ChanBaek Fanfiction

Tittle : Royal Pleasures

Author : StarDust_

T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .

WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.

.

.

.


7. Forgiveness


Piano adalah hal terfavorit Baekhyun sejak dulu. Kapanpun Baekhyun memiliki waktu luang, kapanpun dirinya sedang tidak bersama Luhan di taman, dia akan bermain piano. Melodi yang dimainkannya sampai ke penjuru istana, membawa setiap orang yang tinggal disana merasakan perasaan tertentu ataupun kenangan khusus.

Kebanyakan, atau semua lagu yang Baekhyun mainkan adalah lagu-lagu kesedihan. Lagu untuk kedambaannya untuk pergi dari istana yang tak diinginkannya, untuk melepaskan tubuh yang tak Baekhyun rasakan adalah miliknya lagi, dan untuk meninggalkan dunia yang hanya diselimuti oleh kegelapan. Suara memilukan Baekhyun saat bernyanyi terbang bersama alunan kesedihan dari piano yang dimainkannya. Dan hal itu membuat Raja sungguh ingin membunuh dirinya sendiri karena ia tahu pasti bahwa dirinyalah yang membuat Baekhyun merasakan kepedihan di hidupnya. Chanyeol tahu itu, dia dapat merasakannya dari tindakan Baekhyun.

Setelah malam sial itu, Baekhyun berubah menjadi lebih dingin dari yang ia bisa. Baekhyun tidak tersenyum sama sekali, bahkan tidak pada Luhan. Wajahnya pun lebih datar dari Sehun dan kata-katanya menjadi kasar. Hingga para pengawal mengepungnya yang akhirnya membuat Baekhyun ketakutan. Terlalu banyak kepedihan dalam hidupnya dan membuat Chanyeol tak tahan.

Chanyeol telah mencoba segala cara; seperti memberi bunga, sebuket bung hyacinth ungu yang indah. Menerimanya dari orang yang mencintaimu—atau yang kau cintai-artinya adalah 'maaf, kumohon maafkan aku.' Dan Baekhyun paham akan itu. Bunga yang sangat indah, Baekhyun menerimanya kemudian membawanya kekamarnya, namun bunga-bunga cantik itu tak berarti apa-apa untuk Baekhyun.

Dengan bunga itu, Chanyeol mulai memberikannya setiap hari. Pertama bunga gardenia, bunga yang sangat mempesona dan berarti 'aku mencintaimu diam-diam.'. meskipun Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol memberikannya, namun yang pasti cinta yang Chanyeol miliki bukanlah rahasia lagi. Kemudian karnation merah yang berarti cinta yang dalam dan kasih sayang. Hyacinth kuning yang berarti kecemburuan, dan hyacinth putih. Pada saat ia menerima hyacinth putih, Baekhyun mendatangi Chanyeol langsung. Baekhyun penasaran apakah Chanyeol benar tahu arti dari setiap bunga yang dikirim untuknya?

"Yang Mulia!" Baekhyun memanggil sang Raja yang sedang berbincang dengan Lord yang tak ia kenal di ruang tahta. Chanyeol seketika berbalik dan terkejut dengan kunjungan Baekhyun yang tiba-tiba. Chanyeol baru melihat Baekhyun lagi dan hatinya berdentum cepat pada ketika melihat Baekhyun didepan matanya. Baekhyun selalu terlihat cantik, dengan matanya yang gemerlap dan berkelip menyembunyikan sesuatu, bibir merah muda tipisnya, dan rambut berwarna ungunya yang indah.

"Ya, cintaku?" Chanyeol menyuruh pria yang berbincang dengannya pergi, yang diturutinya dengan membungkukkan badan pada Chanyeol dan Baekhyun sebelum pergi.

"Aku ingin bertanya padamu, jika kau tahu sesuatu tentang ini." Baekhyun menunjukkan hyacinth putih yang digenggam erat oleh tangan kecilnya.

"Ya, aku mengirim mereka untukmu. Kenapa?"

"Apa kau… apa kau tahu apa makna dari bunga-bunga itu, Yang Mulia?"

Chanyeol tersenyum pada Baekhyun, mengambil bunga yang digenggam Baekhyun diantara jemarinya yang panjang.

"Kesedihan, cintaku?"

Baekhyun menatap lelaki yang lebih tinggi itu, menunggu penjelasan.

"Maafkan aku. Aku sudah mengirimkan bunga-bunga itu kan?"

Baekhyun mengangguk, menatap kosong pada bunga putih itu.

"Ya. Karena aku berpikir aku telah menyakitimu, sayangku. Aku telah menyakitimu dan aku tidak ingin melakukanya, maka aku meminta maaf. Ketika aku mendengar suara pilumu mengalun dan terbang ke langit dengan nada yang rendah, hatiku sakit. Aku tahu kau tidak akan memaafkanku dan aku tahu aku melakukan kesalahan yang sangat besar. Namun aku masih berani untuk merindukanmu, aku masih berani untuk merindukan tubuh mungilmu di atas kasurku; dipelukanku, aku masih berani untuk merindukan akan rasa memabukkan dari bibirmu, kau tahu Baekhyun?"

Mata Chanyeol dipenuhi oleh sorot emosi, mencoba untuk memecahkan dinding hati Baekhyun yang kini benar-benar dingin.

"Maafkan aku." Chanyeol berlutut di hadapan Baekhyun, yang secara refleks mundur karena terkejut.

"Yang..Mulia." Baekhyun menahan nafas, mencoba untuk mengangkat Chanyeol dari posisinya.

"Tidak, aku harus melakukannya. Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku."

"Tapi…Yang Mulia, aku berhak atas hak diriku. Sebagai Raja, kau sudah benar-benar memiliku. Aku milikmu sepenuhnya."

"Tidak! Tidak Baek, aku tidak menginginkannya! Aku menginginkan cintamu. Aku ingin kau menatapku dengan penuh cinta, bukan tatapan seperti kau terpenjara disini. Aku ingin kau mencintaiku, bukan harus mencintaiku."

Baekhyun memalingkan pandangannya dari Raja yang sedang berlutut di hadapannya. Mempertimbangkan sesuatu yang bertentangan dengan dirinya. Bukankah pada malam itu Chanyeol sendiri yang mengatakan bahwa Baekhyun harus mencintainya karena Chanyeol adalah Raja?

"Yang Mulia…"

"Kumohon rubahlah hatimu, Baekhyun. Biarkan aku mendekati hatimu."

Baekhyun tetap memalingkan pandangannya.

"Jika… jika kau sudah memutuskan sesuatu, aku akan ada di kamarku nanti malam. Tidak, bukan seperti itu. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu lagi. Aku hanya ingin pelukanmu dan ciuman manismu, Baekhyunnie."

.

.

Baekhyun menghela nafas, menatap bunga ditangannya yang berarti kesedihan dan Baekhyun tak merasa lebih baik. Sang Raja terluka? Ia menyakiti Chanyeol namun ia yang merasa satu-satunya pihak yang tersakiti.

Ratu yang sebelumnya melintar memintanya untuk melakukan sesuatu karena anaknya tidak dalam keadaan yang baik. Sehun pun meminta hal yang sama karena kakaknya benar-benar merasa buruk. Luhan adalah satu-satunya yang mengatakan untuk tidak melakukan apa-apa, karena hey, Baekhyun adalah pihak yang dirugikan. Ia setiap malam bermimpi buruk atas segala perlakuan Chanyeol padanya. Akan tetapi…

Aku tidak seperti ini, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku mencintai semua orang. Apakah aku marah perihal kandang kuda, karena itu aku tidak membiarkan Chanyeol bahkan untuk menatap mataku? Apakah aku seburuk itu? Baekhyun bertanya-tanya, meletakkan kepalanya di atas piano.

Tapi diapun salah. Chanyeol tidak seharusnya melakukan ini semua. Tetapi…aku juga tidak perlu bertindak seperti ini juga…

Ketika Baekhyun sedang tenggelam dalam pemikirannya, ketukan di pintu kemudian membangunkannya. Sebuah surat terselip di bawah pintu kamarnya. Surat yang sederhana, Baekhyun lalu memungutnya.

.

Please, kau harus mendengarkanku jika kau mau keluar dari istana ini. Sungguh menyakiti hatiku untuk mengatakan ini, tapi jika kau mau keluar dari istana ini kau harus membuat Raja jatuh lebih dalam dan lebih dalam lagi padamu. Buat dia sangat sangat mencintaimu hingga Ia tak bisa hidup tanpamu, maka ia akan memenuhi semua keinginanmu. Lalu, mintalah padanya jika kau ingin berjalan-jalan di istana dengan sedikit kebebasan.

Lalu aku akan mengambilmu darinya. Aku akan membebaskanmu dari penjaramu itu.

Aku memiliki rahasia lain untuk kuberitahu, tapi nanti.

Percaya padaku, please, percaya padaku.

L.W

.

Baekhyun menatap pada selembaran kertas surat tersebut dengan alis yang bertaut. L.W? mungkin dia adalah orang yang sama dengan yang di pesta topeng lalu.

Pria bermasker itu… Baekhyun adalah satu-satunya yang bersalah dimalam itu. Dia adalah pihak yang membuat Chanyeol kehilangan kendari dirinya. Baekhyun meremas kertas ditangannya kemudian mengumpat pada apa yang baru saja terpikir dikepalanya.

Namun lagi-lagi dia mengatakan itu. apakah dia bersungguh-sungguh? Bagaimana jika dia sama mengerikannya dengan Chanyeol?

Kertas tersebut dilemparkannya. Jam bartending menunjukkan tengah malam dan Baekhyun memutuskan untuk memenuhi keinginan Raja. Mungkin ia juga bisa menemukan fakta lain tentang pria bermasker tersebut. Siapa dia? Dan apa yang dia mau?


Baekhyun menyelinap diam-diam dibawah selimut Chanyeol, menggunakan waktunya untuk memperhatikan wajah tertidur sang Raja.

Chanyeol tampan, tentu saja. Dengan hidung yang mancung, mata besar dan rambut yang halus.

Baekhyun membawa tangannya untuk menyentuh hidung, bibir dan kening Chanyeol. Ketika Baekhyun menurunkan tatapannya pada pipi Chanyeol, ia tidak bisa melakukan apapun selain nafasnya yang tercekat.

Air mata? Chanyeol menangis?

Baekhyun tetap memperhatikan jejak air mata yang mongering, seakan air mata itu datang dari dunia lain.

Dia benar-benar menangis karenaku? Apa dia…benar-benar mencintaiku?

Baekhyun mengelus pipi Chanyeol dengan lembut, tak ingin Chanyeol terbangun dari tidurnya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Chanyeol dengan lengan yang memeluk pria itu erat.

"Bangunlah dipelukanku agar kau bahagia."

Sebuah isakan terdengar setelah kalimat tersebut. Mungkin, mungkin Chanyeol memang benar-benar mencintainya. Mungkin Chanyeol benar-benar peduli padanya, hanya saja Baekhyun yang terlalu takut tidak bisa membalasnya, dan hanya merasakan kesedihan dari sentuhan-sentuhan manis itu.


Dipagi harinya, Baekhyun terbangun dengan sebuah kecupan di bibirnya. Bibir menempel pada bibirnya, ia kemudian mundur dan bibir itu menempel lagi. Baekhyun perlahan membuka matanya, dan bertemu dengan senyum mempesona sang Raja.

"Cintaku! Apa aku membangunkanmu? Aku tidak bermaksud melakukannya! Tunggu…ya, aku melakukannya! Tapi.. bagaimanapun…" Chanyeol mencuri sebuah ciuman lagi sebelum menindih Baekhyun dan menempelkan kening mereka.

"Aku sangat bahagia! Aku teramat bahagia sehingga rasanya ingin menangis. Apa ini artinya kau memaafkanku?" Chanyeol bertanya tidak sabaran, seperni anak anjing yang menunggu pemiliknya untuk memungutnya.

"Tetapi, kumohon berhati-hati untuk kali ini." Jawabnya. Kata 'ya' keluar dari mulutnya dengan lembut sehingga hampir tak terdengar.

"Aku berjani! Ya Tuhan, aku tidak akan pernah melakukannya lagi! Ah, Baekhyunnie, kau membuatku sangat bahagia!"

.

.

Dengan itu, kisah cinta yang tak pernah berujung dimulai. Jika sebelumnya Chanyeol memperlakukannya dengan banyak cinta, kini Chanyeol menjaganya layaknya Baekhyun boneka porselen. Selalu ada, selalu tersenyum dan selalu mengurusnya.

Sekali lagi, Baekhyun kembali pada Raja seperti sebelumnya. Tentu saja, Chanyeol selalu menyentuhnya, namun dengan jejak yang tersembunyi dan lebih berhati-hati.

Chanyeol memeluk Baekhyun yang masih ada di pangkuannya, menyeimbangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri di atas kasur. Bibirnya menciumi garis tulang belakang Baekhyun yang menggeliat setiap kali Chanyeol menurunkan ciumannya.

"Benar-benar. Bagaimana bisa kau selalu terangsang setiap waktu?"

Baekhyun bertanya, menggoyang-goyangkan bahunya agar Chanyeol tak menciuminya lagi.

"Ay…" Chanyeol terkekeh. Sebagai gantinya, ia menggesekkan hidungnya di telinga Baekhyun.

"Hentikan, demi Tuhan, ini geli!" Baekhyun mencoba untuk menjauh, namun berakhir terjatuh di atas kasur dengan Chanyeol di atasnya.

"No, no~~ aku akan berada di ruang tahta selama tiga hari untuk… kau tau seberapa susahnya menjadi Raja. Aku membencinya!"

Baekhyun berguling seperti anak anjing di atas kasur besar di kamarnya ke sisi yang lain sehingga Chanyeol tak bisa menjangkaunya.

"Lalu? Aku tidak menjadikanmu Raja jadi aku tidak perlu peduli—Chanyeol, jangan mendekat!"

Dari luar, kau dapat melihat bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. Chanyeol benar-benar bahagia dengan bayangan akan cinta yang Baekhyun berikan untuknya, yang ia bayangkan sungguh benar-benar cinta.

"Tapi!" Chanyeol mengerucutkan bibirnya, mengurung Baekhyun dalam pelukannya lagi. "Kau sangat cantik ketika kau tersenyum, Baekhyunnie. Aku bersumpah bahwa kedua matamu bersinar seperti bulan sabit."

Baekhyun menunnjukkan seringainya mendengar penuturan Chanyeol, seperti pantulan dari bayangan Chanyeol.

"Baek, maukah kau bermain piano untukku lagi?"

Baekhyun mengangguk dengan cepat dan segera berlari pada pianonya.

"Lagu apa?"

"Lagu apapun aku tidak keberatan." Chanyeol duduk disampingnya, menatap lekat-lekat pada Baekhyun yang mulai memainkan beberapa note. Namun kapanpun Baekhyun memainkan nadanya, Chanyeol akan menekan tuts lain dengan asal untuk mengacaukan lagu yang Baekhyun mainkan.

Chanyeol melakukannya berkali-kali. Melihat Baekhyun yang mengembungkan pipinya kesal dengan girang.

"Kau bilang kau ingin aku bernyanyi!" Baekhyun protes, yang direspon dengan gelak tawa Chanyeol. Chanyeol kemudian memeluk kekasih mungilnya, menyandarkan kepalanya di pundak Baekhyun.

"Maafkan aku. Kau hanya terlihat menggemaskan saat menggembungkan pipimu seperti itu. bertenti terlihat menggemaskan maka akupun akan berhenti."

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia melanjutkan nyanyiaannya dengan Chanyeol yang mengusap-usap kepalanya. Tangannya begitu lembut, tak seperti yang sudah-sudah.

Keduanya kemudian jatuh tertidur. Saling memeluk satu sama lain di atas kasur. Chanyeol memikirkan beberapa permasalahan. Sebagai Raja, ia harus memecahkannya. Salah satu musuhnya terlihat sangat membencinya, dan ia takut akan terjadinya perang.

Chanyeol memberikan satu ciuman lagi di kening Baekhyun sebelum tertidur.

Dan Baekhyunpun tertidur dengan masalah yang lain di kepalanya.

L.W. siapa kau?

.

.

.


8. Two Lovers


Chanyeol merasa seperti dirinya adalah orang paling bahagia di muka bumi. Keadaannya sangat sangat baik dan bahagia. Chanyeol bahkan mencubiti dirinya sendiri beberapa kali dalam sehari untuk memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi. Bahwa ia sedang tidak tertidur dan yang paling terpenting adalah, Baekhyun itu nyata.

Pernahkah Chanyeol bermimpi bahwa ia bahagia? Tidak, tidak pernah. Chanyeol tidak pernah bermimpi memiliki seseorang yang begitu istimewa, cantik, dan menggemaskan di sampingnya. Di malam hari, Chanyeol akan terbangun hanya untuk melihat Baekhyun tertidur. Matanya yang jelas-jelas tertutup namun terasa sangat tenang. Karena itu Chanyeol seringkali mencium kedua mata yang tertutup tersebut, menciumnya dengan lembut tak ingin Baekhyun terbangun. Dalam tidurnya Baekhyun selalu menggigit bibir bawahnya, membuatnya terlihat seperti anak anjing yang menggemaskan. Baekhyun juga sering mengerucutkan bibirnya ketika tidur, sehingga Chanyeol sering mencium bibirnya dan kedua pipinya pula.

Chanyeol merasa seperti ia tidak akan pernah puas untuk jatuh cinta pada Baekhyun.

Namun, apakah dia benar-benar menangkapnya?

Apakah hanya dengan beberapa tetes air mata cukup untuk membuat Baekhyun kembali ke pelukannya?

.

.

Pagi hari juga termasuk kedalam 'momen menakjubkan bersama Byun Baekhyun' untuk Chanyeol. Bagaimana Baekhyun menguap beberapa kali sebelum menggerakkan mulutnya seperti mengunyah sesuatu, bagaimana matanya terbuka perlahan-lahan, mencoba membiaskan cahaya matahari yang masuk kematanya—tentu saja, Chanyeol selalu disana untuk menempatkan tangannya menutupi cahaya yang menyorot mata Baekhyun sehingga anak itu bisa membuka matanya dengan baik dan silau—, bagaimana membisikkan nama 'Chanyeol' dengan tidak benar; menyapanya pertama kali, dan bagaimana senyum pertamanya yang ditujukan hanya untuk Raja. Chanyeol merasa hidupnya menjadi lebih baik.

Tentu saja, pekerjaannya menjadi Raja tidak pernah mudah. Namun terkadang Baekhyun akan datang dengannya dan melilaht-lihat tumpukan kertas mengenai masalah yang ada di kerajaan, lalu mengerutkan alisnya dengan menggemaskan. Tingkahnya menaikkan energi Chanyeol setiap kali lelah datang pada tubuhnya.

Momen ketika Chanyeol mengucapkan 'aku mencintaimu' pun masuk kedalam bagian favoritnya. Meskipun hanya Chanyeol yang mengatakannya, namun kini bibir Baekhyun akan bergerak untuk mengatakan 'aku tahu dan aku bangga' sebagai respon sembari tersenyum. Itu adalah momen ketika Baekhyun hanya akan menatap pada mata Chanyeol seorang.

.

.

Dari sepanjang waktu itu, ada beberapa momen yang membuat hati Chanyeol berdenyut sakit, bukan dalam maksud yang buruk namun dalam artian aku-bisa-mati-bahagia-jika-begini-caranya. Salah satunya adalah ketika Baekhyun mengajarinya bermain piano.

Saat itu Baekhyun mengenakan jubah yang kebesaran yang senantiasa merosot di bahunya dan menampilkan bahu serta tulang selangkanya pada Chanyeol.

"Hm, aku ingin menggigitmu." Chanyeol dengan hati-hati mengangkat Baekhyun dan menempatkan anak itu di atas pangkuannya, lalu menempelkan bibirnya di bahu Baekhyun. Baekhyun berbalik untuk melihat Chanyeol, dengan mulut yang terbuka karena keterkejutan, tidak percaya juga hiburan.

"Lihat? Ham, ham ham!" Chanyeol tertawa dan menggigit kulit Baekhyun, namun tidak terlalu keras.

"Yum~" Chanyeol melengkungkan bibirnya, seperti anak anjing yang tersenyum pada Baekhyun. Matanya menyipit sedikit, membuatnya semakin terlihat seperti anjing.

"Berhenti mencoba untuk terlihat seperti anak anjing, Yeol. Kau tidak pantas."

Membutuhkan beberapa saat untuk Chanyeol mencatat apa yang Baekhyun katakan sedangkan Baekhyun sudah berbalik kembali pada pianonya meskipun ia masih di pangkuan Chanyeol.

"Apa yang baru saja… apa yang… kau…memanggilku…apa?" Chanyeol mulai bergumam, kata 'Yeol' kembali terdengar bagai alunan melodi yang indah.

"Apa?"

Baekhyun bertanya heran dan Chanyeol menatapnya balik, menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Humpsdh. Fgthanr teihr!" ujar Chanyeol dengan mata yang lebar.

"Kau bicara apa? Chanyeol, apa kau demam? Atau sesuatu menggigitmu?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan mulai untuk berbicara lagi.

"Yandhem psheu, hgtmwo!" Chanyeol terlihat seperti sedang menjelaskan sesuatu, namun tak ada satupun yang keluar dari mulutnya dengan benar.

"Chanyeol! What the hell!" Baekhyun tertawa, terhibur dengan wajah mengerikan Chanyeol yang sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu.

Kemudian hening beberapa saat sebelum Chanyeol mengangkat Baekhyun di lengannya dan berteriak keras-keras.

"Panggil aku lagi!" ia menggendong Baekhyun lalu berputar-putar mengelilingi kamar.

"Memanggilmu apa? Chanyeol?" Baekhyun menggodanya, Chanyeol menggelengkan kepala.

"Paduka Raja?"

Chanyeol menggelengkan kepalanya lagi, mengecurutkan bibirnya pada Baekhyun.

"Yang Mulia!"

"Baekhyunnie~ jangan begitu."

Baekhyun tertawa lagi selagi mengeratkan pelukannya di leher Chanyeol, takut akan terjatuh.

"Apa, yeol?" Chanyeol membuat wajah memohon, memejamkan matanya saat merasakan perasaan yang paling indah yang pernah ia dengar.

"Yeolliee~" Baekhyun bernyanyi dengan sebuah senyuman di bibir tipisnya.

Chanyeol tiba-tiba berubah menjadi serius dan membaringkan Baekhyun di atas kasur, menghadap ke pintu.

"Aku bisa mati bahagia sekarang. Dunia, selamat tinggal. Aku senang bertemu denganmu."

Kebahagiaan tercetak jelas di wajahnya sebelum Chanyeol menghampiri Baekhyun dan memeluknya sangat erat, dan menghela nafas berat di dadanya.

"Kau tidak tau betapa kau membuatku bahagia."

Dengan kepalanya yang terbenam di dada Baekhyun, Chanyeol tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah Baekhyun.

.

.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padanya, namun tetaplah seperti itu." Ratu berkata sebelum menyesap sedikit teh di cangkirnya.

Baekhyun mengangguk dalam diam, tetap menundukkan kepalanya.

"Aku tidak pernah terpikir untuk menikahkan kalian, tapi segalanya terus berlanjut seperti ini jadi aku mungkin tidak akan mengubah pemikiranku."

"Yang Mulia! Pernikahan?" Baekhyun tercengang dengan nafas tercekat dan kepala yang terangkat.

"Apa kau benar-benar berpikir dia tidak akan menikahimu?" sang Ratu menaikkan alisnya sebelum menghela nafas.

"Baekhyun… tolong mengerti. Aku hanya memiliki dua putra dan aku ingin yang terbaik untuk mereka. Terutama anak tertuaku, yang memiliki amanah untuk menjadi Raja. Kau tahu bagaimana susahnya menjadi Raja yang mengurus banyak orang dan banyak hal lainnya? Wajahnya selalu terlihat keruh sebelum ia bertemu denganmu, dan sekarang… kau memenuhi segala kemauannya, kau menunjukkanya sedikit cinta. Dia bahagia, dia tersenyum. Hatiku membesar ketika aku melihatnya tersenyum seperti itu. aku menginginkan segalanya yang terbaik untuknya. Dan Baekhyun, jika kau menang yang terbaik, maka aku akan memilikimu disini. Baekhyun, aku tahu kau sejak kau kecil dan tumbuh menjadi anak yang manis dan baik. Hanya tunjukkan cinta sebanyak yang kau punya pada anakku dan aku akan menjadi manusia yang paling bahagia. Tolong jaga dia, Baekhyunnie…"

Baekhyun menundukkan kepalanya lagi seraya menggigit bibirnya. Helaan nafas keluar dari bibirnya sebelum ia mengatupkannya lagi.

"Baekhyun, please?" Ratu bertanya, lebih pada memohon. Dan Baekhyun tidak bisa berkata tidak pada Ratu.

"Terimakasih, sayangku."

Kemudian mereka melanjutkan untuk berbincang dan Baekhyun menyeruput tehnya dengan baik.

Rasanya terlalu banyak tekanan di kepalanya hingga kepalanya bisa pecah kapan saja.

Setelah Ratu pergi, Chanyeol menggantikan tempat ibunya. Ketika Baekhyun sedang memandang keluar jendela, ia melingkarkan lenganya di pinggang pemuda itu dan memeluknya erat.

"Baby, jangan terlalu menganggap serius dengan ibuku." Chanyeol berbisik, menyandarkan kepalanya di pundak yang lebih kecil.

"Tidak apa-apa."

"Lord Xi menanyakan kau padaku. Katanya ia ingin bertemu denganmu." Chanyeol memberitahu Baekhyun selagi mengagumi ukiran sempurna dari wajah Baekhyun.

"Hmm.."

Baekhyun bahkan tidak bisa bertemu dengan Luhan atau memeluk temannya itu, karena Baekhyun bisa saja meledak ketika ia melakukannya.

"Kau terlihat sedih?"

"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Baekhyun berbalik untuk mencium bibir Chanyeol dan pergi ke kamarnya.

Didepan jendela, Chanyeol masih terdiam. Tadi adalah yang sangat benar-benar pertama kalinya Baekhyun menciumnya. Baekhyun memang selalu membalas ciumannya, namun tidak pernah menciumnya duluan sebelum Chanyeol yang berinisiasi untuk memberikan sebuah ciuman.

Hati Chanyeol meletup, meledak menjadi beberapa bagian selagi dirinya menyimpulkan bahwa ciuman yang Baekhyun berikan tadi bermakna 'aku mencintaimu.'

Seperti inikah seharusnya rasanya cinta? Apakah rasanya sungguh hangat dan indah seperti ini? Oh Tuhan.

Dalam kepalanya, Chanyeol sedang membayangkan sebuah pelangi yang muncul di langit.

.

.

Ketika Baekhyun sampai di dalam kamarnya, ia menerima sebuah surat lagi di atas tempat tidurnya. Surat kali ini sungguh membingungkan tak seperti yang sebelumnya.

.

Pernahkah kau berpikir mengapa namamu adalah Byun? Apa kau tau orang lain yang bermarga sama dengan milikmu? Pikirkanlah dan jangan mengabdikan dirimu hanya untuk kerajaan ini saja.

Sebelumnya, aku meminta maaf.

L.W

.

"What the fuck?!" Baekhyun mengumpat selagi menatap surat tersebut. Apa yang seharusnya ia lakukan? Berpikir mengapa Ratu mengganti namanya menjadi Byun?

"Orang bodoh dan surat bodoh. Mengapa aku terus membacanya?"

Surat-surat yang Baekhyun terima selalu memiliki kode seperti menyatakan perasaannya pada Baekhyun, seperti seseorang dengan nama pena LW ini mencintai Baekhyun. Apakah dia mencintai Baekhyun?

"Siapa? Siapa kau?"

.

.

Malam itu, ketika Chanyeol memeluk Baekhyun untuk tertidur, Baekhyun berpikir untuk bertanya padanya mengenai sesuatu yang berkenaan dengan LW.

"Chanyeol-ah?"

"Hm, cintaku?"

"Apa kau tahu seseornang yang menulis namanya dengan LW?"

Chanyeol berpikir sejenak namun tak ada yang datang ke kepalanya.

"Tidak, aku pikir tidak ada." Jawabnya dan Baekhyun menghela nafasnya. Ia selalu berusaha keras untuk menemukan siapa pengirim surat itu tetapi Baekhyun tidak bisa. Surat itu selalu diam-diam berada di atas kasurnya atau di bawah pintunya sehinga tidak memungkinkan Baekhyun untuk melihat siapa yang menaruhnya.

"Tunggu! Lord Wu memakainya sebagai menanda dirinya beberapa waktu lalu. Aku pikir mungkin itu singkatan dari Lord Wu, benar kan?"

Chanyeol mengangguk yakin pada dirinya sedangkan Baekhyun menatapnya tak percaya.

"Tidak, selain dia. Atau mungkin itu bukanlah nama. Mungkin, apa maksudnya?"

"Tunggu, sebelum aku lupa. Hari ini kakakmu datang padaku dan meminta izin untuk sedikit istirahat. Dia bilang ia tidak begitu sehat dan izin untuk pergi dari istana sekitar satu atau dua minggu."

Baekhyun menjauhkan dirinya dan menatap Chanyeol.

"Benarkah?"

"Kau tidak tahu? Dan aku mengizinkannya karena dia selalu berada disini untuk mengawalku kemana-mana. Dan akupun butuh istirahat dari tatapan mengerikannya."

Baekhyun merebahkan dirinya pada bantal kemudian menghembuskan nafasnya.

"Chanyeol, sungguh, dia saudaraku dan kita sudah membicarakan tentang ini."

"Aku tahu, aku tahu. Tetap saja, aku terlalu cemburu." Chanyeol mengerucutkan bibirnya selagi mencuri satu ciuman di bibir Baekhyun sebelum ia memejamkan matanya dan tidur.

Bukan dia. L.W tidak mungkin Lord Wu.

Atau bisa saja dia?

.

.

Baekhyun terus menolak untuk berbicara dengan Luhan dan membuat Luhan putus asa hingga tak ada cara lagi untuknya menemui Baekhyun.

Seluruh istana dipenuhi oleh rumor tentang pernikahan Chanyeol dan Baekhyun. Dan Luhan tidak tahu bagaimana perasaan Baekhyun mengenai hal ini. Apakah dia benar-banar akan melakukan ini?

.

.

Mereka sedang bermesraan di kamar Chanyeol ketika salah satu dari pengawal kerajaan masuk tanpa mengetuk pintu.

"Kau pikir apa yang sedang kau laku—" Chanyeol berbicara namun tak menyelesaikannya ketika pegawal itu memotong kalimatnya

"Paduka! King Wang meninggal, Paduka! Dia meninggal!" pengawal tersebut hampir berteriak saat mengumumkannya.

"Apa? Apa yang baru saja kau katakan?" Chanyeol buru-buru mengikuti pengawal itu keluar sedangkan Baekhyun kembali ke kamarnya.

King Wang adalah raja yang sangat menginginkan perang dengan kerajaan Chanyeol. Kematiannya bisa berarti banyak hal, dan hal tersebut membuat Chanyeol sedikit khawatir.

Ketika Baekhyun memasuki kamarnya, ia melihat ada sepucuk surat lagi di atas tempat tidurnya. Ia membawa dan membacanya. Yang kemudian tautan di alisnya berubah menjadi senyum penuh harapan.

"Akhirnya… akhirnya!"


To Be Continued


T/N:

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Aku update dua chapter lagi nih, mana makasihnya? /plak

Oh iya, selama bulan Ramadhan, menurut kalian aku tetep update apa jangan? Khawatir untuk adegan-adegan mesum nanti dosa (padahal tiap hari juga banyak dosa /ngeles)

Makasih yang sebelumnya. Review lagi? nanti aku update dua chapter terus terusan :v aku juga berencana buat translate ff yang lain ._. tapi nanti aja deh.

Akhir kata, sampai jumpa di Chapter 9!