5 : Gumiya
Rin mengerang pelan. "Kami tidak seperti yang kau kenal selama ini, setidaknya tidak seperti yang ada di ingatanmu!"
Dan akhirnya dia berhasil membuat Gakuko beralih dari makanannya.
Gumiya mengerjapkan matanya beberapa kali. Gakuko menelan kunyahan terakhir makanannya. Rin merasa deg-deg-an sendiri. Detik demi detik terasa sangat lambat, dan ketegangan meningkat. Gakuko membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, meneguk minumannya, lalu menyandarkan diri ke sandaran kursi. Dia lalu menatap Gumiya dengan tenang dan ramah. Senyum kecil terukir di wajahnya.
"Halo, ingat aku, kan?"
Rin dan Gakuko menunggu Gumiya sampai selesai kerja sambilan di kediaman Kamui (yang dulunya dengan papan nama 'Kagamine' alias rumah Rin). Tidak banyak yang mereka kerjakan, selain mengerjakan pekerjaan rumah dan mengulang pelajaran hari itu. Kedua orang tua Gakuko, meski tidak mengenali Gakuko sebagai putri mereka, namun tetap berlaku ramah dan hangat pada gadis itu. Rin merasa sedikit canggung di antara 'keluarga'nya sendiri, namun dia mencoba untuk mengabaikannya. Gakuko pasti mengalami hal yang sama dengannya saat berada bersama keluarga Kagamine.
"Len sering mengganggumu, tidak?" tanya Rin yang sudah selesai mengerjakan semua tugasnya dan kini sedang membaca komik di atas ranjang.
Gakuko melirik ke arah Rin. "Tidak juga. Tapi dia memang agak cerewet, kadang. Bagaimana dengan Nii-chan?"
Rin mengedikan bahunya sedikit. "Gakupo-senpai kakak yang baik. Dia perhatian, meski kadang agak over-protective."
Gakuko tersenyum simpul. Kakaknya tidak berubah. "Andai kedua saudara kita bisa mengingat kita," ujar Gakuko sambil menyesap tehnya. "Itu akan sedikit melegakan, kan?"
"Gumiya kelihatannya bisa diandalkan, dia terlihat curiga dengan kita tadi," ujar Rin sambil membolak balik halaman komiknya. "Kalian teman masa kecil?"
Gakuko menyesap tehnya lagi, lalu memutuskan untuk bangkit dari karpet dan duduk di atas ranjang. Dia masih membawa cangkir tehnya. "Kami teman masa kecil. Cukup dekat, dia sudah seperti kakakku sendiri. Dan yah, melihat kenyataan agaknya dia tidak begitu terpengaruh, membuatku cukup senang."
Rin melirik Gakuko dari balik komiknya. "Kau suka pada Gumiya, ya?"
Lalu disusul dengan wajah memerah dari gadis berambut ungu itu. "Tidak juga. Maksudku, itu dulu."
Rin menyeringai sedikit. Tapi tak lama seringainya lenyap bersamaan dengan derap kaki menaiki tangga terdengar. Gumiya membuka pintu dengan hati-hati, dia membawa sekantung makanan dan minuman ringan. Dan beberapa cheeseburger dan kentang goreng.
"Maaf lama," ujarnya sambil menyeringai. "Aku membeli beberapa camilan dan makanan. Mengingat temanku yang satu ini pasti lapar terus karena merasa tidak begitu nyaman." Dia langsung menyodorkan sebungkus cheeseburger pada Gakuko, lalu duduk di atas karpet.
Wajah Gakuko memerah, dan Rin hanya bisa menahan senyum melihat hal itu. Atmosofir ruangan berubah menjadi ceria dalam seketika. Bagaimana tidak? Gumiya menyebut Gakuko temannya, dan dia ingat dengan makanan kesukaan serta kebiasaannya dari kecil. Poin pentingnya, Gumiya memberikannya tepat pada 'Gakuko' yang sebenarnya.
"Ingatanmu betul, ya?" tanya Gakuko sambil mengusap air mata di sudut matanya.
Gumiya terenyum penuh arti. "Mulanya tidak. Maksudku, mulanya aku mengingat Rin sebagai teman masa kecilku yang suka sekali makan cheeseburger. Tapi begitu aku melihat kalian berdua tadi, aku cukup heran kenapa Rin tidak memesan burger sama sekali. Lalu, tiba-tiba bayangan saat Gakuko masih kecil muncul di kepalaku. Dan semuanya terasa aneh dan mencurigakan."
"Lalu akhirnya ingatanmu kembali normal?" tebak Rin.
Gumiya mengangguk. "Begitulah. Aku kembali ingat kalau teman masa kecilku adalah Gakuko, bukan kau. Tapi aku tidak mengerti kenapa mulanya aku memiliki ingatan bahwa itu kau."
Rin dan Gakuko saling bertukar pandang. Akhirnya ada satu orang yang normal, dan mereka tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat saking senangnya. Tanpa ragu-ragu, Gakuko langsung menceritakan semuanya pada Gumiya. Tentang ingatan orang-orang di sekitar mereka berbanding terbalik dengan kenyataan, tentang isi keluarga yang berubah, dan tentang kenyataan bahwa sampai tadi siang hanya mereka berdua yang memiliki ingatan orisinil.
Gumiya mendengarkan dengan seksama, lalu tampak berpikir keras. Dia bukan tipe yang percaya pada hal-hal gaib dan supernatural seperti itu, tapi tiba-tiba saja dia dihadapkan pada realita yang aneh. Sekaligus kejam. Maksudnya, menempatkan anak orang di dalam lingkungan hidup orang lain begitu saja? Kalau ini perbuatan dewa, mungkin Gumiya akan protes ke kuil sesegera mungkin.
"Bagaimana kalau Gakuko menginap di rumahku untuk sementara waktu?" usul Gumiya.
Rin mengerutkan keningnya. Mereka mungkin saja teman masa kecil dan hampir seperti saudara, tapi sampai menginap begitu?
"Bukannya keluargamu belum tentu ingatannya normal juga?" tukas Rin.
Gumiya menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. "Memang belum ada jaminan, sih, tapi aku ada spekulasi sementara. Aku dan keluargaku baru saja kembali dari luar negeri minggu ini, setelah beberapa tahun meninggalkan Jepang. Ada kemungkinan, renggangnya komunikasi dan jarak yang jauh mempengaruhi 'kutukan' aneh ini."
Gakuko tertegun mendengar ucapan Gumiya. Itu pemikiran yang baru! Dia dan Gumiya memang sudah lama tidak saling memberi kontak karena beda zona waktu 12 jam, dan apa yang Gumiya katakan cukup masuk akal.
"Aku tidak masalah kalau harus menginap di tempat Gumiy—"
"Tentu saja masalah!" potong Rin dengan nada sengit. "Ingat, Gakuko, di ingatan semua orang kau masih seorang 'Kagamine Rin'! Aku tidak ingin mempertaruhkan citraku yang jadi jelek karena menginap di rumah seorang laki-laki meski dia teman dekatku. Selain itu, kalian sudah lama tidak bersama, kan? Bagaimana kalau dia sudah berubah? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Kau ingin membuatku tidak bisa tidur sepanjang malam?"
Semuanya terdiam begitu Rin menyatakan pendapatnya dengan sengit. Gadis berambut pirang sebahu itu tampak emosional, namun tak lama dia sadar dan mengatur nafasnya yang saling memburu. Kedua pundaknya kembali rileks, dan wajahnya menyiratkan penyesalan.
"Maaf, aku tidak bermaksud kasar, tapi itu agak mengerikan," katanya dengan suara pelan.
Gakuko menatap teman sepenanggungannya itu dengan lembut, lalu memeluknya. "Terimakasih karena sudah mengkhawtirkanku, Rin. Tapi aku yakin Gumiya tetaplah Gumiya yang dulu."
"Atau, kita bisa menginap di rumah ini," sambung Gumiya dengan cepat. "Ingatan kakakmu tentangku pasti tidak berubah, atau setidaknya tetap menjadi orang yang dekat dengannya. 'Gumiya teman dekat Rin', begitu, kan?"
Rin agak melunak mendengar usul yang kali ini. "Yah, boleh juga." Rumahnya memang agak besar, semakin banyak orang pasti semakin seru. Andai saja Len bisa ikut menginap.
"Aku akan menelepon rumahku dulu," ujar Gakuko sambil meriah ponselnya. Dengan cekatan jemarinya menekan tombol tombol itu. Dia agak gugup, saking senangnya.
"Ya, dengan kediaman Kagamine."
"Len, ini aku, Gakuko. Begini, aku akan menginap di rumah Rin. Kami ada—um— proyek."
"Rin? Kamui Rin?" tanya Len.
"Iya. Kau kenal kan?"
"Adik Kamui Gakupo, tentu saja, ya." Len menjawab dengan ringan.
Memang dia benar-benar mengingatku seperti itu? batin Gakuko.
"Aku akan mengabari Ayah dan Ibu juga," kata Gakuko lagi. "Selamat mal—"
"Aku akan ikut."
"Apa?" Gakuko menaikan suaranya sedikit lebih tinggi tanpa sadar. Rin dan Gumiya langsung mendekat, penasaran.
"Aku akan ikut menginap, aku akan minta ijin pada Ayah dan Ibu untuk kita berdua." Len menegaskan.
Gakuko menatap kedua temannya dengan tatapan bingung, kaget, sekaligus nanar. Dia barusan tidak salah dengar? Kenapa jadi seperti acara darmawisata, sih? Maksudnya, kenapa Len harus ikut-ikutan menginap?!
