Spring In London
Remake dari Novel Ilana Tan
Byun Baekhyun . Park Chanyeol
And others
Romance . Drama
GS!
T
Chapter 21
.
.
Seoul, Korea Selatan
CHANYEOL duduk sendirian di bar langganannya dan mengamati cairan keemasan dalam gelasnya sambil melamun. Dua minggu terakhir ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya. Hari-harinya disibukkan dengan pertemuan dengan para manajernya untuk membahas pengaruh skandal ini terhadap reputasinya, menghadapi para wartawan yang menuntut penegasan, menenangkan keluarganya yang kalang kabut dan ibunya yang jatuh sakit begitu mendengar gosip bahwa almarhum putranya pernah melakukan kejahatan, serta melacak keberadaan Kim Dong-Min, yang rupanya sedang bersembunyi dari para wartawan.
Butuh waktu beberapa hari sebelum Chanyeol berhasil menemukan Kim Dong- Min. Chanyeol masih ingat bagaimana wajah Kim Dong-Min memucat ketika Chanyeol menemuinya. Ternyata si pengecut itu sama sekali tidak berniat menyebarluaskan masalah kakak Chanyeol dengan Baekhyun. Hanya saja saat itu ia sedang minum-minum bersama beberapa orang temannya—salah seorang di antaranya adalah wartawan tabloid gosip—dan dalam keadaan mabuk ia mengungkit apa yang pernah dilakukan kakak Chanyeol. Tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebut nama Baekhyun dan bersumpah tidak akan pernah melakukannya. Bagaimanapun juga, ia sadar ia adalah kaki-tangan dalam masalah ini dan bisa diseret ke penjara. Ia bahkan sudah berencana pindah ke Kanada, tempat tinggal orangtuanya, demi menghindari bencana.
Chanyeol mendengus dan meneguk minumanya. "Setidaknya dia masih punya otak," gumamnya pada diri sendiri.
Walaupun Kim Dong-Min sudah berjanji akan tutup mulut rapat-rapat, Chanyeol masih pusing memikirkan bagaimana cara meredam gosip yang sudah telanjur merebak ini dan bagaimana ia bisa mengelak dari para wartawan yang terus mengejarnya. Selama seminggu berikutnya Chanyeol nyaris tidak bisa tidur memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Lalu tiba-tiba hari ini terjadi sesuatu yang sama sekali tidak terrduga. Sesuatu yang bisa saja membantu Chanyeol meredam skandal, atau malah memperumit masalah yang sudah ada. Seorang wanita yang mengaku sebagai mantan kekasih kakak Chanyeol entah kenapa merasa bahwa dirinyalah yang digosipkan sebagai korban pemerkosaan dalam skandal ini. Pagi ini ia mengadakan jumpa pers untuk memberikan pernyataan bahwa skandal itu tidak benar dan bahwa hubungannya dengan kakak Chanyeol sama sekali tidak didasarkan atas paksaan.
Chanyeol benar-benar tidak tahu kenapa wanita itu merasa dirinyalah yang digosipkan sebagai korban. Mungkin saja wanita itu benar-benar pernah menjalin hubungan dengan kakak Chanyeol dan ia benar-benar salah paham karena mengira dirinyalah yang dimaksud oleh gosip ini. Atau mungkin juga ia hanya mencari popularitas sesaat demi mendongkrak kariernya yang sedang merosot sebagai aktris televisi. Atau mungkin saja ia ingin mencari keuntungan dari keluarga Chanyeol dalam masalah ini. Pengacara keluarga Chanyeol akan pergi menemui wanita itu besok pagi dan Chanyeol hanya bisa berharap semuanya berjalan dengan baik.
"Hei, Teman. Sudah lama menunggu?"
Suara Kris Wu membuyarkan lamunan Chanyeol. Ia menoleh dan tersenyum pada sahabatnya. "Belum lama," sahutnya. "Lagi pula aku tahu penyanyi terkenal sepertimu pasti tidak punya waktu luang sebelum tengah malam."
"Kau sendiri juga sangat sibuk begitu pulang dari London dan baru hari ini kau menghubungiku." Kris Wu duduk di samping Chanyeol dan memesan minuman kepada bartender yang menghampirinya. Kemudian ia menoleh kembali kepada Chanyeol. "Bagaimana keadaanmu? Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi pagi ini. Benar-benar mengejutkan, bukan?"
"Mmm. Memang mengejutkan," tambah Chanyeol jujur.
"Kau kenal wanita itu?" tanya Kris Wu.
Chanyeol menggeleng. "Tapi aku akan meminta pengacaraku pergi menemuinya, untuk memastikan wanita itu tidak mencari keuntungan dalam situasi ini."
Kris Wu mengangguk-angguk. "Bagaimana keadaan ibumu sekarang?" Chanyeol mendesah. "Masih sama. Tapi kurasa keadaannya akan membaik setelah mendengar bahwa putra kesayangannya bukan kriminal seperti yang digosipkan."
Saat itu ponsel Chanyeol berbunyi. "Siapa lagi malam-malam begini?" gumamnya pada diri sendiri dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo?"
"Chanyeol?"
Alis Chanyeol terangkat kaget begitu mendengar suara Baekhyun di ujung sana. "Baekhyun? Ada apa? Ada masalah?"
Kris Wu menoleh heran mendengar Chanyeol berbicara dalam bahasa Inggris.
"Tidak ada masalah apa-apa," sahut Baekhyun cepat. "Hanya ingin tahu keadaanmu."
Chanyeol tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Baekhyun ragu sejenak, lalu berkata, "Chanyeol, aku tahu apa yang sedang terjadi di sana dan aku mengerti kenapa kau tidak mau mengatakan padaku, tapi..."
"Kau tahu?" sela Chanyeol agak kaget.
"Ya, aku tahu."
Chanyeol menarik napas dalam-dalam. "Baekhyun, aku baik-baik saja. Sungguh. Aku bisa mengatasinya. Kau tidak usah khawatir."
"Lalu bagaimana situasinya sekarang?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menceritakan kejadian mengejutkan pagi ini. "Benarkah?" Nada Baekhyun terdengar datar, tanpa emosi.
"Ya. Tapi kau tidak usah cemas. Aku sudah mengurusnya Semuanya akan baik-baik saja."
"Kuharap begitu." Baekhyun terdiam sesaat, lalu berkata pelan, "Ngomong-ngomong, ada yang ingin kukatakan kepadamu. Tadinya aku tidak ingin berkata apa-apa, tapi setelah kupikir-pikir lagi, sebaiknya aku mengatakannya secara langsung kepadamu."
Chanyeol langsung berubah waswas. "Ada apa?"
"Aku..." Baekhyun menarik napas, "aku sudah memutuskan untuk kembali ke Jepang."
Alis Chanyeol berkerut kaget. "Apa? Kenapa?"
"Aku... Aku butuh waktu untuk berpikir dan menyelesaikan masalahku sendiri."
"Masalah apa?"
"Masa laluku. Aku tahu selama ini aku terus melarikan diri dari masa laluku. Kupikir sudah saatnya aku menghadapinya."
Chanyeol masih tidak mengerti. "Lalu...?"
"Karena itu aku butuh waktu. Sementara aku mengatur kembali hidupku, aku benar-benar tidak bisa memikirkan hal lain. Aku harus menghadapi diriku sendiri terlebih dahulu sebelum aku bisa menghadapi orang lain." Baekhyun terdiam sejenak. "Termasuk dirimu."
"Apa?"
"Karena itu kurasa ada baiknya kita tidak berhubungan... untuk sementara."
Otak Chanyeol kosong sesaat dan ia nyaris yakin jantungnya berhenti berdebar. Baekhyun akan meninggalkannya. Ya Tuhan, Baekhyun akan meninggalkannya. Ia merasa sekujur tubuhnya mendadak lumpuh.
"Untuk sementara?" ulang Chanyeol datar, lalu menelan ludah. "Berapa lama?"
"Entahlah," kata Baekhyun cepat. "Aku hanya merasa kita berdua butuh waktu untuk berpikir. Supaya kita benar-benar yakin tentang apa yang kita inginkan."
Chanyeol menghela napas dalam-dalam, mencoba meredakan kepanikan yang tiba-tiba menyerangnya. "Maksudmu kau tidak yakin dengan perasaanku," katanya pelan. "Apakah sesulit itu bagimu untuk percaya padaku?"
"Apakah kau sudah lupa alasan awalmu datang ke Inggris?" Baekhyun balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol. "Kau datang ke Inggris untuk bekerja dengan Bobby Shin. Karena kau bercita-cita menjadi sutradara terkenal."
"Apa hubungannya...?"
"Jadilah sutradara terkenal."
"Apa?"
"Jadilah sutradara terkenal," ulang Baekhyun. "Setelah itu, kalau memang masih ada kesempatan, kita bisa bertemu lagi."
Chanyeol terdiam. Sekali lagi ia menghela napas panjang dan menunduk. Ia tidak ingin menunggu. Ia tidak ingin Baekhyun pergi dari sisinya. Sebagian dari dirinya yang enggan paham bahwa Baekhyun butuh waktu. Untuk mengembalikan kepercayaan dirinya sendiri. Juga untuk percaya pada Chanyeol. Ini keputusan yang sangat sulit, tapi...
"Baiklah," kata Chanyeol akhirnya, "aku bisa menunggu."
Baekhyun tidak berkata apa-apa.
"Kalau kau butuh waktu untuk memercayaiku, aku bisa menunggu." Masih tidak terdengar suara di ujung sana, namun Chanyeol yakin Baekhyun mendengarnya. "Aku akan menjadi sutradara terkenal seperti yang kau katakan. Dan, Baekhyun, pada saat kita bertemu nanti—dan kita pasti akan bertemu lagi, baik kau siap atau tidak—kau harus memberikan jawabanmu," kata Chanyeol.
Hening sejenak, lalu terdengar Baekhyun bergumam, "Terima kasih."
Kris Wu meliriknya ketika Chanyeol menutup ponsel dan menghabiskan sisa minumannya dengan sekali teguk. "Siapa Baekhyun?" tanya Kris dengan nada polos.
Chanyeol mengembuskan napas berat dan mendorong gelasnya yang sudah kosong menjauh. "Dia benar-benar bisa membuatku gila," gerutunya.
Kris Wu terkekeh pelan. "Bukankah semua wanita begitu?" katanya. "Lagi pula, kalau dia memang membuatmu gila, kenapa kau tidak melepaskannya saja?"
Chanyeol tidak langsung menjawab. Ia tepekur sejenak, lalu tersenyum muram dan menggeleng. "Aku juga berharap bisa semudah itu," gumamnya.
Kris Wu menatapnya tidak mengerti.
"Masalahnya aku tidak bisa melepaskannya," lanjut Chanyeol tanpa membalas tatapan temannya. Kemudian ia tertawa pendek dan berkata, "Benar-benar bodoh, bukan?"
Kris Wu hanya tersenyum kecil dan menyesap minumannya. "Bukankah kita semua juga begitu?"
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun menutup ponsel dengan gerakan pelan dan jatuh terduduk di tempat tidurnya. Mendadak saja ia merasa sedih walaupun ia terus berkata pada diri sendiri bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Bagaimanapun juga, ia melakukan semua ini demi dirinya sendiri dan Chanyeol. Seperti yang dikatakannya tadi, ia butuh waktu untuk berpikir. Tentang masa lalu dan masa depannya. Juga tentang Park Chanyeol. Saat ini Baekhyun benar-benar tidak bisa berdiri di hadapan Chanyeol dan menatap matanya tanpa merasa malu.
Masa lalunya terlalu kotor. Sedangkan soal Chanyeol... Baekhyun yakin Chanyeol juga butuh waktu untuk berpikir. Chanyeol mungkin berkata bahwa perasaannya tidak berubah bahkan setelah ia tahu tentang masa lalu Baekhyun, tetapi Baekhyun tidak yakin Chanyeol akan tetap merasa seperti itu setelah mendapat waktu yang cukup untuk benar-benar memikirkan semuanya.
Baekhyun ingin menberikan kesempatan kepada Chanyeol untuk menarik diri sebelum laki-laki itu menyesal. Sebutir air mata jatuh di pipinya dan Baekhyun menghapusnya dengan cepat. Kenapa ia menangis? Kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit? Baekhyun menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan.
Jawabannya sederhana saja.
Karena ia, Baekhyun Ishida, dengan bodohnya telah menyerahkan hati dan jiwanya kepada Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 22
Seoul, Korea Selatan
Dua tahun kemudian
MATAHARI bersinar cerah dan langit terlihat biru ketika Chanyeol mengendarai mobil keluar dari gedung apartemennya. Musim semi benar-benar sudah tiba. Sejenak Chanyeol termenung. Musim semi sudah tiba lagi dan itu berarti sudah dua tahun berlalu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Baekhyun. Sejak terakhir kali ia berbicara dengan Baekhyun. Sejak Baekhyun meninggalkannya.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ia melirik ponselnya dan memasang earphone ke telinga. "Ya, Nuna. Ada apa?"
"Chanyeol, aku butuh bantuanmu," kata Yoora tanpa basa-basi.
Alis Chanyeol terangkat heran. "Bantuan apa?"
"Aku ingin kau menjadi model untuk iklan koleksi pakaian musim panasku," kata kakaknya cepat. "Aku tahu, aku tahu... Sekarang ini kau pasti sangat sibuk dengan pekerjaanmu sebagai sutradara. Oh, ngomong-ngomong, aku sudah melihat musik video yang kau buat untuk penyanyi baru itu dan aku harus mengucapkan selamat kepadamu. Dia pasti akan terkenal gara-gara video musiknya. Tapi mari kita kembali ke topik awal. Aku ingin kau yang menjadi modelku. Bagiku tidak ada lagi model yang lebih cocok selain dirimu. Bagaimana?"
Chanyeol tersenyum. "Tapi, Nuna, besok aku harus pergi ke Jepang."
"Ke Jepang? Untuk apa? Ada pekerjaan di sana?"
Chanyeol ragu sejenak. "Bukan. Aku hanya ingin menemui seseorang di sana."
"Tapi tentunya tidak akan lama, bukan? Pemotretan untuk iklanku akan dilakukan minggu depan. Tentunya kau sudah kembali saat itu?" tanya Yoora penuh harap.
Chanyeol mendesah berlebihan, namun bibirnya tersenyum. "Baiklah, Nuna. Tapi aku tetap akan meminta bayaran."
"Siapa yang menyangka model dan sutradara terkenal sepertimu masih butuh uang?" gerutu kakaknya.
Chanyeol hanya tertawa. "Ngomong-ngomong, siapa yang ingin kautemui di Jepang?"
Chanyeol menghela napas. "Seseorang yang sangat ingin kutemui selama dua tahun terakhir ini," sahutnya pelan.
Kakaknya terdengar bingung. "Seseorang yang... Siapa?"
Chanyeol tersenyum lagi. "Lain kali saja kuceritakan. Dah, Nuna." Tanpa menunggu jawaban kakaknya Chanyeol memutuskan hubungan dan melepas earphone dari telinga.
Ia menghela napas sekali lagi. Dua tahun terakhir ini sama sekali tidak mudah bagi Chanyeol dan keluarganya. Wanita yang dulu meyakini dirinya sebagai orang yang digosipkan dalam skandal dengan kakak Chanyeol, memang benar-benar mengira dirinyalah yang dimaksud dalam gosip. Dan wanita itu sama sekali tidak keberatan dijadikan bahan gossip karena ia memang bermaksud mendongkrak popularitasnya. Walaupun ada beberapa pihak yang menerima pernyataan wanita itu, banyak juga pihak yang masih meragukannya dan merasa bahwa sebenarnya memang ada kejahatan yang terjadi. Namun karena tidak adanya bukti dan saksi yang kuat untuk mendukung kecurigaan mereka, perlahan-lahan skandal itu pun mereda, walaupun tidak sepenuhnya karena sampai sekarang pun masih ada orang yang
mempertanyakan kebenaran skandal itu.
Setelah skandal kakak laki-lakinya mereda dan memastikan keluarganya baik-baik saja, Chanyeol kembali ke London untuk melanjutkan pekerjaannya dengan Bobby Shin. Setahun kemudian itu ia kembali ke Seoul dan memulai peran barunya sebagai sutradara video musik. Video musik pertama yang digarapnya sukses besar dan sejak itu banyak tawaran datang kepadanya.
Chanyeol sudah menepati janjinya. Ia sudah memberikan waktu yang dibutuhkan Baekhyun, ia sudah menjadi sutradara terkenal, dan ia tidak pernah mencoba menghubungi Baekhyun selama ini. Sebenarnya yang terakhir itulah yang paling sulit dilakukan. Tidak bertemu dan berbicara dengan gadis itu saja sudah cukup membuat Chanyeol tertekan. Tetapi tidak tahu di mana Baekhyun, apa yang sedang dilakukannya, bagaimana keadaannya, membuat Chanyeol hampir gila.
Itulah sebabnya ia pergi mencari Oh Sehun, mantan teman satu flat Baekhyun, ketika ia kembali ke London dan menanyakan alamat Baekhyun di Jepang. Chanyeol tersenyum masam mengingat semua yang harus dilakukannya demi mendapatkan alamat itu dari Sehun. Walaupun Chanyeol sudah berhasil mendapatkan alamat Baekhyun, ia tidak pernah berusaha menemui gadis itu. Karena ia sudah berjanji dan ia bermaksud menepati janjinya.
Namun dua tahun bukan waktu yang singkat. Setidaknya bagi Chanyeol. Tentu saja dalam dua tahun ini keadaan sudah kurang-lebih kembali seperti sedia kala. Skandal kakaknya sudah mulai terlupakan karena banyaknya skandal baru, yang melibatkan artis-artis baru yang sedang terkenal. Nama Baekhyun sama sekali tidak di sangkut-pautkan dalam skandal kakak Chanyeol. Keluarga Chanyeol berhasil melewati masa sulit itu dengan baik, bahkan ibunya juga sudah mulai berusaha menjodohkannya seperti dulu.
Segalanya terlihat baik. Segalanya kecuali dirinya sendiri. Chanyeol tidak merasa baik. Dan ia tahu ia tidak akan pernah merasa baik sampai Baekhyun kembali kepadanya. Karena itulah ia memutuskan untuk pergi ke Jepang. Kalau Baekhyun tidak bisa datang kepadanya, ia yang akan pergi menemui gadis itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Park Yoora tersenyum puas sambil menurunkan ponsel dari telinga. "Bagaimana?" tanya asistennya dengan nada penuh harap.
"Tentu saja dia setuju melakukannya. Adikku itu selalu bisa diandalkan," kata Yoora senang. Lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Bagaimana dengan model wanitanya? Mereka menerima tawaran kita?"
Baru-baru ini ia melihat iklan di salah satu majalah yang menampilkan seorang model wanita yang menurutnya sangat cocok mewakili koleksi pakaian terbarunya. Ia langsung menyuruh asistennya mencari tahu tentang model itu.
"Mereka belum memberikan jawaban," kata si asisten, menjawab pertanyaan Yoora tadi.
Yoora mendesah dan menggigit bibir. "Katakan pada mereka bahwa aku tahu ini agak terburu-buru, tapi aku benar-benar berharap bisa bekerja sama dengan model yang itu." Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, "Ngomong-ngomong, siapa namanya?"
Si asisten melirik buku catatannya, lalu menjawab, "Baekhyun Ishida. Dan apakah kau tahu dia pernah membintangi video musik Kris Wu bersama adikmu?"
.
.
.
.
.
.
.
Tokyo, Jepang
"Baekhyun," panggil Luhan dari ruang duduk. "Kau sudah siap? Mereka sudah menunggu kita di bawah."
Tidak terdengar jawaban dari kamar. Luhan menghela napas dan berjalan ke kamar tidur yang ditempatinya bersama saudara kembarnya. Ia melongokkan kepala ke dalam kamar. "Baekhyun."
Baekhyun sedang duduk di kursi meja tulis. Kedua kakinya diangkat ke atas kursi dan dagunya ditopangkan ke lutut. Matanya menatap kosong ke depan dan jelas-jelas sedang melamun.
"Baekhyun," panggil Luhan lagi, sedikit lebih keras.
Kali ini Baekhyun tersentak dan menoleh. "Oh, ada apa, Luhan?"
"Kau sudah siap? Mereka sudah menunggu kita di bawah," kata Luhan. Baekhyun mengerjap tidak mengerti. Luhan masuk ke dalam kamar. "Kita akan makan malam di tempat Nenek Osawa. Kau ingat?"
Yang dipanggil Kakek dan Nenek Osawa sebenarnya adalah pasangan tua yang menempati apartemen di lantai bawah. Mereka juga adalah penanggung jawab gedung apartemen yang hanya bertingkat dua itu dan sering sekali mengundang semua penghuni lain—yang hanya berjumlah lima orang termasuk Baekhyun—makan malam bersama.
"Ah, kau benar. Kenapa aku bisa lupa itu?" gumam Baekhyun sambil bangkit dari kursi. "Tunggu sebentar. Aku akan segera siap."
Luhan bisa melihat bahwa saudara kembarnya sedang risau. "Ada masalah apa, Baekhyun?" tanyanya langsung.
Baekhyun berhenti di depan lemari pakaian dan berbalik menghadap Luhan. Ia menggigit bibir, ragu, lalu akhirnya berkata, "Aku mendapat tawaran pembuatan iklan di Korea. Iklan pakaian." Ia berhenti sejenak, menarik napas. "Perancangnya adalah kakak perempuan Chanyeol."
Luhan tahu siapa Chanyeol yang dimaksud Baekhyun. Ketika Baekhyun kembali ke Tokyo dua tahun lalu, Baekhyun telah menceritakan semuanya. Semuanya. Ia menceritakannya sambil menangis tersedu-sedu. Termasuk rahasia gelap yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun. Ia menceritakan semua itu kepada Luhan pada hari pertama ia kembali ke Tokyo. Saat itu Luhan benar-benar terguncang mendengar tentang kejadian mengerikan yang dialami Baekhyun dan sedih membayangkan Baekhyun menanggung semua luka dan mimpi buruk itu sendirian.
Pada akhirnya Luhan hanya bisa berkata pada Baekhyun bahwa ia senang Baekhyun menceritakan semua itu kepadanya dan berkata bahwa ia berharap kini Baekhyun merasa sedikit lebih lega karena telah mencurahkan seluruh beban hatinya. Ia juga meyakinkan Baekhyun bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kemudian mereka berdua pun menangis bersama.
Satu hal yang mereka sepakati bersama adalah bahwa orangtua mereka tidak perlu tahu tentang masalah ini. Tidak ada gunanya. Malah hanya akan menambah beban dan luka. Lagi pula orang yang melakukan kejahatan itu sudah meninggal dunia dan bagaimaanpun juga Baekhyun bisa dibilang baik-baik saja. Luhan juga tahu alasan Baekhyun kembali ke Tokyo adalah Park Chanyeol. Chanyeol adalah adik laki-laki penjahat yang menyakiti Baekhyun, namun Chanyeol juga adalah satu-satunya pria yang entah bagaimana berhasil menyelinap masuk dan memiliki hati Baekhyun. Luhan mengerti dilema yang dihadapi saudara kembarnya. Sungguh, ia mengerti. Tapi...
"Apakah menurutmu kakak perempuannya itu tahu tentang dirimu?" tanya Luhan.
Baekhyun menggigit bibir. Chanyeol tidak mungkin memberitahu kakak perempuannya tentang masalah Baekhyun. Tidak mungkin. "Tidak," sahutnya, lalu mengangkat bahu. "Entahlah. Aku tidak tahu."
"Jadi apakah kau menerima pekerjaan itu?" tanya Luhan lagi.
Baekhyun merentangkan kedua lengannya dan menjatuhkannya ke sisi tubuhnya. "Aku tidak tahu. Aku belum memutuskan," sahutnya. Ia mengangkat sebelah tangan ke kening. "Kalau aku menerima pekerjaan itu, ada kemungkinan aku akan bertemu kembali dengan Chanyeol."
"Lalu kenapa? Kau tidak ingin bertemu dengannya?"
Baekhyun menahan napas. Dan tiba-tiba saja, tanpa peringatan apa pun, setetes air mata jatuh bergulir di pipinya. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dan berusaha mengendalikan diri.
"Baekhyun." Luhan segera menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Ada apa?"
Baekhyun mencoba menarik napas dan mengembuskannya untuk mengendalikan diri, namun tidak benar-benar berhasil. "Bodoh, bukan? Sudah dua tahun berlalu, tapi aku masih tetap seperti ini setiap kali mendengar namanya. Aku masih belum bisa melupakannya. Apa yang salah denganku?"
"Apa yang salah denganmu?" Luhan balas bertanya. "Baekhyun, tidak ada yang salah dengan dirimu. Kau hanya mencintainya."
Baekhyun berpaling ke arah Luhan. Ia membuka mulut, namun tidak ada kata-kata yang keluar.
"Kau tidak pernah mengakuinya kepadaku, Baekhyun, tapi aku tahu apa yang kau rasakan," kata Luhan. "Alasan apa lagi selain itu yang membuatmu begitu tekun mengikuti kursus bahasa Korea selama ini?"
Baekhyun menutup mulutnya.
Luhan melanjutkan, "Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berpikir dan mengambil keputusan. Kau sudah berhasil menghadapi masa lalumu, mimpi burukmu. Sekarang waktunya kau menghadapi apa yang ada dalam hatimu."
Baekhyun menggigit bibir, lalu berkata lemah, "Tapi..."
"Dia bukan kakaknya."
Kata-kata Luhan membuat Baekhyun terdiam. Kata-kata itu sama seperti yang pernah diucapkan Chanyeol.
Aku bukan kakakku. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Apakah kau percaya padaku? Kuharap kau bisa. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.
Oh, Baekhyun memang percaya. Baekhyun percaya padanya. Ia tahu Chanyeol tidak seperti kakaknya. Sungguh, ia tahu. Hanya saja... "Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana kalau mereka tahu tentang kejadian itu?" tanyanya. "Tidak, tidak... Aku belum siap."
Luhan meremas pundak saudaranya. "Kau sendiri pasti sudah ribuan kali memikirkan pertanyaan itu selama dua tahun terakhir ini dan aku yakin sampai sekarang kau belum menemukan jawabannya. Apa yang membuatmu berpikir bahwa menunggu satu hari, satu bulan, atau satu tahun lagi akan ada bedanya?"
"Mereka pasti akan membenciku," gumam Baekhyun sambil menggeleng, "kalau mereka sampai tahu yang sebenarnya."
"Kenapa mereka akan membencimu?" tanya Luhan heran. "Baekhyun, bukan kau yang bersalah di sini."
Baekhyun tertegun. Ya, Luhan benar. Ia tidak bersalah dalam masalah itu. Ia tidak bersalah... "Tapi dua tahun sudah berlalu," kata Baekhyun dengan suara bergetar. "Sudah terlalu lama. Keadaan mungkin sudah berubah. Dia mungkin sudah berubah. Segalanya mungkin sudah terlambat."
Luhan merangkul pundak Baekhyun dan berkata, "Tapi kau tidak akan tahu sebelum kau mencobanya, bukan? Kalau keadaan memang sudah berubah, kalau dia memang sudah berubah, bukankah lebih baik kau mengetahuinya dengan pasti daripada bertanya-tanya selama sisa hidupmu?"
Baekhyun menatap saudara kembarnya dan bertanya-tanya sejak kapan Luhan berubah sebijak ini? Tetapi Luhan memang jenis orang yang selalu berpikir rasional. Mungkin itu ada hubungannya dengan kegemaran Luhan membaca buku. Baekhyun tahu apa yang dikatakan Luhan itu benar.
"Kau tahu aku benar, Baekhyun," kata Luhan lagi, seolah-olah bisa membaca pikiran saudara kembarnya.
Kali ini Baekhyun tersenyum, menghapus air matanya dengan telapak tangan dan mengangguk. "Seperti biasanya, Luhan. Kau benar," katanya. Lalu ia menghela napas dalam-dalam. "Kurasa aku akan menerima pekerjaan itu."
Luhan balas tersenyum. "Bagus kalau begitu. Sekarang ayo kita pergi makan malam. Mereka pasti sudah kelaparan setengah mati karena menunggu kita."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Next chapter, say goodbe for Spring In London ^^
