6 : Kompromi
Setelah akhirnya semua menginap di rumah Rin, tidak ada yang benar-benar terjadi. Gumiya masih menyelidiki kejanggalan yang terjadi pada Rin dan Gakuko, tapi belum ada kemajuan sama sekali. Gakuko beranggapan kalau tidak adanya kemajuan mereka karena kehadiran Len, yang secara tidak langsung menghambat kinerja Gumiya. Rin, selalu berpihak pada saudaranya, tentu saja tidak menerima pemikiran Gakuko yang seperti itu.
Sebagai gantinya, kini Gakuko dan Rin sering menghabiskan waktu istirahat siang bersama Gumiya di atap sekolah. Pemuda berambut hijau itu memang belum masuk sekolah, karena ia tiba sebelum urusan surat kepindahannya selesai; tapi itu tidak menghalangi Gumiya untuk menemui kedua temannya itu. Dengan cekatan ia berhasil menyelinap masuk ke dalam sekolah. Dan seperti saat ini, ia menikmati bekal di atap sekolah.
Nyonya Kamui membantu Rin membuat bekal untuk mereka semua, tidak terkecuali Len. Bekalnya memang seperti bekal pada umumnya; nasi rumput laut dengan telur dadar gulung manis, sosis gurita, tomat panggang, dan buah anggur. Tapi karena dimakan bersama-sama rasanya jadi jauh lebih nikmat. Atau setidaknya itulah yang Rin rasakan.
"Ibumu tetap hebat dalam membuat bekal ya, Gakuko," puji Gumiya.
Wajah Gakuko memerah karena malu, tapi ia tersenyum kecil dan mengangguk. "Terimakasih. Rin suka dengan masakan ibuku?"
"Untungnya, ya," jawab Rin sambil menelan bulat-bulat sosis guritanya. "Bagaimana dengan masakan ibuku?"
Gakuko mengangguk pelan. "Sedikit lebih asin dari masakan keluargaku, tapi aku cukup suka. Rasanya segar sekali."
"Itulah cita rasa Kagamine." Rin tersenyum bangga. Meski tidak bisa bersama keluarga mereka masing-masing, setidaknya Gakuko dan Rin masih bisa saling bertukar cerita. Itu sedikit menyembuhkan rasa rindu mereka.
Ah, bagaimana cara mengembalikan keadaan seperti semula, ya?
"Oh ya, sebentar lagi darmawisata, kan?" Gakuko mengerjapkan matanya beberapa kali. Itu artinya mereka bisa menyelidiki lebih leluasa, karena sekalian pergi ke wilayah lain tanpa harus bolos sekolah.
"Benar juga. Tapi karena posisiku bukan sebagai ketua OSIS, aku tidak bisa mengatur agar kita berdekatan." Rin menghela nafas panjang.
"Bisa saja," tukas Gakuko yang masih menyantap bekalnya dengan lahap. Agak sulit baginya untuk makan sambil berdiskusi, tapi ia sangat ingin berdiskusi sekaligus lapar. Setelah bekalnya habis, Gakuko melanjutkan perkataannya. "Kalian tulis nama-nama orang untuk satu kelompok dengan kalian, lalu aku akan memegang kertas itu. Ketika pendaftaran dimulai, aku akan langsung menaruh kertas itu di map pendaftaran, sehingga ruang kamar kita bisa berdekatan, begitu pula dengan bangku di bus."
"Tapi urutan kamar kan tergantung guru pembina," ujar Rin lagi. Dan guru pembimbing OSIS yang sekaligus mengurusi darmawisata adalah Hiyama Kiyoteru; si Monster Es. Murid-murid menjulukinya Monster Es karena sifatnya yang dingin dan tegas. Kejam. Tidak toleran. Walaupun tampan.
Gakuko berpikir sebentar. Gumiya hanya diam dan mengamati sedari tadi. Sesekali berpikir akan suatu hal, namun ia tidak menunjukan reaksi sedikitpun.
"Aku bisa bicara dengannya," ujar Gakuko pada akhirnya. "Aku akan berusaha. Selama alasan itu terdengar masuk akal."
"Contohnya?" tanya Rin dengan sebelah alis terangkat.
Gakuko mengedikan kedua bahunya. "Entah, aku belum memikirkannya. Tapi pasti nanti aku dapat ilham, kok."
Dan kedua orang lain itu hanya bisa diam mengulum kayu manis.
TENG TENG
"Ah, jam istirahat sudah habis." Gakuko menoleh ke arah pintu menuju gedung sekolah dengan raut wajah lesu. Ia belum ingin kembali. Meski belum begitu dekat dengan Rin, tapi bagi Gakuko lebih baik menghabiskan waktu bersama Rin dan Gumiya daripada di tengah-tengah teman sekelas yang tidak ia kenal.
"Ayo bergegas," ujar Rin yang langsung membereskan kotak bekalnya dengan tergesa-gesa.
Gumiya masih diam saja. Ia berdiri, membantu Rin dan Gakuko membereskan kotak bekal mereka. "Aku akan menjemput kalian saat pulang sekolah nanti—"
"Jangan," tukas Rin. "Lebih baik jangan terlalu menarik perhatian, atau kau— maksudku kita—akan kesulitan saat darmawisata nanti."
"Perempuan itu mengerikan kalau sudah penasaran," tambah Gakuko dengan suara pelan.
Gumiya ber-oh-ria mendengarnya. Meskipun apa yang dua orang katakan itu benar. Dengan berat hati ia melambaikan tangan, lalu pergi. Gakuko dan Rin juga bergegas kembali ke kelas masing-masing. Rin hanya berdoa semoga Gakuko bisa meyakinkan Hiyama-sensei untuk mengubah urutan kamar, dan Gakuko harus mencari ilham sebelum bel sekolah berbunyi.
Jantung Gakuko berdegup pelan namun keras. Dia sudah berhasil membuat kesepakatan untuk bicara pada Hiyama-sensei, dan bahkan ia sedang duduk di ruang guru matematika yang merangkap guru bidang kesiswaan itu. Tapi justru itu yang membuat Gakuko semakin gugup. Terlebih, ketika Hiyama-sensei menatapnya dengan seksama.
"Jadi, begini." Gakuko berusaha untuk memulai pembicaraan dan langsung pada intinya. "Saya mendapat ide untuk mengubah suasana darmawisata kali ini. Tentu angkatan kami sudah tahu persis seperti apa darmawisata nanti, karena banyak kakak kelas yang bercerita dan tidak berbeda jauh dengan saat SMP. Bagaimana kalau urutan kamar laki-laki dan perempuan diubah?"
"Modus apa yang sedang kau rencanakan, Kagamine?" tanya Hiyama-sensei dengan telak.
Gakuko semakin gugup. Dia tahu sifat wali kelasnya itu, sangat seram— dan sulit dijelaskan dengan detail bagaimana seramnya. Monster Es. Dan Monster Es itu sedang menyerangnya dengan telak. Gakuko segera memutar otaknya.
"Tentu saja, berada pada barisan koridor yang berbeda, jadi bersebelahan. Dan di sekitar tengah adalah kamar guru, karena di ujung tidak diperlukan. Soalnya, yang di ujung kan dekat dengan ruang tunggu utama dan taman. Tentu saja, ada beberapa anak yang sangat baik di sini, yang bisa dipercaya untuk mengawasi juga," lanjut Gakuko.
"Apa motifmu menyarankan ini?"
Telak lagi. Gakuko berpikir keras. Apa alasannya? Karena ingin mendapat kehidupannya yang normal? Dia tidak bisa mengatakan itu pada Hiyama-sensei! "Tentu saja... Ini untuk melatih para remaja untuk hidup berdampingan sebagai laki-laki dan perempuan, sebelum kami melanjutkan ke jenjang masyarakat."
"Maksudmu, mengendalikan emosi dan godaan sesaat?" tanya Hiyama-sensei lagi.
Wajah Gakuko sedikit memerah karena Hiyama Kiyoteru menanyakannya secara langsung. Tapi, ia tetap mengangguk. Lagipula, alasan apalagi yang bisa ia buat? Seharusnya Gumiya yang memikirkan hal ini, ia pandai berkata-kata!
"Akan saya pikirkan," ujar Hiyama-sensei setelah beberapa saat. "Tunggu sampai ada kabar dari saya."
Wajah Gakuko langsung menjadi cerah. Senyum senang pun langsung merekah di wajah mungilnya itu. Sarannya dipertimbangkan! Setengah langkah menuju kembali normal! Aduh, andai saja ia tidak ingat kalau Hiyama Kiyoteru adalah guru sekaligus wali kelasnya, ia pasti sudah menandak-nandak dan memeluk pemuda itu.
"Terima kasih banyak, Sensei!" Gakuko membungkuk dengan hormat. "Saya benar-benar senang saran saya dipertimbangkan."
"Yah, tentu saja itu tidak cuma-cuma," lanjut Hiyama Kiyoteru dengan suaranya yang tenang namun memiliki banyak arti. Kebanyakan arti yang mengerikan. Ia tersenyum simpul, lalu melanjutkan, "ada syarat yang harus kau penuhi."
