Begin
.
.
.
.
.
Disclaimer : Semua milik Tuhan
Cast : DBSK, BTS maybe?
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort, Friendship, YAOI
Rate : T
Alur suka – suka, membosankan
.
.
.
.
.
" Changmin ah! Gomawoooo~~~"
Yunho memeluk Changmin yang masih tertidur lelap dan langsung membuat Changmin kaget, dia sesak karena hyungnya memeluknya begitu erat namun tak lama dia tersenyum senang dengan pelukan hyungnya itu.
Usai pelukan hangat itu, Yunho bergegas untuk mengantarkan susu dan koran, pekerjaannya dipagi hari yang masih belum diketahui oleh sajangnimnya. Dia senang melakukan hal ini, dia jadi bisa mendapatkan sarapan gratis karena sang pemilik selalu memberikan dua kotak susu untuknya.
Setelahnya, mereka berjalan bersama menuju halte bus dan menaiki bus yang berbeda, Yunho sekali lagi mengucapkan terima kasihnya pada Changmin yang sudah bersusah payah membelikannya jam tangannya yang kini sudah dipakainya.
Changmin tersenyum karenag sang hyung menyukai apa yang diberikannya, sang hyung bahkan berjanji akan mengajaknya makan daging bakar malam ini!
Yunho melambaikan tangannya pada Changmin yang sudah berada didalam bus dan tak lama dia menaiki bus menuju tempatnya bekerja, jantungnya berdegup kencang dan dia sungguh merasa gugup. Pikiran – pikiran negatifnya juga bertebaran begitu saja didalam kepalanya.
Bagaimana jika para karyawan tidak menganggapnya? Diakan hanya seorang officeboy yang tiba- tiba menjadi staff perusahaan itu. Yang Yunho tahu sangat sulit melewati tes perusahaan Kim dan mereka sangat pandai dan beruntung bisa masuk ke dalam perusahaan Kim.
Bagaimana ini?
Yunho disambut oleh Namjoon dimeja resepsionis pagi ini, dia merapikan kemeja yang dipakainya dan menyapa Namjoon dengan formal. Kemudian Namjoon membawa Yunho menuju ruang staff tempat Yunho bekerja. Sudah ada beberapa yang datang dan mereka cukup kaget melihat Yunho masuk bersama Namjoon.
" Mulai saat ini Yunho akan bekerja bersama kalian, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan Yunho" Ucap Namjoon
" Aku Jung Yunho, mulai hari ini bekerja disini. Mohon bantuannya" Yunho membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat sembari berdoa dalam hati semoga semua akan baik – baik saja
.
.
.
.
.
Sementara itu...
BRUUGGHHH
" Ups... Maaf tidak terrlihat"
Namja itu jatuh setelah seseorang mencekal kakinya, dia menoleh dan melihat namja berambut ikal tengah terkekeh kearahnya. Tidak bisakah hari ini menjadi hari tenangnya? Kepalanya sedikit pusing sejak pagi sebenarnya tapi dia tidak mau sang hyung mengkhawatirkannya.
Namja itu bangkit dari jatuhnya dan berjalan menjauh dari sang namja ikal, lebih baik dia segera menuju ke kelasnya mumpung masih sepi sehingga dia bisa membaca buku pelajarannya terlebih dahulu. Lagipula menjauhi masalah lebih baik bukan?
" Oh... Sekarang kau mengacuhkanku Jung Changmin? Hey anak miskin! Kau tidak punya sopan santun ya? Tidak diajarkan orangtuamu? Ups.. Aku lupa kau tidak memiliki orangtua"
Namja itu, Changmin. Dia menghembuskan nafas kesalnya dan menghadapkan dirinya menuju namja yang tadi mencekal kakinya. Dirinya sudah banyak bersabar sejak sekolah di tempat elit ini, kalau bukan karena beasiswanya Changmin lebih memilih sekolah biasa saja. Kenapa ada orang kaya yang menyebalkan seperti dirinya sih?
" Lalu aku harus apa... Cho Kyuhyun?"
.
.
.
.
.
~ Chapter 3 ~
.
.
.
.
.
" Hupfh... Bosan"
Namja yang baru saja mengeluh itu menatap kesampingnya, keluar jendela. Dia sudah tiga hari berada di rumah sakit dan sangat membosankan untuknya.
CEKLEK
" Siang Changmin"
" Siang Kangta hyung" Jawab namja bernama Changmin itu tanpa melihat orang yag masuk kedalam kamar rawatnya
" Bagaimana kabarnu?"
" Bosan hyung, sepi"
Namja bernama Kangta itu tersenyum maklum, kamar rawat yang biasanya Changmin akan mendapatkan teman dikamar rawatnya tapi karena semua penuh dan ruang rawat ini yang kosong terpaksa Changmin ada disini. Padahal ada dua ranjang rawat lagi di kamar rawat itu.
" Keadaanmu bagaimana?"
" Baik, aku ingin pulang"
Kangta mendekat, dia membuat Changmin berbaring dan memeriksa denyut nadi serta detak jantung Changmin. Setelahnya dia mengganti cairan infus Changmin yang sudah menipis dan memberikan obat melalui infus.
" Luka lebammu masih terlihat" Ucap Kangta sembari menyentuh luka lebam pada pinggir mata sebelah kiri dan pinggir bibir Changmin
" Hum, sudah lebih baik"
" Hyung heran kau itu anak baik – baik tapi berkelahi"
" Aku juga tidak mau berkelahi hyung, apa bisa disebut berkelahi kalau aku tidak membalasnya?"
" Pasti ada alasannya bukan?"
Changmin menggelengkan kepalanya kemudian menatap kembali pemandangan disampingnya, melihat burung – burung itu terbang dengan bebas membuatnya merasa iri. Dia juga ingin bebes seperti yang lain. Dia ingin bisa merasakan semua hal tanpa takut penyakitnya yang sering kambuh.
" Hyung..." Panggil Changmin dengan lirih
" Ya?"
" Sampai kapan aku seperti ini?"
" Kenapa?"
" Aku hanya hidup untuk membebani Yunho hyung"
Kangta mengelus helaian rambut pasien yang sudah lama dia pegang, Changmin memang memilih dirinya untuk menjadi dokter yang menanganinya. Namja itu tahu bagaimana kesulitan yang dihadapi Changmin serta hyungnya.
" Berpikirlah positif Min, kau bisa hidup selama yang kau mau. Ingat impianmu, bukankah kau ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan leukemia?"
" Hum... Tapi... Bagaimana jika aku sendiri sudah tidak mau hidup?"
Ucapan itu terdengar sangat serius ditelinga Kangta, kenapa sampai Changmin berpikiran seperti itu? Apa hidupnya sudah sangat sulit?
" Hey... Kalau kau pergi bagaimana hyungmu?"
" Aku hanya beban untuknya"
" Kau mungkin berpikiran seperti itu tapi hyungmu menganggapmu harta paling berharga karena hanya kau keluarganya bukan?"
" Hyung..." Sekarang Changmin menatapnya dengan mata berkaca – kaca
" Kau bisa membayangkan bagaimana sedihnya Yunho jika kau meninggalkannya? Dia sudah ditinggal kedua orangtua kalian lalu adik tersayangnya? Yunho sangat menyayangimu, bertahanlah demi Yunho"
Changmin mengangguk, sepertinya dia memang sudah salah membicarakan tentang kematian. Tidak seharusnya dia pesimis seperti itu. Dia ingat bahwa dia masih memiliki impian yang tinggi jadi seharusnya dia tidak berpikiran untuk menyarah dalam hidupnya.
" Hyung pergi ne? Sore nanti sehabis kau makan camilan hyung akan datang"
" Ne, terima kasih hyung"
" Tidurlah, kau lelah"
" Ya"
Changmin memejamkan matanya, Kangta tidak bisa berbuat banyak lagi selain mendekat untuk mengecup kening Changmin. Bahkan Kangta pun sudah tidak menganggap Changmin pasiennya lagi, dia menyayangi Changmin seperti menyayangi adiknya.
" Jalja..."
Setelah mendengar suara pintu tertutup Changmin membuka matanya, dia belum ingin tidur. Masih ingin melihat pemandangan indah diluar jendela kamar rawatnya. Dia jadi ingat tiga hari yang lalu namja yang merupakan teman sekelasnya, eoh? Apa Kyuhyun termasuk daftar temannya? Dia rasa tidak.
Kyuhyun menyerang Changmin, memukul beberapa kali hingga Changmin jatuh tapi Kyuhyun belum melepaskannya, dia berlutut diantara tubuh Changmin dan memukul keras rahang serta wajah Changmin. Tapi Changmin diam. Ingin tahu sampai mana kebencian namja itu padanya.
.
~ FLASHBACK ~
.
" Kenapa tidak melawan hah?!" Pekik Kyuhyun menarik kerah seragam Changmin
" Kau puas?" Tanya Changmin dengan datar
BUAGH
Sebuah pukul kembali dia terima kali ini dipinggir matanya tapi Changmin masih diam, menatap Kyuhyun.
" Aku membencimu! Aku benci kehadiranmu disini yang membuatku tersisih menjadi nomor dua padahal kau hanya anak miskin yang tidak sadar tempatmu!" Pekik Kyuhyun, Changmin tahu Kyuhyun tidak sendirian disana, teman – teman Kyuhyun ada tapi tidak menghentikan Kyuhyun dan malah menikmati pemandangan itu
"..."
" Aku membencimu! Sangat! Lebih baik kau tidak ada"
" Lenyapkan saja aku"
Kyuhyun sudah akan memukul Changmin kembali tapi tangannya terhenti saat melihat darah mengalir dari dalam hidung Changmin. Dan suara sang guru menggema dikoridor itu, Kyuhyun mendongakkan sepertinya ada yang melaporkan perkelahiannya pada guru itu.
" Jung Changmin, kau tidak apa – apa?"
Dua orang guru itu menghampiri Kyuhyun dan Changmin, yang satu memegangi Kyuhyun dan yang satu membantu Changmin berdiri.
" Gwaenchana saenim" Ucap Changmin datar
" Hidungmu! Astaga, Cho Kyuhyun kau kira apa yang kau lakukan?!"
Kyuhyun diam dan menatap tajam Changmin, dia memperhatikan bagaimana Changmin mengusap hidungnya yang berdarah dan tidak lama Changmin terbatuk – batuk dan dia menutupi mulutnya dengan erat.
" Sa-saenim" Panggil Changmin, kepalanya kembali berputar
" Changmin gwaenchana? Astaga! Batukmu! Ayo!"
Guru itu membawa Changmin yang berjalan dengan tertatih tapi baru sampai lima langkah Changmin merasakan lemas dan dia memejamkan matanya.
" Changmin?! Bangun Min!"
" Astaga!" Kali ini guru yang ada disamping Kyuhyun yang berteriak
" Min Saenim, cepat telepon ambulan!"
" Ne Cha saenim!" Guru yang ada disamping Kyuhyun ini menatap Kyuhyun " Kita urus ini nanti Kyuhyun ah"
Dengan segera Min saenim menelepon ambulan dan mendekati Changmin yang tidak sadarkan diri, beruntung belum banyak siswa siswi yang datang karena masih pagi tapi beberapa yang melihat menutup mulutnya tidak percaya dengan ada yang mereka lihat.
Kyuhyun sendiri terpaku saat dia melihat Changmin tumbang dan tangan Changmin tidak lagi menutup mulutnya, dia melihat banyaknya darah Changmin yang keluar entah dari hidung maupun dari mulutnya. Dia bertanya – tanya dalam hati bagaimana semua itu bisa terjadi? Kenapa Changmin selemah itu? Apa pukulannya terlalu kuat sampai Changmin mengeluarkan banyak darah?
" Kyu"
Kyuhyun menoleh kesamping, temannya tengah menatapnya dengan pandangan datar.
" Sudahlah, dia saja yang lemah" Ucap Chanyeol
Kyuhyun mengangguk pelan namun dia tetap memperhatikan bagaimana Changmin yang ada dalam pelukan salah satu guru yang mencoba membuatnya sadar.
.
~ FLASHBACK OFF ~
.
Saat sadar Changmin sudah ada diruang rawat bersama hyungnya yang ternyata meminta izin untuk pulang siang setelah sang guru menelepon. Changmin ingat bagaimana paniknya sang hyung yang datang dengan kemeja berantakan. Changmin menyakinkan pada hyungnya bahwa dia tidak apa – apa dan meminta hyungnya kembali ke kantor.
Yunho menurutinya tapi dia kembali dengan cepat saat jam kerjanya sudah selesai. Mengintrogasi Changmin namun Changmin masih bungkan, enggan menceritakan semuanya sampai hyungnya tahu bahwa dia berkelahi dengan salah satu temannya yang sekarang tengah diskors.
Dan kemarin, teman – teman sekolahnya datang untuk menjenguk. Tidak banyak memang tapi mereka adalah orang yang benar – benar menganggap Changmin teman. Mereka kadang menghabiskan waktu bersama untuk belajar diperpustakaan karena Changmin mengajarkan mereka pelajaran. Juga, mengisi waktu luang setelah pulang sekolah bersamanya.
" Bosan... Benar – benar bosan..."
Changmin kembali mengeluh dan menatap meja nakasnya, melihat ponselnya tergeletak disana dan dia jadi ingat pada Junsu, namja yang dia tolong beberapa waktu lalu yang sampai saat ini tidak ada kabarnya padahal namja itu berjanji untuk mengabarinya.
" Kau berharap apa sih Min?" Lirih Changmin dengan nada sedih sampai...
Drrrtttt... Drrrttt...
Changmin mengambil ponselnya, sebuah nomor yang tidak dia kenal muncul dilayarnya. Dengan ragu Changmin menerima sambungan telepon itu.
" Yeobosseo?"
" Changmin ah. Apa aku mengganggu? Apa kau punya waktu?"
" Eoh?"
Changmin kenal dengan suara melengking itu...
.
.
.
.
.
.
" Yun, kalau sudah selesai taruh dimejaku ya"
" Ne hyung"
" Yun, laporannya jangan lupa"
" Besok aku selesaikan noona"
" Jangan lupa juga besok ada meeting bersama Kim sajangnim"
" Arasseo"
Namja yang tengah meng-copy itu menghembuskan nafasnya setelah orang – orang yang ada diruangannya keluar. Hanya tinggal dia disini dan yah... Tugasnya sudah hampir selesai. Beruntungnya selama tiga hari ini namja yang baru menjadi staff itu diterima oleh staff lain apalagi mereka baik hati.
Awalnya tidak menyangka juga Yunho merupakan lulusan salah satu universitas dan mereka kagum pada Yunho yang kuliah menggunakan jalur beasiswa. Mereka bisa beradaptasi dengan Yunho cepat karena Yunho memang tidak asing bagi mereka.
" Yun"
Seseorang membuka pintu dan langsung menyapa Yunho, Yunho menoleh dan tersenyum.
" Belum selesai?" Tanya Hojun
" Sedikit lagi Hojun ah"
" Kalau sudah selesai, tunggu kami di koridor ne? Tugas kami sudah hampir selesai juga"
" Oke"
Yunho meneruskan pekerjaannya, Hojun dan Lee ahjusshi akan menjenguk Changmin hari ini dan Yunho tidak keberatan sama sekali. Setelah menyelesaikan tugasnya Yunho menaruh lembar copy-an itu dimeja salah satu staff dan merapikan mejanya. Dia memakai tas selempangnya dan berjalan keluar ruangan menuju koridor.
Yunho berdiri sembari melihat jalanan yang ramai, dia jadi ingat kejadian tiga hari lalu dimana dia mendapat telepon dari pihak sekolah yang mengatakan Changmin dibawa ke rumah sakit. Yunho langsung meminta izin pada ketua divisinya dan diizinkan.
Dia melihat bagaimana banyaknya noda darah yang menempel pada seragam adiknya, belum lagi luka pada wajah Changmin yang membuatnya terlihat mengenaskan. Yunho jadi bertanya – tanya ada apa dengan Changminnya?
Saat sadar Yunho langsung bertanya pada Changmin namun adiknya itu bungkam sampai wali kelasnya datang dan menjelaskan apa yang terjadi, Changmin berkelahi. Tapi... Yunho tahu adiknya tidak pandai berkelahi. Sang wali kelas berkata Changmin memang tidak membalas pukulan yang dilayangkan oleh temannya, apa itu bisa disebut berkelahi?
Yunho jadi menyadari satu hal, kehidupan Changmin disekolah pun tidak mudah, namja itu pasti mendapatkan banyak tekanan terutama dari teman – temannya yang kaya. Pikirannya langsung berubah menjadi negatif saat itu, apa Changmin dibully? Bagaimana Changmin selama ini bisa bertahan dengan diam saja?
Yunho bahkan tidak bisa berhenti untuk menyalahkan diri sendiri karena dirinya tidak peka terhadap semua itu. Harusnya dia lebih memperhatikan Changmin...
" Yunho?"
Suara lembut itu menyadarkan lamunannya, dia menoleh dan menatap kaget atasannya. Kim Jaejoong, dia berdiri disamping Yunho bersama sang asisten dan menatap bingung Yunho yang tengah melamun.
" Annyong Kim sajangnim" Yunho membungkukkan tubuhnya
" Aigo... Kenapa formal sekali eoh? Kau menunggu seseorang?"
" Ya, saya menunggu Hojun dan Lee ahjusshi" Jawab Yunho dengan sopan
" Kalian akan pergi bersama?"
" Itu..." Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal " Mereka akan menjenguk adik saya sajangnim"
" Eh? Adikmu kenapa?"
" Masuk rumah sakit"
Jaejoong menoleh kearah Namjoon, Namjoon jadi ingat sesuatu.
" Aku lupa hyung, kepala staff tiga hari yang lalu memberitahu bahwa Yunho izin keluar karena adiknya masuk rumah sakit tapi hanya tiga jam, benar?" Jelas Namjoon kemudian menatap Yunho
" Benar Namjoon sshi"
" Kenapa?" Tanya Jaejoong
" Dia mengeluarkan banyak darah saat batuk dan mimisan"
" Astaga! Aku ingin menjenguknya juga, boleh?"
" Sa-sajangnim ingin ikut menjenguk?"
" Ne? Kau keberatan?"
" Eh..."
Sebelum bicara lebih lanjut, Hojun dan Lee ahjusshi datang. Mereka menyapa Jaejoong dan menatap bingung pada Yunho yang membatu, tapi Jaejoong hanya tersenyum menanggapinya.
" Ayo... Naik mobilku saja"
" Eh?" Hojun mengerutkan keningnya bingung
" Aku akan ikut menjenguk adik Yunho"
" MWO?!"
Jaejoong tersentak kaget mendengar teriakan itu namun setelahnya dia kembali tersenyum dan menoleh menatap Namjoon.
" Kau pakai mobilmu saja ya, mobilku hanya muat empat orang. Jangan lupa belikan sesuatu untuk adik Yunho" Bisik Jaejoong
" Aish... Arasseo"
" Kajja"
Keadaan canggung berlangsung didalam mobil yang dikendarai oleh Jaejoong, disampingnya Yunho duduk dengan tenang tanpa banyak kata. Dan dibelakang mereka Hojun dan Lee ahjusshi tengah terkagum – kagum dengan desain mewah mobil atasannya itu.
Mereka sampai tidak lama kemudian dan berjalan beriringan, melewati koridor dan sampai pada sebuah pintu. Jaejoong mengerutkan keningnya saat mendengar suara tawa khas yang dia kenal. Dia mengerutkan keningnya saat Yunho membuka pintu ruang rawat itu, Yunho juga bingung siapa yang ada didalam ruang rawat adiknya.
" Min..."
" Eoh hyung!"
Suara Changmin terdengar ceria dan hal itu membuat Yunho lega karena sampai tadi pagi Changmin masih terlihat tidak bersemangat tapi dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang namja duduk didekat Changmin dan dia tidak mengenalnya.
" Junsu?"
Yunho menolehkan kepalanya saat sang atasan mengatakan sesuatu, dan itu membuat namja yang duduk didekat Changmin berdiri dan mengedipkan matanya berkali – kali.
" Jaejoong hyung!"
.
.
.
.
" Dunia ini benar – benar sempit ternyata" Ucap Junsu setelah mengetahui hubungan Jaejoong dengan hyung Changmin
" Jadi dia yang kau ceritakan Min?" Tanya Yunho
" Ne hyung, aku pulang larut karena membantunya" Jawab Changmin
" Mianhae Yunho hyung kalau aku membuatnya pulang larut, semua salahku" Ucap Junsu yang dengan akrabnya memanggil Yunho dengan hyung dan itu membuat Jaejoong berdecak kesal, hey ingat! Yunho masih menggunakan bahasa formal padanya
" Gwaenchana, aku malah khawatir kau malah tersesat" Ucap Yunho
" Tidak, aku mengikuti arahan Changmin dan sampai apartemen Jaejoong hyung dengan selamat"
" Tapi kau menangis kencang saat tiba di apartemenku" Sindir Jaejoong
" YA HYUNG! Kenapa menceritakan hal itu!" Junsu memukul Jaejoong dan membuat Jaejoong meringis sakit
Yunho hanya tersenyum melihat interaksi bosnya dan namja yang merupakan sepupunya, mereka berbincang bersama sampai Hojun dan Lee ahjusshi pamit pulang kerena hari sudah malam. Yunho mengantarkan mereka keluar rumah sakit sedangkan Jaejoong tetap di ruang rawat bersama Junsu dan Changmin.
" Changmin ah, cepat keluar dari sini ne? Dan aku berjanji akan membawamu berjalan – jalan" Ucap Junsu
" Berjalan – jalan? Kau bahkan tersesat di Seoul Su" Ejek Jaejoong
" Ish hyung ini"
" Tidak perlu begitu hyung, hyung sudah membawa banyak makanan untukku" Ucap Changmin sembari melihat semua plastik yang dibawa oleh Junsu kemari
" Eiii~~ Kau itu pahlawanku dan aku sungguh berterima kasih padamu. Ini semua belum apa – apa Min"
" Baiklah, nanti aku yang akan membawa hyung keliling Seoul menggunakan bus agar hyung tidak tersesat"
" Janji?!" Pekik Junsu dengan senang
" Ne"
Kalau boleh jujur Jaejoong merasa sedikit iri dengan kepribadian Junsu yang supel dan bisa dengan cepat berteman dengan orang lain. Dia juga ingin dekat dengan Changmin kan...
" Maaf, anda bos dari Yunho hyung kan?"'
Jaejoong tersentak kaget dan menatap Changmin, dia menganggukkan kepalanya.
" Ya, kau bisa memanggilku hyung saja" Ucap Jaejoong
" Mana bisa begitu?"
" Bisa saja Min, panggil dia hyung atau... Ahjusshi juga boleh" Junsu ikut berbicara
" Eh?"
PLAKK
Jaejoong memukul lengan Junsu dengan keras hingga namja itu terkekik kesakitan tapi Jaejoong hanya mencibir melihatnya. Jaejoong bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah Changmin dan dia duduk dipinggir ranjang rawat Changmin.
" Kau bisa memanggilku dengan hyung, aku tidak terlalu suka bahasa formal" Ucap Jaejoong
" Ne, Jaejoong hyung"
" Benar sekali..."
" Ng... Aku sangat berterima kasih karena hyung sudah menaikkan jabatan Yunho hyung hingga dia tidak harus bekerja ditiga tempat" Ucap Changmin tulus
" Mwo?" Jaejoong mengerutkan keningnya " Tiga? Bukankah dia bekerja didua tempat?"
" Yunho hyung mengantarkan susu dan koran pagi - pagi, dia bilang dia bisa sekalian berolah raga"
" Astaga namja itu benar – benar..." Jaejoong hanya bisa menggelengkan kepalanya
" Jangan marahi hyungku ne? Dia berbuat seperti itu untukku" Lirih Changmin
" Tidak, aku juga tahu dia melakukan semua itu untukmu. Kau adik yang paling disayangi bukan?"
" Hum" Changmin menganggukkan kepalanya " Boleh aku memelukmu sebagai tanda terima kasih karena sudah berbaik hati pada Yunho hyung?"
" Tentu"
Jaejoong makin mendekatkan tubuhnya pada Changmin dan memeluknya dengan erat, entah kenapa Changmin memejamkan matanya, dia suka sekali pelukan Jaejoong rasanya sangat nyaman dan membuat dirinya terbuai.
Junsu hanya terdiam melihatnya, padangannya berubah sendu pada Changmin. Namja itu mengalami banyak kesulitan diusianya yang baru menginjak lima belas tahun. Leukemia, dokter bernama Kangta sudah menjelaskan kondisi Changmin padanya tadi. Junsu ingin menjaga anak itu, ingin dia tetap tersenyum dan melewati hari – harinya dengan bahagia.
CEKLEK
Yunho menatap bingung pada Jaejoong yang tengah memeluk Changmin, ada apa? Kenapa mereka berpelukan seperti itu?
" Kau sudah kembali hyung?"
Changmin melepaskan pelukannya dan tersenyum pada hyungnya, Yunho mengangguk dan melihat kearah jam tangannya. Jam pemberian Changmin. Ini sudah menunjukkan pukul delapan malam.
" Hyung, kita tidak pulang?" Tanya Junsu
" Aku sedang menunggu Namjoon, dia sudah kearah sini"
" Oh! Asisten hyung yang kakunya bukan main itu ya?" Tanya Junsu
" Iya, tapi dia menyebalkan kalau tidak menjadi kaku"
" Kenapa?"
" Sudah tidak usah bahas dia, kita tunggu dia datang setelah itu pulang"
" Hyung juga pulanglah" Ucap Changmin
" Kau tidak ingin ditemani malam ini?"
" Malam ini aku ingin sendiri hyung"
" Tidak apa – apa?"
" Ne" Changmin tersenyum untuk meyakinkan hyungnya
" Arasseo"
Tidak sampai lima belas menit Namjoon datang kedalam kamar rawat Changmin dibantu beberapa suster untuk membawa barang bawaannya. Yunho dan Changmin mengangakan mulutnya melihat bagaimana banyaknya plastik yang dibawa oleh orang itu. Bawaan Junsu saja sudah banyak dan ini lebih banyak lagi.
" Ini sangat merepotkan anda sajangnim. Maaf" Ucap Yunho
" Tidak apa – apa Yun, kau akan pulang bukan? Pulang bersamaku saja"
" Oh! Hyung mengantar Yunho hyung dulu? Aku minta Namjoon hyung mengantarku ya?" Ucap Junsu
" Arasseo" Jawab Jaejong dengan mudah
" Tapi sajangnim sa-"
" Aish tidak usah merasa sungkan. Ayo kita pulang"
Akhirnya setelah berpamitan dengan Changmin, Yunho pulang membawa beberapa plastik berisi makanan yang harus disimpan dilemari pendingin. Jadi kembali lagi dengan momen canggung antara Yunho dan Jaejoong di dalam mobil.
" Changmin pulang kapan Yun?" Tanya Jaejoong untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka
" Dua hari lagi dia sudah boleh pulang"
" Apa dia sering masuk rumah sakit?"
" Tidak terlalu sering tapi ini yang terparah karena saat saya datang seragam Changmin penuh dengan noda darah"
" Mwo?"
" Ne"
" Yun, kita sedang tidak di kantor bisakah kau menghilangkan bahasa formalmu?"
" Nde?" Yunho menatap kaget kearah Jaejoong " Keunde sajangnim..."
" Aku memang atasanmu tapi aku tidak suka bahasa formal. Aku juga belum tua untuk kau panggil sajangnim, usia kita hanya terpaut satu tahun"
" Mana bisa begitu sajangnim... Anda sudah baik hati sekali pada kami tidak mungkin saya melakukan hal itu"
" Jika kau ingin membalas terima kasihku, kau bicara banmal saja saat tidak ada orang lain. Panggil Jaejoong saja juga tidak apa – apa"
" Sa-sajangnim..."
" Sudahlah Yun, turuti saja. Ah! Kita belum makan malam, mau makan bersama?"
" Maaf saja-"
" Ehem!"
" Ne, Ja-jaejoong... Hari ini aku akan memasak di rumah"
" Mwo? Kau memasak?"
" Ya, kenapa? Kau tidak percaya?" Yunho mulai mencoba banmal pada Jaejoong
" Buktikan"
Yunho tersenyum, malam ini dia tidak sendirian untuk makan malam. Jaejoong akan ikut bersama dan dia senang akan hal ini.
.
.
.
.
Changmin melihat kearah jam dinding, pukul sepuluh. Dia melihat kearah infusnya dan menariknya pelan. Melepaskan infus yang menamcap itu dari pergelangan tangannya. Perlahan dia menuruni tempat tidur dan mengganti celananya.
Dia kemudian memakai coat sepanjang lututnya dan mengancinginya hingga atas, mengambil topi hyungnya yang tertinggal kemarin dan berjalan kearah plastik yang dibawa oleh Junsu. Dia mengamati isinya dan mengambil tiga bungkus coklat batang dari sana.
Dia menurunkan topinya, memasukkan tangannya kedalam jaket dan berjalan keluar ruangan. Targetnya adalah tangga darurat karena jika dia naik lift pasti langsung ketahuan oleh suster atau dokter disana.
Entah bagaimana ceritanya, Changmin berhasil keluar dari rumah sakit dan dia sudah berada digerbang rumah sakit. Berjalan pelan entah kemana yang penting dia bisa bebas malam ini, dia mendengar semua yang dikatakan Kangta kemarin didalam ruangan kerjanya. Dia berbicara dengan Yunho mengenai penyakitnya yang semakin memburuk.
Changmin menghela nafasnya, Kangta tadi siang memberikannya semangat untuk bertahan hidup tapi hidupnya sudah tidak akan lama lagi. Jadi apa artinya dia belajar dan hidup selama lima belas tahun ini?
Changmin berhenti disebuah halte yang sepi, mengeluarkan sebatang coklat dan memakannya dengan perlahan disana. Mengamati orang – orang yang naik dan turun dari bus juga orang – orang yang berjalan melewatinya membuat dirinya merasa tidak sendirian, dia merasa tidak kesepian. Benarkan?
.
.
.
" Aish, Chanyeol bodoh! Aku sampai salah naik bus karenanya!"
Namja itu menggerutu saat turun dari bus yang menurutnya salah itu, dia duduk di halte dan mengambil ponselnya.
" Sial! Baterainya habis!"
Namja itu menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sejauh mana dia tersesat tapi dia sadar bahwa dia tidak terlalu jauh tersesat. Dia menggerutu dan bangkit dari duduknya karena dia harus menyebrang untuk pergi kearah sebaliknya.
" Eoh?"
Namja itu kembali duduk saat melihat seseorang bertopi duduk dihalte yang ada disebrangnya, saat namja itu mendongak tentu saja dia bisa mengenali siapa namja itu terlebih dia ingat telah meninggalkan lebam pada wajah itu.
" Jung Changmin?"
Namja berambut ikal itu terdiam memperhatikan apa yang dilakukan Changmin, memakan coklat sembari memperhatikan orang – orang yang lewat dan kembali memakan coklatnya. Dia mengamati Changmin sampai dia tersadar sesuatu.
" Piyama rumah sakit?"
Ya, kancing coat Changmin terbuka satu hingga namja berambut ikal atau kita bisa sebut Kyuhyun itu tahu Changmin menggunakan piyama rumah sakit.
" Apa yang dia lakukan? Dia sudah keluar dari rumah sakit?"
Ngomong – ngomong soal rumah sakit, kejadian tiga hari yang lalu membuatnya diskors selama tiga hari. Tiga hari? Ya, kakak dari Kyuhyun memohon – mohon pada sang guru untuk meringankan hukuman Kyuhyun dan akhirnya sag guru memberikan diskors selama tiga hari untuk Kyuhyun.
Dan yang membuatnya kaget adalah cerita dari wali kelasnya yang memberitahukan kenapa Changmin bisa mengeluarkan banyak darah. Leukemia. Dan pihak sekolah setuju merahasiakannya atas keinginan Changmin dan hyungnya.
Jadi itu sebabnya kenapa guru olahraga disekolahnya tidak memberikan olah raga berat untuk Changmin. Itu sebabnya wali kelas lebih memperhatikan Changmin. Kyuhyun menghembuskan nafasnya, wali kelas bilang Changmin masih belum menemukan donor yang cocok untuknya tapi yang bisa dipastikan usia Changmin tidak lama lagi.
" Lenyapkan saja aku"
DEGH
Kata – kata Changmin yang datar itu mengusik kembali otaknya, Changmin berkata seperti itu seakan – akan memang tidak mau ada di dunia dan kenapa dia bisa melewatkan ekspresi kelam yang Changmin tunjukkan padanya?
Perasaan Kyuhyun tidak menentu sejak itu, sang wali kelas berkata bahwa Kyuhyun harus menemui Changmin disaat hari pertama dia kembali masuk sekolah. Besok... Ya... Besok dia akan menemui Changmin.
Tapi...
Dia malah melihat Changmin malam ini dalam balutan coat panjang dan topi hitam. Kyuhyun melihat sebuah senyuman terpantri pada wajah Changmin saat namja itu menyapa seorang anak kecil disebelahnya.
" Bagaimana bisa kau tersenyum saat wajahmu sangat pucat, dasar bodoh" Lirih Kyuhyun
Tak lama dia melihat Changmin bangkit dari duduknya, entah apa yang ada dipikiran Kyuhyun, dia mengikuti langkah kaki Changmin. Memandangi punggung Changmin yang terlihat rapuh dan itu membuatnya tidak nyaman. Kenapa?
Si anak miskin itu kenapa bisa membuatnya tidak nyaman seperti ini? Merasa bersalah atau merasa kasihan?
Kyuhyun terus mengikuti Changmin sampai dia tersadar ada di stasiun yang ada didekat halte bus tadi. Suasana masih ramai padahal sudah pukul sebelas malam. Changmin duduk disalah satu kursi panjang dan kembali melihat orang – orang yang lewat.
Kyuhyun berdiri agak jauh dari sana, memperhatikan bagaimana Changmin merogoh kantongnya dan mengambil sebatang coklat kemudian memakannya. Memejamkan matanya seakan menikmati suasana ramai dan memakan kembali coklatnya.
Kyuhyun tidak mengerti jalan pikiran Changmin yang seperti ini, atau memang anak pintar itu pemikirannya beda?
EOH?
Kyuhyun menggelengkan kepalanya setelah pemikirannya itu. Hell, kenapa bisa mengakui musuhnya itu pintar? Changmin tidak lebih pintar darinya, titik!
Setengah jam adalah waktu yang dihabiskan Changmin untuk menghabiskan sebatang coklat disana. Dia kemudian berjalan kembali. Kyuhyun masih saja mengikuti Changmin dari belakang, entah kenapa dia jadi tertarik untuk mengikuti langkah kaki Changmin, kemana lagi namja itu akan pergi?
Changmin berjalan keluar stasiun, berjalan tanpa tahu kemana sembari memakan satu batang lagi coklat yang ada didalam kantong coat-nya karena yang pasti dia merasa bebas seperti ini. Merasa seperti tidak memiliki penyakit dan bisa bebas pergi kemanapun dia suka.
Dan namja itu berhenti saat sebuah mobil berhenti didekat penyebrangan jalan, dia baru saja akan menyebrang tapi mobil itu ada disampingnya sekarang. Changmin tersenyum, waktu bebasnya sudah habis.
Kyuhyun melihat seseorang dari dalam mobil keluar, orangnya tinggi dan cukup tampan. Dia segera menghampiri Changmin dan memeluknya.
" Nugu? Kakak Changmin? Tapi bukankah keluarganya miskin? Bagaimana bisa memiliki mobil bagus seperti itu?"
Kyuhyun terdiam, dia melihat bagaimana Changmin membalas pelukan namja yang lebih tinggi darinya itu dan setelahnya namja tinggi itu melepaskan pelukannya untuk kembali masuk kedalam mobil diikuti Changmin yang membuka pintu penumpang.
Namun sebelum masuk kedalam, namja itu membuat Kyuhyun terpaku karena Changmin melihat kearahnya sembari memakan coklat dan menatapnya dengan datar. Kemudian dia masuk kedalam mobil.
" Dia melihatku? Astaga... Bagaimana kalau dia tahu aku mengikutinya? Omo! Jam berapa ini? Hyung bisa mengukusku dan menjadikanku makan pagi besok! Naik taksi saja!"
Kyuhyun segera berlari dan menghentikan taksi, dia lebih baik cepat pulang sebelum hyung manisnya berubah menjadi ganas!
.
.
.
Sementara itu di dalam mobil yang ditumpangi oleh Changmin...
" Hyung tidak bilang pada Yunho hyung bukan?" Tanya Changmin
" Tadi pihak rumah sakit mengabari hyung bahwa kau kabur dari rumah sakit lagi... Untung saja hyung ada disekitar sini dan menemukanmu dan hyung belum mengabari Yunho"
" Terima kasih hyung, maaf merepotkanmu lagi" Lirih Changmin
" Hyung harap kau tidak melakukannya lagi karena semua orang panik di rumah sakit, kau harus minta maaf pada mereka. Oke?"
" Ne Kangta hyung"
Mereka berdua sampai dirumah sakit diiringi helaan nafas lega dari para suster, Changmin memang jarang diopname tapi kalau diopname ada saja kelakuannya. Menghilang dari rumah sakit adalah salah satunya dan yang bisa menemukan Changmin adalah Kangta ataupun Yunho.
" Nah, selesai. Naik ketempat tidurmu" Perintah Kangta
" Ne"
Setelah membantu mengganti pakaian Changmin, Kangta meminta namja itu naik keatas tempat tidurnya dan memasangkan kembali infus pada pergelangan tangan Changmin dibantu oleh suster. Jam kerjanya berakhir pukul delapan tadi dan jam sebelas dia diberitahu salah satu suster bahwa Changmin kabur dari rumah sakit.
Kangta sedikitnya panik tapi dia selalu tahu kemana anak itu akan kabur, stasiun atau halte bus. Changmin memberitahukan alasannya pada Kangta maupun Yunho tapi tetap saja mereka khawatir jika begini terus.
" Jadilah anak baik" Ucap Kangta setelah suster keluar dari ruang rawat Changmin
" Ne. Hyung ah..." Panggil Changmin tapi dia tidur memunggungi Kangta
" Ya?"
" Terima kasih dan aku benar – benar... Tidak suka dengan semua ini, aku ingin semuanya cepat berakhir. Aku ingin... Pergi"
" Changmin ah... Jangan banyak pikiran, istirahatlah"
Changmin memejamkan matanya, dia tadi melihat Kyuhyun, namja itu mengikutinya dan Changmin sadar akan hal itu. Tapi Changmin membiarkannya, dia juga sudah bodo amat dengannya. Tidak peduli namja berambut ikal itu mau apa lagi dengannya.
Tapi dia bisa melihat tatapan kaget dari Kyuhyun saat dia menatapnya, namja itu terlihat beda entah karena apa?
" Apa dia sudah tahu penyakitku?"
.
.
.
.
Sementara itu disebuah flat kecil, seorang namja belum bisa memejamkan matanya mengingat momen menyenangkannya dengan sang bos saat makan malam terjadi.
Ya...
Yunho tidak bisa tidur karena mengingat makan malam sederhananya bersama Jaejoong. Namja yang terbilang cukup cantik itu sangat pandai memasak dan makan malam hari ini sungguh berkesan.
Berbincang dengan Jaejoong salah satu kesukaannya sekarang. Jaejoong ternyata sangat menyenangkan dan pribadi yang ceria, dia menceritakan pengalamannya sebagai staff hingga sekarnag menjadi CEO hanya dalam waktu tiga tahun.
Daebakk...
Mungkin Jaejoong sama pintarnya dengan Changmin...
Ngomong – ngomong soal Changmin, bagaimana Yunho harus bersikap. Kangta kemarin sudah memberitahukan seberapa parah penyakit Changmin dan hanya tinggal menunggu waktu sampai penyakit itu merenggut nyawanya. Tapi Yunho tidak akan menyerah, dia harus memperlambat semuanya dan dia akan menemukan donor yang tepat.
Dia mungkin akan mencari appanya...
Ya, appanya yang kabur entah kemana, dia harus mencarinya. Mungkin saja dia bisa mendonorkan sum – sumnya untuk Changmin. Kemungkinan untuk kecocokan itu ada bukan?
.
.
.
.
.
.
Yunho berjengit kaget saat seseorang menyapanya didalam lift. Bosnya. Dia tidak salah naik lift bukan? Kenapa Jaejoong ada dilift pegawai?
" Sa-sajangnim anda salah naik lift?"
" Tidak, aku sedang ingin naik lift ini"
Pintu lift tertutup dan mereka hanya berdua didalam sana, Namjoon akan datang siang karena ada urusan jadi Jaejoong sendirian pagi ini dan...
" Yun, ambil kopi ini untukmu" Ucap Jaejoong menyodorkan salah satu kopi yang ada ditangannya
" Ne?"
" Aish, cepat ambil. Panas"
" Ne"
Yunho mengambil kopi itu dan memegangnya erat, untuknya? Tidak salahkan?"
" Minum saja, tadi aku beli untuk Namjoon tapi dia datang siang ajdi untukmu saja"
" Benar tidak apa – apa?"
" Ne, minum saja sebelum dingin"
Yunho akhirnya meminum kopi itu dengan perlahan, amaricano. Dia melihat Jasejoong juga meminum kopinya, eh?
" Sajangnim bukannya tidak terbiasa minum kopi?" Tanya Yunho
BLUSH
Jaejoong jadi malu mendengar pertanyaan Yunho, namja itu pasti masih mengingat kejadian saat Namjoon memberikannya susu pagi itu.
" Aku minum Milkshake Greentea kok" Jawab Jaejoong
" Oh..." Yunho menganggukkan kepalanya
" Ta-tapi aku biasanya minum kopi siang atau sore"
" Ne?" Yunho mengerutkan keningnya, dia tidak perlu penjelasan hal itu juga kan?
" Changmin pulang besok ya?"
" Dokternya tadi pagi meneleponku, dia bilang kepulangan Changmin ditunda karena Changmin harus terapi"
" Oh..."
Ada nada sedih yang Jaejoong tangkap saat Yunho mengatakan hal itu, Yunho pasti sedih adiknya sakit parah seperti itu.
" Changmin anak yang kuat"
" Ya, saya tahu" Ucap Yunho kemudian memberikan senyuman yang membuat Jaejoong bisa meleleh kapan saja
Ugh...
Jaejoong tidak tahan melihat senyuman itu, jantungnya berdebar dan dia tahu satu hal. Dia jatuh kedalam pesona seorang Jung Yunho karena sebuah senyuman sederhana miliknya...
.
.
.
.
.
Changmin baru saja menghabiskan camilannya saat seseorang mengetuk pintu ruang rawatnya dan membuka pintu kamar itu.
" Annyeong Changmin"
" Oh! Saenim, annyeonghasseo" Changmin yang duduk itu membungkukkan tubuhnya dengan sopan untuk menyambut wali kelasnya
" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Cha saenim sang wali kelas
" Baik saenim"
Cha saenim itu mendekat tapi dia menolehkan kepalanya karena tidak mendapati seseorang dibelakangnya.
" Cho Kyuhyun, cepat masuk kesini"
DEGH
Jantung Changmin berdebar dengan kencang setelah mendengar nama yang wali kelasnya tadi sebutkan. Dia melihat kearah pintu dan benar saja namja yang memukulnya itu berjalan masuk kedalam ruang rawatnya tanpa melihat kearahnya.
" Berikan salammu pada Changmin" Ucap Cha saenim
" Annyeong" Ucap Kyuhyun dengan malas, bahkan dia tidak menatap Changmin
" Annyeong Kyuhyun sshi" Ucap Changmin
Cha saenim dan Kyuhyun duduk tidak jauh dari Changmin dan mengajak Changmin mengobrol dan bertanya – tanya tentang keadaannya sampai...
" Saenim akan menemui doktermu dulu. Dia adakan?" Tanya Cha saenim
" Ne, dokter Kangta ada sejak tadi siang"
" Baiklah. Kalian berdua mengobrolah dulu. Saenim tinggal ne?"
" Hum" Changmin mengangguk
" Kyuhyun ah, ingat apa yang kita bicarakan tadi"
Kyuhyun dengan malas menganggukkan kepala, akhirnya sang wali kelas keluar meninggalkan Changmin serta Kyuhyun dalam keheningan.
" Jadi, kenapa kau mengikutiku?" Tanya Changmin setelah lima belas menit mereka dia tanpa kata
Kyuhyun tersentak kaget menatap Changmin, jadi namja itu tahu bahwa Kyuhyun mengikutinya kemarin malam? Ugh...
Kyuhyun bisa merasakan tatapan datar itu terselip rasa kecewa dan sakit hati tapi Kyuhyun tidak memperdulikannya. Dia membutakan semuanya.
" Ak-"
CEKLEK
" Changmin ah! Aku datang lagi! Aku dengar orang yang memukulmu kemari? Jinja? Mana dia? Aku akan balas dendam karena sudah membuatmu masuk rumah sakit!"
Pekikan itu membuat mereka berdua menoleh dan menatap namja itu dengan pandangan yang berbeda.
" Junsu hyung..."
" Eoh?"
" Hyungie?"
" Kyunie?"
.
.
.
.
#lambaijaricantik
Hai hai~~
Ini update an ke 4 cho hari ini, otte? Maap ya kalo mengecewaka karena momen yunjae blm an ada trus cho nyiksa bang mimin kesayangannya cho hehehe
Ni ff bakal MinSu apa ChangKyu ya? Cho suka ChangKyu tapi kangen MinSu, otte? T^T
.
Special Thanks :
.
akiramia44 (sipoo), sitimulyani186 (wkwkwk, biar aja sampe lumutan), bijin YJS (iya, pasti kok), chwangkyuwoozi (alasannya udah jelas dichap ini tinggal gimana chap besok aja mereka, nado hwaiting!), Avanrio11 (iya, pasti lanjut kok), eL Ree (sembuh nih? Ga mau di end aja dia? Hahaha), Park RinHyun-Uchiha (tumbang akhirnya abis disini bang Kyukyu manly bgt #whatt?), Naneun (iya nih), epykudo (semoga aja bang Mimin mau sembuh ya?), GaemGyu92 (ga angst nih? Ga jadi angst? Hmm...),
lovgravanime14 (bang mimin kan tumbal kesayangannya Cho #plakkk mau siapa hayo~~ MinSu atau ChangKyu?), uknowme2309 (nc? Mau nih? Hmm... #smirk iya, makasih udah baca), Yunjae Heart (kyk na gt... Biar alur mereka jalan gitu aja ya), choikim1310 (sembuh? Hmm... #smirk iya udah saling kenal, sering di bully sama bang kyukyu malah), MyBooLoveBear (iya nih T^T),
yang udah follow, fav, Guest dan para SiDer
.
makasih ya #bow
Maaf kalo ada salah penulisan kata atau pun malah ga ketulis #bow
.
So, abis ini apa? Hmmm... Home kalo ga salah? Mana yang nunggu Home? Tunjuk tangan hayooo~~ Kalo ga ada yah ga update #SmirkBarengBangMiminSayang.
Hahahahaha
Btw ada yang nonton oom bebek tgl 5 nov nanti ga? Cho ada disana! Mau liat semoknya oom bebek hahahaa...
Oke deh, see u next chap?
Chuuu~~
.
.
.
.
Senin, 10 Oktober 2016
