Lee Seokmin - Hong Jisoo

M | PWP | Romance

-o0o-

You can leave this page if you don't like this story

Nara's


"Kau bersumpah belum pernah melakukannya, Jisoo?"

"Oh, Tuhan! Aku bahkan selalu melakukannya dengan Hansol. Kami tak pernah bosan mencoba berbagai gaya baru."

"Kupikir hanya aku dan Soonyoung yang stuck di sisi monoton seperti itu. Ternyata Jisoo jauh lebih buruk dariku..."

"Junhui gege saja tak pernah berhenti bermain."

"Lain kali kusuruh Mingyu menemui Seokmin. Kekasihmu itu butuh banyak ilmu darinya."

Jisoo menggeleng kuat-kuat sembari menutupi telinganya. Tidak! Ia pulang dari Jeju bukan untuk mendapat olokan dari teman-temannya karena—

hanya karena ia bercinta dengan amat sangat biasa.

A d u h.

Ya, ya memang benar Jisoo pernah bercinta dengan Seokmin –'pernah' dan 'sering' menunjukkan perbedaan kuantitas yang sangat mencolok-. Ya, itupun jika Seokmin kelepasan setelah menciumnya sebelum tidur. Dan hal itu mereka lakukan dalam jangka waktu sebentar –keburu mengantuk, alibi keduanya-.

That's all.

Maksudnya, Jisoo dan Seokmin menjalani hubungan secara biasa. Tak pernah sekalipun mereka mencoba hal-hal 'ekstrim' yang sering menjadi bahan obrolan teman-temannya.

"Jisoo, bercinta seperti itu sangat kuno. Kau harus mencoba hal baru."

"Hal seperti itu lumrah dilakukan pasangan untuk menjaga hubungan mereka. Agar tak cepat bosan sehingga diam-diam bermain dengan orang lain."

"Eung, maaf Jisoo, tapi apa kau pernah membaca kamasutra sebelumnya?"

"Junhui gege punya satu. Terkadang kami berdua memilih gaya apa yang ingin dilakukan."

"Koleksi DVD Mingyu mungkin bisa membantumu dan Seokmin."

Jisoo memijit kepalanya yang semakin berdenyut. Tak mau memikirkan perkataan mereka lebih jauh dan memilih untuk melepas penat di balkon.

Angin malam yang dingin ditambah keadaan sekelilingnya yang sepi membuat pikiran Jisoo kembali menerawang. Lelaki itu tanpa sadar mengembuskan napas berulang kali.

Ia mengenal Seokmin sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Meskipun lebih muda darinya, akan tetapi Seokmin berkali lipat lebih dewasa dibandingkan dirinya. Teman-temannya bilang –terutama Seungkwan-, Seokmin yang hiperaktif amat cocok dengannya yang lembut. Beberapa orang yang baru mengenal mereka bahkan selalu berkata bahwa Seokminlah yang jauh lebih tua –dari segi usia- dibandingkan Jisoo.

Mereka pun berkencan berkat bantuan Seungkwan dan Minghao. Kedua orang itu mengatakan Seokmin telah lama menyukainya namun tak memiliki keberanian barang seujung kuku pun untuk mengutarakannya secara langsung. Dengan rencana picisan persis dalam drama-drama melankolis, Seungkwan dan Minghao memberikan surat kaleng kepada Jisoo dan Seokmin dengan perintah menemui satu sama lain di halaman belakang sekolah, seolah-olah Jisoo benar-benar menerima surat itu dari Seokmin, begitu pula sebaliknya, sehingga bertemulah keduanya dengan kecanggungan luar biasa.

"Hm, ada apa, Jisoo sunbae?"

"Bukankah seharusnya aku bertanya itu padamu?"

"Tapi, ini—" Seokmin menunjukkan surat beramplop biru dengan namanya yang tercetak jelas di bagian depan pada Jisoo.

"Minghao bilang ini darimu."

"Aku, aku juga mendapatkan ini dari Seungkwan." Giliran Jisoo yang mematung sembari menunjukkan surat beramplop merah muda ke hadapan Seokmin.

"Benarkah? Engg, kupikir kita sedang dikerjai."

"Kupikir juga begitu."

Namun tak disangka, kecanggungan itu malah membawa keberanian Seokmin untuk mengungkapkan semuanya dengan gamblang di hadapan Jisoo. Tentang rasa cintanya yang begitu dalam, kegugupannya untuk mengatakannya secara langsung, sehingga Seokmin hanya mengikuti Jisoo seperti seorang stalker.

"Udaranya dingin. Mengapa malah pergi kesini?" Seokmin tiba-tiba mengambil duduk di sebelah Jisoo. Ia menggosok telapak tangannya, kemudian menangkup pipi Jisoo.

"Pipimu dingin."

Jisoo mengangguk sembari tersenyum lebar. Ia merapatkan diri pada Seokmin, lalu menyembunyikan tubuhnya dalam pundak kekasihnya.

"I miss you."

Seokmin bahkan tak ingat sudah berapa kali Jisoo mengatakan kalimat itu padanya. Ia terus mengucapkan I miss you seolah tak ada hal lain yang menarik untuk dibicarakan. Setelah itu, Jisoo lantas memeluknya dengan erat.

"I miss you too."

"Seokmin, I miss you."

Seokmin menciumi rambut merah Jisoo. Melihat kekasihnya yang manja seperti ini, jelas saja orang-orang mengira Jisoo lebih muda darinya.

"Apa kau tak lelah mengatakannya sepanjang waktu?"

Jisoo menggeleng. Ia tertawa beberapa detik.

"Seokmin, apa selama kita berkencan, aku sangat kekanakan?"

"Ya, kau memang sangat kekanakan." Seokmin menjawab cepat.

"Hey! Aku belum selesai~ Maksudku, apa kau tak menyukai sifat kekanakanku ini? Aku sadar sangat manja padamu, sering meminta untuk cuddling, tak bisa tidur bila tak memelukmu, dan sebagainya. Apa kau bosan dengan semua itu, Seokmin?"

"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Eung, karena kupikir, teman-temanku tak ada yang sepertiku."

Seokmin tertawa menatap ekspresi Jisoo yang begitu lucu. Lelaki itu mengerucutkan bibirnya bersamaan dengan mata yang terbuka lebar.

"Tidak, aku sama sekali tak membenci itu. Karena aku mencintaimu, aku menerima semua sifatmu, kebaikan dan juga keburukanmu. Kekurangan dan kelebihanmu. Aku tak mempermasalahkan sifatmu yang sangat manja, kekanakan, suka mengeluh, cerewet. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana membuatmu nyaman dan tetap bertahan denganku."

Jisoo merasa dirinya tengah berada di lautan penonton dimana Seokmin dengan percaya diri membuka acara dengan menyampaikan pidato sillynya. Sedetik setelah mengakhiri pidatonya, semua mata dalam ruangan itu sontak menatap ke arahnya, menjatuhkan pandangan penuh kekaguman dan juga iri luar biasa.

"Terima kasih karena mencintaiku, Seokmin."

"Terima kasih juga karena selalu ada untukku, Jisoo."

Jisoo kembali meleleh begitu Seokmin merengkuh tubuhnya dari belakang. Seokmin menyandarkan kepala Jisoo di dadanya dan menepuk-nepuk rambutnya.

"Ngomong-ngomong, aku suka warna rambutmu saat ini." Sembari menghirup bau shampo yang menguar dari rambut Jisoo.

"Kau mengganti shampomu, sayang?"

Jisoo mengangguk. "Chamomile, apa kau suka?"

"Suka, tapi sebenarnya aku lebih suka aroma strawberry kemarin. Lebih lembut dan tahan lama."

Jisoo meringis dalam hati. Ia tak mungkin dengan gamblang mengatakan pada Seokmin bahwa Wonwoo menyarankan untuk mengganti shamponya dengan aroma chamomile, hanya karena dapat memikat lelaki.

Uh, lagi-lagi ia sebal harus mengingat obrolan itu!

"Hmm, kalau begitu besok aku akan mengganti shampoku."

"Mengapa? Aku hanya mengatakan lebih menyukai shampo aroma strawberry, bukan berarti kau harus menggantinya." Seokmin terkekeh. Ia kembali menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut Jisoo.

"Kupikir aku mulai menyukai chamomile."

"Katanya, aroma chamomile ini dapat memikat lelaki. Jika kau menggunakan shampo atau parfum chamomile, orang-orang akan langsung mendekatimu. Aromanya benar-benar menggoda, Jisoo!"

"Jika di cerita-cerita, mirip seperti aroma heat omega yang katanya membuat para alpha dan beta tak tahan untuk segera menandainya."

"Kau terlalu banyak membaca cerifa fiktif, Seungkwan."

Jisoo sebelumnya tak yakin dengan ucapan Wonwoo. Akan tetapi begitu melihat respon Seokmin, Jisoo percaya jika chamomile memang dapat memikat lelaki.

Hm, apa aku harus terang-terangan mengajak Seokmin bercinta?

Tapi, tapi aku malu! Kami selalu melakukannya dengan tak sengaja. Jika aku mengajaknya, Seokmin pasti berpikir hal yang tidak-tidak.

"Seokmin, mau bermain ya dan tidak?" di tengah kebimbangannya, Jisoo malah melemparkan pertanyaan konyol pada Seokmin.

Ya dan tidak adalah permainan yang sering mereka mainkan. Dulu. Ketika mereka baru resmi berkencan dan tak memiliki ide untuk menghabiskan akhir pekan. Permainannya sendiri amat sederhana. Jisoo hanya akan melemparkan pertanyaan yang akan dijawab ya dan tidak oleh Seokmin. Memang benar-benar kekanakan. Akan tetapi meskipun terdengar konyol dan tak berguna, melalui permainan inilah Jisoo jadi banyak tahu kepribadian Seokmin.

"Boleh. Kalau begitu aku akan memberi pertanyaan dulu. Hm, apa Junhui jauh lebih tampan dariku?"

Junhui adalah kekasih Minghao yang sekarang sedang menggeluti bisnis properti bersama Seokmin.

Jisoo menggeleng cepat. "Tidak."

"Apa aku bertambah tinggi?"

"Ya. Setidaknya dua senti."

"Ah, kalau tinggiku nanti sama denganmu, orang-orang akan mengira kau hyungku, Seokmin."

Seokmin hanya tertawa mendengarnya.

"Giliranku ya. Apa kemarin bibi Min sempat marah karena aku meninggalkan sepatu di depan pintu kamarnya?"

"Ya, dia sebal karena waktu itu dia baru saja selesai mengepel lantai."

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya bahkan lebih konyol dan hanya membuat perut Jisoo sakit akibat terlalu banyak tertawa. Seokmin bertanya apakah ia cocok memakai choker –yang langsung dihadiahi komentar pedas dan gelengan kuat dari Jisoo-, apakah Jisoo berat ketika digendong, apakah Seokmin pernah memakai celana Jisoo ke kampus. Bahkan pertanyaan seperti 'Apakah dewa Zeus akan marah bila melihat ketampanan Seokmin?' juga terlontar penuh kepercayaan dari bibir Seokmin.

"Giliranmu, Jisoo."

"Ungg, aku bingung harus bertanya apa."

"Tanyakan apa saja, termasuk berapa tinggi balkon ini dengan lantai dasar."

Jisoo memutar matanya, berpikir. Meskipun aneh dan konyol, permainan ini sangat mengasyikkan. Mereka akan melempar pertanyaan tanpa sadar bahwa malam telah semakin larut.

"Ssst, sudah, jangan kau pikirkan obrolan tadi. Mereka hanya bercanda. Kau tahu sendiri bagaimana selera humor mereka."

"Tapi kau juga ikut meledekku, Jeonghan."

"Yaa, itu karena aku memang terkejut. Kupikir kalian yang paling mengerti tentang hal ini dibandingkan kami."

Terkutuklah ingatannya yang terus menampilkan potongan percakapan-percakapan itu.

"Hm," Jisoo menatap Seokmin beberapa saat. Ragu. Mendadak bibirnya bergetar sehingga ia tak tahu harus memulainya dari mana.

"Ya?"

"Hm, Seokmin. Apa—apakah kau mau, engg, bercinta denganku?"

Hening berlalu begitu lama. Jisoo merasa pipinya merah luar biasa. Ia menundukkan kepala dan menggigit bibir kuat. Benar-benar tak sanggup untuk menatap wajah Seokmin.

You have no idea for that silly question, Hong Jisoo! Bersiaplah terkubur dalam-dalam bersama rasa malumu!

Tak disangka, bukannya marah, Seokmin malah mengangkat dagu Jisoo. Menyuruh lelaki itu untuk menatapnya selagi bibirnya tersenyum begitu manis. Jisoo menelan ludah susah payah.

"Ma—maafkan—"

"Ya, aku mau."

Jisoo belum sempat menyelesaikan kalimatnya begitu Seokmin lebih dulu mencium bibirnya, menyesap bibir bawahnya dan memberikan kecupan singkat di sudut bibirnya. Jisoo kontan memejamkan mata dan mengalungkan tangan di leher Seokmin. Menekan bibirnya lebih dalam dan menikmati ciuman itu layaknya candu.

Ciuman itu terlepas begitu Jisoo merasakan tangan Seokmin menangkup pipinya. Lelaki itu mengucapkan satu kalimat bagaikan mantra sebelum kembali mengecup bibir Jisoo.

"Ayo bercinta, Jisoo."


.

.

.

1. Ini no edit haha. Maaf kalau typo, maaf fluffnya kurang nendang dan terkesan buru-buru dicut. Untuk team #JisooManja, selamat menikmati! Ehehe. Actually aku suka Jisoo yang manja begini ehehe. Lucu banget, apalagi kalo udah nemu foto-foto dia pakai bando itu... yalord... aku... nyerah... deh... jadi... cewek :"

2. Tapi di sisi lain aku juga suka #RudeJisoo! T.T Jadi yang minta rudejisoo disini, aku belum bisa bikin. Karena dari awal konsep kasar ff ini Jisoonya emang muanja puol. Mungkin ke depannya aku juga buat ff dengan chara Jisoo yang sedikit cringe judes begitu. Aaaaay mohon dukungannya ya yorobun

3. Cek ff sebelah, Junhao juga update. Aku update mereka berdua barengan, nanti kalau ini udah end kusambung lagi sama ff lain. Disini adakah yang Verkwan shipper? Kalau ada, lebih suka chara Seungkwan yang gimana sih? Cerewet kaya aslinya atau tsundere? :'

4. Emot ' ~ ' di bagian percakapan Jisoo itu ngefeel gak, sih? :' itu sengaja kukasih biar pada bayangin gemesjisoo pas dia bilang gitu. "Aku belum selesaaaaiiiiii." Sambil poutin bibir huehehehe

5. Jangan lupa review ;)

6. Panggil Nara aja ya jangan thor hehe :' aku 97L jadi jangan sungkan panggil nama kalau seumuran \m/

7. Hayuuuu meet up di DE besok. Aku di Green A hehe \m/