ChanBaek Fanfiction
Tittle : Royal Pleasures
Author : StarDust_
T/N : Fanfic ini murni milik author asli yang saya tulis diatas. Dan yang mentranslate dalam bahasa itu saya sendiri. Dan mohon kalau ada kesalahan kasih tau ya, saya juga manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah eak. Fanfic ori nya bisa dibaca di www dot asianfanfics dot com / story / view / 449665 / 1 / royal-pleasures-angst-baekhyun-chanyeol-baekyeol .
WARN! Typo(s) [mungkin], AU!YAOI.
.
.
.
.
.
.
Di kemudian hari, sang Ratu menemukan bahwa Baekhyun, Baekhyun yang dulu tinggal di istananya, kini menjadi seorang Raja. Tentu saja, beliau tak senang mengenai hal tersebut dikarenakan oleh beberapa alasan tertentu. Yang paling pertama adalah karena Kris, Kris yang mengkhianati mereka. Jika ditilik dari awal, sang Ratu sangat membenci pengkhianatan lebih dari apapun. Kedua, Baekhyun. Dengan kepergiannya, anak itu juga mengambil hati Chanyeol pergi. Melihat anaknya sangat terpuruk, beliau sangat ingin membunuh Baekhyun. Tak peduli apa yang di katakana orang lain, tak peduli jika putranya adalah seorang yang sangat kekanakan dan egois, beliau tetap marah pada Baekhyun.
Dengan begitu, bagaimanapun caranya Ratu butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Dan cara apa yang terbaik selain mengunjungi Baekhyun?
.
Pemuda itu tampak terkejut melihat ibu Chanyeol membungkuk padanya.
"Y- yang Mulia, apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun berdiri, balas membungkuk pada Sang Ratu dan berjalan mendekati wanita itu. terdapat beberapa Lord di ruangan itu, termasuk Kris yang memantau setiap pergerakan Ratu.
"Aku datang untuk memberimu selamat karena menjadi Raja, dan untuk memberitahumu dua hal, Byun Baekhyun. Oh, atau aku lebih baik membuatnya menjadi tiga."
Sang Ratu menampilkan seringaian angkuh di bibirnya, yang mana membuat Baekhyun sedikit takut.
"Yang pertama… aku harap kau tahu bahwa kau tidak seharusnya berada disini. Tempatmu sudah pasti bukanlah di singgasana itu, dan mahkota yang ada di kepalamu bukanlah milikmu."
Baekhyun terkejut, menerima lirikan tajam dari sang Ratu.
"Kedua, apa kau percaya bahwa dengan meninggalkan istana membuat semua orang merindukan dirimu? Tidak ada yang membutuhkanmu, tidak ada satupun yang merindukanmu, Baekhyun. Chanyeol sudah menemukan seorang putri yang akan ia nikahi dan hidup bahagia. Dia tidak membutuhkanmu."
Bohong. Semuanya adalah kebohongan yang Baekhyun percayai. Tatapan angkuh wanita itu membuat Baekhyun merasa sangat kecil di hadapannya. Membuat Baekhyun terlihat bagai masalah kecil.
"Ketiga,"
"Cukup. Ini bukanlah kerajaanmu, dan Baekhyun bukanlah pelayanmu lagi, Ratu Park. Berani sekali kau datang kesini dan mengatakan hal tadi? Pergi sekarang juga." Kris turut berdiri, membela Baekhyun dari sang Ratu yang kasar.
"Beraninya kau—"
"Aku juga bukan pelayanmu lagi, Ratu Park! Aku akan membela Rajaku dengan segala yang aku punya, jadi kau lebih baik pergi sebelum aku menjadi sangat marah!" Ucapan Kris sudah sangat jelas, dan para pengawal sudah bersiap dengan sinyal yang diberikan Kris untuk segera melempar wanita itu keluar dari istana segera.
Baekhyun tidak berbicara sama sekali. Kata-kata tadi terjebak dalam kepalanya dan mengancamnya untuk segera menangis. Namun Baekhyun menahan air matanya di pelupuk. Ia melihat sang Ratu pergi dalam diam, serta seringaian angkuh yang masih saja betah bertengger di wajahnya.
Sang Ratu menang, begitu yang dipikirnya.
.
"Kita benar-benar tak bisa tinggal diam. Bagaimana bisa wanita itu datang dan mengucapkan hal tersebut. Baekhyun, kita harus melakukan sesuatu."
Yang lebih pendek melirik Kris sekilas kemudian mengangguk-angguk. Chanyeol, Baekhyun sudah yakin bahwa pria itu bukanlah orang yang akan peduli dalam waktu yang lama, jika benar ia peduli. Hal tersebut tetap saja masih membuat Baekhyun sedih, bahwa anggapannya selama ini ternyata benar, namun ia memang sudah menyiapkan diri untuk itu. meskipun begitu, Baekhyun tak pernah merasakan apapun selain sebagai bonekanya Chanyeol.
"Baekhyun, kita harus menyerang kerajaan mereka. Balas dendam, balas dendam untuk segala hal yang mereka lakukan padamu, untuk apapun yang telah Chanyeol lakukan padamu." Kris menyarankan, dengan mata yang menatap sengit namun berpijar terang.
"Apa? Apa maksudmu? Menyerang kerajaan mereka?"
"Ya, serang mereka dan jadikan mereka bahawan kita. Mereka tidak akan bisa melakukan apapun tanpa persetujuan kita dan kita bisa memerintah mereka semau kita." Kris sudah benar-benar terpikat dengan keinginan barunya, dan beruntung bahwa Raja Wang sudah menyiapkan segala sesuatu untuk perang. Mereka sudah siap, siap untuk menyerang kerajaan Chanyeol.
"Tapi hyung,"
"Tidak, tidak. Kita akan melakukannya!"
.
Tidak ada penolakan yang bisa Baekhyun lontarkan lagi, Kris tak mendengarkannya. Pria itu membuat keributan di ruang tahta untuk memulai persiapan perang.
"Tapi… aku tidak menginginkan ini."
Ditinggal sendiri di ruangan tahta yang besar, Baekhyun menertawakan hidupnya yang malang. Setelah tidak mendapatkan belas kasihan dari sang Ratu dan Raja, kini ia pun tak mendapatkan tanggapan apapun mengenai perasaan dan pendapatnya dari saudaranya sendiri. Seluruh hidupnya tidaklah lebih berarti dari sebuah kebohongan, ditutupi oleh bualan-bualan dan kupu-kupu. Ibunya, yang sangat sangat Baekhyun cintai tidaklah lebih dari seorang pembohong. Ia mengurus, merawat dan membesarkan Baekhyun hanyalah karena di bayar oleh kerajaan lain. Canda tawanya, senyumannya, semuanya adalah palsu.
Pakaian Raja yang Baekhyun kenakan terlalu besar untuk tubuhnya sehingga membuatnya terlihat seperti anak kecil. Singgasananya pun terlalu besar, jadi Baekhyun dapat menaikkan kakinya, menekuk lututnya dan memeluk dirinya sendiri, membiarkan air mata baru membasahi wajah dan kabung biru di lehernya.
Yang mereka inginkan adalah perang? Yang mereka dapatkan pula adalah perang.
.
.
.
Chanyeol telah dikhianati oleh cinta yang ia labuhkan untuk Baekhyun. Chanyeol bahkan merasa tak pernah bisa terbangun lagi, karena hari tanpa kekasihnya hanyalah kepahitan dan kesedihan untuknya.
Tidak ada lagi yang bisa Chanyeol cintai kecuali anjing kecilnya. Dia melihat lihat, namun tak ada satupun yang tertangkap matanya. Tidak ada yang secantik Baekhyun, dan ia merasa jijik akan menyentuh orang lain bahkan dengan satu jari tangannya. Ia sangat merindukan malaikat kecilnya, dan cincin yang tergeletak di atas piano sama sekali tak membantunya.
Chanyeol berpindah kedalam kamar Baekhyun, menenggelamkan dirinya di atas tempat tidur Baekhyun, menghirup aroma memabukkan Baekhyun yang sangat ia rindukan.
"Cintaku…"
Ia tertidur di atas tempat tidur Baekhyun, membiarkan kenangannya terbang didalam pikirannya.
Di setiap saat ia tertidur, mimpi selalu memenuhi kepalanya, berusaha mati-matian untuk melupakannya.
Di dalam mimpinya itu, yang selalu sama terulang, Baekhyun kembali padanya.
.
Pintu menuju kamarnya terbuka dengan sedikit suara berderit, membangunkan Chanyeol dari tidurnya. Sebuah bayangan menghampiri tempat tidurnya, perlahan berjalan menelusuri ruangan dengan langkah yang tak bersuara. Chanyeol sungguh tahu bayangan siapa itu, dan ia membiarkan pemilik bayangan itu membaringkan tubuh disampingnya, melingkarkan kedua lengannya disekitar tubuh tinggi Chanyeol.
"Baekhyun…" bisiknya, berharap untuk sekali saja ini bukanlah sebuah mimpi.
"Chanyeol, aku sudah kembali…kepadamu." Kalimat yang sama. Kalimat yang sama yang selalu Chanyeol dengar setiap malam. Permintaan maaf yang sama yang mengalun di telinga Chanyeol, disusul dengan sebuah kecupan di kelopak matanya.
"Baekhyun, apa kau nyata?" melalui gelapnya malam, Chanyeol masih bisa melihat kulit pucat Baekhyun, tubuh mungilnya, bibir tipisnya, mata indah dan berpijarnya.
"Tentu saja." Senyuman palsu yang sama yang ia cintai, senyuman palsu yang menghantu Chanyeol setiap malam.
"Maka cintai aku, Baekhyunie. Cintai aku…"
Mata indahnya berkilau ketika Chanyeol menindihnya, menekannya sangat kuat pada ranjang. Ia tak menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia, ia langsung pada intinya.
Chanyeol menciumnya; kasar, kuat dan dalam. Telinganya memasuki mulut yang lebih mungil, menjilat lapar disetiap bagian yang ia sentuh. Ia sangat berharap untuk Baekhyun menjadi nyata, untuk berada disisinya, namun ia tahu hal tersebut tidak terjadi. Chanyeol tahu, tetapi ia tak bisa berhenti.
"Baek…" Chanyeol mendesah, menikmati lidah Baekhyun bergerak di lidahnya. Dengan desahan yang lain, Chanyeol menjenjangkan lehernya disaat bibir memikat Baekhyun berpindah untuk menciumi bagian lehernya.
Sungguh terasa nyata, namun sangat menipu.
Dengan gerakan yang cepat, Baekhyun membalikkan tubuh mereka. Dengan bangga duduk di atas paha Chanyeol. Dengan tubuhnya yang mungil, Baekhyun membungkuk dan dengan mudah menempelkan keningnya dengan Chanyeol. Bibirnya mencari belahan bibir Chanyeol setelah pria itu menekankan ciuman manis di hidungnya. Sungguh polos namun sangat seduktif.
Chanyeol sudah tegang, sangat tegang seperti biasanya. Kedua matanya terpejam, namun bagai memiliki sebuah magic, ia dapat melihat apapun yang Baekhyun lakukan.
"Baek, lebih rendah.. kebawah…" bisik Chanyeol ketika Baekhyun menciumi dadanya dan bergerak turun. Lidahnya menjilat setiap inci yang dilewatinya menuju puting Chanyeol, dengan cepat menggigit dan menciumnya, membuat Chanyeol gila.
"Aku tidak mau~" Baekhyun menegakkan tubuhnya, duduk dan menyamankan dirinya di atas paha Chanyeol.
"Baek-ah~" Chanyeol mencoba untuk bangkit namun Baekhyun menahannya. Perlahan, Baekhyun membuka pakaian Chanyeol yang sudah tak terkancing. Salah satu dari jari menawannya bergerak dari dada Chanyeol turun kebawah dan lebih ke bawah lagi, di daerah perut hingga sampai pada celana Chanyeol.
"Chanyeol…" bisiknya, merendahkan dirinya pada Chanyeol lagi. Chanyeol tahu apa yang akan terjadi, namun ia menggigit bibirnya untuk bertahan.
Bibir Baekhyun bergerak mendekat pada telinga Chanyeol, dan dengan pelan ia berbisik;
"Aku membencimu. Aku sangat membencimu."
.
Hari sudah pagi, dan mimpinya menghilang. Baekhyun menghilang dan Chanyeol ditinggal lagi dengan kekosongan di dadanya.
"AAHHH!" sang Raja berteriak, membiarkan air mata yang hangat menyerbu matanya.
.
.
"Chanyeol, aku sungguh serius. Kita harus menempatkan Sehun ditempatmu, sebagai Raja jika kau masih tidak mau tenang. Aku lelah dengan prilakumu beberapa bulan terakhir ini dan aku sudah tidak tahan." Sang Ratu memerindah, menatap pada puteranya yang berdiri serampangan di hadapannya. Semua Lord ada disana, serta adiknya, namun Chanyeol tak peduli.
"Aku tidak… aku tidak peduli. Aku ingin Baekhyunku. Tanpanya… tanpanya…"
"Tidakkah kau berpikir bahwa kau sedikit berlebihan, Chanyeol? Hanya karena satu lelaki, satu kekasih. Akan ada yang lain setelahnya, dan aku tak pantas kehilangan segalanya hanya karena sesuatu yang bukan akhirmu. Hell, aku yakin Baekhyun sudah bahagia dengan hidupnya yang baru, dengan seseorang yang lain."
Meskipun Baekhyun tak ada disana dan membuat Chanyeol gila, ia tidak pernah berpikir bahwa Baekhyunnya akan berpaling pada orang lain.
"Tidak… tidak, tidak…" Chanyeol menggelengkan kepalanya. "TIDAK!" teriaknya, seraya meninggalkan ruang singgasana.
.
.
Udaranya terasa dingin namun menyegarkan. Musim panas sudah lama pergi, dan musim gugur menampakkan kehadirannya pada taman besar Chanyeol. Berbagai jenis bunga dan dedaunan yang Baekhyun sukai semuanya sudah hilang. Kesepian menggema di sepanjang pepohonan, rumput kuning dan hijau dibawah menaungi air mata Sang Raja.
"Yang Mulia?" Luhan memanggil dari belakang, perlahan menempatkan dirinya untuk serta duduk disamping Chanyeol.
"Apa?"
Luhan menyayangkan akan dirinya yang menyadari bagaimana suara Chanyeol kehilangan kekuatan dan kekejamannya. Kemana perginya Raja yang mereka tahu dan meraka takuti? Mungkin dengan Baekhyun.
"Yang Mulia, jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan Ratu. Aku… aku tahu Baekhyun, dan aku jamin bahwa ia akan… dia mungkin tidak akan pernah bersama dengan orang lain."
Meskipun kalimat tersebut tidak berasal dari cinta yang Baekhyun miliki untuk Chanyeol, namun tetap berdampak pada apa yang Baekhyun lakukan padanya.
"Menurutmu begitu?" genangan air mata terlihat berkumpul di pelupuk mata Chanyeol, hanya tergenang disana tanpa tumpah ke pipinya.
"Tentu saja." Luhan tersenyum, senyum yang tulus. Ia merasa iba pada sang Raja yang terlihat begitu menyedihkan sepanjang waktu.
"Lord…no, Luhan, bisakah kau ceritakan padaku lebih banyak tentang Baekhyun-ku? Maksudku, aku sudah lama bersamanya namun hanya sedikit yang aku ketahui tentangnya."
Cukup mengejutkan untuk Luhan mendengar kalimat yang dikatakan Chanyeol tersebut, namun ia cukup senang mendengarnya. Mungkin kepergian Baekhyun tidaklah begitu buruk, dan mungkin Chanyeol akan berubah dan bertemu Baekhyun lagi. Hampir seluruh kerajaan sudah tahu bahwa Baekhyun adalah seorang Raja sekarang, kecuali Chanyeol. Ratu memerintahkan siapapun untuk tidak menyebut nama Raja Byun secara lengkap. Dan meskipun Luhan tidak setuju, ia tetap patuh.
"Baekhyun… dia adalah lelaki yang manis, sangat sangat manis. Tak peduli bagaimana caramu melihatnya, dia tetap akan meluluhkan hatimu. Dia adalah sahabatku, seseorang yang sangat kucintai setelah Sehun, tentu saja."
Chanyeol mendengarkan dengan seksama setiap tutur kalimat yang Luhan lontarkan, dengan mata yang terbakar kecemburuan dan kesedihan. Luhan tahu sangat banyak tentang Baekhyun sedangkan yang dirinya tahu hanyalah mengenai Baekhyun yang mencintai piano.
Beberapa saat setelah Luhan pergi, Chanyeol masih berdiri disana. Menatap tangannya sendiri yang kini menggenggam dua cincin, miliknya dan milik Baekhyun. Chanyeol bertekat untuk memberikan cincin tersebut pada Baekhyun dan menjadikan anak itu miliknya sekali lagi, namun ia hanya tak tahu bagaimana caranya.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Cahaya bulan terpapar, mengikuti datangnya seorang pengawal yang berlari menghampirinya.
"Kita diserang, Yang Mulia! Lima ratus ribu pasukan tentara datang dengan kecepatan yang gila!"
.
.
.
Tbc ye
.
.
udah janji 3 chap ya, 2 lagi nyusul besok atau lusa. Maaf telat, makasih udah mau nunggu. See ya..
