"Arthur kemana?"

Harap-harap cemas seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling, Peter menunggu Arthur pulang dengan tidak sabaran. Membunyikan jemari mungilnya sesekali ternyata tidak membuahkan ketenangan untuk laki-laki kecil itu.

"Arthur kemana?" Tidak tahu lagi bagi Peter, sudah keberapa kalinya dia mengucapkan satu kalimat-dua kata yang sama? Iris biru mudanya sama sekali belum menangkap sesosok pria beralis tebal itu hari ini.

Arthur berangkat terlalu awal, bahkan sebelum sempat Peter berpikir untuk bangun.

"Arthur..."

Dan juga pulang terlalu senja —ini malah sudah masuk ke kategori malam hari.

Tidak seperti biasanya. Bahkan jika Arthur memiliki tugas yang terlewat banyak dari kantornya sekalipun, pasti dia akan menyempatkan dirinya untuk bertatap mata secara langsung —atau mungkin juga melalui video call— dengan Peter.

Atau juga membelikan Peter makan siang di restoran favorit Peter.

Hurrrrrgg!

Ah, baru teringat oleh Peter kalau dia belum mengunyah apapun. Perutnya masih kosong, Peter belum makan apa-apa dari kemarin malam.

Dia memegangi perutnya, masih mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan tatapan nelangsa. 'Apa Arthur tidak akan pulang hari ini?' pikirnya lagi, Peter masih cemas.

Di luar masih hujan salju, entah mengapa malah semakin deras. Artinya: semakin tebal lapisan salju yang menyelimuti jalanan...

... Dan itu memupuskan rencana Peter untuk menyusul Arthur di tempat kerjanya seorang diri.

Peter memilih untuk masuk dan menghangatkan diri di dalam. Dia rasa berdiang di depan perapian selama beberapa menit mungkin akan membantunya untuk menurunkan rasa cemas yang melanda Peter.


~oOo~

Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu. Penulis tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apapun atas pembuatan karya.

-chapter VI: GAME -

{VI: Game is over? Tidak, ini baru permulaan... (Black Shadow)}

Rated: T (R-14) *ratingnya naik, ya*. Genre: Family, Tragedy, Angst. Language: INDONESIAN, English.

-Indonesia; 25 Juli 2017-

~oOo~


Login.

Klik!

.

enter username...

Klik!

.

enter password...

Klik!

.

loading...

...

...

...

Cannot log in into the account.

Try again.

Klik!

.

*loading...*

.

Login

Klik!

.

enter username...

Klik!

.

enter password...

Klik!

.

*loading...*

.

Ting!

.

ERROR!

Oops! Something went wrong.

Please retry your request later.

"CK!"


-oOo-

Allistor mengepalkan tangannya begitu layar laptop mengeluarkan rentetan abjad yang sama untuk yang kesekian ratus kalinya. Kasar, dia membanting mouse laptop ke meja.

"Black Shadow sudah mengunci semua sistem pada Jasmine..." Arthur bersandar lemas di kursinya. Punggungnya yang tidak lagi tegak, sekarang terkesan seperti sorang pengecut.

Namun Arthur tidak peduli. "Apa tidak ada cara lain?" Allistor berpikir sebentar. "Mungkin ada."

Ada satu orang yang dapat Allistor percayai.

Dan dia adalah...

*~...oOo...~*


"Aku tidak yakin apakah dengan memanggil'nya' akan membantu kita untuk memerbaiki Jasmine segera.

Namun semoga saja."

-АЛЛИСТОР КИРКЛАНД-


...~oOo~...

Jalanan London yang cukup senggang rupanya tidak ada maknanya bagi Eduard yang tergesa-gesa dengan menenteng tas hitam di tangan kanannya.

Keringat yang bercucuran karena dia berlari sejak turun dari kereta sama sekali tidak Eduard pedulikan, tidak terkecuali dengan setelan busana yang dia pakai.

Hanya ada satu yang ada di dalam pikiran Eduard, sekaligus mewakili alasan mengapa dia bisa setergesa-gesa seperti ini.

"Maaf."

Bruk!

"Maafkan saya- maaf!"

Bahkan, telah berapa kali Eduard menabrak para pejalan kaki tidak dia ketahui pula.

Dan juga, sekarang dia mulai teledor. Pada sebuah benda sepele yang telah berjasa pada hidup Eduard.

"Ugh!"

PRAK!

"Oh, no..."


to be continued...