Begin

.

.

.

.

.

Disclaimer : Semua milik Tuhan

Cast : DBSK dan lain – lain (termasuk BTS)

Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort, Friendship, YAOI

Rate : T

Alur suka – suka, membosankan

.

.

.

.

.

Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya, Jaejoong menyuruh orang yang ternyata adalah Lee ahjusshi itu masuk. Namja paruh baya itu membersihkan ruangan Jaejoong mulai dari menyapu ruangannya. Jaejoong memperhatikan bagaimana Lee ahjusshi bekerja.

Sangat teliti dan bersih, Jaejoong suka dengan cara Lee ahjusshi membersihkan ruangannya. Kemudian Jaejoong menyandarkan tubuhnya dan memainkan kursinya dengan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.

" Ahjusshi" Panggil Jaejoong

" Ya sajangnim?" Lee ahjusshi langsung menghadapkan tubuhnya pada Jaejoong

" Apa ahjusshi yang selalu membersihkan ruanganku?"

" Sebenarnya saya membersihkan ruangan ini berdua, satu orang lagi tengah menyiapkan air di lantai bawah. Sebentar lagi dia kesini"

" Oh..."

" Kenapa? Apa ada yang kurang bersih?"

" Tidak ahsjusshi, ruanganku bersih"

Lee ahjusshi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Jaejoong yang masih belum sibuk hanya bermain – main dimejanya. Dia sebenarnya sedang menunggu Namjoon yang sedang mengambil data keuangan untuknya.

Jaejoong jadi mengingat suara namja yang tadi dia dengar di bawah sebelum masuk ke dalam lift. Suara itu mirip sekali dengan suara namja bernama Jung Yunho yang kemarin dia temui di restoran. Apa mungkin namja itu juga bekerja disini?

Dan kenapa juga Jaejoong kembali mengingat senyuman namja kemarin? Kenapa dadanya menghangat dan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya? Padahal dia baru bertemu satu kali dengan namja itu dan tidak mengenalnya?

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamuman Jaejoong, dia membenarkan duduknya dan berdehem sekali.

" Masuk"

Ceklek

Jaejoong menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang masuk kedalam ruangannya, seorang namja tinggi yang langsung membungkukkan tubuhnya setelah pintu ruangan Jaejoong dia tutup.

" Kemari Yun" Lee ahjusshi menyuruh namja tinggi itu menghampirinya yang tengah membersihkan lantai

" Ne ahjusshi"

Nah,

Jaejoong benar merasa bahwa suara namja tinggi itu sungguh mirip dengan suara pelayan yang kemarin dia temui di restoran.

" Kau bersihkan kacanya ne Yun"

" Ne ahjusshi"

Namja tinggi itu membawa peralatannya menuju tempat yang dimaksudkan oleh Lee ahjusshi, sebuah kaca yang ada dibelakang meja kerja sang bos. Mau tak mau dia berhenti disamping meja kerja Jaejoong dan membungkukkan tubuhnya kembali.

" Maaf sajangnim, aku akan membersihkan kaca yang ada dibelakang meja kerja anda"

" N-ne"

Jaejoong mendongakkan kepalanya dan menatap namja yang ada disamping meja kerjanya, astaga... Mata dan bibir itu...

.

.

.

.

.

~ Chapter 2 ~

.

.

.

.

.

" E-eh..."

" Sajangnim gwaenchana?"

Jaejoong benar – benar terpaku sepersekian detik sebelum dia mengangguk, wajah ini memang benar wajah namja yang dia temui tadi malam. Seorang pelayan restoran tempat keluarganya makan. Yunho pun tak kalah kagetnya karena dia baru saja bertemu dengan namja yang ada didepannya ini tadi malam, benarkan?

" Kau..."

" Ne sajangnim?" Tanya Yunho gugup

" Tadi malam, direstoran..."

" Y-ya sajangnim, itu aku" Yunho menganggukkan kepalanya kemudian dia dengan cepat menuju belakang Jaejoong untuk membersihkan kaca jendela

Jaejoong mengedipkan matanya berkali – kali dan dia sadar apa yang dikatakan Yunho, jadi benar namja itu bekerja di restoran malam kemarin, kenapa?

" Eoh?"

Kenapa Jaejoong jadi ingin tahu seperti ini sih? Dia menggelengkan kepalanya berkali – kali dan mencoba fokus pada dokumen yang ada dimejanya.

Tok Tok

" Hyung"

" Ya Namjoon ah"

" Aku bawakan kau susu"

" Mwo?"

Namjoon mendekat dan menaruh segelas susu coklat diatas meja Jaejoong dan itu membuat wajah Jaejoong merona, susu? Diusianya yang sudah dua puluh enam tahun? Jaejoong memang suka susu tapi astaga... Kenapa harus didepan Yunho?! Eh... memang kenapa kalau dia meminum susu di depan Yunho?

" Eommamu menelepon dan menyuruhku membuatkanmu susu coklat" Jawab Namjoon

" Namjoon ah..." Panggil Jaejoong

" Ne?"

" Aku mau kopi saja"

" Lho, hyung kan tidak terbiasa meminum kopi"

jaejoong meringis, gagal sudah rencananya untuk tampil cool didepan dua officeboy-nya (terutama Yunho).

" Tapi..."

" Kenapa sih hyung? Sudah minum saja, kau ingin yang lain?"

" Hah..." Jaejoong menghela nafasnya " Apa kegiatanku hari ini?"

" Hmm... pagi ini setelah kau menghabiskan susumu kita harus pergi ke perusahaan Changwon, mengurus beberapa perjanjian perusahaan dan siangnya pergi ke perusahaan Min untuk menandatangani kontrak"

" Arasseo"

Jaejoong mengambil cangkir susu yang ada didepannya dan meminumnya sekali tenggak, asistennya ini kadang bersikap kaku tapi juga bisa memalukan dirinya. Ugh...

" Sudah, ayo kita berangkat"

Namjoon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian mengambil selembar tisu dan memberikannya pada Jaejoong yang kini tengah mengerutkan keningnya.

" Kenapa?" Tanya Jaejoong

" Hapus dulu bekas susu coklatnya hyung, kau terlihat seperti yeoja manis seperti itu"

Ugh...

Jaejoong ingin menenggelamkan Namjoon ke dasar sungai Han sekarang juga. Tidak bisakah namja itu menghentikan kelakuannya yang seperti ini?

Jaejoong yang malu segera mengambil tisu dari tangan Namjoon dan mengusap pelan bagian bibirnya, dia kemudian berjalan keluar ruangannya diiringi Namjoon. Dia tidak mau melihat bagaimana reaksi Yunho tentangnya pagi ini. Menyebalkan...

Tanpa diketahui Jaejoong, Yunho tersenyum mendengar percakapan sederhana antara bos dan asisten bosnya. Susu coklat langsung mengingatkan Yunho pada Changmin karena sang adik sangat menyukai susu coklat.

Dan ngomong – ngomong dia sudah ketahun bekerja didua tempat. Yunho lupa menanyakan pada Lee ahjusshi apakah memiliki dua pekerjaan dipermasalahkan di perusahaan ini. Yunho membalikkan tubuhnya dan menatap Lee ahjusshi.

" Ahjusshi" Panggil Yunho

" Ya?"

" Disini tidak ada peraturan yang melarang karyawannya bekerja didua tempat bukan?"

" Kenapa? Apa seseorang mengetahui kau bekerja di restoran Yun?"

" Ya, sajangnim. Kim sajangnim tadi malam datang ke restoran tempatku bekerja"

" Omo, lalu?"

" Dan dia mengenali tadi"

" Semoga saja tidak ada masalah Yun. Kau memang benar – benar butuh dana besar untuk adikmu kan? Aku harap sajangnim akan mengerti"

" Ya, aku harap juga begitu"

Yunho berdoa semoga tidak ada kejadian buruk karena hal ini, dia memang membutuhkan banyak uang untuk Changmin. Tiga pekerjaan dan dia tidak mengeluh, dia ingin mengumpulkan uang untuk operasi Changmin sebelum terlambat.

.

.

.

Jaejoong mendesah lelah didalam mobil, seharian ini sudah dua perusahaan yang dia tangani. Tugasnya selesai untuk mendengarkan dan menandatangani surat perjanjian dan kontrak baru. Ugh... Dia tidak menyukai pekerjaan seperti ini tapi mau bagaimana lagi, kedua orangtuanya hanya memiliki dia sebagai penerus dan yang bisa dia lakukan adalah melakukan semuanya dengan baik sehingga appa dan eommanya tidak kecewa padanya.

" Mau kemana setelah ini?" Tanya Jaejoong

" Sudah tidak ada kegiatan hyung"

" Aku ingin segera ke kantor Namjoon ah, lelah..."

" Arasseo"

Namjoon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan membuat Jaejoong nyaman hingga dia tertidur didalam mobil.

Sesampainya dikantor, Jaejoong kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk diatas meja. Namjoon membantunya dan tidak membiarkan Jaejoong berpikir sendiri.

" Aku ketoilet dulu Namjoon ah" Ucap jaejoong

" Ne hyung"

Jaejoong berjalan keluar ruangannya, menuju toilet karyawan. Bisa saja dia memakai toilet khusus untuk petinggi tapi Jaejoong ingin merasakan toilet karyawan seperti dulu. Ugh... Jaejoong rindu menjadi karyawan biasa.

Selesai menuntaskan keinginannya Jaejoong berjalan dan melewati ruang pantry, dia mendengar beberapa office boy tengah mengobrol sembari membuat kopi, mungkin pesanan dari karyawan perusahaan.

" Aigo.. Kau lihat tidak Ahra sshi dengan Ji Hoon sshi?"

" Kenapa ahjusshi?"

Kali ini Jaejoong mendengar suara Yunho, senang bergosip juga dia?

" Kau tidak tahu Ji Hoon sshi itu kekasih Boa sshi dari divisi produksi tapi rumor beredar dia selingkuh dengan Ahra sshi"

" Ahjusshi itu hanya rumor. Lagi pula... Kopi yang ahjusshi buat lebih penting tuh... Aku akan membersihkan toilet dulu. Annyeong"

" Yak Yun!"

OMO!

Jaejoong segera menjauh dari pintu dan berlagak jalan menuju ruangannya saat pintu terbuka dan menampakkan Yunho dengan atribut kebersihannya.

" Sa-sajangnim" Yunho membungkukkan tubuhnya

" Y-ye"

" Sajangnim ada perlu?"

" Tidak ada, aku baru saja keluar dari kamar mandi"

" Oh... Baiklah sajangnim" Yunho membungkukkan tubuhnya hendak pergi namun dia teringat sesuatu hingga dia menatap Jaejoong

" Ke-kenapa?" Tanya Jaejoong yang entah kenapa malah gugup

" Ma-maaf sajangnim saya hanya ingin bertanya. Berhubung sajangnim juga sudah tahu saya bekerja di restoran kemarin"

" Ah, kenapa?"

" Disini... Tidak ada peraturan yang melarang karyawannya bekerja didua tempat bukan sajangnim?"

Oh...

Masalah itu...

Sebenarnya sang appa pernah melarang salah satu kawyawannya bekerja didua tempat tapi karena dia bekerja di bagian promosi dan produksi sehingga dikhawatirkan bisa membocorkan rahasia perusahaan. Tapi Yunho ada dibagian office boy, bagaimana dia menjawabnya?

" Hmm... Kau bisa temui aku pukul lima sore nanti? Aku sebenarnya ingin membahas hal ini"

Yunho tersentak, dia takut sang sajangnim melarangnya untuk bekerja didua tempat.

" Kau bekerjalah dan temui aku dua jam lagi" Ucap Jaejoong kemudian pergi dari hadapan Yunho yang masih membatu karena gugup dan takut

.

.

.

Yunho menghela nafasnya, usai membersihkan toilet dia kembali ke pantry dan duduk merenung. Pikirannya kemana – mana dan yang paling buruk dia dipecat dari perusahaan karena pekerjaannya.

" Tenanglah Yun, sajangnim tidak akan memecatmu"

" Hojun ah.. Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Yunho pada teman office boy-nya

" Sajangnim adalah orang yang baik, kau harus yakin itu"

Yunho menganggukkan kepalanya pasrah. Yah... Mau bagaimana lagi...

" Sudah pukul lima, kau harus menemui sajangnim bukan?" Tanya Lee ahjusshi yang tahu permasalahan Yunho

" Ya, aku akan pergi kesana. Aku pergi dulu"

" Kami berdoa yang terbaik untukmu Yun, semoga hasilnya baik dan itu bisa menjadi hadiah bagi ulangtahunmu"

" Terima kasih, kalau semua berjalan lancar itu merupakan hadiah ulangtahunku yang paling tidak terlupakan"

Yunho menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruang sajangnum-nya dan di depan dia sudah ditunggu oleh Namjoon.

" Sajangnim memintaku untuk menemuinya pukul lima"

" Ya, dia sudah menunggumu. Silahkan"

Namjoon membukakan pintu dan menyuruh Yunho untuk masuk, dia menuruti Namjoon dan melihat Jaejoong tengah serius mengerjakan pekerjaannya. Yunho terpana beberapa detik dengan keseriusan Jaejoong namun dia segera menyadarkan dirinya dan berjalan mendekat.

" Hyung, Yunho sshi sudah datang"

" Eh?"

Jaejoong menoleh dan menatap Namjoon kemudian matanya menatap Yunho dan menganggukkan kepalanya.

" Duduklah"

" N-ne sajangnim"

Dengan ragu Yunho duduk diseberang tempat duduk Jaejoong dan menyatukan kedua tangannya diatas lututnya, gugup.

" Boleh aku bertanya kenapa kau memiliki dua pekerjaan?" Tanya Jaejoong

" Itu... Karena saya membutuhkan biaya sajangnim"

" Kenapa? Apa tidak cukup jika kau hanya bekerja disini?"

" Saya membutuhkan banyak biaya untuk hidup. Saya mohon tidak memecat saya"

Jaejoong menaikkan salah satu alisnya, memecat? Siapa? Dirinya akan memecat Yunho?

" Kenapa kau berpikiran seperti itu?"

" Maaf sebelumnya tapi beberapa dari pekerjaan saya yang lama tidak memperbolehkan saya untuk bekerja didua tempat. Dan mereka akhirnya memecat saya, jadi..."

" Kalau begitu berikan alasanmu yang sebenarnya sampai kau bekerja didua tempat"

" Itu... Aku membutuhkan biaya untuk pengobatan adik saya sajangnim" Ucap Yunho kemudian menatap Jaejoong

" Pengobatan?"

" Ya, saya mengumpulkan uang untuk biayanya operasi dan membeli obat – obatan untuknya"

" Adikmu sakit apa?"

" Leukemia"

Jaejoong menahan nafasnya, tidak menyangka bahwa kehiduapan yang dialami Yunho sangatlah menyedihkan.

" Aku lihat dari CV-mu kau dulu bekerja di bagian administrasi?"

" Ya... Tapi mereka memecatku karena aku bekerja ditempat lain" Jawab Yunho kemudian dia menghembuskan nafasnya " Hanya pekerjaan seperti ini yang bisa membuatku bekerja ditempat lain sajangnim" Lanjut Yunho

Jaejoong tidak bisa menemukan kebohongan dari cerita Yunho, dia melihat namja itu menceritakan semuanya dengan jujur dengan sorot matanya.

" Berapa usia adikmu?"

" Dia... Duduk dikelas sepuluh tahun ini"

" Ah... Begitu. Baiklah... Aku ingin kau berhenti bekerja direstoran itu Yunho"

" Maksud sajangnim?"

" Ya, berhenti dan fokuslah pada pekerjaanmu disini"

Yunho tahu, inilah akhirnya. Kenapa juga dia harus bertemu sang sajangnim direstoran tempatnya bekerja malam itu. Astaga... Ini sungguh berat untuknya, apalagi sangatlah sulit mencari pekerjaan yang gajinya lumayan seperti disini.

" Sa-sajangnim, aku tidak bisa"

" Kenapa?"

" Gajiku disini hanya bisa membeli obat untuk adikku" Jujur Yunho

" Kau bisa, aku menerimamu sebagai staffku mulai besok"

" Eh?"

" Setelah melihat CV dan lamaranmu, aku ingin menjadikanmu salah satu staff diruanganku. Lagipula aku sedang kekurangan orang dan aku yakin bahwa gaji staffku diatas dua pekerjaanmu bukan?"

" Ta-tapi sajangnim..." Ucap Yunho ragu

" Dan kau bisa memiliki waktu yang lebih banyak untuk adikmu" Ucap Jaejoong kemudian dia tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya

" Sajangnim..."

Yunho tidak tahu apakah ini berita baik atau buruk untuknya, bosnya sedang memberikan kenaikkan pangkat untuknya bukan? Tapi...

" Aku tidak bisa... Bagaimana bisa aku..."

" Semua bisa saja kalau aku yang atur. Namjoon sudah mengurus kepindahanmu, kepala bagian staff juga tahu kau akan pindah kesana" Jawab Jaejoong santai

" Ak-aku... Bagaimana sajangnim bisa bertindak seperti itu?"

" Aku bertanya pada appaku serta meminta bantuan Namjoon dalam hal ini, dan aku bertanya alasan kau bekerja didua tempat. Jawabanmu memuaskan sehingga aku yakin dengan apa yang aku putuskan, kau pantas menerima eksempatan bekerja dibagian itu Yunho. Ambilah tawaranku"

Yunho menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar penjelasan Jaejoong. Ini permulaan yang bagus untuknya bukan? Benar bukan? Bolehkah dia berharap setelah ini kehidupannya akan membaik?

" Sajangnim... Terima kasih.. Terima kasih untuk segala hal yang kau lakukan hari ini" Ucap Yunho dengan tulus

" Bekerjalah dengan baik besok dan anggap saja ini semua hadiah ulang tahunmu Yunho"

" Eh? Sajangnim tahu?"

" Ya, aku memegang surat lamaranmu dan Lee ahjusshi kemarin berkata bahwa salah satu temannya yang bernama Yunho berulang tahun jadi... Walau kecepatan... Selamat ulang tahun Yunho"

Yunho berdiri dari tempatnya, dia kemudian membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat dan kemblai mengucapkan banyak terima kasih pada Jaejoong.

" Aku akan bekerja sebaik mungkin sajangnim. Terima kasih" Ucap Yunho

" Ya"

" Aku akan keluar sekarang"

" Oke, sampai ketemu besok"

Sekali lagi Yunho membungkukkan tubuhnya sebelum keluar dari ruangan Jaejoong dan dia segera berlari ke pantry untuk menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya sore ini.

" Kau tidak takut salah keputusan hyung?"

" Hmm? Tidak... Aku merasa tidak salah mengambil keputusan Namjoon ah"

" Hyung... Kau... Tertarik padanya?"

" Eh? Maksudmu?"

" Kau berlaga cool didepannya tapi sebenarnya kau gugup"

" YA! Siapa suruh kau memperhatikanku! Dasar asisten tidak sopan"

Namjoon menghela nafasnya dan memperhatikan bosnya yang baik hati itu, dia memang melihat raut wajah gugup saat Jaejoong berhadapan dengan Yunho dan sikap Jaejoong yang canggung tadi pagi pada Yunho serta beberapa lirikan penuh kegugupan yang dilayangkan Jaejoong untuk Yunho cukup membuktikan bahwa bosnya itu tertarik pada Yunho.

" Ugh... Kadang aku lebih suka kau yang kaku daripada yang iseng seperti ini" Gerutu Jaejoong

" Hyung yang memintaku seperti ini" Jawab Namjoon

" Ya... Dan aku menyesal"

Jaejoong membuang nafasnya berkali – kali mencoba membuat dirinya rileks. Tidak bisa dia pungkiri bahwa sedari tadi berhadapan dengan Yunho jantungnya terus berdebar halus dan dia merasa sangat gugup. Tapi semua itu berubah saat Yunho bercerita tentang adiknya yang terkena penyakit Leukemia.

Pantas saja namja itu bekerja sangat keras, setahu Jaejoong penyakit Leukemia memang membutuhkan banyak biaya dan kenapa harus orang seperti Yunho yang menanggung beban itu?

" Hyung gwaenchana?" Tanya Namjoon yang melihat wajah murung Jaejoong

" Ah... Ne... Aku ingin pulang, sepupuku akan datang malam ini"

" Bukannya mereka akan datang minggu depan?"

" Ya, tapi mereka mempercepat kedatangan mereka. Hah... Mana tahan aku hidup dengan dua namja berisik macam mereka..."

" Itu kan hanya sementara"

" Ya, enam bulan dan pasti akan seperti neraka"

" Selamat menikmatinya hyung"

" YA!"

.

.

.

.

.

" Whoooaaaa! Daebbak!"

" Kau sangat beruntung Yun"

" Hojun ah, Lee ahjusshi... Aku tidak beruntung tapi Kim sajangnim memang baik hati"

Hojun dan Lee ahjusshi sudah mendengar cerita Yunho tadi dan mereka merasa senang dan bersyukur Yunho bisa mendapatkan hal yang lebih baik untuk adiknya.

" Tapi aku gugup ahjusshi..."

" Kau ini, ahjusshi senang kau bisa mendapatkan pekerjaan itu Yun, setidaknya kau tidak harus pulang terlalu malam lagi dan bisa menemani adikmu diakhir pekan atau paling tidak mengajaknya jalan – jalan. Iya kan?" Ucap Lee ahjusshi

" Ne. nah... aku akan membersihkan semuanya. Kalian berdua pulang saja" Ucap Yunho penuh semangat

" Mana bisa begitu?"

" Bisa, anggap saja ini adalah hadiah dariku. Sana, kalian pulang saja"

" Aigo... Aku akan membantumu Jung dan jangan menolak" Ucap Hojun dan mulai mengambil alat – alat kebersihan dan mereka mulai pergi keruang karyawan dan staff untuk membersihkan tempat itu

Yunho mulai menyapu dari sudut kesudut memastikan bahwa tempat itu bersih dari noda karena dia memang menyukai kebersihan.

" Aku tidak menyangka kau akan bekerja disini Yun besok!" Pekik Hojun sangat senang

" Ne, aku juga tidak menyangka" Ucap Yunho sembari menyapu

" Tapi... Kau tidak akan melupakan kami bukan?"

" Ish, apa sih yang kau bicarakan aku akan tetap menjadi Yunho yang kalian kenal!"

" Hahahahaha, awas saja kau kalau berubah"

Mereka akhirnya membersihkan ruangan itu dengan bersenda gurau. Sementara itu Jaejoong baru saja keluar dari ruangannya dan dia sempat berhenti didepan ruang karyawan, melihat Yunho dan Hojun yang sedang membersihkan ruangannya dari balik kaca.

Jaejoong tersenyum melihat perilaku Yunho dan membuat Namjoon yang dibelakangnya tersneyum juga dengan kelakuan bosnya yang unik itu. Namun selang beberapa detik suara ponsel Jaejoong membuyarkan semuanya. Jaejoong segera membaca pesan yang dikirimkan untuknya dan menghela nafasnya.

" Aku akan pulang ke rumah, eomma merindukanku katanya"

" Arasseo"

" Hah... Baiklah, aku tidak akan membiarkan ibuku yang segarang macam itu mencincangku kalau aku datang terlambat" Ucap jaejoong kemudian berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby " Sampai ketemu besok Yun..."

.

.

.

.

.

.

" Apa salahnya aku tidak punya apa – apa?"

Seorang namja mengayunkan ayunan yang sedang didudukinya dengan pelan. Dia menunduk dan tangannya memegang rantai ayunan yang ada disebelah kiri dan kanannya.

" Memangnya aku ingin seperti ini... Huh... Kenapa orang kaya selalu saja seenaknya?"

Namja itu kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap langit yang sudah menggelap, angin malam itu menjadi temannya dan dia menyukai hal itu.

" Hyung pulang malam lagi... Padahal besok ulang tahunnya" Lirih namja itu " Dan untungnya aku sudah membeli hadiah untuknya, semoga hyung suka" Namja itu kemudian tersenyum

Dia bersenandung lirih sampai dia mendengar sebuah suara yang mengagetkannya, dia melihat seorang namja terlihat panik menengok ke kanan dan ke kiri, seperti sedang bingung.

Namja tinggi itu memperhatikan namja yang sedang panik itu dan tersenyum, lucu. Seperti anak bebek yang sedang mencari induknya. Ups...

Yang dia tahu namja yang sedang diperhatikannya itu kini berjalan menuju taman dan berdiri dengan raut wajah bingung. Namja itu kemudian melihat seseorang duduk diayunan, kakinya melangkah ragu namun dia harus melakukannya, ini sudah larut.

" Ng..."

Namja yang duduk diayunan itu menatap namja yang ada didepannya, namja itu menatapnya dengan wajah memelas hingga akhirnya dia membuka suaranya.

" Ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya kemudian bangkit dari duduk nyamannya diayunan

" Ah~ Syukurlah kau bisa membantuku" Ucap namja itu terdengar lega

" Ya?"

" Aku kecopetan dan mencoba berjalan kaki menuju apartemen sepupuku tapi aku... Nyasar" Ucap namja itu kemudian menunjukkan cengirannya

Namja tinggi yang tadi duduk diatas ayunan membulatkan mulutnya, tersesat? Berapa usianya sampai bisa tersesat?

" Tersesat?"

" Ne, aku ingin menelepon tapi lupa bahwa dompetku dicopet dan aku tadi menghabiskan uang terakhirku untuk makan es krim, menyusuri jalan dan malah tersesat kesini" Namja itu mempoutkan bibirnya

" Eh?"

" Bisa kau... Ugh... Antarkan aku ke halte bus terdekat dan meminjamiku uang? Aku akan menggantinya nanti" Ucap namja itu memelas dan matanya berkaca – kaca

Oh, hal itu membuat namja tinggi itu tidak tega dan akhirnya tersenyum.

" Ayo aku antar ke halte"

" Whooaaa~~~ Terima kasih!"

GREP!

OMO!

Namja tinggi itu tersentak saat namja yang meminta bantuannya itu dengan seenaknya memeluknya. Astaga!

" Kau penyelamatku! Kajja!"

" N-ne"

Namja tinggi itu merasa wajahnya memanas karena perlakuan namja itu namun dia segera menggelengkan kepalanya dan mulai berjalan bersama namja itu.

" Kau masih sekolah, kenapa pulang larut sekali?" Tanyanya

" Aku... Hari ini ada urusan"

" Oh...Oh ya, aku Kim Junsu. Kau?"

" Aku Changmin"

" Hanya Changmin?"

" Jung Changmin"

" Kau tinggi sekali Changmin ah!" Pekik namja bernama Junsu itu dan membandingkan tubuhnya dengan tubuh Changmin hingga membuat Changmin terkekeh " Sewaktu aku masih sekolah aku tidak setinggi kau!"

Changmin menaikkan salah satu alisnya, jadi namja yang meminta bantuannya ini bukan anak sekolahan?

" Memang kau bukan anak sekolah lagi?" Tanya Changmin memberanikan diri

" Eoh? Apa aku tampak semuda itu? Hehehehe... Aku sudah kuliah Changmin ah, usiaku saja sudah dua puluh satu tahun"

Changmin kembali membulatkan mulutnya dan akhirnya dia mengangguk.

" Maaf kalau aku tidak sopan padamu"

" Aish, kau ini tidak usah sungkan panggil saja aku hyung"

" Arasseo"

Dalam perjalan mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol. Tidak bisa dibilang mengobrol juga karena Junsu lebih banyak bertanya pada Changmin dan menatap seragam Changmin yang sudah familiar dimatanya.

" Nah sudah sampai, hyung bisa memakai kartu bus ku" Ucap Changmin kemudian memberikan kartu busnya

" Lalu kau?"

" Aku masih punya satu lagi hyung pakai saja, jangan sampai tersesat lagi. Apartemen yang kau maksud bisa dibilang jauh dari sini, jadi... Hati – hati hyung"

" Arasseo, terima kasih sekali Changmin ah. Hmm.. Berapa nomor ponselmu? Aku akan mengganti uangnya"

" Tidak perlu hyung"

" Aish kau ini, berikan saja nomor ponselmu dan aku akan menghubungimu karena kau adalah orang yang sangat baik, pahlawanku! Hahahahaha" Ucap Junsu dengan nada cerianya

Akhirnya Changmin menurut, dia mengeluarkan buku dan pulpen kemudain menuliskan nomor ponselnya dan memberikannya pada Junsu.

" Itu busmu sudah datang"

" Ne, sekali lagi terima kasih ne Changmin? Kau benar – benar baik hati"

" Ne hyung, sama – sama"

Sebelum naik ke dalam bus Junsu kembali memeluk Changmin dan melambaikan tangannya kearah Changmin hingga bus yang dia tumpangi melaju. Changmin tersenyum mengingat kejadian awal mereka bertemu dan dia kahirnya berjalan menuju flat tempatnya tinggal bersama sang kakak.

Sementara itu...

" Omo! Pantas saja terlihat familiar, seragamnya sama dengan si evil itu!" Pekik Junsu didalam bus

.

.

.

.

.

CEKLEK

" Kau baru pulang Min?"

" Eoh hyung? Sudah pulang?"

Changmin melirik jam dinding didalam ruangan, pukul setengah sebelas. Biasanya sang hyung akan pulang pukul dua belas.

" Ya, kemarilah. Kau sudah makan?"

Changmin menggelengkan kepalanya.

" Aigoo... Sudah jam berapa kau belum makan juga Min? Kemarilah ada yang hyung ingin ceritakan"

Changmin menurut, dia menaruh tasnya dan mendekat kearah meja persegi yang ada didalam ruangan itu dan duduk berhadapan dengan hyungnya. Didepannya sudah ada beberapa makanan yang menggugah seleranya, bulgogi serta ramyun.

" Makanlah"

" Ne"

Changmin makan dengan tenang, dia menikmati makan malam hari ini dan sesekali tersenyum karena dia kembali mengingat pertemuannya dengan Junsu.

" Kenapa tersenyum begitu? Ada hal baik yang kau temui hari ini?" Tanya Yunho

" Aniya hyung, akku hanya membantu seseorang yang tersesat tadi makanya aku pulang larut"

" Oh... Lain kali kau harus kabari hyung. Mengerti?"

" Ne hyung, lalu hyung ingin cerita apa?"

Yunho sang kakak menghentikan acara makannya dan menatap sang adik, Changmin yang ditatap seperti ini mengerutkan keningnya. Hyung tidak akan memberikan kabar buruk bukan?

" Hyung tadi mengundurkan diri di restoran tempat hyung bekerja"

" Kenapa?" Sontak Changmin menjadi khawatir karena hyungnya mengundurkan diri ditempatnya bekerja

" Jangan khawatir Min, sajangnim di perusahaan tempat hyung bekerja ingin hyung bekerja menjadi staff-nya. Bukan lagi dibagian office boy"

" Jinjja?" Changmin membulatkan matanya dan dia tersenyum saat sang hyung mengangguk " Daebakk hyung!"

" Ne, semoga ini awal yang baik untuk kita ya?"

" Maaf hyung, aku belum bisa membantu apa – apa"

" Apa yang kau katakan eoh? Kau belajar dengan sungguh – sungguh saja sudah membantu hyung"

Changmin dan sang hyung tersenyum bersama dan akhirnya mereka larut dalam obrolan mereka dan cerita mereka masing – masing.

.

.

.

.

" Ugh..."

Changmin meraba kesamping dan menemukan ponselnya, dia membuka matanya dan mematikan alarm yang sudah dia atur tadi sore. Dia mengusap pelan matanya dan menoleh kesamping, hyungnya tengah tertidur.

Changmin bangkit untuk mengambil tas sekolahnya, mengeluarkan sebuah kotak persegi dan menaruhnya disamping sang hyung.

" Selamat ulang tahun hyung" Lirih Changmin

.

.

.

.

Yunho membuka matanya saat dia merasakan alarm ponselnya berbunyi, dia segera duduk dan merenggangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dia melihat Changmin yang masih tertidur pulas dan itu membuatnya senang.

Dia mengusap puncak kepala Changmin dan hendak beranjak namun matanya menemukan sesuatu disamping tempatnya tidur. Dia mengambilnya dan tersenyum lebar hingga membuat matanya tertutup.

" Changmin ah! Gomawoooo~~~"

Yunho memeluk Changmin yang masih tertidur lelap dan langsung membuat Changmin kaget, dia sesak karena hyungnya memeluknya begitu erat namun tak lama dia tersenyum senang dengan pelukan hyungnya itu.

Usai pelukan hangat itu, Yunho bergegas untuk mengantarkan susu dan koran, pekerjaannya dipagi hari yang masih belum diketahui oleh sajangnimnya. Dia senang melakukan hal ini, dia jadi bisa mendapatkan sarapan gratis karena sang pemilik selalu memberikan dua kotak susu untuknya.

Setelahnya, mereka berjalan bersama menuju halte bus dan menaiki bus yang berbeda, Yunho sekali lagi mengucapkan terima kasihnya pada Changmin yang sudah bersusah payah membelikannya jam tangannya yang kini sudah dipakainya.

Changmin tersenyum karenag sang hyung menyukai apa yang diberikannya, sang hyung bahkan berjanji akan mengajaknya makan daging bakar malam ini!

Yunho melambaikan tangannya pada Changmin yang sudah berada didalam bus dan tak lama dia menaiki bus menuju tempatnya bekerja, jantungnya berdegup kencang dan dia sungguh merasa gugup. Pikiran – pikiran negatifnya juga bertebaran begitu saja didalam kepalanya.

Bagaimana jika para karyawan tidak menganggapnya? Diakan hanya seorang officeboy yang tiba- tiba menjadi staff perusahaan itu. Yang Yunho tahu sangat sulit melewati tes perusahaan Kim dan mereka sangat pandai dan beruntung bisa masuk ke dalam perusahaan Kim.

Bagaimana ini?

Yunho disambut oleh Namjoon dimeja resepsionis pagi ini, dia merapikan kemeja yang dipakainya dan menyapa Namjoon dengan formal. Kemudian Namjoon membawa Yunho menuju ruang staff tempat Yunho bekerja. Sudah ada beberapa yang datang dan mereka cukup kaget melihat Yunho masuk bersama Namjoon.

" Mulai saat ini Yunho akan bekerja bersama kalian, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan Yunho" Ucap Namjoon

" Aku Jung Yunho, mulai hari ini bekerja disini. Mohon bantuannya" Yunho membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat sembari berdoa dalam hati semoga semua akan baik – baik saja

.

.

.

.

.

Sementara itu...

BRUUGGHHH

" Ups... Maaf tidak terrlihat"

Namja itu jatuh setelah seseorang mencekal kakinya, dia menoleh dan melihat namja berambut ikal tengah terkekeh kearahnya. Tidak bisakah hari ini menjadi hari tenangnya? Kepalanya sedikit pusing sejak pagi sebenarnya tapi dia tidak mau sang hyung mengkhawatirkannya.

Namja itu bangkit dari jatuhnya dan berjalan menjauh dari sang namja ikal, lebih baik dia segera menuju ke kelasnya mumpung masih sepi sehingga dia bisa membaca buku pelajarannya terlebih dahulu. Lagipula menjauhi masalah lebih baik bukan?

" Oh... Sekarang kau mengacuhkanku Jung Changmin? Hey anak miskin! Kau tidak punya sopan santun ya? Tidak diajarkan orangtuamu? Ups.. Aku lupa kau tidak memiliki orangtua"

Namja itu, Changmin. Dia menghembuskan nafas kesalnya dan menghadapkan dirinya menuju namja yang tadi mencekal kakinya. Dirinya sudah banyak bersabar sejak sekolah di tempat elit ini, kalau bukan karena beasiswanya Changmin lebih memilih sekolah biasa saja. Kenapa ada orang kaya yang menyebalkan seperti dirinya sih?

" Lalu aku harus apa... Cho Kyuhyun?"

.

.

.

~ TBC ~

.

.

.

Annyeong!

Cho kembali bawa ff Begin... Harusnya diupdate hari sabtu kemarin tapi... Karena ada sesuatu jadi baru bisa update hari ini, Otte?

.

Special Thanks :

.

909596 (makasih udah baca ya ^^), Jj (diusahakan~~), lovgraavanime14 (doain aja ya?), uknowme2309 (maunya ngapain nc? Kkkk), yes (sip), yunjae heart (Cho pasti selalu semangat, update na diusahain soon kkkk), eL Ree (semoga bang mimin kesayangannya Cho sembuh), Mimimi (hmm... liad chap depan?), MyBooLoveBear (kacian, Cho aja jamuran nulisnya hahahaha, home di update kok ^^), sekaaaaaai (sip), dheaniyuu (iya nih...), Avanrio11 (sabar ya... doa in aja dia sembuh kkkk), ismi mimi (hayuluh... cho belom kepikiran buat angst tapi... cho pertimbangin deh :p),

littlecupcake noona (pasti jaemma selalu semangat buat dapetin Yunpa kkkkk), Philomena9095 (bang mimin cuma punya cho :p, semoga karakter jaemma ga berubah di chap depan! Hehehehe), Bijin YJS (lumutan dan cho karatan kkkk, iya cyiinn~~ fighting), alby. Chun (iya nih...), misschokyulate2 (iya kyk na...), Jejae (ini udah di update tp emang lambat... ahahhaha), GaemGyu92 (doain biar dia cepet sembuh ya ^^), Mangk'war718 (iya...)

.

Makasih juga buat yang udah follow, fav dan para SiDer #bow

.

Kalo ada yang perhatiin ff ini sama ff Cho yang Voice agak sama. Ada yang perhatiin?

Jaemma kaya, Yunpa ga mampu dan Changmin sakit Leukemia. Cho emang sengaja samain tapi pengen jalan cerita yang beda.

Untuk angst Cho belum kepikiran tapi ngeliat penyakin bang Mimin disini... Hmm... #smirk Bang mimin maafkan Cho kesayanganmu ini hahahahahah #DiGaplokGajah

See u next chap?

Chuuuuuu~~~

.

.

.

Selasa, 5 September 2016