3 : Privasi
Satu hal yang sangat mengusik pikiran Gakuko adalah privasi keluarganya. Dari yang sudah dia amati, tidak ada perubahan perilaku orang-orang di sekitar dia dan Rin. Dan itu akan sangat menyulitkan kalau keluarganya juga tetap bersikap sama. Bagaimana pun juga, ada hal yang disembunyikan keluarganya dari orang-orang luar.
Gakuko tidak tahu apakah Rin bisa dipercaya atau tidak, tapi sekalipun Rin tidak bisa dipercaya sepertinya dia tidak bisa melakukan apapun. Saat ini posisinya adalah sebagai 'Kagamine Rin', bukan 'Kamui Gakuko'. Bukan lagi gadis maniak terong yang mendapat perlindungan dari sang kakak, tapi sebagai seorang gadis maniak jeruk yang seharusnya menjaga adik kembarnya.
Tapi Gakuko tetap setia pada terong, dia belum siap memakan jeruk yang asam dan banyak bijinya.
Oke, kembali ke permasalahan pokok. Sekarang Gakuko hanya bisa diam di atas ranjang Rin sambil melihat sekeliling kamar. Rin dan Len masih tidur sekamar, dan Gakuko belum siap kalau harus tidur sekamar dengan laki-laki yang tidak ada hubungan darah dengannya.
'Tapi mungkin ini salah satu rahasia Rin...,' pikir Gakuko yang sedang berusaha ber-positive-thiking. Setidaknya, kalau dia memiliki satu rahasia Rin, dia bisa mempertahankan rahasianya dengan mengancam Rin. Meski keadaan mereka sebenarnya 50:50, dan belum ada jaminan kalau satu kamar dengan adik kembar adalah sesuatu yang rahasia bagi Rin.
Tring. Tring. Tring.
Gakuko langsung mengangkat ponselnya. Sebenarnya nama yang tertera di layar cukup membuatnya kecut hati. Dia takut apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.
"Gakuko? Bisa jelaskan padaku? Kenapa aku harus pergi ke gunung untuk berlatih? Ini kan hari Jum'at, seharusnya sudah termasuk akhir pekan kan? Terus kakakmu ngoceh-ngoceh soal meditasi apaan sih?" tanya Rin bertubi-tubi begitu panggilan tersambung.
Gakuko menghela nafas tipis. Seperempat dari kekhawatirannya memang terjadi, tapi itu belum semua. Masih ada kesempatan kalau Gakuko mau melindungi rahasia 'kecil' milik keluarganya.
"Oke, bilang saja kau ada janjian belajar- emm membuat kue terong dengan temanmu. Aku akan ke sana," jawab Gakuko sambil berusaha tetap tenang.
"Kue terong? Kau bercanda?!" pekik Rin dengan nada frustasi.
Gakuko meringis mendengarnya. Dia tahu reaksi orang-orang akan bervariasi kalau dia menyebutkan jenis makanan itu.
"Percayalah, kau akan lolos dari jadwal mengerikan itu," kata Gakuko lagi.
"Oke, aku tidak mau tahu kalau itu sampai gagal," jawab Rin dengan malas, lalu menutup panggilannya.
Gakuko bergegas menuju rumah Rin. Dia harus sampai secepat mungkin, karena dia tahu kakaknya bukanlah orang yang mudah dibohongi. Kalau dia sendiri sampai kesulitan membohongi Gakupo, maka adalah hal yang hampir mustahil bagi seorang Rin untuk membohongi Gakupo. Kecuali Rin memang adalah seorang pembohong yang sangat handal.
"Gakuko, kau mau ke mana?"
"Hat—Mikuo?" Gakuko menghentikan langkahnya. Sebenarnya masih agak canggung kalau harus memanggil orang yang tidak dekat dengan nama kecil, tapi Gakuko belum ada rencana lain selain mengikuti saran Rin.
"Kau mau ke mana?" tanya Mikuo lagi. Dia mengenakan topi baseball dan membawa tongkat baseball. Mungkin dia akan atau habis bermain baseball, meskipun dia hanya memakai kaos putih biasa dengan celana jeans setengah tiang.
"Ke rumah Rin," jawab Gakuko. "Aku buru-buru. Duluan, ya."
Gakuko langsung berlari lagi, dan keningnya berkerut saat melihat Mikuo ikut berlari di sampingnya. Pemuda itu hanya bisa nyengir saat Gakuko mendelik ke arahnya.
"Aku ikut," katanya dengan suara setengah terputus-putus. "Lagian ini kan weekend. Biasanya main game dengan Len?"
"Lagi nggak mood," jawab Gakuko seadanya. Main game dengan Len? Jangankan main, menyalakan PlayStation saja dia tidak bisa. Gakuko mengerang dalam hati. Kebiasaan sehari-hari dia dan Rin bisa dibilang bertolak belakang, dan itu benar-benar merepotkan.
'Tapi Rin bilang jangan cerita ke Mikuo,' ujar Gakuko dalam hati
'Dia yang paling mengenal Mikuo. Mungkin Mikuo itu rempong, jadi dia tidak mau.'
Gakuko mempercepat larinya.
'Tapi bagaimana kalau itu hanya pola pikir Rin yang agak aneh?'
Gakuko menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah bercat coklat dengan pagar hitam. Ditekannya bel rumah dan menunggu seseorang keluar. Mikuo masih diam, mengikuti Gakuko. Tak lama, Rin keluar dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya yang berseri-seri- karena Gakuko berhasil datang dan menyelamatkannya dari jadwal antah berantah.
Meski Gakuko datang dengan Mikuo.
"Akhirnya kalian datang, ayo mas-"
"Temanmu ada yang laki-laki juga?" tukas Gakupo yang tiba-tiba muncul dari belakang Rin.
Mikuo tersenyum iseng ke arah Gakupo. Dia tahu seniornya itu sedikit mengidap sister complex, dan dia tidak merasa segan ataupun tidak nyaman karenanya. Justru dia malah ingin mengerjai Gakupo dengan dekat-dekat ke Rin.
"Buat seksi angkat barang," jawab Rin dengan asal. Dia mengisyaratkan Gakuko dan Mikuo untuk masuk, lalu dia berbalik dan masuk duluan.
Gakuko dan Mikuo masuk ke dalam rumah. Sedikit, tapi Gakuko merasa sedih saat melihat Gakupo yang sangat akrab dengan Rin. Dan terlebih, Gakupo mengabaikan Gakuko. Yeah, itu bukan salah siapapun. Dia sedang menjadi Rin sekarang, bukan Gakuko. Rin juga pasti merasakan hal yang sama saat melihat Len perhatian padanya, pasti.
Jadi mereka senasib.
Padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun, dan semuanya terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan.
Gakuko masuk ke ruang keluarga. Dia melihat sekeliling, itu pertama kalinya ia berkunjung ke rumah teman setelah sekian lama (meski isi rumah itu telah berganti menjadi keluarganya sendiri), namun ia tidak pernah menyangka akan berkunjung dalam keadaan seperti ini.
"Kau sakit?" tanya Mikuo dengan polos sambil menempelkan keningnya ke kening Gakuko.
Gakuko reflek mundur saat melihat iris hijau Mikuo sangat dekat dengannya. Semburat merah menghiasi kedua pipinya, dan dia merasa sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang, dan semakin kencang saat melihat wajah polos Mikuo yang kebingungan melihat reaksinya. Berdegup kencang karena antara gugup dan kesal.
"Jangan tiba-tiba begitu," tukas Gakuko setelah dia berhasil pulih dari rasa kagetnya. Wajahnya masih memerah, tapi jantungnya sudah lebih tenang sekarang.
"Kenapa? Habis kau terlihat pucat, aku khawatir. Siapa tahu kau demam," ujar Mikuo dengan santai dan kalem.
Gakuko mendelik ke arah pemuda berambut hijau itu. "Kan bisa pakai tangan!"
"Kurang efektif buatku," jawab Mikuo lagi, masih dengan sama polosnya.
Gakuko mengerang putus asa. "Kita ini perempuan dan laki-laki lho! Jangan asal begitu!"
Mikuo terbahak-bahak mendengarnya. "Aduh-duh- Gakuko! Kau ini kenapa, sih? Itu kan sudah biasa kita lakukan. Kau ini seperti baru bertemu denganku hari ini saja."
'Memang kita baru bertemu hari ini!' pekik Gakuko dalam hati.
Tapi dia tahu dia tidak bisa meneriakan hal itu. Sambil berusaha menenangkan dirinya, dia beranjak menuju dapur dan berniat untuk benar-benar membuat kue terong. Hari itu sudah sangat mengesalkan dan melelahkan, dia butuh penghiburan. Kue terong kesukaannya akan menjadi penghiburan yang pas.
Ah, tapi... Dia tidak bisa makan bersama-sama dengan Gakupo. Sekalipun makan bersama, dirinya hanyalah teman dari adiknya di ingatan Gakupo saat ini. Gakuko menelan ludah perlahan. Menyadari keadaan bahwa keluarganya lupa dengan dirinya membuat sekujur tubuhnya menggigil. Itu sangat mengerikan. Rin juga mengalami hal seperti itu, tapi tetap saja itu tidak mengurangi rasa sepi dan takut yang mendalam di hati Gakuko. Dia sangat ketakutan.
Grep. Gakuko menahan nafasnya saat merasakan sesuatu yang hangat menempel di punggungnya. Lalu, kedua lengan itu memeluk tubuhnya dari belakang. Hangat, mendebarkan, dan itu membuatnya merasa nyaman sekaligus tidak.
"Kau lagi PMS? Datang ke rumah orang, lalu tiba-tiba bersikap aneh, lalu menangis," kata Mikuo sambil menaruh kepalanya di atas kepala Gakuko.
Gakuko langsung melepaskan dirinya dari pelukan Mikuo. Dihapusnya air matanya, lalu dia berdehem beberapa kali untuk menjernihkan suaranya. Sesepi-sepinya dirinya, setidak enak apapun perasaannya sekarang, masih jauh lebih tidak enak perasaan saat dipeluk Mikuo- yang notabene aslinya hanyalah teman seangkatan.
"Aku baik-baik saja," ujar Gakuko pelan. Dia tidak ingin berbicara panjang lebar saat itu.
"Ayolah, sikapmu itu benar-benar aneh," kata Mikuo lagi.
"Aku mau mencari Rin."
"Dia pasti ada di kamarnya, menyiapkan sesuatu, atau apalah," Mikuo masih bersikeras untuk menahan Gakuko.
Dan Gakuko tidak ingin bersama Mikuo lebih lama dari itu. Jadi dia langsung keluar dari dapur- dan hampir menabrak Rin saking tergesa-gesanya.
"Maaf, aku tidak melihat-"
"Tidak apa-apa," sela Rin sambil tersenyum tipis. "Kita keluar saja, yuk. Cari udara segar, lalu memikirkan cara kembali seperti semula."
Gakuko menatap Rin lekat-lekat. Raut wajah Rin berubah- tampak lebih canggung, seolah tidak senang, tapi berusaha menahannya. Gakuko menggigit bibir bawahnya. Kalau dipikir-pikir, Rin tidak seperti sedang berjalan ke arah dapur saat ia menabraknya. Lebih seperti berdiri mematung.
Mungkin Rin mendengar pembicaraannya dengan Mikuo? Rin juga merasa kesepian karena sahabat karibnya tidam memperhatikannya? Atau—
—Ada sesuatu yang lebih mendalam di antara Rin dan Mikuo.
"Iya, ayo kita keluar," jawab Gakuko sambil tersenyum tipis juga. Dia melirik ke arah dapur, Mikuo sedang berdiri di sana.
"Aku mau keluar berdua dengan Rin sebentar," kata Gakuko dengan sedikit enggan. "Tunggu di sini."
Tidak enak rasanya menjadi orang lain, apalagi dengan cara yang seperti itu. Gakuko dan Rin keluar rumah, mereka memutuskan untuk duduk di ayunan di pekarangan. Semilir angin sore yang sejuk membuat keduanya merasa sedikit lebih baik. Rin mulai melirik Gakuko, gadis itu mengerti betul kalau mulai saat itu ia mungkin akan mendapat teman karib baru. Tapi Gakuko tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Rin- tidak sama sekali. Tapi Rin tidak peduli apakah Gakuko ingin dekat dengannya atau tidak. Ada yang harus ia ceritakan pada Gakuko, sebelum semuanya menjadi tambah runyam.
"Jadi, kau ada sesuatu dengan Mikuo?" tanya Gakuko setelah ia merasa mereka sudah mendapat cukup banyak keheningan.
Rin menghela nafas tipis. Dia membuang arah pandangnya ke samping, sekaligus memastikan kalau Mikuo tidak dalam jarak pandang mereka (setidaknya). "Kurang lebih ya," jawab Rin dengan suara rendah. "Aku dan dia berteman baik, dan kami pacaran. Dulu."
Gakuko melirik ke arah Rin. "Kalian sudah putus?"
Rin mengangguk pelan. Dia menatap rerumputan di bawahnya sambil berayun pelan. "Aku merasa kalau sebenarnya aku hanya menyukainya sebatas teman. Tapi yah, kau tahu, semuanya menjadi agak rumit. Mikuo tidak mau menyerah, dan aku juga senang menjadi temannya. Kami senang bersama-sama, tapi dalam dua sudut pandang yang berbeda. Aku belum bisa memutuskan, karena itu... Tolong bersikap natural saja padanya, tapi tetap menjaga jarak."
Gakuko menggigit pelan bibir bawahnya. Itu bukan permintaan yang mudah baginya. "Aku ini orangnya canggung, apalagi kalau dengan laki-laki. Aku takut akan merusak seluruh image-mu, dan persahabatanmu dengannya," ujar Gakuko pelan. "Kurasa aku akan mengaku kalau aku sebenarnya bukan Gakuko-yang-ia-kenal. Tapi aku tidak akan memberitahu siapa aku yang sebenarnya, jadi kalau dia mendapat suatu penglihatan, dia tidak akan meragukannya sebagai sugesti."
Gakuko menoleh ke arah Rin. "Bagaimana?"
Rin memutar kedua bola matanya dengan cepat. "Yah... Kurasa itu bukan ide yang buruk. Jadi ini seperti semua orang amnesia, dan hanya kita yang normal. Aku penasaran, apa jangan-jangan sebenarnya kita yang amnesia betulan?"
Gakuko tertawa hambar mendengar ucapan Rin. Kalimat itu terdengar mengerikan. Membayangkan kalau ingatannya tentang Gakupo - kakaknya tersayang - selama ini hanyalah kebohongan belaka membuat Gakuko merinding. Rin seharusnya juga merasa tidak nyaman dengan ide itu. Bagaimana pun juga, Gakuko tahu betul kalau si kembar Kagamine sudah seperti pasangan sehidup-semati, dan kenyataan juga tidak bisa berbohong. Dilihat dari sudut pandang mana pun dia tidak ada mirip-miripnya dengan Len sedikitpun, dan sama halnya dengan Rin terhadap Gakupo.
Gakuko terdiam. Matanya menerawang jauh ke depan. Ayunannya berhenti, dan angin sore semakin terasa dingin. "Hei, Rin," panggilnya dengan suara pelan.
Rin menoleh ke arah Gakuko. "Apa?" tanyanya, sambil menghentikan ayunannya juga.
Gakuko menunduk, menggigit bibir bawahnya sedikit. Lalu dia membuka mulutnya. "Bagaimana kalau kita tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan semula kita?"
