Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 15

.

.

KEESOKAN harinya ketika Baekhyun keluar dari kantor agennya, ia melihat Chanyeol sudah duduk menunggunya di atas sepeda motor besar berwarna perak. Chanyeol tersenyum lebar sambil mengulurkan helm kepadanya. "Ini sepeda motor Hyung. Dia meminjamkannya kepadaku hari ini. Ayo, naiklah."

Baekhyun menatap Chanyeol dan sepeda motor itu bergantian. "Kau harus tahu bahwa ini pertama kalinya aku naik sepeda motor," katanya ragu.

Chanyeol mengenakan helmnya sendiri. "Benarkah? Kau sudah banyak mendapat pengalaman baru bersamaku, bukan?" tanya Chanyeol ringan. "Dan hari ini kita akan mencari pengalaman baru lagi. Ayo, naiklah. Kau percaya padaku, bukan?"

Baekhyun menatapnya sesaat, lalu perlahan-lahan keraguan memudar dari matanya dan ia tersenyum. "Baiklah."

Seperti yang dijanjikan Chanyeol, Baekhyun mendapat berbagai pengalaman baru hari itu. Selama tiga tahun tinggal di London, hari itu Baekhyun naik sampan di Regent's Park untuk pertama kalinya, menyaksikan pergantian pengawal kerajaan di Buckingham Palace untuk pertama kalinya, dan naik London Eye untuk pertama kalinya. Lalu mereka makan dan berjalan-jalan di Leicester Square, daerah yang menjadi wilayah pejalan kaki dan pusat hiburan di West End tempat berbagai jenis seniman jalanan bersaing berebut perhatian.

Waktu memang berlalu dengan cepat ketika kau sedang bersenang-senang. Itulah yang dirasakan Baekhyun. Ia menyadari bahwa menghabiskan waktu bersama Chanyeol adalah saat-saat paling menyenangkan baginya. Bersama Chanyeol, ia mendapati dirinya sering tertawa, selalu mengalami hal-hal baru yang menyenangkan, dan bisa berbicara bebas. Bersama Chanyeol, Baekhyun bisa menikmati semua hal yang tidak bisa dinikmatinya sebelum ini, melihat semua hal yang tidak akan bisa dirasakannya seumur hidupnya. Dan bersama Chanyeol, ia bisa melupakan masa lalu dan masa depan, walaupun hanya sejenak, dan hanya menikmati masa sekarang.

Namun Baekhyun selalu tahu bahwa masa lalu akan kembali menghantuinya. Dan kali ini ia tidak akan bisa mengelak lagi.

.

.

.

.

.

Pertunjukan Julie sukses besar. Semua tiket terjual habis, semua kursi terisi dan respons penonton sangat bagus. Penampilan Julie sendiri sangat memukau. Baekhyun yakin temannya akan mendapat banyak tawaran bagus setelah pertunjukan ini.

"Aku tidak pernah melihat Julie seperti itu. Dia benar-benar hebat, bukan?" kata Nami kepada Baekhyun di akhir pertunjukan.

Ini adalah pertama kalinya Baekhyun bertemu lagi dengan Nami setelah Nami menjawab ponsel Chanyeol beberapa hari yang lalu. Nami sama sekali tidak mengungkit-ungkit kejadian itu, jadi Baekhyun juga tidak pernah bertanya. Nami masih bersikap ceria seperti biasa, dan masih berusaha mendekati Chanyeol setiap ada kesempatan.

Untuk merayakan kesuksesan Julie, setelah pertunjukan berakhir Sehun mengadakan pesta kejutan di restoran tempatnya bekerja. Dan berhubung yang mengadakan pesta adalah Oh Sehun, salah satu koki paling terkenal di Inggris, semua tamu yang hadir di pesta itu adalah orang-orang penting dalam dunia seni dan pertunjukan.

Sehun dan Julie adalah orang-orang yang tidak pernah merasa resah berada di tengah banyak orang, berlawanan dengan Baekhyun. Baekhyun tidak menyukai pesta. Bahkan bisa dibilang ia benci pesta. Tentu saja sebagai model ia harus menghadiri berbagai jenis pesta, baik pesta pribadi yang sopan maupun pesta yang berisik dan gila-gilaan. Namun Baekhyun tidak pernah tinggal lebih lama dari setengah jam di setiap pesta itu, karena pada setengah jam pertama semua orang masih bersikap sopan dan suasana pesta masih beradab. Tetapi segalanya akan berubah setelah orang-orang menegak minuman keras yang tak pernah berhenti disajikan. Dan Baekhyun selalu menghindari saat itu.

Tetapi malam ini ia melanggar peraturannya sendiri. Ia sudah bertahan di pesta ini selama hampir dua jam, dan itu karena ia tidak ingin mengecewakan Julie. Julie adalah bintang pesta malam ini dan ia sangat gembira. Baekhyun tidak mungkin meninggalkan pesta yang diadakan untuk merayakan keberhasilan teman baiknya itu begitu saja. Kalau ia melakukannya, ia akan merasa seperti orang yang tidak berperasaan.

Ia menoleh ke arah Chanyeol yang berdiri di sampingnya dan sedang berbicara dengan salah seorang tamu pesta. Baekhyun tidak meminta Chanyeol menemaninya, tetapi sepertinya Chanyeol menyadari kegelisahan Baekhyun di tengah-tengah orang banyak, karena laki-laki ini tidak pernah meninggalkan sisinya sepanjang malam itu.

Baekhyun menarik napas dalam-dalam dan memandang berkeliling. Alunan musik dan suara orang-orang yang mengobrol mulai membuatnya pusing. Ia mulai merasa sesak napas. Ia harus pergi dari sini. Julie dan Sehun pasti akan mengerti kalau Baekhyun pulang lebih dulu.

"Ada apa?"

Mendengar suara Chanyeol, Baekhyun menoleh dan memaksakan seulas senyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya..." Baekhyun terlihat ragu. Ia memandang berkeliling lagi, dan kembali menatap Chanyeol. "Apakah menurutmu aku boleh pulang lebih duluan?"

Chanyeol memiringkan kepala sedikit, masih tetap menatap Baekhyun. Lalu ia tersenyum ringan. "Tentu saja. Kita akan pamit pada Sehun dan Julie, lalu aku akan mengantarmu pulang."

.

.

.

.

.

.

Wajah Baekhyun terlihat agak pucat. Chanyeol tahu Baekhyun tidak nyaman berada di tengah-tengah pesta yang ramai seperti ini dan ia bisa merasakan ketegangan yang memancar dari diri gadis itu. Ia tersenyum dan berkata, "Tentu saja. Kita akan pamit pada Sehun dan Julie, lalu aku akan mengantarmu pulang." Kelegaan pun terlihat jelas di wajah Baekhyun.

Ketika mereka hendak beranjak pergi, seseorang berseru memanggil Chanyeol. Chanyeol menoleh dan melihat seorang pria jangkung dalam balutan jas mahal sedang berjalan menerobos kerumunan ke arahnya. "Oh, Dong-Min Hyung?" gumamnya pada diri sendiri, heran melihat salah seorang temannya dari Korea di sini.

Baekhyun menyentuh lengannya dan berkata, "Biar aku saja yang pergi mencari Sehun dan Julie."

Chanyeol mengangguk. "Baiklah. Aku akan menunggumu di sini."

Setelah melihat sosok Baekhyun menghilang di antara kerumunan orang-orang. Chanyeol kembali menoleh ke arah Kim Dong-Min yang menghampirinya sambil memegang segelas sampanye dan tersenyum lebar.

"Hyung, apa kabar?" sapa Chanyeol ketika Kim Dong-Min sudah berdiri di hadapannya. "Ini benar-benar kejutan. Kapan Hyung di London?"

Sebenarnya Chanyeol dan Kim Dong-Min tidak bisa disebut teman. Chanyeol hanya mengenalnya sebagai salah seorang teman dekat almarhum kakak laki-lakinya, Park Seung-Ho, dan orang yang dulu pernah berniat mendekati kakak perempuannya, Park Yura.

"Chanyeol, aku sudah mendengar bahwa kau ada di London, tapi aku sama sekali tidak menyangka bisa kebetulan bertemu denganmu di pesta ini," kata Kim Dong- Min sambil tersenyum lebar dan menjabat tangan Chanyeol. Dari dekat wajahnya yang tampan terlihat agak merah. "Aku tiba di London tiga hari yang lalu. Urusan pekerjaan. Dan karena besok aku harus kembali ke Seoul, temanku mengajakku ke sini. Pesta yang hebat, bukan? Orang-orang terkenal dan wanita-wanita cantik. Ini baru namanya pesta." Matanya dilayangkan ke seluruh ruangan dan senyumnya semakin lebar.

Chanyeol tersenyum tipis tanpa berkomentar. Ternyata Kim Dong-Min masih sama seperti dulu. Penggemar pesta dan wanita. Diam-diam Chanyeol bersyukur Kim Dong-Min tidak berhasil menarik perhatian Yura bertahun-tahun yang lalu. Chanyeol tidak mau membayangkan kakak perempuannya menikah dengan pria seperti ini.

Dong-Min kembali menatap Chanyeol dan matanya berkilat-kilat penuh arti. "Ngomong-ngomong, kalau tidak salah tadi aku melihatmu berbicara dengan seorang wanita cantik," katanya. "Kalau tidak salah, wanita itu Baekhyun Ishida, bukan? Model terkenal dari Jepang itu?"

Mata Chanyeol agak menyipit. Ada sesuatu dalam nada suara Dong-Min yang tidak disukainya. "Ya," gumamnya datar, "itu memang dia."

Dong-Min meneguk sampanyenya dan terkekeh. "Wah, tidak kuduga ternyata seleramu sama dengan kakakmu."

Chanyeol baru hendak membuka mulut untuk bertanya apa maksud Dong-Min ketika seseorang menyentuh lengannya. Ia menoleh dan langsung bertatapan dengan Nami.

"Chanyeol, maaf, boleh bicara sebentar?" tanya Nami. Lalu ia menoleh ke arah Dong-Min dan tersenyum manis. "Kuharap Anda tidak keberatan."

Sebelum Chanyeol menjawab, Dong-Min sudah menyela cepat, "Tentu saja tidak. Tadi aku melihat seseorang yang kukenal di sana, jadi kurasa aku harus pergi dan berbicara dengannya." Ia mengangkat bahu dan menyunggingkan senyum miring kepada Nami, lalu menatap Chanyeol. "Oke, Chanyeol, kita akan bicara lagi nanti."

.

.

.

.

.

.

Di mana Julie dan Sehun? Baekhyun tidak melihat mereka di mana-mana. Ia harus pulang sekarang dan ia harus memberitahu Sehun atau Julie sehingga kedua temannya itu tidak mengkhawatirkannya kalau mereka tiba-tiba menyadari Baekhyun sudah tidak ada.

Baekhyun mengembuskan napas dengan keras. Yah, kalau dipikir-pikir, dalam suasana seperti ini, kemungkinan besar Sehun dan Julie bahkan tidak memikirkannya. Semua orang terlihat sedang bersenang-senang. Semua orang, kecuali Baekhyun sendiri.

Ia memijat pelipisnya sejenak. Tidak bisa, ia harus keluar sekarang. Ia akan mencoba menelepon Sehun dalam perjalanan pulang nanti. Sebaiknya ia kembali ke tempat Chanyeol. Ia berbalik dan berjalan kembali ke tempat ia meninggalkan Chanyeol bersama temannya tadi. Tetapi apa yang dilihat Baekhyun sedetik kemudian membuat langkahnya mendadak terhenti.

Chanyeol memang masih berdiri di sana, namun kini ia tidak lagi sedang berbicara dengan temannya. Kini yang berdiri di hadapannya adalah Nami. Chanyeol berdiri memunggunginya, jadi Baekhyun hanya bisa melihat wajah Nami yang tersenyum lebar kepada Chanyeol. Lalu Chanyeol mengatakan sesuatu yang membuat Nami tertawa. Dan itu bukan pemandangan yang menyenangkan.

"Baekhyun, kenapa berdiri di sini seperti orang bingung?" tanya Sehun yang tiba-tiba saja sudah muncul di sampingnya.

Baekhyun tersentak dan menoleh. "Oh, Sehun. Tidak apa-apa."

Sehun segera melihat penyebabnya. Ia tersenyum pada Baekhyun dan bertanya, "Kau mau aku menyeret Nami menjauh dari Chanyeol?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak apa-apa, Sehun. Kebetulan kau ada di sini."

"Ada apa?"

"Aku ingin pulang lebih dulu. Tolong sampaikan juga kepada Julie."

"Kenapa?"

Baekhyun tersenyum kecil. "Kau tahu aku tidak suka pesta-pesta seperti ini, Sehun."

Sehun berpikir sejenak, lalu berkata, "Baiklah. Tunggu sebentar di sini. Aku akan mengantarmu pulang."

"Tidak usah," Baekhyun cepat-cepat menyela. "Kau tuan rumah di sini. Mana mungkin tuan rumah meninggalkan tamu-tamunya begitu saja? Lagi pula, tadi Chanyeol bilang dia yang akan mengantarku pulang." Ia kembali melirik Chanyeol. "Tetapi karena sekarang sepertinya dia sedang sibuk, aku akan pulang sendiri saja."

Sehun menggeleng. "Aku bisa kembali lagi ke sini setelah mengantarmu," katanya. "Tunggu di sini. Aku akan memberitahu Julie dan setelah itu kita bisa pulang."

Baekhyun mendesah pasrah ketika Sehun berbalik pergi. Tetapi ia juga tidak mau menunggu lebih lama lagi di sini. Kenapa ia harus merepotkan Sehun dan merusak malam Julie? Kenapa pula ia harus menunggu Chanyeol mengantarnya pulang? Ia bisa pulang sendiri. Sambil menarik napas, Baekhyun pun berbalik dan berjalan ke arah tempat penitipan jaket.

Namun tempat itu kosong. Di mana penjaganya? Baekhyun berdiri sebentar di meja penjaga sambil menoleh ke kiri dan kanan, mencari si penjaga tempat penitipan yang sepertinya juga ikut berpesta. Setelah beberapa menit berdiri di sana dan si penjaga belum kembali, Baekhyun memutuskan untuk masuk dan mencari jaketnya sendiri.

Sementara mencari jaketnya, bayangan Chanyeol dan Nami bersama kembali tebersit dalam otaknya. Baekhyun cepat-cepat menggeleng untuk menyingkirkan pikiran itu. Mereka hanya mengobrol biasa. Kenapa ia harus kesal melihat Chanyeol mengobrol dengan wanita lain? Yah... sebenarnya ia tidak kesal hanya gara-gara Chanyeol mengobrol dengan Nami, tetapi kesadaran bahwa Nami sedang berusaha merayu Chanyeol dan cara Nami tersenyum pada Chanyeol-lah yang membuat Baekhyun kesal.

Kekesalan yang tiba-tiba muncul kembali membuat Baekhyun menarik jaketnya dengan kasar dari gantungan. Ia harus keluar dari sini, pikirnya untuk yang ketujuh belas kalinya malam ini. Udara malam akan menjernihkan pikirannya. Tetapi ketika ia keluar dari bilik penyimpanan jaket, ia melihat seorang pria berwajah Asia berdiri di depan bilik. Baekhyun langsung membeku di tempat, berharap bumi menelannya, berharap ia bisa menguap begitu saja, berharap pria itu tidak melihatnya. Tetapi tentu saja harapannya tidak terkabul.

"Ah, rupanya kau ada di sini," kata pria itu sambil tersenyum miring. "Kau Baekhyun, bukan? Aku masih ingat padamu."

Jantung Baekhyun mulai mengentak-entak dadanya, ia tidak bisa bernapas, ia tidak bisa bersuara. Kepanikan mulai menjalari dirinya dengan kecepatan penuh. Dengan tangan terkepal, ia memaksa dirinya membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Ia tidak bisa bersuara. Hanya satu hal yang terpikirkan olehnya. Pergi. Secepatnya.

"Wow, wow, tunggu sebentar," kata pria itu sambil menahan lengan Baekhyun ketika Baekhyun berusaha berjalan melewatinya.

Baekhyun terkesiap keras dan menyentakkan tangannya secepat kilat. Pria itu menyipitkan mata menatap Baekhyun. "Masih galak seperti dulu," gumamnya pelan.

Baekhyun terbelalak kaget. Kata-kata itu dan napas pria itu yang berbau alcohol membuat sekujur tubuh Baekhyun merinding. Apa maksudnya? Apakah ia pernah bertemu dengan—Ya, Tuhan! Tubuh Baekhyun mulai gemetar sementara ia merasa dirinya meluncur kembali ke masa lalu. Ke hari itu, tiga tahun yang lalu. Hari saat ia merasakan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Hari yang menghancurkan seluruh hidupnya. Hari saat ia untuk pertama kalinya berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

"Kalau kau tidak mengingatku, aku bisa maklum," pria itu melanjutkan sambil menyunggingkan senyum miringnya. "Kau tentu lebih mengenal Park Seung-Ho."

Nama itu membuat napas Baekhyun tercekat dan ketakutan besar yang pernah dirasakannya satu kali itu pun kembali melandanya.

"Kau masih ingat padanya, bukan?" desak pria itu sambil maju selangkah. "Bagaimanapun juga kalian pernah bersenang-senang."

Baekhyun mundur selangkah, namun ia sadar jalannya terhalang dan ia mundur kembali ke bilik penyimpanan jaket. Ketakutannya kini mulai lepas kendali. Matanya terbelalak liar menatap pria yang berdiri di hadapannya itu. Pria itu mendesah berat, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Baekhyun.

"Apakah kau tahu Seung-Ho sudah meninggal? Ah, tentu saja kau tahu. Karena sekarang kau beralih kepada adiknya." Ia maju selangkah lagi.

Baekhyun mundur lagi, semakin jauh ke dalam bilik yang penuh jaket dan remang-remang. "Kau tahu," lanjut pria itu dengan nada melamun. "Kalau kupikir-pikir, kurasa Seung-Ho tidak akan keberatan kalau kau menemaniku sebentar."

Pria itu mengulurkan tangan menyentuh pipi Baekhyun dan Baekhyun otomatis menepis tangannya dan mundur selangkah lagi. "Tidak," kata Baekhyun dengan suara tercekat dan gemetar. Ia menatap pria yang kini menghalangi jalan keluar itu dengan panik. "Biarkan aku lewat."

Baekhyun berusaha berjalan melewatinya, namun pria itu tiba-tiba mencengkeram bahu Baekhyun dan mendorongnya ke dalam bilik penyimpanan jaket. Baekhyun mendengar jeritan keras ketika ia jatuh tersungkur di lantai, lalu menyadari bahwa itu adalah suaranya sendiri.

"Kalau kau bisa menemani Seung-Ho dan adiknya, kau tentu juga bisa menemaniku. Sebutkan hargamu."

Baekhyun mendengar pria itu berbicara dengan nada malas yang ditarik-tarik. Baekhyun mendongak dan melihat pria itu sudah masuk ke bilik sempit tersebut dan menutup jalan keluar. Tubuhnya mulai gemetar dan perasaan ngeri membuat sekujur tubuhnya lumpuh. Ia tidak bisa melakukan apa pun selain menatap pria itu dengan mata terbelalak ketakutan. Ia sudah bersumpah ia tidak akan pernah merasakan ketakutan seperti ini lagi. Ia sudah bersumpah...

Ia harus menjerit. Ia harus menjerit minta tolong. Kenapa suaranya tidak mau keluar? Sebelum Baekhyun sempat berpikir, pria itu mulai menarik jaket Baekhyun dengan kasar. Baekhyun memekik dan berusaha melepaskan diri, tetapi tangan pria itu langsung membekap mulutnya dan menahannya di lantai. Otak dan pandangan Baekhyun berubah gelap. Ia terus menjerit walaupun mulutnya dibekap dengan kasar.

Ia terus meronta, mencakar, dan menendang dengan membabi buta walaupun sepertinya hal itu sama sekali tidak berpengaruh. Lalu tiba-tiba Baekhyun mendengar suara keras, sedetik kemudian tangan yang mencengkeram wajahnya itu terlepas dan pria itu tiba-tiba tersungkur di sampingnya. Masih diliputi kengerian dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Baekhyun cepat-cepat melangkak menjauh dan meringkuk di sudut, berusaha memperbaiki pakaiannya yang berantakan dengan tangan yang gemetar hebat sambil terisak keras di luar kendali.

.

.

.

.

.

.

Ketika Chanyeol tidak bisa menemukan Baekhyun di ruang pesta, ia memutuskan untuk mencari ke tempat penitipan jaket, melihat apakah Baekhyun sudah pulang atau belum. Tetapi tidak ada orang yang terlihat di sana. Ia hampir saja berbalik pergi kalau bukan karena mendengar suara aneh di dalam bilik penyimpanan jaket. Ketika ia masuk untuk memeriksa, tidak ada satu hal pun di dunia yang bisa mempersiapkannya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Kim Dong-Min sedang menahan Baekhyun di lantai sambil berusaha merobek pakaiannya.

Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Chanyeol seolah-olah membeku. Tanpa berpikir lagi, ia mencengkeram kerah kemeja Dong-Min, menariknya berdiri dengan satu sentakan keras, lalu meninju wajahnya. Begitu Dong-Min tersungkur di lantai, Chanyeol langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding, lengannya yang kuat menjepit leher Dong-Min.

Saat itu Chanyeol benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Yang dirasakannya hanyalah amarah yang begitu besar yang belum pernah dirasakannya sebelum ini. Amarah hebat yang membuatnya ingin menuntut darah. Membuatnya sanggup membunuh siapa pun yang menyakiti Baekhyun.

Dong-Min mencengkeram lengan Chanyeol, berusaha melepaskan lengan Chanyeol dari lehernya. "Cha... Chanyeol," rintihnya dengan suara tercekik.

Tepat pada saat itu Sehun menyerbu masuk ke bilik penyimpanan jaket dan terkesiap keras melihat apa yang ada di hadapannya. "Chanyeol!" serunya kaget. "Apa yang terjadi?"

Mengabaikan Sehun, Chanyeol tetap menatap wajah Kim Dong-Min lekat-lekat. "Aku akan membunuhmu," gumam Chanyeol dengan suara yang sangat rendah, sangat dingin, dan sangat serius. Keheningan yang menyusul terasa sangat mencekam sementara Kim Dong-Min menatap Chanyeol dengan mata terbelalak dan wajah merah padam karena sesak napas.

Sehun bergegas menghampiri Chanyeol dan berusaha menghentikannya. "Chanyeol... Chanyeol, dia tidak bisa bernapas."

Chanyeol tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar suara Sehun. Matanya yang gelap dan menusuk sama sekali tidak beralih dari wajah Kim Dong- Min. "Kalau kau berani menyentuhnya sekali lagi... Kalau kau berani mencoba menyentuhnya sekali lagi," lanjutnya dengan nada dingin dan mengancam yang sama, "percayalah padaku, aku akan membunuhmu."

Chanyeol pasti akan mencekik Kim Dong-Min sampai kehabisan napas di sana kalau Sehun tidak menyela. "Chanyeol, sebaiknya kau melihat keadaan Baekhyun."

Nama Baekhyun berhasil menyadarkan Chanyeol. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melepaskan Dong-Min, menatap pria itu jatuh lemas ke lantai seperti onggokan lembek dan terbatuk-batuk. Sehun bergegas menariknya berdiri dan mendorongnya keluar dari bilik itu. Chanyeol yakin Sehun juga akan langsung melempar Kim Dong- Min ke jalan.

Setelah Sehun membawa Dong-Min keluar dari pandangannya. Chanyeol berbalik dan jantungnya serasa ditikam ketika ia melihat sosok Baekhyun yang meringkuk di sudut dengan tubuh gemetar sambil terisak. Chanyeol harus menahan diri untuk tidak langsung menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Sebagian kecil otaknya yang masih berfungsi memberitahunya bahwa Baekhyun pasti sangat ketakutan saat ini dan Chanyeol tidak boleh menambah ketakutannya.

Chanyeol berlutut di depan Baekhyun, lalu mengulurkan tangan ke wajahnya. Tetapi Baekhyun terkesiap keras dan menempelkan diri ke dinding. "Ini aku," bisik Chanyeol. "Baekhyun, ini aku. Chanyeol."

Mata besar itu menatapnya dengan ketakutan nyata, ketakutan yang membuat dada Chanyeol terasa sangat sakit. Baekhyun tidak mengenalinya. Baekhyun mengira Chanyeol akan menyakitinya seperti Kim Dong-Min.

"Tidak apa-apa," bisik Chanyeol lagi. Suaranya terdengar serak karena berbagai emosi yang mencekat tenggorokannya. "Kau sudah aman. Aku berjanji."

Baekhyun masih tidak bersuara dan tubuhnya jelas-jelas masih gemetar, tetapi tatapannya yang liar mulai berubah. Ia mengerjap satu kali, dua kali, lalu Chanyeol melihat kesadaran perlahan-lahan meresap ke dalam mata itu. Baekhyun sudah mengenalinya.

Chanyeol beringsut duduk di samping Baekhyun, lalu merangkulnya. Tubuh Baekhyun terasa kaku, namun Chanyeol tetap mendekatnya. Sekejap kemudian tangis Baekhyun pun pecah. Ia bersandar di pundak Chanyeol dan menangis tersedu-sedu. Chanyeol telah melakukan satu kesalahan malam ini. Ia membiarkan Baekhyun sendirian di tengah banyak orang. Seharusnya ia tetap bersama Baekhyun. Kalau ia tetap bersama Baekhyun, gadis itu pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan ini. Chanyeol sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri kalau Baekhyun sampai terluka. Ia tidak akan sanggup menanggungnya. Ia yakin ia bisa gila.

"Semuanya akan baik-baik saja," Chanyeol bergumam lirih kepada Baekhyun yang masih menangis. Ia mempererat pelukan dan menyandarkan pipinya di puncak kepala Baekhyun. "Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji."

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 16

BAEKHYUN sudah lebih tenang ketika mereka masuk taksi. Wajahnya masih pucat pasi, tubuhnya masih gemetar, namun ia sudah berhenti menangis. Ia sama sekali tidak bersuara selama perjalanan pulang, tetapi ia tidak menarik diri dari pelukan Chanyeol. Jadi Chanyeol tidak memaksanya bicara, hanya terus merangkulnya.

Ketika mereka sudah masuk ke dalam flat Baekhyun, Chanyeol menyalakan lampu dan menuntun Baekhyun ke sofa di ruang duduk. "Tunggu sebentar di sini. Aku akan membuatkan teh untukmu."

Baekhyun tersentak dan mendongak menatap Chanyeol, seolah-olah baru ingat bahwa Chanyeol ada di sana bersamanya. Lalu ia mengangguk kecil, melepaskan diri dari pelukan Chanyeol dan duduk di sofa. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil. Matanya yang sembap memandang ke sekeliling flatnya dengan waswas, seakan takut ada pria tak dikenal yang akan melompat keluar dan menyerangnya lagi.

Melihat sikap Baekhyun yang seperti kelinci ketakutan itu membuat hati Chanyeol serasa ditusuk-tusuk. Chanyeol berbalik dan pergi ke dapur. Di sana ia berhenti melangkah dan menarik napas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. Sialan, ia sangat kacau. Amarah dan perasaan tak berdaya bercampur aduk dalam dirinya. Ia harus menuntut penjelasan dari Kim Dong-Min, walaupun saat ini Chanyeol hanya ingin menghajarnya habis-habisan.

Bayangan mengerikan dari apa yang dilihatnya pertama kali di bilik penyimpanan jaket tadi membuat gelombang amarah kembali menerjang diri Chanyeol. Chanyeol memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Ia ingin meninju sesuatu. Apa saja. Tetapi tidak mungkin di sini. Baekhyun ada di ruang duduk dan Chanyeol tidak mungkin menimbulkan kehebohan di sini sementara gadis itu masih ketakutan.

Dengan susah payah Chanyeol memaksa dirinya bergerak dan beberapa saat kemudian ia kembali ke ruang duduk dengan membawa secangkir teh panas untuk Baekhyun. Ia duduk di samping Baekhyun dan mengamati gadis itu menyesap tehnya dengan pelan. Chanyeol memperhatikan tangan Baekhyun sudah tidak terlalu gemetar, namun ketakutan masih jelas terlihat di dalam matanya.

Kalau saja ada cara untuk memutar kembali waktu, Chanyeol akan melakukannya tanpa ragu. Apa pun risikonya, apa pun yang harus dikorbankannya, walaupun apabila itu berarti ia harus menyerahkan jiwanya sendiri, Chanyeol pasti akan melakukannya. Ia akan melakukan apa saja untuk menghapus sinar ketakutan dari mata hitam Baekhyun, menjauhkannya dari rasa sakit, melindunginya supaya tidak terluka. Ia bersedia melakukan apa saja. Demi Baekhyun.

Tetapi kenyataannya semua sudah terjadi dan Chanyeol tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah kenyataan. Itulah yang membuatnya tertekan dan frustrasi. Ia merasa ia tidak bisa melakukan apa pun untuk Baekhyun. Seumur hidupnya belum pernah ia merasa tak berdaya seperti ini.

"Maafkan aku," gumam Chanyeol lirih, memecah keheningan dalam flat itu. Perlahan-lahan Baekhyun menoleh ke arahnya. Kebingungan berkelebat dalam matanya. "Aku tahu benar kau tidak pernah nyaman berada di tempat ramai," lanjut Chanyeol dengan suara serak. "Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri. Maafkan aku."

Mata Baekhyun berkaca-kaca, lalu ia mengerjap, memalingkan wajah dan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam cangkir teh. Setelah beberapa saat, Baekhyun membuka suara, "Kau tidak bersalah."

Chanyeol menghela napas dengan berat. Matanya menatap kosong ke depan dan ia mengernyit samar. "Pria yang tadi itu," katanya ragu. "Dia... Sebenarnya aku mengenalnya."

Baekhyun tetap menunduk tanpa berkata apa-apa.

"Dia teman almarhum kakakku," lanjut Chanyeol dengan suara datar dan pelan. "Aku tidak tahu apa yang membuatnya berani... berani melakukan hal seperti itu. Kurasa dia mabuk."

"Itu bukan alasan."

Chanyeol menoleh mendengar nada tajam dalam suara Baekhyun, lalu ia mengangguk. "Kau benar. Itu bukan alasan."

Baekhyun menarik napas dalam-dalam dan tetap duduk kaku di samping Chanyeol, tidak bersuara. Namun Chanyeol melihat tangan Baekhyun mulai gemetar lagi. Chanyeol mengulurkan tangannya dan menggenggam sebelah tangan Baekhyun. Tangan itu terasa dingin, namun Baekhyun tidak menarik kembali tangannya. Ia membutuhkan kehangatan yang diberikan Chanyeol, kalau tidak ia akan mulai menggigil.

Saat itu Chanyeol teringat pada pembicaraannya dengan Kim Dong-Min di pesta tadi. Apa kata Dong-Min waktu itu? Tidak kuduga ternyata selera kedua kakak-beradik ini sama. Itulah yang dikatakan Dong-Min setelah melihat Chanyeol berbicara dengan Baekhyun. Chanyeol tidak sempat bertanya kepada Dong-Min, tetapi sepertinya Dong- Min mengenal Baekhyun. Mungkinkah?

Alis Chanyeol berkerut samar dan ia menatap Baekhyun. Apakah mungkin hal itu ada hubungannya dengan apa yang terjadi di bilik penitipan jaket itu? Ia harus tahu. "Baekhyun," panggilnya pelan. "Apakah kau mengenal pria tadi itu?"

Napas Baekhyun tercekat di tenggorokan dan tangannya yang berada dalam genggaman tangan Chanyeol berubah kaku. Ia sama sekali tidak memandang Chanyeol, namun wajahnya terlihat resah dan bibirnya mulai bergetar. Hal itu membuat Chanyeol berpikir bahwa Baekhyun memang mengenal Kim Dong-Min.

"Apakah kau juga mengenal almarhum kakakku?" tanya Chanyeol lagi.

Kali ini Baekhyun tersentak berdiri. "Ku-kurasa... kurasa aku sudah tidak apa-apa sekarang," katanya agak tergagap, sama sekali tidak memandang ke arah Chanyeol. Tubuhnya terlihat tegang dan wajahnya mengernyit seolah-olah kesakitan.

"Baekhyun..."

"Julie dan Sehun akan segera pulang, jadi kau tidak perlu menemaniku di sini," sela Baekhyun. Kemudian ia berbalik menatap Chanyeol. "Aku tidak apa-apa. Sungguh."

Chanyeol sangat bingung. Banyak pertanyaan berseliweran dalam benaknya. Kenapa Baekhyun mengelak dari pertanyaannya? Apakah Baekhyun mengenal almarhum kakaknya? Kalau memang begitu, kenapa Baekhyun tidak pernah berkata apa-apa pada Chanyeol? Ada hubungan apa antara kakaknya dan Baekhyun? Apa yang sedang terjadi di sini?

"Baekhyun, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Chanyeol pelan. Suaranya terdengar frustrasi. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bisa menceritakannya kepadaku."

Baekhyun menatap Chanyeol sejenak. Lalu ia menghela napas dalam-dalam dan bergumam, "Tidak, Chanyeol. Aku tidak bisa." Suara Baekhyun terdengar begitu sedih dan pasrah sampai dada Chanyeol kembali terasa seakan dicabik-cabik.

"Kenapa?" tanya Chanyeol, sama sekali tidak mengerti.

Sebutir air mata jatuh dari mata Baekhyun dan bergulir di pipinya. "Tidak akan ada gunanya," gumamnya pelan. "Masa lalu tidak akan berubah."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Sesuai janji, ini dua chapter sekaligus ^^

Udah bisa nebak belom masa lalunya Baekhyun? ^^

Maaf untuk typo. Selalu terima kasih untuk respon kalian :*