ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
5. Masquerade
Terkadang, kau terlalu mencintai seseorang hingga sulit untuk berpikir jernih. Cinta selalu disebut sebagai 'obat mematikan', dan hanya mereka yang pernah merasakannya yang tahu makna sebenarnya. Mematikan, namun bukan kematian fisik. Karena untuk membuatmu mati—tubuhmu yang mati—lebih mudah dan tidak menyakitkan daripada kematian jiwa, saat dimana sistem sarap hancur. Kau tak dapat melihat, merasakan dan mendengar apapun selain hal yang membuatmu runtuh. Segalanya berputar dalam ketidaktertarikan, terlalu lamban atau terlalu cepat, tidak wajar, hingga kau mendekat pada apa yang kau sukai. Pikiranmu gelap dan segalanya terlihat kabur, kecuali satu hal yang terlihat istimewa. Satu-satunya yang mampu membuat darah di setiap pembuluh darahmu mendidih dan mengalir deras di sepanjang tubuh, lebih cepat dari biasanya disertai dengan keinginan besar untuk menghancurkan apapun.
Chanyeol terlalu cepat bergerak, Chanyeol terlalu terburu-buru. Ketika Chanyeol mencintai sesuatu, ia mencintainya dengan nafsu. Dan ketika ia membenci sesuatu, Chanyeol membencinya dengan nafsu pula. Hari dimana ia bertemu dengan Baekhyun dan mata memikat itu, segalanya terasa terhenti dengan momen spesial yang terjebak di otaknya. Jadi setiap kali Chanyeol memejamkan mata, dia akan kembali melihat segalanya.
Baekhyun, Baekhyun seperti vixen—rubah betina—seperti ular dan seperti burung. Baekhyun sangat polos, sangat indah, sangat cantik, dan sangat merdu; seperti burung. Baekhyun sungguh mungil, ramping, sangat menawan pun membuat candu; seperti ular. Baekhyun sangat rumit, namun pula sangat menarik dan lembut seperti rubah. Penampilan yang indah dari luar, dengan aroma yang membuat Chanyeol kehilangan akalnya dan membuatnya tersesat. Namun juga dengan tatapan yang tajam dan penuh kebencian itu, mata yang tak pernah berniat untuk meminta ampunan atau sebuah cinta kepada Raja, mata yang menghukum Chanyeol untuk hidup penuh dengan debu. Tidak pernah. Chanyeol tidak pernah melihat Baekhyun tersenyum untuknya, tidak sekalipun. Baekhyun tersenyum pada semua orang, pada kakaknya, pada Luhan dan Sehun, pada Ratu, semuanya selain dirinya. Dan ketika tingkat emosinya naik, Chanyeol justru ingin membunuh siapapun yang mendapatkan satu-satunya senyuman manis itu.
Chanyeol memperlakukan Baekhyun dengan kenikmatannya tanpa berpikir bahwa dirinya mampu. Dan Chanyeol mencintai pada setiap detail terkecil yang Baekhyun miliki, pada setiap helai dari rambut Baekhyun dan setiap inci-milimeter kulit Baekhyun.
Ia menelusuri jemarinya di kulit lengan telanjang Baekhyun ketika keduanya berbaring di atas kasur. Baekhyun sudah jatuh tertidur dan sedikit terbatuk di tidurnya. Alisnya bergerak-gerak perlahan saat Baekhyun mungkin sedang memimpikan sesuatu. Sesuatu yang tak ia sukai.
"Bangun, Baekhyunnie… bangun." Chanyeol berbisik, memberikan ciuman ringan dari telinga hingga bibir Baekhyun. Bukan untuk kenikmatan raja, namun kesenangannya untuk mencium Baekhyun dibagian manapun ia bisa mencium; di pipi, leher, mata, hidung, lengan, bibir…di bagian manapun. Rasanya selalu manis dan bahkan sedikit sentuhan pun selalu membuat Chanyeol merasakan beberapa kupu-kupu terbang di perutnya. Ia sudah benar-benar terpikat dengan Baekhyun.
Baekhyun merintih dalam tidurnya.
"Baekhyunnie…" ketika Chanyeol sampai pada bibir anak itu, ia memejamkan matanya untuk mencium Baekhyun. Tentu saja Baekhyun tidak akan membalas ciuman tersebut, namun hal ini sudah cukup untuk sekarang.
Chanyeol tidak menghitung sudah berapa detik yang terlewati hingga ia merasakan sebuah tangan yang mendorongnya menjauh, dan kemudian Chanyeol membuka matanya. Baekhyun terbangun dan kini menatap pada mata Chanyeol yang hanya meliriknya namun dengan sorot perhatian yang muncul sekejap dalam matanya.
"Selamat pagi, my princess. Apa kau tidur nyenyak?"
Baekhyun memasang wajah penolakan, ia kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Jangan memanggilku seperti itu. Aku bukan perempuan!" Baekhyun menampik kemudian membuang muka.
"Tapi kau bertingkah seperti perempuan, cintaku. Lalu kau ingin aku memanggilmu apa, hm?"
Chanyeol mendekati Baekhyun, melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu kemudian memendamkan wajahnya di rambut Baekhyun.
"Baekhyun."
"Itu terlalu umum. Kau bahkan membiarkan Lord Xi memanggilmu 'Baek'. Aku ingin panggilan yang spesial untukmu, satu-satunya yang hanya dimiliki olehku dan hanya aku."
Baekhyun menghela nafasnya. Lengannya yang entah bagaimana sudah melingkar dengan santai di pundak Chanyeol. Sang Raja tidak menyentuhnya lagi semenjak kejadian kehilangan kendali lalu, jadi Baekhyun tak perlu merasa takut lagi.
"Aku tidak tahu. Sekarang kita harus memikirkan sesuatu." Chanyeol menjawab untuk pertanyaannya sendiri. Mencium pipi Baekhyun sebelum memejamkan matanya untuk tertidur kembali.
"Aku bermimpi buruk." Baekhyun berbisik, memperhatikan tangannya sendiri. Ia kemudian merasakan Chanyeol yang membuka matanya kembali dan membawa tangannya untuk menepuk kepala Baekhyun.
"Beritahu aku." Chanyeol membawa kembali tangannya untuk mengelus tangan Baekhyun hingga ke punggung lelaki itu. Baekhyun terlihat sungguh mungil, sangat terasa kecil dipelukannya.
"Orangtuaku… aku bermimpi aneh. Aku merindukan mereka, sangat merindukan mereka." Air mata sudah hampir keluar dari bentengnya, namun Baekhyun mampu menahannya. Ia tidak ingin menangis, khususnya tidak ingin menangis di depan Raja.
"Aku tahu. Kau tahu, aku selalu merindukan Ayahku dari waktu ke waktu, namun aku selalu mencoba untuk menemukan hal lain yang bisa aku lakukan. Seperti kau, aku menikmati melihatmu tersenyum, melihatmu tidur, mungkin hal sederhana dengan memperhatikanmu. Ayahmu sangat mencintaiku, dan beliau selalu mengakatan: 'ketika kau merasa sangat buruk, tersenyum, Chanyeol. Biarkan dunia tahu begitu kuatnya kau karena memilikiku, dan kau memilikiku selamanya. Meskipun aku tidak akan berada disini selamanya, aku akan berada disini selamanya (beliau menunjuk dadaku). Selama kau mengingaku, aku akan selalu hidup di dalam kenangan dan senyuman, dan mungkin juga dalam air mata. Namun aku ingin kau untuk tetap kuat, karena aku akan selalu berada di belakangmu, mendorongmu untuk maju.' . awalnya aku tak begitu mempercayai kata-katanya dan aku terus menangis sepertimu sekarang. namun kini, aku merasa jauh lebih baik. Karena aku menemukanmu. Aku berharap kau tahu seberapa berharganya dirimu untukku, Baekhyunnie. Aku berahap kau akan mengatakan semuanya padaku, aku berharap kau setidaknya akan mencoba untuk mencintaiku. Aku akan ada disana ketika kau merindukan orangtuamu, aku akan ada disini jika kau bermimpi buruk. Aku akan melakukannya, jika kau membiarkanku melakukannya, Baekhyunnie…"
Baekhyun mencoba untuk mendapatkan petunjuk akan adanya ketidaktulusan dari mata Chanyeol, namun ia tak menemukannya.
Chanyeol memiliki mata yang indah, jika Baekhyun boleh jujur. Dan kapanpun ia menatap mata itu, kedua bola itu akan tersenyum padanya. Senyuman yang lembut dan menjamin. Baekhyun tidak tahu apakah Chanyeol memalsukan senyumnya atau tidak sementara ketidaktahuan sudah terbangun di dalam jiwanya.
"Yang Mulia, aku…" Chanyeol menggelengkan kepalanya, menempatkan jarinya pada bibir pink Baekhyun.
"Tak apa. Aku akan memberimu waktu yang cukup untuk mencintaiku. Aku hanya memintamu untuk membiarkan aku mencintaimu, membiarkan aku memanjakanmu, memejamkan matamu ketika bibirku mencoba untuk meraup bibirmu dan untuk tetap diam ketika sentuhanku mengelus kulitmu. Karena aku mencintaimu. Dan cintaku ini membara, sayangku." Chanyeol memeluk Baekhyun erat-erat di dadanya, seraya mencoba untuk mendorong keluar seluruh cinta yang ia miliki dan mengirimnya pada Baekhyun.
Bagaimana bisa seseorang terjatuh begitu dalam hanya karena satu tatapan saja, Chanyeol tidak tahu, pun Baekhyun tidak bertanya. Bagaimana bisa seseorang tak ikut terjatuh bahkan ketika dirinya sudah dikepung dengan cinta dan perlakuan-perlakuan manis, Baekhyun tidak tahu, pun Chanyeol tidak bertanya.
Ketika Chanyeol menekan Baekhyun lebih kuat ke bantal, bibirnya yang lapar mencari pasangannya, gigi yang menggigit dan meninggalkan bekas di kulit susu Baekhyun, desahan keluar dari tenggorokan Chanyeol, mata yang terpejam dan paru-paru yang mengambil nafas berat, tidak ada asalan lagi bagi Baekhyun untuk berontak. Karena Baekhyun sudah lelah dan Chanyeol yang masih terburu-buru dengan gerakannya. Baekhyun tak dapat mendorong Chanyeol menjauh lagi, karena seluruh kerajaan akan segera tahu bahwa Baekhyun lah yang telah memiliki hati sang Raja.
.
.
Pesta topeng, salah satu acara terbesar kerajaan. Penuh dengan orang-orang, musik, makanan, minuman, semuanya hanya untuk menyenangkan Raja. Kendati pesta topeng ini benar-benar sangat penting untuk Raja, dan sang Raja yang tidak ingin dipuaskan; namun untuk kali ini ia ingin menyenangkan hati kekasih mungilnya. Chanyeol perlahan mengangkat tirai merah, gelas Kristal, makanan yang lezat dan minuman mewah. Ia dan Baekhyun mengenakan jubah merah dan hitam, dengan untaian kawat perak kecil di lengannya. Mata Baekhyun yang tajam dihiasi eyeliner, serta jemarinya yang halus dan putih bermain dengan rambut barunya yang berwarna ungu disaat Baekhyun memperhatikan dirinya di pantulan cermin.
Raja memujanya dari belakang, dengan pakaian hitam dan merah namun dengan kawat kecil yang berwarna emas. Rambutnya cokelat keemasan, sepadan dengan mata hangatnya. Dua cincin yang tergeletak di atas meja didepan cermin bersatu dengan pita merah yang mengikatnya.
"Kau siap?" Chanyeol bertanya serasa merangkul Baekhyun cukup erat.
"Mm… apa kau yakin akan melakukan ini?" Yang dibalas dengan sebuah helaan nafas.
"Ya, sekarang…" Chanyeol mengambil dua cincin dengan pita merah tersebut. Para pengawal berada di luar menunggu mereka. Kecuali Kris yang dengan jelas mengumumkan bahwa ia tidak akan menyanksikan kehancuran saudaranya.
Pintu kayu besar terbuka untuk membiarkan atmosfir baru yang Baekhyun tak pernah bayangkan bahwa dirinya berada disana. Kira-kira di bagian kiri ruangan tersebut terdapat perapian yang besar, dimana sebuah mawar merah keemasan ada di atasnya. Aroma lavender tercium di udara, manis dan menenangkan. Juga terdapat alunan musik yang lembut sebagai latar belakang lagu, dimainkan oleh biola dan piano. Segalanya terlihat bersinar, dari Kristal, gelas emas, hingga warna-warna dari topeng. Setiap orang yang datang mengenakan topeng di wajahnya dengan topeng yang berbeda untuk wanita dan pria. Mereka datang bersama pasangan-pasangannya, dan Baekhyun berusaha mati-matian untuk mencari seseorang yang ia kenal.
Sampai matanya menemukan Luhan yang sedang menatapnya dengan mata rusa yang melebar. Sehun ada bersamanya di sampingnya, dengan lengan yang disembunyikan di belakang.
Musik kemudian terhenti ketika Raja memasuki ruangan, semua orang selain Ratu membungkuk pada Raja. Chanyeol tersenyum, berjalan dengan angkuh dan tangan yang mengenggam Baekhyun.
Perjalanan menuju singgasana terasa amat sangat panjang untuk Baekhyun. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat, rona kemerahan di pipinya dan keringat di dahinya.
Setiap orang menegakkan tubuhnya ketika Raja mereka sudah sampai di atas singgasana meskipun kali ini Chanyeol tak duduk disana. Biasanya, ketika Chanyeol sampai disana ia akan duduk, namun untuk kali ini Chanyeol justru mengangkat tangan Baekhyun dan tangan yang satunya mengambil gelas untuk diangkatnya juga tinggi-tinggi.
"Selamat datang di pesta topeng kerajaan! Aku berharap kalian semua menikmati pesta ini dengan senyuman di wajah kalian. Namun, sebelum musik kembali dimainkan, aku akan mengumumkan sesuatu kepada seluruh kerajaan untuk kalian ketahui, bahwa aku mendedikasikan acara ini untuk tunanganku, yang aku cintai dan kuinginkan dia untuk kelak menjadi suamiku."
Baekhyun menggigit bibirnya ketika ia mendengar penuturan sang Raja. Tangannya ia turunkan pada setiap kata yang keluar. Baekhyun tidak bangga, ia tidak gembira dan ia mulai dapat mendengar beberapa cacian dari mereka.
"Namanya Byun Baekhyun, kekasihku, tunanganku dan cahaya di mataku. Kalian harus menghormatinya sebagaimana menghormatiku. Dan siapapun yang berani untuk mencelakainya akan dianggap sebagai pengkhianatan pada keluarga kerajaan, dan pastinya akan menhadapi hukuman."
Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun, berlutut kemudian mengeluarkan cincin. Cincin tersebut terbuat dari platina, sangat sederhana dengan hiasan berlian. Semua orang tercengang, karena platina sungguh sangat jarang dan benar-benar sangat mahal.
"Apa itu platina?" Luhan bertanya dan kemudian dijawab dengan anggukan oleh Sehun.
"Sangat indah." Ia berbisik selagi memperhatikan bagaimana Chanyeol menyematkan cincin tersebut pada jari manis Baekhyun dan membisikkan 'aku cinta kamu', kemudian menyerahkan cincin yang satunya pada Baekhyun untuk anak itu pasangkan di jari Chanyeol.
Baekhyun mengambil cincinnya dengan tangan yang bergetar, dan semua orang yang memperhatikan lamat-lamat.
Aku benci ini, aku benci ini semua, aku membencimu,Chanyeol.
Raja melepaskan tangan Baekhyun setelah Baekhyun memasangkan cincin di jarinya, dan semua orang bertepuk tangan. Chanyeol menepuk tangannya untuk musik kembali dimainkan, kemudian mengamit tangan Baekhyun lagi, berjalan kearah Ratu.
Keduanya berlutut di hadapan Ratu. Ratu tersenyum dengan lembut sebelum menepuk-nepuk kepala Chanyeol.
"Ah, sekarang aku melihat Chanyeolku sudah besar! Anakku, aku tidak tahu bagaimana ini akan berakir, namun aku ingin kau menjaga Baekhyunnie, Chanyeol." Mereka berdua kemudian berdiri. Chanyeol tersenyum lebar dan mengangguk pada ibunya.
"Aku ingin kita berdansa, Baekhyunnie…" Chanyeol berbisik dan menuntun Baekhyun ke kerumunan. Hanya ada beberapa pasangan yang berdansa. Musik yang mengalun dengan tempo lambat mengajak para pasangan untuk lebih mendekat satu sama lain. Luhan dan Sehun terlihat sedang berdansa juga dengan beberapa pasangan yang lain.
"Aku tidak bisa berdansa, Yang Mulia."
Chanyeol tersenyum kemudian merangkul Baekhyun.
"Aku juga tidak." Matanya berkata 'percayakan padaku', dan Baekhyun tidak bisa berkata tidak.
Mereka memulainya dengan sebuah senyuman yang terpatri di wajah. Mereka membuat langkah kecil dan memutar. Keduanya tidak terburu-buru, dan tidak ada yang mengusik mereka. Dengan sebuah senyum simpul, Chanyeol menempatkan tangannya punggung bawah Baekhyun masih dengan gerakan langkah yang sama. Chanyeol merasakan kepala Baekhyun terjatuh di dadanya dan mendengar anak itu berbisik 'aku lelah' namun ia tidak berhenti. Dunia melihat keduanya mengalir dalam melodi yang baru, kemudian setiap orang berhenti untuk melirik Raja. Tidak ada yang mengenali sosok Raja yang seperti ini sementara Raja selalu bersikap sangat dingin.
"Chanyeol…" suara Baekhyun yang memanggil nama Chanyeol terdengar sangat manis, dan sangat sangat lucu. Cincin mereka bersinar dibawah sinar lilin, dengan aroma lavender yang sama di udara. Bersamaan dengan Chanyeol yang membawa Baekhyun lebih mendekat padanya, ia teringat seseorang yang pernah mengatakan: "jika kau mendorong terlalu kuat, maka hal itu akan jatuh. Jika kau memeluk terlalu erat, hal itu akan hancur. Jika kau terlalu mencintai…"
Tidak, tidak. Aku tidak bisa membiarkan kepalaku berpikir terlalu jauh. Chanyeol menghembuskan nafasnya di rambut Baekhyun.
"Baek, kau tetap disini. Aku harus pergi sebentar, okay?"
Chanyeol menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk Baekhyun, sesuatu yang tak ia katakan pada Baekhyun. Piano sudah menunggu, dengan beberapa mawar putih yang indah di atasnya, piano yang akan dipindahkan ke kamar Baekhyun setelah acara malam ini selesai. Juga, perak murni dan sebuah surat isi hati dalam surat emas ada di atasnya. Piano tersebut cukup membuat semua orang tercekat hanya karena melihatnya.
Setelah memastikan segalanya telah siap, Chanyeol memanggil Baekhyun.
"Baekhyun? Baekhyun-ah? Baekhyunnie!"
Ketika tangan Raja melepaskannya, Baekhyun menghela nafas dalam-dalam. Udara di dalam tiba-tiba terasa sangat berat hingga paru-parunya memaksa untuk menghirup nafas lebih dalam dan lebih dalam lagi. Pintu terlihat terbuka, jadi Baekhyun pergi ke taman untuk menghirup udara.
Hari sudah malam dan bunga, rerumputan juga pepohonan terlihat tidur. Langit terlihat jelas dengan warna biru tua, namun bintang bersembunyi sehingga tak terlihat. Bulan menjadi satu-satunya yang memperhatikan bumi di atas sana. Baekhyun menyukai bulan, dalam artian tertentu karena ia ingat malam ketika bulan purnama yang cahayanya menyentuh wajah ibunya ketika wanita itu tidur di sampingnya. Baekhyun ingat dirinya selalu tidur cukup larut hanya untuk memperhatikan wajah ibunya yang tertidur. Karena ibunya terlihat sangat tenang dengan wajahnya yang sedang tidur. Tidak ada ketakutan dalam wajahnya, dan wanita itu terlihat begitu bahagia karena memilikinya.
Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya, namun Baekhyun dengan segera menyekanya. Ia mengangkat tangannya untuk melihat sebuah cincin yang sebenarnya sungguh indah tersemat di jarinya. Platina hampir sama dengan perak, lembut, putih dan meskipun begitu, benda tersebut pastilah amat sangat berharga. Baekhyun tahu dia tidak seharusnya mengenakan jenis cincin seperti itu, terlebih ia tidak memiliki perasaan apapun pada Raja. Namun tetap saja, cincin tersebut sangatlah indah. Satu-satunya berlian kecil yang menghiasi menjadikan cincin tersebut lebih indah. Dan Baekhyun tak dapat menahan dirinya untuk tidak mengelus cincin itu.
Terlalu tenggelam dalam keindahan cincin platina yang dikenakannya, Baekhyun tidak menyadari adanya bayangan yang muncul di belakangnya yang kemudian dengan tiba-tiba sepasang lengan yang memeluknya dari belakang. Awalnya Baekhyun pikir itu adalah Chanyeol, dirinya hampir saja bersandar pada tubuh itu, namun ada yang terasa berbeda. Ketika ia memutar kepalanya untuk melihat siapa itu, matanya bertemu dengan seseorang berbadan besar, bermasker hitam dan sepasang mata yang gelap.
Baekhyun ingin berteriak, namun tangan itu terlalu cepat untuk menutup mulutnya.
"Sstt, aku bisa membuatmu meninggalkan istana. Aku dapat membuatmu pergi dari sini!" Baekhyun membelalakkan matanya melihat si pria yang membekapnya. Pria itu terlihat taka sing, sungguh familiar, namun Baekhyun tidak bisa mengatakan mengapa tepatnya. Pria itu sangat tinggi dengan kedua tangan yang dibungkus sarung tangan. Badan yang bagus dan mata yang besar dan gelap.
Baekhyun mengangguk sekali, memberi isyarat bahwa ia tidak akan berteriak. Kemudian ia bertanya siapa pria itu.
Baekhyun berspekulasi bahwasegala sesuatu di kerajaan sangat menakutkan, bahkan mengerikan.
"Aku tidak bisa memberitahu siapa aku. Tapi aku dapat memberitahumu bahwa aku bisa membuatmu keluar dari sini."
Mata pria itu cukup meyakinkan untuk membuat Baekhyun tersentak dan memunculkan sebuah harapan kecil dalam dirinya.
"Kenapa… kenapa kau lakukan ini?"
Pria itu tak menjawab lagi, namun ia merundukkan kepalanya dan tangannya membuka maskernya. Dia mencoba untuk mencium Baekhyun.
"Berhenti disana! Pengawal! Pengawal!" Chanyeol berteriak dengan suara beratnya. Dan dalam dua detik, pria yang hendak mencium Baekhyun menghilang.
"Chanyeol!" mungkin ini pertama kalinya Baekhyun merasa bahagia akan kehadiran Chanyeol. Baekhyun berlari ke pelukan Chanyeol. Seluruh tubuhnya bergetar dan pikirannya benar-benar diliputi kebingungan.
"Siapa itu, Baekhyun? Jawab aku!" Chanyeol mengguncang-guncang bahu Baekhyun, menatapnya dengan jelas bahwa Chanyeol marah.
"Aku tidak tahu, Chanyeol. Aku tidak tahu!" Baekhyun mencoba untuk menjauh dari Chanyeol namun sudah terlambat. Kecemburuan adalah perasaan yang mematikan. Hal itu memakanmu dari dalam, membuat kepalamu pusing dan membunuh sel-sel sehingga kehilangan kendali.
"Chanyeol…Chan, Chanyeol…"
Monster itu keluar lagi. Terdapat kemarahan yang jelas di mata Chanyeol, kemarahan yang bercampur dengan keposesifan, dan beberapa hal yang tak Baekhyun ketahui.
Baekhyun berjalan mundur, namun ia tak memiliki tempat lagi untuk melangkah mundur, tak ada tempat untuk lari dan tak ada tempat untuk bersembunyi.
"Kau milikku, Baekhyun. Kau milikku dan hanya milikku. Dan aku tak akan membiarkan siapapun untuk menyentuhmu."
.
.
.
6. Losing Control
Mereka bilang cinta itu buta. Cinta itu gila. Cinta itu rumit. Dan cinta itu… manis.
Baekhyun tidak merasakan manis itu. Ia memejamkan matanya, berusaha menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol dengan sia-sia untuk membuat sang Raja berhenti menyentuhnya.
Namun ia tidak bisa.
.
.
Chanyeol dengan segera mengakhiri pesta topengnya. Tidak ada alasan untuk dilanjutkan lagi, pria itu menyentuh miliknya, Baekhyunnya.
"Temukan dia, sialan!" Chanyeol memerintah para pengawal. Tangannya mengenggam erat pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun menengadah melihatnya, matanya bertanya-tanya, penasaran akan pergerakan selanjutnya dari pria tadi. Tidak aka nada jalan untuk pergi, tidak ada jalan untuk bersembunyi dari mata merah Chanyeol yang terlihat bagai monster. Sejujurnya Baekhyun merasa tidak perlu untuk lari lagi. Kalimat si pria bermasker tadi masih berlari-lari di kepalanya, bisakah dia benar-benar membuatnya keluar dari istana?
Melihat lirikan mata Baekhyun yang tak fokus justru membuat Chanyeol semakin marah. Apakah Baekhyun masih memikirkan pria itu? Apakah Baekhyun menyukainya? Kecemburuan membakar amarahnya, dan membuat darahnya semakin mendidih.
"Baek." Chanyeol mendesis, lalu mendapatkan atensi Baekhyun.
"Apa?"
"Apa kau menyukainya? Kau menyukai pria itu?"
Mereka masih berada di lorong ketika Chanyeol menghimpit Baekhyun ke dinding dan memiringkan kepalanya mendekat ke arah Baekhyun.
"Apa… apa yang kau bicarakan? Jangan—"
"Fuck, kau menyukainya?" bibirnya dengan segera meraup bibir Baekhyun, tak memberi waktu bagi Baekhyun untuk menjawab. Bibir dengan bibir saling berciuman, Chanyeol segera menambahkan lidahnya untuk ikut bermain. Menggerakkan lidahnya di permukaan bibir Baekhyun, meminta izin untuk masuk. Baekhyun serampangan menolak lidah Chanyeol untuk masuk kedalam mulutnya, ia menutup bibirnya rapat-rapat dan memejamkan matanya.
Namun Chanyeol tidak menerima penolakkan. Chanyeol menggigit kuat bibir bawah Baekhyun, membuat pemuda itu membuka mulutnya kesakitan.
"Chanyeol, lepaskan aku!" Baekhyun mendorong Chanyeol untuk menjauh ketika lidah yang lebih tinggi menyentuh lidahnya, namun tubuhnya terhimpit dengan baik diantara tubuh Chanyeol dan dinding putih.
"Kau tidak akan pergi kemana-mana." Chanyeol kembali menekan bibirnya pada bibir Baekhyun, menyelundupkan lidahnya dan menghisap lidah Baekhyun.
"Mhfm!" Baekhyun masih mencoba untuk menolak ditengah lenguhan Chanyeol yang menciumnya lebih dalam sebelum mengangkat tubuhnya.
"Chanyeol, kumohon jangan…"
"Hush! Aku adalah Tuanmu. Aku dapat melakukan apapun! Kau sudah seharusnya mencintaiku, kau seharusnya mematuhi apapun yang aku katakan! Baekhyun, diam!"
Ini adalah pertama kalinya Chanyeol menakuti Baekhyun. Matanya menunjukan kemutlakan yang tak Baekhyun yakini apa yang akan terjadi jika ia berbicara lagi.
Apa yang terjadi selanjutnya terasa kabur dan bagai mimpi bagi Baekhyun. Mimpi yang sangat sangat buruk yang tak bisa ia hindari. Chanyeol membanting pintu kamarnya, memerintah para pengawal untuk pergi. Baekhyun masih ada di lengannya, namun ketika keduanya sudah berada di dalam kamar, Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun di atas ranjang dengan paksa, membuat Baekhyun sedikit meringis ketika punggungnya menyentuh permukaan kasur.
"Kau akan menjadi milikku malam ini. Sepenuhnya, milikku." Suara Chanyeol merendah ketika mengakatannya selagi dirinya menindih tubuh Baekhyun yang ketakutan.
Baekhyun tahu. Ia tahu apa yang akan terjadi, dan hal ini sungguh mengerikan untuknya.
Lehernya dijamah dengan cepat seraya Chanyeol menggigit kuat kulit leher yang sensitif itu. Bercak kemerahan tercetak saat ia menggerakkan ciumannya turun kebawah, menjilat kulit Baekhyun dengan lidahnya dan menciumnya dengan bibir laparnya. Mengabaikan desahan kesakitan Baekhyun yang bahkan bagai tak terdengar oleh telinganya. Chanyeol berhenti untuk mendengar dan fokus untuk merasakan kulit Baekhyun yang begitu halus dan lembut seperti kulit bayi.
Ciumannya semakin turun kebawah dan Chanyeol bertemu dengan jubah merah yang Baekhyun kenakan. Dan entah mengapa jubah itu menganggunya.
"Kau tidak memerlukan ini." Chanyeol merobek jubah mahal tersebut secara paksa, membuat kain itu terbagi menjadi dua kemudian menarik lengan Baekhyun dengan kasar.
Bagian dari kain yang dirobek terlempar ke lantai membuat Baekhyun merasa semakin terbuka. Baekhyun mencoba untuk menutupi dirinya akan tetapi Chanyeol segera menarik kedua tangannya, menahan keduanya sangat erat hingga Baekhyun tak dapat lagi bergerak.
"Sstt sstt, hush.. baby…"
Chanyeol menekan tangan Baekhyun ke bantal, membuat kulit putih mulus Baekhyun semakin terlihat. Dan Chanyeol tak bisa menahan untuk tidak menyentuhnya. Chanyeol menjilat bibirnya sendiri sebelum mencium setiap bagian dengan gerakan turun. Lagi-lagi, giginya menggigit sedikit lebih keras dari yang seharusnya, membuat Baekhyun kembali mendesah dan mengerang sakit. Apakah bibir Chanyeol memang selalu sekasar ini? Baekhyun tidak tahu.
"Ahhh…" Chanyeol mendesah nikmat ketika sesuatu di antara selangkangan keduanya yang masih ditutupi pakaian saling bergesekan. Chanyeol sudah tegang. Penisnya sudah keras dan tak sabar untuk segera memasuki Baekhyun.
"Mendesah untukku, sayang…" Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun seraya menggesekkan kejantanan mereka lagi, tetapi Baekhyun menolak untuk melakukannya.
"Mendesah, sayang. Cepat lakukan untukku." Chanyeol berbisik lagi, namun kalimatnya terdengar lebih seperti perintah alih-alih meminta. Akhirnya, ia memiliki Baekhyun hanya untuknya. Gairah nafsunya akhirnya akan terpuaskan.
Desahan kecil terdengar keluar dari mulut Baekhyun, dengan keterpaksaan dan kejengkelan namun Chanyeol mendengarnya sungguh menggairahkan. Membuatnya menjadi lebih tegang.
"Aku tidak tahan, baby. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Mata bulatnya jatuh pada nipple kemerahan Baekhyun, dan dengan segera Chanyeol mengigitnya lapar.
"BERHENTI!" Baekhyun menjerit, berusaha menghindar dari apa yang akan Chanyeol lakukan yang justru mencengkramnya lebih kuat. Air mata mulai turun dari pelupuk mata Baekhyun saat pemuda itu memohon agar Chanyeol berhenti dengan frustasi.
"Tidak. Aku membutuhkanmu. Aku menginginkanmu malam ini, Baek."
Celana Baekhyun berhasil dilucuti, pun celana dalamnya yang turun memperlihatkan penis mungilnya dan bokong sempurnanya.
Dengan isakan, Baekhyun kembali mencoba untuk mendorong Chanyeol menjauh. Tetapi ia sudah lelah dan merasa sakit akan setiap sentuhan yang diterima oleh tubuhnya. Baekhyun tak dapat bergerak lagi, ia menyerah.
"Sempurna. Kau sangat sempurna. Sangat sangat sempurna." Cahaya redup memperlihatkan tubuh Baekhyun yang tak lagi berpakaian sebelum Chanyeol kembali menindih Baekhyun. Ia mencium bibir basah Baekhyun dan menyeka air mata di pipi Baekhyun dengan jempolnya.
"Sstt.. aku mencintaimu. Aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintaimu."
Tadi adalah kalimat terakhir Chanyeol malam itu. Kepalanya benar-benar terasa gelap ditengah sentuhan sentuhan penuh dosa yang diterima tubuhnya. Chanyeol melupakan beberapa hal dan terlalu fokus pada Baekhyun hingga lupa bahwa ia membutuhkan hal lain.
Chanyeol tidak memiliki pelumas, namun hal itu bukanlah masalah.
Chanyeol menghisap tiga jarinya sebelum memasukan satu persatu jemarinya kedalam hole Baekhyun yang ketat dan belum terjamah sebelumnya.
"BERHENTI! HENTIKAN! SAKIT! AKH BERHENTI!"
Chanyeol mencoba untuk menghapus rasa sakit yang Baekhyun rasakan dengan mencium bibir dan leher anak itu dengan lembut. Namun yang Chanyeol lakukan tidak ada artinya sama sekali.
Segalanya terasa sakit.
Setiap jari yang masuk membuatnya sangat kesakitan, dan ketika Chanyeol berhasil memasukkan kejantanannya sepenuhnya, Baekhyun merasa tubuhnya terbelah dua. Baekhyun hampir pingsan akan segala kesakitan yang ia rasakan dalam lubangnya yang dipenuhi oleh sesuatu yang terasa sangat besar.
Chanyeol mendesah berantakan sementara penisnya yang tertanam sepenuhnya dalam lubang Baekhyun. Ia menggerakan penisnya, mendorong dengan perlahan. Merasakan betapa nikmatnya lubang senggama Baekhyun yang belum pernah dimasuki oleh orang lain. Hole yang berkedut-kedut membuatnya merasa pening akan gerakan yang lamban, sehingga Chanyeol menambahkan tempo dorongannya. Ia menghentak-hentakkan penisnya didalam lubang ketat Baekhyun. Mengerang nikmat dan membuat candu dan tak ingin berhenti.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu klimaksnya datang, membuat Chanyeol ambruk di atas Baekhyun, hampir menindih Baekhyun sepenuhnya. Butuh beberapa menit untuk keduanya mendapatkan kesadaran kembali, dan ketika sisten saraf itu kembali berfungsi, Baekhyun berusaha menjauh sejauh yang ia bisa dari Chanyeol.
Hanya ketika Chanyeol melihat jejak air mata itu, hanya ketika Chanyeol melihat darah di seprainya, dan hanya ketika ia melihat Baekhyun menangis dan terus terisak keras di bantal, disitulah Chanyeol sadar akan apa yang sudah ia lakukan.
Chanyeol merasakan dadanya menyempit ketika melihat kekasihnya yang hancur, bersumpah untuk membalas dendam, tubuhnya yang bergetar dan bibirnya yang menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Seluruh tubuh Baekhyun berwarna merah. Kulit susunya ditutupi dengan hickey, dan pinggangnya yang terdapat tapak cengkraman tangan Chanyeol sedangkan holenya dipenuhi dengan sperma Chanyeol yang menyembur didalam tadi.
"Apa… apa yang telah aku lakukan… Baekhyunnie.. maafkan aku, mafkan aku."
Sudah telat untuk meminta maaf. Telalu terlat untuk memeluk, dan terlalu telat untuk menenangkan. Apa yang sudah terladi, sudah terjadi. Dan apa yang akan terjadi, akan datang kelak.
Apa yang kau lakukan, akan kau rasakan. Baekhyun berjanji pada Chanyeol dan pada dirinya sendiri untuk membalas dendam di antara air mata, isakan dan darahnya.
.
.
Airnya terlihat sangat menenagkan, hangat dan panas. Menenangkan setiap maneuver dirinya yang terluka. Baekhyun membiarkan jubah mandi yang membungkus tubuhnya jatuh ke lantai sebelum dirinya masuk ke dalam air hangat.
Hilang. Kepolosannya dan kewarasannya telah hilang. Ia merasa setiap sentuhan kotor yang Chanyeol berikan masih bertengger di kulitnya, dan hal itu menganggu Baekhyun hingga ia ingin menguliti dirinya sendiri. Hampir sama seperti bibir Chanyeol yang memberikan sebuah ciuman di perut dan paha dalamnya.
Gumaman rendah keluar dari bibir tipisnya dan terkadang isakan pun mengintrupsi gumaman dan nyanyiannya. Baekhyun semakin masuk ke dalam air hingga air sampai pada dagunya. Baekhyun merunduk untuk melihat air seperti ia tak pernah melihatnya sebelumnya.. kemudian gelembung-gelembug bermunculan di udara dan mencipratkan sedikit air ketika gelembung itu pecah di wajahnya.
Perlahan, Baekhyun masuk lebih dalam. Air sudah mencapai bibir bawahnya namun Baekhyun tak peduli.
Ia tak merasa ingin hidup lagi. Apakah semuanya memang seburuk itu? Lagipula apakah ada alasan untuknya melanjutkan hidup?
Untuk apa? Untuk tetap manjadi mainan seperti ini? Untuknya membawaku kemanapun dia suka meskipun aku tak menyukainya? Tidak, aku tidak mau. Lagipula aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Orangtuaku sudah mati. Kakakku? Aku hanya akan semakin menyulitkannya. Dia memiliki sesuatu yang lain, dia memiliki urusan hidupnya sendiri. Mengapa aku tidak…
Baekhyun memejamkan matanya, menenggelamkan dirinya lebih dalam. Didalam air hangat, ia tidak bisa bernafas. Hingga air masuk kedalam hidungnya sementara bibirnya masih terkatup rapat. Pikirannya mendadak menjadi kosong, dan paru-parunya kehilangan oksigen. Instingnya menyuruhnya untuk keluar dari air, untuk bernafas dan membuka mulutnya. Namun Baekhyun mengabaikannya dan menutup matanya lebih erat.
"Baekhyun! Ya Tuhan, Baekhyun!" Suara panik Chanyeol terpantul di dinding polos kamar mandi.
Chanyeol menghampiri Baekhyun, memaksa anak itu untuk keluar dari air. Baekhyun dengan paru-paru yang kehilangan oksigen kini mulai menarik nafas. Mengirim udara untuk kembali mengisi organ tubuhnya.
"Ya Tuhan, apa yang sedang kau pikiran, Baekkie? Cintaku…" Chanyeol memeluk kekasihnya yang telanjang dan basah, menyandarkan kepala Baekhyun pada dadanya.
Tangan Chanyeol bergetar ketakutan setelah melihat kekasihnya yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
"Tinggalkan aku… pergi, tinggalkan aku." Baekhyun mencoba untuk mendorong Chanyeol. Lengannya yang di hiasi oleh bercak kemerahan hanya membuat Chanyeol lebih sedih.
"Baekhyunnie… maafkan aku, kumohon maafkan aku." Chanyeol membawa tangan Baekhyun, mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Aku mencintaimu. Aku cemburu dan aku kehilangan kendali. Cintaku, maafkan aku kumohon." Ia terus menerus mencium tangan Baekhyun hingga Baekhyun menarik tangannya sendiri.
"Aku… aku merasa kotor." Baekhyun mengakuinya. Ia kembali masuk ke dalam air. Chanyeol menghela nafas, menyadari betapa besar kesalahan yang ia perbuat.
"Kau tidak kotor, cintaku. Ya Tuhan, maafkan aku sayang." Chanyeol menjatuhkan jubah mandinya ke lantai kemudian turut masuk ke dalam air. Bathtub-nya cukup besar sehingga cukup untuk keduanya berada dalam bathtub yang sama, bahkan mungkin bisa untuk seseorang lagi. Namun Chanyeol memutuskan untuk duduk mendekat sedekat yang ia bisa dengan Baekhyun.
"Lihat? Lihat ini, sungguh indah…" Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan membasuhnya perlahan. Menutupi lengan Baekhyun dengan gelembung dan busa kemudian membasuhnya kembali. Chanyeol menautkan jemari mereka setelah ia mendapatkan tangan Baekhyun, kemudian mengelus-elus tangan cantik itu dibagian manapun yang ia sentuh.
"Kau sangat indah. Dan itu adalah salah satu alasan mengapa aku jatuh cinta padamu, sayang." Well, sejujurnya Chanyeol jatuh cinta pada kecantikan Baekhyun pada awalnya.
Memainkan piano, Baekhyun terlihat benar-benar menawan malam itu. Bibir dan matanya bersinar di bawah cahaya lilin, membuat Chanyeol jatuh cinta pada pandangan pertama. Kemudian ia mendengar suaranya yang luar biasa indah, kepolosannya dan keseganan Baekhyun sungguh menarik untuknya.
"Kenapa… kau melakukan ini?" mata basah Baekhyun menatap Chanyeol, menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Karena aku mencintaimu!" Chanyeol menjawab dengan tegas.
"Tidak, kau tidak…" Baekhyun berbisik, berusaha menjauh dari jangkauan Chanyeol.
"Tidak, aku mencintaimu, Baekhyunnieku! Mengapa kau tak bisa melihatnya? Mengapa kau tak bisa membalas cintaku?" Chanyeol sudah menunjukkan cinta tak terbatasnya untuk Baekhyun pada semua orang. Jika Chanyeol mau, ia bisa mengambil satu dari sekian banyak orang di kerajaannya karena semua orang memperlihatkan ketertarikan dan cintanya untuk Raja, kecuali pemuda satu ini. Kekasih mungilnya, seseorang yang dicintainya.
Chanyeol terus mengelus kulit Baekhyun, dari pahanya, naik ke perutnya, kemudian kakinya dan lehernya.
"Aku mencintaimu. Dan aku akan membuatmu mencintaiku, cantikku."
.
.
Baekhyun tak menginginkan apapun selain menyamankan dirinya di pelukan Luhan dan menangis di pundak Luhan hingga ia tak bisa menangis lagi.
Luhan sudah menunggu Baekhyun di taman. Akan tetapi ada orang lain yang bersama dirinya disana. Ketika ia melangkah mendekat dan melihat bayangan pria yang terlihat sangat mirip dengan pria yang datang di malam pesta topeng.
'tapi, tidak. Bagaimana bisa pria itu masih ada disini?'
Tetapi, ketika pria itu membalikkan tubuh, dia tidak lain adalah kakaknya sendiri—Kris.
Pria itu terlihat khawatir saat matanya jatuh pada sosok adiknya. Luhan juga melihatnya, namun ia membiarkan kedua saudara itu saling memeluk dalam diam.
"Apa yang telah ia lakukan padamu, Baekhyunku? Apa yang sudah ia lakukan padamu?"
Meskipun itu adalah Kris, meskipun mereka setidaknya adalah keluarga, Baekhyun tetap merasa aneh sekarang. Entah karena keposesifan Chanyeol yang selalu memanggilnya 'Baekhyunku' atau karena memang Baekhyun yang terlihat tidak baik-baik saja, namun Baekhyun benar-benar merasa aneh. Juga, Kris terlihat sangat mirip dengan pria bermasker tadi malam. Kecuali matanya, segalanya terlihat sama.
"Aku baik-baik saja,hyung. Aku mau bertemu Luhan."
Baik Luhan dan Kris terkejut mendengarnya, kendati mereka berdua tahu apa yang dilakukan Chanyeol padanya.
Bercak kemerahan di lehernya terlalu mudah untuk dilihat, sehingga mereka berdua sudah tahu pasti apa yang dilakukan Chanyeol setelah pesta topeng berakhir.
"Kemari." Luhan membawa Baekhyun kedalam pelukannya, merasa bersalah pada Baekhyun. Baekhyun berjalan dengan susah payah dan mengatakan bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit. Luhan yakin bahwa Chanyeol melakukannya seperti orang gila mengingat bagaimana marahnya pria itu ketika mengakhiri pesta topeng. Namun Baekhyun tak seharusnya diperlakukan seperti itu.
Sementara Luhan mencoba untuk membuat Baekhyun tersenyum, dua pasang mata melihat mereka dalam kecemburuan. Satu pasang memaklumi kemudian berjalan pergi, dan satu pasang lagi memperhatikan dari kejauhan.
Chanyeol memerintah para pengawal untuk memindahkan piano yang ia rencanakan untuk Baekhyun kekamarnya, kemudian berjalan mendekati Baekhyun. Wajahnya dipatri senyuman, tak sabar menunggu untuk melihat wajah terkejut Baekhyun nanti.
"Kemari, aku punya sesuatu untukmu!" Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menarik anak itu untuk mengikutinya. Akan tetapi Baekhyun tak bisa berjalan dengan benar seperti Chanyeol.
"Berhenti! Aku tidak bisa—sakit sekali. Berjalan pelan-pelan." Baekhyun meringis, kemudian menerima tatapan meminta maaf dari sang Raja.
Namun, Chanyeol sudah tidak sabar. Berjalan seperti itu dengan Baekhyun akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi Chanyeol membopong tubuh Baekhyun dan berjalan ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita! Chanyeol, turunkan aku!" beberapa orang yang dilewati menaikkan alis matanya akan perkataan Baekhyun yang tak terdengar sopan pada Raja. Tapi jika Raja membiarkannya, apa yang bisa mereka lakukan?
"Tidak. Aku punya sesuatu untukmu! Aku yakin kau akan suka! Sekarang, tutup matamu Baekhyunnie ~" Chanyeol berkata ketika ia sudah sampai di depan pintu kamar Baekhyun. Baekhyun menghela nafasnya kemudian menurut. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan?
"Aku berencana memberimu ini tadi malam, namun…" Chanyeol berhenti ketika menurunkan Baekhyun dan mendudukkan anak itu di kursi di hadapan piano. Memindahkan tangan Baekhyun ke atas piano. Tangan keduanya disemat oleh cincin platina, dan Chanyeol tersenyum melihatnya.
"Maafkan aku." Chanyeol meminta maaf untuk kesekian kalinya sebelum berbalik meninggalkan Baekhyun menikmati kenyamanan hanya dengan kehadiran dirinya sendiri disana. Chanyeol mengamati Baekhyun seraya bersandar pada dinding. Melihat Baekhyun menyentuh piano dengan hati-hati di beberapa bagiannya. Baekhyun pastinya sangat menyukai hadiahnya.
"Te—terimakasih." Baekhyun berbisik mengatakannya. Menoleh kebelakang untuk melihat Chanyeol dengan keterkejutan dan juga ketulusan dalam senyumannya.
"Kau menyukainya?" Chanyeol bertanya, meyakinkan Baekhyun sekali lagi. Prioritasnya kali ini adalah untuk menyenangkan hati Baekhyun, membuatnya bahagia dan tak pernah melihatnya bersedih lagi.
"Ya, aku menyukainya, Yang Mulia."
Tubuh Baekhyun sedikit menengah ketika Chanyeol memutuskan untuk duduk disampingnya, namun Baekhyun mencoba untuk terlihat biasa saja. Piano tersebut benar-benar sangat indah, dan tentunya membuat Baekhyun bahagia.
"Mengingatkanku pada orangtuaku, ibuku…"
Chanyeol mengangguk sebagai respon. Setelah selesai mendapatkan beberapa hal dengan dirinya sendiri, Chanyeol kini menemukan sesuatu yang baru mengenai Baekhyun dan keluarganya.
"Mm.. aku harap ini tidak akan membuatmu sedih lagi. Senyummu ketika kau melihat piano ini sangatlah indah. Aku berencana untuk memberikan ini padamu lebih awal, namun berhubung aku sibuk dengan menjadi pria yang paling bodoh di muka bumi ini kemarin malam, maka aku memberikannya sekarang."
Baekhyun menatap Chanyeol tepat pada iris matanya. Ya, Chanyeol menyakitinya. Ya, Baekhyun tak menyukai Chanyeol. Tetapi…
"Apa kau menyesalinya?" Baekhyun bertanya, suara berbisiknya berubah menjadi lebih tenang.
"Apa maksudmu? Menyesal? Tentu saja aku sangat menyesalinya. Aku membenci diriku yang telah berbuat seperti itu, namun aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku mencintaimu. Aku ingin membuatmu menjadi milikku selamanya, dan aku melakukannya dengan cara yang salah. Aku harap kau akan memaafkanku, suatu saat. Aku menyesal telah melakukannya, namun aku tak menyesal pada perasaan yang aku rasakan. Kau sangat bersinar tadi malam, dengan cahaya lilin yang menyentuh kulit putihmu, dengan rona merah di pipimu, dengan kecantikanmu, keindahan tubuhmu, cintaku.. sekali lagi, aku mencintaimu." Chanyeol mengelus wajah Baekhyun dengan penuh kasih sayang, menatap matanya sebelum memberikan ciuman di bibirnya.
"Ah, bisakah kau memainkan sebuah lagu untukku, Baekhyunnie?" Chanyeol mencoba untuk kembali terdengar seperti dirinya yang ceria.
"Hanya sedikit, okay?" Baekhyun memberi penawaran.
Baekhyun memilik satu lagu yang penuh kesedihan, bermain hanya dengan tuts pada piano kemudian menambah sedikit suara indahnya untuk bernyanyi.
Chanyeol menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun, memejamkan matanya untuk fokus pada pemuda mungil disampingnya.
Dalam kepalanya, gambaran cincin yang mereka kenakan muncul. Baekhyun adalah miliknya. Baekhyun adalah milik Chanyeol. Sentuhan di kulit lembutnya, ciuman mereka, dan perasaan luar biasa ketika Chanyeol berada di dalam Baekhyun masih melekat hingga saat ini.
"I love you.. I love you, Baekhyunnie…"
To Be Continued
T/N:
Taraaaa ~ aku update dua chapter sekaligus karena kalian minta untuk di panjangin dan anggap aja karena keterlambatan aku update yaa! Tenang aja aku bakal terus lanjut ini sampai akhir, jangan khawatir kkk.
Oh iya, aku liat ada sekitar 70 lebih yang ngefoll/fav ff ini tapi hanya sekitar 20 orang yang muncul di review, huhu /sobs. Hehe gapapa deng. Kalau ada waktu review ya, aku seneng bacain review berasa lagi ngerumpi(?)
Sampai jumpa di chap 7, ppyeoong!
