8 : Dalang
"Keluarkan koinmu," perintah Hiyama Kiyoteru.
Gakuko tidak banyak merespon, kecuali menuruti perintah gurunya itu. Meski sejujurnya ia agak kesal karena diperintah seperti itu. Ia bukan lagi anak kecil, ia tahu apa yang harus dilakukan ketika berdoa di kuil! Dengan bibir bawah yang sedikit digigit, Gakuko melempar koinnya dan menepuk-nepukan tangannya. Ia tidak tahu ia diajak ke kuil ini untuk apa, tapi yang jelas ia akan memohon semoga semua ini cepat membaik!
"Jangan mengharapkan apapun," ujar Kiyoteru tiba-tiba, sambil mencubit pelan lengan Gakuko—menyebabkan gadis itu melonjak kaget dan langsung menoleh pada sang guru.
"Jangan mendoakan apapun," ulang Kiyoteru sambil menatap dingin Gakuko.
Kedua alis Gakuko nyaris saling bertaut. Ia bingung—tapi juga kesal. Apa maksudnya, ke kuil tapi tidak berdoa? Dan lagi—kenapa telat sekali memberi tahunya? Sepersekian detik lagi ia sudah mengucapkan satu kalimat permohonannya!
"Nee, Gakuko-chan, jangan kaget terus, dong," goda Miki yang langsung memeluk gadis berambut magenta itu dengan lovey-dovey. "Maafkan si Kacamata Idiot ini, ya? Dia terlalu kaku, tapi percayalah—kau tidak akan mau berdoa di kuil ini." Miki mengerlingkan matanya.
Gakuko merasa kekesalannya sedikit mereda. "Kenapa?" tanyanya. "Kukira semua kuil untuk berdoa."
Miki terdiam, lalu melirik Kiyoteru. Kiyoteru hanya menatap Miki balik, lalu mengalihkan pandangannya pada kuil. Dia mengeluarkan beberapa logam uang 50 yen, lalu melemparkannya ke dalam kotak. Ia membungkuk dalam-dalam, menepuk-nepukan tangannya dua kali, lalu membungkuk lagi. Gakuko hanya memperhatikannya dalam diam.
"Dewa di kuil ini adalah dewa rubah," ujar Kiyoteru dengan suara pelan dan tenang, namun tatapannya yang dingin tetap menatap kuil lekat-lekat. "Satu permohonan di kuil ini mampu mengacaukan kehidupan seseorang."
Gakuko menahan nafasnya. Berat badan Miki yang sedikit menindihnya terasa semakin berat, tubuhnya menegang. Kiyoteru berbalik, menatap Gakuko lekat-lekat. Gakuko tidak siap dengan apa yang dikatakan guru itu. Dia tidak siap. Dia menginginkannya, tapi dia tidak siap.
"Ya kan, Kamui Gakuko?"
"Psst— Gumiya!" Rin berbisik di ambang jendela kamar pemuda itu.
Setelah berhasil kabur diam-diam dari Miku, Rin langsung menuju ke kamar Gumiya. Beruntungnya, teman sekamar Gumiya—Len dan Mikuo—sedang pergi entah ke mana. Itu sangat memudahkan Rin untuk memanggil Gumiya. Sudah beberapa saat sejak Gakuko pergi, dan rasanya sudah cukup natural kalau ia dan Gumiya menampakan diri (atau memergoki dengan alibi tanpa sengaja bertemu).
"Kamera ini cukup, kan?" tanya Gumiya sambil menunjukan kamera digital miliknya.
Rin mengangguk semangat, senyum riang menghiasi wajahnya. "Tentu saja. Alibi kita kan jalan-jalan. Ayo, kutunggu di pintu masuk, ya? Jangan lama-lama, nanti mereka keburu hilang!"
"Tidak akan," jawab Gumiya dengan santai sambil mengecek seluruh kamar—apakah ada jendela lain yang terbuka selain jendela tempat Rin mengintip—ataupun kunci kamar sudah ada di kantongnya.
"Kau memantau Gakuko, ya?" tebak Rin. Walau baru beberapa hari ia bertemu Gumiya, namun Rin sudah bisa mengira-ngira kepribadian pemuda berambut hijau itu. Orang cerdas seperti dia pasti sudah berjaga-jaga dengan hal seperti itu.
Dan sesuai dugaan, Gumiya mengangguk. "Aku sudah memberi tahu Gakuko, jadi dia pasti akan selalu bersama ponselnya," jawab Gumiya. "Nah, kau pergilah ke lobi penginapan. Aku akan ke sana sekarang."
"Oke," jawab Rin, lalu melesat pergi. Dia sangat bersemangat. Memang, dia belum mendapat firasat apapun. Tapi, perasaan semangat itu sendiri sudah seperti firasat, kan?
Gakuko mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia nyaris tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Gurunya, wali kelasnya, Hiyama Kiyoteru, baru saja memanggilnya Kamui Gakuko?
"Anda bilang apa tadi?" tanya Gakuko dengan hati-hati, memastikan kalau ia tidak salah dengar.
Miki melepaskan pelukannya dari Gakuko, lalu beranjak ke Kiyoteru dengan senyum isengnya. Gakuko tidak bisa mendapatkan gambaran apapun tentang apa yang telah terjadi. Yah, sebenarnya dia bisa—seperti, Kiyoteru dalang dari semua ini?
"Kehidupanmu jadi kacau, kan, Kamui Gakuko?" ulang Kiyoteru. "Tertukar dengan Kagamine Rin, kan? Dan kau sekarang berposisi sebagai Kagamine Rin, dengan nama Kagamine Gakuko. Benar, kan?"
"Anda ingat semuanya? Ingatan Anda tidak tertukar?" Gakuko langsung bertanya bertubi-tubi, dadanya terasa sesak saat itu. Wajahnya memerah saking senangnya, dan ia merasa air matanya bisa keluar kapan saja. Bagaimana tidak, ada orang yang mengingat semuanya dengan sangat jelas! Tunggu.
"Tapi Anda... Dekat dengan saya, dan—sering berhubungan juga, kenapa— kenapa ingatan Anda—"
Kenapa ingatan Kiyoteru tetap normal? Masa sih, benar-benar dia yang merubah semuanya? Dia yang menimbulkan kekacauan ini? Tapi kenapa?
"Yah, Kiyoteru bertanggung jawab atas semua hal ini, memang," aku Miki sambil mengangguk-angguk pelan, dengan tangan terlipat di depan dadanya. "Aku sudah memperingatkannya untuk tidak berdoa di kuil ini, tapi dia tidak percaya. Dasar, begitulah orang-orang zaman sekarang."
Kiyoteru langsung mendelik ke arah Miki, lalu berdehem pelan. "Intinya, aku minta maaf. Dan aku butuh bantuanmu, dan mungkin Kagamine, untuk menyelesaikan semua ini."
"Tentu saja. Satu lagi, kenapa Anda tidak langsung memberi tahu kami? Kami sangat kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Kecuali Gumiya, ingatan semua orang kacau," ujar Gakuko dengan suara pelan dan agak gemetar, ia masih senang sekali karena akhirnya menemukan solusi yang pasti.
Kiyoteru tampak bersalah, ia menggaruk-garuk pipinya yang barang kali sama sekali tidak gatal. "Ini fatal, dan aku bisa membayangkan Kagamine yang mengamuk-amuk. Lalu, tidak ada kepastian bahwa ingatan kalian tetap. Bisa saja ingatan kalian ikut tertukar. Kalau seperti itu, tidak ada gunanya memperbaiki. Tapi, ketika kau dan Kagamine saling salah kelas, lalu kau meminta perubahan rencana darmawisata, aku sadar kalau ingatan kalian berdua tetap normal."
Gakuko menghela nafas lega. Semuanya benar-benar jelas sekarang, kecuali ia masih tidak tahu apa yang dipinta oleh gurunya itu. Tapi ia akan menanyakannya nanti, mungkin gurunya belum siap untuk menceritakannya.
"Tapi, kenapa Anda hanya memanggil saya?" tanya Gakuko lagi, kini ia sudah agak tenang.
"Seperti yang kubilang, bisa-bisa Kagamine mengamuk-amuk dan semuanya tidak terlalu lancar," jawab Kiyoteru.
"Dan yang penting, salah satu orang yang bersangkutan harus memberikan persembahan uang di waktu yang ditentukan di kuil ini," ujar Miki lagi, sambil tersenyum. "Katanya kau lebih tenang dan penurut. Kalau mengajak Kagamine, bisa-bisa tidak dapat memberikan persembahan tepat waktu."
Gakuko tersenyum canggung. "K-Kurasa, kalau Kiyoteru-sens—Kiyoteru-nii yang menyuruh, Rin juga akan melaksanakannya."
"Aku mengenal murid-muridku, Kamui," tandas Kiyoteru dengan tegas. "Kagamine tipe orang yang agresif, dia akan banyak bertanya, dia akan merasa curiga, dia akan memojokanku. Dan dia tidak akan melaksanakan perintahku sampai aku memberitahu hal yang sebenarnya padanya. Singkat kata, kau lebih naif."
Gakuko tidak tahu harus senang atau tidak atas perkataan Kiyoteru barusan. Ia kira ia dipilih karena sesuatu hal, namun ternyata ia dipilih hanya karena ia lebih diam—lebih naif—lebih pasif. Sama sekali bukan karena alasan lain.
"Kita harus saling bekerja sama untuk ke depannya," kata Miki lagi. "Kau dan Kiyoteru akan melakukan beberapa hal yang diminta Dewa, lalu—"
"Pilih saja Rin," tukas Gakuko. Ia sendiri kaget karena perkataannya itu, tapi ia tidak bisa menahannya, entah kenapa. Apa karena tertukar posisi dengan kehidupan Rin, ia mulai jadi agresif juga? Persetan, Gakuko tidak ingin semua rencana ini ditentukan oleh sebelah pihak. "Rin lebih cerdas, ia lebih memungkinkan untuk melaksanakan banyak hal!"
"Kau bisa dipercaya," kata Kiyoteru lagi.
"Tidak!" Gakuko nyaris berteriak, ia mulai kesal karena gurunya bertindak seolah-olah ia mengetahui seluruh tindak tanduk murid-muridnya. Untuk pertama kalinya, Gakuko kesal atas keputusan sepihak guru itu. "Aku sudah membocorkan hal ini ke teman-teman. Karena itu, pilih saja Rin! Dia bisa berimprovisasi dengan lebih baik. Daripada itu, sekarang adik Kamui Gakupo adalah Kamui Rin, sedangkan aku kakak kembar Kagamine Len. Aku sama sekali tidak akan bisa membantu, sebuah kesalahan besar kalau Anda memilih s—"
"Perasaanku mengatakan, memilihmu untuk menyelesaikan masalah ini akan menjadikan semuanya dengan lebih mudah. Insting itu anugerah dari Dewa, sebagai balasan karena ia mengerjai permintaanku," kata Kiyoteru dengan tenang. Tatapannya kali ini tidak sedingin biasanya. Agaknya ia sadar akan tekanan-tekanan yang telah dialami Gakuko, hingga bertindak dengan keras tidak akan menyelesaikan segalanya.
Gakuko masih menatap marah pada Kiyoteru, namun perlahan-lahan tatapannya mulai melunak. Nafasnya yang tadinya saling memburu, kini menjadi lebih tenang. Tapi ia benar-benar serius dalam mengatakan semua hal itu tadi. Kalau mereka sampai perlu melibatkan Gakupo, ia sama sekali tidak akan bisa membantu. Mungkin ia bisa membantu dengan mengarahkan Rin, tapi— tapi, mungkin bukan itu yang Gakuko harapkan juga. Gakuko menghela nafas panjang, agak menyerah dengan pikiran berkecamuk miliknya sendiri. Sepertinya mempercayai insting pemberian dewa adalah penyelesaian yang paling memungkinkan untuk saat ini. Itu pun kalau Kiyoteru tidak berbohong.
"Baiklah. Tapi aku ingin Rin ikut membantu," kata Gakuko dengan pelan. Setidaknya ia ingin berada di dekat keluarganya untuk beberapa saat ke depan. Ia rindu sekali pada ayah, ibu, serta kakaknya.
Kiyoteru dan Miki saling berpandangan, namun pada akhirnya mereka mengangguk setuju. Tak lama, terdengar suara derap kaki dan suara yang familiar bagi Gakuko maupun Kiyoteru.
"Ah, itu dia Gakuko!" seru Rin dengan semangat, dengan nada seolah-olah mereka memang mencari Gakuko dari tadi dan akhirnya menemukan gadis itu.
Gakuko, Kiyoteru, dan Miki langsung menoleh ke arah asal suara tersebut. Gumiya menyusul di belakang Rin yang tengah berlari dengan semangat ke arahnya. Setelah cukup dekat, Rin lalu menoleh ke arah Kiyoteru, seolah baru menyadari kehadiran guru itu.
"Ah, Hiyama-sensei! Maaf, saya tidak melihat Anda di sini. Begitu pula dengan Anda," ujar Rin, pura-pura kaget dan merasa bersalah, bahkan kepada Miki juga. Secara keseluruhan, Gakuko kagum pada kemampuan akting Rin.
Kiyoteru hanya tersenyum tipis, tapi itu malah membuat Rin merinding entah kenapa. "Kebetulan sekali. Kami baru saja akan memanggilmu, Kagamine Rin," ujarnya sambil membetulkan letak kacamatanya.
Kedua mata Rin dan Gumiya langsung melebar. Rin, sama seperti Gakuko sebelumnya, nyaris tidak percaya apa yang barusan ia dengar. "Kagamine—barusan Anda?"
"Yah, ceritanya panjang. Kiyoteru memang bertanggung jawab atas semua ini, tapi jangan khawatir! Ia sudah menemukan solusinya," sela Miki sambil tersenyum lebar, terlihat jauh lebih ramah daripada Kiyoteru. "Yang jelas, kau dan Gakuko harus bergembira karena akhirnya kalian akan menemukan solusi dari—"
"APA MAKSUD SEMUA INI, SEENAKNYA MEMPERMAINKAN KEHIDUPAN ORANG! KAU TIDAK TAHU BETAPA MENDERITANYA KAMI? SANGAT, KAMI SANGAT MENDERITA!" jeritan dahsyat nan luar biasa Rin nyaris membuat Miki dan Gakuko terlompat kaget, dan Gumiya mengira dirinya tuli sementara.
Kiyoteru memutar kedua bola matanya dengan cepat, sudah menduga hal ini akan terjadi. Dan selama (hampir) setengah jam ke depan, Rin sibuk berteriak, memojokan Kiyoteru, dan mematahkan semua argumen yang guru itu berikan—bahkan meski arguman itu untuk menenangkannya dan menjernihkan keadaan. Gakuko, dan bahkan Miki, kali ini benar-benar setuju mengapa dari awal Kiyoteru memilih Gakuko untuk diajak ke kuil.
Setelah emosi Rin mereda, Kiyoteru mulai angkat suara. "Aku sudah minta maaf, tapi aku tahu maaf tidak saja cukup. Sekarang, kita akan perlu melakukan beberapa hal bersama ke depannya. Yang pertama, kita perlu memanggil saudara kalian masing-masing," ujar Kiyoteru.
"Saudara? Yah, Len ada di sini," jawab Rin, masih agak ketus karena kesal. Gumiya langsung menggenggam tangan Rin, berusaha menenangkan gadis enerjik itu.
"Berarti, tinggal memanggil Gakupo-nii?" tanya Gumiya, berusaha mencairkan suasana yang agak mencengkam itu.
Kiyoteru mengangguk. "Benar sekali," jawabnya. "Dan kita butuh bantuan adiknya agar dia mau rela datang ke sini. Sekarang ini, Kagamine Rin lah yang bisa membujuknya, karena sekarang ia adalah Kamui Rin di ingatan orang-orang."
Rin mencibir kesal, dan Gakuko langsung menoleh ke arah Kiyoteru, agak kebingungan. Ia tahu kalau kakaknya yang sister complex pasti dan hanya mendengar permintaan adiknya semata wayang. Tapi sepanjang sejarah Gakuko hidup, ia tahu satu orang lagi yang mampu membuat Gakupo rela berkendara jauh hanya untuk mengunjungi kuil terkutuk yang dewanya iseng.
"Kenapa tidak memanggil nii-san sendiri, Kiy—Sensei?" Gakuko kembali menggunakan kata 'sensei', karena ada Rin dan Gumiya. Bahkan, ia tetap mengecilkan suaranya saat bertanya, kalau-kalau Kiyoteru tidak ingin yang lain mendengar. Gakuko juga mengabaikan raut wajah Miki yang tampak terganggu karena merasa kalau Kiyoteru dipanggil seperti itu (sepertinya Miki sangat peka perasaan dan telinganya). Yah, Gakuko sendiri dulunya sempat merasa canggung akan hal itu.
Kiyoteru menatap Gakuko, tidak banyak bicara. Ia hanya mengedikan bahunya, seolah tidak ingin membicarakan hal itu sekarang. "Nah, Kagamine, aku dan Gakuko akan membuatkan beberapa kalimat yang mungkin akan kau gunakan saat menelepon Kamui Gakupo. Kau pergilah ke suatu tempat dulu."
Rin mengernyitkan alisnya, ia tidak suka diperintah seperti itu, terutama oleh Hiyama Kiyoteru. Tapi Miki segera mengajak Rin dan Gumiya berkeliling, agar kemarahan Rin teralihkan. Sebenarnya Rin tahu tidak sepantasnya ia bersikap keterlaluan, terlalu menyalurkan emosinya seperti tadi. Tapi ia benar-benar marah, sangat amat marah.
Terlebih, karena ia sepertinya ketinggalan banyak hal!
Di sisi lain, Gakuko merasa kalau permasalahannya saat ini bukan hanya soal kehidupannya dan Rin yang saling tertukar.
A/N : YAK, SAMPAI JUGA DI CHAPTER INI. Silahkan komen, review, ataupun favorit, ya XD Tenang, ff ini pasti tamat, kok /eh.
