ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun memperhatikan bahan-bahan yang diletakkan dengan takaran kira-kira di atas meja, menunggu bahan-bahan tersebut segera di campurkan dan di masak hingga menjadi makanan yang sempurna. Beberapa bumbu tak ia temukan, dan Baekhyun mencarinya dengan senyuman lebar yang terpatri di bibirnya. Menggosok-gosokkan tangannya berkali-kali dan menjilat bibirnya sendiri ketika ia menatap makanan yang terlihat lezat tersebut.
Ia ingin membuatnya. Baekhyun ingin memasak makanan untuk makan malam sang Raja.
Di pagi hari, Baekhyun bangun lebih awal dari Chanyeol. Ia bangkit dari kasur dengan sangat hati-hati karena tidak ingin membangunkan pria tinggi itu. Setelah mengambil nafas yang dalam, Baekhyun meninggalkan pria yang lebih tinggi itu untuk tetap tertidur diatas seprai merah sedangkan dirinya pergi ke dapur istana.
Baekhyun telah memiliki waktu yang sulit sepanjang hari karena terus menerus menghindari Chanyeol, umumnya karena Chanyeol yang benar-benar sangat posestif dan menolak untuk melepaskan lengan Baekhyun, dan mengabaikan apa yang para pelayan katakan. Bagi mereka para pelayan, menghentikan Chanyeol yang terus menahan Baekhyun adalah sebuah penyiksaan, namun sekarang mereka melakukannya dengan sebuah senyum lebar di wajah setelah melihat Baekhyun menyiapkan segala sesuatu untuk Raja dengan manis.
Baekhyun memperhatikan segalanya dengan sangat ekstra. Ia menambah garam dan gula dengan takaran yang tepat. Ia bukanlah seorang yang pandai memasak, namun untuk sang Raja, Baekhyun mengerahkan usaha terbaiknya.
Sebenarnya sangat melelahkan ketika Baekhyun menyiapkan segalanya, Baekhyun menggunakan kamarnya untuk ruangan yang akan ia pakai bersama Chanyeol nanti. Ia harus memindahkan piano yang ada di sudut, kemudian membawa meja besar, kursi, dan menghias mejanya, menata ulang makanan dan piring-piringnya karena meskipun makanan tersebut terasa enak namun mereka benar-benar terlihat buruk. Baekhyun menyelesaikan semuanya selama 45 menit hingga akhirnya selesai pada pukul 6 malam.
Sang Raja biasanya makan malam pada pukul tujuh malam, jadi Baekhyun masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap. Baekhyun menata rambutnya, membuatnya terlihat lebih kelimis dari biasanya. Matanya terpoleskan eyeliner dan tangannya lebih terasa halus berkat krim tangan yang dioleskannya. Chanyeol terlihat menyukai warna merah, maka Baekhyun pun memilih pakaian berwarna merah yang mirip seperti yang ia kenakan saat acara pertunagan mereka. Sebuah senyuman bangga dan menawan tercetak di bibirnya, dan dengan senyuman itu Baekhyun menghampiri Chanyeol.
Beruntung, Chanyeol tak menyadari kehadirannya ketika Baekhyun memasuki ruang singgasana sehingga ia bisa berjalan mengendap-ngendap di belakang Raja dan mengejutkannya. Perlahan, ia berjinjit dan meletakkan telapak tangannya menutupi mata Chanyeol. Seorang Lord yang sedang bersama Chanyeol segera pergi dengan senyuman melihat hubungan manis pasangan tersebut.
Chanyeol tersenyum. Mengenali sentuhan tersebut dari sekian ribu sentuhan yang pernah ia rasakan. Jemari yang panjang dan kulit yang halus itu…
"Baekhyunnie-ku!" ia berbalik, segera mengungkung Baekhyun di lengannya dan menciumnya saat itu juga. Bibir kekasihnya terasa lebih manis ketika Chanyeol menggerakkan lidahnya untuk memperdalam ciumannya.
Ketika sebuah desahan keluar dari bibir si lelaki mungil, Chanyeol membawa tangannya untuk bergerak di pinggang Baekhyun. Menarik Baekhyun lebih dekat dan menyentuhnya lebih.
"Mhm… aku sangat merindukanmu." Bisiknya setelah memisahkan ciumannya dan menjilat bibirnya sendiri.
Setelah akhirnya Chanyeol membuka matanya, ia baru menyadari pakaian yang Baekhyun kenakan. Kekasihnya itu terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Kecantikannya dan bentuk tubuhnya yang bagus terbalut oleh pakaian berwarna merah.
"Wah, apakah aku melewatkan sesuatu? Ada apa dengan pakaianmu dan tidak dengan 'Baekhyunnie' hari ini?!" Chanyeol memprotes, melihat Baekhyun yang justru terkekeh dan dengan lembut menautkan jemari keduanya.
"Ikut denganku, Yang Mulia~" ia tersenyum, menuntun sang Raja ke kamarnya. Meskipun begitu, Chanyeol membiarkan dirinya dituntun oleh kekasihnya tersebut dengan senyuman lebar di sepanjang langkahnya.
Ketika sampai di depan kamarnya, Baekhyun kembali berjinjit untuk menurut mata Chanyeol dan membuka pintu dengan kakinya.
Terdapat beberapa lilin di atas meja, dan beberapa lagi tersebar di sekitar ruangan. Aroma yang tercium semanis mawar atau lily, kepalanya terlalu ringan untuk mengenalinya.
"Baekhyunnie… apa kau… apa kau yang menyiapkan semua ini?" Chanyeol bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, satu bulir air matanya sudah siap untuk jatuh.
Dan dengan sebuah senyuman paling manis dan paling lebar yang pernah Baekhyun punya, ia mengangguk. Yang kemudian rona kemerakan muncul di pipinya.
"My beautiful." Chanyeol merundukkan kepala untuk memberikan ciuman di bibir Baekhyun, namun anak itu menolak.
"Tidak, kau harus makan dulu. Jika kau sudah selesai makan, aku akan memberi beberapa ciuman tambahan." Ujar Baekhyun dengan nada yang main-main, mengecup hidung Chanyeol sekilas.
Chanyeol memutuskan bahwa dirinya tidak pernah merasa bahagia lebih dari ini. Memiliki Baekhyun yang menyiapkan ini-itu untuknya dan hanya untuknya Chanyeol merasa seperti mimpi. Apakah ia benar sedang bermimpi? Chanyeol mencubit dirinya sendiri untuk memastikan bahwa semuanya nyata, dan disusul oleh kekehan manis dari Baekhyun.
"Berhenti bercanda. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi! Maksudku…"
Baekhyun menghela nafas, menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir, kau memang benar. Sebenarnya… sebenarnya aku memiliki alasan dibalik semua ini, alasan yang sangat sangat egois. Maafkan aku, Chanyeollie…" Baekhyun menunduk menatap lantai, tampak malu.
"Apa? Apa itu alasannya, cintaku?"
"Yeollie… bolehkah aku meminta sesuatu?" ia kembali menghela nafas, dan menatap sang Raja dengan puppy-eyes terbaiknya.
"Apapun! Minta padaku dunia, dan aku akan membawanya padamu! Apapun, hanya beritahu aku, cintaku."
Ujar Chanyeol seraya meletakkan sendoknya di atas meja.
Baekhyun menatap jendela kemudian berucap pelan;
"Chanyeol… aku ingin mengunjungi rumah lamaku. Aku tahu mereka sudah terbakar, namun aku hanya ingin… aku ingin melihatnya lagi." Baekhyun memalingkan wajahnya kembali untuk menatap Chanyeol yang terlihat terkejut. Ia mencoba keberuntungannya lagi dengan puppy-eyes nya.
Mata Chanyeol terlihat melembut, dan kemudian pria itu tersenyum.
"Dengan satu syarat!"
Baekhyun merasakan lututnya memelas ketika ia bertanya apa syaratnya.
"Aku akan ikut bersamamu." Senyuman Chanyeol semakin lebar sedangkan Baekhyun menghela nafas lega.
"Tentu saja. Aku hanya…"
"Kita bisa pergi besok jika kau mau. Bagaimana?"
Seperti Chanyeol membaca pikirannya, Baekhyun mengangguk dengan cepat.
"Bagus. Sekarang, karena kita sudah menyepakati ini…" Chanyeol menepuk pahanya sendiri dan Baekhyun segera menghampiri Chanyeol dan duduk di pangkuannya. Mereka memakan semua makanan yang ada—karena hey, Baekhyun yang membuatnya—namun Chanyeol merasa ada sesuatu yang aneh.
Entah bagaimana, ia merasa menyetujuinya terlalu cepat. Dan merasa seperti ada makna yang lebih dalam dari permintaan kekasihnya tersebut.
Namun… dengan dapatnya ia memeluk Baekhyun seperti itu, mampu mencuri ciuman dari Baekhyun dan terkekeh ketika menambahkan gigitan, mengenggam tangannya erat-erat hingga seperti akan remuk, menatap mata bersinarnya yang terkadang terlihat seperti dua bulan purnama yang bersinar dan terkadang pula seperti bulan sabit, Chanyeol merasa semuanya setimpal.
Mereka pergi tidur bersama dengan lengan Chanyeol yang melingkar protektif di pundak Baekhyun. Ini adalah kali pertama mereka tidur bersama di kamar Baekhyun.
"Tidak bisa! Sudah cukup!"
Chanyeol tertawa selama terus menerus mencuri ciuman dari kekasih mungilnya.
Ia tertidur dengan masih tersenyum. Pipinya menekan pipi Baekhyun. Tak ada satupun tatapan Baekhyun yang terasa hampa olehnya.
'akhirnya… besok semuanya akan berakhir.' Ia sangat mempercayai surat dari LW dan mengikuti setiap kata-katanya. Dan dia lebih baik seperti ini.
.
Waktunya sudah tiba. Sudah waktunya untuk mendapatkan kehormatanmu kembali. Sudah waktunya untukmu terbebas dari pria itu.
Semuanya akan segera berakhir.
Ikuti setiap kata-kata ku dan aku berjanji kau akan segera bebas. Besok, masaklah makanan untuk Raja. Habiskan waktumu untuk membuatnya, kerahkan usaha terbaikmu. Berpakaian dengan baju yang paling bagus, hujani dia dengan cintamu, berikan semua yang ia inginkan.
Kemudian, pintanya untuk membawamu ke rumah lamamu. Sebaiknya nanti lusa kalian pergi.
Sisanya, serahkan padaku.
Kita akan segera bertemu.
L.W
.
.
.
.
Segalanya terjadi begitu cepat. Di hari esok, mereka benar-benar meninggalkan istana seperti yang Baekhyun inginkan. Banyak pengawal yang mengawal mereka, namun hanya sebagian, tidak semuanya.
Mereka harus melewati hutan di perjalanan menuju rumah lama Baekhyun. Tidak ada hal yang aneh sampai beberapa orang tiba-tiba keluar dari tengah hutan dengan pedang di tangan mereka.
Disanalah berdiri pria bermasker itu. Baekhyun bergetar melihat bagaimana pria itu berjalan menghampiri para pengawal tanpa takut. Dan hal itu terlihat tidak asing.
"Lindungi Raja! Lindungi Raja!" para pengawal berteriak dan Chanyeol berbalik menghadap mereka.
Kemudian, Chanyeol merasakan bobot Baekhyun yang menghilang di sampingnya. Tangan Baekhyun menghilang di genggamannya. Ia berbaik dan tak menemukan Baekhyun dimanapun.
"BAEKHYUN! BAEKHYUN! BAEK!"
"Yang Mulia, orang-orang itu adalah sebagian dari pengawal!" seseorang berteriak namun Chanyeol bahkan tak dapat mendengar apa yang mereka ucapkan.
"BYUN BAEKHYUN!"
Teriakannya hanyalah sia-sia.
"Aku mendapatkannya! Ayo pergi!" seseorang berteriak lagi, dan dengan kalimat itu para penyerang tadi kembali pergi ke dalam hutan.
"Yang Mulia, mereka adalah pengawal istana! Mereka semua adalah pengawal kerajaan!"
"Apa…" Chanyeol tak bisa fokus pada hal lain lagi. Disana taka da Baekhyun. Tak ada lagi Baekhyun.
"Baekhyun-ku, Baekhyun-ku!"
Beberapa pengawal mengikuti para penyerang kedalam hutan, namun tak lama kembali lagi ke hadapan Chanyeol karena kehilangan jejak.
Sebagian besar dari pengawal yang ada mendapatkan cedera yang parah dan sebagiannya lagi bahkan mati.
"Paduka… kita harus kembali ke istana dan membawa lebih banyak orang untuk mencari Lord Byun. Kita harus kembali, Tuanku, please!"
Chanyeol sudah siap untuk memasuki hutan dan mencari Baekhyun saat itu, namun para pengawal menahannya.
Pasukan kerajaan sedang menunggu perintah untuk mencari Lord Byun sedangkan Chanyeol kembali kekamarnya untuk mengganti pakaian dengan yang lebih hangat. Dan saat itu ia menyadari ada sepucuk surat yang tergeletak di atas kasurnya.
Mengambilnya dengan tangan yang bergetar, Chanyeol perlahan membacanya.
.
Paduka,
Ini adalah pelayanmu, Wu Baekhyun atau Byun Baekhyun nama yang Ratu berikan untukku. Jika kau membaca ini mungkin aku sudah berhasil keluar dari istana, akhirnya. Akhirnya. Sudahkah? Apa aku sudah melarikan diri? Apa aku bahagia sekarang?
Aku harap kau akan senang.
Selama aku disana, setelah kita memutuskan untuk 'bertunangan', aku mendengar beberapa Lords membicarakan sesuatu, dan mengejutkannya kau tidak pernah mendengarnya. Apa yang tadi aku katakan? Mengejutkan? Seharunya tidak mengejutkan, namun aku sadar bahwa kau tidak memiliki telinga untuk mendengar. Kau hanya memiliki mulut untuk memeritah.
Aku membencimu.
Aku membencimu.
Aku membencimu dengan sepenuh hati, Yang Mulia. Mengapa? Karena kau tidak pernah mendengarkanku. Kau tidak pernah mendengar permohonanku, kau tidak pernah mendengar teriakan putus asaku, kau tidak pernah melihat betapa menjijikannya perasaanku padamu kapanpun kau menyentuhku.
Beraninya kau. Beraninya kau memperlakukanku layaknya mainan, layaknya seseorang tanpa perasaan. Mengapa ketika kau mengatakan kau sangat mencintaiku, kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Kenapa? Apa kau pikir dengan menjadi Raja kau memiliki hak untuk melakukan ini semua padaku? Apa kau benar-benar percaya bahwa dengan memiliki kekuasaan atas menentukan hidup dan matinya seseorang, hal itu memberimu hak untuk membuat mereka menyedihkan? Membuatku semenyedihkan ini?
Siapa yang memberimu hak untuk membuatku semenyedihkan ini? Siapa yang memberimu hak untuk melarangku menatap cermin? Siapa yang memberimu hak untuk membuatku ingin mencabik kulitku sendiri dan membiarkan darah mengalir kesetiap inci tubuhku untuk menghapus setiap jejak sentuhan penuh dosamu? Siapa yang memberimu hak untuk menghancurkan dan mengubur semua mimpiku, semua harapanku, diriku?
Apakah Ratu? Apakah Ratu yang memberinya?
Kalian berdua sama egois dan menjijikannya. Pastikan aku membuat Raja bahagia, lakukan dan menikah dengan Raja, maka ia akan bahagia. Lakukan apapun yang membuat Raja bahagia. Bagaimana denganku? Apa kau pikir aku tak memiliki perasaan? Kau pikir aku tak memiliki emosi? Apa aku adalah sejenis boneka yang tak memiliki perasaan? Apa aku tidak diperbolehkan untuk merasakan kebahagiaan?
Aku membencimu.
Oh, aku sangat membencimu.
Aku sudah mencoba. Aku sudah mencoba untuk mencintaimu… tidak, setidaknya untuk menyukaimu. Aku sudah mencobanya. Namun kau membawaku terlalu cepat, dan kepribadianmu sulit untuk dikendalikan. Kau tidak pernah merasa terganggu untuk mengetahui siapa aku, dan aku mencoba untuk melupakannya saja. Aku mencoba untuk mendekatimu, untuk mengetahuimu melalui ciumanmu, melalui mata besarmu. Namun kemudian… kau melakukannya. Kau melakukanya… dan aku… aku terjatuh, dari suatu tempat yang sangat jauh. Aku merasa seperti aku terjatuh.
Aku harap kau membaca ini dengan kepahitan dari air mataku di mulutmu. Aku harap kau akan menumpahkan sedikitnya setengah air mata dari yang telah aku tumpahkan untukmu. Kau akan segera mendapatkan mainan barumu. Boneka lain yang akan kau goda dengan sentuhanmu dan memilikimu seperti yang kau harapkan.
Apakah aku menyenangkan? Apakah menyenangkan membawaku seperti itu?
Dan, apa kau benar-benar percaya jika aku sudah memaafkanmu sebegitu mudahnya? Dengan bunga dan piano segalanya akan baik-baik saja? Sungguh bodoh.
..
Aku berharap dengan segenap hatiku agar kita tak pernah bertemu lagi. Aku lebih baik mati,
daripada kembali padamu.
.
Chanyeol jatuh di atas lantai dan surat di tangannya hampir tak tergenggam lagi.
Sesuatu terasa terbakar di tenggorokannya dan ia tak bisa bernafas lagi. Gejolak tersebut terasa menyebar dengan cepat dan menjalar menuju dadanya. Jantungnya berdetak sangat pelan, dengan detakan yang menyakitkan.
"Baekhyun… Baekhyun-ku…"
.
.
.
To Be Continued
Pokoknya sengaja aku update cuman satu chapter ini aja biar penasaran /cielah.
Maaf telat. Kalau kepo ke ff orinya aja ehehe.
/digaplok
/kabur
.
btw, makasih buat yang sebelumnya huhu
( janji ga akan banyak omong, jadi sudah. dadah )
