4 : Persiapan Festival


Rin menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Hari itu sudah hari ke-4 dia dan Gakuko bertukar kehidupan. Rin masih bersyukur karena setidaknya tubuhnya masih tubuh aslinya, dan rumahnya juga tidak berubah. Tapi masalahnya, 'rumah' itu kan sebenarnya tidak hanya sekedar bangunan, tapi juga isinya. Dan Rin sudah mulai tersiksa dengan rasa rindunya akan keluarganya. Ingin rasanya dia menemui keluarganya dan mengatakan kalau yang menjadi anak perempuan mereka sebenarnya adalah dia; dan bukannya Gakuko. Tapi semuanya tidak semudah itu.

Dan rasanya semuanya akan menjadi lebih rumit lagi, karena festival sekolah akan segera tiba. Dilihatnya kalender di atas meja belajarnya- tanggalnya sudah cukup dekat, dan OSIS akan segera mempersiapkan semuanya. Hari ke-4, dan masih belum ada tanda-tanda akan kembalinya dia ke posisi semula dalam hidupnya. Yang lebih parah, karena ingatan orang-orang di sekelilingnya berubah seolah-olah Rin memang adalah Kamui Rin sejak awal (yang sebenarnya adalah Kamui Gakuko yang menyukai terong dan kendo)— tapi jelas Rin bukan Kamui Rin. Dia tidak suka bergerak terlalu banyak dan benci bela diri, terutama terong, karena dia memang Kagamine Rin!

Poin pentingnya (untuk saat ini), seumur-umur Rin bersekolah sejak SD, dia selalu dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik sebagai wakil ketua OSIS ketika ada festival sekolah, dan membuat festival yang tak terlupakan- dan sekarang Gakuko yang akan (terpaksa) mengambil alih tugasnya! Demi jeruk teraneh di dunia (kalau ada), Rin belum pernah melihat Gakuko sama sekali di suatu acara sekolah atau organisasi. Jangankan sukses jadi panitia, jadi pesertanya saja tampaknya gadis itu tidak pernah. (Rin memang mengkhawatirkan hal itu sedari tadi).

"Aku ingin sekali menggantikannya," erang Rin frustasi sambil membenamkan wajahnya ke bantalnya. "Tapi kalau aku menggantikan Gakuko, kalau nantinya ingatan semua orang kembali normal, maka image-ku yang akan hancur! Masa seorang Kagamine Rin untuk menyiapkan festival sekolah saja sampai harus digantikan? Uh- tidak, aku tidak bisa menggantikannya."

"Tapi aku harus mengawasinya secara diam-diam," gumam Rin lagi.

Atas dasar keputusan itu, Rin mulai mengawasi setiap gerak gerik Gakuko selama di sekolah. Besoknya, pagi-pagi dia sudah berangkat untuk melihat apakah Gakuko sudah datang atau belum. Biasanya, kalau sedang persiapan festival Rin akan datang pagi-pagi untuk mengecek ulang keadaan sekolah agar dapat membuat desain dekorasi yang baik. Meskipun memang bukan dia yang membuat, setidaknya dia bisa mengevaluasinya karena dia juga tahu kondisi lapangan.

Naasnya, bahkan di hari itu Gakuko hampir datang terlambat. Gadis berambut ungu itu sampai di kelas dengan nafas terengah-engah tepat saat bel mulai pelajaran berbunyi. Rin yang melihat itu dari kelasnya hanya bisa diam mematung, berdoa semoga dewa berbaik hati dan membuat gadis maniak terong itu sadar akan posisinya yang menjabat sebagai ketua OSIS.

"Kamui-san, nanti dua jam pelajaran terakhir ada rapat OSIS ya," ujar seorang pemuda berambut biru dengan syal melingkar manis di lehernya.

"Eh? Gaku— maksudnya, aku?" tanya Rin sambil menunjuk dirinya sendiri. "Kau yakin?"

"Kau lagi berusaha melawak, ya?" tanya pemuda itu, Kaito, dengan nada sinis.

Rin hampir melongo mendengarnya. Memangnya sejak kapan Gakuko menjadi pengurus OSIS?

"Kali ini kau harus datang, ya. Ini sudah tahun kedua, jangan sampai tidak hadir lagi," kata Kaito lagi.

"O...ke." Kali ini? Maksudnya, selama ini Gakuko tidak pernah menghadiri rapat OSIS? Pantas saja Rin sampai tidak ingat kalau ada pengurus OSIS yang bernama Kamui Gakuko.

Rin menghela nafas tipis. Lalu dia sadar. Memangnya pengurus OSIS seperti Gakuko yang begitu bisa menjabat jadi ketua OSIS? Bukan, poin pentingnya, memangnya Gakuko akan datang di rapat nanti?! Rin langsung berteriak tanpa suara. Saat ini yang sedang menjadi ketua OSIS bukan dia, tapi Gakuko. Dan karena dalam ingatan orang-orang dia yang adalah Gakuko, maka Gakuko yang sebenarnya malah tidak diperingayi. Anak itu harus datang nanti!

"Ya ampun, sial sekali," keluh Rin.

"Lho? Kamui-chan? Kok di sini? Kelas sudah mau mulai, lho?" tanya Mikuo yang baru saja datang.

"Eh... Ya, aku baru saja mau ke mejaku," jawab Rin dengan bersikap senatural mungkin.

Mikuo menaikan sebelah alisnya. "Bukan. Maksudku, kelasmu bukan di sini, kan?"

"Apa?"

"Semuanya duduk, pelajaran akan segera dimulai!" seru Miriam-sensei yang sudah datang.

"Beri salam!"

"Selamat pagi, Sensei!"

Mikuo sudah duduk di bangkunya, dan Rin masih berdiri mematung di depan pintu belakang. Jantungnya mencelus begitu sadar kalau perannya sedang menjadi 'Kamui Gakuko', dan walaupun sudah hari ke-5 dia menjalani peran barunya itu, dia masih saja belum terbiasa dengan kelas dan sebagainya.

"Rambut kuning berpita besar di belakang, kau Kamui Rin, kan?" tanya Miriam-sensei.

Rin menahan nafas. Dia mengangguk perlahan.

"Apa yang kau lakukan di kelasku?"

"Saya... Salah kelas, Sensei." Rin menjawab dengan sejujur-jujurnya, tapi seisi kelas menganggap itu lelucon dan tertawa lepas. Wajah Rin memerah.

Tubuhnya tetap sama, dia tidak bertukar badan dengan Gakuko, melainkan hanya bertukar kehidupan. Dia menjadi Kamui Rin, dan Kamui Gakuko menjadi Kagamine Gakuko. Bahkan nama kecil mereka tetap sama, benat-benar hanya lingkungan dan peran mereka yang berubah. Tapi, semuanya tetap menjadi sangat rumit.

"Karena ini bukan tanggal 1 April, Kamui-san, silahkan keluar kelas dan kembali ke kelasmu," ujar Miriam-sensei. "Berdoa saja wali kelasmu tidak mengambil tindakan."

Rin segera pamit dan membawa barang-barangnya keluar kelas. Dia mengingat-ingat siapa wali kelas Gakuko. Oh. Guru itu. Guru yang cukup terkenal dengan reputasinya sebagai si Manusia Es.

Rin membuka pintu kelas 2-1 sambil membesarkan hati. "Sensei, maaf saya terlambat."

Hiyama Kiyoteru menoleh ke arah Rin sambil membetulkan letak kacamatanya. "Nah, ini penghuni kelas yang sebenarnya. Apa kau dan Kagamine sedang mencoba suatu lelucon?"

Di belakang, Gakuko berdiri dengan wajah memerah sambil memegang tasnya erat-erat. Rin memberi tatapan penyemangat pada teman senasibnya itu, dan beruntung Gakuko menyadarinya. Gadis itu tersenyum tipis, lalu kembali menunduk.

"Sepulang sekolah temui saya di ruang bimbingan konseling," kata Hiyama-sensei lagi. "Kita akan ngobrol sedikit."

Rin tidak begitu ngeri mendengarnya, tapi Gakuko sudah tampak sangat terpojok ketika guru berambut coklat tua itu mengatakan kalimat itu.

"Nah, Kamui, duduklah. Kagamine, kembali ke kelasmu."

Rin dan Gakuko saling bertukar pandang, lalu mengangguk pelan. Ini memang kecerobohan mereka, jadi mereka hanya bisa pasrah dan berbesar hati.

"Baik, Sensei."


Rapat OSIS akan segera dimulai. Gakuko masih belum datang, dan Rin sudah gatal sekali kakinya ingin mencari gadis itu. Tapi Kaito menahannya, dengan dalih kalau ia membiarkan Rin keluar, maka sampai rapat selesai Rin tidak akan kembali. Sambil berdoa dalam hati semoga Gakuko datang, Rin memikirkan cara agar rapat hari itu bisa berjalan dengan lancar meskipun Gakuko yang memimpin.

"Yak, rapat akan segera dimulai," ujar sebuah suara dari arah pintu dengan tiba-tiba.

Rin menoleh ke arah pintu dengan wajah terpana sekaligus berseri-seri. Gakuko berdiri di sana dan beranjak menuju mejanya. Tanpa disangka, dia benar-benar datang. Tidak terlambat pula.

"Dimulai dari seketaris," ujar Gakuko.

Kaito berdiri dan mulai membacakan rancangannya. Setelah itu, dilanjutkan dengan tim design kreatif visual dan event organizer, lalu seksi kedisiplinan dan keamanan, dan diakhiri dengan target pengeluaran bendahara OSIS. Rin melihat Gakuko yang memimpin rapat dengan cekatan dan penuh wibawa, sama sekali tidak menyangka kalau orang yang tidak pernah mengikuti organisasi seperti itu bisa memimpin sebuah rapat dengan sangat baik. Sedikit, tapi Rin merasa kagum dengan cara Gakuko memimpin rapat.

"Rin, kita mampir ke Lotteria yuk," ajak Gakuko begitu rapat selesai.

"Kita masih ada detensi dengan Si Es, ingat?" Rin menaikan sebelah alisnya.

Gakuko terdiam sebentar, lalu ber-oh-ria. "Kalau begitu, setelah detensi?"

"Boleh saja," jawab Rin sambil membereskan barang-barangnya. "Memangnya kenapa kau ingin mampir ke sana? Kukira kau bukan tipe anak yang suka kelayapan."

Gakuko tersenyum simpul. "Rahasia."


Detensi dengan Hiyama-sensei berjalan dengan tidak begitu menegangkan. Sesekali dia memang mendelik pada kedua murid itu, tapi setelahnya dia membiarkan mereka berdua pulang dengan cukup ramah. Rin menemani Gakuko mampir ke Lotteria seperti janjinya, sekaligus untuk menghibur diri yang barusan terkena detensi. Gakuko memesan 5 tier burger dengan isi ebi shrimp sementara Rin hanya memesan kentang goreng dan soda.

"Kau yakin bisa menghabiskannya sendirian?" tanya Rin saat melihat pesanan Gakuko.

"Tenang saja, aku kuat," jawab gadis itu sambil nyengir sedikit. Dia lalu mengambil tempat duduk yang agak pojok.

"Rin, kau datang ke sini lagi?" tanya sebuah suara tiba-tiba.

Rin langsung mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya; dan dia menemukan seorang pemuda berambut hijau segar dengan warna mata senada di balik kacamata berbingkai hitam tengah tersenyum ke arahnya. Meski cukup tampan, tapi Rin tetap mengerutkan keningnya sedikit. Dia tidak kenal siapa pemuda itu.

"Dia Gumiya, teman masa kecilku," bisik Gakuko pada Rin yang kebingungan. "Say hello saja."

Rin hampir mendelik ke arah Gakuko. Say hello saja dia bilang? Sesantai itu? Sesimpel itu?

"Halo," sapa Rin.

"'Halo'? Rin, kau aneh sekali!" Gumiya tertawa lalu mengacak-acak rambut Rin. "Kau ini kenapa?"

Rin hanya bisa tersenyum terpaksa, lalu mendelik ke arah Gakuko yang pura-pura sibuk dengan makanannya. Gumiya lalu mengambil kursi lagi dan duduk di antara Gakuko dan Rin.

"Teman sekelasmu, Rin?" tanya Gumiya.

"Er... Ya... Bukan," jawab Rin perlahan. Diliriknya Gakuko yang masih sibuk dengan makanannya.

Gumiya menggumam sedikit. Diliriknya Gakuko dan Rin bergantian. "Entah hanya perasaanku saja, tapi rasanya ada yang aneh."

"Begitu?" Rin ikut menggumam pelan. Pikirannya terfokus pada Gakuko yang tampak tidak peduli dengan Gumiya, seolah dia benar-benar tidak mengenal pemuda itu. Rin terus memandangi gadis berambut merah keunguan itu, berharap gadis itu mendongak dan mengatakan sesuatu. 'Apa kita bisa membicarakan ini dengan Gumiya? Dia terlihat normal? Halo? Gakuko?'

"Kau tahu, Gumiya, aku dan Gakuko..."

Gakuko masih sibuk makan. Rin semakin kesal, sekaligus khawatir. Rin benar-benar berharap kalau Gakuko memang sengaja mengabaikannya, bukan ikut kehilangan ingatan seperti yang lainnya.

"Kau dan Gakuko?"

Rin mengerang pelan. "Kami tidak seperti yang kau kenal selama ini, setidaknya tidak seperti yang ada di ingatanmu ini!"

Dan akhirnya dia berhasil membuat Gakuko beralih dari makanannya.