Spring In London
Remake dari Novel Ilana Tan
Byun Baekhyun . Park Chanyeol
And others
Romance . Drama
GS!
T
Chapter 23
.
.
TAKSI yang ditumpangi Chanyeol berhenti di seberang gedung apartemen tua bertingkat dua di pinggiran kota Tokyo.
"Di sinikah tempatnya?" tanya Chanyeol kepada si sopir taksi dengan bahasa Jepang yang terdengar agak payah dan terpatah-patah. Tetapi setidaknya si sopir taksi mengerti dan ia mengangguk sebagai jawaban.
"Tunggu sebentar," kata Chanyeol kepada si sopir. Lalu menggerakkan tangan untuk memperjelas maksudnya. "Tunggu sebentar di sini. Oke?" Si sopir mengangguk-angguk dan memberi tanda oke dengan tangannya. Chanyeol keluar dari taksi dan memandang berkeliling, sebelah tangannya terangkat ke mata untuk menahan sinar matahari. Daerah ini cukup sunyi, namun bukan sunyi yang menakutkan. Rasanya seperti sunyi yang menenangkan. Ia menunduk ke arah kertas lusuh di tangannya. Lusuh karena sudah sering dibuka untuk dibaca lalu dilipat kembali. Kalau alamat yang diberikan Sehun memang benar, maka inilah gedung apartemen tempat tinggal Baekhyun. Dan yang harus Chanyeol lakukan sekarang adalah mencari apartemen bernomor 202 dan mengetuknya.
Chanyeol baru hendak menyeberangi jalan ketika sesuatu menangkap perhatiannya. Dari seberang jalan ia bisa melihat seorang wanita keluar dari apartemen di lantai dua. Dan jantung Chanyeol seolah-olah berhenti berdetak sesaat ketika ia mengenali wanita itu. Baekhyun. Itu Baekhyun.
Mata Chanyeol tidak terlepas dari sosok Baekhyun yang sedang menuruni tangga batu di gedung apartemen itu. Chanyeol begitu terpaku sampai butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang menuruni tangga bersama Baekhyun.
Chanyeol menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan Baekhyun? Apa...? Namun pertanyaan berikutnya tidak sempat terpikirkan oleh Chanyeol karena pada saat itu Baekhyun dan laki-laki itu sudah tiba di lantai dasar dan Chanyeol bisa melihat Baekhyun sedang tersenyum. Tersenyum kepada laki-laki di sampingnya. Senyum yang tidak pernah dilihat Chanyeol sebelumnya. Orang-orang yang melihat senyum seperti itu tidak mungkin salah mengartikannya. Senyum itu berarti... Oh, sialan. Sekara g laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuat senyum Baekhyun melebar, lalu tertawa.
Chanyeol langsung merasakan sesuatu menghujam jantungnya dan kakinya seolah-olah tertancap ke tanah tempatnya berdiri. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa membatu. Berat. Baekhyun sama sekali tidak menyadari keberadaan Chanyeol di seberang jalan. Ia dan laki-laki itu berjalan meninggalkan gedung apartemen dan mulai berjalan menyusuri jalan, menjauhi Chanyeol. Lalu Chanyeol melihat laki-laki itu mengulurkan tangan dan menggandeng tangan Baekhyun seolah-olah ia berhak melakukannya. Seolah-olah ia memberikan pernyataan kepada dunia bahwa Baekhyun adalah miliknya.
Dan Baekhyun sama sekali tidak menarik kembali tangannya. Baekhyun membiarkan laki-laki itu menggenggam tangannya. Mereka berdua terlihat sangat gembira dan santai, seolah-olah mereka sudah sering melakukannya dan terbiasa melakukannya. Chanyeol tiba-tiba merasa sulit bernapas. Ia hampir yakin ada yang salah dengan dirinya. Debar jantungnya tidak beraturan, dadanya mendadak terasa sangat, sangat sakit. Dan nyeri. Ia terpaksa harus berpegangan pada taksi di sampingnya supaya ia tidak jatuh terduduk di tanah. Dan di atas segalanya, ia merasakan desakan besar untuk melukai seseorang. Terutama laki-laki yang berjalan bersama Baekhyun tadi. Laki-laki yang menggandeng tangan Baekhyun dan tersenyum pada Baekhyun itu.
Oh, sialan...
Dalam kondisi setengah sadar, Chanyeol masuk kembali ke taksi dan duduk bersandar dengan mata terpejam. Seharusnya ia merasa senang. Baekhyun terlihat baik. Baekhyun terlihat sehat. Baekhyun terlihat gembira. Baekhyun terlihat bahagia. Ya, seharusnya Chanyeol merasa senang dengan itu. Bukankah ia memang ingin melihat Baekhyun baik-baik saja? Bukankah ia memang ingin melihat Baekhyun bahagia? Tentu saja. Tentu saja, tapi...
Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi dan Chanyeol meringis. Ia memang ingin melihat Baekhyun bahagia, tetapi ia ingin Baekhyun bahagia bersamanya. Hanya bersamanya. Apakah ia sudah menunggu terlalu lama? Apakah dua tahun terlalu lama? Apakah keputusannya untuk menunggu dua tahun telah membuatnya kehilangan Baekhyun?
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang bisa dilakukannya sekarang?
.
.
.
.
.
Chapter 24
"AKU tidak tahu ternyata kau bisa berbahasa Korea, Baekhyun." Baekhyun tersenyum mendengar komentar Park Yoora.
"Hanya sedikit-sedikit," katanya merendah.
Ketika Baekhyun pertama kali tiba di lokasi pemotretan, ia harus mengakui bahwa perutnya terasa mual karena sangat gugup. Sejuta pertanyaan berkelebat dalam benaknya. Apa yang diketahui kakak perempuan Chanyeol itu tentang Baekhyun? Seperti apa Park Yoora? Apakah Baekhyun bisa bertanya tentang Chanyeol? Dan kalau bisa, apa yang harus ditanyakannya?
Namun ketika ia akhirnya bertemu dengan Yoora, Baekhyun merasa kegugupannya menguap sedikit. Yoora menatapnya dengan mata berkilat-kilat senang dan Baekhyun yakin wanita itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Wajah Yoora sama sekali tidak mirip Chanyeol, tetapi ada beberapa kemiripan yang jelas di antara kedua kakak-beradik itu. Misalnya senyum mereka, sikap mereka yang ceria dan gaya bicara mereka yang bersahabat.
Yoora memiringkan kepalanya sedikit. "Kudengar kau pernah berpasangan dengan adikku dalam video musik Kris Wu dua tahun lalu," katanya. "Kau masih ingat Chanyeol? Dia adikku."
Seperti biasa, setiap kali nama Chanyeol disebut-sebut napas Baekhyun langsung tercekat dan jantungnya mengentak-entak dadanya. Ini dia kesempatan yang ditunggu-tunggunya. Sekarang saat yang tepat untuk bertanya tentang Chanyeol. Baekhyun membuka mulut untuk bertanya, tetapi sebelum ia sempat bersuara, ia mendengar seseorang memanggil namanya dengan penuh semangat. Ia menoleh dan langsung mengenali Seulgi, penata rias yang bekerja sama dengannya pada pembuatan video musik di London tahun lalu.
Seulgi berlari kecil menghampirinya sambil melambai-lambaikan tangan. "Halo, halo, halo," katanya dengan wajah berseri-seri. "Senang bertemu denganmu lagi. Kau masih ingat padaku, bukan?"
"Oh, Onni," kata Baekhyun dalam bahasa Korea. "Apa kabar?"
Senyum Seulgi melebar. "Astaga! Rupanya kau sudah belajar bahasa Korea."
"Kalian berdua sudah saling kenal? Baguslah," tanya Yoora sambil memandang Baekhyun dan Seulgi bergantian. "Sekarang sebaiknya kalian bersiap-siap. Aku harus menelepon seseorang."
Dan hilanglah kesempatannya untuk bertanya tentang Chanyeol, pikir Baekhyun sambil menatap Yoora yang berbalik dan mengeluarkan ponsel dari tas tangannya. Lalu Baekhyun menoleh ke arah Seulgi yang menggandeng lengannya dengan gembira. Ah, benar juga. Ia bisa bertanya pada Seulgi. Seulgi pasti tahu tentang Chanyeol.
"Onni," panggil Baekhyun agak ragu. "Ngomong-ngomong, kau tahu kabar Chan..."
"Park Chanyeol! Kau tahu sekarang sudah jam berapa? Kenapa kau belum datang? Datang ke sini sekarang juga atau aku yang akan pergi ke sana dan menyeretmu kemari."
Suara Yoora yang galak membuat Baekhyun dan Seulgi serentak menoleh ke arahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi dan tanpa menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya, Yoora langsung menutup ponselnya dengan kasar. Menyadari Baekhyun sedang menatapnya dengan heran, Yoora menyunggingkan senyum manis dan berkata, "Pasanganmu untuk pemotretan ini akan segera datang. Tenang saja." Setelah berkata seperti itu, ia pun pergi.
Baekhyun tertegun. Matanya melebar kaget. Lalu perlahan-lahan ia menoleh menatap Seulgi. "Park... Chanyeol?"
Seulgi mengangguk. "Chanyeol yang akan menjadi pasanganmu dalam pemotretan ini," katanya sambil menarik Baekhyun ke ruang rias, sama sekali tidak menyadari Baekhyun yang tiba-tiba berubah kaku. "Bukankah ini menyenangkan sekali? Seperti reuni saja."
Oh, dear. Baekhyun mulai panik. Bagaimana sekarang? Ia akan segera berhadapan kembali dengan Chanyeol dan ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada laki-laki itu. Bagaimana ini?
.
.
.
.
.
.
Chanyeol mencengkeram kepala dengan satu tangan dan meringis. Ini benar-benar seperti mimpi buruk. Kepalanya sudah berdenyut-denyut seperti ini sejak beberapa hari terakhir—tepatnya setelah ia kembali dari Tokyo—dan pagi ini rasanya sakitnya semakin parah. Pertama-tama ia terbangun karena telepon dari ibunya yang menanyakan hal-hal yang tidak penting, lalu tidurnya terganggu lagi karena telepon dari kakaknya yang langsung mengomelinya dan langsung menutup telepon tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.
Chanyeol ingat ada jadwal pemotretan iklan kakaknya pagi ini, tetapi ia lebih suka kalau ia tidak mengingatnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia merasa tidak bersemangat dan suasana hatinya selalu muram. Tidak ada yang baik di matanya, tidak ada yang membuatnya senang, tidak ada yang bisa mengangkat beban berat yang mengimpit dadanya.
Sambil mendesah berat, ia memaksa diri bangkit dari ranjang dan bersiap-siap. Tadi kakaknya mengancam akan datang dan menyeretnya ke tempat pemotretan. Chanyeol yakin kakaknya pasti akan melaksanakan ancaman itu apabila memang diperlukan. Chanyeol jadi bertanya-tanya apa yang akan dikatakan kakaknya apabila melihat Chanyeol dalam keadaan kacau seperti ini.
Satu jam kemudian Chanyeol tiba di lokasi pemotretan. Begitu ia masuk, kakaknya langsung menghampirinya dengan raut wajah khawatir. "Chanyeol, ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kenapa kau selalu terlihat berantakan dan pucat seperti ini?" tanyanya dengan alis berkerut.
Chanyeol memaksakan seulas senyum muram dan berkata, "Aku tidak apa-apa, Nuna. Ayo kita mulai bekerja saja."
"Kita harus bicara nanti," kata Yoora tegas. "Sekarang kita tidak punya waktu lagi. Sebaiknya kau temui dulu pasanganmu dalam pemotretan ini. Dia ada di ruang rias." Yoora masih menatap Chanyeol dengan khawatir, tetapi kemudian ia pergi memastikan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Pasangannya? Chanyeol menghela napas dan mengembuskannya dengan keras. Dengan enggan ia berbalik dan berjalan ke ruang rias. Ia tidak tahu apakah ia bisa memaksa dirinya bersikap ramah atau tidak karena suasana hatinya benar-benar buruk.
Di ambang pintu ruang rias, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Matanya terpaku pada wanita yang sedang berdiri di depan cermin tinggi dan menertawakan ucapan Seulgi.
Baekhyun.
Otak Chanyeol berputar-putar dan ia hampir tidak memercayai matanya sendiri. Baekhyun ada di sini? Di sini? Tapi itu tidak mungkin. Apakah salah satu mimpinya selama seminggu terakhir ini berhasil menyelinap ke dunia nyata? Apakah...? Tetapi yang berdiri di sana itu memang Baekhyun. Tidak salah lagi. Saat itu Baekhyun menyadari kehadiran Chanyeol dan menoleh. Matanya yang hitam menatap lurus ke mata Chanyeol dan Chanyeol bisa melihat kekagetan dalam mata itu.
Lalu bibir Baekhyun terbuka dan ia bergumam pelan, "Chanyeol."
Mendadak hati Chanyeol terasa nyeri. Nyeri karena merindukan Baekhyun. Nyeri karena akhirnya Baekhyun berdiri di depannya, memandangnya dan memanggil namanya.
.
.
.
.
.
.
Chapter 25
KETIKA melihat Chanyeol berdiri di ambang pintu, napas Baekhyun langsung tercekat. Ia hanya bisa mematung menatap Chanyeol. Ia bahkan tidak sadar dirinya memanggil nama Chanyeol.
Chanyeol masih terlihat seperti dulu, walaupun gaya rambutnya kini agak berbeda dan wajahnya terlihat pucat dan lelah. Baekhyun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Chanyeol karena ia tidak bisa membaca apa yang tersirat di balik mata gelap yang menatapnya dengan tajam itu.
"Chanyeol," sapa Seulgi ceria. "Lihatlah siapa di sini. Kau masih ingat pada Baekhyun, bukan?"
Suara Seulgi seolah-olah menyadarkan Chanyeol. Ia tersenyum samar dan bergumam, "Ya, aku ingat."
"Menurutku kita harus minum-minum bersama. Untuk mengenang masa lalu dan merayakan pertemuan kita kembali. Mungkin setelah sesi pemotretan ini? Bagaimana menurut kalian?" tanya Seulgi penuh semangat.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak menjawab. Mereka hanya bertatapan. Lalu Chanyeol menoleh ke arah Seulgi dan berkata, "Nuna, maafkan aku, tapi bisakah Nuna meninggalkan kami berdua sebentar?"
"Oh." Seulgi mengerjap bingung. Ia menatap Chanyeol, lalu beralih kepada Baekhyun.
"Tidak apa-apa, Onni," gumam Baekhyun.
Sebelah alis Chanyeol terangkat mendengar Baekhyun berbicara dalam bahasa Korea. Setelah Seulgi keluar, ruang rias itu pun diselimuti keheningan yang menegangkan. Setidaknya menurut Baekhyun. Selama beberapa detik—yang terasa seperti beberapa menit—tidak ada yang bersuara. Sampai sekarang Baekhyun sama sekali tidak tahu apa yang akan dikatakannya kalau ia sudah bertemu dengan Chanyeol. Otaknya sama sekali tidak bisa berpikir.
"Jadi kau bisa berbahasa Korea," kata Chanyeol tiba-tiba. Dan ia mengatakannya dalam bahasa Korea.
Baekhyun tersentak dan mengangkat wajah. "Ya."
Hening lagi.
"Jadi bagaimana kabarmu?"
"Bagaimana kabarmu?"
Mereka berdua mengatakannya bersamaan dan rasanya aneh. Baekhyun tidak tahu kenapa mereka berubah menjadi seperti ini. Sejak kapan mereka saling bersikap canggung? Kenapa Chanyeol berubah pendiam seperti ini? Apakah dua tahun memang sudah terlalu lama? Apakah segalanya memang sudah berubah?
"Aku baik-baik saja," kata Baekhyun, menjawab pertanyaan Chanyeol lebih dulu. "Dan kau sendiri?"
Chanyeol menghela napas dalam-dalam dan menunduk sejenak. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap Baekhyun. "Aku... aku senang kau baik-baik saja," katanya singkat, tidak menjawab pertanyaan Baekhyun. "Kurasa sebaiknya aku membiarkanmu bersiap-siap. Aku juga harus bersiap-siap. Kita harus bekerja."
Baekhyun mengerjap kaget ketika Chanyeol langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu yang ditutup ketika Seulgi keluar tadi. Begitu saja? Setelah dua tahun berlalu hanya itu yang ingin dikatakan Chanyeol kepadanya? Chanyeol membuka pintu dengan gerakan cepat, mengagetkan dua orang yang sedang berdiri di balik pintu. Seulgi dan Yoora melompat mundur dan terlihat salah tingkah. Jelas sekali mereka baru tertangkap basah karena menguping.
Chanyeol benar-benar akan pergi tanpa berkata apa-apa. Tidak, Baekhyun tidak bisa membiarkannya. Kalau tidak sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan lain. Dan sebelum Baekhyun sempat berpikir lebih jauh, ia langsung berseru, "Apakah hanya itu yang ingin kau katakan padaku?" Ia tidak bisa membiarkan Chanyeol pergi begitu saja. Ia tidak tahu kenapa Chanyeol bersikap seperti itu, tetapi ia tidak akan membiarkannya. "Hanya itu?"
Sejenak Chanyeol masih berdiri di ambang pintu, memunggungi Baekhyun, menghadap Yoora dan Seulgi yang masih berdiri di tempat walaupun mereka berdua tidak berani memandang wajah Chanyeol. Lalu dengan satu gerakan Chanyeol menutup pintu kembali dan berbalik menghadap Baekhyun.
"Tentu saja tidak," cetus Chanyeol. Ia berjalan menjauhi pintu dan menghampiri Baekhyun. "Terlalu banyak yang ingin kukatakan padamu sampai aku tidak tahu harus memulai dari mana."
"Aku bisa menunggu sementara kau berpikir," kata Baekhyun.
Chanyeol mengacak-acak rambut dengan tangan, lalu berkacak pinggang, menunduk sebentar untuk mengendalikan diri. "Selama ini aku menunggu karena kupikir kau butuh waktu," kata Chanyeol dengan suara rendah. "Kukira aku sudah membuat keputusan yang benar. Tidak, aku yakin aku sudah membuat keputusan yang benar dengan membiarkanmu pergi. Kau memang butuh waktu untuk berpikir. Dan kupikir pada saatnya nanti, kalau kau tidak bisa datang padaku, aku yang akan pergi mencarimu. Tapi sekarang aku bertanya-tanya apakah aku sudah menunggu terlalu lama. Apakah seharusnya aku tidak menunggu sampai dua tahun baru pergi mencarimu?"
Baekhyun tidak berkata apa-apa. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Chanyeol bicarakan.
Chanyeol mengembuskan napas dengan keras. "Katakan padaku, apa yang dimilikinya yang tidak kumiliki?"
Alis Baekhyun berkerut bingung. "Apa? Siapa?"
"Laki-laki itu, Baekhyun," cetus Chanyeol sambil mengibaskan sebelah tangan dengan tidak sabar. "Kenapa kau memilih dia? Dia... oh, sialan. Lupakan saja kata-kataku tadi. Aku hanya bicara sembarangan." Chanyeol berbalik dan berjalan dengan langkah lebar ke pintu.
Dan ketika kali ini ia membuka pintu dengan satu gerakan cepat, bukan hanya kakaknya dan Seulgi yang ada di balik pintu, tetapi juga beberapa staf lain. Mereka semua serentak terkesiap dan melompat mundur ketika Chanyeol tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan wajah menakutkan.
Baekhyun sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Chanyeol tadi. Laki-laki mana? Siapa? Apa Chanyeol sudah gila? Kekesalan Baekhyun pun terbit.
"Kenapa kau marah-marah?" serunya kepada Chanyeol. "Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Laki-laki mana yang kau maksud? Aku benar-benar tidak mengerti. Bicaralah yang jelas."
Sekali lagi Chanyeol membanting pintu di hadapan semua orang yang berusaha menguping itu dan berbalik menghadap Baekhyun. "Jangan pura-pura tidak mengerti, Baekhyun. Kau tahu jelas siapa yang kumaksud. Aku melihat kalian berdua dengan mata kepalaku sendiri. Apakah kau ingin aku menjelaskan setiap detailnya?"
Baekhyun membalas tatapan Chanyeol dengan mata menyala-nyala. "Ya," katanya keras. "Jelaskan padaku karena aku tidak mengerti apa yang sedang kau ocehkan."
"Minggu lalu aku pergi ke Tokyo untuk mencarimu," kata Chanyeol. "Dan ketika aku tiba di gedung apartemenmu, aku melihatmu bersama seorang laki-laki. Dan kalian berdua..."
"Kau datang ke apartemenku?" sela Baekhyun kaget. "Dari mana kau tahu tempat tinggalku?"
"Sehun yang memberitahuku. Tapi..."
"Sehun? Oh Sehun?"
"Ya, Sehun. Tapi bukan itu intinya. Aku melihatmu keluar dari gedung apartemenmu bersama seorang laki-laki dan... dan kalian terlihat... terlihat... akrab."
Alis Baekhyun terangkat. "Apa? Aku tidak merasa pernah keluar dari apartemen bersama laki-laki mana pun dan terlihat akrab seperti istilahmu itu," bantah Baekhyun. "Lagi pula apa maksudmu dengan akrab?"
Chanyeol mengernyit, seolah-olah kenangan yang berkelebat dalam benaknya sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan. "Kau benar-benar ingin aku menggambarkannya?" tanyanya.
"Ya, karena aku yakin aku jelas tidak pernah melakukan apa yang kau katakan itu. Itu hanya berarti satu hal: Kau salah lihat."
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Baekhyun," kata Chanyeol sambil menjejalkan kedua tangan ke saku celananya dengan sikap frustasi. "Aku bisa mengenalimu di mana saja. Dan aku melihatmu di sana. Tersenyum pada laki-laki itu dan menggandeng tangannya seolah-olah..."
"Itu bukan aku," sela Baekhyun sambil melipat tangan di depan dada. Sungguh, Chanyeol sudah gila. Itu satu-satunya penjelasan untuk ocehannya yang tidak ada ujung-pangkalnya ini.
Chanyeol mendesah kesal. "Bukan kau? Kalau yang kulihat itu bukan kau, lalu siapa? Memangnya kau punya saudara kem..."
Mata Baekhyun menyipit tajam, lalu membentak, "Ya! Aku memang punya saudara kembar dan aku yakin aku sudah pernah mengatakannya padamu!"
.
.
.
.
.
.
.
Bahkan sebelum Baekhyun membuka mulut untuk membentaknya, Chanyeol sudah menyadari apa yang terlupakan olehnya. Ia melupakan kenyataan bahwa Baekhyun memang memiliki saudara kembar. Chanyeol tertegun menatap Baekhyun yang balas menatapnya dengan mata menyala-nyala marah. Kalau begitu yang dilihatnya keluar dari gedung apartemen itu adalah...
Seolah-olah bisa membaca pikiran Chanyeol, Baekhyun berkata lagi, "Sudah pasti yang kau lihat itu adalah saudara kembarku, Luhan. Asal kau tahu, wajah kami memang sangat mirip."
Chanyeol masih agak kesulitan menemukan suaranya. Kalau itu memang saudara kembar Baekhyun, berarti selama seminggu ini ia sudah mengacaukan diri sendiri tanpa alasan. Rasa lega langsung membanjiri dirinya. "Kupikir..."
"Kau tidak berpikir," sela Baekhyun, jelas-jelal masih marah. "Tapi coba sekarang pikirkan ini. Kalau aku melakukan apa pun yang kau katakan tadi, kenapa aku repot-repot belajar bahasa Korea? Kenapa pula aku datang ke sini dan menerima pekerjaan ini walaupun aku tahu Park Yoora adalah kakakmu?" Baekhyun berhenti untuk menarik napas, lalu mendengus dan berjalan melewati Chanyeol.
Tetapi Chanyeol menangkap pergelangan tangan Baekhyun dan menahannya. "Jadi kau memang sengaja datang ke sini untuk mencariku?" tanyanya sambil menunduk menatap Baekhyun. "Kenapa?"
Baekhyun berusaha melepaskan diri, tetapi Chanyeol tidak membiarkannya. Akhirnya Baekhyun menyerah dan mendongak menatap Chanyeol. "Tadi kau bilang kau pergi ke Jepang mencariku. Kenapa?" ia balas bertanya.
Chanyeol mendapati dirinya menatap ke dalam mata Baekhyun. Sejenak ia ragu, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau apakah hal itu terlalu berisiko.
"Kenapa?" tanya Baekhyun sekali lagi.
"Karenaaku merindukanmu," kata Chanyeol pelan.
Mata Baekhyun melebar kaget dan napasnya tercekat.
"Karena aku membutuhkanmu," lanjut Chanyeol. "Karena kurasa kau sudah cukup lama berpikir dan sekarang saatnya kau kembali padaku. Karena aku ingin kau tahu bahwa perasaanku sekarang masih sama seperti dulu. Dan karena aku ingin tahu apakah kau sudah percaya padaku, walaupun hanya sedikit."
Baekhyun membuka mulut, tetapi tidak ada yang keluar. Ia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Aku ingin kau percaya padaku," lanjut Chanyeol, masih menggenggam tangan Baekhyun. "Aku ingin kau percaya ketika kukatakan bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu. Kalau perlu, aku bersedia menghabiskan sisa hidupku menebus apa yang dilakukan kakakku padamu. Asal kau tetap bersamaku. Di sisiku."
Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, tidak... Ia tidak pernah menyamakan Chanyeol dengan kakaknya dan ia tidak pernah menyalahkan Chanyeol atas apa yang dilakukan kakaknya. Ia tidak ingin Chanyeol merasa bersalah dan ia tidak ingin Chanyeol menebus apa pun. Tetapi saat ini ia masih tidak mampu bersuara karena air mata mulai mencekat tenggorokannya.
"Dan di atas segalanya," lanjut Chanyeol, "aku ingin kau percaya padaku ketika kukatakan bahwa aku mencintaimu."
Baekhyun hampir yakin jantungnya berhenti berdebar sesaat dan ia harus memaksa dirinya bernapas karena kalau tidak ia pasti akan pingsan di tempat. Otaknya juga mendadak kosong sejenak. Selain suara Chanyeol dan debar jantungnya sendiri yang kembali berdebar keras, Baekhyun tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Dunia seolah-olah mengecil di sekeliling mereka berdua.
"Itulah yan ingin kukatakan padamu pada saat terakhir kali kita bertemu," kata Chanyeol. Matanya tidak lepas dari mata Baekhyun. "Itulah yang ingin kukatakan padamu."
Sebutir air mata jatuh ke pipi Baekhyun dan ia menghapusnya dengan tangannya yang bebas. Kemudian ia menunduk menatap tangannya yang lain yang masih berada dalam berada dalam genggaman Chanyeol. Perlahan-lahan ia menarik tangannya. Kali ini Chanyeol membiarkannya, walaupun dengan enggan. Chanyeol sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Baekhyun. Ia merasa sangat gugup. Jantungnya berdebar begitu keras. Ia sudah mencurahkan seluruh perasaannya. Ia sudah melakukan semua yang bisa dilakukannya. Sekarang semua terserah pada Baekhyun.
Hidupnya... hidupnya kini ada di tangan Baekhyun.
Baekhyun kembali mendongak menatap mata Chanyeol. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Perlahan-lahan ia maju selangkah mendekati Chanyeol, lalu berjinjit, dan melingkarkan kedua lengannya di leher Chanyeol, dan menyandarkan dagu di bahunya.
Sejenak Chanyeol tetap diam tak bergerak. Ia terlalu tercengang untuk bergerak. Ia terlalu takut untuk bergerak. Ia takut ini hanya mimpi. Ia takut kalau ia bergerak maka mimpi ini akan buyar dan Baekhyun akan meninggalkannya. Tetapi ia bisa merasakan kehangatan Baekhyun, bisa merasakan debar jantung Baekhyun di dadanya, bisa mendengar tarikan napas Baekhyun di telinganya. Dan ia bisa mendengar suara Baekhyun...
"Aku," gumam Baekhyun lirih, "percaya padamu."
Kata-kata itu hanya berupa bisikan, tetapi itu sudah cukup bagi Chanyeol. Ia memejamkan mata sementara rasa lega dan bahagia membanjiri dirinya. Rasanya seolah-olah beban berat yang mengimpit dadanya selama ini akhirnya terangkat. Akhirnya ia bisa bernapas.
Saat itulah ia baru bisa menggerakkan kedua tangannya yang sejak tadi terkulai di sisi tubuhnya. Dan ketika kedua lengannya melingkari tubuh Baekhyun, ia merasa benar. Ia merasa mulai sekarang ia akan baik-baik saja. Mulai sekarang segalanya akan baik-baik saja.
Lalu ia mendengar Baekhyun kembali berbisik, "Dan... terima kasih karena sudah menungguku."
.
.
.
.
.
.
"Mereka berpelukan," bisik salah seorang kru yang mengintip dari lubang kunci pintu ruang rias.
Mata Yoora melebar. Ia termasuk orang yang ikut berdiri bergerombol bersama para kru yang penasaran dengan apa yang terjadi di balik pintu ruang rias. "Mereka berpelukan?" tanyanya penuh semangat. Lalu keningnya berkerut samar. "Astaga... Jangan-jangan gadis itulah alasan Chanyeol berubah senewen selama ini. Mungkinkah? Jadi itu orangnya..."
"Sekarang mereka berpandangan," kru yang sedang mengintip itu kembali melaporkan dan semua orang di belakangnya serentak ber-"oh" dan "ah" dengan gembira. "Gadis itu menangis, tapi juga tersenyum. Dan sekarang Chanyeol menyentuh pipinya dan..."
Tiba-tiba ponsel Yoora berbunyi, membuatnya terkesiap keras dan terlompat kaget. Sambil menggerutu ia buru-buru menjauh dari kerumunan orang yang penasaran itu dan menempelkan ponsel ke telinga. "Ya.? Ibu? Ada apa?" Ia berhenti sejenak dan mendengar apa yang dikatakan ibunya. "Ya, Chanyeol ada di sini. Dia tidak menjawab telepon? Mungkin dia mematikannya. Memangnya ada apa Ibu mencarinya?... Mau menjodohkannya lagi? Ya ampun. Dengar, sebaiknya lupakan saja niat Ibu untuk menjodohkan Chanyeol. Aku jamin dia tidak akan mau... Kenapa tidak mau? Karena sudah ada gadis yang disukainya. Itulah sebabnya... Aku juga baru tahu... Tenang saja, kurasa Chanyeol akan segera memperkenalkannya kepada Ibu. Oh ya, Ibu tidak punya masalah dengan orang Jepang, bukan?"
.
.
.
.
.
.
.
Epilog
"JADI katakan padaku bagaimana caramu memaksa Sehun memberikan alamatku di Jepang kepadamu. Aku sudah melarangnya memberitahumu dan aku yakin dia tidak memberikannya begitu saja."
"Tentu saja tidak. Tapi aku juga bukan orang yang gampang menyerah."
"Jadi apa yang kaulakukan?"
"Aku terus merecokinya setiap hari. Sampai suatu hari dia mulai kesal padaku dan berkata bahwa kalau aku bersedia memenuhi satu permintaannya, dia akan memberikan alamatmu kepadaku."
"Permintaan apa?"
"Dia ingin aku menemaninya ke pesta."
"Pesta? Hanya itu?"
"Pesta khusus para gay."
"Oh."
"Hanya itu yang bisa kau katakan? „Oh‟?"
"Kau menyetujuinya?"
"Karena aku ingin mendapatkan alamatmu, ya, aku menyetujuinya."
"Oh... Kau menikmati pestanya?"
"Kau tidak mungkin bisa membayangkan keadaannya."
"Astaga. Ini lucu sekali. Tapi kau berhasil melewati pesta itu dengan selamat, bukan?"
"Nyaris saja."
"Lagi pula Sehun tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku yakin dia pasti menjagamu dengan baik. Dia menyukaimu, kau tahu?"
"Ya Tuhan, apakah kau harus mengatakannya? Maksudku, aku benar-benar tidak perlu tahu soal itu."
"Tenang saja. Sehun bukan orang yang akan mengkhianati sahabat sendiri. Dia tidak akan merampas milik sahabatnya. Dia sendiri yang berkata begitu. Jadi selama kau tetap bersamaku, maka kau akan aman."_
.
.
.
.
.
END
Akhirnyaaaaa! Terima kasih udah mengikuti kisah cintanya Chanyeol sama Baekhyun di sepanjang musim semi ^^
SARANGHAE! :*
