Bifurcation

Drabble of Junhao

Wen Junhui - Xu Minghao

T | Fluff | Romance

-o0o-

You can leave this page if you don't like this story

Nara's


Minghao bosan belajar.

Ah, sebenarnya ia bosan belajar bila Junhui terus menerus menumpukan dagu di pundaknya seperti sekarang ini.

"Dilihat dari bayangan layar laptopmu, aku sangat tampan."

Minghao mendengus. Kekasihnya ini memang memiliki kadar kepercayaan diri di atas batas normal!

"Dan tampak sangat cocok denganmu yang manis."

Minghao meleleh mendengarnya. Ia tersipu-sipu.

"Lihatlah, Hao. Wajahmu memerah."

Junhui menegakkan kepalanya dan mengusap-usap pipi Minghao. Ia menciumi pipi lelaki itu dan menghirup aromanya dengan mata terpejam.

"Gege, aku kan sedang belajar. Uh, jangan menggangguku."

"Aku tidak mengganggumu."

Kau jelas-jelas menggangguku. Dengan melihat keadaanmu yang seperti ini, bisa saja aku mendiamkanmu seharian karena—karena kau sangat manja dan manis, gege! Uh!

"Lusa ada kuis, ge. Aku akan belajar sebentar saja, tak sampai tiga puluh menit. Setelah itu kita pergi membeli pao. Ya?"

Meski dengan helaan napas lirih, Junhui pun menuruti Minghao dan pindah ke atas kasur. Memperhatikan kekasihnya yang sibuk menyalin materi dari laptop sembari melipat tangan.

Tiba-tiba saja ia teringat percakapannya dengan Seungcheol dan Mingyu tadi siang.

"Jeonghan memiliki daya tarik tersendiri, yang...entahlah. Aku terkadang berpikir ia bisa mendapatkan kekasih yang jauh lebih sempurna dari aku. Sehingga untuk beberapa waktu, aku sering merasa was-was dan takut bila ia meninggalkanku demi orang lain."

Yang langsung disambung Mingyu dengan anggukan antusias.

"Sama seperti Wonwoo. Ia baik hati dan semua orang menyukainya. Aku malah sering mendapati tasnya penuh surat kaleng dan bunga. Percayalah, aku juga sering merasa takut kehilangan Wonwoo."

Junhui menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan pikiran negatif itu dari otaknya.

Akan tetapi kalimat-kalimat itu malah semakin meracuni kepalanya seperti lebah.

Minghao memiliki daya tarik sendiri. Ia memang tak tampan –Junhui tak ingin menyebutnya tampan hanya karena takut tersaingi-, akan tetapi wajahnya tak pernah bosan dipandang. Senyumnya begitu manis hingga Junhui bersumpah gula dan madu akan menangis bila disandingkan dengan Minghao. Suaranya merdu, dan Junhui selalu kecanduan mendengarnya setiap waktu. Sifatnya yang lembut dan penyayang membuat Junhui semakin jatuh cinta.

Untuk kurun waktu satu tahun, Junhui menyadari betapa sempurnanya Minghao untuk dirinya.

Akan tetapi ia juga takut Minghao akan pergi meninggalkannya demi orang lain yang jauh lebih baik darinya.

Junhui kerap mendapati Minghao keluar dari kelas bersama beberapa temannya –Junhui tak mengenal siapa mereka, namun melihat kedekatan Minghao dengannya, membuat alarm di kepala Junhui berbunyi waspada-. Ia juga sering membaca chat-chat manis di ponsel Minghao seperti 'Selamat malam, Minghao. Mimpi indah, ya. Semoga kau berkenan memimpikanku' atau 'Pagi yang cerah ini tak ada apa-apanya dibandingkan senyumanmu' dan juga 'Jangan lupa makan, Minghao. Telepon aku bila kau sedang tak ada teman makan. Aku akan menemanimu', meskipun Minghao tak pernah membalas semua chat itu. Yang lebih tak masuk akal lagi, seseorang dengan nekatnya memberi bunga pada Minghao ketika mereka sedang berkencan. Junhui hampir saja memukul orang itu bila Minghao tak segera menahannya.

"Maaf, Sehun-ssi. Kami sedang berkencan. Kuharap kau tahu apa yang harus kau lakukan."

"Aku tak percaya kau berkencan dengan lelaki berambut aneh seperti dia."

Junhui benar-benar memukulnya waktu itu. Tepat di rahang. Cukup berhasil membuat Sehun meminta maaf dan pergi dari hadapannya.

Semua kejadian itu lantas membuat Junhui mendapat peringatan keras untuk selalu menjaga Minghao.

Tidak, ia bukannya posesif. Meski untuk beberapa hal ia tak pernah mau berpisah dengan Minghao barang satu detik saja, Junhui lebih suka menyebutnya sebagai,

paranoid.

Dan tolong, jangan tertawa.

"Gege, ayo."

"Eh, oh, kau sudah belajar, sayang?"

Minghao mengangguk. Ia menyerahkan mantel pada Junhui, yang langsung dipakai dengan cepat.

"Cepat sekali."

"Kan tak sampai setengah jam, gege."

Junhui mengangguk kikuk. Efek menghayal membuatnya lupa waktu.

Selesai mengunci pintu apartemen, keduanya segera pergi menyusuri jalanan Seoul yang cukup ramai.

Minghao memang tinggal sendiri di Seoul. Orang tuanya tetap berada di Cina. Ia hanya memiliki paman dan bibi di Gwangju dan Minghao selalu mengunjunginya saat libur sekolah.

Satu lagi yang membuat ketakutan Junhui bertambah adalah, Minghao terlalu mandiri untuk dapat hidup sendiri. Beruntunglah orang yang menikah dengannya besok, semua pekerjaan rumah pasti selalu selesai tepat waktu.

Ey, Junhui. Doktrinlah dirimu sendiri bahwa satu-satunya orang yang akan menikah dengan Minghao adalah kau.

Kencan sederhana pun kembali dimulai. Rencana awal memang hanya ingin membeli pao, akan tetapi melihat bayangan mereka di tiap kaca toko ternyata lebih menarik perhatian. Sudah beberapa toko yang mereka lewati dan keduanya berhenti sejenak hanya untuk berpose dan tertawa gembira. Ada pertunjukan tari jalanan di persimpangan dan mereka dengan senang hati menampilkan ribbon dance, yang lalu mengundang teriakan meriah dari penonton. Seorang pria paruh baya bahkan memberi Minghao sepuluh ribu won saking senangnya. Melanjutkan perjalanan, keduanya bahkan sempat mampir ke photobox dan mengambil foto bersama.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika mereka baru saja keluar dari kedai pao.

"Tadi itu asyik sekali." Ucap Minghao sembari menggigit paonya. Sementara Junhui menyukai pao dengan isian ubi jalar, Minghao lebih suka pao berisi kacang merah.

Junhui mengangguk, masih sibuk memusatkan perhatian pada ekspresi Minghao ketika mengunyah pao.

"Gege, apa aku sebegitu menariknya ketika memakan pao?"

"Segala sesuatu tentangmu selalu menarik, Hao."

"Ah, benarkah?"

"Wajahmu yang tersipu tiap aku memujimu juga selalu menarik untuk kunikmati."

Gosh, jika saja tak ingat mereka sedang berada di jalanan, mungkin Minghao sudah meleleh lebih dulu saking kikuknya.

"Kau mau kuputarkan lagu? Hitung-hitung sebagai teman perjalanan."

"Boleh."

Segera saja Junhui memilih lagu di playlist ponselnya. Sembari menggandeng Minghao, keduanya berjalan ditemani lagu yang kini sudah mulai memasuki bagian reffrain.

I love you, deutgo issnayo?

Only you, nuneul gamabwayo

Barame heutnallyeo on geudae sarang

Whenever, wherever you are

Minghao ikut menyanyi dengan suara lirih, sedangkan Junhui lebih memilih mendengarkan kekasihnya bernyanyi.

"Aku benar-benar suka lagu ini, ge!"

"Mengapa?"

"Tidak tahu, hanya saja artinya amat dalam. Aku bahkan pernah menangis saat mendengarkannya sebelum tidur."

Mendadak Junhui mematikan lagu itu, membuat kerutan tercipta di kening Minghao.

"Mengapa kau mematikan lagunya?"

"Minghao, dengarkan aku. Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur, karena aku takkan mengulanginya untuk kedua kali."

Melihat Junhui yang tiba-tiba berlutut di hadapannya kontan membuat Minghao terkejut. Terlebih ia menggenggam kedua tangan Minghao erat-erat, tak membiarkan satu celah pun untuk melepasnya.

"Gege, apa yang sedang gege lakukan? Bangun, ge."

"Minghao, apa kau mencintaiku?"

Minghao mengangguk cepat. "Ten—tentu saja."

"Seberapa besar rasa cinta itu?"

"Aku tak tahu. Aku tak pernah membatasinya. Aku hanya mencintai gege. Ayolah ge, bangun. Jangan membuatku bingung."

"Mengapa kau mencintaiku?"

Meski kebingungan ditembak pertanyaan beruntun seperti itu, Minghao berusaha menjawab dengan baik.

"Tak ada alasan khusus untuk hal seperti itu."

"Minghao, gege sedang tidak bercanda. Jangan merayu."

"Aku tidak sedang merayu! Gege mengapa bertingkah seperti ini, sih? Aku tak mengerti."

Junhui menghela napas. Perkataan Seungcheol dan Mingyu kembali berputar dalam kepalanya bagaikan kaset rusak. Ia harus meyakinkan Minghao, meyakinkan dirinya sendiri, meyakinkan hubungan mereka yang tetap akan baik-baik saja tanpa kehadiran orang lain.

"Hao, aku takut. Aku takut kau mengenal orang lain yang jauh lebih baik dariku, sehingga kau memilihnya daripada aku. Aku takut kau pergi meninggalkanku demi orang lain. Aku tak siap dengan semua itu, aku hanya menyayangimu. Aku akan benar-benar gila bila kehilanganmu."

Minghao terdiam, berusaha mencerna tiap kalimat penuh nada keputusasaan yang spontan keluar dari bibir Junhui. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang rasional. Mendadak dadanya terasa sesak dan sesuatu berlomba-lomba ingin keluar dari matanya. Sedetik kemudian air matanya meluncur bebas, menetes mengenai pergelangan tangan Junhui.

"Sayang, kau menangis? Mengapa? Apa, apa kau sedih dengan ucapanku?" Junhui segera bangkit dan mengusap pipi Minghao.

Minghao menggeleng. "Aku tak mengerti gege bicara apa. Kukira gege berlutut seperti itu karena akan melamarku. Ternyata—tidak. Aku—aku sudah terlanjur senang tadi."

Giliran Junhui yang mematung. Seketika perasaan bersalah merajai hatinya. Ia segera memeluk Minghao dan mengusap-usap rambutnya.

"Maaf, gege bukan bermaksud menyakiti Hao. Lupakan saja ucapan gege tadi."

Masih setengah terisak, Minghao melepas pelukan Junhui. Ia menyeka air matanya kasar dan menatap dalam manik Junhui.

"Gege, seseorang pasti akan dihadapkan pada banyak pilihan. Ketika sudah sampai pada klimaksnya, maka seseorang harus berani memutuskan. Memang terlihat sederhana untuk memilih. Beberapa orang mungkin akan berkata begitu. Namun faktanya, memutuskan sebuah pilihan tetaplah hal yang kompleks. Bukan hal yang mudah dilakukan. Itulah yang disebut titik bifurkasi."

Minghao menggenggam tangan Junhui sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Aku telah bertemu titik bifurkasi itu, bahkan merasakan bagaimana berada di klimaks masalah itu. Karena aku telah memutuskan untuk memilihmu. Hanya satu-satunya. Bukanlah hal yang mudah, karena ternyata mengiyakan ajakanmu berkencan dulu seperti berusaha mengerjakan essay paling sulit. Tapi pada akhirnya aku tetap menjawab ya, karena hatiku memang memilihmu. Lalu, apalagi yang kau takutkan, ge?"

Tubuh Junhui terasa seringan kapas, kelegaan luar biasa membawanya terbang bebas ke angkasa. Ia bahkan mendengar endorfin dan serotonin di dalam sana bersorak penuh kegembiraan. Ia bahagia luar biasa.

"Terima kasih, Hao. Terima kasih. Terima kasih karena memilihku." Junhui tersenyum kikuk. Ia kembali berlutut di hadapan Minghao.

"Jadi, kau ingin kulamar detik ini juga?"

Minghao sontak menggeleng.

"Hah? Mengapa?"

"Seungkwan bilang, lebih baik menikahinya langsung daripada harus melamar dengan ritual bertele-tele."

"Apa itu sebuah kode, Minghao?"

Minghao kembali menggeleng dengan wajah merah padam, mengundang satu seringai dari Junhui.

"Tidak! Aku masih ingin belajar setinggi-tingginya. Bangunlah ge, lututmu bisa sakit jika terus menerus seperti itu."

"Eum, baiklah. Ayo pulang."

Dengan iseng, Junhui kembali memutar lagu.

It's a beautiful night

We're looking for something dumb to do

Hey baby, I think I wanna marry you

"Ganti lagunya, gege!"

Junhui tertawa keras. Ia mengecup pipi Minghao penuh sayang.

"Ini hanya lagu, Minghao. Bukan apa-apa."

"Tapi itu lagu untuk melamar orang."

"Lalu kau berpikir dengan memutar lagu ini maka aku ingin melamarmu, begitu? Padahal baru sedetik lalu kau berkata ingin belajar dulu."

Minghao tak tahu wajahnya sudah semerah apa sekarang. Menutupi rasa malunya, ia pun berjalan mendahului Junhui. Mengambil langkah lebar-lebar dan menutup telinga.

Junhui kembali tertawa. Ia berlari mengejar Minghao dan menyanyi keras di samping kekasihnya.

"Who cares, Minghao? I think I wanna MARRY YOU."


.

.

.

1. Duhhhh maafin fluffnya yang gagal total aku sama sekali gak jago buat fluff huhu T.T maafin juga selipan tentang bifurkasinya itu maksa pake banget. Niatku sebelumnya buat B ini pake judul bioritim tapi malah lebih gak ngefeel huahaha so aku ganti deh jadi bifurkasi

2. Aku emang lagi denger Always-Yoon Mi Rae pas buat ini jadi maklum terbawa suasana hehe

3. Infinity8's 2018 season greeting coming soon hweee aku tergoda banget buat beli punya dia sama mbak Innocence :'( dan denger-denger, comeback kali ini bakal ada 3 versi berdasarkan unit grup ya? :') *nangis*

4. Aku juga baru update Seoksoo di sebelah. Yuk deh kepoin hehehe

5. Aku emang gak balas review kalian tapi pasti aku baca kok :D Terima kasih banyak buat yang udah berkenan review, follow, juga fav. Kalo ada pertanyaan lain bisa kirim DM yaaa. Soalnya aku gak pasang ffn di hp jadi agak susah mau balasin review hehehe (maklum hp fangirl, RAM mendadak penuh huhu)

6. Drabble ini sampai 26 part mengingat updatenya sesuai abjad. Bocoran aja, next partnya ratenya M huahaha dan mau bikin pwp. Maunya main kasar apa halus neeeh?;_;

7. So, mind to review?

NB : Buat Kuro-berry Saki, thanks a lot for enlightening me! Huhu, aku juga amat sangat menunggu My I di DE besok. Dan warning dari kamu bener-bener bikin aku deg-degan