Rated: T+
Disclaimer: Todoroki Shoto punya saya! Percaya ngga? #jangan #buang Ngga, lah. Todo, Izu, dan segenap keluarga besar BnHA punya Horikoshi-sensei tapi kalau mau dikasih kesaya, ya boleh kok. #heh
Warning: seperti yang terlampir pada chap sebelumnya. (Ketahuan malesnya)
Genre: Action, crime, romance, supernatural (?)
Rated: T+
Pairing: TodoDeku, slight Kacchako
Special thanks for Rinadesu yang telah menjadi betaread saya
.
.
.
Chap 2: Menggenang Dalam Gelap
.
.
.
Akhirnya hari itu datang.
Setelah sekian lama seorang Todoroki Shoto menunggu hari itu. Dimana ia dapat bertemu dengan lelaki yang bahkan tak ia tahu namanya. Lelaki yang menyelamatkan dirinya. Yang berkata bahwa ia akan menjadi orang yang hebat. Todoroki kecil benar-benar tergugah hingga saat ini. Membuatnya bersabar atas apa yang dilakukan ayahnya padanya. Walau ketika kecil ia menangis hingga air matanya kering. Mendekap didalam selimut futon. Mengingat kembali kata-kata lelaki yang menyelamatkannya dilalu hari.
Sekarang, detik ini juga, lelaki itu tepat berada dihadapannya. Membuat desiran dalam hatinya kembali berkecamuk.
Dalam sepersekian detik yang hening, lelaki bermanik hijau tua itu tersenyum. Mengatakan terima kasih telah menyelamatkan dirinya sekali lagi. Sang helaian hetero yang akhirnya tersadar, mengangguk. Memperhatikan orang didepannya yang tengah memungut keranjang yang tadi didekap. Todoroki tak bisa mengatakan apapun lagi selain 'Lekas menjauh dari tempat ini,'. Yang kemudian dibalas dengan anggukan dan gerak tangan terburu-buru.
"Namaku Izuku." Lelaki berhelaian hijau tua tersebut tersenyum. Memandang lelaki di depannya. "Midoriya Izuku."
Todoroki, yang tengah berjalan, menatap Midoriya. Mengangguk. Sesekali ia melirik lelaki yang lebih pendek darinya itu.
Midoriya memang bertambah tua. Garis wajahnya tegas. Dengan beberapa kerutan pada wajahnya namun samar. Ya! Midoriya MEMANG bertambah tua.
Benar kan?
Todoroki merasa bersemangat. Midoriya, lelaki yang telah menolongnya itu, memang manusia! Hei, vampir tak menua secepat itu, tahu! Memang, bukan? Todoroki benar. Dan itu benar-benar membuat Todoroki senang.
Bahwa seorang Midoriya Izuku adalah seorang MANUSIA.
Hingga akhirnya lelaki itu menyadari bahwa matahari benar-benar telah terbenam. Membuatnya tak tega jika harus meninggalkan lelaki disampingnya untuk berjalan seorang diri. Memilih menyarankan -memaksa- sang helaian hijau tua agar ikut bersamanya. Todoroki akan mengantarnya pulang dengan mobil.
.
"Midoriya-san-"
"Panggil saja Midoriya," sang helaian hijau menginterupsi sejenak. Menatap jalan yang bergerak cepat di depannya.
"Midoriya, berapa umurmu?" Todoroki yang tengah menyetir, memilih membuka suatu topik -sekaligus ingin tahu-.
Manik hijau Midoriya melirik ke kiri sejenak. Mengingat. "Kita bertemu sejak dua belas atau tiga belas lalu, kan? Sekarang umurku 28 tahun,"
Oh, itu berarti saat pertama kali mereka bertemu, umur Midoriya adalah 15 tahun.
Sang helaian hetero mengangguk. Lalu menatap kembali jalanan di depannya.
"Kau tidak bertanya mengapa aku berada di daerah hutan vampir?" Midoriya kali ini tak menatap Todoroki.
Namun manik hetero Todoroki yang balik menatapnya sekarang. Menarik sebelah alis. Huh?
"Ibuku sakit. Kasihan sekali jika setiap kali melihatnya harus menahan sakit dimalam hari. Obat kimia tak ada yang bisa menyembuhkannya. Asam mefenamat dan jenis obat lainnya hanya meringankan nyeri pada tubuhnya. Sedangkan penyembuh yang paling mujarab adalah-"
"Jamur emas yang banyak tumbuh di dalam hutan vampir." Todoroki memotong Midoriya. Mengerti ini akan menjurus kemana. "Aku paham. Tak akan kukatakan insiden ini pada pihak militer dan kepolisian."
"Terima kasih, Aku berhutang padamu,"
.
Kediaman Midoriya memakan waktu sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil. Yang cukup tak disangka oleh Todoroki adalah kenyataan bahwa letaknya agak terlalu jauh dari pusat kota. Berada ditempat yang masih agak jarang penduduk namun sudah terfasilitasi.
Dilain sisi, kenampakan rumah Midoriya tak jauh berbeda dengan rumah kebanyakan. Tak terlalu kecil, juga tak terlalu besar. Namun halamannya yang minimalis, diisi oleh banyak bunga mawar dan lavender. Temboknya dicat warna natural. Krem. Selebihnya, tak ada yang benar-benar menarik.
Midoriya masuk terlebih dahulu. Melangkah sedikit terburu-buru. Todoroki, yang baru saja memarkir mobilnya disisi jalan, memilih mengikuti ritme sang helaian hijau. Memperlebar langkahnya. Memperhatikan Midoriya yang belasan langkah berada didepan, memegang erat keranjang yang berisi jamur.
"Aku pulang!" dengan setengah berteriak, Midoriya mendobrak pintu. Tidak sabaran.
Kemudian, tanpa diduga, muncul seorang perempuan setengah baya dengan helaian hijau yabg lebih terang. "Ah, Izuku, selamat datang!" dengan wajah berseri.
"Ibu, penyakitmu bagaimana?" Sang Izuku berjalan mendekat. Bertanya dengan raut khawatir.
Sang ibu menggeleng. Mengatakan bahwa ia sudah dapat bergerak sekarang. Kemudian tertawa jenaka. Meminta maaf telah membuat anaknya repot. Lalu beberapa detik kemudian, pandangannya beralih pada seseorang yang asing. "Izuku, siapa dia? Jarang-jarang kau membawa teman," menatap seseorang itu sambil tersenyum.
Todoroki selaku tamu, cepat-cepat membungkuk. Memperkenalkan diri. Ibu Todoroki telah berhasil mendidik anaknya dengan tata krama yang santun.
"Ah," ibu Midoriya tertegun sejenak saat menyadari sesuatu. "Kau yang ada di televisi itu kan? Pembasmi vampir termuda!"
Todoroki mengangguk. Lalu Midoriya Inko, nama ibu Izuku, lekas-lekas heboh dan memperingatkan Izuku agar menjamu tamunya dengan baik sebelum secepat kilat pergi menuju dapur. Ruang depan menjadi hening sejenak.
Tinggal Shoto dan Izuku yang sweatdrop dalam hati.
"Ma-maaf, ibuku memang suka melihatmu di acara televisi," Izuku menatap lelaki didepannya sembari menggaruk dagunya yang tidak gatal.
Sang helaian hetero mengangguk mahfum. Terbiasa dengan hal seperti ini. "Bukan masalah besar," dengan sebelah alis terangkat.
Sang manik zamrud gelap tersenyum. Kemudian mengajak Todoroki menuju ruang makan saat ibunya sudah memanggil-manggil. Makan malam sudah siap.
Tapi siapa tahu, bahwa dalam hati lelaki bertudung itu tak henti-henti merapal doa. Menutupi rasa khawatirnya pada sang tamu. Berbalut kepedihan masa lalu. Yang dimana hanya ia yang tahu. Ini cukup menyebalkan.
'Hei, Shoto-kun. Semoga kau tetap terlindungi.'
.
.
.
Dalam keremangan yang menyebalkan, seorang vampir bangsawan tengah berjalan. Menciptakan gema pada setiap langkah konstan yang dilakukannya. Menelusuri lorong berbata seperti benteng zaman dahulu.
Beberapa menit kemudian, sebuah pintu besar menghadangnya. Sepersekian detik menelan ludah, dan sepersekian lainnya mendorong pintu tersebut. Ia menyiapkan diri. Demi bertemu 'Dia Yang Agung'.
Dikeheningan yang menyesakkan, jutaan pasang mata terarah. Di depannya, terutama tepat beberapa belas meter didepan;
Seorang lelaki dengan jubah hitam kebangsaan. Rambut pudar acak-acakan. Wajah tegas namun penuh dengan kerutan. Bekas luka dibagian mulut kiri. Ditambah manik dengan gerakan dan raut aneh.
"Ah?" lelaki itu membuka mulut. Dengan suara yang berat dan mengintimidasi. "Kau sudah kembali, Makidielle?"
Makidielle, bangsawan itu, berlutut. Mengangguk takzim. Kemudian kembali menelan ludah.
"Saya melaporkan bahwa Todoroki Shoto dan Tsukauchi Naomasa adalah ancaman serius bagi vampir." Pria itu menatap lantai semakin dalam. Demi merasakan aura intimidasi yang terarah pada dirinya.
Pria dengan jubah hitam kelam itu mengangguk. "Baiklah, kau mengerjakannya dengan baik, Maki,"
Makidielle, yang merasa sudah dapat bernapas lega, menatap Sang Penguasa didepannya dengan berbinar, "Benarka-"
Kemudian sebutir peluru perak menembus dahinya.
Makidielle mengerang. Berteriak menahan sakit yang luar biasa. Perlahan tapi pasti, ia dapat merasakan tubuhnya menguap. Lelaki itu menatap arah datangnya peluru. Maka disanalah Sang Penguasa. Menatap rendah dengan menggenggam seonggok pistol. Makidielle merintih.
"Me...nga...pa...?" suaranya saat disadari mulai menipis.
"Mudah saja. Aku memerintahkanmu untuk membawa pulang banyak manusia hidup. Bukan mayat." Lalu pria dengan jubah hitam itu menyeringai. Memperlihatkan deretan giginya yang menyeramkan. "Nah, selamat tinggal, Maki,"
Makidielle memejamkan matanya. Merasakan detik-detik akhirnya. Tubuhnya kebas. Tak dapat merasakan apapun lagi. Kemudian tanpa disadarinya, ia telah hilang tak berbekas.
Beberapa vampir bangsawan yang hadir menelan ludah. Tegang. Lalu melirik diam-diam penguasa vampir yang telah memimpin sejak setengah milenium yang lalu. Berbisik. Sungguh sadis, bejat, dan tak berperi. Tiga sifat yang sudah cukup untuk mensifati lelaki dengan kenampakan fisik mengerikan itu.
Shigaraki Tomura.
Vampir berdarah murni. Anak buangan dari seorang bangsawan perempuan yang diperkosa oleh raja sebelumnya. Shigaraki -nama keluarganya adalah milik sang ibu- jugalah yang mengkudeta raja sebelumnya. Kemudian memenggal kepalanya dengan sadis, meminum darahnya, lalu mandi dengan darah ayahnya -jika ia masih ada setitik rasa- itu. Karena tak ada yang berani melawan, Shigaraki resmi menjadi raja.
"Mana Midoriya Izuku?" Shigaraki tiba-tiba bertanya. Membuat para bangsawan tersentak dalam diam.
Kurogiri, penasihat Shigaraki yang berdiri tepat disebelahnya, membuka sebuah catatan. "Belum kembali."
"Kirim pesan kepadanya. Ia harus melapor padaku secepatnya." Shigaraki menyandarkan dirinya. "Jika terlambat, bunuh saja Ibu menjijikkannya itu,"
"Baik!"
.
.
.
Tangan-tangan jam menunjukkan pukul delapan malam. Ruang makan kediaman keluarga Midoriya hening sejenak. Diisi oleh kecipak tangan yang sedang menggosok piring dan aliran air. Makan malam baru saja berlalu.
"Maaf ya, kau jadi mencuci piring, Todoroki-kun," seulas senyum manis dan perasaan tak enak hati Midoriya terarah pada sang helaian hetero. Tangannya sibuk menggosok piring dengan spons.
Todoroki yang tengah membersihkan piring dari sabun, mengangguk. Merasa tidak berkeberatan. "Lagipula ibumu nampak pucat,"
Sang manik hijau tua mengangguk sekali. Benar, pada saat pertengahan makan malam, ibu Midoriya tiba-tiba saja terlihat pucat dan izin untuk kembali ke dalam kamar. Cepat-cepat Izuku mengantarnya. Takut jika ibunya mengalami jatuh atau hal lain.
Todoroki yang melihat perubahan mimik Midoriya, menghela napas. Merasakan aliran simpati pada neuron-neuron otaknya. Kasihan sekali melihat Midoriya seperti itu.
"Kemana Ayahmu?" dan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari sang helaian hetero.
Manik hijau tua itu menatap Todoroki, "Tidak tahu. Ia menghilang." Kemudian tersenyum.
Senyum yang sama seperti waktu itu.
Cerah namun hampa.
"Tch," Todoroki berdecak. Kedua telapak tangannya dengan cepat menutup wajah sang helaian hijau tua. Midoriya tersentak kaget. Demi merasakan kedua tangan basah yang menutupi mukanya. "Jangan perlihatkan ekspresi seperti itu padaku!". Manik hetero Todoroki berkilat.
Kilatan itu, ditangkap oleh manik hijau milik Midoriya. Yang terlihat melalui celah-celah jari Todoroki. Dan dijawab oleh bulatan manik hijau tua tersebut. Midoriya benar-benar tidak mengerti. Bukankah bagi manusia senyuman adalah sebuah pernyataan bahwa 'tidak apa-apa' atau semacam, 'baik-baik saja'? ibunya bahkan jika mengkhawatirkannya, Midoriya akan selalalu tersenyum. Atau bahkan pada raja vampir, senyum tersebut akan selalu berhasil. Lalu kenapa? Kenapa-
Todoroki terlihat begitu sedih?
.
Mobil berwarna hitam milik Todoroki bergerak maju. Meninggalkan jalanan yang selanjutnya menjadi sepi. Midoriya masih tetap melambaikan tangannya. Mengiringi kepergian pemburu vampir tersebut. Ia merasa sudah melakukan hal yang buruk beberapa jam lalu.
'Tidak, akulah yang harusnya meminta maaf. Bagaimanapun juga hal itu adalah privasimu.' Itulah yang dikatakan Todoroki pada dirinya beberapa jam lalu. Membuat helaian hijau tua itu merasa tidak enak. Namun kemudian ia membungkuk. Kembali meminta maaf. Dentang jam besar disudut ruangan berdentang sebelas kali. Pada akhirnya perdebatan tersebut menggantung begitu saja.
'Pulanglah. Sudah malam,' ujarnya saat itu. 'Maaf kau jadi merasa tak enak,'
Dan hanya dibalas oleh satu kata dan anggukan. 'Hn,'
Midoriya benar-benar bingung. Mematung begitu saja disudut jalan. Walaupun angin berhembus semakin kencang dan bayangan mobil hitam Todoroki sudah lama menghilang. Lelaki berhelaian hetero itu, huh? Dia selalu mengusik kehidupan panjang Midoriya.
Todoroki Shoto. Apapun caranya, bagaimanapun juga, ia harus selalu melindungi lelaki itu. Kali ini tak ada kata gagal. Karena Shoto adalah-
"Nee, Izuku-chan~"
Midoriya terkesiap. Demi mendengar jenis suara yang ia kenal. Suara yang sangat menyebalkan.
"Toga-" Midoriya menoleh perhalan. Menyaksikan seorang perempuan dengan helaian pirang yang dicepol dua namun berantakan berada TEPAT dibelakangnya. "-Himiko,"
"Aku senang saat Shigaraki-sama mengutusku untuk menyampaikan pesan padamu, Izuku~" kemudian kedua tangan perempuan itu menggerayangi dada Midoriya.
Sang helaian hijau tua menatap tak suka. Namun sepertinya seorang Toga Himiko sudah mati dengan hal seperti itu. "Apa yang disampaikan oleh Raja? Laporanku?" sembari berdecak sebal dan berusaha menepis tangan di depannya.
Sayangnya Toga malah menarik baju Midoriya, lalu secepat kilat menggigit leher lelaki didepannya. Membuatnya mengeluarkan darah. "Hei, aku akan memberimu sekantung koin emas jika kau mau tidur denganku malam ini," perempuan itu menatap Midoriya dengan pandangan gila.
"Peduli setan," Midoriya yang kehilangan kesabaran, mendorong jatuh Toga. Membuat suara jatuh kecil. Kemudian menginjak perut perempuan itu dan menekannya. Aura disekitar lelaki bermanik hijau itu berubah. Mencekam seperti malam. "Mati saja sana, dasar gila!"
Sayangnya, bukannya takut, Toga malah tertawa senang. Memperlihatkan gigi-giginya yang seperti taring semua. "Aah ya, itu! Tatapan seperti ingin membunuhku! Itu sangat menawan, Izuku sayang~"
Kaki kanan sang helaian hijau tua semakin masuk kedalam perut Toga. "Dasar masokis." Dengan suara yang berat dan dalam.
"Aah, Izuku~ bagus! Tetaplah seperti itu. Kau benar-benar seperti vampir berdarah murni~" namun reaksi Midoriya adalah melepaskan melepaskan kaki kanannya pada perempuan jalang itu. Lalu melangkah mundur.
'Tidak, tidak! TIDAK!' hati Midoriya terpukul. Ia bukan vampir sepenuhnya. Tidak! Bukan! Tentu saja bukan! Walaupun dari sudut hatinya yang lain ia menyadari bahwa sifat vampir telah merasuk kedalam dirinya sejak berabad lalu.
Toga terbatuk, kemudian berdiri dengan susah payah. Terkikik dengan suara yang menyebalkan. Melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah. Mendekati lelaki dengan helaian hijau tua yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Toga, gadis itu, mengalungkan kedua tangannya pada leher Midoriya. "I. Zu. Ku~ kau adalah vampir-"
"-Dan selamanya akan tetap begitu."
.
.
.
Kertas-kertas yang bertumpuk. Pulpen yang tergeletak tak berdaya. Buku-buku bermacam isi satu tema berserakan. Secangkir kopi yang telah kehilangan uapnya. Juga data-data yang tersimpan sebagai file komputer. Berantakan. Sungguh, satu kata yang pada akhirnya dapat menyingkat beberapa kalimat diatas. Ruangan itu, dengan luas 15x20 meter, lebih terlihat seperti kapal pecah daripada sebuah ruang kantor di departemen pembasmi vampir.
Didalam ruang itu, didekat pintu, Todoroki mendesah. Menyandarkan dirinya pada kursi kantor. Menutup wajahnya yang menggantung pada atas sandaran kursi dengan sebuah buku bertema pembasmian vampir.
Sedetik kemudian, pintu diketuk. Lalu Fuyumi, kakak perempuannya, masuk. Menaikkan sebelah alis, "Tumben sekali ruanganmu berantakan?" tangan perempuan berhelaian silver sedikit merah itu meraih buku-buku yang berserakan, lalu menumpuknya dengan tepat.
Shoto menurunkan buku diatas wajahnya dengan telapak tangan. Kemudian bangkit dari sandarannya. "Aku hanya berpikir," pada akhirnya memutuskan mengikuti langkah kakaknya. Merapikan mejanya yang sangat berantakan. "Omong-omong, ada apa?"
Fuyumi mengeluarkan suara 'eh' kecil. "Aku sampai lupa. Kau dapat izin untuk menyelidiki keberadaan vampir sesukamu. Perintah langsung dari Chisaki-sama." Lalu sebelah tangannya mengeluarkan sebuah amplop dengan bordir emas. "Itu surat izinnya,"
Lelaki didepan Fuyumi mengangguk. Menerima surat tersebut, kemudian membaca sekilas isinya. Oh, biaya operasional termasuk makan juga akan ditanggung oleh pemerintah. Tumben sekali hal seperti ini terjadi. Namun Chisaki adalah adalah raja manusia yang berpikir dahulu sebelum bertindak. Tapi bukankah ini agak terlalu berlebihan jika hanya untuk misi pengintaian?
"Kak, bukankah ini seharusnya tugas dari kepala kepolisian?" Shoto menatap kakaknya, sembari memasukkan amplop tersebut ke dalam saku.
Fuyumi menerawang sejenak. Menghela napas. "Kupikir-". Angin berhembus masuk melewati celah-celah gorden jendela yang terbuka lebar. Perempuan itu menatap ke arah langit. "Ras manusia akan mengadakan perang besar melawan ras vampir."
"Ap-" lelaki hetero tersebut membulatkan maniknya. "Jangan bercanda!"
Fuyumi memilih menggeleng. "Kuharap aku salah. Ini hanya pikiranku, kau tahu?" lalu membentuk kurva senyum yang dipaksakan. "Well, baiklah! Siang ini bagaimana jika kita observasi hutan?"
Shoto mengangguk. Baiklah. Mungkin itu bisa melupakan sejenak rasa bersalahnya pada Midoriya. Masalah itu juga yang membuat ruangannya menjadi sangat berantakan. Namun dalam hati lelaki itu, ia tetap tidak dapat menampik perasaan itu. Perasaan yang benar-benar membuatnya terusik entah kenapa.
Ia tak ingin Midoriya memaksakan dirinya.
Baiklah, Shoto menghela napas dalam hati. Nanti malam, Shoto akan mengunjungi Midoriya dan meminta maaf.
.
.
.
Seorang lelaki menghela napas perlahan. Setengah berusaha mengindahkan bau darah yang bercampur dengan pengap. Baginya -yang padahal adalah seorang vampir- ini benar-benar membuat mual. Maka, lelaki dengan helaian hijau tua tersebut melangkahkan kakinya lebar-lebar dalam tempo cepat.
'Bisa tidak sih, lorong menuju ruang raja dibersihkan?!' ia menggerutu dalam hati.
Beberapa puluh meter kemudian, lelaki itu sudah berdiri di depan sebuah pintu besar. Lalu tanpa membuang waktu mengetuknya. Setelah mendapat jawaban dari dalam, ia mendorong pintu tersebut.
"Aku sudah menunggumu, Midoriya Izuku," disapa dengan suara berat mencekam. Shigaraki Tomura menyeringai.
Midoriya berlutut. "Saya memenuhi panggilan Anda,"
"Baiklah, bagaimana dunia manusia?" Shigaraki memulai pertanyaannya.
"Tetap tidak ada perubahan berarti," lelaki manik hijau tersebut menjawab jujur.
"Apa kau tahu tentang sesuatu yang penting? Kepolisian pembasmi vampir misal?"
"Sayangnya, tidak."
Bohong.
"Bertemu dan berinteraksi dengan salah satu dari mereka?"
"Dengan menyesal, tidak."
Bohong.
Shigaraki menyandarkan dirinya pada sandaran kursi kerajaan. Meminum suatu cairan merah kental dari dalam gelas piala. Ini pertama kalinya seorang Midoriya Izuku tak mendapatkan apapun ketika melapor. Shigaraki tentu saja bukan tipe orang yang terbiasa dengan adanya degradasi kinerja, namun kali ini suasana hatinya sedang baik. Toh, biasanya Midoriya akan membuatkan dirinya suatu strategi untuk menyerang manusia. Lagipula sebenarnya seseorang di depannya tersebut juga adalah salah satu orang kepercayaannya.
"Aku akan memberimu misi penting, Midoriya Izuku," Shigaraki berdiri dari singgasananya. Berjalan mendekat.
Midoriya yang merasakan firasat buruk, menelan ludah, lalu mengangguk. "Dengan segala hormat, Yang Mulia."
"Kau tahu Todoroki Shoto?" sekarang Shigaraki telah berdiri tepat di depannya.
Midoriya mengangguk. "Saya tahu dari gosip yang beredar, Tuan,"
"Bagus," Shigaraki memegang puncak kepala Midoriya. "Perintahku adalah-
Bawakan aku kepala dari keluarga Todoroki. Mereka adalah ancaman bagi kita."
Jantung Midoriya seakan berhenti berdetak. Mana mungkin?!
.
.
.
Dengan kurang ajarnya, Bersambung :v (2)
A/N
Ya ampun, ini dikit banget serius :"v mana updatenya lama pake banget lagi. Maafkan saya yaa :"v sekedar cerita, mohon salahkan tugas dari dosen saya yang kebanyakan dengan deadline mepet :v selain itu, saya juga saat menulis ini kelihatan sama temen sebelah, "Asheera nulis diari ya?" saya ngakak dalam hati tapi mulut iya iya ajha :v ya masa saya bilang kalo saya lagi nulis Fic? :v
Well, saya akan memperbaiki kinerja saya yang terutama panjangnya fic semakin menurun panjangnya :"v padahal saya rencananya chap 2 ini sampai Shoto tahu kalo Izuku itu vampir :v
Baiklah, waktunya menjawab review~
Shirocchin:
TERIMA KASIH BANYAK TELAH MEREVIEW SEBANYAK ITU, SHIROCCHIN-SAN SAYA BENAR-BENAR SENANG! #capslockjebol #buang Aaaaahhhh, bukan salah Anda kok, emang judulnya sebenarnya kurang sreg aja. Cuman ngebet banget pas mau publish :"v
Rinadesu
Heh, sori ya lu sibuk tapi gue paksa :v btw, sudah 2 orang protes masalah judulnya :v
Babyone
YA AMPUN, MAKASIH BANGET, BABYONE-SAN! SAYA TERHARU! Maaf, jika Anda kecewa karena chap 2 ini terlalu pendek. Akan saya usahkan pada chap berikutnya. Memang judulnya ga nyambung kok, kayaknya #buang
Guest
Terima kasih telah mereview, saya sangat senang
Bbhyun
Saya suka yang antimainstream sih, #buang
Kyuunauzunami
Terima kasih sudah review, ini sudah lanjut walau sedikit :"v
Sleepy Asha00
Terima kaassiihhhhh atas pemberian semangat, review, dan telah membaca fic ini. Saya sangat senaaaanngg.
SakuraMatcha
Iya, ini dah lanjut. Maaf kalo dikit. :") makasih banget dah baca. Saya sangat senang.
Dan Anda yang sudah follow dan fav
Akashi Cielia x Rarachi x SakuraMatcha x brightseok x grobeyeux x Killua x Azreil x Miharu348 x renkaSh
(maaf yang tidak tertera. Saya cepet-cepet copas soalnya #eh)
Saya sangat berterima kasih telah baca, review, fav, dan follow :") ini sangat berharga
Asheera W.
.
.
.
Mind RnR?
