Capter 4

Naruto bukan punya indrakun.

Rate: M

Warn: Gj, Typo, Ancur, Dll.

Please don't read if you don't like

it"JUST FOR FUN"

Happy Reading.

…~XxX~…

"Kau saja perlu menggunakan sangat banyak mana untuk menciptakan jarum-jarum elemenmu, mungkin saja orang yang menyerang kita juga sudah kehabisan mana."

Mirajane menyampaikan asumsinya, ia berpikir, mungkin ini semua sudah berakhir. Tapi

"Menakjubkan, aku tak pernah mengira jika kalian bisa menciptakan hal seperti itu. Mungkin aku akan sedikit mengakui kalian, tapi ini semua belum berakhir."

.."Akan ku tunjukan hal yang tak pernah kalian ketahui sebelumnya, senjata pemusnah masal yang di sebut sebagai 'Bom Nuklir'!."

Sebuah lingkaran sihir berukuran dua kali lipat dari sebelumnya muncul di langit, dan sebuah benda mirip sebuah roket kecil muncul dari sana. Bom nuklir itu berukuran seperti sebuah gelas, hanya miliki panjang sekitar 45 cm.

#bom nuklir B61-12 ukuran kecil, mungkin :v

"Benda aneh apa itu? Dan hanya ada satu buah, sepertinya ucapanmu benar Mirajane."

Semua anggota kedua belas dewan elit menatap remeh benda yang baru saja muncul dari lingkaran sihir di langit, minus Kaguya, Arthuria, dan seorang pria berambut putih, yang menatap penuh waspada beda aneh yang baru saja mereka lihat itu.

Sebuah seringai mengembang di balik kegelapan malam itu..

"Benda modrn, atau sihir? Mari kita lihat, manakah yang lebih kuat!."

~X

Husss

Angin malam berhembus pelan malam itu, sedikit mengusir atmosfir tegang yang sedang melanda di arena pertarungan saat ini.

Sebuah lingkaran sihir berwarna merah terlihat melayang di langit, dan sebuah roket bom nuklir terlihat muncul dari balik lingkarang sihir tersebut.

Dua belas orang berbeda gender terlihat sedang menatap benda asing di atas mereka, sebuah benda yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya.

Sementara di balik kegelapan, seseorang tengah menyeringai, menatap dua belas orang yang ada di depannya, dua belas orang yang di gadangkan yang terkuat di konoha gakuen.

"Kalian semua berhati-hatilah. Aku merasakan hal ganjil dari benda aneh itu, kita harus tetap waspada."

Seorang gadis bersurai silver yang tak lain adalah Kaguya, menatap waspada benda asing di atasnya, memerintahkan agar semua temannya agar tetap waspada.

"Tenanglah Kaguya, seperti yang Mirajane sebutkan, dia pasti sudah kehabisan mana. Hanya sebuah benda aneh yang pastinya tak berguna, tak ada yang perlu di khawatirkan."

Madara tak mengindahkan ucapan Kaguya, ia hanya tersenyum remeh menatap benda asing yang muncul di atasnya.

"Apa kalian sudah selesai berbicara? Tapi sepertinya aku harus mengakhirinya di sini!."

Secara perlahan, benda asing yang dua belas dewan elit lihat di atas mereka jatuh. Hanya jatuh karena daya tarik gravitasi, tanpa ada dorongan ataupun hempasan yang ber arti.

"Hoho, lihat itu. Benda itu memang tak berguna, bahkan benda itu hanya jatuh, tak seperti benda berbahaya sedikitpun."

Kini giliran Indra yang melecehkan benda asing yang di keluarkan oleh orang yang menyerang mereka, di tanggapi tawa remeh dari yang lainnya.

Bom nuklir yang di jatuhkan lingkaran sihir tadi sudah hampir mencapai tanah, dan hanya Kaguya, Arthuria, dan seorang pria bersurai silver, yang terlihat menambah kewaspadaan mereka.

Tukkk

Duaaaarrrrrrrrr

Sebuah ledakan maha dasyat terjadi, ledakan yang bahkan meratakan seluruh arena pertarungan dan daerah sekitarnya.

Selain menghancurkan area sekitar, efek ledakan juga membumbung tinggi ke langit, menciptakan sebuah gelombang radiasi yang mencapai ketinggian dua kilo meter, membentuk sebuah jamur besar.

Suara ledakan terdengar ke seluruh arena sekolah, membuat semua penghuninya terbangun dari mimpi indah mereka.

Sementara di arena, terlihat sebuah selubung pelindung tiga lapis di tengah arena, dan tepat saat itu juga pelindung itu hancur.

Kedua belas dewan elit menatap horor apa yang terjadi di depan mereka, jika saja Kaguya, Arthuria dan Hagoromo, telat sedetik saja. Dapat di pastikan mereka semua akan mati saat itu juga.

Brukk

Kaguya yang memang sudah kelelahan, terjatuh lemas di tanah, di ikuti semua anggota dua belas dewan elit yang masih dalam keterkejutan mereka.

"Ap-Apa yang sebenarnya terjadi?!."

"Dari mana ledakan besar itu berasal, aku bahkan tak merasakan tekanan mana yang dapat menghasilkan serangan sekuat itu!."

"Benda asing itu! Saat benda asing itu mencapai tanah, benda itu meledak dan menghasilkan semua ini."

Kaguya mencoba menjelaskan apa yang baru saja di cernanya.

Dia masih ingat, saat benda asing yang keluar dari lingkaran sihir di atas mereka tadi menyentuh tanah, benda itu meledak, menghasilkan daya ledak yang baru saja mereka saksikan.

"Ti-Tidak mungkin, bahkan benda itu terlihat tak memiliki daya rusak sedikutpun, dan cara benda itu jatuh, itu bahkan hanya terlihat seperti sebuah sampah."

"Dan karena itu kalian meremehkannya! Dan kita hampir mati karena kebodohan kalian!."

Kaguya tak dapat membendung kemarahannya. Jika saja tadi ia terlambat, dapat di pastikan jika dirinya juga akan mati oleh ledakan besar tadi.

Dia tak terlalu peduli jika dia adalah dia yang dulu, kematian bukanlah hal yang menakutkan untuk dirinya.

Tapi berbeda jika ia mati saat ini. Padahal dirinya baru saja menikmati hari-hari menyenangkannya bersama kakaknya, dan dia akan sangat menyesal jika dia mati saat ini.

"Kita debatkan lagi masalah ini nanti. Dengan semua suara ledakan dasyat tadi, itu pasti lebih dari cukup untuk membuat semua orang datang ke tempat ini."

.."Kita harus segera pergi."

Hagoromo memperingatkan semua temannya, akan gawat jika semua orang melihat mereka ada di sana saat ini.

Kedua belas dewan elit mengerti akan penuturan Hagoromo, dan memang akan sangat gawat jika mereka ketahuan.

Sebelum tempat itu di datangi semua orang, kedua belas dewan elit memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

"Sukurlah kau selamat."

~X~

Beberapa menit setelah ledakan yang menghancurkan seluruh arena terjadi. Benar saja, seluruh penghuni konoha gakuen datang ke tempat tersebut. Bahkan sang kepala sekolah dan wakil kepala sekolah sendiri.

"Sepertinya ledakan itu di lakukan dengan sengaja. Dan bukankah malam ini adalah jadwal dua belas dewan elit berlatih?."

Seorang wanita bertubuh kecil bersurai hitam dengan setelan gotik terlihat berbincang dengan rekannya, sembari menatap arena yang sudah hancur sepenuhnya.

"Kau benar Ophis, ini pasti ulah seseorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa."

Kini giliran seorang wanita dewasa bersurai merah dengan pakaian sexsi yang berbicara, dia adalah orang yang datang bersama Ophis.

"Apakah ini ulah salah satu dari mereka? Tapi aku tak merasakan kehadiran mereka."

"Entahlah, jika ini memang ulah salah satu dari mereka. Kita perlu memperketat pengamanan, dan sepertinya kita juga harus turun tangan."

Keduanya terlihat berbincang dengan serius, dan terlihat seorang wanita dewasa lainnya yang memiliki surai hitam, datang ke arah mereka.

"Red-sama, Ophis-sama, kami sudah menyelidiki penyebab ledakan yang membuat arena hancur. Tapi kami tak menemukan penyebab apapun yang menjadi penyebabnya."

Dua orang wanita yang sedang berbicara tadi ternyata adalah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, yang tak lain adalah Red dan Ophis.

"Begitukah? Baik kalian boleh pergi, dan suruh semua murid untuk kembali ke kamar mereka. Dan juga suruh beberapa pekerja untuk membangun kembali arena."

Red berbicara dengan anggun namun tegas, memberikan perintah pada bawahannya.

"Ha'i, akan segera saya lakukan."

~X~

Keesokan harinya. Pagi yang yang sangat cerah di kerajaan britania, membuat suasana damai dan membahagiakan di seluruh penjuru kerajaan tersebut.

Namun sepertinya tidak semua orang menikmati hari yang cerah itu. Di koridor konoha gakuen, terlihat seorang wanita cantik dengan segala pesonanya, namun berbanding terbalik dengan wajah cantiknya yang ia buat dengan ekpresi sedih dan menyesal.

"Nii-sama, maafkan aku. Semalam aku lupa untuk membuatkan makan malam untukmu, aku ketiduran."

Wanita cantik itu yang tak lain adalah Kaguya, ia sedang memohon maaf dari sang kakak, Naruto.

Naruto sama sekali tak mengindahakan permohonan maaf adiknya itu, ia masih berjalan dengan wajah datar miliknya.

Sejak tadi pagi Naruto memang belum mengajak bicara atau menjawab ucapan Kaguya, ia hanya diam dengan wajah datarnya, tak mengindahkan semua yang di lakukan adiknya itu.

Berbeda dengan Kaguya yang terlihat masih memohon-mohon pada kakaknya, atau seperti Naruto yang memasang wajah datarnya. Tenori hanya menatap malas sikap kedua kakaknya itu, dan berjalan di belakang keduanya.

Tap

Tap

Di arah berlawanan dari Naruto dan kedua adiknya, terlihat dua orang wanita dengan surai merah berjalan ke arah mereka.

Mereka berdua adalah dua orang wanita yang dapat di katakan sama populernya dengan Kaguya, dan juga dua orang yang berasal dari clan ternama di Britania.

Tap

Naruto dan kedua adiknya menghentikan langkahnya, tepat di depan dua gadis bersurai merah tadi, yang juga menghentikan langkah mereka di depan Naruto dan kedua adiknya.

"Ho ho, lihat siapa ini. Seorang putri dan seorang pangeran yang berjalan bersama sang aib!."

Satu orang di atara dua wanita bersurai merah itu berbicara, sekaligus menghina Naruto yang terlihat tak mengerti dengan ucapannya.

"Nee-san! Maaf atas ucapan nee-sanku, nii-sama."

Berbeda dengan gadis satunya, seorang gadis yang sepertinya adik dari gadis yang tadi menghina Naruto, meminta maaf untuk ucapan kakaknya.

"Kyubi, Erza? Apa maksud perkataanmu tadi kyubi?!."

Sepertinya ucapan Kyubi menyinggung Kaguya, terlihat dari ekpresi Kaguya yang terlihat cukup marah.

"Apa kau bilang? Bukankah sudah jelas, si aib ini seharusnya tak pantas untuk bersekolah di tempat ini!."

Kyubi memperjelas ucapannya, dan itu sukses membuat kemarahan Kaguya mencapai puncaknya.

"Kau.."

"Apa yang kau maksud itu aku? Melihat bagaimana kau melihatku, sepertinya yang kau maksud adalah aku."

.."Selain itu, siapa sebenarnya kalian berdua?."

Naruto lebih dulu memotong ucapan Kaguya, akan gawat kalau Kaguya benar-benar marah karena ada yang menghinanya.

"Tentu saja yang ku maksud adalah kau! Memang siapa lagi yang merupakan aib di antara kita berlima?!."

.."Dan apakah otakmu juga sudah penyakitan?! Jangan berlaga melupakan kami, aib."

Kyubi terlihat semakin menjadi, entah kenapa kyubi terlihat terlalu memaksakan dirinya untuk menghina Naruto lebih jauh.

"Nee-san..". Cicit Erza.

"Dari tadi kau menyebutku aib, jika seperti itu, bagaimana jika kita bertaruh?."

.."Kau bisa memilih apa yang akan menjadi taruhannya, dan aku akan menyebutkan apa yang akan kita pertaruhkan."

Naruto terlihat menyeringai setelah mengucapakan untuk melakukan sebuah taruhan, seringai yang sangat tipis, sehingga tak ada yang menyadarinya.

"Bagaimana jika yang kalah harus menjadi bawahan yang menang, dia juga harus menyebut pemenang dengan akhiran "sama" di belakang namannya, juga harus melakukan apapun yang di suruh oleh pemenang. Dan itu berlaku untuk seumur hidupnya."

.."Bagaimana? Jika kau tak mau, kau bisa berlutut di hadapanku sekarang, dan bilang 'Maafkan saya Kyubi-sama, saya tak memiliki keberanian untuk menerima tawan anda.'."

Kyubi terlihat sangat yakin bahwa Naruto akan menolak imbalan taruhan yang ia pilih, karena bagaimanapun dia pasti akan menang.

"Baik, aku setuju."

"Seperti dugaanku, cepat bersujud dan kataka..."

Ucapan Kyubi tercekat, padahal seratus persen ia yakin bahwa kakak sepupunya itu akan menolak tawarannya. Tapi apa yang baru saja ia dengar? Ia pasti salah dengar.

Tunggu dulu, kakak sepupu? Kyubi dan Erza memang adalah sepupu dari Naruto, itu karena ibu mereka adalah adik dari ibu Naruto, Kushina.

Dulu pada saat mereka masih kecil, sebenarnya ia sama halnya dengan Kaguya. Kyubi ataupun Erza sangat menyayangi kakaknya itu, walaupun sikap kakaknya itu sudah sangat kasar pada mereka.

Mereka bertiga bahkan berjanji untuk menjadi kuat, cukup kuat untuk melindungi diri mereka sendiri dan Naruto, kakaknya.

Seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh menjadi sangat kuat, hasil dari semua latihan keras yang mereka lakukan.

Setelah mereka merasa cukup kuat, mereka bertiga tak sabar ingin menunjukan kekuatan mereka pada kakaknya itu. Agar sang kakak bisa berhenti berlatih, dan percaya bahwa mereka saja cukup kuat untuk melindungi dirinya.

Mereka bertiga, Kaguya, Kyubi, dan Erza, sekitar tiga tahun yang lalu mendatangi kakaknya itu, bermaksud untuk menunjukan hasil latihan mereka. Berharap kakanya bisa menghentikan latihan exstrimnya, yang membuat kondisinya semakin memburuk.

Tapi bukan senyuman ramah atau sebuah pujian yang mereka dapat, tapi ekpresi tak suka dan tak ada sepatah katapun yang mereka dengar.

Mereka kecewa, sangat kecewa. Semua yang mereka lakukan untuk pria itu tak pernah di hargainya, bahkan tak pernah sedikitpun dia berubah menjadi lebih baik.

Jika Kaguya masih tetap berharap dan yakin suatu saat nanti kakaknya akan melihatnya. Berbeda dengan Kyubi yang menyerah, ia malah berbalik membenci kakak sepupunya itu, setidaknya itulah yang coba ia tunjukan. Sedangkan Erza? Dia hanya persikap formal seperti biasa.

Naruto menatap datar gadis bersurai merah di depannya itu, sedikit menyeringai tanpa di ketahui siapapun, melihat ekpresi tercekat gadis cantik di depannya itu.

"Kita lakukan taruhannya sekarang, dan kau harus ingat apapun yang kau katakan tadi, ne.."

"Ta-Tapi nii-sama, lebih baik jangan kau lakukan, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu. Aku mohon pertimbangkan kembali."

Kaguya terlihat sangat khawatir dengan kakaknya itu, tentu saja karena dia yakin kakaknya itu tak akan menang, apalagi lawannya adalah Kyubi.

"Kaguya benar, lebih baik kau menyerah saja. Aku akan membiarkanmu pergi jika kau menyerah sekarang."

Entah kenapa Kyubi terlihat panik saat mendengar persetujuan Naruto, terdengar nada khawatir dari ucapannya barusan.

"Aku tak pernah menarik kembali kata-kataku, aku lebih baik mati daripada melakukan hal rendah seperti itu."

Keputusan Naruto sudah bulat, dan lagipula kenapa dia harus takut? Dia bukanlah orang yang sama yang mereka kenal dulu, karena dia adalah dirinya.

"Te-Terserah kau saja, kau akan sangat menyesal karena tak mendengarkan adikmu itu!."

Kyubi bersikap angkuh seperti tadi, tapi entah kenapa sifat angkuhnya itu seolah hancur karena prilakunya sendiri.

"Hmm. Dengar, aku akan mencoba membuatmu terjatuh hanya dengan satu kali serangan. Dan apabila aku berhasil membuatmu jatuh, berarti aku menang begitu juga sebaliknya."

.."Dan kau juga bisa menghindari ataupun menangkis serangan yang akan aku lakukan. Apa kau mengerti?."

Naruto menjelaskan pertaruhan apa yang akan mereka lakukan, dan itu membuat Kaguya semakin panik di buatnya.

"Hahaha, kau pasti sedang frustasi ya. Mencoba menjatuhkanku dalam satu kali serangan? Itu jelas tak mungkin, apapun yang akan kau lakukan."

Kyubi jelas sangat yakin bahwa dia akan menang, entah apapun yang akan di lakukan pria itu.

"Kita tak akan tau sebelum di coba bukan? Kau akan menyesal karena memilih pertaruhan yang sangat menggiurkan itu!."

"Kita lihat saja!."

Tap

Tap

Naruto dan Kyubi maju masing-masing satu langkah ke depan, dan kini mereka hanya berjarak kurang dari satu meter saat ini.

"Kita langsung mulai saja bukan? Bersiaplah untuk menyesal!."

Jika tadi Naruto hanya menyeringai sekilas tanpa di ketahui siapapun. Kini seringai mengerikan terlihat jelas di wajah tampannya, membuat Kyubi sedikit tersentak akan itu.

Waktu sudah di mulai setelah perkataan terakhir Naruto, tapi ia belum melakukan apapapun, dia hanya fokus menatap Kyubi di depannya.

Kyubi sudah memasang kewaspadaannya penuhnya, bersiap menghindari atau menangkis pergerakan sekecil apapun.

Tenori, Kaguya, Erza, dan Kyubi sangat yakin jika Naruto akan langsung menyerang kaki Kyubi dengan kekuatan penuhnya. Karena itu adalah cara terepektif untuk menjatuhkan seseorang. Namun

Chupp!

Wajah Kyubi sepenuhnya memerah, Erza terlihat lupa bagaimana cara berkedip dan bernafas, dan Kaguya menatap horor akan apa yang ia lihat. Sementara Tenori hanya melongo di tempatnya.

Saat ini apa yang di lakukan Naruto berada di luar dugaan mereka, bahkan tak pernah terlintas di pikiran mereka sedikitpun.

Saat ini, Naruto tengah mencium bibir Kyubi. Walaupun yang ia lakukan sebenarnya hanyalah menempelkan bibirnya di bibir manis Kyubi.

Setelah sepersekian detik, Kyubi sadar akan keterkejutannya. Dia mendorong tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Naruto, juga melepaskan ciuman pertamanya itu.

Konsentrasi Kyubi hilang sepenuhnya, bahkan dia terlihat oleng saat mendorong tubuhnya menjauh dari Naruto.

Dan di saat itulah, Naruto sedikit mengganjal kaki Kyubi dengan kakinya. Dan karena konsentrasi Kyubi sudah hancur karena ciumannya tadi, dengan mudahnya Kyubi jatuh terduduk di lantai sekolah.

Kyubi terlihat sedang memegangi bibirnya, dengan ekpresi tak terbaca dari wajah cantiknya itu. Namun sepertinya dia ataupun yang lainnya belum sadar akan satu hal penting.

"Aku menang, mulai sekarang kau adalah bawahanku seumur hidupmu! Dan kau juga harus melakukan apapun yang ku suruh, serta memanggilku dengan sebutan 'Sama'!."

"Ehh!. "

Setelah beberapa detik memproses ucapan Naruto, Kyubi hanya terbengong di tempatnya, meratapi kebodohan yang baru saja ia lakukan.

Sementara Naruto, dia sudah pergi jauh meninggalkan tempat itu.

"Taruhan yang terlalu mudah."

~X~

Kyubi mengutuk kebodohannya tadi sepanjang jalannya, sementara Erza hanya menatap kasihan kakak perempuannya itu, yang kini sudah resmi menjadi bawahan dari orang yang sangat di bencinya, mungkin?.

"Sial.. Sial.. Sial.. Kenapa aku bisa sebodoh itu."

Kyubi terus mengumpat tanpa memperdulikan dirinya yang sudah menjadi bahan tatapan semua orang di sekitarnya.

"Kyubi-nee tenanglah, kau tak malu di tatap semua orang?."

Erza mencoba menyadarkan Kyubi dari dunianya sendiri, jujur ia sedikit sirih di tatap oleh semua orang di sekitarnya.

"Bagaimana aku bisa tenang, sekarang aku adalah bawahan si aib itu. Dan kau tau bukan, aku sangat membencinya!."

Kyubi berbicara dengan intonasi yang cukup kencang, semakin membuat mereka berdua menjadi pusat tatapan semua orang.

"Ia aku tau, tapi nee-san kan bisa meminta maaf padanya, dia pasti akan melepaskan nee-san."

"Aku, meminta maaf pada si aib itu? Tak akan pernah terjadi, bahkan dalam mimpinya!."

"Kalau seperti itu, yasudah terima saja."

Kyubi menatap tajam ucapan adiknya itu barusan, membuat Erza menghela nafasnya bosan.

"Sialan!!..."

Dan itu adalah teriakan keputus asaan dari seorang Kyubi.

~X~

Naruto menyeringai saat mendengar sebuah teriakan dari seseorang yang ia kenal, seseorang yang menjadi bawahannya setelah beberapa saat yang lalu.

Berbeda dengan Kaguya, wajahnya sama sekali tak menunjukan kehudupan sejak insiden ciuman tadi pagi, dan aura hitam terlihat jelas di sekitarnya.

Dan Naruto juga masih mengabaikan Kaguya sejak pagi, dan itu semakin membuat aura hitam di sekitar kaguya semakin bertambah.

"Nii-sama?."

Kaguya mencoba "lagi" berbicara dengan Naruto, namun tak ada jawaban apapun dari Naruto.

"Ayolah, maafkan aku nii-sama. Aku tak bisa seperti ini terus, aku mohon."

Kaguya terus merengek pada Naruto, dan itu jelas membuat cemburu semua orang yang melihat mereka.

"Lagipula, seharusnya aku yang marah padamu. Kenapa kau mencium Kyubi, bahkan aku saja belum pernah kau cium, hmm."

Kaguya mencoba segala cara untuk membujuk kakaknya itu, bahkan sekarang ia sudah duduk di pangkuan kakaknya itu, saling menghadap dengan jarak tak lebih dari sepuluh centi meter.

Melihat posisi Kaguya yang ehem, terlalu intim menurut pandangan siapapun. Itu sudah cukup untuk membuat semua orang yang melihatnya mimisan.

Sepertinya Naruto juga sudah mulai goyah, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menyerah.

"Baiklah aku memaafkanmu. Tapi bisakah kau turun dari pangkuanku? aku tak ingin menyerang adikku sendiri karena kebodohannya."

Blush

Wajah Kaguya sepenuhnya memerah. Ia tau yang di maksud oleh kakaknya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya malu dan salah tingkah akan perbuatannya.

Kaguya dengan secepat yang ia bisa, turun dari pangkuan kakaknya itu, ia sudah sangat malu akan ucapan yang terbilang cukup vulgar dari kakaknya itu.

"Dan untuk ciuman dengan Kyubi, itu adalah satu-satunya cara untuk mengalahkannya. Lagipula itu bukan ciuman pertamaku, kau sudah mengambilnya saat malam pertama aku kembali ke rumah."

.."Kau pasti tak lupa saat tengah malam kau datang kekamarku, dan menci..."

Kaguya langsung membekap mulut kakaknya itu secepat yang ia bisa. Ia sudah cukup malu dengan ucapan vulgar kakaknya itu tadi, dan ia tak akan membiarkan "aib" terbesarnya terbongkar di depan umum seperti ini.

Dan darimana kakaknya itu tau bahwa ia datang ke kamarnya malam itu, bukankah ia sudah tidur dengan pulas saat itu.

Kaguya saat ini benar-benar sedang dalam keadaan paling memalukan di seumur hidupnya.

~X~

Satu bulan telah berlalu dengan cepat. Dan sudah banyak hal juga yang terjadi selama satu bulan tersebut, tapi tak banyak yang terlalu berubah pada Naruto.

Naruto juga tak pernah menyinggung apapun pada Kyubi, ia hanya bersikap seperti tak pernah terjadi apapun pada diri mereka.

Dan untuk hari ini, untuk pertama kalinya Naruto akan melakukan sebuah misi.

Misi adalah sebuah pekerjaan yang di berikan oleh seseorang ataupun sekelompok orang, untuk melakukan sesuatu hal, entah melawan monster ataupun melakukn hal lainnya.

Monster memang hal yang wajar ada di dunia ini, monster kelas rendah sampai menengah seperti seperti goblin, dan Orc. Atau bahkan monster kelas atas seperti minotor raksasa, dan bahkan seekor naga.

Monster-monster biasanya hidup di tempat-tempat tertentu, seperti sebuah reruntuhan kuno yang sudah di tinggalkan ataupun sarang yang mereka buat sendiri, dan tempat itu biasanya di sebut sebagai sebuah dongeon.

Namun ada juga monster-monster yang hidup di hutan, ataupun monster yang menyerang sebuah desa secara langsung.

Dan biasanya sebuah misi di buat untuk mengusir atau memusnahkan para monster tersebut. Tentu dengan hadiah yang sesuai dengan misi yang di berikan.

Tapi misi juga tak selalu bersangkutan dengan monster. Ada juga misi pengawalan, dan bahkan misi untuk membantu melakukan pekerjaan sehari-hari. Tentu dengan imbalan yang sepadan.

Dan saat ini, Naruto sedang berada di depan sebuah papan yang banyak tertempel berbagai misi menarik untuknya.

Seperti misi untuk mengusir seekor monster ular raksasa di sungai sebelah barat britania, atau misi untuk menemani seseorang untuk menjelajahi sebuah gua yang berisi ratusan atau bahkan ribuan monster di dalamnya.

Kedua misi yang baru saja Naruto lihat adalah misi yang di tujukan untuk mereka yang sudah berada di tahap Master ke atas. Dan sudah jelas ia tak mungkin mengambilnya.

Melanjutkan melihat-lihat misi yang tak mencantumkan persyaratan khusus, dan sebuah misi yang terlihat sudah sangat usang menarik perhatiannya.

Dilihat dari kertas yang sudah cukup usang, Naruto menyimpulkan jika misi itu sudah cukup lama berada di sana.

Srett

Tanpa banyak berpikir, Naruto langsung mengambil misi tersebut.

"Maaf, aku ingin mengambil misi ini."

Naruto menyerahkan kertas misinya pada seorang gadis yang mengurus semua misi-misi itu. Dan tatapan heran terlihat jelas dari gadis berkaca mata di depannya.

"Kau yakin ingin mengambil misi ini? Asal kau tau saja, misi ini mungkin cukup berbahaya, ya walaupun tak tercantum tingkat kesulitan untuk misi ini."

.."Dan imbalan yang di berikan juga tak sebanding dengan tingkat kesulitan yang mungkin akan di hadapi. Oleh karena itu misi ini sudah hampir satu tahun tak ada yang mau mengambilnya."

Misi itu berasal dari sebuah desa dark-elf di utara hutan britania, untuk mengalahkan monster yang sering menyerang desa tersebut.

Namun di misi itu tak ada penjelasan spesifik lainya, entah monster apa yang harus di kalahkan, atau seseorang dengan tingkat kekuatan apa yang mereka minta. Tapi yang menjadi masalah utama, adalah imbalan yang sangat rendah yang mereka tawarkan.

"Aku tak masalah dengan imbalannya, aku akan langsung melakukan misi ini."

~X~

Siang yang cukup terik di britania saat itu, waktu yang sangat tak cocok untuk melakukan kegiatan apapun.

Namun sepertinya panas matahari tak berpengaruh pada tokoh utama kita, karena saat ini dia terlihat sedang berjalan dengan tenang di lebatnya hutan utara britania.

Setelah kemarin pagi dia mengambil misi yang akan ia lakukan, ia langsung berangkat melakukan misinya.

Dan setelah satu hari satu malam ia berjalan, dia akhirnya sampai di hutan utara britania tadi pagi. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai di desa dark-elf yang di tujunya.

Elf memang ada di dunia ini, tapi mereka memisahkan diri dari dunia manusia. Hidup di hutan atau tempat yang cukup jauh dengan para manusia berada.

Berjam-jam berjalan menyusuri lebatnya hutan, akhirnya Naruto sampai di sebuah jurang yang cukup curam.

Dari kejauhan terlihat beberapa dark-elf yang sepertinya sedang berjaga di dataran sempit jurang tersebut.

"Sepertinya ini ya."

Naruto melompat dengan santai di antara dataran pinggir juarang yang sempit, bermaksud menuju lembah tempat para dark-elf berada.

Tap

Naruto mendarat dengan mudah di dasar lembah, dan ia langsung di kepung oleh lima orang dark-elf setelahnya.

"Siapa kau manusia?! Apa urusanmu datang ke desa kami?!."

Seorang dark-elf wanita bertanya pada Naruto. Sepertinya wanita elf itu adalah pemimpin dari keempat lainnya.

"Aku Naruto, dari konoha gakuen. Aku bermaksud menyelesaikan misi yang kalian ajukan. "

Naruto menunjukan kertas misinya, menyakinkan para elf itu untuk mempercayainya.

"Ah, jadi kau datang untuk menyelesaikan misi yang kami ajukan? Maaf atas ketidak sopanan kami."

Wanita elf itu terlihat membungkukkan tubuhnya, meminta maaf atas sikap tak sopan nya.

"Namaku Serafina, aku adalah pemimpin ksatria di desa kami ini."

.."Dan mereka adalah Jei, Freya, Angelica, dan Sora."

Serafina memperkenalkan keempat rekannya, dua orang wanita dan dua orang pria.

"Ya. Bisakah kita langsung ke permasalannya? Jujur aku penasaran dengan apa yang kalian maksud di kertas misi ini."

.."Entah kalian lupa atau bagaimana, tapi tak ada penjelasan yang kalian cantumkan di sini. Di tambah imbalan yang sangat rendah yang kalian tawarkan, semua itu membuatku cukup penasaran."

Naruto jelas penasaran dengan misinya saat ini. Setalah satu tahun misi ini di ajukan, dan tak ada satu orangpun yang mengambilnya. Apa alasan yang membuat misi itu tak pernah mereka ambil kembali.

"Jika itu yang ingin anda ketahui, lebih baik anda langsung temui tetua desa kami saja."

"Baiklah, tak masalah."

Naruto di antar kelima kesatria yang tadi sempat menyambutnya, menuju ke tetua desa yang mereka maksud.

Naruto saat ini sudah bersama seorang kakek tua yang mereka sebut sebagai tetua desa di desa elf tersebut.

Naruto kembali menanyakan rasa penasarannya pada tetua dark-elf tersebut, dan terlihat raut khawatir dari kakek tua elf tersebut.

"Kami memang sengaja tak menyantumkan penjelasan sepesifik pada misi yang kami ajukan, itu juga karena imbalan yang kami tawarkan juga sangat kecil dan sama sekali tak sebanding dengan apa yang kami minta."

.."Sebelumnya terimakasih sudah menyempatkan waktu berharga anda untuk datang ke tempat kami, dan maaf karena kami telah membohongi anda dengan misi yang kami ajukan."

.."Sebenarnya misi yang kami ajukan ini sangat berbaya, dan mustahil untuk di lakukan seorang diri. Oleh karena itu tak masalah jika anda membatalkan misi ini, kami sangat mengerti."

Kakek elf tersebut terlihat sangat yakin bahwa Naruto akan membatalkan misinya, bahkan dia belum menjawab satupun rasa penasaran Naruto.

"Tenang saja, aku tak mempermasalahkan imbalan yang akan kalian berikan. keluargaku sudah lebih dari cukup memberikanku uang, bahkan sebanyak apapun yang aku minta."

.."Aku juga tak akan membatalkan misi ini, malah aku semakin tertarik saat kau bilang misi ini mustahil untuk di lakukan seorang diri."

.."Sebutkan saja apa yang harus ku kalahkan, dan semoga itu tak membuatku kecewa."

Sejak awal Naruto memang yang mempermasalahkan imbalannya, ia hanya ingin bersenang-senang tanpa di ketahui seorangpun di sekolahnya, tak lebih. Ya walaupaun tak ada masalah jika dia di ketahui.

"Apa anda bersungguh-sungguh? Jujur kami tak mempercayai ada seseorang yang tak memandang sebuah imbalan."

"Aku tak pernah berbohong, cepat sebutkan saja apa yang harus ku lawan?."

Tetua itu terlihat ragu untuk menjelaskan pada Naruto, tapi walau bagaimanapun ia harus menjelaskannya.

"Kami ingin anda, untuk mengalahkan...

...Seekor Naga!."

Tbc.

Asalammualaikum..

Yo mina.. apa kabar?

Maaf bgt untuk semua update yang tertunda. Jujur, indrakun sekarang menjadi sangat sibuk, dan hampir tak ada waktu untuk menulis.

Kesibukan yang tak pernah di duga sebelumnya.

Untuk semua fic indrakun mungkin akan gagal update untuk waktu yang tak di tentukan, eh maksudnya tunggu infonya aja hari minggu atau senin nanti. mungkin senin depan udah mulai update normal atau mungkin kilat hehe..

Oke sekian aja..

wasalam..indrakun.