Begin
.
.
.
.
.
Disclaimer : Semua milik Tuhan
Cast : DBSK, BTS maybe?
Genre : Drama, Romance, Family, Hurt/Comfort, Angst, Friendship, YAOI
Rate : T
Alur suka – suka, membosankan
Ciyeeee yang nunggu cho update sampe jadi batu wkwkwkwk #DiLemparSandalReader
.
.
.
.
.
"Kenalkan dia adalah Park Yoochun, tunanganku"
Changmin tersenyum getir saat Junsu memperkenalkan namja yang tadi berciuman dengannya di taman rumah sakit. Mereka berada di dalam ruang rawat Changmin sekarang, Kyuhyun yang membawa Changmin kembali ke ruang rawat itu.
Kemarin Junsu memang bercerita akan membawa seseorang saat menjenguknya, saat Changmin bertanya siapa Junsu tidak menjawabnya. Pantas saja Junsu kemarin membicarakan namja itu dengan sumringah, matanya penuh binar kehidupan dan sesekali merona.
Changmin tidak tahu jika menyukai seseorang dengan banyak akan menyakitinya, jika tahu harusnya dia tidak menyukai siapapun kecuali hyung-nya.
" Yoochunie akan mengikuti tes donor juga hari ini" Ucap Junsu masih dengan nada cerianya
" O-oh... Terima kasih" Jawab Changmin lirih
Dari sudut kamar, dimana Kyuhyun duduk mengamati bagaimana ekspresi Changmin, dia meruntuki kebodohannya yang tadi mengajak Changmin ke taman. Jika dia tidak mengajak Changmin ke taman maka Changmin tidak akan melihat Junsu berciuman.
Setidaknya Changmin tidak terlihat sangat menyakitkan seperti ini, dia merasa sangat bodoh. Dan apakah hyung-nya harus membawa tunangannya sekarang?
" Baiklah, hyung akan ke ruang Kangta hyung dulu ya?" Ucap Junsu
" Ya"
" Kajja Chunnie"
Junsu menggandeng namja bernama Yoochun keluar dari ruangan, sedangkan Kyuhyun berjalan ke arah tempat tidur Changmin dengan perasaan bersalah.
" Kenapa kau tidak bilang?" Tanya Changmin
" Ne?"
" Kenapa kau tidak bilang bahwa hyungmu sudah memiliki tunangan?!" Bentak Changmin dan dia menatap tajam ke arah Kyuhyun
" Ak-aku..."
" Kenapa kau melakukannya padaku? Jika kau bilang Junsu hyung sudah memiliki tunangan, aku tidak mungkin membiarkan perasaanku membesar!"
" Changmin..."
" Apa begitu menyenangkannya melihatku terpuruk? Apa wajah menyedihkanku sangat menghiburmu?"
" Maafkan aku Changmin, aku tidak bermaksud..."
" Aku pikir kau sudah berubah, aku pikir kau mendekat ke arahku karena kau ingin kita berteman..."
" Ak-"
" Pergi"
Nada itu terdengar datar ditelinga Kyuhyun, Kyuhyun bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya saat Changmin menatap dirinya dengan tatapan tajam.
" Changmin ini se-"
" Pergi!"
" Aku tidak seperti itu!"
" PERGI!"
Kyuhyun terdiam saat mendengar suara bentakan itu, terlebih dia melihat Changmin menatapnya nyalang dengan airmata mengalir di kedua sisi matanya. Kyuhyun memundurkan langkahnya, dia tidak sanggup melihat Changmin terlihat terluka seperti itu apalagi semua ini karenanya.
" Aku mohon..." Suara Changmin terdengar sangat lirih dan Kyuhyun bisa mendengar suara itu penuh keputus asaan " Pergi"
Kyuhyun tidak berkata apapun, dia membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar Changmin secepat mungkin. Berjalan entah kemana yang terpenting tidak disana, kalau bisa dia ingin mengubur tubuhnya hidup – hidup.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Namja berambut ikal itu mengetuk pintu yang ada di depannya, setelah mendapatkan jawaban dia membuka pintunya dan membungkukkan tubuhnya.
" Ada perlu apa Kyuhyun ah?"
" Dokter, aku ingin menyampaikan sesuatu"
" Ya? Duduklah"
Kyuhyun maju untuk duduk di depan dokter bernama Kangta itu dan meremas kedua tangannya di atas meja, dia gugup. Dan dia tidak bisa menatap wajah Kangta, dia menundukkan kepalanya.
" Ada apa?" Tanya Kangta dengan lembut " Kenapa matamu merah dan bengkak seperti itu? Menangis?" Lanjutnya menebak
Kyuhyun tidak berani mengangkat wajahnya tapi kenapa dokter yang duduk dihadapannya ini tahu apa yang terjadi pada matanya. Usai pergi dari kamar Changmin, Kyuhyun memang pergi tapi untuk menenangkan dirinya dan malah menangis sendirian disebuah ayunan taman dekat rumah sakit.
Setelahnya dia berjalan kembali ke rumah sakit, dia ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Changmin tidaklah benar. Dia ingin Changmin percaya padanya dan dia datang ke ruang dokter Kangta.
" Be-begini... Apa aku tidak bisa ikut tes donor itu?" Tanya Kyuhyun ragu, tidak memperdulikan pertanyaan Kangta tentang matanya yang merah dan sedikit bengkak
" Usiamu masih di bawah tujuh belas tahun Kyuhyun ah"
" Dokter bilang tulang sumsum hyungku memiliki persentase lebih dibanding yang lain"
" Ya, walaupun hasilnya sumsummu cocok dengan Changmin tapi kau belum bisa melakukan donor itu"
" Aku tahu, kita bisa menunggu sampai usiaku tujuh belas tahun. Hanya beberapa bulan lagi"
" Tapi Changmin semakin melemah, aku rasa dia tidak bisa menunggu selama itu" Ucap Kangta masih dengan nada tenangnya
" Mwo? Kau dokter bukan?! Kenapa kau pesimis dengan usia paseinmu?!" Pekik Kyuhyun marah, dia tidak suka Kangta berkata seperti itu
" Ya... Lalu apa pedulimu? Bukankah kau dulu sering membully Changminie?"
" Aku..." Kali ini Kyuhyun menggigit bibir bawahnya
" Katakan alasannya dan aku bisa akan memutuskan kau bisa atau tidak ikut tes ini"
Kyuhyun mendongakkan kepalanya untuk menatap Kangta, jantungnya berdetak kencang saat ini dan dia makin meremas jari – jarinya yang masih bertautan sementara Kangta menikmati pemandangan tidak biasa yang ada di hadapannya.
" Aku..."
.
.
.
.
.
.
.
~ Chapter 7 ~
.
.
.
.
.
.
.
Namja berambut ikal itu membuka pintu ruang rawat di depannya setelah beberapa kali mengambil nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Saat membuka pintu kamar rawat itu, orang yang ada di dalamnya menoleh, ada Yunho, Jaejoong, Junsu dan tentu saja Changmin.
" Darimana Kyu?" Tanya Junsu
" Hmm... Itu- Aku... Taman rumah sakit" Jawab Kyuhyun tanpa menatap sang penanya
Kyuhyun berjalan dengan terburu menuju sofa yang ada di dalam ruangan itu untuk megambil tasnya dan memakainya. Dia kemudian berjalan kembali menuju pintu.
" Mau kemana?" Tanya Jaejoong
" Ak-aku... Mau pulang hyung, lapar" Jawab Kyuhyun tanpa menoleh kemudian dia memegang knop pintu namun suara Junsu menghentikan pergerakannya
" Lenganmu kenapa Kyu? Kenapa ada plester disitu?"
SHIT!
Kyuhyun mengumpat dalam hati, tangan kanannya langsung menyentuh sebuah plester yang menempel pada bagian atas sikunya. Kenapa juga dia lupa membuka plester itu sebelum masuk ke dalam ruang rawat Changmin! Bodoh!
" Ah... Tidak..."
" Kau kenapa? Jawab hyung"
" Tidak hyung, aku hanya sedikit lemas dan Kangta hyung memberikanku suntik vitamin C juga beberapa obat. Aku pulang karena aku juga tidak enak badan" Jawab Kyuhyun sedikit melirik hyung
" Mau hyung antar?"
" Tidak usah hyung, aku sudah memesan taksi. Permisi"
CEKLEK
Dengan kecepatan kilat Kyuhyun berjalan keluar dari ruangan itu menyisakan empat namja yang menatap aneh kepergian Kyuhyun.
" Tumben Kyunie tidak berpamitan padamu dulu Min? Biasanya dia akan mendekatimu dulu sebelum pulang" Ucap Junsu
" Mola..." Lirih Changmin kemudian memejamkan matanya, mengingat ekspresi Kyuhyun saat masuk
Changmin bisa melihat wajah Kyuhyun yang memerah seperti sudah menangis berjam – jam dan terlihat sangat kelelahan entah karena apa. Sedikit rasa khawatir Changmin rasakan untuk Kyuhyun namun kemudian dia menepis perasaan itu karena menurutnya Kyuhyun tidakpantas dia khawatirkan.
" Yun, kau mau pulang? Besok divisimu ada rapat bukan?"
namja yang tadi memejamkan matanya itu perlahan membuka matanya dan melirik ke samping dimana Yunho dan Jaejoong duduk berdampingan. Changmin tidak habis pikir bagaimana bisa hyungnya menolak namja cantik nan perhatian itu hanya karena dirinya. Sungguh tidak adil!
" Aku akan menunggu appaku sampai datang, dia akan menjaga Changmin" Jawab Yunho
" Hyung, kalian pulang saja duluan, aku akan menunggu Changmin" Ucap Junsu
" Eh?"
" Chunnie akan menjemputku lagipula kelasku hanya ada siang hari jadi tidak apa – apa"
" Yakin?" Tanya Jaejoong
" Ne"
" Ayo Yun, aku akan mengantarkanmu pulang" Ucap Jaejoong
" Tapi-"
" Hyung pulanglah..."
Suara itu makin terdengar lirih ditelinga Yunho, Changmin semakin melemah setiap harinya dan Yunho tidak mau berjauhan dengan adiknya.
" Changmin ah..."
" Tidak apa – apa hyung, bukannya besok hyung ada rapat?"
" Yakin?"
" Ya, pulang dan beristirahatlah. Jangan membuatku khawatir"
Yunho tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, dia berjalan ke arah Changmin dan mengecup kening adiknya lama. Mengatakan bahwa dia menyayangi Changmin kemudian pamit pulang bersama Jaejoong.
" Yun..." Panggil Jaejoong ketika mereka dalam perjalanan menuju flat Yunho
" Ya?"
" Kau tidak apa – apa?" Tanya Jaejoong dengan lembut
" Kenapa?"
" Kau tampak lesu sekali setelah keluar dari ruangan Kangta hyung tadi"
" A-ah... Tidak" Jawab Yunho dengan lirih
Tidak sanggup mendengar suara lirih itu, Jaejoong memutuskan meminggirkan mobilnya dan menatap Yunho.
" Hey" Panggil Jaejoong
" Hum?"
" Apapun yang dikatakan Kangta hyung, kau harus tahu bahwa Changmin adalah namja yang kuat. Buktinya dia bertahan sampai saat ini bukan? Harapan selalu ada Yun"
" Tidak sampai satu bulan"
" Ne?" Jaejoong menajamkan pendengarannya, dia tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Yunho
" Paling lama dia bertahan satu bulan dan menurutmu bagaimana aku harus bersikap?"
" Ti-tidak mungkin"
" Itu kenyataannya... Apa kau tidak mendengar bagaimana suara Changmin yang bahkan hampir menghilang itu?"
" Yun..."
" Bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpa Changmin? Dia... Dia harta satu – satunya yang ditinggalkan eommaku, aku gagal menjaganya"
" Yun... Tidak... kau tidak gagal menjaganya"
" Aku gagal"
TES
TES
TES
Jaejoong bisa melihat airmata itu walaupun Yunho menundukkan wajahnya, dimana Yunho yang tegar itu? Dimana Yunho yang selalu memberikan senyumannya walaupun beban hidupnya sangat berat. Sebenarnya Jaejoong ingin ikut menangis juga menyaksikan namja yang masih dia cintai itu menangis tapi dia harus kuat, dia harus menjadi kuat untuk pantas berada disamping Yunho.
" Yun..."
Jaejoong menyentuh pundak Yunho dan membuat namja itu menghadapnya, Jaejoong terenyuh melihat mata sembab Yunho. Perlahan kedua tangan Jaejoong naik untuk menghampus airmata yang keluar dari sepasang mata Yunho.
" Aku ada untukmu Yun, berbagilah kesedihanmu denganku juga" Lirih Jaejoong
" J-jae..."
" Kau boleh menunjukkan senyummu pada mereka tapi tunjukkan kesedihanmu padaku. Tunjukkan padaku apa yang kau rasakan padaku Yun..."
Perlahan Jaejoong menarik Yunho ke dalam pelukannya, merengkuhnya dengan penuh kasih sayang. Halitu membuat Yunho merasa nyaman, sudah lama sekali dia tidak merasakan sebuah pelukan senyaman saat sang eomma memeluknya.
Dan saat itu juga Yunho sadar, dia butuh sandaran. Dia tidak bisa menahannya sendiri, Yunho pun menangis dalam pelukan Jaejoong.
Sementara itu Junsu yang menemani Changmin hanya diam dan sesekali bertanya apa yang Changmin butuhkan namun namja itu hanya menggelengkan kepalanya. Tapi setelah dia mendapatkan telepon dari tunangannya bahwa sang tunangan akan sampai ke rumah sakit lima belas menit lagi, Changmin meminta bantuan Junsu untuk duduk.
" Nah, apa lagi yang kau butuhkan?" Tanya Junsu
" Hyung..."
" Ya?"
" Bisa... Bisakah kau memelukku?"
" Tentu!"
Dengan senang hati Junsu memeluk Changmin, tidak terlalu erat takut Changmin kesakitan tapi pada kenyataannya Changmin menyembunyikan sesuatu, dimana dia tidak lagi merasakan apapun dengan tajam, semua inderanya melemah tapi Changmin menutupi hal itu dari semuanya.
" Otte?" Tanya Junsu
" Pelukan hyung memang nyaman, apa... Pelukan eommaku senyaman ini?"
" Min... Hyung sudah memelukmu. Tidak usah pikirkan yang lain"
" Hum"
Perlahan Changmin membalas pelukan Junsu, menghirup harum parfum rasa mint yang segar dari tubuh Junsu, rasanya berbeda saat dia berdekatan dengan Kyuhyun. Namja itu mengeluarkan wangi bayi yang menjadi kesukaan Changmin.
Eoh?
Apa yang Changmin pikirkan?
Kenapa dia jadi membandingkan Junsu dengan Kyuhyun?
" Hyung" Panggil Changmin
" Hmm?"
Junsu merenggangkan pelukannya untuk menatap Changmin, jika Junsu boleh menangis, dia akan menangis sesenggukkan melihat kondisi Changmin ini! Pipi yang dulu gembul sekarang sangat tirus, matanya tidak memancarkan cahaya apapun dan kepalanya ditutup beanie karena rambutnya yang rontok parah.
" Apa?" Tanya Junsu dengan suara sedikit bergetar karena dia tengah menahan tangisnya
Tangan Changmin dengan sekuat tenaga naik untuk menyentuh pipi Junsu yang sangat lembut saat dia sentuh. Junsu mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dilakukan Changmin namun dia diam saja sampai...
CUP
Junsu membulatkan matanya saat sebuah kecupan mendarat pada bibirnya, matanya berkedip berkali – kali dan jantungnya berdebar cepat. Hatinya langsung bertanya – tanya kenapa Changmin menciumnya tepat dibibirnya.
" Ch-changmin-"
" Aku... Menyayangimu hyung" Lirih Changmin dengan susah payah
" Eh?"
" Aku menyayangimu... Sungguh"
" …."
Junsu menatap kedua mata Changmin yang kini berembun, entah kenapa kata – kata Changmin sedikit mengusik batinnya. Terlebih kini Changmin tersenyum tapi entah kenapa senyum Changmin saat ini terlihat sendu.
" Changmi-"
CEKLEK
Kedua namja itu menoleh, seorang namja paruh baya masuk ke dalam ruang rawat Changmin, dia adalah appa dari Yunho dan Changmin.
" Ah... Kau masih disini Junsu sshi" Sapa Mr. Jung
" Eoh? Ne" Junsu menjauhkan tubuhnya dari Changmin dan membungkuk pada Mr. Jung
" Sudah malam hyung, pulanglah" Ucap Changmin
" Itu... Chunnie belum datang"
" Oh... Aku lelah, ingin tidur"
" Ne! Kau istirahatlah, selamat tidur Min, mimpi indah"
" Hum"
Perlahan mata Changmin menutup, perasaan Junsu sedikit mengganjal tapi akhirnya dia pamit pulang pada Mr. Jung tanpa tahu bahwa Changmin hanya pura – pura tidur karena tidak mampu bertatapan dengan Junsu lebih lama lagi.
Sementara itu dalam sebuah kamar mandi, seorang namja berambut ikal itu tengah membuka plester yang ada di atas sikunya. Dia menatap wajahnya pada cermin yang ada di depannya, tadi dia sudah mengikuti beberapa tes untuk kecocokan tulang sumsumnya.
Mulai dari tes darah, foto thorax, tes fungsi paru juga uji gigi, besok sepulang sekolah dia harus ikut tes jantung dan rangkaian lain yang dibutuhkan. Dia jadi teringat alasan kenapa dia melakukan semua ini dan dia tidak akan menyerah begitu saja. Untuk Changmin.
.
.
.
.
.
.
Bunyi alarm yang kencang itu membangunkan sesosok namja di dalam sebuah kamar, matanya mengerjap untuk membiasakan pandangannya yang tadi sedikit mengabur. Dia menoleh ke kanan dan kirinya, kemudian bertanya – tanya sejak kapa kamarnya berubah menjadi luas seperti ini.
Kenapa juga tempat tidur yang ditidurinya begitu empuk dan tangan kirinya begitu kebas, namja itu menoleh dan mata musangnya terbuka sangat lebar.
" Nghh..."
Seseorang yang menjadikan lengan kirinya sebagai bantal mulai terusik namun tangannya tetap bertengger malas pada pinggang namja yang ada dihadapannya.
" J-ja-jae..." Namja bermata musang itu memanggil namja yang tengah tertidur itu dengan gugup
Namja itu ada Yunho yang kini merasakan debaran kencang pada jantungnya, dia ingat sekarang! Tadi malam usai menangis dalam pelukan Jaejoong, mereka berbicara sebentar dan berakhir dengan meminum beberapa gelas wine dan alkohol di balkon apartemen Jaejoong.
Lalu?
Yunho tidak ingat tapi karena pakaiannya masih lengkap dia tidak berpikiran macam – macam. Lho? Memang dia mengharapkan bermain macam – macam bersama Jaejoong? Eiii~~
Bunyi alarm membuat Yunho mencoba meraih meja nakas dengan susah payah karena pelukan Jaejoong yang malah semakin erat pada pinggangnya.
" Matikan alarm-nya eomma... Aku masih mengantuk"
Gerakan Yunho terhenti saat mendengar suara yang menyerupai rengekan dari mulut Jaejoong tapi kemudian dia kembali meraih alarm itu dan mematikannya. Yang dia lakukan selanjutnya adalah melihat bagaimana damainya wajah tidur Jaejoong dan Yunho terkekeh tanpa suara saat Jaejoong seakan bergumam namun tidak mengeluarkan suaranya.
Gemas...
Satu kata itu yang terlintas dalam otak Yunho, bosnya itu tampak menggemaskan, apa setiap dia tidur wajahnya akan seperti itu?
Yunho jadi bertanya – tanya dalam hatinya, apakah namja yang tengah memeluknya ini masih menyimpan rasa untuknya? Tapi Yunho tidak pernah berharap lebih. Bagaimana bisa dia mengharapkan namja sesempurna Jaejoong dalam hidupnya?
Belum lagi, Yunho tahu Mrs. Jung membawa namja atau yeoja untuk dikenalkan pada Jaejoong. Bagaimana Yunho tahu? Karena Mrs. Jung beberapa kali membawa 'calon' untuk Jaejoong ke kantor namun sepertinya Jaejoong menolak semua 'calon' yang dikenalkan.
Sejak pembicaraan Yunho dan Jaejoong di taman rumah sakit itu, Jaejoong tidak pernah lagi membahas perasaannya. Dia menjadi Kim Jaejoong yang dulu, saat dia belum menyatakan perasaannya pada Yunho.
" Aku terlalu egois hmm?"
Tangan Yunho terangkat untuk mengusap helaian lembut rambut Jaejoong dan membuat Jaejoong makin menenggelamkan kepalanya pada dada Yunho. Yunho akui dia egois dalam hal ini, dia menikmati semua perhatian dan kebaikan Jaejoong tanpa batas tanpa membalasnya. Tidak tahu diri dasar...
" Eomma... Sejak kapan pinggangmu lebar eoh..."
Yunho dibuat terkekeh dengan gumaman Jaejoong dan dia merasakan tangan Jaejoong yang meremas – remas pinggangnya.
" Jae... Bangunlah... Ini aku"
" Hum? Yunho ya?"
Salah satu alis Yunho naik saat mendengar suara lirih itu kemudian dia merasakan pelukan pada pinggangnya makin erat.
" Yunho... MWO?!"
Jaejoong yang sudah sadar dari mimpinya itu langsung melepaskan pelukannya dan mendongakkan kepalanya. Astag! Dia mengutuk dirinya yang lupa jika dia dan Yunho tidur bersama tadi malam, eh... Hanya tidur lho, tidak yang lain.
" Ma-maaf Yun"
Jaejoong langsung duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan wajah semerah tomat, Yunho tersenyum kemudian ikut bangkit dan duduk berhadapan dengan Jaejoong.
" Tidak apa – apa, aku harusnya mengucapkan terima kasih padamu" Ucap Yunho
" Eh.. Tidak..."
" Kamarmu ada kamar mandinya bukan?"
" Iya, ada disitu" Jaejoong menunjuk sebuah pintu yang ada dalam kamar tidurnya
" Oke"
Yunho beranjak dari atas tempat tidur namun langkahnya terhenti saat melihat Jaejoong yang masih menunduk dengan wajah semerah tomat.
" Oh ya Jae"
" Ya?"
Demi apapun, Yunho baru kali ini melihat bagaimana keindahan Jaejoong yang luar biasa. Bukannya dia tidak sadar bahwa Jaejoong adalah arti dari sebuah keindahan. Hanya saja, wajahnya yang semerah tomat dan rambut acak – acakan khas orang baru bangun tidur itu membuat keindahan itu menjadi berlipat ganda.
CUP
Yunho menundukkan kepalanya untuk mengecup puncak kepala Jaejoong, Jaejoong? Hmm... Atau jantungnya Jaejoong? Jaejoong memejamkan matanya erat takut semua perlakuan manis ini hanya mimpi sedangkan jantungnya siap meledak kapan saja!
" Terima kasih" Lirih Yunho sebelum benar – benar meninggalkan Jaejoong yang masih syok
" Pa-pabbo"
Jaejoong menepuk – nepuk pipinya yang terasa amat sangat panas pagi ini, hahahahaha...
.
.
.
.
.
Jaejoong memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat sarapan karena Junsu mengirimkan pesan semalam bahwa dia menginap di apartemen Yoochun. Dan karena Junsu menginap, berarti Kyuhyun adalah tanggung jawabnya pagi ini.
Walaupun keahlian memasak Jaejoong dibawah Junsu tapi masakan Jaejoong juga enak kok hanya saja dia malas untuk memasak dan selalu meminta Junsu untuk membuatkan makanan untuknya. Dia mengambil tiga butir telur dan beberapa bahan yang dibutuhkan karena dia akan membuat sandwich saja.
CEKLEK
" Hooaaaammm... Pagi hyung"
Jaejoong menoleh, dia melihat Kyuhyun berjalan malas kearahnya sembari menggaruk – garuk perut dan kepalanya. Mirip sesuatu... kkkkk~~
" Baru jam setengah enam Kyu, tumben?" Tanya Jaejoong
" Aku terbangun begitu saja" Jawab Kyuhyun kemudian duduk disalah satu kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja
" Cuci muka sana"
" Hum... Nanti"
CEKLEK
" Kemarilah Yun, aku sedang membuatkan sarapan"
TAP
TAP
TAP
" Yun? Kau mengigau hyung? Kenapa memanggil Junsu hyung dengan Yun? Segitu sukanya hyung dengan Yunho hyung?"
BLUSH
Wajah Jaejoong kembali memerah, sepupu bodohnya ini benar – benar deh!
" Pagi Kyuhyun"
" Lho?"
Junsu menegakkan tubuhnya dan menoleh kesamping, matanya membulat kaget saat melihat namja yang berdiri disampingnya.
" Yu-yunho hyung!" Pekik Kyuhyun kaget
" Apa tidurmu sangat lelap sampai tidak mendengar suara Yunho tadi malam?" Tanya Jaejoong
" Eh?" Kyuhyun menggaruk belakang kepalanya " Karena kelelahan, tidurku terlalu lelap jadi tidak mendengar apapun. Pagi Yunho hyung" Lanjut Kyuhyun
" Maaf mengagetkanmu ya"
" Tidak hyung"
" Hmm... Jae, aku akan langsung pulang"
" Kau tidak akan pulang tanpa sarapan Yun, duduklah disamping Kyuhyun" Pinta Jaejoong
" Tapi-"
" Yun!"
" Sudahlah hyung, duduk saja disampingku atau dia akan marah dan berteriak seperti ahjumma yang ada di pasar"
" YAK! Cho Kyuhyun!"
" Hehehehehe... Peace" Ucap Kyuhyun
Yunho merasakan sebuah kehangatan melihat kedua namja itu, walaupun terlihat seperti bertengkar tapi itu adalah sesuatu yang sekarang tidak dia dapatkan dari Changmin.
" Kenapa malah melamun Yun? Duduk"
" Ah... Ne"
Yunho akhirnya duduk disamping Kyuhyun dan menunggu makanan buatan Jaejoong, tidak lebih dari lima belas menit, apa yang Jaejoong masak selesai dan dia menyajikannya di atas meja makan.
" Sandwich saja ya? Mau masak nasi takut tidak cukup waktunya" Ucap Jaejoong
" Iya hyung, tidak apa – apa"
" Terima kasih"
" Makanlah Yun, yang banyak. Kau mau minum apa Kyu?"
" Susu saja hyung"
" Yun?"
" Air putih saja"
" Susu saja, samakan dengan Kyunie. Agar kau bersemangat saat rapat nanti" Ucap Jaejoong seenaknya kemudian berjalan menuju kulkas
" Kalau begitu kenapa bertanya! Dasar" Gerutu Kyuhyun
" Hyung dengar apa yang kau ucapkan Kyu"
" Ups"
Kembali, Yunho terkekeh melihat mereka berdua. Dia jadi merindukan Changmin, namja itu baik – baik saja bukan?
" Hyung, memikirkan apa eoh? Makan..." Ucap Kyuhyun
" Iya Kyu... Hmm.. Terima kasih sudah menjaga Changmin selama di rumah sakit ya"
" Tidak masalah hyung" Lirih Kyuhyun, ucapan terima kasih tidak tepat untuknya pagi ini
" Kenapa? Ada masalah dengan Changmin?"
" Eh? Ti-tidak"
TAK
Jaejoong meletakkan dua gelas susu di atas meja dan kembali membawa satu gelas susu lagi untuknya, dia kemudian menyimak apa yang sedang Yunho bicarakan dengan Kyuhyun.
" Tapi... Kenapa dari kemarin hyung lihat kalian berdua lesu dan tidak berbicara satu sama lain?'
" Hum? It-itu hanya perasaan hyung saja mungkin" Sanggah Kyuhyun
" Kyu...?"
" N-ne?"
" Aku sudah mengenal Changmin sejak dia lahir dan aku tahu semua sikapnya, jadi aku tahu saat dia berbohong"
Kyuhyun meruntuk pelan, Yunho sangat peka dalam hal ini. Apa yang harus dia katakan pada Yunho sekarang? Apa tidak apa – apa jika dia bercerita bahwa Changmin menyukai Junsu namun cintanya bertepuk sebelah tangan?
" Katakan saja"
" Hmm.. Hanya salah paham sedikit dan aku akan memperbaikinya"
" Semoga cepat terselesaikan ya? Changmin terlihat sedih tanpa bercanda denganmu"
" Ne" Jawab Kyuhyun dengan semangat
Usai menghabiskan sarapan dan atas paksaan Jaejoong, Yunho akhirnya diantar Jaejoong menuju flatnya sedangkan Kyuhyun berangkat ke sekolah menggunakan bus. Jaejoong mengajak Yunho untuk berangkat ke kantor bersamanya dan Yunho pasrah saja karena Jaejoong tidak bisa dia tolak.
Yunho pun tahu resikonya jika mereka berangkat bersama bahkan memasuki gedung perusahaannya, dia akan dibicarakan semua orang yang melihatnya. Jaejoong sih santai – santai saja tapi Yunho sedikit risih.
Apalagi statusnya sebelum menjadi karyawan adalah hanya seorang officeboy dan kedekatannya dengan Jaejoong menjadi bahan gosip divisi lain. Yang Yunho dengar dari teman – temannya, divisi – divisi itu mengatakan bahwa Yunho memanfaatkan posisi Jaejoong untuk bisa menjadi seorang pegawai di perusahaan itu.
Tapi divisinya cukup kenal Yunho karena saat Yunho menjadi officeboy mereka mengenal bagaimana cara kerja Yunho, juga... Setelah diangkat menjadi pegawai mereka kagum dengan cara kerja Yunho. Mereka berkata bahwa tidak salah Jaejoong mengangkat Yunho dari officeboy ke pegawai karena Yunho sangat terampil dalam bidangnya.
Yunho mencoba tidak peduli, yang hanya harus fokus pada kesembuhan Changmin. Dan akhir – akhir ini perasaannya selalu tidak enak.
.
.
.
.
.
.
Kyuhyun menatap ragu pintu di depannya, dia harus masuk untuk memperbaiki kesalahannya, mengatakan hal yang sebenarnya agar kesalahpahaman antara dia dan Changmin selesai. Namja ikal itu melihat lengannya yang hari ini disuntik, tadi dia sudah melakukan semua tes dan hasilnya akan keluar dalam dua tau tiga hari.
" Hah... Ayolah Kyu~ Kau kan preman, masa begini saja kau takut?!" Ucap Kyuhyun pada dirinya sendiri
" Kenapa bicara sendiri eoh?"
Kyuhyun menoleh, dokter pribadi Changmin berdiri tidak jauh dari tempatnya. Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung mencari alasan.
" Takut?" Tanya Kangta
" Ti-tidak"
" Kalau begitu masuklah"
" Ugh..." Kyuhyun menggigit bibir bawahnya
" Ayo hyung temani, kebetulan hyung ingin memeriksa Changmin"
Kangta maju dan merangkul pundak Kyuhyun kemudian membuka pintu kamar rawat Changmin. Saat masuk ke dalam kamar itu, mereka mendapati Changmin tengah tertidur dengan damai. Dengan langkah ragu Kyuhyun mengikuti Kangta dan mereka pun berdiri disamping pinggir tempat tidur Changmin.
Namja berambut ikal itu memandang sendu namja yang tengah tertidur itu, Changmin sangat kurus dan rambutnya sudah hampir semua rontok karena efek samping dari kemoterapi yang dia jalani.
" Bisa kau bayangkan Kyu?"
" Ne?"
" Dia tertidur tapi tidak bernafas, apa yang ada dipikiranmu saat ini?"
Pertanyaan dengan nada lembut itu sebenarnya membuat Kyuhyun cukup panas juga tapi benar... Kemungkinan terburuk itu pasti ada, lalu apa yang akan Kyuhyun lakukan? Menangis dan menyesali apa yang dia perbuat pada Changmin dimasa lalu?
Tidak...
Changmin tidak selemah itu, Kyuhyun harus yakin namja itu akan terus bernafas sampai tua mereka tua bersama...
" Tidak bisa membayangkan, karena Changmin akan terus bernafas sampai dia tua nanti" Jawab Kyuhyun tegas, dia mengatakan apa yang tadi dia pikirkan
" Baguslah, kau duduk saja"
Kyuhyun mengambil sebuah kursi dan duduk kembali dipinggir tempat tidur Changmin, dia memperhatikan Kangta yang sedang memberikan obat untuk Changmin melalui salah satu lubang infus yang terpasang pada lengan Changmin.
" Nghh..."
Changmin melenguh dan perlahan mata namja itu terbuka. Dia menoleh sedikit ke samping dan mendapati Kangta di sampingnya, dia ingin bertanya apakah sudah waktunya diperiksa namun mulutnya sulit sekali terbuka, tubuhnya sangat lemas.
" Wae?" Tanya Kangta dengan lembut
" Le... Mas..."
" Tidak apa – apa, jangan katakan apapun. Hyung hanya ingin memberikanmu obat saja"
" Hum"
Kyuhyun memperhatikan namja yang merupakan dokter Changmin itu memberikan beberapa suntikan obat, setelahnya dia membantu Changmin untuk duduk karena sebentar lagi camilan untuk Changmin akan datang.
" Hyung pergi dulu ya, kau disini bersama Kyuhyun"
" Hum"
CUP
Sebuah kecupan ditinggalkan Kangta pada puncak kepala Changmin, kemudian dia sedikit melirik Kyuhyun yang mengepalkan tangannya dengan erat. Tidak lama setelah Kangta keluar dari ruang rawat Changmin, seorang suster masuk membawakan semangkuk kecil puding untuk Changmin.
Tapi sepertinya Changmin enggan atau tengannya terlalu berat untuk digerakkan karena namja itu tidak menyentuh puding itu sama sekali. Changmin malah asyik memandangi pemandangan yang ada di luar. Kyuhyun berdehem, dia akan meminta maaf pada Changmin. Kyuhyun bangkit dari duduknya dan mendekati tempat tidur Changmin.
" Kenapa... Kau kemari lagi?" Suara Changmin terdengar sangat lirih, mungkin untuk membuka mulut saja Changmin membutuhkan usaha keras dan namja itu enggan menatap Kyuhyun
" Changmin... Aku ingin minta maaf"
"..."
" Aku bersungguh – sungguh, aku memang sengaja tidak mengatakan bahwa Junsu hyung sudah bertunangan padamu"
Airmata Changmin turun mengingat hal itu, Junsu... Namja yang disukainya itu sudah memiliki tunangan dan hatinya sangat sakit saat ini. Apalagi kenyataannya Kyuhyun mengetahui hal itu namun tidak mengatakannya.
" Kenapa?" Tanya Changmin disela isakannya
" Min... Aku tidak mau melukaimu. Aku tahu kau menyukainya dan... Dan... Hiks... Maafkan aku Changmin"
Changmin sedikit tersentak mendengar sebuah isakkan dari belakang tubuhnya, tidak mungkin kan Kyuhyun yang sering mem-bully-nya itu menangis? Iya kan? Perlahan Changmin menolehkan kepalanya dan dia membulatkan matanya karena saat ini Kyuhyun menangis dan mengusap matanya dengan kasar.
" Kenapa kau menangis?" Tanya Changmin bingung
" Hiks... Sungguh maafkan aku, aku melakukan hal itu hanya ingin kau bahagia. Hiks... Kau selalu memandang hyungku dengan pandangan bahagia, mana tega aku menghancurkan sumber kebahagiaanmu hiks..."
" …." Changmin dia menatap Kyuhyun yang menjelaskan semuanya disela tangisnya itu
" Aku pikir jika Junsu hyung adalah sumber kebahagiaanmu maka semangatmu untuk sembuh akan lebih besar"
" Tapi dia sudah punya tunangan Kyu, kau pikir bagaimana perasaanku"
" Ak-aku sudah akan membicarakannya padamu karena kaku juga tidak mau berbohong lagi, apa lagi Junsu hyung waktu itu akan mengajak Yoochun hyung menemuimu. Aku sudah melarangnya tapi dia tetap pada pendiriannya. Aku tahu aku salah tapi aku melakukan semua ini untukmu, Changmin..." Perlahan Kyuhyun memberanikan diri untuk menatap Changmin
" Kau malah menyakitiku, jika kau tahu kenapa kau diam, kenapa semua harus menyakitkan?"
" Maaf"
" Tidak apa – apa, lagi pula... Aku pun sudah lelah" Lirih Changmin kemudian menatap keluar jendela kamarnya lagi
" Apa maksudmu?"
" Aku tidak bodoh untuk mengartikan berapa lama lagi sisa hidupku Kyu, aku tahu... Aku tahu aku tidak akan hi-"
" YAK! Memang siapa kau hingga mengatakan hal seperti itu?! Memangnya kau Tuhan!"
" Sudahlah Kyu," Changmin memejamkan matanya " Seorang yeoja cantik mengajakku berkeliling taman semalam, dia tersenyum dan hal itu membuatku nyaman"
" Siapa? Bukannya kau semalam ada di ruangan ini"
" Entahlah... Tapi yeoja itu mengajakku bersamanya karena aku mengeluh aku sudah lelah" Ucap Changmin dan membuat Kyuhyun tersentak kaget
" Dengar!"
Kyuhyun menarik tubuh Changmin hingga mereka berhadapan, Kyuhyun menempatkan tangannya pada pundak Changmin dan menatap tajam mata Changmin yang binar kehidupannya mulai pudar.
" Kau tidak akan pergi kemana pun" Ucap Kyuhyun datar
" Sudah tidak harapan untukku dan bukannya kau akan senang dengan kepergianku?"
" Tidak, tidak, tidak... Ak-aku... Melakukan tes itu Changmin"
" Te-tes apa?"
" Tes kecocokkan tulang sumsum"
" Tapi kau belum tujuh belas tahun"
" Ya, kalau tulang sumsumku cocok, kau akan sembuh Min"
" Kemungkinan itu kecil Kyu dan aku tidak mungkin bertahan lebih lama"
" Kau harus bertahan!"
" Kyu, bicaralah sesuai kenyataan"
" Dengar!" Kali ini Kyuhyun menangkup kedua pipi tirus Changmin dan membuat Changmin menatap matanya
" Kyu..."
" Aku melakukannya untukmu"
" Jika kau merasa bersalah-"
" Tidak, aku serius melakukannya untukmu"
" Tapi aku sudah kehilangan semangat untuk hidup"
" Kalau begitu lakukan untukku, jika kau tidak punya alasan untuk hidup maka lakukan untukku"
" Kenapa?"
" Changmin..."
" Kenapa aku harus melakukannya untukmu! Kenapa! Lepaskan aku!" Ucap Changmin sembari memberontak
" Kau harus melakukannya untukku, kau harus merubah rasa sukamu pada Junsu hyung untukku, tatap terus aku dan jangan melihat siapapun selain aku karena aku pun melakukannya. Aku menyukaimu dan kau harus tetap hidup"
" ….."
" Kau akan tetap hidup dan kita akan bersama meraih nilai tertinggi di sekolah, bukannya ku dengar kau ingin menjadi dokter agar bisa menyembuhkan semua anak yang memiliki penyakit yang sama? Kenapa kau menyerah! Dan... Dan aku melakukannya karena aku menyukaimu!" Kyuhyun mengatakan hal itu dengan airmata mengalir deras pada kedua matanya
Ya, alasan dia melakukan semua itu karena dia menyukai Changmin dan dia sudah mengakuinya di depan Kangta. Hingga namja itu tersenyum puas dan melakukan tes kecocokan tulang sumsum.
" Kau akan tetap hidup, menjadi dokter, menikah denganku, memiliki anak denganku dan hidup sampai tua bersamaku!"
" Kyu..."
Cup
Kyuhyun memajukan wajahnya dan mengecup bibir Changmin, hanya mengecup kemudian dia melepaskannya dan kembali mendekat untuk mengecup bibir Changmin. Sekali... Dua kali... Tiga kali... Empat kali... Ciuman itu datang bertubi – tubi pada bibir Changmin. Sedangkan sang pemilik diam karena terlalu kaget dengan apa yang tengah terjadi.
" Aku... Hiks... Menyukaimu... Sungguh... Jangan tinggalkan aku Min... Aku mohon"
Kyuhyun menempelkan keningnya pada kening Changmin dan menatap menatap mata Changmin yang masih saja diam tidak berekspresi apapun.
" Tidak usah dijawab karena aku tahu kau masih menyukai hyungku, tapi aku akan membuatmu menyukaiku juga mulai sekarang. Aku juga akan menunjukkan pada semua orang bahwa aku benar – benar menyukaimu agar kau percaya padaku" Lirih Kyuhyun, dia kemudian menjauhkan wajahnya perlahan
" A-a-aku..."
" Aku tahu kau lelah, maaf membuatmu seperti itu. Lebih baik kau beristirahat. Aku akan menjagamu sampai Yunho hyung datang"
Changmin menjadi kikuk sekarang dan Kyuhyun bisa merasakannya, dia mengambil tisu untuk menghapus airmatanya dan membantu Changmin untuk berbaring.
" Selamat tidur Min" Lirih Kyuhyun
Changmin memejamkan matanya, Kyuhyun menunduk agar bisa mengecup puncak kepala Changmin dan berbisik pelan.
" Aku hanya meminta kau membuka hatimu untukku juga, saranghae..."
Usai mengatakan hal itu Kyuhyun beranjak untuk duduk disofa yang ada di ruangan itu, dan mengingat apa yang dia katakan pada Changmin membuat wajahnya memanas, hell... Wajahnya semerah tomat sekarang.
Dia mengutuk dirinya yang bertindak gegabah, harusnya dia tidak agresif seperti tadi! Harusnya dia melakukan hal itu perlahan saja sampai Changmin melukapan rasa suka pada hyungnya dan beralih padanya, tapi... Kyuhyun tidak menyesal mengatakan semua itu pada Changmin, dia merasa lega bisa mengatakan semuanya hari ini.
Sudahlah, yang penting dia tidak akan mundur lagi. Dia akan bersikap seperti ini saja. Yang penting Changmin selalu ada disisinya. Semoga dia tidak salah langkah. Tapi kejadian hari ini mengingatkannya pada pernyataan yang dia katakan pada Kangta.
.
.
- FLASHBACK ON -
.
.
" Katakan alasannya Kyuhyun"
" Ak-aku..." Kyuhyun menundukkan kepalanya
" Apa? Yang jelas atau aku tidak akan melakukan tes untukmu"
" Aku menyukainya! Puas?!" Pekik Kyuhyun karena takut Kangta tidak akan melakukan tes kecocokan untuknya
" Masa?" Kangta tersenyum miring menatap Kyuhyun
" Ish! Aku sudah mengatakan alasannya"
" Tapi sikapmu tidak menunjukkan bahwa kau menyukainya, terlebih dulu kau mem-bully-nya"
" Itu..."
" Kau berbohong?"
" Tidak! Aku bersungguh – sungguh! Hyung lihat sendiri bahwa kami sudah dekat sekarang tidak seperti dulu!"
" Kenapa kau menyukainya?"
" Kenapa... Apa rasa suka harus ada alasannya?"
" Hum? Tidak tahu..."
" Aku hanya merasa nyaman di dekatnya, ternyata dia anak yang mengesankan dan baik"
" Tapi kenapa kau tidak mengatakannya?"
" Bagaimana aku bisa mengatakannya sementara dia..." Kyuhyun menengguk ludahnya pelan " Dia... Menyukai hyungku"
" Ah~ kau sadar akan hal itu? Tapi bukannya Junsu memiliki tunangan?"
" Siapa yang tidak akan sadar? Apa hyung tidak lihat bagaimana cara Changmin memandang Junsu hyung? Changmin menganggap Junsu hyung kekuatannya untuk hidup. Aku... Aku tidak bisa menghancurkan semua itu tapi aku salah, karena aku diam dia malah terluka" Suara Kyuhyun semakin melirih diakhir katanya dan matanya mulai memerah kembali
" Sudah jangan menangis, aku akan melakukan tes untukmu"
" Ji-jinjja?" Kyuhyun menatap tidak percaya pada Kangta
" Ya"
" Te-terima kasih"
Kyuhyun segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya berkali – kali sebagai rasa terima kasihnya pada Kangta.
" Kau banyak berubah ya? Dulu kau bahkan tidak tahu berterima kasih saat aku mengobati lukamu" Gurau Kangta
" Eh?" Kyuhyun kemudian tersenyum lebar " Changmin yang mengubah sikapku secara perlahan"
" Baguslah dan Kyu... Kau tahu bukan sebuah realita tentang Changmin?"
" Bahwa dia tidak akan bertahan lebih dari sebulan ini?" Tanya Kyuhyun
" Ya"
" Dia akan bertahan, aku akan selalu mendampinginya"
" Ya, buatlah dia kuat. Jadikan kekurangan Changmin menjadi kelebihan yang suatu saat nanti bisa dia banggakan"
" Pasti" Jawab Kyuhyun dengan tegas dan Kangta terlihat sangat puas dengan semua jawaban yang Kyuhyun kemukakan tadi
" Mari berdoa yang terbaik untuk tesmu besok Kyu"
" Ya"
.
.
- FLASHBACK OFF
.
.
.
.
.
Dan kedua namja itu tidak tahu jika ada tiga orang namja berdiri di depan pintu ruang rawat Changmin dengan ekspresi yang berbeda. Junsu, namja itu menutup mulutnya rapat – rapat, airmatanya mengalir dan tangannya bertautan erat dengan namja yang ada disampingnya, Yoochun.
Sedangkan satu namja lagi adalah Kangta yang meremas pelan pundak Junsu, mereka bertiga mendengar semuanya. Semua yang dibicarakan Changmin dan Kyuhyun sejak awal. Junsu benar – benar merasa bersalah, tidak tidak tahu bahwa Changmin menyukainya seperti itu. Junsu hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih.
" Lebih baik kita pergi untuk menenangkan dirimu dulu" Ucap Yoochun dengan lembut dan Junsu menganggukkan kepalanya
Yoochun dan Junsu membungkukkan tubuhnya pada Kangta dan pergi dari sana, sedangkan Kangta membuka knop pintu dan masuk ke dalam ruangan yang sunyi. Kangta melihat Kyuhyun tidur dengan posisi duduk, terlihat tidak nyaman.
Jadi Kangta mendekat dan membuat Kyuhyun tidur dengan benar di atas sofa, mengambil sebuag selimut dari laci yang ada disana dan menyelimuti namja berambut ikal itu. Dia terkekeh pelan kemudian berjalan menuju tempat tidur Changmin.
" Hyung tahu kau tidak tidur"
Perlahan Changmin membuka matanya, dia melihat Kangta yang tengah memberikan sebuah senyuman padanya.
" Kenapa?"
" Hyung mendengar semua yang kalian berdua bicarakan"
Changmin melirik Kyuhyun yang sudah terlelap dalam tidurnya, dia sebenarnya suka melihat Kyuhyun yang tengah tertidur, terkesan polos. Dibalik sifatnya yang manly, menurut Changmin, Kyuhyun adalah namja yang sangat manis terlebih jika tersenyum.
" Apa yang Kyu ucapkan itu ada benarnya"
" Hum?"
" Kau harus bisa sembuh agar cita – citamu menjadi dokter tercapai dan menyembuhkan anak – anak yang memiliki penyakit sama sepertimu sembuh. Juga... Dia memaksa untuk melakukan tes kecocokan tulang sumsum dua hari lalu, awalnya dia enggan mengatakan alasannya tapi dengan sedikit paksaan akhirnya Kyuhyun mengakui jika dia menyukaimu"
" Hyung..."
" Jika kau merasa kurang untuk mencari alasan kau tetap hidup, tambahkan Kyuhyun dalam daftar alasan itu. Dia tulus menyukaimu, aku rasa sulit menemukan seseorang seperti dia dimana kau harus bahagia melihat orang yang kau sukai tertawa dan bahagia bukan dengannya"
" Hyung..."
" Lakukan apa yang dia katakan, tetaplah hidup Min. kau tidak sendirian, ada kami yang selalu bisa menjadi alasanmu untuk tetap hidup"
Changmin diam, dia mencerna apa yang dikatakan oleh Kangta, bisakah dia melakukannya? Bisakah dia menambahkan Kyuhyun menjadi seseorang yang berarti untuknya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho dan Jaejoong yang masuk ke dalam ruang rawat Changmin merasa kaget dan aneh saat melihat Changmin makan. Bukan karena makanan yang dimakan oleh Changmin tapi... Orang yang sedang menyuapi Chnagmin makan.
Dia adalah Kyuhyun, hey! Namja itu tidak pernah melakukan hal manis seperti itu sejak Changmin sakit! Jaejoong sampai harus menggosok – gosok matanya untuk memastikan bahwa namja yang sedang menyuapi Changmin itu ada Kyuhyun, sepupunya!
" Kyu?" Panggil Jaejoong ragu
" Apa?" Sahut Kyuhyun dengan nada datar
'Benar kok itu Kyuhyun' Batin Jaejoong
" Min?"
Changmin yang dipanggil perlahan menolehkan kepalanya dan sedikit tersenyum kikuk, dia juga bingung dengan keadaan ini. Saat bangun tidur tadi Kyuhyun sudah duduk disamping tempat tidurnya sembari memangku makan malamnya.
Tanpa canggung dia memberikan Changmin minum dan mulai menyuapi Changmin. Awalnya dia menolak tapi akhirnya pasrah saja menerima suapan demi suapan yang diberikan Kyuhyun padanya.
" Tumben kau menyuapi Changmin? Kau demam?" Tanya Jaejoong, dia berjalan menuju sofa sedangkan Yunho mendekati Changmin
" Memangnya aku tidak boleh menyuapi calon kekasihku?"
" Uhuk!"
" Aish, pelan – pelan Min. minum dulu"
Kyuhyun memberikan segelas air putih untuk Changmin sedangkan Yunho yang tadi berjalan langsung berhenti karena kaget dengan ucapan Kyuhyun. Sedangkan Jaejoong? Matanya membulat kaget mendengar penuturan Kyuhyun.
" Ca-calon kekasih?" Tanya Jaejoong
" Iya" Kyuhyun mengambil gelas air putih yang ada dit angan Changmin setelah namja itu meminum air putih itu
" K-kyu..."
" Apa?" Kyuhyun melirik Changmin dan mendapatkan sebuah gelengan dari namja itu " Aku tidak mau menutupi apapun lagi tentang perasaanku" Lanjut Kyuhyun dengan nada tegas
PUK
PUK
" Baguslah, hyung tahu bahwa kau adalah yang terbaik untuk Changmin" Ucap Yunho setelah menepuk puncak kepala Kyuhyun
" Hyung" Kyuhyun berdiri dengan wajah mulai memerah, dia harus meminta restu juga pada Yunho
" Apa?"
" Aku minta restunya ya"
" Pasti... Kan tadi hyung sudah bilang, kau adalah yang terbaik untuk Changmin" Jawab Yunho dengan senyuman terpampang dibibirnya
" Terima kasih" Kyuhyun kemudian membalikkan badannya dan menatap tajam Changmin " Dengar itu! Hyungmu saja sudah memberikan restu, ingat! Kau harus membuka hatimu untukku!"
Changmin menengguk ludahnya dengan susah payah, jika melihat Kyuhyun yang seperti ini dia jadi ingat dengan Kyuhyun yang dulu mem-bully-nya. Sikapnya sangat mirip tapi kata – katanya saja yang berbeda.
" Ayo makan lagi" Ucap Kyuhyun kemudian kembali duduk dan memanggu makanan Changmin
" Tidak, aku sudah kenyang"
" Tapi belum setengahnya"
" Kyu... Taruh saja, beberapa hari ini Changmin memang seperti itu makannya, nanti juga dia melanjutkan lagi makannya"
" Oke"
Kyuhyun menaruh makanan Changmin pada meja nakas dan mengambil tisu untuk membersihkan bibir Changmin. Dia kemudian membantu Changmin untuk berbaring dan beranjak menuju Jaejoong yang masih terdiam tidak percaya dengan kejadian yang ada di depannya.
" Junsu hyung mana?" Tanya Kyuhyun
" Sedang mengerjakan tugas kelompok jadi hari ini dia tidak bisa kemari"
" Oh..."
Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya sampai dia mengingat sesuatu, sesuatu yang sangat penting!
" Astaga! Aku ada tugas yang harus dikumpulkan besok! Aku pulang ya"
" Naik taksi saja Kyu, sudah malam"
" Arasseo"
Dengan cepat Kyuhyun memakai jaket dan tas ranselnya, dia berjalan dengan cepat ke tempat Changmin dan mengecup kening Changmin. Changmin menatap dalam diam Kyuhyun, menatap mata Kyuhyun lebih tepatnya.
" Aku pulang dulu, besok pulang sekolah aku akan mengajakmu berkeliling di taman. Selamat tidur Min"
CUP
Sebuah kecupan itu kembali diberikan oleh Kyuhyun, kali ini pada bibir Changmin hingga membuat wajah Changmin memerah. Hey! Di ruangan ini ada Yunho dan Jaejoong! Dia malu!
" Aku pulang" Lanjut Kyuhyun memberikan sebuah senyuman yang menurut Changmin sangat manis
Setelahnya Kyuhyun berlari keluar ruangan dengan jantung yang berdebar tidak karuan, dia juga malu! Tapi dia ingin semua orang tahu bahwa dia menyukai Changmin, tidak mau menutupi perasaannya lagi. Dia akan merebut hati Changmin dengan caranya!
" Kyuhyun manis ya" Goda Yunho saat melihat mata Changmin yang masih melihat ke arah pintu yang sudah tertutup
" Hy-hyung..." Ucap Changmin gugup
" Gwaenchana, dia namja yang baik. Hyung setuju kau dengannya"
" Hyuungg~~"
" Hahahahaha... Sudah lama hyung tidak mendengar nada rengekkanmu, ingat! Setelah keluar dari rumah sakit kau harus menjaga Kyuhyun karena dia patut kau lindungi"
" …."
" Sekarang tidurlah, hyung akan jaga sampai tengah malam"
" Hum"
Changmin mencoba memejamkan matanya, mencoba tidur tapi tidak bisa karena mendengar suara jantungnya yang berdetak sedikit lebih kencang. Bukan karena sakit tapi ini adalah debaran yang sedikit membuatnya gembira.
Debaran yang dia rasakan saat Junsu ada di dekatnya, eoh? Tapi Changmin sadar sesuatu, Kenapa dia merasakan debaran ini lebih kuat dan kencang dibanding saat dia bersama Junsu?
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesuai janji, besok sorenya Kyuhyun mengajak Changmin berkeliling di area taman rumah sakit. Kyuhyun memakaikan jaket tebal dan syal karena ini sudah memasuki musim gugur dan anginnya lumaiyan kencang.
" Dingin tapi menyenangkan, kan?" Tanya Kyuhyun dan dia mendapatkan sebuah anggukan dari Changmin
" Kyu..."
" Ya?"
" Berhenti disana"
Changmin menunjuk sebuah kursi taman yang ada di depan sebuah pohon besar nan rindang yang daunnya sedang berguguran. Sangat indah. Kyuhyun mendorong kursi roda Changmin ke arah sana dan dia duduk dikursi panjang itu sedangkan Changmin ada disampingnya, duduk dikursi roda miliknya.
" Min..."
" Hum?"
" Indah ya? Sampai kau terus memperhatikan daun – daun yang berguguran itu"
" Ya, aku suka"
" Tapi kau suka musim semi"
" Aku suka daun – daun yang berguguran, mereka jatuh untuk membiarkan daun yang baru akan tumbuh"
Kyuhyun menghela nafasnya, dia memberanikan diri untuk membawa tangannya ke atas tangan Changmin dan menggenggamnya dengan erat.
" Kau merasakannya kan? Aku menggenggam tanganmu dengan erat agar kau tahu aku selalu ada disisimu"
" Hum, terima kasih"
Usai menjawab perkataan Kyuhyun, Changmin memalingkan tubuhnya. Tidak... Dia tidak merasakannya. Tidak merasakannya dalam artian yang sesungguhnya. Tidak tidak dapat merasakan sebuah sentuhan sejak tadi siang, tubuhnya terasa baal. Seakan dia baru saja dibius untuk tidak merasakan apapun.
Usai berjalan – jalan, Kyuhyun menemani Changmin sampai malam karena Yunho akan datang terlambat.
" Tidak pulang Kyu?" Tanya Changmin
" Hum? Kau mengusirku?"
" Bukan begitu, ini sudah malam"
" Malam apanya? Baru setengah delapan malam"
" Pulang dan kerjakan tugas sekolahmu sana"
" Tidak, aku akan menunggu sampai hyungmu datang"
Changmin hanya mengangguk singkat dan menatap pintu kamar rawatnya, berharap Yunho cepat datang agar Kyuhyun bisa pulang dan beristirahat. Changmin khawatir Kyuhyun akan sakit jika terus – terusan menjaganya usai pergi sekolah.
" Kenapa menatap pintu terus? Berharap Junsu hyung datang?"
Pertanyaan Kyuhyun membuat Changmin tersentak dan berpikir, seharian ini bahkan dia tidak memikirkan Junsu. Dia terlalu larut dengan Kyuhyun yang namanya terus terngiang dalam otaknya. Selalu terbayang wajah Kyuhyun saat menciumnya dan menangis karena dirinya.
" E-eoh?"
" Oh... Junsu hyung bilang tugasnya belum selesai dan besok baru bisa kemari" Jawab Kyuhyun dengan nada sedikit kecewa karena berpikiran bahwa Changmin tengah memikirkan hyung-nya
" O-oh..."
" Ak-aku, pulang dulu kalau begitu, aku... Aku lupa ada tugas yang harus aku kerjakan" Ucap Kyuhyun dengan gugup " Doakan saja semoga besok saat hasilnya keluar, tulang sumsumnya cocok ya?"
Kyuhyun beranjak untuk mengambil tasnya yang ada di atas sofa dan kembali menghampiri Changmin. Mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening, kedua pipi dan terakhir bibir Changmin agak lama.
" Saranghae" Lirih Kyuhyun dan membalikkan tubuhnya untuk pergi
" Kyu..."
Kyuhyun kembali membalikkan tubuhnya dan menatap bingung Changmin. Changmin tahu tadi Kyuhyun sedikit kecewa saat memberitahukan apa yang sedang Junsu lakukan.
" Kemarilah"
Changmin merentangkan sedikit tangannya, dia ingin Kyuhyun berada dalam pelukannya. Dia ingin merasakan sebuah kehangatan sebelum... Ah tidak... Dia hanya ingin memeluk Kyuhyun.
Kyuhyun menyambut uluran Changmin dan memeluk namja itu dengan erat. Menempatkan wajanya pada leher Changmin, menghirup wangi Changmin sebanyak mungkin. Dan tidak lama Kyuhyun menjauhkan tubuhnya saat sebuah telapak tangan yang terasa dingin menyentuh pipinya. Changmin menangkup pipi Kyuhyun dengan tangannya yang tidak diinfus dan menatap Kyuhyun dengan sebuah senyuman manis. Perlahan tangan Changmin menarik pipi Kyuhyun sampai mendekati wajahnya.
CUP
Awalnya Changmin hanya menempelkan bibirnya pada bibir Kyuhyun, tapi lama kelamaan bibir itu bergerak utnuk menghisap dan mengulum bibir bawah Kyuhyun. Reaksi Kyuhyun tentu saja kaget namun tidak lama kemudian dia memejamkan matanya dan membalas ciuman Changmin sebanyak yang dia bisa.
Dia bahagia, senang karena menurutnya Changmin tengah berusaha membuka hari untuknya, sampai dia tidak sadar airmatanya mengalir perlahan dan rasa dari ciuman mereka malam ini adalah asin.
" Gomawo" Satu kata itu Kyuhyun ucapkan saat Changmin melepaskan ciuman mereka
" Berhentilah menangis dan tersenyum Kyu"
" Hum, pasti! Aku akan pergi"
" Hati – hati"
" Ya"
Melihat Kyuhyun yang sudah keluar dari kamar rawatnya, Changmin memejamkan matanya yang sejak tadi tidak bisa diajak kompromi. Dia hanya ingin memejamkan matanya terus menerus.
" Uhuk! Uhuk"
Changmin terbatuk, dia mengangkat tangannya yang bebas untuk menutup mulutnya dan batuk itu malah semakin parah. Saat batuknya mereda dia menjauhkan tangan dari mulutnya dan tersenyum miring melihat noda darah pada tangannya. Dia terlalu lelah dengan semua ini, dia pun memejamkan matanya.
" Tuhan... Aku... Sangat lelah"
.
.
.
.
.
.
.
.
Yunho mendekat ke arah Changmin, dia duduk di dekat tempat tidur Changmin dan menggenggam erat tangan Changmin. Apa yang baru saja di dengar dari Kangta semakin membuat harinya memburuk, Kangta mengatakan bahwa mereka harus bisa menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Changmin.
" Tidak, itu tidak benar kan Min? Kau akan tetap bersama hyung kan? Iya kan?" Gumam Yunho, tangannya meremas erat tangan Changmin
" Nghh..." Dan tanpa sadar membuat Changmin terbangun
" Maaf, tidurlah lagi"
" Hyung..."
" Tidurlah Min"
" Aku melihat seseorang yang wajahnya seperti eomma"
" Min? Kau mengigau?" Tanya Yunho bingung karena Changmin berucap hal itu tanpa membuka matanya
Yeoja seperti eommanya? Ah... Yunho pernah memperlihatkan foto eommanya agar Changmin tahu secantik apa eomma mereka.
" Dia mengajakku berkeliling disebuah taman yang sangat indah, banyak bunga"
" Hey, bangun Changmin ah... Hyung disini" Yunho mencoba menggoyangkan tubuh Changmin
" Aku suka disana"
" Min! Bangun!"
Yunho menepuk pipi Changmin bergantian, berharap sang adik membuka mata dan menatapnya. Changmin sangat aneh malam ini.
" Yun? Ada apa?"
Seorang namja cantik yang sejak tadi tertidur di atas sofa yang tidak lain adalah Jaejoong terbangun karena mendengar suara Yunho yang sidikit keras juga suara tamparan walaupun tidak keras. Dia bangun dan segera menghampiri Yunho.
" Ch-changmin ah... Irona... Hyung disini" Ucap Yunho
" A-a-ada apa dengan Changmin? Yun?" Tanya Jaejoong panik
" Dia mengigau tapi sangat aneh" Jawab Yunho menatap Jaejoong
" Nghh..."
Kedua namja itu kembali menolehkan kepalanya ke arah Changmin yang kini perlahan membuka matanya dan Yunho segera mengucapkan syukur.
" Lho? Hyung?"
" Changmin, kau tidak apa – apa?"
" Hum? Aku... Baik" Jawab Changmin dengan lirih " Kenapa?" Lanjutnya
" Ti-tidak" Jawab Yunho kemudian menjauhkan tubuhnya dari Changmin
Changmin memaksakan sebuah senyuman melihat kedua namja yang berdiri disamping tempat tidurnya, hyungnya sungguh sangat pantas berada disamping Jaejoong karena Jaejoong adalah yang terbaik untuk hyungnya.
" Hyung... Mau tidak berjanji sesuatu padaku?" Tanya Changmin
" Hum?"
" Kalian berdua sangat cocok untuk bersama, Yunho hyung harus janji membahagiakan Jaejoong hyung ya"
" Kenapa kau berkata seperti itu?"
" Tidak tahu, aku ingin mengatakannya saja. Kalian cocok bersama sih... Janji ya hyung"
" Changmin..."
" Janji hyung..."
" Arasseo, hyung janji"
" Terima kasih" Changmin kemudian menatap Jaejoong " Peluk, boleh?"
" Aigo... Kenapa jadi manja begini eoh?"
Jaejoong menundukkan tubuhnya dan memeluk Changmin dengan erat, rasanya nyaman memeluk Changmin.
" Jaga hyungku ya" Bisik Changmin
" Aku selalu menjaganya Min"
" Terima kasih"
Usai Jaejoong memeluk Changmin, Yunho pun memeluk sang adik. Setelahnya Changmin tertidur kembali dan Yunho mengajak Jaejoong keluar dari ruang rawat Changmin, berjalan disekitar taman rumah sakit bersama.
" Yun.. Tadi kenapa kau menampar Changmin?" Tanya Jaejoong
" Itu..."
" Ceritalah"
" Dia mengigau... Dia berkata diajak seorang yeoja yang katanya mirip dengan eomma kami untuk berkeliling disebuah taman yang penuh dengan bunga" Suara Yunho terdengar sangat parau ditelinga Jaejoong
Jaejoong terenyuh apalagi saat dia menoleh dan melihat mata Yunho yang mulai sembab. Namja itu kembali menangis.
" Yun..."
Namja cantik yang lebih pendek dari Yunho itu menarik tubh Yunho agar bisa memeluknya, memberikan sebuah dekapan hangat yang selalu bisa membuat Yunho merasa nyaman.
" Katakan padaku dia tidak akan pergi kemanapun Jae"
" Kau harus tegar Yun"
" Dia tidak akan pergi kemanapun, kan?"
" Ya.. Changmin anak yang kuat dan tidak akan pergi kemanapun. Dia akan terus bersama kita"
Jaejoong bisa merasakan bahunya basah karena namja itu menangis dalam diam di atas pundak Jaejoong dan Jaejoong membiarkannya karena menangis kadang membuat hati lega. Jaejoong merasakan ada yang mengganjal dalam hatinya tapi dia berharap besok akan lebih baik dari hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CEKLEK
Seorang namja gempal membuka pintu di depannya dengan ragu, sudah dua hari ini dia tidak menemui Changmin dan sebuah rasa bersalah menghantui dirinya. Jadi pagi ini, sebelum berangkat ke kampus, dia meminta tunangannya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
" Oh? Hyung?"
Namja itu adalah Junsu dan dia sedikit tersentak saat melihat Changmin tengah duduk di atas tempat tidurnya. Changmin juga cukup kaget dengan kedatangan Junsu serta tunangannya, tangannya yang tadi menggenggam selembar tisu yang sudah dia pakai untuk membersihkan mulut dan tangannya perlahan dia masukkan ke dalam selimut.
" Maaf baru bisa kemari" Lirih Junsu
" Tidak apa – apa hyung, tidak kuliah?" Tanya Changmin
" Aku mampir sebelum berangkat kuliah bersama Yoochun"
" Oh... Annyeng Yoochun hyung"
" Ne"
" Changmin..."
" Ya?"
" Maaf..."
" Untuk?"
" Maaf"
Junsu berjalan dengan cepat dan memeluk Changmin dengan erat.
" Aigo.. kau hanya tidak datang dua hari kemari hyung kenapa seperti ini? Aku tahu kau sangat sibuk dengan tugas kuliahmu"
" Maaf"
Junsu melepaskan pelukannya dan berdiri berdampingan dengan Yoochun.
" Bagaimana kabarmu?" Tanya Yoochun
" Seperti yang hyung lihat, aku membaik bukan?"
" Tapi masih pucat"
" Sebentar lagi juga semakin membaik"
" Baguslah, hm... Aku tidak bisa lama – lama disini" Ucap Junsu, dia menggenggam tangan Changmin dengan erat
" Ya, tidak apa – apa. Hmm... Hyung"
" Ya?"
" Berbahagialah"
" Ne?"
" Berbahagialah"
" E-eoh... Pasti"
Satu kata penuh makna, itulah yang ditangkap Yoochun saat mendengarkan ucapan Changmin barusan. Yoochun berharap Changmin pun bisa berbahagia nantinya.
" Aku pergi ya"
" Ne"
CUP
Sebuah kecupan diberikan Junsu pada pipi Changmin dan dia membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju pintu kamar rawat Changmin.
" Yoochun hyung" Panggil Changmin
" Ya?"
" Tolong jaga Junsu hyung ya? Bahagiakan dia dan jangan buat dia kecewa dan menangis" Bisik Changmin dengan mata berkaca – kaca
" Pasti"
" Terima kasih"
" Kami pergi, nanti sore kami akan kembali"
" Ya"
Yoochun mengusap pelan kepala Changmin yang terlapisi sebuah beani berwarna abu tua kemudian dia melangkahkan kakinya mengejar Junsu yang sudah keluar ruangan.
TES
Ya...
Changmin menangis, bukan hanya sekedar menangis, dia merasa hatinya sakit saat mengucapkan kata 'berbahagialah' tapi itu adalah yang terbaik.
" Hiks... Hiks.. Hhh..."
Dia tidak bisa menahan semuanya sendirian, jujur saja dia merasa sangat lelah namun juga takut. Dia sangat takut sendirian. Memperlihatkan pada semua orang bahwa dia baik – baik saja, mencoba untuk terlihat tegar namun gagal.
Tangan Changmin mengusap kasar matanya, mencoba menghentikan airmatanya yang terus keluar namun gagal karena dia merasa sangat sedih.
" Uhuk! Akkhh! Uhuk uhuk"
Batuknya datang lagi dan intensitas batuk itu lebih sering sekarang, Changmin mengambil berlembar – lebar tisu untuk menutup mulutnya. Dia tahu, ini bukan sekedar batuk biasa karena darah segar selalu keluar dari mulutnya.
SREETT
Gerakannya membuat selimutnya tersingkap, dia melihat banyak tisu yang dia sembunyikan sejak semalam, dan noda darah merembes pada lembaran tisu tersebut. Changmin bergeming, dia menjauhkan tisu yang membekap mulutnya saat ini.
Darah...
Bahkan lebih banyak, dan itu membuat Changmin kembali terisak dalam tundukkan kepalanya.
" Aku takut... Hiks... Hiks... Aku takut"
Changmin ah...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kyuhyun berdiri di depan sebuah ruangan tempat hasil tes kecocokan tulang sumsum akan keluar, Kangta tadi mengantarkannya kemari dan meninggalkannya karena dia harus memeriksa beberapa pasiennya. Kyuhyun ingin cepat hasil tes itu keluar agar dia bisa langsung menghampiri Changmin.
Entah kenapa sejak tadi pagi dia merindukan Changmin dan selalu memikirkan namja itu. Kyuhyun mengira bahwa itu adalah efek karena dia sedang kasmaran. Dan dia merasa senang apalagi mengingat ciuman yang diberikan Changmin semalam! Hehehehe...
" Tuan Cho Kyuhyun"
Seorang suster memanggil namanya dan Kyuhyun segera bangkit untuk mengikuti suster itu masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu duduk seorang yeoja yang merupakan dokter sama seperti Kangta.
" Duduklah" Pinta namja bername tag Choi Seunghyun
" Ne"
" Ini hasil dari tesmu kemarin" Dokter Choi memberikan sebuah amplop dimana dia tadi sudah membacanya terlebih dahulu
Dengan gugup Kyuhyun mengambil amplop itu dan perlahan dia membuka hasilnya, dokter Choi menimati ekspresi yang ditampilkan oleh Kyuhyun. Hmm... Sedikitnya dia tahu masalah pasien yang ditangani oleh sahabatnya itu. Dan namja berusia enam belas tahun di depannya ini benar – benar hebat karena berani mengikuti tes kecocokan tulang sumsum.
" Hmm..." Kyuhyun memperharikan hasil tes di depannya dengan bingung
" Ya?"
" Apa artinya ini?" Tanya Kyuhyun
" Astaga, maaf aku lupa"
Dokter Choi mengambil kertas hasil itu dari tangan Kyuhyun dan membulatkan deretan angka yang terjajar rapi disana menggunakan pulpennya.
" Semua organ tubuhmu dan darahmu normal dan angka ini, menunjukkan bahwa tulang sumsummu tidak cocok dengan Changmin sshi"
" Eoh?"
Dokter Choi bisa melihat binar mata Kyuhyun meredup mendengarnya, astaga... Anak ini benar – benar menggemaskan.
" Bercanda, 99,98% ini menyatakan bahwa tulang sumsum-mu cocok untuk Changmin sshi"
" Ap-apa? Dokter bilang apa?"
" Tulang sumsum-mu cocok Kyuhyun sshi"
" Ta-tapi dokter tadi bilang-"
" Maaf, sifat jahil Kangta sepertinya menular juga padaku. Apa lagi ekspresi yang kau tunjukkan benar – benar sayang untuk dilewatkan" Ucap dokter Choi kemudian tersenyum lebar
" Yak! Dokter!"
" Intinya tulang sumsum-mu cocok, sana sampaikan hal ini pada Changmin sshi dan buat dia bertahan sampai ulang tahunmu tiba"
" Ish! Tentu saja aku akan seperti itu!" Kyuhyun dengan sebal merebut kertas hasil tesnya " Terima kasih!" Lanjutnya dengan nada sebal dan dia pergi dari ruangan itu
" Sungguh anak yang menarik"
Namja ikal itu berlari sangat kencang hingga beberapa orang mengumpatinya namun Kyuhyun tidak peduli, dia ingin cepat sampai ke ruangan Changmin dan memberitahukan bahwa Changmin akan hidup.
Changmin akan terus bersamanya, belajar, bermain, kuliah, berkencan, menikah, memiliki anak, cucu, hidup bersamanya sampai tua dan apapun yang Changmin inginkan. Kyuhyun berlari dengan senyuman merekah indah pada bibirnya.
" Nghh... Hosh... Hosh..."
Namja itu berhenti di tikungan sebelum ruang rawat Changmin, mengambil nafas sejenak sebelum kembali berlari namun perlahan dia menghentikan larinya saat melihat kerumunan orang ada di depan ruangan Changmin. Disana ada Yunho, Jaejoong, Mr. Jung, Junsu dan Yoochun. Perlahan Kyuhyun maju, mengerutkan keningnya kenapa semua orang itu dilarang masuk ke dalam ruang rawat Changmin.
Kenapa wajah Yunho sangat panik dan Kyuhyun bisa melihat nada merah pada kemeja biru muda yang tengah dipakai oleh Yunho.
" 200 joule, all clear?"
" Ne!"
Kyuhyun tersentak, telinganya tidak bisa mendengar apa lagi yang mereka ucapkan atau teriakkan karena Kyuhyun terlalu bingung. Sampai Jaejoong menariknya dalam sebuah pelukan dan Kyuhyun bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar rawat Changmin disela pintu kamar rawat Changmin yang tidak tertutup sempurna.
Kenapa ada banyak lembaran tisu dengan noda darah berserakan di sana?
Kenapa Kangta menunjukkan wajah paniknya?
Kenapa dia menggunakan alat kejut pada Changmin?
Kenapa Changmin memejamkan matanya?
SREETT
Tubuh Kyuhyun melemas seperti jeli, mungkin jika Jaejoong tidak memeluknya dia akan jatuh seperti kertas hasil tesnya yang jatuh begitu saja saat dia melihat apa yang terjadi dalam kamar rawat Changmin. Mata Kyuhyun memerah, airmatanya lolos begitu saja dari kedua mata bulat nan indahnya.
" Ch-changmin... An-andwe..."
.
.
.
~ TBC ~
.
.
.
.
Yooooo, anyeooonngg~~
Mianhae telat, harus nya update sebelum jam 12 malem tapi editnya... kkkk~
.
Special Thanks :
.
ChangKiDong (kapan' Cho update na kok heheh), Dewi YJKTS (udah ga sedih lagi kan? Hahahaha), ireneayu (makin tes tes tes ga?), eL Ree (iya, tuh ChangKyu hahaha), jiraniatriana (makanya bebeb mimin tuh mesti sama Cho biar ga sesih kkk~), Intan (Halo jugaaaaa, salam kenal, iya.. ff ini ChangKyu kok tapi...), Guest (bumonim nya mereka berdua kok yang datang hehehe, tuh bang Kyu cocok kok), ismi mimi (eaa~~ tebar bunga silahkan... gimana chap ini? Feelnya oke? Kkkk~),
7D (sip, maacih bakalan terima apapun endingnya #smirk cinta itu ga harus berlebihan kok eaa~~ Sok bijak lu Cho kkkk~), MyBooLoveBear (Iya, maacih juga udah baca yaaaaa~~), Park RinHyun-Uchiha (iya dong, kalo ga dibikin sakit ga bisa bikin angst hohohohoh), Aiden LDH (elah... bebeb mimin tuh cuma tersiksa di ff Cho kok, kalo dikamar sama cho, Cho yang tersiksa wkwkwk #AbaikanSiMesumIni Cho menantunya Jaemma, sini samperin Cho ke Koriyah aseekkk), uknowme2309 (Cho mah makhluk yang ternistakan sama reader ea kan? Hehehe),
cho (buka hatimuuu~~~ ntar, biar in aja pelan – pelan mereka), Im150391 (maacih udah nunggu ff Cho yak! Hahahaha), yunjae heart (pindah wattpad juga eonn? Apa terus baca disini? Feel chap ini gmn? Bagus ga? Atau malah kurang? Yunjae momen di chap depan eonn heheheh), Guest (dan ternyata bang Kyu yang cocok, tapi...), elite. Minority. 1111 (wkwkwk, baca ulanglah... Apa lagi ini udah 3 bln ga update. Nanti cho munculin nama Siwon sama donghae di ff cho yang laen yak!), GaemGyu92 (jawab... Gitu deh...), Jejevan (yunjae na chap depan yaa~~),
yang udah follow, fav, para SiDer
Sekali lagi maacih #bow
.
Udah semua kan ya namanya kesebut? Gimana? Chap ini feel-nya dapet ga? Apa gak pada nangis? Chap ini ancur ya? Kkkkk~~ Mian ya kalo ga sesuai perkiraan kalian?
.
Maaf keun Cho yang nge buat bebeb Mimin kesayangannya Cho sekarat bahkan metong di beberapa ff nya cho, bukannya Cho ga sayang tapi sangking cinta n kangennya sama bebeb Mimin, Cho jadi nistaiin dy #alasanBasi #diLemparSandalSamaReader
.
Intinya mah, nih ff juga bakal end di chap depan hohoohoo~ jadi... bebeb mimin nya Cho gimana? Hmm... Pendapat?
.
Daaaaannn... Yang paling penting, Cho ingetin dulu nih ya... Tolong... Sangat... Kalo bisa gak nanya kapan ff yang lain update... Cho udah punya urutan ff mana yang harus di update lebih dulu, jadi... Mohon kesabarannya buat nunggu ff yang laen update ya, jangan nanya/minta Cho update ff yang qm mau karena Cho pasti update kok, tapi sesuai urutannya kkkk~
Urutan na : Begin - Warmth - Pure - Home - My Busie Yunie - Friend - With You.
.
Gitu sih, kecuali Cho ada update Mine sama Back Seat. Jadi, mohon pengertiannya ya...
.
See u next chap?
Chuuuuu~
.
.
.
.
.
.
Jum'at 18 Agustus 2017
