenti di depan Chanyeol.

"Cepat sekali," komentar Chanyeol sambil tersenyum ke dalam mata Baekhyun.

Baekhyun mengangkat bahu. "Yah, semakin cepat aku turun ke sini dan menemuimu, semakin cepat kau bisa pulang dan membiarkan aku tidur."

Chanyeol tertawa pelan. Lalu ia mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh pipi Baekhyun. "Benarkah?"

Mata Baekhyun melebar, napasnya tercekat, jantungnya berdebar begitu keras sampai rasanya hampir melompat keluar dari dadanya. Tetapi ia tidak bisa bergerak. Tidak bisa berbicara. Tidak bisa bernapas. Mata Chanyeol yang gelap seolah-olah menghipnotisnya. Tangan Chanyeol terasa hangat di pipi Baekhyun yang dingin. Kehangatan tangan itu mulai meresap di kulit Baekhyun dan menjalari seluruh tubuhnya. Sama seperti waktu itu di flat Chanyeol.

Perlahan-lahan tangan Chanyeol bergerak merangkul bahu Baekhyun dan menariknya mendekat. Dan sebelum Baekhyun bisa bereaksi, kedua lengan Chanyeol sudah melingkari tubuhnya, menyelubunginya dengan kehangatan. Baekhyun mengerjap kaget. Kaget karena Chanyeol memeluknya. Kaget karena ia membiarkan Chanyeol melakukannya. Kaget karena rasa aman yang dirasakannya dalam pelukan Chanyeol.

"Ah, senang sekali melihatmu lagi," gumam Chanyeol di pelipis Baekhyun.

Baekhyun pun mengembuskan napas yang ditahannya sejak tadi, seiring dengan ketegangan yang menguap dari tubuhnya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Chanyeol dan memejamkan mata. Ia bisa merasakan debar jantung Chanyeol, dan entah kenapa hal itu membuatnya merasakan kedamaian yang belum pernah dirasakannya selama ini.

Lalu suara Chanyeol yang rendah kembali terdengar dari balik kabut kedamaian yang menyelimutinya dengan nyaman. "Apa yang akan kau lakukan besok?"

Sulit rasanya berpikir tentang besok ketika saat ini ia sedang berada dalam pelukan Chanyeol, tetapi Baekhyun berhasil memaksa otaknya bekerja. "Besok pagi aku harus pergi menemui agenku."

"Setelah itu?"

"Bersiap-siap untuk menghadiri pertunjukan perdana Julie."

Chanyeol tertawa kecil. "Kau tidak perlu menghabiskan seharian mempersiapkan diri." Ia melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang bahu Baekhyun, lalu ia mengamati Baekhyun dari kepala sampai ke kaki, lalu kembali ke wajah Baekhyun. "Menurutku kau sudah sempurna."

Wajah Baekhyun pun memanas. Ia yakin wajahnya terlihat merah, bahkan di bawah sinar lampu jalan yang remang-remang.

"Setelah kau menemui agenmu, dan sebelum kita menghadiri pertunjukan Julie, bagaimana kalau kau menemaniku menghabiskan hari liburku?"

Bagaimana mungkin Baekhyun menolak sementara Chanyeol tersenyum padanya seperti itu. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu, sesuatu yang sudah tersembunyi rapi di dalam hatinya sejak lama, namun kali ini perasaan itu begitu kuat sampai tidak mungkin diabaikan lagi.

Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada Park Chanyeol.

Oh, dear...

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

So sweet bangeeeettttt

Pendek banget ya? Maapkeun -/\-

Chapter depan aku bakalan update dua chapter sekaligus deh. Janji ^^v

Oiya. Ada yang tau novel Indonesia yang judulnya Lelaki Terindah? Aku tertarik sama ceritanya. Pengen banget nge-remake itu ke versi ChanBaek. Tapi susaaaaahhhh banget cari novel nya. Di google juga nggak ada. Mau download pdf nya juga susah tapi ya udahlah ya, kita cari novel lain aja buat di remake. Ada yang mau request? Hahaa yang ini aja belum kelar -_-

Dan jujur ya, aku juga belum pernah baca Spring In London ini. Aku kehabisan ide buat ff aku yang A Little Braver, jadi iseng cari novel buat di remake. Dan ketemu lah SIL ini ^^ Aku bener-bener nggak tau sama ceritanya. Jadi sambil ngedit, sekalian sambil baca :v So, aku nggak tau sama masa lalu Naomi a.k.a Baekhyun, aku nggak tau kapan ChanBaek jadian, aku juga nggak tau endingnya gimana :'D

Kita impas kan? Pembaca penasaran, Author juga penasaran :v

Maafkan untuk typo. Dan terima kasih udah mampir :*