ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
.
.
.
"Tidak. Ini tidak benar, kan? Yang menulis ini pastilah si penculik itu. iya.. iya benar.." Chanyeol berbicara pada dirinya sendiri meskipun air matanya sudah meluncur meninggalkan jejak basah di wajahnya dan tulisan tangan di dalam surat tersebut benar-benar sangat mirip dengan milik Baekhyun.
"Ini sungguh tidak mungkin dia." Katanya lagi seraya menunduk, menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh lagi. Dan disaat itu ada sebuah kilauan cahaya yang bersinar di bawah sinar matahari. Chanyeol membungkuk untuk memungutnya dan hatinya benar-benar hancur saat itu juga.
Cincin milik Baekhyun tergeletak dengan angkuh di atas seprai ranjangnya, dilempar dengan tanda kejengkelan dan penolakan.
Chanyeol jatuh pingsan. Itu adalah kebenarannya bahwa Baekhyun yang menulis surat itu. Dan yang lebih menyakitkan dari perihal Baekhyun yang menulisnya adalah, bahwa Baekhyun merasakan semuanya. Merasakan apa yang ia tulis dalam surat tersebut.
.
Sang Raja terbangun beberapa saat kemudian. Di kamarnya terdapat beberapa Lord, termasuk Luhan, adiknya dan sang Ratu sendiri.
"Dimana… dimana aku?"
"Di kamarmu." Jawab Ratu seraya menepuk kepalanya lembut, "Bagaimana keadaanmu?"
Chanyeol menepis tangan Ibunya dan segera duduk di atas kasurnya.
"Baekhyun! Dimana Baekhyun? Dimana Baekhyunku?!"
Orang-orang yang ada diruangan tersebut mengalihkan pandangannya, tak tahu bagaimana harus memberitahu Chanyeol kebenarannya.
"Aku… mengirim orang untuk mencarinya, dan…"
"Tidak! Aku harus pergi, aku harus pergi mencarinya!" Chanyeol mendorong seprainya, mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih terasa sedikit pusing namun ia tidak peduli. Baekhyunnya, Chanyeol membutuhkan Baekhyunnya sekarang.
"Hentikan, hentikan!" Luhan akhirnya angkat bicara setelah tak tahan lagi.
"Kau jahanam! Tidakkah kau sadar bahwa ia lari pergi darimu? Tidakkah kau sadar bahwa ia tidak ingin kembali padamu?!" semua orang berpaling pada Luhan dan terlihat terkejut dengan apa yang sudah Luhan katakan.
Chanyeol sudah pasti terkejut. Ia masih berpikir bahwa Baekhyun tidak ingin pergi darinya, bahwa seseorang benar-benar menculik Baekhyun darinya.
"Lord Xi…"
"Lu, ayo." Sehun dengan segera membawa Luhan pergi menjauh menuju pintu, tetapi ketika Sehun membawa Luhan melangkah, satu surat terjatuh di atas lantai. Surat yang memiliki warna dengan surat yang Chanyeol terima. Jadi, Chanyeol memungutnya, menduga surat yang satu ini pun ditulis dengan kemarahan dan kebencian yang sama seperti sebelumnya. Dan yang ia baca adalah…
.
Luhan hyung,
Lu hyung, ah Luhan ku, kesayanganku, temanku… aku merindukanmu, kau tau? Aku sangat merindukanmu dan aku mungkin akan lebih sangat merindukanmu. Maafkan aku, tapi aku harus pergi dari istana. Aku benar-benar harus pergi.
Aku tidak bisa, hyung. Apa kau sudah melihatnya, melihat topengku belakangan ini? Apa itu mengelabuimu? Tidak pernah. Aku tidak akan pernah bahagia bersama Raja. Aku tidak pernah bisa memaafkannya, hyung.
Jadi, aku menemukan kesempatan untuk meninggalkan istana. Ada seseorang yang mencoba untuk membantuku, kupikir. Aku tidak tahu siapa dia, atau apa keinginannya dengan menyelamatkanku. Namun bagaimanapun, tidak ada yang lebih buruk daripada tinggal disini, bukan?
Hyung, kumohon jaga dirimu baik-baik. Untuk aku, untuk Sehun, untuk semua orang yang kau sayangi dan orang yang menyayangimu. Selalu tersenyum, selalu bahagia. Makan dengan teratur, perbanyak minum air putih. Tetap menjadi Luhan yang aku temui sebelumnya, teman kesayanganku yang sangat aku sesali untuk kutinggalkan. Mungkin… kita akan bertemu lagi. Suatu saat nanti? Aku berharap.
Take care, hyung. Dongsaengmu ini sangat mencintaimu, hyungie..
PS: Sehun-ah, jaga Luhan baik-baik, mengerti? Aku mencintaimu juga.
With all my love,
Baekhyun.
.
Chanyeol kembali merasakan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Kenapa? Kenapa surat yang satu ini ditulis dengan penuh cinta dan kasih sayang sedangkan yang diterimanya ditulis begitu kasar?
Hal ini tidak adil, pikir Chanyeol. Dirinya selalu mencintai Baekhyun tak peduli apapun. Ia memberikan segalanya untuk Baekhyun dan mengapa Baekhyun tak bisa balas mencintainya? Mengapa?
"Aku tidak peduli dengan ini." Chanyeol melempar surat tersebut kemudian ia berdiri.
"Cari Baekhyun di seluruh penjuru kerajaan dan jangan berhenti sebelum ia ditemukan. Aku tidak peduli seberapa lama, cari saja dia!" perintah sang Raja, mengambil satu tarikan nafas berat untuk menenangkan jantungnya yang berpacu cepat.
"Jika Baekhyun tidak kembali dengan cara yang baik, dia kan kembali dengan cara yang buruk. Tunggu saja sampai kau kembali padaku, Baekhyunie, tunggu saja."
Sang Ratu melihat tatapan membunuh dari anaknya, yang hampir menakuti dirinya sendiri.
.
.
.
Nafas Baekhyun terhenti.
Ia kini sedang berada di tengah hutan, berlari semakin jauh dan semakin jauh sampai ia memutuskan untuk menghentikan mereka.
"BERHENTI!" ia berteriak dan pria bertopeng itu menghentikan kudanya.
Ketika pria itu menatap Baekhyun, Baekhyun merasakan darahnya membeku. Mata pria itu tidaklah hitam saat ini, justru terlihat berwarna coklat dan sangat tidak asing.
"Siapa kau? Beritahu aku siapa dirimu atau aku menolak untuk ikut denganmu!" Baekhyun bersuara setengah berteriak. Para pengawal yang lain menghentikan langkahnya, menunggu pria bertopeng dan Baekhyun. Dari semua pengawal, Baekhyun menyadari sesuatu dan matanya membulat saat melihat Tao ada di antara semuanya.
Pria tersebut menghela nafas sebelum turun dari kudanya, dan membawa Baekhyun turun dengan hati-hati. Tangan besarnya membuka topeng yang melekat di wajahnya dengan perlahan.
Dan disaat ketika topeng itu terlepas dari wajah si pria, Baekhyun terjatuh.
"Tidak.. tidak tidak! Apa kau becanda? Kau.. tidak mungkin kau!"
Disana, di tengah hutan, seorang pria dengan topeng di tangannya adalah kakaknya sendiri.
Lord Wu, Kris, adalah pria yang memberi Baekhyun surat-surat itu, pria yang membantunya melarikan diri, dan juga pria yang mencoba untuk menciumnya.
"Baek, Baekhyun! Dengarkan aku, kumohon."
"Tidak! Tidak mungkin kau. Apa kau gila? Kau mencoba… kau mencoba untuk…"
Baekhyun mundur menjauh ketika Kris melangkah mendekatinya.
"Aku… Baekhyun, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. Kumohon, dengarkan aku. Aku bukanlah kakakmu, Baek…"
Kris menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dari Baekhyun.
"Apa.. apa maksudmu? Kau bukan anak dari ayah dan ibu?" Baekhyun mengerutkan alisnya melihat Kris menggigit bibirnya sangat keras.
"Aku anaknya, Baekhyun. Kau yang bukan."
Baekhyun diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tertawa.
"hyung… hyung. Ada apa ini, sialan?!"
"Please… mengertilah. Kita tidak pernah terlihat mirip. Aku tumbuh sangat tinggi dan kau sebaliknya. Kau.. kau tetap adikku, namun tidak ada ikatan darah."
Baekhyun menggelengkan kepalanya, menolak untuk mendengarkan apapun yang Kris katakan.
"Lalu, lalu apa? Aku memiliki ibu yang berbeda? Atau ayah?"
Tao menghampiri mereka berdua, menempatkan tangannya di bahu Kris.
"Apa kau ingat surat itu, ketika aku memberitahumu untuk berpikir mengenai namamu yang baru. Byun, Byun adalah nama aslimu." Kris menjelaskan dengan sedikit terbata-bata karena terlalu gugup.
"Kita punya… Wang's Kingdom. Kau tahu kerajaan Wang? Sebelum Raja Wang menjadi raja dengan cara membunuh Raja sebelumnya, Ratu dan seluruh kerabat kerajaan, kecuali pangeran termuda yang masih berumur dua bulan. Saat itu Raja Wang kehilangan anak itu, karena rakyat yang menyayangi Raja sebelumnya mengirim anak itu ke kerajaan ini."
Baekhyun menatap Kris dengan ketidakpercayaan dan dengan sangat heran.
"Nama Raja itu adalah Byun Byunjin, istrinya bernama Byun Seowoo. Anak-anak mereka bernama Byun Byunjil, Byun Baekwoo, dan Byun Baekhyun."
Baekhyun membulatkan matanya lagi. Informasi yang baru saja ia dapat benar-benar mengejutkannya, menggoyahkan dirinya.
"Kau, Baekhyun. Adalah pangeran kecil itu dan kau adalah Raja selanjutnya."
Raut wajah Kris berubah setelah ia mengatakannya. Dengan mata yang bersinar ia mendekati Baekhyun dan mencoba untuk menangkup wajah itu, namun dengan segera ia menerima tamparan keras dari Baekhyun.
"Jangan sentuh aku! Aku hanyalah boneka, aku boneka untuk kalian semua! Aku pikir, kakakku mencintaiku! Dan aku pikir seseorang dengan nama LW akan menyelamatkanku! Go to hell! Enyah kalian semua!"
Setelah Baekhyun sedikit lebih tenang, ia pergi menaiki kuda Tao. Pria berdarah Cina itu menjelaskan sebagian dari rencananya. Bagaimana Raja Wang bisa terbunuh dan Baekhyun harus menggantikannya, bagaimana kerajaan itu menunggu kedatangannya, bagaimana ia harus menjadi Raja secara tiba-tiba.
Tidak ada berita buruk tentangnya dan Ia merasa hidupnya sudah benar-benar kacau. Tidak ada yang peduli pada dirinya, tidak ada yang memikirkan perasaannya. Orangtuanya dahulu mengurus dan membesarkannya karena dibayar, Chanyeol melihatnya hanya dari penampilannya saja, Kris membawanya untuk menjadi Raja, karena tentu saja Baekhyun tidak akan benar-benar menjadi Raja karena Kris yang akan memimpin segalanya dari belakang.
Baekhyun menekan kepalanya pada bahu Tao, terisak pelan. Ia merasa sendirian, sangat kesepian.
.
.
.
Dua bulan terlewati, dan semuanya, semua orang berubah.
Dimulai dari Chanyeol, Raja yang bertanggung jawab dan penyayang kini menjadi tak peduli sama sekali pada kerajaannya.
Ia merindukan Baekhyun. Merindukan Baekhyun dengan segenap hati dan jiwanya. Tubuh kecil Baekhyun di atas ranjangnya, aroma memabukkan Baekhyun, dan bibir yang membuat candu itu. Baekhyun merindukan semuanya tentang Baekhyun.
Menangis dengan sebotol arak besar disisinya adalah bagaimana Chanyeol menghabiskan hari-harinya. Ia mendapat info bahwa Baekhyun, Kris dan dengan para pengkhianat yang lainnya meninggalkan kerajaan. Mereka tak dapat pergi dan mencari anak itu di kerajaan yang lain dan tak ada yang bisa mereka lakukan lagi.
Dari jemari panjang dan tangan besarnya, Baekhyun melarikan diri, dan tidak pernah kembali.
Mata Chanyeol yang basah melihat Baekhyun dimanapun. Melihat bayangan Baekhyun untuk beberapa saat sebelum wajah anak itu menyeringai dan menghilang. Piano pun tak pernah tersentuh lagi, hanya mendapat lirikan panjang dari Chanyeol.
Dua bulan sungguh membakarnya hidup-hidup. Suara indah Baekhyun menggema di dalam ruangan yang kosong, dan membuat Chanyeol semakin sedih.
"AAAAHHH!" teriakannya melambung ke langit, hanya untuk menemani teriakkan yang lainnya.
.
Baekhyun. Baekhyun menjadi sejenis seperti hantu, menurutnya. Dia menjadi seorang Raja sekarang. memiliki tahta, mahkota, pelayan dan segalanya. Dunia seakan berada di bawah kakinya sekarang, namun sial, hal itu tidak membuatnya merasa baik. Kris selalu berada di belakangnya, sebagai pengawal dan seorang penasihat. Pada dasarnya ia yang mengambil semua keputusan, yang memutuskan persetujuan atau penolakan, menjaga kerajaan baru yang Baekhyun tempati, namun tidak pernah Baekhyun mengizinkannya untuk melewati batas. Banyak sindiran disana sini yang tak Baekhyun sukai, jadi ia menghentikannya.
Hubungan yang indah, penuh kasih sayang dan kuat diantara kedua mereka berdua, pecah. Mereka menjadi orang asing. Orang asing yang dipaksa untuk hidup bersama, meskipun Baekhyun masih berpikir bahwa Kris adalah saudaranya.
Tao resmi menjadi kekasih Kris, namun entah bagaimana Baekhyun merasa hal tersebut hanyalah status belaka. Ada lirikan, sentuhan, namun…
Langit selalu terasa gelap di kerajaan tersebut bagi Baekhyun. Istananya lebih besar dari milik Chanyeol, namun tak ada taman disana. Baekhyun memerintahkan untuk membuat taman namun tentu saja membutuhkan waktu.
Sementara Baekhyun hanya suka pada piano disana. Kali ini ia memiliki piano yang berwarna emas, meskipun tak seindah yang Chanyeol berikan padanya. Lagunya, atau mungkin bahkan suaranya kehilangan pesonanya.
Ia merindukan Luhan, merindukan Sehun, merindukan berjalan-jalan di taman… merindukan berbicara dengan kakaknya seperti yang biasanya ia lakukan. Baekhyun menghentikan dirinya untuk memikirkan segala sesuatu tentang Chanyeol. Baekhyun membencinya. Baekhyun membenci Chanyeol karena keegoisanya. Namun didalam hatinya yang terdalam, ia merindukan keprotektifan Chanyeol padanya. Baekhyun tak sadar bahwa ia tidak pernah terjatuh sebelumnya karena Chanyeol menangkapnya. Ia tidak pernah terjebak karena Chanyeol mengenggamnya. Ia tidak pernah merasa kesepian karena Chanyeol selalu ada bersamanya. Dihatinya yang terdalam, ia bertanya-tanya apakah Chanyeol masih merindukannya ataukah sudah memiliki seseorang yang lain.
Langit masih terasa gelap. Teriakannya melambung tinggi ke langit, paru-parunya mengambil nafas yang panjang dan dalam. Seluruh hidupnya tidaklah lebih dari sekedar kebohongan.
Ceritanya ini bisa berakhir dengan baik-baik saja disini, karena terkadang dua orang benar-benar pergi pada jalan yang berbeda, selamanya.
Mengingat kembali, memiliki harapan tertentu, namun tak pernah bertemu kembali.
Akan tetapi… hal itu tidak terjadi.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Chanyeol berpaling pada pengawal yang berlari menghampirinya, meninggalkan anjing kecilnya di lantai.
"Kita diserang, Yang Mulia! Sekitar limaratus ribu pasukan tentara datang!"
.
.
.
Tbc aja ya? serius ini lagi buru-buru bener deh. Sebelumnya maaf banget aku baru update lagi, nanti aku jelasin deh kalau mau huehe. Yang penting sekarang aku mau bilang makasih buat yang mau sabar nunggu, kalau mau protes langsung ke pm aja ya biar aku bisa bales dan ngejelasin langsung. Pegang janji aku, hari Minggu aku update 3 chapter.
Sudah dulu yaa, bubyee ~
