ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : MorningStar_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri (panggil apa saja bebas.) Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
ROYAL PLEASURES
.
.
Tangannya masih terpaku di atas tuts sementara kedua matanya terkunci pada mata coklat madu milik sang Raja. Seketika Baekhyun merasa udara dingin yang semilir terasa mengambil alih seluruh hidupnya. Ia dapat melihat dengan jelas jika selanjutnya ia akan berada di kandang kuda, menyentuh kuda-kuda kerajaan, sapi atau apapun yang berada disana.
Baekhyun menyangkal dalam hati, mengatakan 'tidak' berkali-kali sedangkan ia sendiri tahu bahwa semuanya sudah terlanjur. Tidak ada kesempatan untuk mengulang waktu kembali.
"Yang—Yang Mulia.." Baekhyun berdiri dan membungkukkan tubuhnya dengan hormat, merundukkan kepalanya, menatap lantai tak berani untuk melirik lagi pada Raja Chanyeol. Meskipun begitu Baekhyun masih merasakan mata pria itu menatapnya, dan Baekhyun pun tahu bahwa dirinya akan berada dalam masalah yang besar.
"Maafkan aku!" ia mencoba untuk menyelinap pergi dari pria yang lebih tinggi setelah meminta maaf, namun sepasang tangan kokoh justru menahannya ketika ia hendak pergi, membuat dirinya terjatuh kedalam kukuhan lengan yang keras tersebut. Nafasnya tersenggal dan Baekhyun tidak yakin jika degup jantungnya pun ikut terhenti.
'tidak..tidak..tidak..'
Ia berteriak berkali-kali dalam hatinya dan mencoba untuk melepaskan diri dengan kasar, namun usahanya itu percuma. Kini ia justru merasakan helaan nafas berat sang Raja di atas kepalanya, menghirup aroma manis bunga lily di kulitnya yang mana membuat Baekhyun bergidik.
"Yang Mulia…" Baekhyun mencoba memanggil Raja Chanyeol untuk membuat tuannya tersebut tersadar dari apa yang sedang dilakukannya, namun tetap tidak berhasil.
"Siapa namamu, manis?" Suara berat Raja Chanyeol berbisik tepat di telinganya dan Baekhyun hampir saja merona. Hampir. Suara sang Raja sangat berat, dan suara beratnya yang berbisik benar-benar mencapai oktaf terendah.
"A- aku… aku tidak…" isi kepalanya benar-benar kacau hanya untuk mencari sebuah jawaban. Baekhyun tidak bisa menyebutkan nama aslinya, namun ia juga tidak bisa berbohong pada Rajanya sendiri.
"Nama- namaku…" ketika Baekhyun memutuskan untuk mengatakannya, ia justru memekik kencang saat sebuah tangan yang meraba pahanya.
Baekhyun belum pernah disentuh oleh siapapun sebelumnya. Karena itu, ketika sentuhan itu mendarat di pahanya ia merasakan sensasi yang aneh dan menganggu, membuatnya ingin mendorong sang Raja menjauh.
"Tidak!" ia mencoba untuk menyingkirkan tangan tersebut, namun tangannya terlalu kecil untuk sekedar melawan tangan kokoh milik tuannya.
"Kau memiliki tangan yang cantik. Mari ikut aku ke kamarku, cantik."
Baekhyun merasakan adanya petir yang menampar wajahnya telak ketika kalimat itu dilontarkan. Ia berteriak sebagai penolakan untuk ikut sang Raja kedalam kamarnya, mencoba usaha sia-sianya untuk melarikan diri dari cengkraman Chanyeol.
"Hey, apa kau ingat bahwa aku ini adalah Rajamu, dan kau diharuskan untuk mematuhi semua perintahku? Atau kau melupakannya, huh?" suara beratnya kali ini dilontarkan dengan intonasi yang berbeda, lamban dengan penekanan yang membuat Baekhyun ketakutan. Juga membuatnya ingat bahwa apapun perintah Raja membawanya pada situasi dimana ia tak memiliki pilihan lain. Jadi pilihan yang ada hanyalah Baekhyun harus ikut dengannya.
"Apa kau ingin aku memanggil para pengawal?" Chanyeol mengangkat alisnya.
"Tidak.. tidak Yang Mulia." Baekhyun merundukkan kepalanya, berhenti dalam usahanya melarikan diri.
"Good boy. Now, let's go."
Seringaian lebar terpatri pada wajah Chanyeol setelah melihat sikap patuhnya pemuda tersebut. Ia harus mengakui bahwa pemuda tersebut benar-benar cantik, kecantikannya yang tidak dapat disandingkan dengan siapapun yang ada atau siapapun yang pernah sang Raja lihat sebelumnya. Dan lagipula, orang lain menggunakan riasan wajah untuk membuat dirinya terlihat cantik.
Hal tersebut justru membuat Chanyeol muak—terkadang mual—ketika orang lain memoleskan make up di permukaan wajahnya untuk terlihat indah, kemudian mereka menggodanya, dan Chanyeol mendapati wajah mereka tidak cantik sama sekali ketika ia membawa mereka ke kamarnya dan mencoba untuk melihat wajah natural mereka. Mereka semua tentu palsu, dan oleh karena itu Chanyeol menendang mereka ke kadang kuda setelahnya.
Ya, Chanyeol mengakui bahwa dirinya memang sedikit egois. Hanya sedikit karena ia tidak tahan pada orang-orang yang terlihat palsu. Mereka semua berusaha untuk menggodanya, berusaha untuk berada di bawah kungkungan sang Raja.
Namun pemuda ini terlihat berbeda baginya. Yang mana membuat Chanyeol sangat ingin mendekatinya, tanpa berpikir bahwa pemuda tersebut merasa ketakuan didalam genggamannya.
.
Perjalanan menuju kamar Chanyeol terasa sangat singkat untuk Baekhyun, dan ia justru merasa ruangan tersebut tiba-tiba mengecil ketika ia berdiri di tengah kamar sang Raja dengan sepasang mata bulat pria tinggi itu yang terus memandanginya, dengan senyuman lebar yang masih terpatri di wajahnya.
Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Baekhyun, namun hal tersebut malah membuat Baekhyun takut dan melangkah mundur dengan gerakan yang refleks.
"No, diam disitu." Chanyeol berbisik seraya melangkah mendekat hingga akhirnya dapat menyentuh Baekhyun. Merasakan kulit yang sangat lembut bahkan mungkin sangat sensitif.
Chanyeol tidak ingin menjauhkan tangannya setelah sentuhan pertamanya. Tidak ingin merasa sia-sia karena Baekhyun benar-benar terlihat cantik, cantik yang tidak memerlukan banyak usaha untuk diubah dengan sebuah riasan wajah. Kecantikannya sungguh murni.
"Kau… benar-benar cantik."
Ditangkupnya wajah Baekhyun untuk Chanyeol satukan kening mereka berdua, untuk Chanyeol menatap lebih jelas pada lensa cokelat tua si pemuda. Mata yang sangat kecil jika harus dibandingkan dengan mata bulat dan besar milik Chanyeol, dan netra tersebut pula memancarkan sorot ketakutan. Chanyeol ingin berbisik lembut padanya, membisikkan kata-kata manis dan memberitahunya untuk tidak perlu merasa takut. Akan tetapi bibirnya sendiri justru bagai memantrai dirinya sendiri, membiusnya, dan membujuknya untuk terus mendekat dan mempertemukan kedua belah bibir itu pada sebuah ciuman.
Dan Baekhyun tidak bisa melawan.
Ciuman ini terasa benar-benar baru untuk Chanyeol, sebuah sentuhan bibir yang membuat seisi perutnya bergejolak dan belum pernah Chanyeol rasakan sebelumnya. Ciuman yang lembut dan membuat kelopak mata Chanyeol tertutup dalam dua detik. Chanyeol membiarkan dirinya terpikat dalam gerakan bibir yang intim, namun Baekhyun tidak.
Ketika ia merasa Chanyeol merundukkan kepalanya untuk mempertemukan bibir mereka, Baekhyun justru merasa seluruh hidupnya bagai balok es, dingin dan kaku. Ia melihat Chanyeol memejamkan matanya, namun matanya bahkan tidak bisa bergerak.
Apakah seperti ini yang seharusnya kau rasakan di ciuman pertamamu? Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. Ia sama sekali tak menyukai hal ini dan yang ia inginkan hanyalah pergi melarikan diri.
Baekhyun menggunakan kedua tangannya di depan dada Chanyeol untuk menekan dan mendorong pria itu menjauh dengan seluruh tenaganya, yang tak diduga membuat sang Raja terdorong dan terjatuh ke atas lantai dingin.
Kesempatan ini digunakan Baekhyun untuk melarikan diri dengan cepat, beruntung pintunya tak dikunci sehingga ia tak perlu kesulitan untuk berlari dan bersembunyi di ruangan yang lain tak jauh dari sana.
Ia dapat mendengar Chanyeol menggeram marah dan memanggil para pengawal, namun beruntung karena Baekhyun tak memberitahu namanya tadi sehingga ia tak perlu takut karena tak akan ada pengawal yang datang mencarinya.
Para pengawal mulai berpatroli di sepanjang istana yang mana disaat itu Baekhyun akhirnya melihat kakaknya di lorong istana.
"Hyung!"
Kris berlari segera menghampiri saat mendengar suara Baekhyun memanggil.
"Kau pergi ke kanan, kau ke kiri. Aku akan mencari di setiap kamar." Perintahnya pada pengawal yang menemaninya, kemudian setelah pengawal tersebut pergi, barulah Kris benar-benar menghampiri Baekhyun.
"Mengapa kau belum tidur, Baek?" Ia bertanya ketika dirasakan adiknya yang memeluknya erat.
"Baekhyun?"
"Hyung, ada apa dengan Raja?" Baekhyun bertanya dengan genangan air mata yang mulai turun membentuk jejak basah di pipinya.
"Mengapa kau menangis, Baek? Tidak ada apa-apa, beliau hanya menemukan mainan barunya dan kemudian orang itu kabur—Oh my God!" Kris menggantungkan kalimatnya sejenak ketika sebuah pemikiran baru melintas di kepalanya.
"Baek, pemuda yang ditemui Raja bukan kau, 'kan?"
Baekhyun hanya bisa menangis lebih keras ketika kakaknya bertanya seperti itu. Ia tidak bisa mengatakan tidak karena Baekhyun tidak bisa berbohong pada kakaknya sendiri.
"Tetapi.. tidak… bagaimana… tidak, pemuda itu tidak mungkin kau karena Raja mengatakan bahwa pemuda yang ia maksud kemungkinan adalah seorang musisi! Atau…apa kau pergi untuk bermain piano sendirian, Baekhyun?"
Pengawal terlihat lebih banyak mengitari lorong, dan suara Chanyeol yang berteriak terdengar dimana-mana.
"Ma- maafkan aku.. kau tahu, aku tidak bisa menjauh dari piano."
"Oh tidak.. tidak dengan saudaraku. Apa beliau menyeretmu, atau.. apa dia melakukan sesuatu padamu? Apa yang terjadi?"
Dengan isakannya, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menceritakan seluruhnya.
"Jadi setidaknya beliau tidak melakukan apapun. Namun, bagaimanapun kau harus melarikan diri dari kerajaan, Baekhyun. Kau… kau harus melakukan sesuatu!"
Baekhyun menengadah melihat kakaknya, menatap mata Kris yang membesar dalam beberapa detik yang terlewati.
"Tapi sudahnya. Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir. Aku disini, aku akan melindungimu. Aku janji."
Namun kau tetap tak akan bisa menjanjikan sesuatu yang diluar kendalimu.
.
Keesokan harinya, Chanyeol memerintahkan seluruh musisi kerajaan untuk berkumpul di ruang singgasana tanpa pengecualian. Tanpa memerintah para pengawal, Chanyeol memeriksa satu persatu dari mereka, dan tentu saja Baekhyun tidak ada di antara mereka semua.
"Tapi.. Yang Mulia!"
"Tidak ada bantahan! Dia sudah pasti salah satu dari mereka namun mereka semua menyembunyikannya!"
Semua para bangsawan kerajaan turut berkumpul, tak terkecuali sang Ratu sendiri.
"Chanyeol!"
"Tidak, Ibu! Mereka semua harus dihukum sampai seseoang memberitahuku dimana dia!"
Kris menelan ludahnya, merasa menyesal karena membiarkan para musisi kerajaan tersebut, namun hal ini menyangkut saudaranya. Bagaimanapun Baekhyun sungguh sangat berharga lebih dari apapun baginya.
"Yang Mulia…boleh kah aku mengintrupsi?" salah satu dari bangsawan kerajaan membungkuk kemudian melangkah maju.
"Bagaimana jika dia sebenarnya bukanlah dari bagian musisi? Bagaimana jika ternyata ia hanyalah pelayan biasa yang memasuki ruangamu untuk bermain musik?"
Kris kembali menelan ludahnya, tahannya terkepal ingin menyerah Chen saat ini juga dan mematahkan leher pria tersebut.
Sedangkan Chanyeol menatap Chen beberapa saat sebelum kemudian kembali bersuara,
"Kau benar! Dia mengenakan seragam pelayan, Oh God! Mengapa aku tidak memikirkan hal ini?"
Kris mengumpat pada helaan nafasnya kemudian menatap pintu.
"Bawa setiap pelayan pria di istana ini kemari, sekarang."
"Yang Mulia!"
"Chanyeol!" Kris dan sang Ratu berteriak bersamaan disaat para pengawal yang lain tersentak.
"Maksudku bukan para pelayan pria tua, tapi bawa pelayan laki-laki semuanya dan serahkan padaku."
Kris harus berbuat sesuatu untuk menghindarkan Baekhyun dari mereka, ia tidak bisa membiarkan saudaranya tersentuh oleh Chanyeol.
"Tunggu! Kris, kau tetap disini."
"Apa?" ia membalikkan tubuhnya, menghadap Chanyeol dengan tatapan tajam yang pernah tersorot dari matanya.
"Tetap disini."
"Tapi—"
"Diam! Tetap disini."
.
"Apa maksudmu?" Luhan mengerjap tak percaya ketika Baekhyun memberitahunya bahwa dialah orang yang sedang Raja cari.
"Itu aku… aku suka memain—tidak, aku harus memainkan piano! Dan tadi malam…" Baekhyun menurunkan pandangannya dan memutuska untuk memandang lantai saat merasa Luhan tak juga mengalihkan matanya dari dirinya.
"Lalu.. lalu…"
Baekhyun tak bisa melanjutkan ucapannya ketika para pengawal kini telah mengepung mereka dari berbagai sudut dan akan membawa mereka ke ruang singgasana.
"Aku pinta kalian untuk kembali, aku tidak punya waktu untuk ini." Dengan intonasi yang berwibawa Luhan berucap hati-hati pada para pengawal.
"Tetapi Lord.."
"Apa kalian semua meremehkanku? Bodoh sekali. Raja tahu siapa aku dan pelayanku ini, jadi tidak ada alasan untuk kami pergi kesana."
Secercah harapan mulai berkilat di mata kecil Baekhyun, ada perasaan lega dan rasa berterimakasih karena Luhan sedang mencoba membelanya.
"Lord Xi, kami tentu tahu. Namun kami lebih baik memilih untuk tidak mendengarkanmu daripada dibunuh oleh Tuan kami karena tak mematuhinya."
"Kau rakyat jelata!" Luhan mendesis, mengejek para pengawal yang berani melawan ucapannya. Namun percuma saja. Karena mereka tetap harus pergi ke ruang singgasana yang dipenuhi oleh berbagai jenis lelaki. Dari lelaki kecil hingga pria dewasa.
"Lu hyung…"Baekhyun menggenggam lengan Luhan dengan rasa ketakutan.
"Hush, semua akan baik-baik saja."
.
Sang Ratu berdiri dari singgasananya, menatap tak percaya pada tingkah laku puteranya yang menjabat sebagai Raja disini.
"Kau gila jika kau yakin bahwa aku akan membiarkanmu mencarinya dari mereka semua."
"Tapi ibu!"
"Dia—siapapun itu—yang bersama Raja tadi malam dipersilahkan untuk maju dan mengatakan apa yang dilakukannya. Dan ketika ia ditemukan oleh orang lain, dia akan mati."
Suara sang Ratu sedingin es yang mana membuat Baekhyun semakin ketakutan. Ia berpaling untuk melihat Luhan menggigit kuat bibirnya. Baekhyun tidak ingin mati, namun tidak juga tahu apa yang harus ia lakukan. Dan jika ia tetap diam seperti ini, ia khawatir hal ini akan menyakiti Luhan dan mungkin Kris.
Perlahan, akhirnya Baekhyun bergerak, melangkah keluar dari kerumunan. Luhan mencoba untuk menghentikannya namun Baekhyun tidak bisa berhenti. Semua orang mundur memberi jalan dan memperhatikan keduanya. Ketika itu pula Chanyeol mendapatkan kembali cahaya pada matanya saat menangkap sosok pemuda mungil itu lagi dalam penglihatannya.
"Kau!"
Ratu berjalan menghampiri Baekhyun demikian pula dengan Kris yang berlari mendekati saudaranya.
"Yang Mulia…" Kris menjatuhkan dirinya, berlutut di hadapan sang Ratu sembari menggigit bibirnya kuat hingga tetesan darah keluar dari kulit yang terkoyak di bibirnya. Ia tidak akan meminta ampunan lagi, tidak akan bisa.
Akan tetapi Chanyeol saat itu turut berdiri, memaparkan sebuah senyuman cerah oleh belahan bibirnya.
"Get away, Kris!"
Setelah mencoba menyingkirkan para pengawal yang lain dan Kris, Chanyeol bertemu dengan wajah marah Luhan dan memilih untuk tidak peduli sedikitpun padanya.
"Pergi! Ada apa denganmu?"
"Kumohon, jangan bawa Baekhyun…" Luhan memohon, mencoba menempatkan dirinya di antara Chanyeol dan Baekhyun yang kemudian mendapat teriakkan dari sang Raja.
"Menjauh darinya, Luhan!"
"Jangan berteriak pada Luhan-ku!" Sehun akhirnya berdiri, menghampiri mereka lalu membawa Luhan dalam rangkulannya.
"Aku pikir kalian lupa bahwa kalian adalah bagian dari keluarga kerajaan, anakku."
Sang Ratu menyerah pada perilaku kedua anaknya. Dirinya dan semua orang di kerajaan sudah hafal betul bagaimana kekuatan kakak-beradik itu jika menyangkut masalah percintaan. Namun yang kali ini adalah kali pertamanya Chanyeol menunjukkan ketertarikannya pada seseorang.
Sayangnya seseorang itu adalah Baekhyun.
"Lu, ayo pergi." Sehun berbisik pada kekasihnya, berusaha menjauhkan Luhan dari pandangan Chanyeol, karena Sehun tahu bahwa watak kasar dan egois kakaknya akan keluar ketika pria itu benar-benar menginginkan sesuatu.
"Tidak, aku tidak bisa bisa membiarkan Baekhyun dilempar ke kandang kuda seperti yang lainnya! Aku sudah memberitahumu bahwa Baekhyun adalah anak yang baik, Sehunnie…" Sehun menggelengkan kepalanya untuk menjawab tidak dan menjelaskan bahwa tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Luhan tetap dibawanya pergi bersama dengan para pelayan dan Sang Ratu sendiri, meninggalkan Kris, Chanyeol, Baekhyun dan beberapa pengawal tetap di posisinya.
"Aku memohon maafmu, Tuanku. Aku… aku tidak bisa berpikir sebelumnya." Baekhyun berlutut di hadapan Chanyeol saat dirinya tak bisa lagi menahan diri untuk tetap berdiri. Mereka telah menemukannya, bahkan lebih buruk dari dugaannya karena Baekhyun sendiri yang melangkah maju dan menampakkan diri. Tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain terus berharap jika seandainya ia tidak pernah datang ke istana kerajaan. Ia dengan jelas dapat mengingat tatapan lapar Rajanya tersebut, dan ciuman itu…
"Mengapa kau masih disini?" Chanyeol bertanya pada Kris. Chanyeol tak bisa menunduk untuk menatap Kris karena sayangnya pria itu tak kalah tinggi dengannya, bahkan sepertinya Kris lebih tinggi darinya.
"Dia…Baekhyun adalah saudaraku."
"Oh benarkah?" Chanyeol menatap keduanya, memperhatikan wajah mereka dan tidak menemukan kemiripan sedikitpun. Tidak sama sekali.
"Terserah. Berdirilah Baekhyun, dan ikut aku."
Baekhyun masih diam. Ia tidak bergerak selain merundukkan kepalanya dan meremas lengannya sendiri. "Tidak, tidak dengan kamarmu lagi."
"Apa yang kau—"
"Aku tidak bisa membiarkanmu membawanya, Yang Mulia. Dia saudaraku."
Kris turut berlutut di samping Baekhyun, membawa lengan panjangnya merangkul bahu adikknya.
"Mengapa kalian semua berpikir kalian dapat memerintahku, huh? Apa kalian semua lupa pada siapa kalian harus patuh? Atau kau juga tak ingat ketika kau memohon padaku untuk melepaskan Zitao karena dia adalah kekasihmu? Aku bahkan membuat lelaki Cina itu sebagai kepercayaan kerajaan, seorang Lord! Ck seriously. Lalu Sehun yang memintaku untuk tidak membawa Luhan, lalu…"
Chanyeol tak melanjutkan kalimatnya dan memutuskan untuk mencengkram lengan Baekhyun dengan kasar dan menariknya pergi.
"Yang Mulia!"
"Pengawal! Tahan dia untuk diam!"
Dua orang pengawal yang setia berada di samping singgasana seketika menghampiri Kris, menahan pria itu dengan dua tangan yang kuat. Cukup kuat untuk membuat Kris tak dapat melawan dan hanya bisa melihat Chanyeol pergi dengan Baekhyun yang menangis di tangannya.
"Baekhyun! Baekhyun!"
Teriakannya menggema di dinding ruangan yang hanya dipijak oleh dirinya dan dua pengawal yang menahannya. Dengan lirihan yang terlontar pelan dari bibirnya, "tidak, jangan Baekhyun" membuat Kris sendiri menyadari bahwa usahanya sungguh sia-sia.
Pupil mata Chanyeol membesar dengan sorot bagai serigala lapar menatap bagaimana figure seorang Baekhyun, mangsanya.
Baekhyun sungguh indah. Kecantikannya yang sederhana namun tidak biasa. Sebuah rompi yang tak begitu besar di balik segaram pelayannya melapisi tubuhnya dan pinggangnya dengan sempurna, yang mana justru membuat Baekhyun terlihat semakin kecil namun memikat disaat bersamaan.
Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menyentuh kulit di balik rompi itu, namun Baekhyun segera menghindar.
"Berhenti menangis, rubah kecilku. God, aku tak habis pikir bagaimana bisa manusia sepertimu benar adanya."
Tubuh Chanyeol terasa begitu menjulang ketika ia memindahkan tubuh keduanya ke atas ranjang dan memeluk tubuh Baekhyun dengan erat. Chanyeol dengan lembut mencium jejak basah dari air mata yang Baekhyun keluarkan.
"Aku tidak ingin melakukan apapun padamu. Namun kau sungguh memabukkan."
Chanyeol memejamkan matanya dan dengan perlahan menelusuri setiap bagian pada wajah Baekhyun dengan hidungnya. Baekhyun memang sudah berhenti menangis, akan tetapi sebuah perasaan menjijikan mulai timbul dalam dirinya.
"Rileks…" Chanyeol mempertemukan bibir mereka untuk yang kedua kalinya. Mencium bibir yang—bagai dimantrai sihir—terasa lebih manis dari saat pertama kali Chanyeol merasakannya.
"Gerakkan bibirmu di bibirku, vixen. Come on." Chanyeol berbisik di bibir Baekhyun, namun Baekhyun tidak juga menggerakan bibirnya seperti apa yang Chanyeol pinta.
"Aku tidak menginginkan ini, Yang Mulia." Baekhyun membalas dengan berbisik pula dan malah mendapati Chanyeol tersenyum.
"Jangan memanggilku seperti itu. Damn it, kau sangat…sangat…" Chanyeol menghentikan kalimatnya bersamaan dengan helaan nafas beratnya yang ikut terhenti saat Baekhyun menggerakan kepalanya, menjenjangkan lehernya di depan bibir serigala yang lapar itu.
"Hentikan aku, Baekhyun.. karena aku tak dapat menghentikan diriku."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Aku bakal update setiap minggu, itu termasuk update cepet gak? Cepet dong ya. segini juga uyuhan aku lagi banyak tugas. hehe
Makasih yang sudah mau review/fav/follow. Apresiasi kalian disalurkan(?) buat author asli yang bikin cerita ya ; )
See You Next Week.
