ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
Dia tidak berhenti. Chanyeol tidak berhenti. Ia tetap menghitung sampai tiga dan mendapatkan tiga ciuman pula dari Baekhyun. Tetapi bibir candu Baekhyun tak bergerak tidak juga membiarkan bibir Chanyeol untuk terus bergerak.
"Baek, mengapa kau sangat sangat manis…"
Chanyeol melanjutkan menciumi Baekhyun. Kali ini tidak di bibirnya, melainkan di sudut bibirnya. Lidah Chanyeol menyapukan bagian bibir merah Baekhyun kemudian membawa gerakannya turun kebawah.
"Yang Mulia…" Baekhyun merintih. Namun rintihan lembutnya justru membuat Chanyeol lebih menginginkannya.
"Lehermu…"
Chanyeol menghisap jakun kecil Baekhyun, yangmana membuat Baekhyun kembali merintih.
"Yang Mulia, kumohon…" tindakan Rajanya sudah diluar kendali lagi, dan Baekhyun merasa terlalu lemah untuk mendorong Chanyeol menjauh.
"Biarkan aku mencintaimu, Baekhyun. Biarkan aku bercinta denganmu." Chanyeol mendapatkan hitungan ke empatnya untuk menindih tubuh Baekhyun di atas kasur. Dengan Baekhyun yang menatap Chanyeol dengan sorot ketakutan di matanya, dan mendapati mata Chanyeol yang diselimuti nafsu lagi.
"Tidak, Yang Mulia. Kumohon jangan!" Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghindar dan menghentikan Chanyeol yang berusaha untuk mencium bibirnya. Namun apapun usaha yang Baekhyun lakukan selalu terlambat. Chanyeol berhasil meraup bibirnya, menjilat dan menghisap di bagian manapun Chanyeol bisa.
"Mhmm…" Chanyeol mendesah diantara ciuman yang dia dapatkan. Matanya terpejam menikmati keintiman yang dirasakannya. Chanyeol bergerak untuk menggenggam kedua lengan Baekhyun dengan satu tangannya, dan menggunakan tangan yang satunya untuk gerakan yang lain.
"Please, biarkan aku bercinta denganmu, my precious…"
Tidak ada penolakan ketika Chanyeol menyelundupkan tangannya yang lain di balik baju yang Baekhyun kenakan. Ia membelai kulit punggung Baekhyun kemudian merambat hingga ke perut. Chanyeol mendapati kulitnya teramat lembut, yang mana membuatnya merasa sangat candu untuk menyentuh kulit itu.
Chanyeol ingin mencintai Baekhyun, ingin memiliki Baekhyun untuk dirinya seorang, dan tidak akan ada yang berani untuk menghentikannya. Chanyeol bahkan tidak mendengar suara memohon Baekhyun yang memintanya untuk berhenti. Chanyeol tidak mendengar tangisan Baekhyun yang kini tak lagi terdengar. Chanyeol tidak melihat reaksi Baekhyun ketika ia memberikan sentuhan-sentuhan itu. Segalanya yang Chanyeol lihat hanyalah kecantikan Baekhyun yang melebur bersatu bersama suaranya dan jari-jari sensitifnya. Ketika ia menyentuh pemuda itu, Chanyeol merasa tersengat oleh sebuah arus listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan kemudian meledak di bagian bawah tubuhnya.
"Aku mencintaimu, damn it, aku mencintaimu, vixen…" Lirih Chanyeol, seraya perlahan lahan melucuti kemeja putih yang Baekhyun kenakan. Chanyeol tidak ingin melakukannya terburu-buru, dan pastinya tidak ingin membuat Baekhyun ketakutan. Ia ingin Baekhyun merasakan cintanya. Merasakan cintanya dari sentuhan yang Chanyeol berikan, dan tentu saja, ia ingin Baekhyun untuk membalas cintanya.
Baekhyun merasakan nafas terakhirnya berhembus meninggalkan tubuhnya ketika ia melihat tubuhnya tak lagi dibalut pakaian. Chanyeol memulainya dari kulit yang putih dan lembut dari dada Baekhyun, yang mana membuat Chanyeol semakin jatuh dan jatuh lagi pada pesona Baekhyun.
"Aku tidak akan… aku tidak akan memaksa. Namun biarkan aku…sedikit saja." Chanyeol berbisik sebelum meraup satu nipple kemerahan Baekhyun.
"Ahhhh!" Baekhyun setengah berteriak saat merasakan adanya rasa aneh yang membawanya pada sensasi baru.
"BIARKAN AKU—Ah!" suara bernada tingginya tiba-tiba bertambah oktaf menjadi lebih tinggi lagi kala Chanyeol menggigit nipplenya cukup keras.
Baekhyun tak bisa berpikir. Kesadarannya hilang terhimpit oleh rasa nikmat dan jijik dalam waktu yang sama. Tentu saja, apa yang Chanyeol lakukan padanya terbelih lidah yang nikmat itu memberikan sesuatu yang baru pada tubuhnya. Mengizinkan tubuhnya untuk merasakan sesuatu yang bahkan tak pernah Baekhyun rasakan sebelumnya. Tapi Baekhyun tidak menginginkan ini semua. Ia tidak ingin merasakan semua perasaan itu, Baekhyun tidak menginginkan Chanyeol.
"Beautiful…beautiful…" Chanyeol terus berbisik seraya menurunkan ciuman dan jilatan oleh lidahnya ke perut Baekhyun. Dan setiap inci dari kulit yang Chanyeol sentuh, Chanyeol jatuh cinta padanya.
"I love you, beautiful."
Tetapi, sama halnya seperti Chanyeol yang tak mendengar permohonan Baekhyun untuk berhenti. Baekhyun pun tak mendengar kalimat-kalimat manis yang Chanyeol lontarkan. Baekhyun jua tak melihat adanya cinta yang membawa dalam sorotan mata tuannya itu. Sejauh yang dapat ia lihat hanyalah iris berlakut nafsu, nafsu dan nafsu.
"Baekhyuniee…"
Chanyeol berdiri, dengan cepat melepaskan pakaiannya sendiri. Kemeja dan rompinya telah terlepas meninggalkan tubuh Chanyeol yang kini benar-benar telanjang.
Ketika ia kembali untuk menindih tubuh Baekhyun, Chanyeol membawa kedua lengan Baekhyun untuk melingkari bahunya, sedangkan dirinya mencium Baekhyun dengan penuh gairah dan perlahan-lahan menggesekkan lututnya pada penis Baekhyun.
"Hmmpfm!" Baekhyun hendak protes, namun ia tak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Chanyeol menindih Baekhyun sepenuhnya, tanpa menggunakan tangannya untuk menompang tubuh, ia menekan tubuhnya pada tubuh Baekhyun di atas ranjang dan terus mencium Baekhyun seperti orang bodoh.
"AH!" Chanyeol mengerang nikmat ketika sesuatu di selangkangan mereka bergesekkan saat Baekhyun melengkungkan punggungnya.
"Chanyeol… kumohon jangan…"
Chanyeol membuka matanya untuk menatap Baekhyun, dan ia dengan jelas dapat melihat bahwa Baekhyun sama sekali tak menikmatinya.
"Baek… hanya sedikit, baby. Please…"
Chanyeol tetap melanjutkan, menggerakkan dan menggesekkan kenjantanannya dengan milik Baekhyun untuk kembali merasakan kenikmatan yang mengambil alih tubuhnya juga disertai kupu-kupu yang saling mengepakkan sayap di perutnya.
"Aku mencintaimu." Chanyeol membisikkannya di telinga Baekhyun sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh pemuda itu setelah orgasme dari gesekkan penis mereka.
Chanyeol menenghembuskan nafasnya bersamaan dengan mata Baekhyun yang kembali berair. Keduanya sama-sama lelah, pun Chanyeol yang tak lagi bisa bergerak.
"Terimakasih, baby. Kumohon jangan menangis." Chanyeol mencoba menenangkan Baekhyun dengan membawa tangannya untuk mengelus wajah merah itu. Namun Baekhyun menepis tangan Chanyeol dengan kasar kemudian menjauhkan tubuhnya.
"Aku akan membuatmu mencintaimu."
Chanyeol bergumam lebih kepada dirinya sendiri. Ia mengambil selimut untuk menutup tubuh mereka berdua. Chanyeol memeluk erat Baekhyun dari belakang. Dadanya telanjangnya bersentuhan langsung dengan kulit punggung Baekhyun.
Chanyeol tertidur tanpa mendengar isakan pilu dari pemuda yang dipeluknya.
Yang kini merasa dirinya kotor. Setiap bagian yang Chanyeol sentuh masih terasa membakar kulitnya, dan dua lengan yang melingkar di pinggangnya tak membuatnya merasa lebih baik.
Tetapi, apa yang terasa lebih buruk adalah sesuatu yang Baekhyun sendiri tidak yakin. Menyangkut perasaan Chanyeol padanya, apakah benar itu cinta ataukah hanya nafsu belaka?
.
.
Piano yang Chanyeol janjikan kini sudah ada di tangannya. Jemarinya dengan lembut menyentuh tuts-tuts piano juga dengan senyum mengembang bagai mawar mekar di bibirnya. Matanya menilik setiap bagian dari piano perak itu seperti anak anjing.
Chanyeol tersenyum memperhatikan Baekhyun dari jarak yang aman. Pemuda itu terlihat berbeda, sungguh berbanding terbalik dengan bagaimana Baekhyun ketika bersamanya. Dan hal itu membuat Baekhyun jatuh lebih dalam pada pesona Baekhyun.
Cahaya dari matahari yang terbenam sampai pada pipi Baekhyun yang sedang memejamkan matanya menikmati nada-nada yang keluar dari piano. Jemarinya yang cantik menekan tuts dengan acak namun menghasilkan melodi yang indah. Suaranya mengalun menyertai nada santai yang Baekhyun mainkan. Dengan cahaya senja yang menghias wajahnya.
Baekhyun telihat seperti manusia yang terbuat dari porselen. Kulitnya bersinar di bawah cahaya senja. Mata yang seperti anak anjing itu mengikuti pergerakan dari jemarinya yang menekan tuts. Mulutnya terbuka sedikit untuk menghembuskan sebuah nafas. Suaranya berubah dari alunan lembut menjadi bisikan lirik, yang kemudian menjadi nyanyian dari penggalan lagu. Rambutnya turut bergerak mengikuti kepalanya, namun helaian itu justru terlihat menyempurnakannya.
Chanyeol berjalan mendekati pemuda itu, kemudian menempatkan dirinya untuk turut duduk di samping Baekhyun.
Baekhyun tersentak saat merasakan bobot lain yang menduduki kursi, namun kembali memilih untuk lanjut bernyanyi.
"Kau sangat indah. Apakah seseorang pernah mengatakannya padamu? Tidak, katakan tidak. Biarkan aku berpikir bahwa aku adalah yang pertama dan hanya satu-satunya yang mengatakannya padamu."
Baekhyun tidak menjawab, hanya memfokuskan dirinya pada lagu yang dimainkannya.
"Bernyanyi untukku, cantik, kumohon."
Baekhyun sering menerim ciuman dari Chanyeol, namun tidak lebih dari itu. Di malam hari, pelukan Chanyeol selalu menggodanya untuk terlelap, dan ia memiliki ruangannya sendiri, di samping kamar Chanyeol. Ketika Baekhyun berjalan-jalan, semua orang membungkuk padanya, semuanya menghormatinya bagaikan Baekhyun adalah rajanya. Ketika Baekhyun berjalan-jalan di taman atau di sekitaran istana, lengan Chanyeol selalu melingkar di pinggangnya, dan Chanyeol juga selalu menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun kapanpun itu. Ada sesuatu yang mengisi jiwa Chanyeol sedangkan jiwanya sendiri kosong. Dirinya tidak merasakan apapun pada Chanyeol, dan Baekhyun tak bisa berbuat apa-apa.
Jarak dan tatapan kosong di mata Baekhyun tidak pernah menatap yang lain, dan hal tersebut sebenarnya mematahkan hati Chanyeol. Ia hanya ingin Baekhyun balas mencintainya, peduli padanya dan membalas ciumannya. Namun yang Chanyeol terima hanyalah,
"Kau mungkin memiliki kekayaan juga kekuasaan untuk menentukan hidupku atau merubah takdirku. Namun kau tak akan pernah mendapatkan cintaku."
.
.
"Maafkan aku jika aku salah, namun apakah kau pernah melihat bagaimana cara Lord Wu menatap kau dan Chanyeol?"
Luhan bertanya pada Baekhyun ketika keduanya sedang berada di kamar Baekhyun.
"Apa maksudmu?"
"Aku bersumpah hanya melihat tatapan itu di mata Sehun ketika ia sedang cemburu. Aku bersumpah, Baekhyun!"
Baekhyun sontak berdiri dan mendelik pada Luhan.
"Apa kau gila? Kris adalah kakakku, hyung!"
Luhan mengangkat bahunya, namun tak lagi meminta maaf.
"Kau harus melihatnya sesekali. Caranya melihat hickey di lehermu, dan ketika Raja bersandar di bahumu, Baekhyun kau harus melihatnya. Aku tidak tahu, mungkin aku salah dan ya—dia hanya kakak yang over-protective."
"Pangeran Sehun!" seseorang berteriak dari luar kamar Baekhyun, diikuti dengan pintu yang terbuka dan memunculkan sosok Sehun yang berjalan memasuki kamar.
"Berbicara tentang over-protective…"
"Xiao Lu…" Sehun berbisik ketika mendaratkan sebuah ciuman di kening Luhan, yang mana membuat wajah Luhan memerah sempurna.
"Okay, okay. Bayangkan saja jika aku tidak ada disini." Baekhyun tertawa yang kemudian disusul oleh tawa Luhan dan Sehun.
Sementara Chanyeol tak mencerminkan prilaku seseorang dari kerajaan, Sehun justru sebaliknya. Wajah datar dan cara berjalannya yang sederhana memang pantas untuk Sehun disebut 'Pangeran'. Tidak ada yang cukup baik untuk Sehun kecuali Xiao Lu kesayangannya, dan akhir-akhir ini juga pada Baekhyun. Sehun membutuhkan waktu untuk mengakui jika Baekhyun dan Luhan hanyalah teman.
"Lu, kita harus pergi untuk membuat beberapa kostum."
"Kostum?" Luhan bertanya dan Sehun mengangguk sebagai jawaban.
"Akan ada pesta topeng minggu depan. Dan kita harus terlihat seperti pasangan yang serasi, bukan?"
"Pesta topeng?" Luhan kembali bertanya, "Untuk apa?"
"Untuk hyung yang akan mengumumkan peresmian hubungannya dengan dia." Sehun berbisik seraya menunjuk Baekhyun.
Baekhyun mengerutkan dahinya sedangkan Luhan membuka mulutnya terkejut.
"Raja akan melakukannya? Serius?" Luhan membelalakkan matanya. Ia melirik Sehun sebentar sebelum meraih tangan Baekhyun.
"Baekhyun, kau sudah mendengarnya? Wah… Raja tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Raja tidak pernah… wah, Baek, kau pasti benar-benar berarti sesuatu untuknya. Maksudku, dia bahkan tidak pernah menyukai siapapun lebih dari lima menit, dan denganmu…"
Luhan terus berbicara, yang entah mengapa justru kalimatnya memberikan ucapan selamat yang tersirat ada Baekhyun.
Haruskah Baekhyun merasa bahagia? Haruskah ia merasa menjadi seseorang penting sehingga Raja harus melakukan hal seperti itu? Ya, Baekhyun harus. Namun dia tak merasakan apapun. Mengapa? Mengapa Baekhyun harus peduli pada segala yang Chanyeol berikan sedangkan dirinya dipaksa untuk melakukan apapun yang pria itu mau.
.
.
"Senyum, vixen. Tersenyumlah untukku, mengapa kau tidak mau?"
Chanyeol mencium lembut tengkuk Baekhyun ketika dirinya bergabung untuk tidur bersama Baekhyun malam itu.
Baekhyun tak menjawab, tak juga menghindar seperti yang biasanya ia lakukan. Nafasnya teratur sedangkan jantungnya terasa tak berdetak. Jatungnya memang tak pernah terasa bertedak lagi disaat Chanyeol melakukan sesuatu untuknya.
"Untuk apa kau mengadakan pesta topeng itu?" Baekhyun akhirnya bersuara untuk bertanya, dan suaranya sampai pada telinga Chanyeol.
"Karena aku ingin seluruh kerajaan tahu bahwa kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu."
"Kau hanya memilikiku, namun aku bukan milikmu." Baekhyun merespon. Ia memejamkan matanya, merasakan kerinduan pada kedua orangtuanya dan pada kakaknya. Tentu saja, Baekhyun masih bisa berbicara pada Kris, namun semuanya telah gila. Kapanpun ia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Kris, pasti akan ada seseorang yang membawa salah satu dari mereka menjauh.
"Baekhyunnie…" Chanyeol mendesah, mencoba memutarkan tubuh agar Baekhyun menghadapnya.
"Berbalik, baby."
Setelah Baekhyun memilih untuk memutar tubuhnya menghadap Chanyeol, Chanyeol membawa kepalanya untuk bersandar di dadanya.
"Apa yang dapat aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku?"
"Kau tidak dapat melakukan apapun karena kau tidak benar-benar mencintaiku. Cintamu, mungkin cara memandangmu padaku, kau tidak pernah melihatku keseluruhan. Kau tidak tahu apa-apa tentangku namun kau masih mengatakan kau mencintaiku."
Chanyeol mulai merasa marah. Baekhyun tidaklah baik, tidak lebih baik dari seluruhnya yang ada di kerajaan. Dan pemuda itu tetap tak bisa balas mencintainya.
"Lihat aku! Aku adalah Rajamu. Kau mencintaiku, 'kan?" Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan kasar, membuat Baekhyun meringis kesakitan dan juga membuat Chanyeol melonggarkan tangannya di wajah Baekhyun.
"Tentu saja, bagaimana bisa aku tidak mencintaimu." Baekhyun menjawab dengan pahit, kemudian kembali memutar tubuhnya untuk memungungi Chanyeol.
.
.
Kau tak bisa memaksa seseorang untuk mencintaimu, Chanyeol menyadarinya. Kecemburuan membara dalam tubuhnya ketika Chanyeol melihat Baekhyunnya tertawa bersama Luhan dan Sehun, dan ia ingin menghampiri mereka untuk membunuh mereka semua. Mengapa Baekhyun tak tersenyum padanya juga? Mengapa tatapan manis yang tersorot dari mata Baekhyun ketika pemuda itu sedang bersama dengan Luhan tak pernah tersorot pula padanya?
"Dia tidak akan pernah menjadi milikmu."
Kris berbisik dari belakang, mengikuti arah pandang Chanyeol.
"Dia akan." Chanyeol balas bersuara. Kemudian membawa tangannya untuk menggendong Myung Min.
"Baekhyun-ah!" Chanyeol memanggil Baekhyun yang mendesah mendengar namanya di panggil. Meskipun begitu, Baekhyun tetap membungkuk pada Luhan dan Sehun sebelum berjalan menghampiri Chanyeol.
"Ya, Yang Mulia." Baekhyun datang kemudian Chanyeol dengan hati-hati menautkan jemari mereka dan meminta Baekhyun untuk mengikutinya.
"Kita akan pergi kemana?" keduanya berjalan menuju ruangan yang besar dengan barang-barang berbentuk persegi yang terbuat dari kaca.
"Chanyeol?" Baekhyun memanggilnya, namun yang dipanggil justru meletakkan anjing kecilnya di lantai kemudian membawa Baekhyun berkeliling ruangan besar tersebut.
Topeng. Topeng untuk pesta topeng disetiap box persegi. Topeng dengan berbagai jenis dan macam-macam warna.
Baekhyun mengitari ruangan, menyentuh dengan lembut setiap box kaca dengan jarinya. Matanya mengangumi setiap jenis topeng yang dilihatnya. Topeng-topeng tersebut berpasangan, ada sepasang topeng dalam satu box kaca.
"Pilih satu, Baekhyunnie."
Baekhyun menatap Chanyeol dan Chanyeol mengangguk untuk meyakinkan. Chanyeol mengikuti arah pandangn Baekhyun yang menilik setiap pasang topeng satu persatu. Chanyeol mengikuti Baekhyun kemanapun hingga satu pasang topeng tertangkap oleh penglihatan Baekhyun.
Topeng yang sederhana, bentuk topeng yang berwarna putih sungguh menarik, namun Baekhyun menyukai pasangannya yang berwarna hitam yang memiliki motif berwarna putih, mawar kecil di sisi kanannya dan setiap detailnya dengan bulu halus. Baekhyun menyukainya.
"Yang ini." Baekhyun berbisik, dan Chanyeol mengeluarkan topeng itu dari box kaca.
Chanyeol memasangkannya pada Baekhyun. Kemudian mengecup bibir dan hidung yang tak tertutupi topeng.
"Kau terlihat cantik. Masih cantik."
Chanyeol menempatkan tangannya di punggung Baekhyun, kemudian membuat tubuh Baekhyun berbalik menghadap kaca. Pantulan Baekhyun dengan topeng terlihat di kaca yang juga menampilkan bayangan Chanyeol yang tersenyum di belakangnya.
"Karna wajah tidak tidak berarti apa-apa tanpa sebuah topeng. Dapatkah kau melihat apa yang ada di balik topeng? Dapatkah kau lihat apa yang tidak disembunyikan oleh topeng itu?"
Chanyeol sedikit terkejut ketika menatap Baekhyun yang telah menyelesaikan kalimatnya, namun kemudian tersenyum dan dengan lembut menangkup wajah Baekhyun.
"Aku bisa melihat matamu." Chanyeol berbisik. Mempertemukan bibirnya dengan bibir Baekhyun kemudian memejamkan matanya ketika kelopak mata Baekhyun dengan perlahan juga tertutup. Dan ia tersenyum di tengah ciuman manisnya.
.
.
.
T/n: Maaf gak bisa update chapter yang panjang panjang. lagi kurang sehat.
thanks for review/fav/foll sebelumnya. apresiasi kalian buat author aslinya loh.
Review lagi? ~ _ ~
