Ia duduk di depan altar ibunya, foto sang ibu menyungging senyum yang menenangkan seakan berkata semuanya akan baik-baik saja. orang-orang datang dan pergi setiap saatnya, ada beberapa orang menepuk kepalanya atau mengucapkan kata-kata penghibur yang hampir semuanya sama bahkan beberapa memeluknya dan ia tak perduli, ia hanya bersimpu disitu, ia bahkan sampai tak bisa merasakan kakinya yang terlalu lama menahan berat badannya, lututnya terasa perih terkena permukaan futon yang tak bisa dikatakan halus, matanya terarah penuh ke figure tak bergerak dalam bingkai, ia tak terisak, tak menangis, setetes air matapun tak ada yang terjatuh.
Detik berikutnya ia sudah berada di pemakaman, ia tak ingat berjalan kesana, tak ingat jika ia harus beranjak dari sana. Pigura masih didekap erat, kaki seolah tepancang bersama nisan sang ibu. Beberapa kerabat mulai beranjak meninggalkan pemakaman, meninggalkan dirinya dengan beberapa pelayan yang terus berusaha untuk membujuknya kembali ke rumah duka.
" Hinata …."
Ia mengenal suara itu, tapi siapa? Terdengar maskulin tapi lembut ditelinga, seperti milik Neji, sepupunya, tapi lebih lembut dan lebih berirama. Seperti ibunya jika menyuarakan namanya, dan ia tak pernah sesenang itu saat orang lain menyebut namanya.
" Hinata….."
semua karakter yang ada adalah hasil pinjaman
NARUTO sudah pasti bukan punya saya
Ia pernah ingat membuat janji untuk sering-sering olahraga tapi ia tak ingat untuk lari sejauh ini. Dalam perjalan hidup yang pernah ia hadapi, ini adalah lari terjauh sepanjang masa yang disisipi napas pendek-pendek, beruntung ia tak pingsan ditengah jalan tadi, walau sempat tersungkur dan meninggalkan bekas gesekan di lututnya, dan berakhir dengan Simurai Sai yang menggendongnya sampai tempat tujuan, yeah, dia tak menyangka tubuh sekurus itu bisa mengangkat tubuhnya yang, yah, bisa dikatakan cukup berisi. Tapi ia berterima kasih. Sungguh!
Minggu pertama ditempat itu benar-benar minggu penuh jatuh bangun untuknya dan dari bangun hingga berbaring, harinya dipenuhi manusia beriris dan bermata jelaga. Awalnya ia tak benar-benar perduli dengan hal itu tapi hari berikutnya ia sukses membuatnya penasaaran saat melihat anggota lain yang duduk leha-leha di emperan dalam saat ia bersusah payah dengan dengan, ah ia tak ingat sedang apa waktu itu. Yang jelas Simurai Sai adalah manusia yang mendominasi hidupnya saat itu, bahkan hari pertamanya berlatih Sai-lah yang membanggunkannya dengan cara yang tak pernah ia banyangkan sebelumnya bahkan mungkin juga orang normal lainnya yang membuat mereka berakhir dengan adu dahi. Tapi ya yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan yang tertawa biarlah tertawa. Hari ke-empatnya ia mendapat jawabannya jika ternyata mereka adalah partner entah partner hal apa maksudnya, ia gagal paham walau sudah berusaha untuk pura-pura paham.
Malam ini adalah malam penentuan berhasil tidaknya pelatihan yang ia jalani dalam waktu singkat itu atau setidaknya sesuatu yang bisa dikatakan seperti itu. Ia berharap rasa pegal dan lelah yang ia dapatkan bukanlah kesia-sian.
Dan disinilah ia sekarang. Berdiri dengan kegugupan tingkat akut ditengah-tengah keramaian pub malam, dengan rambut merah jambu pendek dan terusan merah menyala yang pas tubuh. Benar-benar penampilan yang sangat diluar gambaran tentang Hyugaa Hinata yang selama ini ia tampilkan, tapi ia masih beruntung setidaknya ia tak perlu memakai sepatu ber-alas tinggi seperti yang ditawarkan senior Anko sebelumnya. Jujur saja ia tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan, ia hanya mengikuti arahan para senior-nya untuk melakukan ini itu tanpa tahu apa tujuan sebenarnya atau ia yang gagal menangkap penjelasannya, akhirnya ia menyerah dan mengantungkan harapan untuk partnernya menjelaskan dalam perjalanan.
Oh, ngomong-ngomong soal partner, dimana ia sekarang. Iya, partnernya Samurai Sai, yang selalu tersenyum itu. Tadi selama perjalanan ia tak mendapatkan penjelasan apapun mengenai hal ini itu yang akan mereka lakukan, sang partner hanya sibuk sendiri dengan ponsel pintarnya sambil menggumam rendah yang tak dapat ia tangkap maksudnya, jadi ya mau gimana lagi, ia junior gitu loh walau-pun ia lebih tua beberapa tahun dari sang partner.
Setelah sampai-pun sang partner hanya berkata akan mengurus sesuatu dulu lalu pergi entah kemana, dan sekarang ia galau. Ia galau harus melakukan apa, terus jalan dan bergabung dengan para penikmat malam ,ah ia tak akan bisa atau belum bisa melakukannya atau pilihan kedua ia keluar saja mengingat ini sudah masuk area Konoha, bisa mati ia kalau ketemu sepupu dan adiknya walau selama ini yang ia tahu mereka tidak akan ketempat seperti ini, yah siapa tahu, manusia bisa berubah.
Tumit sepatu ia putar dan tubuh-pun begitu, tapi belum genap ia berputar 180 derajat sosok tegap berambut panjang yang ia kenal terlihat di area terang di suatu sudut bar sedang berbincang entah dengan siapa. Iya itu Neji, sepupunya yang alim tiada banding itu. Ternyata statmen manusia berevolusi adalah mutlak kebenarannya, setidaknya untuk kasus sikap sepupunya yang baru ia ketahui sekarang. Atau, semoga saja ia hanya orang yang kebetulan mirip dengan sepupunya. Demi kesehatan jiwa raganya ia tak akan memastikan matanya bermasalah atau tidak.
Langkahnya patah-patah menuju keramaian penikmat malam, telinganya terasa berdenging, kepalanya terasa kosong, ada banyak tubuh bergerak penuh tenaga dengan hentakan music yang menggelegar. Dan ia tak mengerti ada apa dengan tubuhnya yang tiba-tiba gemetar. Berbagai aroma bercampur menjadi satu menciptakan kombinasi yang memualkan, sesuatu berasa asam seperti merambat naik ketenggorokannya, mulutnya terasa asam yang memuakkan. Ia butuh toilet.
Langkah kakinya secepat detak jantungnya, debarannya terasa menyesakkan sampai ia kesulitan menghisap napasnya. Langkahnya cepat dan tak terarah, sesekali menabrak pengunjung mabuk yang mengumpat walaupun ia sudah meminta maaf. Dalam lorong temaran yang terasa sangat panjang ia mempercepat langkahnya kearah lari, hingga akhirnya ia terhenti, terjungkang dengan bokong yang mendarat keras kelantai yang dinginnya terasa tembus ke terusan tipisnya.
" sakura, kau tak ap…eh?"
Dua pasang kaki, dua pasang mata , dua pemuda dengan pandangan yang bertolak belakang. Satu sehangat segelas coklat panas di musim dingin, satu sedingin air membeku di puncak musim dingin, silakan pikirkan sendiri bagaimana rasanya.
"bodoh, mana mungkin sakura berdada sebesar itu."
"bodoh! Siapa yang kau sebut bodoh dan jangan berbicara seperti itu di depan perempuan,,, tapi memang iya sih,,,, maaf ya..ha ha"
Hyuuga Hinata, untuk pertama kalinya merinding sampai kedasar sumsumnya, semengerikan apapun ayahnya, ia tak pernah merinding separah itu. Dan omong-omong, tak ada yang membantunya berdiri nih? Ya sudahlah, keberuntungan sedang tak bersamanya, mungkin duluan ke toiet. Eh? Ia jadi tak ingin ketoilet lagi, kemana perginya semua perasaan tadi? Balik lagi aja deh, siapa tahu partnernya sudah selesai dengan urusannya.
Saat berbalik ia sempat melihat sesosok perempuan di belakang ke dua pemuda tadi, dan saat ia sudah menjalankan kakinya beberapa langkah ia sempat mendengar sesuatu benda terjatuh dengan keras, dan ia menjalankan kakinya semakin cepat sambil mengguman, ' aku tak melihat apapun, apapun, apapun, …' , dalam kata lain jangan libatkan aku lebih jauh akan apapun yang sedang dan akan terjadi. Dan ia sangat bahagia saat melihat tikungan, berharap suara mohon ampun yang masih sempat-sempatnya mampir dari arah belakangnya segera meninggalkan kupingnya yang masih sebening air sungai di dekat SD Konoha sana.
Dan ia berbelok, tapi eh tapi sosok lain yang tak di inginkan, manusia berambut panjang, berjenis kelamin jantan datang dari arah berlawanan, ingin berbalik, ia tak ingin melihat sisa-sisa berdarah barusan jadi satu-satunya solusi adalah maju pantang mundur, berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata, dan yang paling penting mengabaikan panggilan seseorang yang diduga adalah sang sepupu, Hyuuga Neji. Dan Hinata menciptakan mantra baru, ' ia tak mengenaliku, penyamaranku sempurna, rambutku masih merah jambu,,,,,' dengan detakan jantung yang berbalapan dengan langkah kakinya.
Dentam tabuhan keras memenuhi seluruh penjuru ruangan yang dijejali manusia penuh tenaga, tubuh mereka menghentak bersamaan dengan dentuman itu. Ia disana dengan perasaan tak tenang jika berada di tengah keramaian, jantungnya berpacu cepat memompa darah keseluruh tubuhnya dengan kecepatan yang membuat keringat dingin meluncur di sekujur tubuhnya. 'Kemana sih orang itu pergi, bisakah dipercepat urusannya, ini benar-benar tak menyenangkan'. Hinata kesal pada orang-orang yang terus menerus mengganggunya, ia kesal pada dirinya sendiri yang selalu jadi seorang yang terlalu penakut, ia kesal pada Simurai Sai yang pergi untuk urusannya, ia kesal mengapa ia selalu sendiri… sendiri.. sendiri!
Tepukan ringan menyentuh pundaknya, menyentuh kesadarannya, membangunkannya dari mimpi buruk yang menemaninya. Mata malam yang beberapa hari terus menyapanya, terasa teduh dalam balutan malam yang tak menyenangkan, terasa dalam sampai takut jika suatu saat ia jatuh kedalamnya, eh…. Apa yang ia pikirkan?
" Kau baik-baik saja?"
"eh… ya, tentu". Kenapa lama sekali? Kenapa aku harus menunggu? Ia tak mengerti, mengapa senyum yang terpasang diwajah itu terasa,, terasa,,, .. membuatnya ingin menangis. Mengapa ia tak mampu menyuarakan pemikirannya?
"ada apa?"
"tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa?" ia bisa melihat sang partner menatapnya cukup lama, lalu berpaling menatap kerumunan orang yang mulai menggila.
" tidak,… hanya saja…. lupakan. Tak ada apa-apa."
Jeda itu terlalu lama untuknya. Ia tak suka kediaman orang itu, ia tak suka orang itu mendiamkanya, ia mengingatkannya akan ayahnya, ia takut diabaikan, olehnya,,,,, eh ,,, kenapa memangnya?
" ap…apa urusanmu disini sudah selesai?" Hinata tahu, bena-benar tahu, jika ia cukup tak sopan bertanya seperti itu, hanya saja ia tak suka jika meraka saling berdiam seperti itu, karena ia tak suka , tak suka,,, tapi kenapa? padahal ia tak suka keramaian , ia juga tak suka banyak bicara.
"kita…"
"maaf…?" ia tak mengerti, ah ia memang tak pernah mengerti partnernya ini.
"bukan urusanku tapi urusan kita." jeda" kau tahu jika kita sudah jadi pasangan sejak kau resmi jadi anggota, jadi jika menyangkut pekerjaan , segalanya jadi kita , mengerti?"
Hinata tahu jika hubungan mereka tak lebih dari hubungan pekerjaan, tapi ia juga tahu jika sang partner menyimpan sesuatu rahasia darinya. Hanya saja apa pantas dirinya bertanya tentang hal itu? Tapi bagaimana jika ia malah dituduh sok ikut campur, tapi berdiam diri seperti ini juga menyiksanya, apalagi bukankah dia bilang tadi itu urusan mereka?
"anu…. Sekarang kita mau kemana?" oke!, Sekarang ia bahkan tak tahu apa yang ia tanyakan. Tapi itu lebih baik dari pada mereka , seperti orang yang tidak saling kenal,, baiklah mereka memang tidak begitu saling kenal, tapi setidaknya,,,, oh ayolah ,,, lupakan.
"pulang." Tipikal, Singkat, padat dan membingungkan.
"pulang?" seingatnya, mereka tidak melewati rute itu saat berangkat tadi, apa tadi ia melewatkan tempat itu. Apa mereka..? hah, nggak mungkin kan?
" kita mau mampir kesuatu tempat dulu, jadinya tidak melewati rute yang tadi."
"heh?...ya.." oke, mungkin sebaiknya ia tidak berpikir yang macam-macam.
"dengar ya, jika kamu hanya diam, mana mungkin orang lain tahu apa maumu," jeda "oke, mungkin jika kau menampilkan wajah bingung,mungkin orang yang melihatmu akan coba menebak-nebak, tapi, jika setiap melihatmu, kau selalu memasang wajah bingung, orang yang melihatmu malah bingung sendiri."
Untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari pub, Sai menatapnya… eh, tunggu, apa selama ini ia menunjukan wajah binggung seperti yang dikatakan Sai.
" Apa wajah bingung lebih buruk dari pada wajah datar ?" bodoh. Bodoh, bodah! Apa yag ia katakan?
"entahlah, tapi setidaknya, orang akan berpikir dua kali untuk membodohimu jika kau memasang wajah datar."
Hanya perasaannya atau memang Sai baru saja memasang wajah sendu ya? Mungkin hanya perasaannya,atau…. jangan bilang jika Sai tersinggung karena ucapan bodohnya. Semoga saja tidak.
" sampai …" mereka berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup, dari penampilan luarnya, ruko ini tak jauh berbeda dari ruko lainnya, hanya saja cat yang memudar dan mengelupas, serta tidak adanya plang nama, membuat ruko ini terkesan tua dan tak berpenghuni.
"Sai, apa yang kita lakukan disini?" ia tahu pertanyaannya kali ini benar-benar masuk akal. Untuk apa mereka disini? Mereka sedang tidak uji nyali kan?
" kau akan tahu nanti. Ayo masuk." Ia tak tahu harus bagaimana lagi menanggapi partnernya itu. Ia hanya berjalan mengikuti kemana pun, sang partner berjalan.
Banyangan tentang sarang laba-laba, kelelawar yang beterbangan dan tempat gelap, musnah dalam segejap, ketika yang mereka dapati adalah ruangan yang terang benderang dan barang-barang asing bagi matanya.
"tempat ini seperti work shop untuk kami, beberapa barang jadi yang umum diperdagangkan, akan di pajang di toko. Oh ya, kau belum pernah ke toko kan? Lain kali kita ke sana jika ada waktu luang."
Bagi Hinata ini seperti tour kecil dengan Sai sebagai pemandu wisatanya. Hinata yang diam saja karena tak tahu ingin bertanya apa, dan Sai yang terus bicara seperti sales yang menawarkan dagangannya. Dan dari semua yang Sai ucapkan, hanya beberapa yang bisa ditangkap oleh otak Hinata. Dan yang membuatnya semakin heran tak ada satu pun orang yang berada disana kecuali mereka .
"kenapa hanya kita disini?" apa ini jenis pertanyaan bodoh? Dan ia mendapatkan operan dus besar yang lumayan berat." Sai, apa ini?"
"barang-barang yang akan kita butuhkan saat kerja nanti." Dan Sai sibuk lagi memilah-milah barang lain yang katanya barang-barang keperluan, sedang hinata bingung sendiri dengan apa yang dibawanya, setelah melihat isinya , ia semakin bingung. Hell ! untuk apa barang-barang ini. Apa untuk di sumbangkan? Wow , ia serasa masuk kedalam komunitas dermawan.
"yak , selesai !"
Hinata sadar betul postur tubuhnya memang tak seindah boneka yang sering dimainkan oleh sebagian gadis kecil dibelahan dunia manapun, tetapi semenjak ia masuk dalam rumah ini ia benar-benar merasa seperti Barbie nya senior Anko. Seragam sma yang masih bau aroma toko dan dandanan kepang dua membuatnya serasa jadi gadis desa dan kaca mata, oh sebenarnya mau dibawa kemana dia, bukan-bukan ,pertanyaan yang tepat adalah pekerjaan macam apa yang akan ia lakukan dengan seragam sekolah seperti ini. Semoga ini tidak seperti yang ia bayangkan.
Adaptor , 10 oktober 2017
Untuk para pembaca , terimakasih sudah membaca.
