2 : Teman Senasib


Gakuko masih tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri. Pagi itu dia sudah mengelilingi rumahnya hampir sepuluh kali hanya untuk mengecek apakah ada yang berubah dan kalau-kalau ada yang sembunyi. Pasalnya, semua normal- rumahnya tidak berubah satu centi pun. Tapi isinya berubah total.

Ayah dan ibunya menghilang, begitu juga dengan kakaknya. Sebagai gantinya, keluarga Kagamine ada di rumahnya. Lengkap dengan si Kagamine Len teman sekelasnya. Dan mereka mengaku-aku kalau Gakuko sedang sakit kepala hebat sampai-sampai tidak mengenali keluarganya sendiri.

"Gakuko, kau sudah mau berangkat atau masih mau mengelilingi rumah ini?" tanya Len yang sudah siap berangkat.

Gakuko menoleh ke arah pemuda berambut honey blonde yang diikat satu ke belakang (kecil, seperti pisang kecil menurut Gakuko) dengan raut wajah kebingungan. Dia masih tidak mau berangkat ke sekolah dengan suasana hati yang kacau balau begitu. Walau masalah utamanya adalah, Gakuko bisa dibilang mengidap brother complex dan dia belum pernah melewati pagi tanpa bertemu Gakupo.

"Gakuko, ayolah," keluh Len yang mulai frustasi melihat Gakuko kebingungan dari tadi. "Nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit untuk periksa, ya? Tapi kita harus ke sekolah dulu. Atau kepalamu sakit?"

"Aku mau bertemu onii-chan," jawab Gakuko dengan suara pelan. "Kalau tidak ada, aku mau bertemu ayah atau ibu."

Len mengernyitkan keningnya. Baginya, Gakuko sudah hampir gila. Ayah dan ibu mereka (ayah dan ibu Len, maksudnya) hanya bisa melihat Gakuko dengan tatapan khawatir, karena putri mereka (yang mereka anggap begitu) bolak balik menanyakan di mana ayah dan ibunya- padahal mereka jelas-jelas ada di sana. Tapi Gakuko tidak gila, dan dia yakin sekali dia tidak kena amnesia mendadak atau apapun itu.

Ada yang salah.

"Ayo kita pergi dulu," kata Len lagi sambil mengamit tangan Gakuko. "Kami berangkat." Len pamit pada ayah dan ibunya, sekaligus mewakili Gakuko yang masih linglung.

Gakuko tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menarik kembali tangannya dan memegang tasnya erat-erat. Len hanyalah teman sekelasnya meski ada sesuatu yang membuat pemuda itu menjadi keluarganya secara tiba-tiba, dan Gakuko tidak suka bersentuhan dengan orang yang tidak begitu dekat dengannya. Len yang melihat Gakuko menarik diri hanya bisa menghela nafas tipis, dan melihat Len yang menghela nafas tipis Gakuko hanya bisa pasrah. Dia tahu Len pasti sedang berpikir kalau dia bertingkah sangat aneh, meski pada kenyataannya itu bukan salahnya.

"Oh, Kamui-san?"

Gakuko langsung mendongak begitu mendengar nama itu dipanggil. Pertama, karena itu memang namanya sampai tadi malam, dan kedua, dia berharap kalau Len memanggil Gakupo. Tapi sosok Rin di depan pagar meruntuhkan harapannya. Yah, itu bukan salah Rin juga.

Rin melihat Len dengan tatapan lega, dan Len menatap Rin dengan tatapan biasa saja. Kemungkinan besar ingatan kalau mereka saudara kembar terhapus di ingatan Len, dan sosok saudari kembar Rin tergantikan oleh Gakuko. Sebenarnya kalau memikirkan hal seperti itu, tergantikan maksudnya, membuat Rin merasa sedih. Seharusnya tidak ada yang bisa menggantikan posisinya sebagai saudara kembar Len. Dan begitu pula dengan yang Gakuko rasakan, kalau mengingat sekarang dia bukan lagi adik Gakupo.

Tunggu. Tidak, itu salah. Bagaimana pun juga Rin tetap kakak kembar Len dan Gakuko tetap adik Gakupo.

"Halo, er, Kamui...?" Gakuko mencoba menyapa Rin.

Mendengar sapaan yang jelas sangat ragu-ragu itu, senyum Rin mengembang. "Hai, Gakuko," dia memutuskan untuk langsung memanggil nama Gakuko, karena akan sangat aneh kalau dia memanggil namanya sendiri.

"Hai...," sahut Gakuko pelan. Dia melirik Len yang sibuk memakai sepatu. Ini kesempatan bagus, dia bisa bicara dengan Rin. "Len, kurasa aku akan ke sekolah dengan Rin. Aku duluan, ya?"

Len mendongak sedikit dan tampak tidak yakin. "Kau yakin? Kalau kau pingsan di tengah jalan bagaimana?"

Gakuko meringis sedikit mendengarnya. Dia tidak sakit sama sekali. "Aku tidak akan pingsan, aku tidak sakit. Sampai nanti."

Daripada tertahan lebih lama lagi, Gakuko langsung melesat pergi dan berjalan bersama Rin. Mereka berdua langsung berjalan dengan cepat menjauh dari Len. Rin melirik Gakuko yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan horror- antara mau menangis dan senang. Yah, Rin bisa mengerti perasaan gadis berambut ungu itu. Dia sendiri merasakan hal yang sama.

"Biar kutebak, nama keluargamu jadi Kamui, onii-chan ada di sana, dan begitupula dengan ayah dan ibuku. Dan semua itu terjadi begitu kau bangun tidur," sembur Gakuko dengan cepat.

Rin sampai kesulitan untuk menangkap kata demi kata yang Gakuko ucapkan saking cepatnya gadis itu berbicara. "Oke, itu benar. Hal yang sama pasti juga terjadi padamu," katanya.

"Ya, meski rumahku tidak berubah sedikit pun, kalau kau tidak menghitung papan namanya," lanjut Gakuko yang mulai tenang.

"Sama," Rin mengangguk.

"Kau tahu sesuatu?" tanya Gakuko lagi.

Rin menggeleng sambil menghela nafas panjang. Untuk dua alasan; karena kejadian aneh itu dan karena Gakuko juga sama tidak tahu menahunya soal posisi mereka yang tertukar. Melihat Rin yang menghela nafas seperti itu, Gakuko langsung tahu kalau dia dan Rin sama nasibnya. Dan mereka tidak bisa membayangkan kalau mereka harus hidup seperti itu terus selamanya; menjadi anggota keluarga orang lain, dan hanya mereka yang mengetahui hal itu. Itu akan menjadi hal yang sangat mengerikan.

"Gakuko-chaaann!"

Gakuko dan Rin menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. Dari belakang, seorang pemuda berambut hijau teal dengan warna mata senada tampak berlari tergesa-gesa ke arah mereka dengan senyum lebar di wajahnya. Itu Hatsune Mikuo, teman sekelas Rin.

"Senangnya bisa bertemu denganmu begini!" serunya sambil tertawa riang begitu dia sampai ke tempat Gakuko dan Rin.

Gakuko mengerutkan keningnya, dan Rin buru-buru menarik Gakuko mendekat agar bisa membisikan sesuatu.

"Sepertinya ingatan semuanya tentangku berganti jadi kau," bisik Rin. "Kau kenal dia, kan? Panggil saja Mikuo langsung."

"Apa? Aku bahkan tidak mengenalnya selain nama!" balas Gakuko dengan suara rendah yang tertahan.

"Aku dan Mikuo berteman baik, aku tidak mau kalau saat semuanya normal nanti bayangan Rin di kepalanya jadi jelek," kata Rin lagi. "Pokoknya bersikap natural saja."

"Aduh, nanti malah jadi runyam kalau aku berpura-pura jadi kau, Rin," keluh Gakuko.

Mikuo yang melihat kedua gadis itu kasak kusuk tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi.

'Dasar anak perempuan, sukanya bisik-bisik,' batin Mikuo sambil mencondongkan tubuhnya ke arah mereka.

"Jangan nguping!" tukas Rin dengan nada kesal. Dia menahan muka Mikuo dan mendorong pemuda itu- seperti kebiasaannya kalau Mikuo mendekat saat dia jelas-jelas tidak ingin didekatinya.

"Aduh duh, Kamui-chan jangan galak-galak dong," rintih Mikuo yang langsung berdiri tegap dan mengusap-usap hidungnya yang sakit.

Gakuko hanya bisa menjerit dalam hati karena barusan Rin menodai 'image'-nya, dan Rin hanya bisa meringis begitu sadar kalau dia kebablasan.

"Kukira ini tidak akan mudah," kata Rin.

"Dia teman baikmu kan? Jujur saja," kata Gakuko dengan putus asa. Dia tidak memiliki teman dekat, jadi dia tidak bisa bercerita pada siapapun- kecuali kakaknya.

"Kalian membicarakan apa? Festival sekolah?" tanya Mikuo.

"Jangan," bisik Rin. "Mikuo itu idiot tingkat dewa."

Gakuko mengerutkan keningnya.

"Kalian mau membuat acara rahasia di festival sekolah?" tanya Mikuo lagi.

Gakuko mengerang pelan. Dia tidak mau hidup sebagai seorang Kagamine.

Dia seorang Kamui.