Begin
.
.
.
.
.
Disclaimer : Semua milik Tuhan
Cast : DBSK dan lain – lain (termasuk BTS)
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort, Friendship, YAOI
Rate : T
Alur suka – suka, membosankan
.
.
.
.
.
~ Chapter 1 ~
.
.
.
.
.
Malam ini Jaejoong tengah menatap seorang yang sangat berarti dalam hidupnya, dia adalah orang yang ada dibalik semua kesuksesan yang telah dia raih. Seseorang yang selalu menemaninya bahkan saat dirinya terjatuh. Eommanya.
Walaupun seorang namja, eommanya sangatlah cantik namun galak tapi Jaejoong benar – benar menyayangi eommanya itu.
" Sudahlah eomma, appa sebentar lagi kan datang" Ucap Jaejoong saat eommanya sibuk dengan ponselnya memberikan ancaman pada suaminya yang belum juga sampai di restoran padahal mereka sudah berjanji untuk merayakan ulang tahun Jaejoong bersama – sama
" Eomma sebal pada appamu"
" Tapi eomma... Pesawat delay itu bukan kesalahan appa, tunggu ya? Sebentar lagi juga appa akan datang"
" Huh... Bela saja terus appamu yang menyebalkan itu"
Jaejoong menghela nafasnya dan bangkit dari duduknya, dia perlahan menuju sang eomma dan memeluknya dari belakang.
" Eomma yang cantik, malam ini jangan marah – marah ne? Dihari ulang tahunku, aku ingin eomma bahagia tanpa marah – marah. Oke?"
" Aish! Kau ini selalu saja tahu kelemahan eomma. Arraseo"
Jaejoong tersenyum dan mengecup pipi eommanya, dia kemudian menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
" Aigo.. Apa ini? Kenapa kalian mesra sekali? Appa jadi cemburu"
Jaejoong melepaskan pelukan eommanya dan menatap tajam pada appanya yang baru saja datang. Memang salah siapa hingga dia harus menggombal pada eommanya?
" Hei Kim! Cepat duduk" Perintah eommanya
" Aigoo... Merajuk eoh? Maaf ne cantik"
" Tidak usah menggombal"
" Ish, baiklah. Hey Jae! Selamat ulang tahun" Ucap sang appa kemudian memeluk anak tunggalnya
" Terima kasih appa"
Tak lama Jaejoong dan appanya duduk dan menunggu kue yang sudah dipesan oleh Mrs. Kim tadi. Mereka menunggu kue itu sembari mengobrol dan mulailah obrolan yang membuat Jaejoong jengah.
" Jadi Joongie ah... Kapan kau membawa seseorang ke hadapan eomma?" Ucap Mrs. Kim menatap anaknya penuh harap
" Eomma... Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku belum menemukannya"
" Bagaimana kalau eomma menjodohkanmu saja? Memperkanalkan beberapa anak teman eomma"
" Eomma sangat tahu bukan aku tidak suka hal seperti itu?"
" Tapi kau sudah dua puluh tujuh tahun dan eomma ingin mendapatkan cucu"
" Sampai saat ini belum ada yang bisa membuat jantungku berdebar eomma, aku pun menunggu sampai bosan tapi memang belum ada"
" Hah..." Mrs. Kim menghela nafasnya, anaknya memang paling susah jika sudah membicarakan soal jodoh
" Sudahlah yeobo, Joongie pasti akan menemukan seseorang yang bisa membuat jantungnya berdebar. Bukankah kita juga dulu begitu?"
" Ish" Mrs. Kim menepuk pipinya yang tiba – tiba merasa panas dan Jaejoong tertawa karenanya
.
.
.
" Bawa ini kemeja nomor lima"
" Eh?"
" Mereka adalah tamu spesial, hati – hati ya"
" Baik"
Seorang namja tinggi tampak membawa sebuah kue ulang tahun berdiameter dua puluh berwarna putih dengan tulisan 'Happy Birthday My Son'. Namja tinggi itu keluar dari dapur restoran menuju meja nomor lima.
Dia melihat tiga orang namja duduk dimeja bundar sembari mengobrol dan tertawa. Namja tinggi itu tidak ingat kapan terakhir kali dia tertawa bersama keluarganya. Apalagi bersama appa dan eommanya, dia hanya tinggal bersama adiknya yang masih berusia lima belas tahun sekarang.
" Maaf mengganggu, pesanan anda" Namja tinggi itu meletakkan kue ulang tahun pada bagian tengah meja
" Ya" Ucap seorang namja paruh baya sedangkan dua orang lainnya masih sibuk berbicara
" Selamat menikmati"
" Terima kasih ng... Yunho sshi"
" Eh?"
Namja yang sedang asyik mengobrol itu tiba – tiba terdiam saat appanya menyebutkan nama yang hari ini sering sekali disebut. Namja yang tak lain adalah Jaejoong itu melirik dan mendapati seorang namja berpakaian pelayan berwarna hitam putih berdiri disamping appanya. Jaejoong perlahan mengangkat kepalanya dan membaca name tag yang tertulis pada dada sebelah kiri pelayan itu.
' Jung Yunho' Batinnya, kemudian matanya naik keatas dan melihat jelas wajah orang itu
" Sama – sama tuan"
DEG DEG DEG
Jantung Jaejoong berdebar saat melihat sebuah senyuman yang terlukis dari namja tinggi itu. Apa ini? Kenapa dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya? Siapa namja itu hingga membuat dadanya menghangat dan berdebar lebih cepat?
Jaejoong memperhatikan namja itu membungkuk dan kemudian dia pergi dari hadapan keluarga Kim. Sedangkan Jaejoong masih memperhatikan namja itu hingga menghilang dibalik pintu.
" Hey, kau kenapa? Kenapa melihat namja itu?" Mrs. Kim bertanya seraya menggoyangkan lengan Jaejoong hingga sang anak tersentak kaget
" Eo-eomma! Kenapa mengangetkanku eoh?"
" Kau kenapa eoh? Kenapa melihat namja itu terus?"
" E-eh aniya... Ha-hanya saja... Namanya sama seperti seorang office boy yang tadi dibicarakan ketua office boy"
" Eh? Wae?" Tanya Mr.. Kim, jika sudah menyangkut perusahaannya maka dia langsung tertarik
" Bukan hal penting appa. Tadi... Banyak sekali kue yang aku terima dan aku langsung membagikannya. Aku juga memberikan kue untuk bagian office boy. Lalu, ketua office boy senang karena dia bisa memberikan Yunho kue karena lusa adalah ulang tahunnya"
" Eh? Tapi... Masa iya dia bekerja disini juga?"
" Molla..."
Sesekali Jaejoong melirik pintu dapur berharap orang yang dia tunggu keluar. Dan ya... Namja itu keluar dan mengantarkan makanan untuk pengunjung yang lain. Nyatanya Jaejoong sangat menyukai senyuman yang ditunjukkan oleh namja itu, senyuman kelewat manis hingga membuat mata namja yang sedang diperhatikannya itu menutup.
Acara makan malam itu berakhir dan Jaejoong pulang ke apartemennya masih dengan banyak pertanyaan dalam kepala kecilnya. Apa benar namja itu yang bekerja juga diperusahaannya? Kalau iya, kenapa? Apa gaji yang diberikan perusahaannya kecil hingga dia harus bekerja ditempat lain?
" Kenapa aku jadi seperti ini eoh?" Gumam Jaejoong menatap pemandangan malam dari jendela apartemennya
.
.
.
" Hyung pulang"
Namja tinggi itu membuka pintu flat kecilnya, dia masuk kedalam flat itu dan melepaskan sepatunya. Dia kemudian masuk ke satu – satunya ruang tengah yang ada disana. Dia melihat seorang namja tengah tidur terduduk dengan kepala bersandar pada meja. Ada beberapa buku berserakan di sekitar namja itu.
" Min..."
Namja tinggi bernama Yunho itu menggoyangkan lengan namja yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya. Namun belum mendapatkan respon.
" Hey saeng, ayo pindah tempat" Kali ini Yunho mengelus helaian rambut namja yang ada didepannya itu
" Ugh..." Namja yang sedang dibangunkan Yunho itu menggeleng sejenak kemudian kembali terlelap
" Jung Changmin, bangunlah dulu. Minum obatmu sebelum tidur jangan membuat hyungmu ini khawatir"
Namja yang dipanggil Changmin itu perlahan membuka matanya dan menatap hyungnya dengan tatapan memohon.
" Pergilah ke kamar mandi, minum obatmu. Biar hyung bereskan bukumu. Apa tugas sekolahmu sudah selesai?" Tanya Yunho
" Ne" Jawab Changmin kemudian mengucek matanya dan berjalan dengan malas kearah kamar mandi
" Hah..."
Yunho melihat buku – buku yang berserakan. Adiknya pasti berusaha keras dengan buku – buku yang ada disana. Tampak beberapa coretan kecil yang ditambahkan Changmin pada buku pelajarannya. Juga beberapa kertas berwarna mencolok tertembel dibeberapa sudut, tambahan catatan yang memang Changmin terapkan dalam metode belajarnya.
Yunho membereskan buku – buku yang ada dihadapannya, rasa bangga terselip saat melihat sebuah seragam yang tergantung pada ruangan kecil itu, seragam sekolah Changmin. Adiknya menerima beasiswa karena kepintarannya.
Bersekolah ditempat yang bisa membuat iri orang – orang bahkan orang yang mampu sekalipun karena memang sekolah itu tidak menerima sembarang siswa dan Changmin terpilih untuk masuk kesekolah itu dikarena kepintarannya, apa lagi saat tes ujian beasiswa, adiknya meraih peringkat pertama.
Sejak kecil Changmin memang pintar dan dia mengikuti ujian akselerasi dulu hingga diusianya yang baru menginjak lima belas tahun dia sudah duduk dikelas sepuluh dan sebentar lagi dia akan mengikuti ujian kenaikan kelas.
" Hyung"
Yunho menoleh, dia mendapati Changmin sudah duduk disampingnya dan kembali menguap.
" Dimana obatmu?" Tanya Yunho
" Dalam tas"
Yunho dengan cepat mengambil tas sekolah Changmin dan mengambil tempat obat Changmin, obat yang selalu diminum Changmin setiap hari sejak lima tahun yang lalu.
" Aku tidur ne hyung? Hyung juga langsung tidur setelah mandi" Ucap Changmin setelah meminum obatnya
" Ya, hyung akan langsung menyusul setelah mandi"
" Oke, malam hyung"
" Mimpi indah Min"
" Hyung juga"
Yunho membersihkan dirinya kemudian memakai piyama tidur sebelum akhirnya dia masuk kedalam kamarnya dan Changmin. Ya, Yunho dan Changmin tidur dalam satu ruang kamar karena memang hanya ada satu kamar dalam flat sederhana itu. Yunho melihat Changmin sudah terlelap dalam tidurnya.
Dia langsung berbaring disamping Changmin dan menatap adiknya yang tidur terlentang itu. Banyak sekali memori yang keluar saat dia menatap Changmin.
" Terima kasih sudah bertahan bersama hyung" Lirih Yunho
Yunho bukanlah lahir dari keluarga yang mampu. Sejak usianya lima tahun appanya sering menyakit eommanya dan dia kabur saat eommanya mengandung Changmin, saat itu usia Yunho masih sembilan tahun.
Mencoba bertahan walaupun akhirnya sang eomma meninggal tiga hari setelah melahirkan Changmin karena pendaharan. Akhirnya Changmin dan Yunho tingga bersama halmoninya. Namun lima tahun kemudian sang halmoni menyusul eommanya dan rumah peninggalan halmoninya membuat anak – anaknya memperebutkan hak mereka dan Yunho serta Changmin terusir dari sana.
Salah satu ahjummanya menerima Changmin dan Yunho dengan setengah hati, akhirnya hanya Changmin yang tinggal bersama ahjummanya sedangkan Yunho menyewa flat kecil dekat sekolahnya dan bekerja sampingan agar dia bisa membawa Changmin bersamanya.
Saat usia Yunho delapan belas tahun dan dia masih ditingkat akhir sekolahnya Yunho membawa Changmin dari rumah ahjummanya karena akhirnya Yunho tahu apa yang dilakukan sang ahjumma pada adiknya hingga Changmin sangat kurus.
Changmin selalu mengatakan tidak apa – apa pada kenyataannya Changmin disuruh macam – macam oleh sang ahjumma serta suaminya dan anak – anak mereka. Akhirnya setelah melihat dengan sendirinya lebam pada tubuh Changmin, Yunho memutuskan membawa Changmin dari rumah ahjummanya.
Yunho berjanji bahwa Changmin akan membahagiakan Changmin walaupun dia harus bekerja keras. Dan Changmin yang mendapat ajakan keluar dari rumah ahjummanya tentu saja semangat, senang dan bahagia karena dia sendiri sudah tidak betah dengan kelakuan saudaranya itu. Saat usia Changmin sepuluh tahun namja itu sakit – sakitan dan Yunho membawa Changmin menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaan adik tersayangnya itu.
Dan apa yang mereka terima sungguh mengejutkan, kanker darah. Atau nama lainnya adalah leukemia. Changmin terpukul begitu pula Yunho, Changmin bisa saja selamat asal rajin untuk terapi, meminum obat dan melakukan operasi saat menemukan tulang sum – sum yang cocok untuknya.
Yunho berpikir keras dan akhirnya mereka pindah dari kampung halamannya Gwangju menuju Seoul agar Yunho lebih bisa mendapatkan lebih banyak uang untuk pengobatan Changmin dan saat itu memang Changmin baru memasuki Junior High School. Hidup yang mereka jalani memang keras namun Changmin merasa semua ini lebih baik ketimbang hidup bersama saudaranya.
Begitu juga Yunho yang berusaha keras memenuhi semua kebutuhan adiknya, membelikan obat, mengatur jadwal terapi. Hanya satu yang belum bisa dia lakukan, mencari uang untuk operasi Changmin dan mencari donor tulang sum – sum yang cocok dengan Changmin.
Yunho memejamkan matanya, dia harus lebih giat lagi mencari uang karena dokter bilang Changmin seharusnya sudah melakukan operasi tahun kemarin. Tapi dokter pun bingung bagaimana Changmin bisa bertahan selama lima tahun ini. Dia sehat atau hanya terlihat sehat untuk menutupi rasa sakitnya?
.
.
.
Jaejoong memasuki gedung perusahaannya lebih pagi dari kemarin, hari ini dia bangun kepagian dan tidak tahu harus apa jadi dia memutuskan untuk pergi bekerja saja. Dia memperhatikan karyawannya yang baru datang langsung memberikan salam padanya. Jaejoong membalasnya dan melihat jam tangannya, pukul delapan. Setengah jam lebih awal sebelum jam kerja.
Namjoon yang sedang berdiri didekat meja resepsionis langsung menghampiri Jaejoong dan membungkuk.
" Ada apa hingga hyung datang pagi?" Tanya Namjoon
" Tidak... Hanya aku bangun kepagian jadi pergi ke kantor saja, memang tidak boleh"
" B-bukan begitu hyung"
" Hahahahaha... Sudahlah, kau sedang apa dimeja itu?"
" Aku hanya memastikan agenda hari ini pada resepsionis"
" Kenapa tidak telepon saja dari ruanganmu?"
" Aku baru sampai hyung"
" Oh? Kau datang jam delapan?"
" Biasanya jam delapan aku sudah ada diatas hyung. Aku kesiangan" Jawab Namjoon
" Astaga... Kau bisa kesiangan juga"
" Hah..."
Jaejoong dan Namjoon menghampiri lift khusus untuk para petinggi kantor. Mereka menuju lift itu terbuka sembari membicarakan agenda dan pekerjaan Jaejoong hari ini sampai Jaejoong tersadar sesuatu. Dia menoleh.
" Ahjusshi maaf aku terlambat"
Suara itu Jaejoong sangat kenal, dia mencari suara itu dan menemukan seseorang berdiri memunggunginya sembari berbicara dengan seseorang.
" Baru jam delapan Yun, ayo cepat taruh tasmu dan bantu ahjusshi membersihkan ruangan direktur"
" Ne, ahjusshi ke sana saja dulu. Aku akan menyusul"
" Ne"
Namja yang mengatakan dirinya terlambat itu berlari entah kemana sedangkan ahjusshi itu menggelengkan kepalanya dengan senyuman diwajah kemudian berjalan menuju lift karyawan namun dia terhenti saat melihat Jaejoong.
" Selamat pagi sajangnim" Sapa ahjusshi itu
" Oh, pagi... Hmm... Lee ahjusshi, benar kan?"
" Ya"
" Ahjusshi akan membersihkan ruangan Jaejoong sajangnim?" Tanya Namjoon
" Ya, tapi saya tidak tahu bahwa sajangnim sudah datang. Maaf"
" Tidak apa – apa ahjusshi, bersihkan saja ruanganku, aku tidak akan terganggu" Ucap Jaejoong kemudian tersenyum
Tak lama lift terbuka dan Jaejoong serta Namjoon masuk kedalam lift itu, tapi Jaejoong menahan lift itu untuk tetap terbuka.
" Ahjusshi tidak masuk?" Tanya Jaejoong pada Lee ahjusshi
" N-ne?"
Lee ahjusshi kemudian mendongakkan kepalanya, menatap tulisan yang ada diatas lift 'Khusus Petinggi Perusahaan'. Lee ahjusshi langsung menggeleng, mana bisa dia naik lift yang sama dengan bosnya.
" Wae?" Tanya Jaejoong
" Maaf sajangnim, lift yang saya naiki sudah terbuka" Lee ahjusshi membungkukkan tubuhnya kemudian kabur dari hadapan Jaejoong
" Hah..."
Jaejoong melepaskan tangannya dari tombol lift, membiarkan pintu lift tertutup dengan wajah masam.
" Kenapa sih lift ini hanya untuk petinggi perusahaan"
" Hyung.. Lift ini langsung menuju ruanganmu dan ruang meeting yang ada dilantai yang sama dengan ruanganmu"
" Aku tahu, tapi ahjusshi itu juga akan keruanganku bukan?"
" Hyung, kau tahu peraturan perusahaan kan?"
" Huh... Selalu bawa – bawa peraturan perusahaan. Kau menyebalkan Namjoon ah"
Namjoon hanya tersenyum maklum mendengar keluhan bosnya itu, yah... Jaejoong memang orang yang sangat baik tanpa memikirkan statusnya sebagai bos dia menyamakan semua orang. Yang membuat orang – orang berbeda dimata Jaejoong adalah perbuatannya.
Jaejoong duduk dikursinya dan mereganggangkan tubuhnya, baru saja appanya memberi kabar bahwa dia pergi ke New York bersama eommanya selama sebulan ini untuk mengurus perusahaan sang appa yang akan membuka cabang baru lagi disana.
Jaejoong tidak masalah, toh memang dia sering ditinggal orangtuanya sejak dulu. Juga, sebentar lagi sepupunya akan datang menemaninya dan tinggal diapartemennya sementara waktu ini karena dia akan melanjutkan kuliahnya kejenjang sarjana tahun ini.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, Jaejoong menyuruh orang yang ternyata adalah Lee ahjusshi itu masuk. Namja paruh baya itu membersihkan ruangan Jaejoong mulai dari menyapu ruangannya. Jaejoong memperhatikan bagaimana Lee ahjusshi bekerja.
Sangat teliti dan bersih, Jaejoong suka dengan cara Lee ahjusshi membersihkan ruangannya. Kemudian Jaejoong menyandarkan tubuhnya dan memainkan kursinya dengan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
" Ahjusshi" Panggil Jaejoong
" Ya sajangnim?" Lee ahjusshi langsung menghadapkan tubuhnya pada Jaejoong
" Apa ahjusshi yang selalu membersihkan ruanganku?"
" Sebenarnya saya membersihkan ruangan ini berdua, satu orang lagi tengah menyiapkan air di lantai bawah. Sebentar lagi dia kesini"
" Oh..."
" Kenapa? Apa ada yang kurang bersih"
" Tidak ahsjusshi, ruanganku bersih"
Lee ahjusshi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Jaejoong yang masih belum sibuk hanya bermain – main dimejanya. Dia sebenarnya sedang menunggu Namjoon yang sedang mengambil data keuangan untuknya.
Jaejoong jadi mengingat suara namja yang tadi dia dengar di bawah sebelum masuk ke dalam lift. Suara itu mirip sekali dengan suara namja bernama Jung Yunho yang kemarin dia temui di restoran. Apa mungkin namja itu juga bekerja disini?
Dan kenapa juga Jaejoong kembali mengingat senyuman namja kemarin? Kenapa dadanya menghangat dan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya? Padahal dia baru bertemu satu kali dengan namja itu dan tidak mengenalnya?
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamuman Jaejoong, dia membenarkan duduknya dan berdehem sekali.
" Masuk"
Ceklek
Jaejoong menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang masuk kedalam ruangannya, seorang namja tinggi yang langsung membungkukkan tubuhnya setelah pintu ruangan Jaejoong dia tutup.
" Kemari Yun" Lee ahjusshi menyuruh namja tinggi itu menghampirinya yang tengah membersihkan lantai
" Ne ahjusshi"
Nah,
Jaejoong benar merasa bahwa suara namja tinggi itu sungguh mirip dengan suara pelayan yang kemarin dia temui di restoran.
" Kau bersihkan kacanya ne Yun"
" Ne ahjusshi"
Namja tinggi itu membawa peralatannya menuju tempat yang dimaksudkan oleh Lee ahjusshi, sebuah kaca yang ada dibelakang meja kerja sang bos. Mau tak mau dia berhenti disamping meja kerja Jaejoong dan membungkukkan tubuhnya kembali.
" Maaf sajangnim, aku akan membersihkan kaca yang ada dibelakang meja kerja anda"
" N-ne"
Jaejoong mendongakkan kepalanya dan menatap namja yang ada disamping meja kerjanya, astaga... Mata dan bibir itu...
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
Annyeong!
Cho update in Begin biar pada ga jamuran walaupun udah pada lumutan nunggunya hahahahaha
.
Special Thanks :
.
Mangk'war718, Avanrio11, ismi mimi, Jung Jjyunie dmcp, dheaniyuu, eL Ree, misschokyulate, babywuzidy, Bestin84, vix, YunjaeSalute, littlecupcake noona, uknowme2309, changmin's girl, Jaenna, bijin YJS, GaemGyu92, Princess Jae, Park Rinhyun-Uchiha, Yunjae Lover, MyBooLoveBear, Ineedtohateyou, alby. Chun, angel sparkyu,
.
Para Guest, yang udh follow, fav juga para SiDer.
.
Sekali lagi makasih ya #bow
.
Hmmm...
Karena banyak yang minta TBC jadi cho lanjutin ceritanya jadi... Maaf ya bwt yang minta ff ini END kkkkk...
.
Maaf juga blm bisa bales ripiu kalian di chap kmrn, Cho bales di chap selanjutnya ne?
.
Jja, see u next chap?
Chuuuu~~
.
.
.
Minggu, 17 Juli 2016
