Spring In London

Remake dari Novel Ilana Tan

Byun Baekhyun . Park Chanyeol

And others

Romance . Drama

GS!

T

Chapter 18

.

.

"KENAPA kau tidak mau mengajukan tuntutan?" tanya Sehun dengan nada heran. "Setelah apa yang dilakukan penjahat itu padamu semalam, kenapa kau tidak mau menuntutnya? Kenapa?"

Baekhyun menghela napas dan mengangkat wajah menatap kedua teman satu flatnya yang balas menatapnya dengan bingung. Julie dan Sehun duduk di meja dapur, sedangkan Baekhyun berdiri di dekat pintu kamarnya sambil mencengkeram cangkir tehnya. Perlahan-lahan Baekhyun mengembuskan napas dan bergumam,

"Karena tidak ada yang terjadi semalam."

"Tidak ada yang terjadi?" ulang Sehun lagi dengan suara meninggi. "Apa...?" Ia menghentikan kata-katanya dan melotot menatap Julie, meminta dukungan, namun Julie juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Saat itu bel pintu flat mereka berbunyi dan Sehun pergi membuka pintu. "Oh, Chanyeol. Rupanya kau. Masuklah."

Baekhyun menoleh ketika Sehun berjalan kembali ke dapur bersama Chanyeol. Alis Baekhyun berkerut samar melihat wajah Chanyeol yang pucat. "Kau sakit?" tanya Baekhyun langsung.

Chanyeol tersenyum tipis dan menggeleng. Sebelah tangannya terulur ke depan, hendak menyentuh Baekhyun, namun tiba-tiba ia mengurungkan niat dan malah menjejalkan kedua tangan ke saku celana panjangnya. Ia berdeham pelan dan menatap wajah Baekhyun lurus-lurus. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

Ada sesuatu dalam suara Chanyeol yang tidak Baekhyun mengerti. Baekhyun menatap mata Chanyeol, berusaha mencari tahu apa yang membuat perasaannya tiba-tiba gelisah. Namun ia mendapat kesan bahwa mata gelap yang balas menatapnya itu juga sedang melakukan hal yang sama, berusaha mencari tahu apa yan tersembunyi di dasar jiwa Baekhyun.

"Aku baik-baik saja," sahut Baekhyun. Lalu ketika Chanyeol tetap diam, ia menambahkan, "Sungguh."

"Hanya itu yang dikatakannya sepanjang pagi," kata Sehun kepada Chanyeol dengan nada muram. "Katanya dia tidak mau menuntut pria kemarin itu. Mungkin kau bisa membujuknya. Menyadarkannya. Aku harus pergi sekarang. Tekanan darahku bisa naik kalau aku lama-lama di sini."

Julie mengembuskan napas dan meraih tasnya. "Aku juga akan membiarkan kalian berdua mengobrol di sini," katanya sambil berdiri. "Sampai jumpa nanti malam, Baekhyun. Dah, Chanyeol."

Setelah Baekhyun menutup pintu dan kembali ke dapur, ia melihat Chanyeol masih berdiri di tempatnya semula dan memandang kosong ke luar jendela dapur. Jelas sekali ada sesuatu yang mengganggu pikiran laki-laki itu. Sikapnya terlihat aneh. Ia agak pendiam pagi ini, juga murung. Kenapa?

"Kau sudah sarapan?" tanya Baekhyun, menjaga suaranya terdengar ringan dan riang. "Kalau belum, kau boleh mencoba roti buatan Sehun."

Chanyeol mengerjap satu kali, lalu menoleh. "Tidak. Tidak usah," gumamnya.

"Kalau begitu duduklah. Biar kubuatkan teh saja."

Chanyeol menurut dan duduk di kursi yang tadi diduduki Sehun.

"Jadi kenapa kau datang ke sini pagi-pagi begini? Untuk memeriksa keadaanku?" Baekhyun mulai berceloteh sementara ia berbalik memunggungi Chanyeol dan menyibukkan diri dengan cangkir dan daun teh. "Jangan khawatir. Kau bisa lihat sendiri. Aku baik-baik saja. Aku juga tidak akan mengajukan tuntutan pada... orang itu karena tidak ada yang terjadi kemarin. Kau datang tepat pada waktunya. Oh ya, aku baru ingat aku belum berterima kasih padamu karena sudah menolongku. Pokoknya karena tidak ada yang terjadi dan aku juga baik-baik saja, aku tidak ingin masalah ini dibesar-besarkan. Aku tidak ingin ada skandal." Ia tertawa pendek dan hambar. "Aku yakin agenku juga setuju."

"Karena itukah kau tidak pernah berkata apa-apa tentang kejadian waktu itu?" sela Chanyeol tiba-tiba.

Baekhyun membalikkan tubuh sambil membawa secangkir teh yang mengepul. "Kejadian yang mana?"

"Yang berhubungan dengan almarhum kakakku."

Dan dunia Baekhyun pun menggelap seketika.

.

.

.

.

.

.

.

Segalanya terjadi begitu cepat di depan mata Chanyeol. Ia melihat Baekhyun terhuyung dan cangkir yang dipegangnya oleng, membuat teh yang mengepul itu tumpah mengenai tangannya, sebelum akhirnya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Chanyeol melompat berdiri, meraih tangan Baekhyun dan menariknya ke bak cuci piring.

"Kau punya salep untuk luka bakar?" tanya Chanyeol sementara ia membasuh tangan Baekhyun dengan air keran.

Baekhyun tidak menjawab, tetapi Chanyeol merasakan ketegangan gadis itu dan tangannya yang kaku. Lalu perlahan-lahan Baekhyun menarik tangannya dari genggaman Chanyeol dan berkata pelan, "Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa."

Chanyeol mengamati Baekhyun berbalik dan berjalan ke kamarnya. Jelas sekali Baekhyun tidak ingin membicarakan masa lalunya itu, tetapi Chanyeol tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia tidak bisa tidur semalaman, ia merasa tersiksa, merasa bersalah, merasa sangat tak berdaya. Ia hampir gila setiap kali mengingat apa yang dikatakan Kim Dong-Min kepadanya. Ia harus berbicara dengan Baekhyun. Ia harus tahu apa yang dipikirkan Baekhyun tentang hal ini, karena ia sendiri tidak tahu apa yang harus dipikirkannya.

Chanyeol berdiri di ambang pintu kamar Baekhyun, mengamati gadis itu mengeluarkan kotak obat dari laci dengan tangan gemetar, lalu berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di sana. Hanya duduk dengan kotak obat di pangkuan tanpa melakukan apa-apa. Melihat itu Chanyeol masuk dan menghampiri Baekhyun. Chanyeol berlutut di hadapan Baekhyun dan mengambil kotak obat dari tangan gadis itu. Setelah menemukan obat yang dicarinya, Chanyeol menatap tangan Baekhyun yang masih gemetar dan ragu sejenak. Lalu ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Baekhyun. Kali ini Baekhyun meringis.

"Ini harus segera diobati," gumam Chanyeol pelan dan mulai mengoleskan obat ke tangan Baekhyun.

Baekhyun tidak menarik tangannya, namun juga tidak berkata apa-apa. Saat itu Chanyeol benar-benar merasakan kesunyian yang menyelubungi flat itu. Namun itu bukan kesunyian yang menenangkan. Ada ketegangan yang mencekam di sana yang membuat Chanyeol sulit bernapas.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Baekhyun tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat datar dan hampa, seolah-olah tak berjiwa. Ia juga tidak memandang Chanyeol, tetapi memandang kosong ke luar jendela kamarnya, ke arah langit mendung London.

"Aku pergi mencari Kim Dong-Min kemarin malam. Dia menceritakan semuanya kepadaku," kata Chanyeol pelan.

Masih tidak menatap Chanyeol, Baekhyun menelan ludah dan bertanya, "Apa yang dikatakannya padamu? Apakah dia berkata bahwa aku yang...?" Baekhyun tercekat, tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Wajahnya mengernyit seolah-olah kesakitan.

"Katanya kakakku memaksamu," sahut Chanyeol. Ia menunggu sejenak, namun karena Baekhyun tidak berkata apa-apa, ia mendongak menatap Baekhyun dan bertanya, "Apakah sejak awal kau sudah tahu siapa aku?"

Baekhyun tidak langsung menjawab. Setelah diam beberapa saat, ia mengangguk pelan. "Aku tahu tentang dirimu dari tabloid," gumam Baekhyun dengan nada melamun. "Karena kau termasuk artis terkenal di Korea dan karena artis-artis Korea juga populer di Jepang, para wartawan Jepang suka meliput segala sesuatu yang terjadi pada artis Korea. Artikel tentang kecelakaan yang menimpa saudara kandung Park Chanyeol pun menjadi bahan yang menarik untuk dimuat dalam tabloid."

Chanyeol menunduk dan memejamkan mata, berusaha menenangkan gemuruh dalam dadanya. "Kenapa kau tidak pernah berkata apa-apa sebelum ini, Baekhyun?"

Baekhyun mendengus pelan dan menggeleng. "Jangan mengira aku tidak membenci kakakmu. Aku membencinya. Aku membencinya karena apa yang dilakukannya padaku. Aku begitu membencinya sampai ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Tapi sebelum aku bisa melaksanakan niatku, dia sudah meninggal. Tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Apa lagi yang bisa dikatakan kalau begitu?" Seulas senyum sinis dan hambar terukir di bibirnya. "Lagi pula kalau waktu itu kukatakan padamu apa... apa yang dilakukan kakakmu—kakakmu yang sudah meninggal tiga tahun lalu—padaku, apakah kau akan percaya?"

Chanyeol tidak bisa menjawab dan ia merasakan desakan kuat untuk melukai diri sendiri.

"Sudah ku duga," gumam Baekhyun. Ia menarik tangannya dari genggaman Chanyeol, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Sejenak keheningan pun kembali menyelimuti ruangan. Lalu Chanyeol mendengar Baekhyun mendesah lirih dan berkata, "Orangtuaku... Merekalah alasan utama aku tidak pernah berkata apa-apa tentang kejadian itu. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan sesuatu yang membuat mereka terpaksa menanggung rasa malu. Mereka bangga pada anak-anak mereka. Mereka bangga padaku. Kalau mereka sampai tahu masalah ini... Kalau ayahku sampai tahu masalah ini, aku tidak berani membayangkan bagaimana perasaannya."

"Baekhyun..."

"Sebenarnya ada dua hal yang bisa disyukuri dalam kejadian ini, kalau kita bisa menyebutnya rasa syukur," sela Baekhyun, masih memunggungi Chanyeol. "Selama kejadian itu aku lemas tak berdaya, nyaris tidak sadarkan diri, sehingga aku tidak terlalu kesakitan walaupun aku tahu siapa lelaki itu, dan ingin berontak, ingin melawannya. Dan yang kedua, aku tidak hamil."

"Baekhyun..."

Saat itu Baekhyun berbalik dan menatap Chanyeol lurus-lurus. "Kalau dipikir-pikir, kurasa bagus juga karena sekarang kau sudah tahu semuanya," katanya. Ia menarik napas dalam-dalam sekali lagi dan mengembuskannya. "Aku lega."

Chanyeol sama sekali tidak mengerti apa maksud Baekhyun. Ia pun berdiri dan berdiri di hadapan Baekhyun dan menunggu gadis itu melanjutkan. Baekhyun membalas tatapannya, namun Chanyeol menyadari bibir bawah Baekhyun bergetar samar. Setelah ragu sejenak, Baekhyun membuka mulut dan berkata, "Aku lega kita bisa mengakhiri semua ini."

Kening Chanyeol berkerut tidak mengerti.

Baekhyun tidak langsung menjawab, hanya menatap Chanyeol tanpa berkedip selama beberapa detik, lalu berkata, "Kau pasti merasa jijik padaku."

Chanyeol terkejut, sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu. "Apa? Tidak. Aku tidak..."

"Aku juga merasa jijik pada diriku sendiri," sela Baekhyun.

Chanyeol mengulurkan tangan. "Baekhyun, tolong jangan..."

Namun Baekhyun mengernyit dan menjauh dari uluran tangan Chanyeol. "Kurasa aku telah membuat kesalahan," katanya dengan suara tercekat. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia terlihat tegang dan tertekan. "Ketika kupikir kita bisa berteman, kurasa aku salah. Kita tidak pernah bisa berteman. Tidak akan pernah."

"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Chanyeol bingung. Rasa frustrasi mulai menjalari dirinya. Frustrasi melihat luka besar yang dialami Baekhyun. Frustrasi karena melihat Baekhyun begitu menderita. Frustrasi karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolong Baekhyun. Frustrasi karena Baekhyun menarik diri darinya.

Baekhyun menelan ludah dengan susah payah. Air mata mulai membayang di matanya. "Sekarang kau tidak akan bisa lagi memandangku tanpa memikirkan apa yang pernah terjadi antara aku dan kakakmu."

"Tidak... Itu tidak benar."

"Dan aku tidak bisa memandangmu tanpa teringat pada kakakmu dan apa yang pernah dilakukannya padaku."

Kata-kata yang diucapkan dengan tajam dan jelas itu menghujam jantung Chanyeol. Dadanya terasa sakit dan sekujur tubuhnya lumpuh. Ia menatap Baekhyun tanpa berkedip, tanpa bernapas. Ia membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar.

.

.

.

.

.

.

.

Ya Tuhan...

Baekhyun menggigit bibirnya keras-keras. Apa yang sudah dilakukannya? Ia tidak bermaksud mengatakannya. Sungguh. Namun kata-kata itu meluncur dari mulutnya tanpa sempat dicegah. Melihat Chanyeol yang berdiri mematung di depannya membuat hatinya terasa perih. Melihat kilatan kaget dan terluka di mata Chanyeol membuatnya inign menarik kembali kata-katanya. Oh, betapa ia berharap bisa menarik kembali kata-katanya.

Tetapi sudah terlambat. Ia tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Baekhyun menarik napas dalam-dalam dan meraba keningnya dengan sebelah tangan.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku... aku..."

Chanyeol mengangkat sebelah tangan, menghentikan kata-kata Baekhyun. Ia mengembuskan napas dengan pelan dan bergumam, "Kurasa... sebaiknya aku pergi." Dan sebelum Baekhyun sempat membuka mulut lagi, Chanyeol sudah berbalik dan berjalan ke arah pintu. Sama sekali tidak menatap Baekhyun.

Kesadaran bahwa ia telah menyakiti perasaan Chanyeol membuat hati Baekhyun serasa dicabik-cabik. Ia tidak ingin Chanyeol berpikir Baekhyun menyamakannya dengan kakaknya karena itu sama sekali tidak benar. Chanyeol sangat berbeda dengan kakaknya. Hanya saja... hanya saja...

"Baekhyun." Suara Chanyeol yang pelan dan berat membuat Baekhyun mengangkat wajah. Chanyeol berhenti di ambang pintu kamar dan berbalik menghadap Baekhyun. "Aku mewakili kakakku meminta maaf padamu. Walaupun aku sendiri tidak akan pernah bisa memaafkannya atas apa yang dilakukannya padamu, aku tetap ingin mewakilinya meminta maaf padamu."

Baekhyun menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di matanya dan mengaburkan pandangannya.

"Aku juga ingin kau tahu," lanjut Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Baekhyun, "aku bukan kakakku. Aku tidak akan pernah menyakitimu."

Baekhyun menggigit bibir. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Jangan menangis... Jangan menangis... Jangan..

"Apakah kau percaya padaku?"

Baekhyun menelan ludah dengan susah payah, namun tidak menjawab.

Chanyeol tersenyum sedih. "Kuharap kau bisa. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti."

Setelah berkata seperti itu, Chanyeol pun pergi. Baekhyun mendengar pintu depan flatnya dibuka dan ditutup. Setelah itu barulah Baekhyun membiarkan air matanya tumpah, bersamaan dengan rasa sakit besar yang menyebar dari dadanya yang sesak ke sekujur tubuhnya.

.

.

.

.

.

.

Chapter 19

"BAEKHYUN, bagaimana menurutmu?"

Baekhyun tersentak dari lamunannya dan mengangkat wajah. "Hm?"

Sehun mengangkat alis dan menyesap teh Earl Grey-nya. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya sekali lagi.

"Tentang apa?"

"Oh, bagus. Dia tidak mendengarkan kita dari tadi," kata Julie sambil memutar bola matanya. "Apa yang kau lamunkan pagi-pagi begini, Baekhyun?"

Baekhyun mengangkat bahu. "Tidak ada."

"Dia selalu begini kalau sudah berhari-hari tidak bertemu dengan Chanyeol. Kau ingat sewaktu Chanyeol pergi ke Lake District? Dia juga seperti ini," kata Sehun pada Julie. "Ngomong-ngomong sudah beberapa hari ini Chanyeol tidak kelihatan. Ke mana dia?"

Baekhyun menyesap teh herbalnya dan memandang ke luar jendela dapur. Memang sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Chanyeol. Tepatnya sejak Baekhyun mengucapkan kata-kata terkutuk itu. Sampai sekarang Baekhyun belum bisa melupakan ekspresi wajah Chanyeol saat itu, seolah-olah kata-kata Baekhyun melumpuhkannya seketika. Dan sampai sekarang perasaan bersalah itu masih mengimpit dadanya, membuatnya tidak tenang, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, dan nyaris tidak bisa bernapas.

Ia ingin menelepon Chanyeol untuk menjelaskan bahwa maksud kata-katanya waktu itu tidak seburuk yang terdengar, namun ia selalu mengurungkan niatnya di saat-saat terakhir. Ia takut Chanyeol masih marah padanya. Ia takut Chanyeol menolak berbicara dengannya. Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah keadaan sekarang ini juga sudah seperti itu? Kata-katanya yang gegabah itu telah melukai perasaan Chanyeol dan sekarang laki-laki itu tidak pernah menghubunginya lagi. Gagasan itu membuat Baekhyun semakin tertekan.

"Baekhyun, kau tahu Chanyeol pergi ke mana?"

Baekhyun tersentak lagi, tetapi ia terselamatkan dari keharusan menjawab pertanyaan Julie ketika bel pintu flat mereka berbunyi. Julie bangkit dari tempat duduknya dan pergi membuka pintu. Tidak lama kemudian ia masuk kembali ke dapur bersama Nami.

"Hai, teman-teman. Aku tahu aku datang pada waktu yang tepat. Aku sudah mencium aroma telur dan bacon dari depan pintu. Asal kalian tahu, aku belum sempat sarapan dan sekarang perutku benar-benar keroncongan," kata Nami riang, benar-benar bertentangan dengan apa yang dirasakan Baekhyun saat itu.

Sehun mengibaskan tangan. "Duduk dan makanlah. Aku tidak pernah menolak memberikan makanan kepada gadis-gadis kurus yang mengeluh dirinya kelaparan."

"Jadi apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Nami sambil menuang secangkir kopi untuk dirinya sendiri.

"Tentang Baekhyun yang sering melamun dan Chanyeol yang tidak terlihat akhir-akhir ini," sahut Sehun ringan.

Nami mengangguk-angguk dan menyesap kopinya. "Benar juga. Waktu itu dia berkata padaku ada sedikit pekerjaan di Dublin."

"Jadi sekarang ini Chanyeol ada di Dublin? Pantas saja," kata Julie, lalu menoleh ke arah Baekhyun. "Kau tidak pernah bilang."

Karena aku sendiri juga tidak tahu. Baekhyun menggigit bibir dan menoleh menatap Nami. Chanyeol pergi ke Dublin? Kenapa Nami bisa tahu itu?

"Oh, ya, Baekhyun, aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu." Suara Nami menembus pikiran Baekhyun yang kusut. "Ada satu artikel yang ingin kutampilkan di majalahku dan kupikir kau bisa..."

"Maaf, Nami," sela Baekhyun cepat, nyaris tanpa berpikir. "Kurasa aku tidak bisa membantumu kali ini."

Nami terlihat agak kaget. "Oh," gumamnya. "Kau sibuk sekali?"

"Ya." Baekhyun tersenyum sekilas, menghabiskan tehnya dan berdiri. "Malah sekarang aku harus pergi kalau tidak mau diomeli fotograferku karena datang terlambat."

"Kau punya jadwal pemotretan hari ini? Bukankah tadi kau bilang..."

"Aku tahu jadwalku sendiri," Baekhyun memotong kata-kata Sehun dengan ketus dan menatap temannya dengan mata disipitkan. "Dan aku sangat sibuk hari ini."

Sehun mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oh, baiklah, lass. Simpan cakarmu."

Setelah menggumamkan selamat tinggal yang tidak jelas, Baekhyun meraih jaket dan tasnya dari kamar, lalu bergegas meninggalkan flatnya yang mulai terasa menyesakkan. Di luar, ia mendongak menatap langit yang tumben-tumbennya cerah—bertentangan dengan suasana hatinya—dan menarik napas dalam-dalam, namun usahanya itu tidak berhasil melenyapkan beban dalam dadanya. Juga tidak berhasil membuat suasana hatinya membaik.

Sebenarnya Baekhyun tidak punya jadwal kerja pagi ini, namun ia terlalu resah untuk duduk di rumah tanpa melakukan apa-apa, terlebih lagi setelah Nami datang dan berkata bahwa Chanyeol sedang berada di Dublin. Baekhyun mengembuskan napas dengan keras. Ia harus menenangkan diri. Ia harus pergi ke tempat yang bisa membuatnya tenang. Mungkin ia bisa ke salon. Atau ke Harrod‟s. Ya, berbelanja selalu berhasil membuatnya gembira.

Namun anehnya, ia akhirnya tidak jadi pergi ke salon atau ke Harrod‟s. Tanpa benar-benar disadarinya, langkah kakinya membawanya kembali ke taman kecil yang pernah dikunjunginya bersama Chanyeol. Tempat ia dan Chanyeol pernah makan fish and chips paling enak di London. Tempat yang justru selalu mengingatkannya pada Chanyeol. Benar-benar menyedihkan.

Taman itu sudah dipenuhi bunga, tepat seperti yang pernah dikatakan Chanyeol,namun Baekhyun hampir tidak memerhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia hanya menyusuri jalan setapak di samping kolam dengan kepala tertunduk dan memikirkan... memikirkan... Astaga, ada apa dengannya?

Baekhyun meringis dan memukul kepalanya sendiri. "Bodoh. Jangan terus memikirkan orang itu."

Tetapi kalau ia memang tidak mau memikirkan orang itu, kalau ia memang tidak seharusnya memikirkan Chanyeol, kenapa di antara semua tempat yang bisa dikunjunginya di London ia justru datang ke sini? Ia benar-benar menyedihkan. Benar-benar...

Baekhyun terkesiap keras ketika lengannya mendadak dicengkeram, disusul suara rendah dan datar yang berkata, "Kau mau terjun ke dalam kolam?"

Baekhyun mengerjap dan baru menyadari bahwa ia sudah berjalan menjauh dari jalan setapak dan malah mengarah ke kolam. Apakah ia terlalu asyik melamun sampai tidak memerhatikan jalan di depannya? Lalu Baekhyun tertegun. Tunggu... Suara itu... Suara itu! Ia menoleh dengan cepat dan matanya langsung bersirobok dengan mata gelap Park Chanyeol yang menatapnya dengan muram.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol menyandarkan punggung ke sandaran bangku taman dan mendongakkan wajahnya ke arah langit London yang cerah. Mengherankan sekali. Cuaca di London selalu bertentangan dengan suasana hatinya. Chanyeol mengembuskan napas dan menundukkan kepalanya kembali.

Sudah beberapa hari berlalu sejak ia terakhir kali bertemu dengan Baekhyun. Ia juga tidak berusaha menemui gadis itu. Ia tahu Baekhyun butuh waktu untuk menenangkan diri dan berpikir. Chanyeol juga begitu. Namun sampai sekarang ia tidak berhasil menyingkirkan perasaan bersalah dari dalam hatinya. Ia juga tidak berhasil mengusir bayangan Baekhyun dari benaknya, terutama ketika Baekhyun berkata bahwa ia selalu teringat pada orang yang telah menyakitinya setiap kali melihat Chanyeol.

Kenyataan itu membuat Chanyeol frustrasi. Ia pernah berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melakukan apa pun demi melindungi dan menjauhkan Baekhyun dari rasa sakit. Tetapi bagaimana kalau orang yang selalu membuat Baekhyun menderita adalah Chanyeol sendiri? Apa yang bisa dilakukan Chanyeol kalau begitu? Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan itu, ponselnya berbunyi. Chanyeol mengembuskan napas dan mengeluarkan ponselnya yang terdengar memekakkan di tengah-tengah taman sunyi itu.

"Halo?"

"Chanyeol?" Suara Park Yura terdengar agak resah di ujung sana. "Kau sedang di mana? Sibuk?"

"Oh, Nuna. Tidak, aku sedang tidak sibuk. Ada apa?"

"Dengar, aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi kurasa kau harus tahu." Chanyeol mengerutkan kening. "Ada apa? Ayah dan Ibu...?"

"Mereka baik-baik saja, Chanyeol. Jangan khawatir. Ini bukan soal mereka," kata Yura cepat. Lalu ia terdiam sejenak, ragu. "Tapi aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka kalau mereka mendengar berita itu."

"Berita apa?"

Park Yura menarik napas. "Kudengar Kim Dong-Min baru kembali dari London. Apakah kau bertemu dengannya di London?"

"Ya."

"Apakah dia mengatakan sesuatu kepadamu? Tentang Seung-Ho Oppa?"

Chanyeol tidak menjawab, malah balik bertanya, "Apa yang dikatakannya tentang Hyung?" Kerutan di kening Chanyeol semakin dalam dan wajahnya berubah muram sementara ia mendengarkan cerita kakak perempuannya. Beberapa menit kemudian, ia berkata, "Aku tahu, Nuna. Jangan khawatir. Aku akan membereskannya."

Chanyeol menutup dan mengembalikan ponselnya ke saku dengan pelan. Berita yang disampaikan kakak perempuannya tadi tidak benar-benar membuatnya terkejut, namun tidak berarti ia memperkirakan hal itu akan terjadi. Chanyeol menarik napas dan mengembuskannya dengan keras. Ia harus pulang ke Seoul. Tetapi sebelum itu ia harus menghubungi para manajernya. Masalah ini harus segera diatasi sebelum bertambah runyam.

Chanyeol baru saja berdiri dari bangku dan hendak berbalik pergi ketika sudut matanya menatap sosok seorang wanita di jalan setapak tidak jauh darinya. Chanyeol menoleh. Dugaannya benar. Yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di tepi kolam itu memang Baekhyun Ishida. Sepertinya gadis itu sedang melamun karena ia melangkah dengan pelan dan dengan kepala tertunduk. Dan mengarah ke kolam.
Astaga.

Dalam beberapa langkah, Chanyeol sudah tiba di samping Baekhyun dan mencengkeram lengannya. "Kau mau terjun ke dalam kolam?"

Baekhyun tersentak kaget dan mengangkat wajah. Matanya mengerjap satu kali, lalu melebar sementara otaknya mencerna siapa yang berdiri di hadapannya. "Chanyeol," gumamnya pelan, lalu memandang sekelilingnya dengan bingung.

Setelah memastikan Baekhyun berdiri agak jauh dari kolam, Chanyeol melepaskan cengkeramannya dan menjejalkan kedua tangan ke dalam saku celana. Selama beberapa detik mereka hanya berdiri dan berpandangan tanpa berkata apa-apa.

Akhirnya Chanyeol membuka suara. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini."

Baekhyun mengangguk dan berdeham. "Aku juga. Kudengar kau pergi ke Dublin."

"Aku kembali ke London kemarin sore."

"Oh, begitu." Ia menatap Chanyeol sejenak, lalu dengan resah memalingkan wajah ke arah pepohonan di sebelah kirinya dan bergumam, "Maafkan aku."

"Untuk apa?"

Baekhyun menggigit bibir sejenak dan kembali menatap Chanyeol. "Karena kata-kataku waktu itu. Aku tidak bermaksud... Aku hanya..." Baekhyun menghentikan kata-katanya yang kacau dan menarik napas panjang untuk mengendalikan diri. "Waktu itu aku sedang tidak berpikir jernih. Maafkan aku."

Chanyeol mendesah dan tersenyum tipis. "Tidak usah meminta maaf. Kau tidak bersalah."

Baekhyun menunduk sejenak. Ketika ia mengangkat wajah lagi, Chanyeol sudah duduk di salah satu bangku taman di dekat kolam. Baekhyun menghampiri bangku itu dan duduk di samping Chanyeol. Selama beberapa saat mereka hanya duduk di sana tanpa saling bicara. Suara yang terdengar hanyalah suara gemeresik dedaunan yang ditiup angin dan suara lalu lintas di kejauhan.

"Aku akan kembali ke Korea," kata Chanyeol tiba-tiba.

Terkejut, Baekhyun mengangkat wajah dan menoleh menatap Chanyeol. "Kenapa?" Chanyeol tersenyum samar, tidak langsung menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Baekhyun tanpa membuat gadis itu khawatir.

"Ada sedikit masalah keluarga," katanya setelah berpikir sejenak.

"Masalah keluarga?"

"Mm," gumam Chanyeol, lalu menarik napas dalam-dalam. "Karena itu aku harus pulang lebih cepat daripada yang kurencanakan."

Baekhyun memalingkan wajah dan menggigit bibir. "Kapan?" tanyanya.

"Secepatnya."

Baekhyun menatapnya dengan heran. Ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.

"Aku bukannya ingin menghindarimu, Baekhyun," kata Chanyeol lembut, seolah-olah bisa membaca pikiran Baekhyun. "Aku tidak akan bisa menghindarimu walaupun aku ingin."

Baekhyun menatap Chanyeol tidak mengerti.

Chanyeol membuka mulut hendak menjelaskan, namun mengurungkan niatnya. Saat ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Baekhyun pasti akan mundur teratur begitu mendengarnya. Bahkan mungkin akan menarik diri dan menghindari Chanyeol selamanya. Kalau itu terjadi, Chanyeol tidak yakin ia bisa mengatasinya.

Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang dirasakannya, apa yang ada dalam hatinya. Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu," katanya. Lalu ia tersenyum. "Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah karena aku takut."

Baekhyun masih tidak mengerti, namun ia mendapat dirinya menahan napas mendengar Chanyeol yang berbicara dengan suara yang rendah dan pelan.

"Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan? Apakah kau akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku?" Saat itu Chanyeol menatap mata Baekhyun menarik napas panjang. "Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu."

Menatap mata Chanyeol membuat Baekhyun tidak bisa berpikir. Sesuatu dalam mata Chanyeol membuat Baekhyun berdebar-debar, membuat tenggorokannya tercekat,dan membuat hatinya terasa nyeri. "Jangan pergi dariku. Tetaplah di sisiku."

Baekhyun tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata Chanyeol. Ia masih tidak bisa berpikir. Ia masih tidak bisa bersuara. Ia masih tidak bisa mendengar apa pun selain suara Chanyeol. Sedetik kemudian ia menyadari dirinya masih menahan napas menunggu kata-kata Chanyeol selanjutnya.

Namun ternyata Chanyeol hanya tersenyum kecil penuh rahasia dan bergumam lirih, "Karena itu... maukah kau menungguku?"

Baekhyun tertegun. Chanyeol sedang menatapnya dengan penuh harap. Matanya yang gelap seolah-olah bisa melihat ke dalam jiwa Baekhyun. Saat itulah pertama kalinya Baekhyun mengerti apa yang dimaksud dengan tenggelam dalam mata seseorang. Tatapan Chanyeol membuatnya sulit bernapas, seolah-olah dunia mengecil di sekeliling mereka, menyelubungi mereka.

"Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebanimu. Aku hanya memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku. Sampai saat itu tiba, jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah bersamaku," pinta Chanyeol.

"Chanyeol, aku..."

"Pada saat kita bertemu lagi nanti, kalau perasaanmu masih belum berubah, kalau kau masih merasa sulit percaya padaku, kalau kau tidak mau melihatku lagi, tidak mau berurusan denganku lagi, kau hanya perlu mengatakannya dan aku akan menuruti apa pun yang kau katakan."

Baekhyun menatap Chanyeol sesaat, lalu menunduk. Kalau Chanyeol menatapnya seperti itu, Baekhyun merasa hatinya melemah. Dan sebelum ia benar-benar menyadari apa yang dilakukannya, ia mengangguk.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 20

"JADI kemarin kau tidak mengantar Chanyeol ke bandara?" tanya Julie sambil mengangkat kedua kaki ke atas kursi dan menyesap kopi paginya.

Baekhyun mengaduk-aduk tehnya dan mendesah. "Dia tidak mengizinkan aku mengantarnya ke bandara."

"Dia pasti takut kau menangis meraung-raung di bandara," komentar Sehun sambil menunduk dan mengeluarkan roti dari oven. "Laki-laki seperti Chanyeol tidak suka menjadi pusat tontonan."

Baekhyun mendengus. "Kau lupa dia seorang model? Dia sudah terbiasa menjadi pusat tontonan. Dan apa maksudmu dengan aku yang menangis meraung-raung?"

"Mungkin kau memang bukan tipe orang yang menangis meraung-raung," koreksi Sehun dan memindahkan roti-roti dalam loyang ke piring besar. "Kau tipe orang yang langsung menutup diri dan tenggelam dalam kesedihan sendiri."

Baekhyun menyesap tehnya tanpa berkata apa-apa. Julie menyikutnya. "Hei, kau dan Chanyeol baik-baik saja, bukan? Tidak bertengkar atau semacamnya?"

Baekhyun tertegun. Apakah ia dan Chanyeol baik-baik saja? Entahlah.

"Baekhyun?"

Baekhyun buru-buru memaksakan senyum dan berkata, "Semuanya baik-baik saja."

Saat itu bel pintu berbunyi dan Sehun menegakkan tubuh. "Aku berani bertaruh itu pasti Nami dan dia datang untuk meminta bantuan Baekhyun sekaligus sarapan gratis di sini," gerutunya riang dan berjalan ke pintu. Beberapa detik kemudian Baekhyun dan Julie mendengar Sehun berseru lantang, "Aku benar!"

"Benar apanya?" tanya Nami ketika ia muncul di dapur. "Astaga, aromanya enak sekali."

"Duduklah dan anggap rumah sendiri," kata Julie sambil menggeser kursi untuk memberi tempat kepada tamu mereka.

"Nami, kenapa kau datang pagi-pagi begini?" tanya Baekhyun.

"Selain untuk mencicipi masakanku, tentu saja," sela Sehun sambil nyengir.

"Aku ingin meminta bantuan Baekhyun," sahut Nami sambil meraih salah satu roti dari tumpukan.

"Seperti biasa," sela Sehun.

Tetapi sepertinya Nami tidak mendengar, karena ia langsung menoleh ke arah Baekhyun dan berkata, "Kami berencana menerbitkan edisi khusus yang memuat perancang-perancang baru di seluruh penjuru Inggris dan pagi ini kami akan mengadakan rapat untuk membahas rencana ini lebih mendetail. Kuharap kau bisa bergabung. Biasanya kau memiliki gagasan-gagasan unik yang sangat berguna."

Baekhyun ingin mendesah keras. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi di rapat itu kalau ia ikut serta. Seperti di rapat-rapat lain yang pernah dihadirinya, Baekhyun-lah yang akan selalu melontarkan ide-ide dan menjelaskan semua rencananya sementara Nami akan menuruti semua gagasannya tanpa menyumbangkan ide apa pun.

"Maaf, Nami. Aku tidak bisa. Jadwal kerjaku penuh sepanjang hari ini," kata Baekhyun. Ia bersyukur ia tidak perlu berbohong untuk menolak permintaan temannya karena seharian ini ia memang akan sangat sibuk.

Nami mendesah keras dan menggeleng-geleng. "Aneh sekali. Kenapa semua orang yang kuhubungi selalu sibuk?" gerutunya pada diri sendiri. "Pertama-tama sepupuku, lalu kau. Dan Chanyeol juga tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Ada apa dengan semua orang?"

"Chanyeol? Tentu saja kau tidak bisa menghubunginya karena dia sudah pulang ke Korea," kata Julie.

Mata Nami terbelalak kaget. "Pulang ke Korea? Kapan? Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Kenapa pula kau harus diberitahu? Memangnya kau pacarnya?" Sehun balas bertanya dengan sikapnya yang blak-blakan.

Alis Nami terangkat heran. "Tapi kenapa mendadak sekali?"

"Katanya ada masalah keluarga," sahut Baekhyun.

Kali ini Nami mengerutkan kening. "Masalah keluarga? Jangan-jangan..." Ketiga pasang mata lain di dapur kecil itu langsung terarah kepada Nami.

Sehun mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya, "Jangan-jangan apa?"

Nami memiringkan kepalanya sedikit. "Mungkinkah karena skandal itu?"

"Skandal?" tanya Baekhyun bingung.

"Aku mendengar berita ini dari ibuku yang mendengarnya dari seorang teman di Korea. Katanya di sana sedang ada gosip yang menimpa keluarga Chanyeol," kata Nami. Lalu ia menatap Baekhyun. "Aku pernah bilang bahwa ibuku mengenal ibu Chanyeol, bukan? Nah, ibuku sudah berusaha menelepon ibu Chanyeol tetapi tidak bisa tersambung."

"Tunggu, Nami. Gosip dan skandal apa yang kau maksud itu?" tanya Baekhyun. Ia mulai merasa cemas. Cemas untuk Chanyeol. Semoga bukan masalah besar.

Nami mengangkat bahu. "Yang kudengar adalah ada gosip yang menyebutkan bahwa almarhum putra sulung keluarga Park telah melakukan sesuatu yang memalukan keluarga."

"Apa yang dilakukannya?" desak Julie.

"Pemerkosaan."

Cangkir Baekhyun terlepas dari pegangan dan jatuh ke meja dengan bunyi keras.

"Astaga, lass. Hati-hati," Sehun mengomel dan menegakkan cangkir Baekhyun.

"Untung isinya tinggal sedikit."

Baekhyun mengabaikannya. Matanya terarah pada Nami. "Apakah... apakah mereka mengatakan siapa yang... siapa wanita itu?" tanyanya dengan suara yang diusahakannya setenang dan sedatar mungkin.

Nami menggeleng. "Tidak." Ia menatap ketiga pendengarnya bergantian. "Aku yakin kepulangan Chanyeol yang mendadak ini pasti berhubungan dengan skandal ini. Kudengar ibunya langsung jatuh sakit karena masalah ini."

Sebelah tangan Baekhyun terangkat ke keningnya. Tangannya agak gemetar dan sangat dingin. Ketiga temannya masih asyik membahas gosip itu, tetapi Baekhyun tidak lagi mendengarkan. Ia berdiri dan membawa cangkirnya ke bak cuci piring. Ia berdiri di sana, memandang kosong ke luar jendela. Kedua tangannya dilipat di depan dada, memeluk diri sendiri, karena tubuhnya juga mulai gemetar.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah lewat tengah malam namun Baekhyun masih belum bisa terlelap. Sekujur tubuhnya lelah karena jadwal kerjanya yang padat seharian ini, tetapi anehnya ia tidak merasa mengantuk. Ia duduk di depan meja tulis di kamar tidurnya, menatap layar laptop di hadapannya. Sudah berulang-ulang kali ia membaca e-mail pendek yang dikirim Chanyeol kepadanya, namun isinya tetap sama.

Chanyeol hanya menyampaikan bahwa ia sudah tiba di Seoul dengan selamat dan meminta maaf karena harus menunggu beberapa hari setelah tiba di Seoul baru bisa mengirimkan e-mail. Banyak sekali masalah yang harus diurusnya di sana, tetapi semuanya berjalan lancar. Ia baik-baik saja dan Baekhyun sama sekali tidak perlu khawatir.

Hanya itu. Chanyeol sama sekali tidak mengungkit masalah skandal yang menerpa keluarganya. Baekhyun tahu Chanyeol tidak mengatakan apa-apa kepadanya karena Chanyeol tidak ingin Baekhyun khawatir. Dan Baekhyun juga tahu Chanyeol akan memastikan nama Baekhyun tidak dilibatkan dalam masalah ini. Tetapi Chanyeol kini sendirian. Sendirian menghadapi serangan gosip yang bisa menghancurkan keluarganya. Dan Baekhyun merasa sangat tidak berdaya karena dirinya adalah salah satu pihak yang menyebabkan semua ini terjadi dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Chanyeol.

Memikirkan kemungkinan Chanyeol menderita sendirian membuat sebutir air mata jatuh menuruni pipinya. Baekhyun menghapus air mata itu dengan kasar dan berjalan ke tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang dan berpikir. Saat ini ia sama sekali tidak memiliki keyakinan untuk menepati janjinya pada
Chanyeol.

Maukah kau menungguku?

Kata-kata Chanyeol kembali terngiang-ngiang di telinga Baekhyun.

Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebanimu. Aku hanya memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku. Sampai saat itu tiba, jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah bersamaku.

Baekhyun menggigit bibir dan membenamkan wajah di kedua tangannya. Saat ini ia sama sekali tidak punya keyakinan untuk menepati janjinya. Dengan adanya skandal itu, bagaimana ia bisa tetap bersama Chanyeol? Ia adalah wanita dengan masa lalu yang kotor dan rumit, masa lalu yang berhubungan dengan kakak laki-laki Chanyeol. Ia hanya akan membuat Chanyeol semakin menderita. Ia juga akan membuat keluarga Chanyeol menderita. Ia juga hanya akan membuat dirinya sendiri menderita.

Ia mengira ia sudah mengatasi masa lalunya, tetapi ternyata ia belum berhasil mengatasi apa-apa. Ia hanya menyembunyikan masa lalunya yang gelap itu jauh dalam hatinya. Sama sekali tidak mau memikirkannya, tidak pernah berniat menghadapinya. Ia selalu menghindar. Selalu. Dan apa akibatnya? Ia membuat jarak dengan semua orang. Teman-temannya, Park Chanyeol, bahkan orangtua dan saudara kembarnya. Baekhyun menegakkan tubuh dan menarik napas dalam-dalam.

Sudah waktunya ia memberanikan diri dan menghadapi masa lalunya. Ia harus berdamai dengan
masa lalunya sebelum ia bisa memikirkan hal lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC